cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
THE RELATIONSHIP BETWEEN PERSONAL EXPERIENCES AND L2 PRAGMATIC DEVELOPMENT DURING STUDY ABROAD (Hubungan antara Pengalaman Pribadi dan Pengembangan Pragmatik Bahasa Kedua selama Studi di Luar Negeri) Tahir, Ismail; Hamzah, Aryati; Rahim, Marsela Hasan
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5407

Abstract

Bahasa kedua (L2) memiliki peran penting dalam pengembangan pragmatis. Selain itu, konteks studi di luar negeri memberikan potensi untuk pengembangan kompetensi pragmatis, namun pelajar L2 mungkin tidak begitu menyerupai penutur asli. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pengalaman pribadi dan perkembangan pragmatis L2 di kalangan mahasiswa Indonesia selama belajar di luar negeri. Data dikumpulkan dari percakapan mereka di WeChat karena mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang kuliah di China. Wawancara mendalam juga dilakukan untuk mendapatkan informasi detail terkait pengalaman pribadi mereka selama studi di luar negeri. Selain itu, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin adalah bahasa instruksi yang digunakan dalam perkuliahan sebagai komunikasi formal dan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia menggunakan empat fungsi pragmatis, yaitu berterima kasih (thanking), memuji (complimenting), meminta (requesting), dan memuji diri sendiri (self-praising). Meminta (requesting) adalah strategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa Indonesia yang mengambil bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar perkuliahan, sementara strategi berterima kasih (thanking) merupakan strategi yang paling banyak digunakan oleh mahasiswa Indonesia yang menggunakan Bahasa Mandarin sebagai Bahasa pengantar perkuliahan. Selain itu, perkembangan pragmatis mereka selama belajar di luar negeri dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu pengetahuan pragmatis, kemahiran L2, kompetensi antar budaya dan interaksi sosial, serta variasi individu dimana faktor-faktor ini lebih banyak digunakan dalam strategi pujian (complimenting). The L2 setting plays a significant role in pragmatic development. Moreover, the study abroad context provides the potential for the development of pragmatic competence. However, L2 learners may not perform according to native speakers’ norms. The present study aims to explore the relationship between personal experiences and L2 pragmatic development among Indonesian students during study abroad. The data were collected from students’ conversations on WeChat since the participants involved in the study are Indonesian students who are currently pursuing their degrees in China. In-depth interviews were also conducted to obtain detailed information related to participants’ personal experiences during study abroad. In addition, English and Chinese are the language instructions used in classrooms for formal and informal communications. The results of the study show that Indonesian students employ four pragmatic functions, namely thanking, complimenting, requesting, and self-praising. Surprisingly, requesting is the most frequent strategy employed by Indonesian students enrolled in English, while the thanking strategy is mainly employed by Indonesian students enrolling in Chinese-taught programs. Moreover, their pragmatic development during study abroad is affected by four factors, including pragmatic knowledge, L2 proficiency, intercultural competence and social interactions, and individual variation. In contrast, these factors were highly used in complimenting strategy.
PENAMAAN DAN MAKNA KULTURAL LEKSIKON SESAJEN DALAM PROSESI LARUNGAN PESTA LOMBAN DI JEPARA (Naming and Cultural Meaning in Lexicon of Offerings in Larungan Procession Lomban Festival in Jepara) Sholikhah, Nikmatus; Hendrokumoro, NFN
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.7111

Abstract

Giving names to the offerings used in larungan procession of lomban festival is related to the meaning that the Jepara people want to convey and believe in. However, most people today only carry out the procession as an annual tradition without understanding its meaning. This purpose of research is to classify semantically the naming of offerings and describe the cultural meaning of offerings used in larungan procession of festival lomban in Jepara. The methodology is descriptive qualitative through ethnosemantic studies, particularly semantic naming theory and cultural meaning theory. The data is list of lexicon or vocabulary about the names of offerings in larungan procession obtained from interviews with an anthropologist and observation of video documentation lomban festival. The analysis results show that semantic naming of offerings in larungan procession is based on six things, those are based on distinctive characteristics, place of origin, ingredients, similarity, abbreviation, and arbitrary. Each offering also has cultural meaning that reflects the beliefs of Jepara people. These meanings are categorized into five categories that show the meaning of relationship between people and God, relationship between people and people, relationship between human and supranatural beings, relationship between people and nature, and forms of prayer or hopes which related to human attitudes and characteristics. Pemberian nama pada sesajen yang digunakan saat prosesi larungan pesta lomban erat kaitannya dengan makna yang ingin disampaikan dan dipercayai oleh masyarakat Kabupaten Jepara. Namun, kebanyakan masyarakat saat ini hanya menjalankan prosesi tersebut sebagai tradisi tahunan tanpa memahami maknanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan secara semantis penamaan sesajen dan mendeskripsikan makna kultural yang terkandung pada daftar leksikon nama-nama sesajen saat prosesi larungan pesta lomban di Kabupaten Jepara. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui kajian etnosemantik, khususnya pada teori penamaan semantis dan teori makna kultural. Data yang dianalisis berupa leksikon atau kosakata nama-nama sesajen dalam prosesi larungan yang didapatkan dari hasil wawancara dengan seorang antropolog dan pengamatan terhadap video dokumentasi pesta lomban. Hasil analisis menunjukkan bahwa penamaan sesajen dalam prosesi larungan didasarkan atas enam hal, yaitu penyebutan sifat khas, tempat asal, bahan, keserupaan, pemendekan, dan penamaan baru. Masing-masing nama sesajen itu mengandung makna kultural yang merepresentasikan bagaimana pemikiran masyarakat Jepara. Terdapat lima kategori makna, yaitu makna yang menunjukkan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan makhluk gaib, hubungan manusia dengan alam, dan bentuk doa atau harapan masyarakat terkait dengan sikap dan sifat manusia.
MEMORI KOLEKTIF KEISLAMAN MASYARAKAT MELAYU DAN WACANA ANTIKOLONIAL DALAM SYAIR ARDAN W. 262 (Islamic Collective Memory of Malay Society and Anticolonial Discourse in Syair Ardan W. 262) Resmanti, Maiyang; Kurniawan, Bagus
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.4500

Abstract

How are the collective memories of the Malay society in Syair Ardan? and how are Malay society dreams about responding to colonialism in Syair Ardan? are the main problem. This analysis aims to describe the collective memories of the Malay society in Syair Ardan and the dreams of the Malay society in responding to colonialism in Syair Ardan. The object analyzed is the classic Malay manuscript which was copied during the Islamic era that existed in Malay and the Malay nation had contact with colonial nations, entitled Syair Ardan W. 262 collection of PNRI. The text narrates the collective memories of the Malay society in forming their religious identity and dreams of responding to colonialism. The text is analyzed using collective memory studies regarding consciousness in responding to the socio-culture of a society using the hermeneutical method. This article reveals that Islam is part of the identity of the Malay society which can be proven through the opening narrative, content, and colophon in Syair Ardan, the dreams of the Malay society through collective memory by showing traces of the authority of the Malay nation to the next generation; and a representation of dreams of Islamization of the colonial nation. Bagaimana memori kolektif masyarakat Melayu dalam teks Syair Ardan? dan bagaimana angan-angan masyarakat Melayu merespons kolonialisme dalam teks Syair Ardan? merupakan pokok permasalahan yang menjadi inti dari tulisan ini. Analisis ini bertujuan untuk mendeskripsikan memori kolektif masyarakat Melayu dalam teks Syair Ardan dan menjabarkan angan-angan masyarakat Melayu merespons kolonialisme dalam teks Syair Ardan. Objek yang dianalisis adalah naskah Melayu klasik yang disalin pada masa Islam telah eksis di Melayu dan bangsa Melayu telah bersinggungan dengan bangsa kolonial, berjudul Syair Ardan W. 262 koleksi PNRI. Teks menarasikan memori kolektif masyarakat Melayu dalam membentuk identitas religius dan angan-angan merespons kolonial. Teks dianalisis menggunakan kajian memori kolektif mengenai kesadaran dalam merespons sosial-budaya suatu masyarakat dengan metode hermeneutis, yaitu penginterpretasian suatu objek yang membentuk lingkaran hermeneutis. Tulisan ini mengungkap bahwa Islam adalah bagian dari identitas masyarakat Melayu yang dapat dibuktikan melalui narasi pembuka teks, isi teks, dan kolofon dalam Syair Ardan; angan-angan masyarakat Melayu melalui memori kolektif dengan menunjukkan jejak-jejak kewibawaan bangsa Melayu kepada generasi selanjutnya; dan representasi angan-angan Islamisasi bangsa kolonial.
NEGOTIATING FEMINIST IDEOLOGY IN ASMA NADIA’S NOVEL ASSALAMUALAIKUM BEIJING (Negosiasi Ideologi Feminis dalam Novel Asma Nadia Assalamualaikum Beijing) Rasiah, NFN; Bilu, La
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.4612

Abstract

Feminis dan Islam sering dibenturkan sebagai ideologi yang berlawanan. Islam sebagai agama seringkali dipandang sebagai sumber munculnya praktik-praktik ketidakadilan terhadap perempuan. Akhir-akhir ini, ada upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam untuk memperkuat posisi perempuan, terutama bagi mereka yang lahir dan hidup dalam konteks budaya berbasis Islam. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap upaya negosiasi ideologi feminis dalam novel Assalamualaikum Beijing karya Asma Nadia. Feminisme multikultural digunakan sebagai perspektif dalam mengkaji isu ideologi feminis dalam novel dengan asumsi bahwa perempuan tidak diciptakan dan dikonstruksi dengan cara yang sama tetapi bergantung pada latar belakang sosial budayanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini menekankan kemandirian perempuan dengan mendorong mereka melalui pendidikan dan karir untuk melepaskan diri dari masalah ekonomi dan sosial. Namun, kemandirian dan kesetaraan perempuan juga harus didukung oleh nilai-nilai agama (Islam). Tampaknya novel ini melawan stereotip yang menganggap atribut agama (Islam) yang melekat pada perempuan sebagai kurungan atau bentuk subordinasi, seperti hijab dan taaruf, namun atribut tersebut justru menjadi bentuk pembebasan dan otonomi perempuan. Feminism and Islam are often viewed as opposing ideologies. Islam as a religion is seen by feminists as the source of the emergence of fraudulent practices against women. However, in the present decade, feminists have developed their ideas dealing with cultural attributes, particularly about Islamic rule on women. There has been an effort to enliven Islamic values to strengthen the position of women, especially for those who were born and live in an Islamic-based culture. This article aims to reveal the negotiation of feminist ideology in Assalamualaikum Beijing novel written by Asma Nadia. Multicultural feminism is used as a perspective in examining how feminist ideology is negotiated in the novel. The assumption that women are not created and constructed in the same social and cultural circumstances, thereby having a different way to exist in society. The results show that the novel emphasizes women's independence by encouraging women's education and career to liberate themselves from economic and social shortcomings. However, women's independence and equality must also be in line with religious (Islamic) values. It seems that the novel fights against the stereotypes of Islamic attributes attached to women as confinement or a form of subordination, such as hijab and taaruf, these attributes, on the other hand, become a form of women's self-liberation and autonomy. 
TOPONYMIY OF THE HISTORICAL MOSQUE NAME IN SOUTH KALIMANTANTOPONYMY OF THE HISTORICAL MOSQUES’ NAMES IN SOUTH KALIMANTAN (Toponimi Nama Masjid Bersejarah di Kalimantan Selatan) Riani, NFN; Hestiyana, NFN
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.6186

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelisik toponimi asal-usul nama masjid bersejarah di Kalimantan Selatan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer doperoleh dari tuturan atau cerita dari tatuha kampung dan tokoh masyarakat yang telah dipilih. Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan kajian toponimi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan catat. Analisis data dilakukan dengan tahap-tahap mengklasifikasikan nama-nama masjid bersejarah berdasarkan deskripsi toponiminya, yakni aspek perwujudan, kemasyarakatan, dan kebudayaan. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal. Hasil nama-nama masjid bersejarah terdiri atas (1) aspek perwujudan, yakni (a) penamaan berdasarkan nama tumbuhan atau flora dan (b) penamaan berdasarkan rupa bumi; (2) aspek kemasyarakatan, yakni (a) penamaan berdasarkan tokoh dan (b) penamaan berdasarkan nilai-nilai sosial; dan (3) aspek kebudayaan, yakni berkaitan dengan mitos masyarakat setempat. Hasil penelitian ini berkontribusi dalam pendokumentasian toponimi nama-nama masjid bersejarah di Kalimantan Selatan. Melalui penelitian toponimi asal-usul nama masjid bersejarah diperoleh pengetahuan dan kearifan lokal di Kalimantan Selatan. Penelitian ini juga menjadi sarana pewarisan kebudayaan kepada generasi selanjutnya terhadap kebudayaan lokal yang memiliki nilai-nilai luhur, nilai filosofi, dan sejarah. This study is aimed at exploring the toponyms of historical mosque-origin names in South Kalimantan. The research method is descriptive qualitative. The data sources are primary and secondary. Primary data were obtained from speeches or stories from village elders and community leaders. Secondary data were obtained from official documents and previous studies. The data collection technique was carried out using read-and-note method. Data analysis was carried out by classifying the names of historic mosques based on their toponyms descriptions, namely aspects of embodiment, social, and cultural. The data analysis was presented using informal methods. The results of study show that the names of historic mosques consist of (1) embodiment aspects, namely naming based on (a) the names of plants or flora and (b) earth topographical relief ; (2) social aspects, namely (a) naming based on figures and (b) naming based on social values; and (3) the cultural aspect, which is related to the myths of the local community. The results contribute to toponymy documentation of the historic mosques’ names in South Kalimantan. Through the study, knowledge and local wisdom of historical mosque name origin are obtained. It is also a means of transmitting culture to the next generation of local culture which has noble values, philosophical values, and history.
FONOLOGI GENERATIF BAHASA TOTOLI (Generative Phonology of Totoli Language) Gari, Siti Fatinah; Tamrin, NFN; B, M Asri
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5624

Abstract

This study investigates the realization of segments, syllable patterns, and the characteristics of Totoloi language. Therefore, this study aims to find and describe the realization of segments, syllable patterns, and characteristics of segments of Totoli language thorugh the generative phonology theory which developed by Chomsky and Morris Halle and adapted by Schane (1993). The data was obtained using listening method through tapping, taking notes, listening to conversational engagement techniques. Then, it was analyzed using the intralingual equivalence method with the equating comparison and discriminating comparison techniques. This study found that there were 32 segments of Totoli language, namely 8 vowel segments: /o/, /ɔ/, /u/, /i/, /e/, /ɛ/, /a/, /ɐ/, /a:/, /o:/, dan /i:/; and 24 consonant segments: /p/, /b/, /ɓ/, /m/, /w/, /r/, /t/, /s/, /ɗ/, /n/, /l/, /ɽ/, /Ɉ/, /ɲ/, /j/, /k/, /g/, /ŋ/, /h/, /nɗ/, /mb/, /mp/, /ŋg/, /nt/, /nɈ/, /ɗɗ/, /kk/, /ll, /ss/, and /pp/. Totoli language had a single-margin syllable canonical pattern: V/KV/KVK. By using 14 distinctive features, it was found that all vocal segments had characteristics as follows [+Sil] and [+Son]; /m/, /n/, /ɲ/, /ŋ/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /ŋg/, /r/, /ɽ/,/j/, /w/ had characteristics as follows [+Son]; all consonant segments, except /h/, /w/, /j/ had characteristic as follows [+Kon];  /s/, /h/ had characteristics as follows [+Kont]; only /s/ had characteristics as follows [+Strid]; /m/, /n/, /ɲ/, /ŋ/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /ŋg/, had characteristic as follows [+Nas]; /l/, /ɽ/ had characteristics as follows [+Lat]; /p/, /b/, /ɓ/, /t/, /ɗ/, /ɗɗ/, /m/, /n/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /r/, /w/ had characteristics as follows [+Ant]; /t/, /ɗ/, /Ɉ/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /s/, /l/, /ɽ/ had characteristics as follows [+Kor]; /i/, /i:/ had characteristics as follows [Tin]; /a/, /a:/, /ɐ/ had characteristics as follows [+Ren]; /u/, /o/, /ɔ/, /k/, /g/ had characteristics as follows [+Bel]; and /u/, /o/, /ɔ/ had characteristics [+Bul]. Feature of [+Ppt] was not found in Totoli language.  Penelitian ini menelaah satu rumusan masalah, yaitu bagaimanakah realisasi segmen, pola kanonik suku kata, dan fitur-fitur distingtif segmen bahasa Totoli? Sejalan dengan itu, penelitian ini bertujuan menemukan dan mendeskripsikan realisasi segmen, pola kanonik suku kata, dan fitur-fitur distingtif segmen bahasa Totoli melalui teori fonologi generatif yang dikembangkan oleh Chomsky dan Morris Halle dan diadaptasi oleh Schane (1992). Data diperoleh menggunakan metode simak melalui teknik sadap, catat, simak libat cakap, dan simak bebas libat cakap. Kemudian, dianalisis menggunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan dan hubung banding membedakan. Penelitian ini menemukan 39 segmen bahasa Totoli, yaitu 10 segmen vokoid: /o/, /u/, /i/, /e/, /e:/, /a/, /a:/, /o:/, /u:/, dan /i:/; dan 29 segmen kontoid: /p/, /b/, /ɓ/, /m/, /r/, /t/, /s/, /ɗ/, /n/, /l/, /ɽ/, /Ɉ/, /j/, /k/, /g/, /ŋ/, /nɗ/, /mb/, /mp/, /ŋg/, /nt/, /nɈ/, /ɗɗ/, /kk/, /ll, /tt/, /bb/, /mm/, dan /ss/. Bahasa Totoli memiliki pola kanonik suku kata margin tunggal: V, KV, KVK. Dengan menggunakan 14 fitur distingtif ditemukan bahwa semua segmen vokal bercirikan [+Sil] dan [+Son]; /m/, /mm/, /n/, /ɲ/, /ŋ/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /ŋg/, /r/, /ɽ/,/j/, /w/ bercirikan [+Son]; semua segmen konsonan, kecuali /j/ bercirikan [+Kon]; /s/ bercirikan [+Kont]; hanya /s/ dan /ss/ bercirikan [+Strid]; /m/, /mm/, /n/, /ŋ/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /ŋg/, bercirikan [+Nas]; /l/, /ɽ/ bercirikan [+Lat]; /p/, /b/, /ɓ/, /bb/, /t/, /ɗ/, /ɗɗ/, /m/, /n/, /mb/, /mp/, /nɗ/, /nt/, /r/ bercirikan [+Ant]; /t/, /ɗ/, /Ɉ/, /nɗ/, /nt/, /nɈ/, /s/, /ss/, /l/, /ɽ/ bercirikan [+Kor]; /i/, /i:/, /k/, /kk/ bercirikan [+Tin]; /a/, /a:/ bercirikan [+Ren]; /u/, /u:/, /o/, /o:/, /k/, /kk/, /g/ bercirikan [+Bel]; dan /u/, /u:/, /o/, /o:/ bercirikan [+Bul]. Fitur [+Ppt] tidak ditemukan dalam bahasa Totoli. 
ADVERB IN JAVANESE (Adverbia dalam Bahasa Jawa) Wijana, I Dewa Putu
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.5819

Abstract

Makalah ini berkenaan dengan bentuk dan makna adverbia di dalam bahasa Jawa yang permasalahannya belum pernah diteliti secara mendalam oleh para ahli bahasa. Dengan menggunakan data yang dikoleksi dari majalah Djaka Lodang, salah satu majalah berbahasa Jawa yang masih terbit di komunitas pemakaian bahasa Jawa, ditemukan bahwa adverbia bahasa Jawa dapat diungkapkan dalam bentuk kata-kata monomorfemik dan polimorfemik. Adverbia polimorfemik dapat dibedakan ke dalam bentuk kata berafiks, kata ulang, dan kata majemuk. Sementara itu, dalam kaitannya dengan masalah makna, adverbia bahasa Jawa dapat digunakan untuk mengungkapkan beberapa makna, seperti waktu, tempat, perturutan, keseringan, jumlah, perulangan dan kesamaan, cara, superlativitas, modalitas, sebab, dan perlawanan.          This paper deals with forms and meanings of adverb in Javanese whose problems have not been profoundly studied by the linguists. By using data collected from Djaka Lodang, one among a few number of Javanese magazines still exist in Javanese community, it is found that formally Javanese adverbs can be expressed in the forms of monomorphemic words and polymorphemic ones.  The polymorphemic words can be distincted into affixed words, reduplicative words, and compounds. Meanwhile, with regard to the meanings, the Javanese adverbs can be used to expressed several meanings, such as time, place, succession, frequency, quantity, repeatedness and similarity, manner, superlativity modality, cause, and contrast.
KONSEPTUALISASI METAFORA FEMINIS DALAM MEDIA SOSIAL TWITTER: ANALISIS SEMANTIK KOGNITIF (Conceptualization of Feminist Metaphors in Social Media Twitter: Cognitive Semantic Analysis) Fatim, Al Lastu Nurul; Al Anshory, Abdul Muntaqim
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5102

Abstract

There are several places in which feminist expressions can be found, including on social media platforms like Twitter. A variety can write arguments, opinions, and ideas communicated through Twitter tweets. This study aims to discover conceptual metaphors for feminist expressions that influencer Iim Fahima Jachja posted on Twitter. The listen and record method was employed to collect data. The data analysis is based on Lakoff & Johnson's (2003) theory of conceptual metaphors as well as Croft & Cruse's (2004) image schemes theory. There were 11 conceptual metaphorical data points were found, split into five structural metaphors, two orientational metaphors, and four ontological metaphors. Meanwhile, three types of schemes may be discovered in the image schemes: force schemes, identity schemes, and existence schemes. Ungkapan feminis dapat ditemukan pada berbagai wacana, termasuk media sosial seperti twitter. Berbagai tokoh dapat menuliskan ujarannya mulai dari argumen, pendapat, dan ide yang dituangkan melalui twitter. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi metafora konseptual pada ungkapan feminis yang terdapat pada twitter dari influencer Iim Fahima Jachja. Metode simak dan cata digunakan sebagai pengumpulan data. Analisis datanya didasarkan pada metafora konseptual Lakoff & Johnson (2003) dan teori skema citra Croft & Cruse (2004). Ditemukan 11 data metafora konseptual yang terbagi menjadi: a) 5 metafora struktural; b) 2 metafora orientasional; c) 4 metafora ontologis. Sedangkan, pada skema citra terdapat 3 jenis skema yang ditemukan yaitu, skema kekuatan, skema identitas, dan skema eksistensi. 
ANALISIS WACANA KRITIS NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK: PENDEKATAN MODEL FAIRCLOUGH (Critical Discourse Analysis of Negeri di Ujung Tanduk Novel: Fairclough Model Approach) Syah, Saprudin Padlil; Ansoriyah, Siti; Rohman, Saifur
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.6302

Abstract

A novel is a type of literary work created as an author's response to the context of his environment. This study aims to describe the textual level, the level of discourse practice, and the level of sociocultural practice in the Negeri di Ujung Tanduk Novel. This study used a descriptive qualitative approach. The source of data in this study is the novel Negeri di Ujung Tanduk by Tere Liye. The data obtained were analyzed using Fairclough's model of critical discourse analysis theory. Based on research, the following three things are known. First, the theme raised in this novel depicts power, ideology, and social norms in discourse. Second, based on the level of discourse practice, it is known that there is an interpretation of the text and context to the discourse. Third, based on the level of sociocultural practice, it is known that there is an external context that accompanies the discourse of the novel which includes three things, namely the situation dimension, the institutional dimension, and the social dimension.   Novel merupakan jenis karya sastra yang dibuat sebagai respons pengarang atas konteks lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan level tekstual, level praktik kewacanaan, dan level praktik sosiokultural pada novel Negeri di Ujung Tanduk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teori analisis wacana kritis model Fairclough. Berdasarkan penelitian diketahui tiga hal berikut. Pertama, yaitu tema yang diangkat dalam novel ini gambaran kekuasaan, ideologi, dan norma sosial dalam wacana. Kedua, berdasarkan level praktik kewacanaan diketahui adanya interpretasi teks dan konteks terhadap wacana. Ketiga, berdasarkan level praktik sosiokultural diketahui adanya konteks luar yang mengiringi wacana novel tersebut yang meliputi tiga hal, yaitu dimensi situasi, dimensi institusi, dan dimensi sosial. 
PRODUKTIVITAS MORFEMIS PADA LIRIK LAGU TULUS DALAM ALBUM MANUSIA (Morpheme Productivity in Tulus’s Lyric in Manusia Album) NH, Siti Rahajeng; Yuwono, Untung
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5791

Abstract

The nature of language is dynamic. It makes the linguistics phenomena always develop and one of them is related to the formation of potential new words in Indonesian. This research starts from the creativity of Tulus in his lyrics that often did not follow the existing linguistic form. This creativity of making new words can be found in his album “Manusia”, The purpose of this research is to describe the productivity form of morphemes in Tulus’s song lyric in “Manusia” album. The album is the latest album which was released on March 3, 2022. The data used in this research is verbal lyric of ten songs (1) Tujuh Belas, (2) Kelana, (3) Remedi, (4) Interaksi, (5) Ingkar, (6) Jatuh Suka, (7) Nala, (8) Hati-Hati di Jalan, (9) Diri, and (10) Satu Kali. The data collected by simak method with detail technique are simak libat bebas cakap (SLBC), tapping, and taking a note. Meanwhile, the analysis method used is intralingual comparison (padan intralingual). The results of this research are (1) enclitic, (2) prefixes of ber-, ter, and se- which have new attachment patterns, (3) suffixes -i, and (4) pracategorial form is found alone.  Sifat bahasa yang selalu dinamis membuat fenomena kebahasaan selalu berkembang, salah satunya berkaitan dengan pembentukan kata-kata baru yang potensial dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini berangkat dari masalah bahwa kreativitas penyanyi Tulus dalam albumnya seringkali tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan yang ada, namun kata-kata yang digunakan merupakan kata-kata yang potensial. Penelitian ini akan mendeskripsikan bentuk-bentuk produktivitas morfemis yang terdapat pada lirik lagu Tulus dalam albumnya yang bertajuk Manusia. Album ini merupakan album terbaru Tulus yang dirilis pada 3 Maret 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data verbal lirik sepuluh lagu yang terdapat dalam album Manusia, yakni (1) “Tujuh Belas”, (2) “Kelana”, (3) “Remedi”, (4) “Interaksi”, (5) “Ingkar”, (6) “Jatuh Suka”, (7) “Nala”, (8) “Hati-Hati di Jalan”, (9) “Diri”, dan (10) “Satu Kali”. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap, teknik sadap, dan teknik catat. Adapun metode analisisnya menggunakan padan intralingual. Bentuk-bentuk potensial yang ditemui dalam album ini adalah penggunaan bentuk (1) enklitik, (2) prefiks ber-, ter-, dan se- yang memiliki pola keterikatan baru, (3) sufiks -i, dan (4) bentuk prakategorial sebagai morfem terikat yang dijumpai berdiri sendiri.