cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
PARALU TU MURI MADA (PERLU UNTUK HIDUP): METAFORA KONSEPTUAL NYANYIAN DI ATAS POHON LONTAR (Paralu Tu Muri Mada (Need it for Life): The Conceptual Metaphor of Songs on the Lontar Tree) Sine, Junaity Soften; Mata, Rosdiana
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.5284

Abstract

The oral singing tradition on the Lontar Tree while tapping the flowers of the Lontar Tree in Sabu Island is interesting to be investigated from its metaphorical language use – employing the Conceptual Metaphor Theory by Lakoff and Johnson. Therefore this study investigated (1) the conceptual metaphor mapping; (2) the cultural-historical and social situation that triggers the metaphorical language; and (3) the local wisdom values reflected in the songs. A qualitative approach with ethnography design was applied to the interview, observation, and documentation of six farmers on the Island of Sabu. It found (1) eight conceptual metaphor mappings, namely people are plants, plants are people, people are animals, social relations are containers, happiness is cold river, people are machine, manner is taste, and marriage is a sea journey; (2) contextual factors: history and belief of the local people, flora and fauna from daily life, a sea community of people, and people who travel; (3) local wisdom values: normative values: advice for love and family relation, respect and care for the Lontar Tree, and historical values.  Tradisi menyanyi di atas Pohon Lontar ketika menyadap nira di Pulau Sabu menarik untuk diteliti dari sisi penggunaan kata-kata dalam syair lagu secara metaforis – dengan Conceptual Metaphor Theory Lakoff dan Johnson. Penelitian ini menelisik (1) pemetaan metafora konseptual; (2) latar kultural-historis dan sosial penggunaan metafora konseptual; dan (3) nilai-nilai kearifan lokal yang muncul dalam syair lagu. Desain Etnografi dalam Pendekatan Kualitatif dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi terhadap enam subjek  penyadap nira di Pulau Sabu. Ditemukan (1) pemetaan 8 metafora konseptual yakni manusia adalah tanaman, tanaman adalah manusia, manusia adalah binatang, relasi sosial adalah wadah, kebahagiaan adalah sungai yang dingin, manusia adalah mesin, perilaku adalah cita rasa, dan pernikahan adalah perjalanan laut; (2) Latar penggunaan metafora konseptual: sejarah dan kepercayaan masyarakat, flora dan fauna dalam kehidupan keseharian, kehidupan yang dekat dengan laut, dan masyarakat yang merantau; (3)nilai-nilai kearifan lokal: nilai normative nasihat seputar percintaan dan keluarga, menghargai dan merawat Pohon Lontar, dan nilai historis. 
RESISTANSI PEREMPUAN DALAM BUDAYA PERTUNJUKAN JAWA TRADISIONAL (Women's Resistance in Traditional Javanese Performance Culture) Nirmalawati, Widya; Nurhayati, Sulasih; Wahyuningsih, Titik
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.3949

Abstract

Women in literary works were often presented as a representation of resistance to the their social, cultural and traditional backgrounds. This could also be seen in the novel Tonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari. This study discussed the resistance of the female character in the novel to her patron-client practices. Using Scott’s patron-client theory, it was revealed that the resistance made by Srintil’s character as ronggeng against her patron, Ki Kartareja, was a rule from the ronggeng tradition that shackles her freedom as a human and a woman. Patron-cient relationships that initially worked out eventually led Srintil to fight back. The rules and prohibitions on falling in love, the desire to marry and having children ordered by Kartareja as a ronggeng shaman benefitted only for the men (the patriarchal culture) legitimated by culture led Srintil to rebel and resist in her own way. Perempuan dalam karya sastra sering dihadirkan sebagai representasi perlawanan terhadap kondisi sosial, budaya dan tradisi yang melatarbelakanginya. Hal tersebut juga terlihat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Penelitian ini akan membahas resistansi yang dilakukan tokoh perempuan dalam novel tersebut terhadap praktik patron-klien yang dijalaninya. Dengan menggunakan teori patron-klien dari Scott, terungkap bahwa resistansi yang dilakukan tokoh Srintil sebagai ronggeng terhadap patronnya, Ki Kartareja, merupakan penolakan Srintil terhadap aturan dari tradisi ronggeng yang membelenggu kebebasannya sebagai manusia dan perempuan. Relasi patron-klien yang awalnya berjalan dengan baik pada akhirnya menuntun Srintil untuk melawan. Aturan berupa larangan jatuh cinta, menikah, dan memiliki anak yang didengungkan oleh Kartareja sebagai dukun ronggeng hanya menguntungkan laki-laki yang terlegitimasi budaya. Hal tersebut membuat Srintil berontak dan melakukan resistansi dengan caranya sendiri.
VITALITAS BAHASA MORONENE DI KABUPATEN BOMBANA (Vitality of Moronene Language in Kabupaten Bombana) Firman, A.D.; Astar, Hidayatul; Nugroho, Mardi
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.4551

Abstract

This study aimed to know the vitality of Moronene language in various social domain. Descriptive-quantitative was used to describe ten indicators which become elements of evaluation. In calculating the level of vitality, the SPSS program was used and percentage system was used in describing every indicator. Those quantitative data were synergized with the qualitative data from in-depth interview and observation. The result showed that average index of all indicators was at vitality figures of 0.54 which means Moronene language had a regression. That condition was caused by the high mobility of the speakers. Accessibility and transportation facilities were very good. The speakers of Moronene language can utter two languages or more, so that they have choice of using other languages. The plurality of social situation due to interethnic marriage. The number of documentations about Moronene language are relatively very limited. Moronene language was less used in neighbors, traditional ceremonies, and new media. Besides, the availability of teaching materials was very restricted. There was no also regulation about local language.    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vitalitas bahasa Moronene dalam berbagai ranah sosial. Ancangan penelitian ini bersifat kuantitatif-desktiptif dengan menggunakan sepuluh indikator penilaian. Untuk menghitung tingkat vitalitas digunakan program SPSS dan untuk mendeskripsikan tiap indikator digunakan sistem persentase. Hasil pengolahan data kuantitatif tersebut disinergikan dengan pengolahan data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks secara rerata dari keseluruhan indikator berada pada angka vitalitas 0,54 dengan kategori mengalami kemunduran. Kondisi tersebut disebabkan oleh mobilitas penutur yang tinggi karena akses dan jalur transportasi yang sangat baik. Masyarakat penutur Moronene cenderung menguasai dua bahasa atau lebih sehingga masyarakat memiliki pilihan bahasa yang lain. Situasi sosial masyarakat yang majemuk menyebabkan terjadinya pernikahan antaretnis. Jumlah dokumentasi mengenai bahasa Moronene relatif sangat terbatas. Bahasa Moronene kurang digunakan dalam ranah tetangga, upacara adat, dan media baru. Selain itu, ketersediaan bahan ajar sangat kurang dan regulasi yang tidak ada. 
POLA STRATEGI KESANTUNAN DALAM INTERAKSI PERDAGANGAN DI WARUNG TRADISONAL (Politeness Strategy Patterns in Trade Interactions in Traditional Stalls) Andriyani, Anak Agung Ayu Dian; Raharjo, Yusuf Muflikh; Putri, I Gusti Ayu Vina Widiadnya
Kandai Vol 19, No 1 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i1.3986

Abstract

This study aims to find politeness strategy patterns in Trade Interactions in Traditional Stalls n the interaction between sellers and buyers in traditional stalls. This study used a qualitative descriptive method, a pragmatic equivalent approach by paying attention to the context of the situation in each dialogue that occurs in traditional stalls in Denpasar City and Badung Regency. The method used in this study is the observation method with data collection techniques, namely, recording, listening, and taking notes, as well as interviewing traders. The results showed that there were implementations of positive and negative politeness strategies. Although traders prefer silence, there is no interaction by speaking verbally, when serving consumers, nonverbal interactions occur between speech participants. However, it does not reduce the value of politeness and the form of service from the seller to the buyer. This is due to the same background knowledge among the speech participants and the crowded context of the situation so that buyers understand this condition. Interactions in the trading domain in traditional stores predominantly use short, concise, straightforward speech, and when the shop is crowded, buyers speak more dominantly than sellers. This study implies that the politeness strategy used by the seller to the buyer is largely determined by the context of the situation when the interaction occurs. Although the speech is short, the service is fast, and according to the wishes of consumers, buying and selling interactions can run harmoniously. The contribution of this study can add to the treasures in the study of linguistic politeness. In addition, it is a guideline for language learners that the context of the situation has an important role in determining language politeness strategies. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola strategi kesantunan dalam interaksi perdagangan di warung tradisional pola kesantunan berbahasa pada interaksi antara penjual dan pembeli di warung tradisional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, pendekatan padan pragmatik dengan memperhatikan konteks situasi dalam setiap dialog yang terjadi di warung tradisional di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan teknik pengumpulan data yaitu, merekam, menyimak dan mencatat, serta mewawancarai para pedagang. Hasil penelitian menunjukkan adanya implementasi dari strategi kesantunan positif dan negatif. Meskipun pedagang lebih banyak memilih diam tidak terjadi interaksi dengan menuturkan secara lisan, ketika melayani konsumen, tetapi terjadi interaksi secara nonverbal di antara peserta tutur. Meskipun demikian, tidak mengurangi nilai kesantunan dan wujud pelayanan dari penjual kepada pembeli. Hal ini disebabkan oleh background knowledge di antara peserta tutur sama dan konteks situasi ramai sehingga pembeli memaklumi kondisi ini. Interaksi dalam domain perdagangan di warung tradisional secara dominan menggunakan tuturan pendek, singkat, tidak bertele-tele, dan ketika warung dalam kondisi ramai, pembeli lebih dominan bertutur dibandingkan penjual. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa strategi kesantunan yang digunakan penjual kepada pembeli sangat ditentukan oleh konteks situasi saat terjadinya interaksi. Meskipun tuturan singkat, tetapi pelayanan yang cepat sesuai keinginan konsumen interaksi jual beli dapat berjalan harmonis. Adapun kontribusi dari hasil penelitian ini dapat menambah khazanah dalam kajian kesantunan berbahasa. Di samping itu, menjadikan suatu pedoman bagi pembelajar bahasa bahwa konteks situasi memiliki peran penting dalam menentukan strategi kesantunan berbahasa.
KALIMAT IMPERATIF DENGAN FOKUS PASIEN DALAM BAHASA JAWA (Imperative Sentences with Patient Focus in Javanese) Suhandano, NFN
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5932

Abstract

This paper discuss imperative sentences with a patient focus in Javanese, a type of imperatives that are not found in all languages of the world. Data are taken from the Javanese spoken in Yogyakarta and its surounding areas and analyzed using the distribution method by looking at the position of elements focused on the sentence structure and morphological markers on the verbs. The discussion is presented in the framework of voice system of Austronesian languages. It will be shown that there are two types of imperatives with a patient focus in Javanese. They are marked by different affixes on the verb of sentences: the suffix –(n)en and the prefix di-. Typologically the two types of imperatives come from different voice system. The imperatives which are marked by the suffix –(n)en on the verbs come from a multiple voice system and the imperatives which are marked by the prefix di- on the verb come from a two-voice system. Based on this evidence, I argue that Javanese has two types of voice system of imperatives: a multiple voice system and a two-voice system and it indicates that Javanese is being changing form a multiple voice language type to a two voice active-passive language type. Makalah ini membahas kalimat imperatif bahasa Jawa dengan fokus pasien, jenis kalimat imperatif yang tidak ditemukan dalam semua bahasa di dunia. Data diambil dari bahasa Jawa yang dituturkan di Yogyakarta dan dianalisis dengan metode distribusional, yakni dengan melihat posisi unsur kalimat yang difokuskan dalam struktur kalimat dan penanda pada verbanya. Pembahasan disajikan dalam kerangka teori sistem voice bahasa Austronesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada dua jenis kalimat imperatif dengan fokus pasien dalam bahasa Jawa. Kedua jenis kalimat ditandai oleh afiks yang berbeda pada verbanya: sufiks -en dan prefiks di-. Secara tipologis kedua jenis kalimat imperatif tersebut berasal dari sistem voice yang berbeda. Kalimat imperatif yang ditandai dengan sufiks –(n)en pada verba berasal dari sistem multiple voice, sedangkan kalimat imperatif yang ditandai dengan prefiks di- pada verba berasal dari sistem dua voice aktif-pasif. Berdasarkan bukti ini, saya berpendapat bahwa bahasa Jawa memiliki dua jenis sistem voice pada kalimat imperatif: sistem multiple voice dan sistem dua voice aktif-pasif. Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa Jawa sedang dalam perubahan dari bahasa tipe multiple voice ke bahasa tipe dua voice aktif-pasif. Penelitian ini mengkaji jati diri orang Sunda yang terdapat dalam mitos Ciung Wanara. Penelitian menunjukkan model logis orang Sunda mengatasi konflik atau kontradiksi yang terjadi diantara mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss yang diasumsikan dapat memaknai mitos secara komprehensif melalui penemuan innate yang merupakan titik temu antara surface dan deep structure. Tahapan penelitiannya, yaitu: (1) pencarian data CW dibagi dalam episode dan unit; (2) dibuat deret sinkronik dan diakronik untuk menemukan surface structure; (3) Dicari deep structure dengan jalan oposisi biner; (4) Penemuan innate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 episode dan 49 unit. Dari hasil penyusunan tabel sinkroik dan diakronik untuk mytheme ditemukan 5 pola segitiga, yaitu: pola segitiga permaisuri, pola segitiga Mahatinggi, pola segitiga orang tua, pola segitiga kehidupan, pola segitiga alam, dan trias politika Sunda. Paling dominan terdapat dalam mitos CW yaitu pola segitiga kehidupan, pola berpikir, pola bersikap, dan pola bertindak, kekhasan jati diri orang Sunda serta penerapan dari trias politika Sunda, silih asih, silih asah, dan silih asuh.
KALIMAT IMPERATIF DENGAN FOKUS PASIEN DALAM BAHASA JAWA (Imperative Sentences with Patient Focus in Javanese)
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.5932

Abstract

This paper discuss imperative sentences with a patient focus in Javanese, a type of imperatives that are not found in all languages of the world. Data are taken from the Javanese spoken in Yogyakarta and its surounding areas and analyzed using the distribution method by looking at the position of elements focused on the sentence structure and morphological markers on the verbs. The discussion is presented in the framework of voice system of Austronesian languages. It will be shown that there are two types of imperatives with a patient focus in Javanese. They are marked by different affixes on the verb of sentences: the suffix –(n)en and the prefix di-. Typologically the two types of imperatives come from different voice system. The imperatives which are marked by the suffix –(n)en on the verbs come from a multiple voice system and the imperatives which are marked by the prefix di- on the verb come from a two-voice system. Based on this evidence, I argue that Javanese has two types of voice system of imperatives: a multiple voice system and a two-voice system and it indicates that Javanese is being changing form a multiple voice language type to a two voice active-passive language type. Makalah ini membahas kalimat imperatif bahasa Jawa dengan fokus pasien, jenis kalimat imperatif yang tidak ditemukan dalam semua bahasa di dunia. Data diambil dari bahasa Jawa yang dituturkan di Yogyakarta dan dianalisis dengan metode distribusional, yakni dengan melihat posisi unsur kalimat yang difokuskan dalam struktur kalimat dan penanda pada verbanya. Pembahasan disajikan dalam kerangka teori sistem voice bahasa Austronesia. Hasilnya menunjukkan bahwa ada dua jenis kalimat imperatif dengan fokus pasien dalam bahasa Jawa. Kedua jenis kalimat ditandai oleh afiks yang berbeda pada verbanya: sufiks -en dan prefiks di-. Secara tipologis kedua jenis kalimat imperatif tersebut berasal dari sistem voice yang berbeda. Kalimat imperatif yang ditandai dengan sufiks –(n)en pada verba berasal dari sistem multiple voice, sedangkan kalimat imperatif yang ditandai dengan prefiks di- pada verba berasal dari sistem dua voice aktif-pasif. Berdasarkan bukti ini, saya berpendapat bahwa bahasa Jawa memiliki dua jenis sistem voice pada kalimat imperatif: sistem multiple voice dan sistem dua voice aktif-pasif. Hal ini mengindikasikan bahwa bahasa Jawa sedang dalam perubahan dari bahasa tipe multiple voice ke bahasa tipe dua voice aktif-pasif. Penelitian ini mengkaji jati diri orang Sunda yang terdapat dalam mitos Ciung Wanara. Penelitian menunjukkan model logis orang Sunda mengatasi konflik atau kontradiksi yang terjadi diantara mereka. Metode penelitian menggunakan pendekatan strukturalisme Levi-Strauss yang diasumsikan dapat memaknai mitos secara komprehensif melalui penemuan innate yang merupakan titik temu antara surface dan deep structure. Tahapan penelitiannya, yaitu: (1) pencarian data CW dibagi dalam episode dan unit; (2) dibuat deret sinkronik dan diakronik untuk menemukan surface structure; (3) Dicari deep structure dengan jalan oposisi biner; (4) Penemuan innate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 17 episode dan 49 unit. Dari hasil penyusunan tabel sinkroik dan diakronik untuk mytheme ditemukan 5 pola segitiga, yaitu: pola segitiga permaisuri, pola segitiga Mahatinggi, pola segitiga orang tua, pola segitiga kehidupan, pola segitiga alam, dan trias politika Sunda. Paling dominan terdapat dalam mitos CW yaitu pola segitiga kehidupan, pola berpikir, pola bersikap, dan pola bertindak, kekhasan jati diri orang Sunda serta penerapan dari trias politika Sunda, silih asih, silih asah, dan silih asuh.
VERNAKULARISASI AL-QUR'AN: UPAYA PELESTARIAN BAHASA TOLAKI MELALUI PENERJEMAHAN (Al-Qur’an Vernacularization: Attempt of Tolaki Language Preservation Through Translation) Gunawan, Fahmi
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.6858

Abstract

The present study aims to analyze the process of translating the Qur'an into Tolaki. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. Analysis was conducted using Hans J. Vermeer's Skopos theory. The findings indicate that the translation process of the Qur'an into Tolaki is tailored to the translation's purpose, utilizing Indonesian as the source language. The predominant translation ideology favors foreignization over domestication; the method employed is more inclined towards semantic rather than communicative translation. The prevalent levels of speech include 'anakia' and 'iwawo', and Arabic is sometimes used to clarify ambiguous meanings in Indonesian. Consequently, this study underscores the importance of adapting sacred texts to local social and cultural contexts. This adaptation involves selecting methodologies sensitive to the nuances of Tolaki society and employing language strategies that preserve authenticity and religious relevance. As a result, this translation serves as an effective communication tool and a symbol of the integration of religious and cultural identities in the lives of the Tolaki people. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Tolaki. Wawancara mendalam, observasi partisipan dan analisis dokumen digunakan dalam mengumpulkan data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori Skopos Hans J Vermeer. Hasil penelitian melaporkan bahwa proses penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa Tolaki disesuaikan dengan tujuan penerjemahan, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sumber, ideologi penerjemahan lebih dominan menggunakan ideologi forenisasi daripada domestikasi, metode penerjemahan lebih cenderung menggunakan penerjemahan semantik daripada penerjemahan komunikatif, level tuturan lebih dominan menggunakan tuturan anakia dan iwawo, serta bahasa Arab terkadang digunakan sebagai konfirmasi lanjutan mengenai makna kurang jelas di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, penelitian ini mengimplikasikan pentingnya adaptasi teks suci sesuai dengan konteks sosial dan kultural lokal. Proses ini melibatkan pemilihan metodologi yang sensitif terhadap nuansa masyarakat Tolaki dan penggunaan bahasa untuk menjaga autentisitas dan relevansi religius. Hasilnya, terjemahan ini menjadi alat komunikasi yang efektif dan simbol integrasi identitas keagamaan dan budaya dalam kehidupan masyarakat Tolaki.
VARIASI LEKSIKAL BAHASA WAKATOBI: KAJIAN DIALEKTOLOGI (Lexical Variation of the Wakatobi Language: Dialectology Study) Taembo, Maulid
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.6017

Abstract

The Wakatobi language variations are still a subject of interesting discussion and debate, not only among language researchers, but also among the people of Wakatobi. Previous studies that have different conclusions encourage wide discussions and studies on the diversity of Wakatobi languages. This study provides an overview and concrete manifestation of this variation, especially regarding the lexical variation of the Wakatobi language. Data collection was done by interview and observation methods. The tabulated data were analyzed descriptively qualitatively using traditional dialectology theory. The results of the research show that all fields of meaning consisting of several glosses provide an overview of lexical variations at several observation points. Almost all the compared lexicons show a grouping of language variations, which were observed from different islands. This study concludes that there are four major variations (isolects) of the Wakatobi language, namely the language variations spoken on Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, and Binongko Islands. However, not all lexicons differ from these variations (isolects). There are isolects that have the same lexicons as other isolects, such as the gloss ‘mole’, for the Waha, Mandati Lia, and Kapota areas, are not different from the Kaledupa area, but different from the Tomia area and also different from the Binongko area. Variasi bahasa Wakatobi masih menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang menarik, tidak hanya di kalangan peneliti bahasa, melainkan juga di kalangan masyarakat Wakatobi. Penelitian terdahulu yang menghasilkan kesimpulan yang berbeda membuka lebar diskusi dan kajian kebervariasian bahasa Wakatobi. Penelitian ini memberikan gambaran dan wujud nyata adanya kebervariasian tersebut, khususnya terkait variasi leksikal bahasa Wakatobi. Penyediaan data dilakukan dengan metode cakap dan metode simak. Data yang telah ditabulasi dianalisis secara deskriptif kualitatif menggunakan teori dialektologi tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua medan makna yang terdiri atas beberapa glos memberikan gambaran variasi leksikal di beberapa titik pengamatan. Hampir semua berian yang dibandingkan memperlihatkan adanya pengelompokan variasi bahasa, yang diamati dari pulau yang berbeda. Kajian ini menyimpulkan bahwa ada empat variasi (isolek) besar bahasa Wakatobi, yaitu variasi bahasa Wakatobi yang dituturkan di Pulau Wangiwangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Namun demikian, tidak semua berian berbeda dari semua variasi (isolek) tersebut. Ada isolek yang memiliki berian yang sama dengan isolek lainnya, seperti glos ‘tahi lalat’, wilayah Waha, Mandati Lia, Kapota, tidak berbeda dengan wilayah Kaledupa, tetapi berbeda dengan wilayah Tomia dan juga berbeda dengan wilayah Binongko.
ENABLER FACTORS IN THE SURVIVAL OF “NGOKO” JAVANESE IN THE SPECIAL REGION OF YOGYAKARTA (Enabler Factors Survival Bahasa Jawa “Ngoko” di Daerah Istimewa Yogyakarta) Udasmoro, Wening; Sulistyowati, NFN; Susetyo, Jarwo; Firmonasari, Aprillia
Kandai Vol 19, No 2 (2023): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v19i2.4158

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh alasan di balik preferensi pemilihan salah satu ragam bahasa Jawa, yakni bahasa Jawa Ngoko di kalangan siswa Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas di lima wilayah kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Alasan pemilihan bahasa ini dipandang memiliki kaitan erat dengan sosialisasi bahasa yang dilakukan di lingkup keluarga, peer groups dan media, baik media sosial maupun media konvensional. Teori mengenai kerentanan bahasa dipakai untuk menganalisis sumber data. Penelitian ini menggunakan mix method, yakni dengan penelitian survei menggunakan analisis kuantitatif terhadap aspek-aspek terkait dengan alasan pemilihan bahasa dan peran subjek-subjek yang berpotensi menjadi enabler factor pemilihan bahasa Jawa Ngoko tersebut. Metode kedua adalah dengan Geographic Information system yang merupakan metode dengan fokus pada spasialitas untuk menengarai sebaran pemilihan-pemilihan bahasa Jawa di lima wilayah yang dianalisis. Penelitian ini menemukan bahwa practical reason menjadi alasan utama dari para siswa untuk menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Habitus DIY merupakan enabler factor alasan pemilihan ragam bahasa ini secara umum di jenjang sekolah yang berbeda. Selain itu, keluarga, peer groups serta sosial media memiliki potensi sebagai enabler factor yang lain meskipun membutuhkan cara dan mekanisme yang berbeda di dalam pengelolaanya. Conducted in one city and five regencies in DIY (the Special Region of Yogyakarta), this study aimed to identify the reason as to why the elementary, junior high, and high school students in these regions prefer using one Javanese register, namely ngoko, over the other registers. It is believed that this preference pertains to language socialization within the family, peer groups, and the media, both social and conventional. The theory of language vulnerability was used to analyze the data. The study employed two relevant quantitative methods. The first one includes a quantitative analysis of survey data on the background of language selection and the roles of subjects believed to be the enabler factors in the selection of ngoko. The second one is GIS (Geographic Information System) mapping to display spatial information on the distribution of Javanese register usage in the five regions. This study found that practicality is the main reason for students to use ngoko in everyday life. The habitus of DIY is an enabler factor in choosing this language variety at different school levels. Additionally, family, peer groups, and social media have the potential to be enabler factors, although it requires different ways and mechanisms to manage them.
PEREMPUAN DALAM MASA REVOLUSI DALAM CERPEN S. RUKIAH: SEBUAH PEMBACAAN GINOKRITIK (Women during Revolution Time in S. Rukiah’s Short Story: A Gynocritical Reading) Oktarina, Dwi; Tjahjandari, Lily Tjahjandari; Warsono, Sunu
Kandai Vol 20, No 1 (2024): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v20i1.5945

Abstract

The revolutionary period is described as an important chapter in modern Indonesian history. At this time, self-awareness as an independent nation was formed within the Indonesian people. As one of the women writers during the revolutionary era, Rukiah’s thoughts made enthusiasm within the framework of liberating women. This research seeks to reveal Rukiah's position as a woman writer by using the women as a writer or ginocritic approach in the short stories "Mak Esah" and "Istri Prajurit" in Tandus (first published in 1952 and reprinted in 2017). The results of the study show that Rukiah gives a picture of reality in her works. Apart from that, he also gave a portraits of life during the revolutionary period by using a straightforward language as well as symbolic language. From the results of the ginocritical reading, it was revealed that Rukiah really upholds the spirit of change for women. However, he has not shown any effort to support women's condition to be free from male oppression. The depiction of female characters physically and mentally has not shown Rukiah's alignment with the view of freeing women from oppression.Masa-masa revolusi digambarkan sebagai satu babak penting dalam sejarah Indonesia modern. Pada masa ini, kesadaran diri sebagai bangsa yang merdeka terbentuk dalam diri rakyat Indonesia. Sebagai salah satu perempuan pengarang di era revolusi, Rukiah hadir membawa pemikiran dan semangat dalam kerangka memerdekakan perempuan. Penelitian ini berusaha mengungkap gambaran posisi Rukiah sebagai seorang perempuan pengarang dengan menggunakan pendekatan women as a writer atau ginokritik dalam cerpen “Mak Esah” dan “Istri Prajurit” yang termaktub dalam Tandus (terbit pertama pada 1952 dan dicetak ulang pada 2017). Hasil kajian menunjukkan bahwa Rukiah memberi gambaran realitas dalam karya-karyanya. Selain itu, ia juga menuangkan potret kehidupan pada masa-masa revolusi dengan menggunakan gaya bahasa lugas sekaligus juga bahasa simbol. Dari hasil pembacaan ginokritik terungkap bahwa Rukiah memang menjunjung tinggi semangat perubahan bagi kaum perempuan. Akan tetapi, ia belum menunjukkan upaya mendukung kondisi perempuan untuk terlepas dari opresi laki-laki. Penggambaran karakter tokoh perempuan secara fisik maupun batiniah belum menunjukkan keberpihakan Rukiah pada pandangan untuk membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan.