cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Kandai
ISSN : 1907204X     EISSN : 25275968     DOI : -
Kandai was first published in 2005. The name of Kandai had undergone the following changes: Kandai Majalah Illmiah Bahasa dan Sastra (2005) and Kandai Jurnal Bahasa dan Sastra (2010). Since the name of journal should refer to the name that was registered on official document SK ISSN, in 2016 Kandai started publish issues with the name of Kandai (refer to SK ISSN No. 0004.091/JI.3.02/SK.ISSN/2006 dated February 7th, 2006, stating that ISSN 1907-204X printed version uses the (only) name of KANDAI). In 2017, Kandai has started to publish in electronic version under the name of Kandai, e-ISSN 2527-5968.
Arjuna Subject : -
Articles 255 Documents
KAJIAN POETIKA KOGNITIF KETERLIBATAN PEMBACA TERHADAP FIKSI DIGITAL (The Study of Cognitive Poetics to the Readers' Engagement with Digital Fiction) Sri Kusumo Habsari; Diah Kristina; Fitria Akhmerti Primasita; Yusuf Kurniawan; Karunia Purna Kusciati
Kandai Vol 18, No 2 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i2.4129

Abstract

Developing the observation of the intensity of students' engagement with digital texts, which tend to increase significantly during the pandemic Covid-19, this research raises questions on the cognitive poetics process and experiences in readers' engagement with digital fiction. Of such phenomenon, this research applies cognitive poetics, which refers to the appreciation of the texts experiencing artistic enjoyment and creativity. In the context of digital fiction, this research assumes that readers experience mental immersion and create some forms of transportation. Subsequently, this research studies the readers' immersion in narratives and identifies forms of transportation as a conceptual metaphor projected to different media. This research applies qualitative content analysis to the data obtained from a survey posted on social media. Data are analyzed based on the trend and generalized to identify the causal relationship between the act of reading, the sensory immersion, and the forms of transportation. Adopting cognitive psychology theory, this research argues that readers' immersion process in digital fiction is not holistic and stable. Instead, it is a situation creating different forms and intensities. The result shows that digital text variations and the freedom of expression provide a space for readers to project the conceptual metaphor into various forms of transportation, which can be supportive and persuasive. Dari pengamatan terhadap semakin meningkatnya imersi mahasiswa terhadap teks digital yang semakin meningkat dalam situasi pandemi Covid-19, intensitas interaksi dengan fiksi digital menimbulkan pertanyaan, bagaimana proses kognitif dan keterlibatan pembaca dengan fiksi digital. Untuk mengkaji fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan teori poetika kognitif yang mengarah pada konsep apresiasi teks yang menimbulkan kenikmatan artistik dan kreatif. Dalam konteks fiksi digital, penelitian ini memiliki asumsi bahwa pembaca mengalami imersi mental dan melakukan transportasi dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji imersi pembaca terhadap naratif dan mengidentifikasi bentuk-bentuk transportasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif analisis konten terhadap data yang diperoleh melalui survey yang disebarkan melalui media sosial. Data dianalisis berdasarkan trend dan digeneralisasikan untuk mengidentifikasi relasi kausal perilaku membaca dan pengalaman imersi sensoris serta bentuk transportasi yang dilakukan. Dengan mengadopsi cabang teori kognitif psikologis, penelitian ini berusaha membangun argumen bahwa proses imersi pembaca terhadap fiksi digital bukanlah imersi yang bersifat holistik atau stabil, tetapi selalu terjadi perubahan baik dalam jenis maupun intensitas, tergantung pada situasi saat berinteraksi dengan teks digital. Hasil survey menunjukkan bahwa keragaman teks digital dan kebebasan untuk berekspresi di berbagai medium digital memberikan ruang pembaca untuk mengekpresikan bentuk-bentuk transportasi yang sifatnya bisa berupa supportif maupun persuasif.
"JARIMU HARIMAUMU": FENOMENA UJARAN KEBENCIAN MASYARAKAT KOTA KENDARI DI MEDIA SOSIAL FACEBOOK ("Jarimu Harimaumu": The Phonomenon of Hate Speech among Kendari Community in Facebook Social Media) Fahmi Gunawan
Kandai Vol 18, No 2 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i2.4687

Abstract

Although many experts have examined hate speech on Facebook social media, little is known about the hate speech of the Kendari community. To fill this void, the empirical study examines Kendari community's hate speech on Facebook social media. The research adopted a qualitative research approach with a case study research design. Data were garnered by analyzing documents, conducting in-depth interviews, and distributing questionnaires. Document analysis was used to examine types of hate speech, while in-depth interviews and questionnaires were conducted to analyze why hate speech emerged. The findings showed that the types of hate speech in Kendari community were classified into five, namely (1) defamation, (2) insults, (3) blasphemy, (4) incitement, and (5) spreading hoaxes. The factors causing hate speech are classified into internal and external factors. Internal factors include hurt and fun factors, while external factors encompass political interests, group interests, and SARA. Because hate speech has legal implications, this research is expected to foster critical awareness of the community to avoid legal cases related to hate speech. Meskipun para pakar sudah banyak melakukan penelitian mengenai ujaran kebencian, masih sedikit yang membahas ujaran kebencian masyarakat kota Kendari. Untuk merespons hal itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ujaran kebencian masyarakat kota Kendari di media sosial Facebook. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan desain penelitian studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara analisis dokumen, wawancara mendalam, dan penyebaran angket. Analisis dokumen digunakan untuk membahas jenis ujaran kebencian, sementara wawancara mendalam, dan penyebaran angket dilakukan untuk menganalisis mengapa ujaran kebencian itu muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis ujaran kebencian masyarakat kota Kendari diklasifikasi menjadi lima, yaitu (1) pencemaran nama baik, (2) penghinaan, (3) penistaan, (4) penghasutan, dan (5) penyebaran hoaks. Faktor-faktor penyebab munculnya ujaran kebencian diklasifikasi menjadi dua, faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi faktor sakit hati dan iseng-iseng, sementara faktor eksternal meliputi faktor kepentingan politik, kepentingan golongan, dan SARA. Karena ujaran kebencian memiliki dampak hukum, penelitian ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat agar dapat terhindar dari kasus hukum yang berkaitan dengan ujaran kebencian.
PENDIDIKAN BERBASIS SASTRA LISAN (LUKISAN ANALITIK ATAS NILAI PEDAGOGI DALAM FOLKLOR ORANG WAKATOBI) (Education Based on Oral Literature (An Analytical Description of Pedagogical Values in Wakatobi People Folklore)) Muhammad Alifuddin; Sumiman Udu; Laode Anhusadar
Kandai Vol 18, No 2 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i2.2599

Abstract

This research is an analytic painting about the content of educational values in the oral literature of the people of Wakatobi. All data in this study were sourced from in-depth interviews, observations, and document studies. Considering this research is related to aspects of oral literature in the socio-cultural space, the data analysis was carried out using a hermeneutic phenomenology approach. Folklore in the form of folklore (tula-tula) and kabanti (folksong) are two forms of oral literature that are still used as educational media by Wakatobi people. This study found that the contents of the tula-tula and kabanti that grew in the cultural space of the Wakatobi people functioned as treasures of knowledge and entertainment value and contained ethical values. Through oral literature, the Wakatobi people consciously try to build values in order to maintain harmony with nature, microcosmic relations between humans, and macrocosm relations to the Creator. The characteristics of the learning model in the tula and kabanti, are more information-giving, in the form of facts and memories, generally one-way, and the style of the speaker/teacher is preferred in conveying messages, intonation, improvisation, enthusiasm, and systematic message. Penelitian ini merupakan lukisan analitik tentang muatan nilai pendidikan dalam sastra lisan orang Wakatobi. Seluruh data dalam penelitian ini bersumber dari hasil wawancara mendalam, pengamatan, serta studi dokumen. Mengingat penelitian ini terkait dengan aspek sastra lisan dalam ruang sosial budaya, analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi hermeneutik. Folklor dalam bentuk cerita rakyat (tula-tula) dan kabanti (folksong) adalah dua bentuk sastra lisan yang hingga kini masih digunakan sebagai media pendidikan oleh orang Wakatobi. Penelitian ini menemukan bahwa muatan tula-tula dan kabanti yang tumbuh dalam ruang budaya orang Wakatobi tidak hanya berfungsi sebagai khazanah pengetahuan dan bernilai hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai etika. Melalui sastra lisan, orang Wakatobi secara sadar berusaha membangun nilai dalam rangka menjaga harmoni dengan alam, hubungan mikrokosmis sesama manusia, dan hubungan makrokosmos kepada sang Pencipta. Karakteristik model pembelajaran dalam tula-tula dan kabanti lebih bersifat pemberian informasi berupa fakta dan ingatan, umumnya bersifat satu arah, dan gaya penutur/guru lebih diutamakan dalam menyampaikan pesan, intonasi, improvisasi, semangat, dan sistematika pesan.
PENGEMBANGAN PENULISAN CERPEN BERBASIS CERITA RAKYAT (Development of Creating Short Story Based on Folktale) La Ode ode Syukur; Irianto Ibrahim; La Ode Sahidin; Nur Israfyan Sofyan; NFN Alias
Kandai Vol 18, No 2 (2022): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v18i2.4549

Abstract

The process of creating literary works is a creative process that requires a comprehensive imagination space. Literature and human life are two inseparable sides. The existence of short stories has not been widely used as a medium and source of short story writing. Therefore, this study examines the development of short story writing based on folklore. The purpose of this study was to describe and explain the development of writing literary works based on folklore for students of the Department of Indonesian Language and Literature Education, Faculty of Teacher Training and Education, Halu Oleo University. This research uses analytical descriptive method. The data source is in the form of short stories written by students of the Department of Indonesian Language and Literature Education. The results of this study indicate that the development of short story writing based on folklore is carried out through: (1) developing a theme as a short story identity in the form of the emergence of various themes such as brotherhood, affection, patriotism, spirit of life, and work ethic, and honesty, (2) Plot As Storytelling innovation is described by the variety of plots shown for a folklore such as backwards or mixed plots, as well as fleshback plots, and (3) Setting as the field of events Short stories are presented according to the reality of current conditions and atmosphere. Proses penciptaan karya sastra merupakan proses kreatif yang membutuhkan ruang imajinasi komperhensif. Karya sastra dan kehidupan manusia merupakan dua sisi yang tidak dapat terpisahkan. Keberadaan cerita pendek belum banyak digunakan sebagai media dan sumber penulisan cerpen. Oleh karena itu, dalam penelitian ini mengkaji tentang pengembangan penulisan cerpen berbasis cerita rakyat.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pengembangan penulisan karya sastra berbasis cerita rakyat pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif analitik. Sumber data berupa naskahcerpen yang tulis mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan penulisan cerpen berbasis cerita rakyat dilakukan melalui: (1) pengembangan tema sebagai identitas cerpen berupa munculnya beragam seperti tema persaudaraan, kasih sayang, patriotisme, semangat hidup, dan etos kerja,dan kejujuran, (2) Alur Sebagai Inovasi Penceritaan digambarkan dengan ada variasi alur yang ditampilkan untuk sebuah cerita rakyat seperti dengan alur mundur ataupun alur campuran, maupun alur fleshback, dan (3) Latar sebagai Medan peristiwa Cerpen disajikan sesuai realita kondisi dan suasana masa kini.
PEMANFAATAN KARYA SASTRA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS MELALUI TEKNIK MENULIS ULANG (The Utilization of Literary Works in Teaching Writing through Rewriting Technique) Besse Darmawati
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5174

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikankan tata cara pembelajaranmenulis yang baik dan efektif dengan menawarkan dua hal pokok, yaitu materi ajar berupa karya sastra (puisi) dan teknik pembelajaran menulis berupa teknik menulis  ulang.  Sejalan  dengan  tujuan  tersebut,  penelitian  ini  menerapkan metode  deskriptif  kualitatif  dengan  mengedepankan  penerapan  data  dalam proses  pembelajaran.  Data  dalam  penelitian  ini  adalah  puisi  yang  berjudul “Fire and Ice” karya Robert Frost. Data diperoleh dari Wikipedia yang telah diterbitkan oleh Harper‟s Magazine pada tahun 1920. Berdasarkan hasil penelitian, materi ajar puisi dan teknik menulis ulang dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis bahasa Inggris melalui rencana pembelajaran yang ditetapkan.  Rencana  pembelajaran  tersebut  didesain  dengan  menggunakan materi   ajar   puisi,   kemudian   siswa   diarahkan   untuk   menulis   dengan menggunakan teknik menulis ulang. Rencana pembelajaran tersebut dapat pula membantu guru dan siswa agar dapat berinteraksi secara aktif dan efektif dalam proses pembelajaran menulis bahasa Inggris di kelas. This research is aimed to describe the way of teaching writing well and effectively by suggesting two mainpoints, those are poetry as a part of literary works as teaching material and rewriting technique as an applicable techniquein teaching writing. As line with the aim, this research applies qualitative descriptive method which focuses on the application of a datum in teaching-learning process. The datum of this research is a poem under the title of “Fire and Ice” by Robert Frost. The datum is from Wikipedia which had published by Harper‟s  Magazine  in  1920.  Based  on  the  result  of  this  research,  teachingmaterial of poetry and rewriting technique can be applied in teaching English writing through lesson plan designed. The lesson plan is designed by usingteaching material of poetry, and then the students are directed to write by using rewriting technique. The lesson plan can also guide teacher and students to interact actively and effectively in teaching and learning English writing in theclassroom.
PERBANDINGAN EMPAT VERSI CERITA “PUTRI PINANG MASAK” DAN NILAI-NILAI BUDAYA JAMBI (The Comparison Four Versions of “Putri Pinang Masak” Folktale and Jambi Cultural Values) NFN Fitria
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5187

Abstract

This study compares four versions of the story of "Putri Pinang Masak" byusing structural analysis. The equation of the four versions of the story are found in the Putri Pinang Masak characterizations and plot used, which is a straightline  (progressive),  while  the  difference  can  be  seen  from  the  theme  andbackground elements. The elements of cultural values found in Jambi society from the fourth version of the story is, the position of women in Jambi, society, ingenuity, and courage. Penelitian ini membandingkan empat cerita “Putri Pinang Masak” denganmenggunakan analisis struktur. Persamaan dari keempat versi itu ditemukan dari penokohan Putri Pinang Masak dan alur yang digunakan, yaitu alur lurus (progresif), sedangkan perbedaan terlihat dari tema dan latar. Unsur nilai-nilai budaya masyarakat Jambi yang ditemukan dari keempat versi cerita yaitu, kedudukan wanita dalam masyarakat Jambi, kecerdikan, dan keberanian.
AFIKS DERIVASIONAL PEMBENTUK VERBA DALAM BAHASA BUGIS (Verb Forming Derivational Affixes in Buginese Language) Firman AD
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5175

Abstract

This study describes about analysis of verb forming derivational affixes inBuginese language. The analysis was using descriptive-qualitative method to explain the affixation in verb forming. The results of the study shows that verbforming  derivasional  affixes  in  Buginese  language  covers  prefix,  sufix,  andconfix. In Buginese language there is only affix that can change the word class and there is verb that formed from noun. The affixes that are prefix {a-}, {po-},{makke-}, {paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-},{appa-}, and {pa-}. In  Buginese language, there is only one suffix dan confixfor each that can form verb, sufix {-i} and confix {makka-...-eng}. Penelitian ini mendeskripsikan analisis afiks derivasional pembentuk verba dan proses perubahan morfologis yang terjadi dalam bentuk dan makna sebuah kata dalam bahasa Bugis. Teknik analisis yang digunakan adalah metode kualitatif-desktiptif yang menjelaskan afiksasi dalam pembentukan verba. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa afiks derivasional pembentuk verba dalam bahasa Bugis mencakup prefiks, sufiks, dan konfiks. Dalam bahasa Bugis hanya ada afiks yang dapat mengubah kelas kata dan hanya ada verba yang terbentuk dari  nomina.  Afiks-afiks  tersebut  terdiri  atas  prefiks  {a-},  {po-},  {makke-},{paka-}, {mappa-}, {pari-}, {pasi-}, {ri-}, {ma-}, {si-}, {ta-}, {ripa-}, {appa-}, dan {pa-}. Dalam bahasa Bugis, sufiks dan konfiks pembentuk verba masing-masing hanya ada satu, yaitu sufiks {-i} dan konfiks {makka-...-eng}.
NILAI LOKALITAS ORANG BAJO DALAM CERPEN “LANDO” (Locality Value of Bajonese in “Lando” Short Story) Heksa Biopsi Puji Hastuti
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5189

Abstract

Short story entitled “Lando” written by Ucu Agustin tells the story about two kids  who  live  far  away  from  their  ancestor‟s hometown.  The  author  raisedlocality of Bajonese as the color of her short story. This paper discusses  localityvalue of Bajonese conteined therein. The approach used in the discussion is structuralism with reference to Francois-Robert Zacot‟s ethnographic research result at the phase of understanding locality value in the story. From the discussion it is known that the author explores the nuances of bajo by using dictions from Bajo language. The value of Bajonese locality is represented with the inclusion of Bajo culture either in the form of myths and beliefs and way of Bajo people life that cannot be separated from sea. Even readers who have not learned at all about bajo can acquire imagery of Bajonese by reading “Lando” short story. Cerpen “Lando” karya Ucu Agustin berkisah tentang dua anak Bajo yang hidup jauh dari kampung halaman leluhur mereka. Pengarang mengangkat nuansa lokal orang Bajo sebagai warna untuk cerpennya. Tulisan ini membahas tentang nilai lokalitas orang Bajo yang termuat di dalamnya. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan struktural dengan mengacu pada hasil penelitian etnografi Francois-Robert Zacot pada tahap pemahaman nilai lokalitas orang Bajo   dalam   cerpen   ini.   Dari   pembahasan   diketahui   bahwa   pengarang mengeksplorasi  nuansa  Bajo  dengan  penggunaan  beberapa  kosa  kata  daribahasa    Bajo.    Nilai    lokalitas    orang    Bajo    direpresentasikan    dengandimasukkannya budaya Bajo baik berupa mitos dan kepercayaan maupun cara hidup mereka yang tidak lepas dari laut. Pembaca yang belum mengetahui samasekali  tentang  orang  Bajo,  bisa  memperoleh  gambaran  yang  cukup  denganmembaca cerpen “Lando”.
PREPOSISI RING DALAM BAHASA BALI (The Preposition Ring in Balinese Language) Ida Ayu Putu Aridawati
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5184

Abstract

Prepositions ring marking the six relationships of meaning. The emergence of those meanings caused by the relationship between the lingual unit one with another unit in a sentence. The presence of preposition ring in a sentence can beas a core element filler (mandatory) and the outer core filler element (is not mandatory). As the filler element of core (mandatory) if it is suggested by thefiller verb of its predicate, while the outer core filler element (is not mandatory) or an additional element if it is not implied by the predicate verb filler. In the sentence  construction,  additional  elements  have  the  freedom  of  position.  Inaddition, the prepositions ring in sentence construction are arbitrary or can be vanished and there is also the mandatory characteristic or cannot be vanished. Preposisi ring dalam bahasa Bali menandai enam hubungan makna. Munculnya  makna-makna itu  akibat  adanya  hubungan  antara  satuan  lingualyang satu dengan satuan lingual lain di dalam sebuah kalimat. Kehadiran preposisi ring dalam kalimat dapat sebagai pengisi unsur inti (bersifat wajib) dan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib). Sebagai pengisi unsurinti (bersifat wajib) jika diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya, sedangkan sebagai pengisi unsur luar inti (bersifat tidak wajib) atau unsur tambahan jikatidak diisyaratkan oleh verba pengisi predikatnya. Di dalam konstruksi kalimat, unsur tambahan memiliki kebebasan letak. Selain itu, preposisi ring dalam konstruksi kalimat ada yang bersifat manasuka atau dapat dilesapkan dan adapula yang bersifat wajib atau tidak dapat dilesapkan.
SUBALTERNITAS TOKOH AKU DALAM CERPEN MINGGU LEGI DI KYOTO KARYA SATYAGRAHA HOERIP (Subalternity of Aku Character in Satyagraha Hoerip’s Short Story “Minggu Legi di Kyoto”) Budi Agung Sudarmanto
Kandai Vol 8, No 1 (2012): KANDAI
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jk.v8i1.5190

Abstract

This paper discusses about the character of I (Aku) and the otherness processas a subaltern in the story Minggu Legi di Kyoto, a short story by Satyagraha Hoerip. Gayatri C Spivak‟s postcolonial theory about the subaltern and Edward Said‟s on the Orientalism becomes the approach as guidance in this analysis. In addition, to provide flexibility to the analysis, the describing data was carried out sociologically. The analysis results which is conducted by deconstructing the discourse suggests that the discourses presented by the figures I (Aku) just gave space for the subaltern of the figure I (Aku) himself. Makalah ini membahas tentang tokoh Aku dan proses peliyanan tokoh Akusebagai subaltern dalam cerpen Minggu Legi di Kyoto karya Satyagraha Hoerip. Teori poskolonial Gayatri C. Spivak tentang subaltern dan Edward Said tentangorientalisme sebagai sebuah pendekatan menjadi tuntunan dalam analisis ini. Disamping itu, untuk memberi keleluasaan analisis, pendeskripsian data dilakukan secara  sosiologis.  Hasil  analisis  yang  dilakukan  dengan  mendekonstruksi wacana menunjukkan bahwa wacana-wacana yang dimunculkan oleh tokoh Aku justru memberi ruang subaltern bagi tokoh Aku sendiri.