cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
Front Matter dan Back Matter Suyatno Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.939 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.3.2007.i-v

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM KARBONAT (CaCO3) DALAM MEDIA PEMELIHARAAN IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH DAN PRODUKSI LARVANYA Tutik Kadarini; Siti Zuhriyyah Musthofa; Siti Subandiyah; Bambang Priono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.401 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.187-197

Abstract

Upaya peningkatan produksi ikan rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva) dapat dilakukan melalui pendekatan lingkungan, salah satunya yaitu dengan manipulasi kesadahan air dalam lingkungan budidaya. Toleransi terhadap kesadahan setiap jenis dan ukuran/umur berbeda. Ikan rainbow dapat hidup dengan baik pada kesadahan air berkisar antara 50-250 mg/L CaCO3. Nilai kesadahan air dapat ditingkatkan di antaranya dengan penambahan kalsium karbonat (CaCO3). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan CaCO3 dalam media pemeliharaan terhadap pertumbuhan benih ikan rainbow kurumoi dan produksi larvanya. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu: pembesaran dan pemijahan. Perlakuan yang diberikan pada kedua tahap penelitian adalah penambahan CaCO3 yang berbeda pada media pemeliharaannya, yaitu: (A) tanpa penambahan (kontrol), (B) 30 mg/L media, (C) 60 mg/L media, (D) 90 mg/L media, dan (E) 120 mg/L media, dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan, sintasan benih dan induk, produksi larva, kualitas air, dan glukosa darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan CaCO3 dengan dosis 60-120 mg/L adalah yang terbaik untuk pertumbuhan benih rainbow kurumoi (tahap pembesaran). Perlakuan ini menghasilkan pertambahan bobot rata-rata 0,81±0,11 –0,84±0,32 g; pertambahan panjang standar rata-rata 0,81±0,12–0,92±0,17 cm; dan sintasan 96,67%-97,5%. Sedangkan untuk produksi larva penambahan CaCO3 dengan dosis 30-60 mg/L menghasilkan larva rata-rata 113±36,4–160±105,8 ekor; dan sintasan induk 91,67±28,9–100±0%.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN PINRANG PROVINSI SULAWESI SELATAN Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi; Mudian Paena; Rachmansyah Rachmansyah; Jesmond Sammut
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2021.76 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.241-261

Abstract

Kabupaten Pinrang memiliki tambak terluas di Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi produktivitas tambaknya masih relatif rendah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menentukan kesesuaian lahan, faktor pembatas, dan rekomendasi pengelolaan budidaya tambak sebagai salah satu upaya peningkatan produktivitas tambak di Kabupaten Pinrang. Faktor yang dipertimbangkan dalam penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak, meliputi: faktor-faktor hidrologi dan topografi lahan, kondisi tanah, kualitas air, dan iklim. Kualitas air diamati pada musim hujan dan musim kemarau. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk budidaya tambak di Kabupaten Pinrang. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari luas total tambak di Kabupaten Pinrang, 15.026,2 ha ternyata 7.389,4 ha tergolong sangat sesuai (kelas S1); 1.235,1 ha tambak tergolong cukup sesuai (kelas S2); 3.229,0 ha tambak tergolong sesuai marjinal (kelas S3); dan 3.102,7 ha tergolong tidak sesuai (kelas N) pada musim hujan dan 7.119,8 ha tergolong kelas S1; 4.908,6 ha tergolong kelas S2; 1.606,9 ha tergolong kelas S3; dan 1.390,9 ha tergolong kelas N pada musim kemarau. Sebagai faktor pembatas utama kesesuaian tambak di Kabupaten Pinrang pada musim hujan adalah banjir di sekitar muara Sungai Saddang, sedangkan salinitas menjadi faktor pembatas utama pada musim kemarau. Faktor pembatas lain secara umum adalah jarak sumber air yang jauh, kesuburan tanah yang relatif rendah, pH tanah yang rendah pada tempat tertentu, serta tekstur tanah yang tergolong kasar pada tempat tertentu pula.Pinrang Regency has the largest brackishwater aquaculture pond area in South Sulawesi Province, but it’s productivity is consistently low. A land evaluation program was implemented to determine land suitability and limiting factors for brackishwater pond production as an effort to elevate productivity and to propose appropriate management practices. The study assessed land suitability for brackishwater ponds based on the local hydrology and topography, soil conditions, water quality, and climate. Water quality was measured in rainy and dry seasons. Field data were analyzed using Geographical Information Systems to determine land suitability for brackishwater ponds. The results showed that of the total of 15,026.2 ha of farmed land; 7,389.4 ha were classified as highly suitable; 1,235.7 ha were moderately suitable. 3,229.0 ha were marginally suitable; and 3,102.7 ha fall into the unsuitable category in the rainy season. In the dry season; 7,119.8 ha were highly suitable; 4,908.6 ha were moderately suitable; 1,606.9 ha were marginally suitable and 1,390.9 ha were considered unsuitable. The differences in the area for each suitability class between seasons were attributed to the flooding problems close to the mouth of the Saddang River in the rainy season and increasing pond salinity in some areas during
EFIKASI VAKSIN KOMBINASI “TRIVALEN” (Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, DAN Mycobacterium fortuitum) UNTUK PENCEGAHAN PENYAKIT BAKTERI POTENSIAL PADA BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR Taukhid Taukhid; Lila Gardenia; Septyan Andriyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.858 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.4.2016.373-385

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi vaksin “trivalen” merupakan kombinasi dari tiga jenis antigen bakteri, yaitu: Aeromonas hydrophila-AHL0905-2, Streptococcus agalactiae-N14G, dan Mycobacterium fortuitum-31 untuk pencegahan penyakit bakteri potensial pada budidaya ikan air tawar. Ikan uji menggunakan ikan lele, nila, dan gurami; di mana masing-masing jenis ikan tersebut merupakan representasi dari jenis ikan yang rentan terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, dan Mycobacterium fortuitum. Perlakuan yang diterapkan adalah formulasi sediaan vaksin kombinasi “trivalen”, dengan komposisi sebagai berikut: (A) formulasi proporsional yang mengandung ketiga jenis antigen dengan perbandingan 1:1:1 (v/v), (B) formulasi non-proporsional yang mengandung ketiga jenis antigen dengan perbadingan 1:3:3 (v/v), dan (C) tanpa pemberian vaksin sebagai kontrol. Vaksinasi diberikan melalui perendaman dalam larutan vaksin “trivalen” pada konsentrasi bakteri 107 cfu/mL selama 30 menit. Efikasi vaksin dievaluasi berdasarkan sintasan pada akhir uji tantang terhadap bakteri patogen target, dan selanjutnya dihitung nilai relative percentage survival (RPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai RPS vaksin “trivalen” dengan kombinasi proporsional pada ikan lele terhadap bakteri A. hydrophila-AHL0905-2, ikan nila terhadap bakteri S. agalactiae-N14G, ikan gurami terhadap bakteri M. fortuitum-31 dan A. hydrophila-AHL0905-2 masing-masing sebesar 44,61%; 43,30%; 17,86%; dan 45,00%. Nilai RPS vaksin kombinasi “trivalen” non-proporsional pada ikan lele terhadap bakteri A. hydrophila-AHL0905-2, ikan nila terhadap bakteri S. agalactiae-N14G, ikan gurami terhadap bakteri M. fortuitum-31 dan A. hydrophila-AHL0905-2 masing-masing sebesar 39,61%; 40,00%; 7,14%; dan 45,00%. Vaksin “trivalen” berpotensi sebagai sediaan vaksin yang dapat digunakan untuk pencegahan penyakit pada budidaya air tawar yang disebabkan oleh ko-infeksi lebih dari satu jenis bakteri patogen.The study aimed to determine the efficacious of combined “three-valent” vaccine composed of three bacterial antigen for the prevention of bacterial diseases on freshwater aquaculture has been carried out at laboratory level. The study used catfish, tilapia, and giant goramy; that are representative of susceptible species against Aeromonas hydrophila infection, Streptococcus agalactiae infection, and Mycobacterium fortuitum infection. The treatments applied in this study included: (A). Proporsional formula of combined “three-valent” vaccine composed of three bacterial antigens at the ratio of 1:1:1 (v/v), (B). Non-proportional formula composed of three bacterial antigens at the ratio of 1:3:3 (v/v), and (C). Un-vaccinated group as a control. The vaccine was applied through immersion at the dose of 107 cfu/mL vaccine solution for 30 minutes. Vaccine efficacious was evaluated based on survival rate after challenge test against targetted pathogens, and then the relative percentage survival (RPS) was calculated. The study results revealed that the RPS values of proportional combined vaccine on catfish against A. hydrophila-AHL0905-2, on tilapia against S. agalactiae-N14G, on goramy against M. fortuitum-31 and A. hydrophila-AHL0905-2 were 44.61%; 43.30%, 17.86%, and 45.00% respectively. RPS values of non-proportional combined vaccine on catfish against A. hydrophila-AHL0905-2, on tilapia against S. agalactiae-N14G, on goramy against M. fortuitum-31 and A. hydrophila-AHL0905-2 are 39.61%; 40.00%, 7.14%, and 45.00% respectively. “Trivalent” vaccine is a promising combined-fish vaccine which can be used for prevention of bacterial fish diseases caused by co-infection of more than one type of pathogenic bacteria.
SUBSTITUSI PENGGUNAAN NAUPLIUS ARTEMIA DENGAN PAKAN MIKRO DALAM PEMELIHARAAN LARVA KEPITING BAKAU, Scylla olivacea Usman Usman; Kamaruddin Kamaruddin; Asda Laining
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.71 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.1.2018.29-38

Abstract

Adanya molting death sindrom yang umumnya terjadi pada stadia zoea-5 ke megalopa dan ke krablet-1 pada kepiting bakau, Scylla olivacea, diduga berkaitan dengan ketidakcukupan nutrien yang dikonsumsi larva, sehingga perlu dicobakan penggunaan pakan buatan (mikro) pada stadia tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis optimum penggunaan pakan mikro (micro diet, MD) untuk mensubstitusi penggunaan nauplius Artemia (Art) dalam pemeliharaan larva kepiting bakau. Hewan uji yang digunakan adalah larva kepiting bakau stadia zoea-4—5. Hewan uji tersebut dipelihara dalam wadah bak fibre berisi air laut 150 L dengan kepadatan 12 ind./L. Perlakuan yang dicobakan adalah pemberian pakan uji berupa: nauplius Artemia sebanyak 100% (100% Art), nauplius Artemia 75% + pakan mikro 25% (75% Art + 25% MD), nauplius Artemia 50% + pakan mikro 50% (50% Art + 50% MD), nauplius Artemia 25% + pakan mikro 75% (25% Art + 75% MD), dan pakan mikro 100% (100% MD). Pemberian pakan uji dilakukan pada pagi dan sore hari selama 15 hari pemeliharaan (hingga larva mencapai stadia krablet-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penggunaan nauplius Artemia 50% + pakan mikro 50% didapatkan sintasan krabet-1 tertinggi (5,6%) dan berbeda nyata (<0,05) dengan sintasan krablet pada penggunaan 100% nauplius Artemia (sintasan 2,4%) dan 100% pakan mikro (sintasan 2,1%). Bobot badan, lebar karapaks krablet, dan aktivitas enzim pencernaan relatif sama di antara perlakuan. Penggunaan pakan mikro dapat menggantikan 50% penggunaan Artemia dalam pemeliharaan larva (zoea-5 hingga krablet-1) kepiting bakau.Cases of molting death syndrome generally occur on the transitional stage of zoea-5 to megalopa stage and to crablet-1 of mud crab, Scylla olivacea. It is suspected that the event could be related to nutrient insufficiency consumed by the larvae which can be supplemented using artificial diet (micro diet). This study aims to obtain an optimum dosage use of the micro diet (MD) to substitute the use of Artemia nauplii (Art) in the crab-larva rearing. Test animals used were mud crab larvae of zoea-4—5 stadia. The test animals were reared in the fiberglass containers, filled with seawater as much as 150 L, and stocked with a density of 12 ind./L. The treatments tested were feeding tests in the form of: Artemia nauplii as much as 100% (100% Art), Artemia nauplii 75% + micro diet 25% (75% Art + 25% MD), Artemia nauplii 50% + micro diet 50% (50% Art + 50% MD), Artemia nauplii 25% + 75% micro diet (25% Art + 75% MD), and micro diet 100% (100% MD). The larvae were fed daily in the morning and afternoon for 15 days until the larvae reach crablet stage. The results showed that the use of Artemia nauplii 50% + 50% micro diets obtained the highest survival rate (5.6%) of crablet-1 and significantly different (<0.05) with the survival rates of crablet fed with 100% of Artemia nauplii (survival rate of 2.4%) and crablet fed with 100% micro diet (survival rate of 2.1%). Body weight, carapace width of crablet, and digestive enzyme activities were relatively similar between the treatments. The use of micro diet could replace 50% of the utilization of Artemia nauplii in larvae (zoea-5 to crablet-1) rearing of mud crab.
KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN WARNA IKAN WILD BETTA (Betta sp.) DENGAN REKAYASA INTENSITAS CAHAYA DAN WARNA LATAR Riani Rahmawati; Sawung Cindelaras; Eni Kusrini
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.184 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.153-162

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya dan warna latar yang berbeda terhadap pertumbuhan dan warna ikan cupang (Betta sp.). Biota uji diberi kombinasi perlakuan perbedaan kondisi cahaya dan warna latar, yaitu: (A-1) 100 lux dan latar putih; (A-2) 100 lux dan latar hitam; (A-3) 100 lux dan latar biru; (B-1) 800 lux dan latar putih; (B-2) 800 lux dan latar hitam; (B-3) 800 lux dan latar biru; (C-1) 1.500 lux dan latar putih; (C-2) 1.500 lux dan latar hitam; dan (C-3) 1.500 Lux dan latar biru. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Ikan diberikan pakan berupa larva Chironomus sp. secara ad libitum. Penelitian dilakukan selama 84 hari. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan A-1 (intensitas 100 lux dan latar putih), dengan laju pertumbuhan spesifik panjang dan bobot masing-masing sebesar 0,48 ± 0,06%/hari dan 0,75 ± 0,22%/hari; sintasan sebesar 100%, serta persentase perubahan hue (H), saturation (S), dan brightness (B) berturut-turut adalah 21 ± 18, 6 ± 10, dan 6 ± 18.This research was conducted to determine the effect of rearing environment and light intensity with different background coloration to improve the color quality and growth of wild betta fish (Betta sp.). The fishs which were placed in the small tanks and treated with different light intensities and background coloration. The treatments combinations were: (A-1) 100 lux and white background, (A-2) 100 lux and black background, (A-3) 100 lux and blue background, (B-1) 800 lux and white background, (B-2) 800 lux and black background, (B-3) 800 lux and black background, (C-1) 1,500 lux and white background, (C-2) 1,500 lux and black background, and (C-3) 1,500 lux and blue background. Each treatment was repeated three times. The fish were fed onfrozen Chironomus larvae twice a day. The research was conducted for 84 days. The result showed that the combination of 100 lux and white background resulted the best growth rate (0.48 ± 0.06 cm/day in length and 0.75 ± 0.22%/day in weight) and survival rate of 100%. The best combination had the value of hue (21 ± 18), saturation (6 ± 10), and brightness (6 ± 18).
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI NITRIFIKASI DAN DENITRIFIKASI SEBAGAI KANDIDAT PROBIOTIK Yosmaniar Yosmaniar; Hessy Novita; Eri Setiadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.001 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.369-378

Abstract

Senyawa nitrogen yang tinggi pada limbah budidaya perikanan intensif dapat memperburuk kualitas air, sehingga perlu diatasi dengan penambahan probiotik untuk proses bioremediasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi yang berpotensi sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Tahap penelitian terdiri atas: 1) koleksi sampel air dan sedimen dari kolam budidaya ikan patin di kawasan minapolitan Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi dan Desa Koto Mesjid Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar Provinsi Riau; 2) pengujian sampel secara in vitro yang meliputi: a) Isolasi dan seleksi bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi; b) Karakterisasi morfologis bakteri terpilih; c) Karakterisasi fisiologi/biokimia isolat bakteri terpilih; d) Karakterisasi genetika isolat bakteri terpilih dengan sekuensing 16S-rRNA. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh empat isolat bakteri nitrifikasi dan empat isolate bakteri denitrifikasi. Isolat bakteri nitrifikasi Pandoraea pnomenusa strain 1318 (NP1); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP2); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP3); Burkholderia vietnamiensis strain NE 7 (NP4); dan denitrifikasi Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4) Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4); yang berpotensi digunakan sebagai kandidat probiotik pengendali senyawa nitrogen pada budidaya ikan air tawar. Wastes from an intensive aquaculture contain nitrogen compounds which, if untreated, could rapidly reduce water quality condition within the system. The addition of probiotics as bioremediation to aquaculture system has been used to improve water quality with promising results. The aim of this study was to obtain potential nitrifying and denitrifying bacteria that could be used as probiotic candidates to control excessive nitrogen compounds in freshwater culture. This study consisted of two steps, 1) the collection of water samples and sediments from catfish ponds at ‘Minapolitan Area” in Pudak Village, Jambi Province and Koto Mesjid Village, Riau Province; 2) in vitro tests consisting of isolation and selection of nitrifying and denitrifying bacteria; morphological characterization of the selected nitrifying and denitrifying bacteria; characterization of physiological/biochemical selected nitrifying and denitrifying bacteria; genetic characterization of the selected nitrifying and denitrifying bacteria with 16SrRNA sequencing. All data were analyzed descriptively. The study had found four nitrifying bacteria isolates: Pandoraea pnomenusa strain 1318 (NP1); Pseudomonas aeruginosa strain PSE 12 (NP2); Pseudomonas aeruginosa strain PSE12 (NP3); Burkholderia vietnamiensis strain NE 7 (NP4). The study also found four isolates of denitrifying bacteria isolates: Achromobacter xylosoxidans strain TPL14 (DP1); Stenotrophomonas acidaminiphila strain BTY (DP2); Stenotrophomonas maltophilia strain BHWSL2 (DP3); Ochrobactrum intermedium strain: SQ 20 (DP4). All the identified nitrifying and denitrifying bacteria isolates have the potential to be used as probiotic candidates to control nitrogen compound in freshwater aquaculture.
PENGARUH KEDALAMAN DAN BOBOT Sargassum aquifolium TERHADAP TINGKAT SERANGAN ICE ICE DAN KADAR KARAGENAN PADA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii Naning Dwi Sulystyaningsih; Rajuddin Syamsuddin; Zainuddin Zainuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.39-46

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kedalaman dan bobot Sargassum terhadap tingkat serangan ice-ice dan kadar karagenan pada rumput laut Kappaphycus alvarezii. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapangan. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial dengan dua faktor yaitu; tingkat kedalaman dari permukaan laut (A) dan bobot Sargassum (B). Faktor pertama (A) terdiri atas tiga taraf yaitu; A1: kedalaman 30 cm, A2: kedalaman 45 cm, dan A3: kedalaman 60 cm. Perlakuan diulang sebanyak tiga kali dengan total 36 satuan perlakuan. Parameter yang diamati yaitu tingkat serangan ice-ice dan kadar karagenan. Data variabel penelitian yang diperoleh akan dianalisis perbedaannya menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) pada taraf kesalahan 5%. Apabila terdapat pengaruh yang signifikan akan dilanjutkan dengan uji lanjut W-Tukey. Tidak ada pengaruh kedalaman dan bobot Sargassum terhadap serangan ice-ice dan kadar karagenan dan tidak ada interaksi antara keduanya pada Kappaphycus alvarezii.This study aimed to determine the effects of Sargassum culture depth and weight on ‘ice-ice’ disease development and carrageenan levels of Kappaphycus alvarezii. The study used an on-field experimental method and designed following a factorial randomized complete design (CRD) with two factors, namely the depth of culture (A) and the weight of Sargassum (B). Factor (A) consisted of three levels, namely A1 : 30 cm depth, A2 : 45 cm depth, and A3 : 60 cm depth. Each treatment was repeated three times, a total of 36 treatment units of Sargassum for the whole experiment. The parameters observed ware the rate of ice-ice attack and carrageenan level of Sargassum. Data from the research variables obtained were analyzed for differences using ANOVA at 5% error margin. If there was a significant effect, a post-hoc test using W-Tukey was conducted. There was no effect of the culture depth and weight of Sargassum on ‘ice-ice’ attack and carrageenan levels. There was no observed interaction between ‘ice-ice’ and carrageenan level on Kappaphycus alvarezii 
DAN IDENTIFIKASI PATOGEN POTENSIAL YANG MENGINFEKSI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) Lili Sholichah; Taukhid Taukhid; Gigih Setia Wibawa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.327 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.87-97

Abstract

Pemeliharaan ikan rainbow (Melanotaenia sp.) di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias selalu terjadi kematian secara bertahap mulai calon induk hingga proses pemijahan. Hal ini terjadi berulang kali sehingga ketersediaan induk Melanotaenia sp. sangat terancam. Ikan ini berasal dari Papua yang diperoleh mengandalkan penangkapan di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisir dan mengidentifikasi berbagai patogen (parasit, jamur, bakteri) potensial yang menginfeksi ikan rainbow yang dipelihara di dalam akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan sistem aliran air stagnan. Tiga jenis rainbow yang dipelihara yaitu: rainbow Sungai Salawati, asal Sungai Sawiat, dan asal Danau Kurumoi. Setiap ikan masing-masing berjumlah 100 ekor dipelihara di akuarium dengan penambahan batu karang dan tanpa penambahan karang (kontrol) ke dalam akuarium. Ikan diberi pakan sekenyangnya berupa jentik nyamuk dan cacing rambut beku setiap pagi dan sore hari. Sampling dilakukan secara random sebulan sekali dan secara unrandom setiap ada kejadian ikan sakit. Gejala klinis ikan yang sakit sebagai berikut: ikan berenang di permukaan dan menggosok-gosokkan badan di dinding akuarium, nafsu makan berkurang, gerakan berputar-putar, warna memudar menjadi putih, penekanan warna hitam pada sirip punggung dan perut meningkat, pendarahan pada perut, lendir berlebihan dan sangat berbau, serta sisik berdiri/terbuka. Diagnosa dan deteksi penyakit awal berupa pengamatan parasit baik ektoparasit maupun endoparasit, pengamatan dan isolasi jamur pada media selektif jamur, dan isolasi bakteri dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis patogen yang menginfeksi ketiga jenis ikan rainbow. Selanjutnya dilakukan uji histologi dan analisa DNA beberapa patogen. Hasil pengamatan diperoleh patogen berupa parasit (Ichthyophthirius sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Trichodina sp.) dan bakteri (Aeromonas hydrophila, Acinetobacter sp., Lactobacillus sp., Bacillus sp., Arachnia sp., Haemophilus sp., Cardiobacterium sp., dan Enterobacter sp.) sedangkan jamur tidak ditemukan dalam penelitian ini.
PENGARUH RASIO BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS AIR DAN SINTASAN UDANG WINDU,Penaeus monodon DALAM AKUARIUM Muliani Muliani; Nurbaya Nurbaya; Bunga Rante Tampangallo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.113 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.33-42

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio bakteri probiotik terhadap perubahan kualitas air dan sintasan pascalarva udang windu. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros menggunakan akuarium dengan ukuran 40 cm x 30 cm x 27 cm yang diisi tanah tambak setebal 10 cm dan air tambak salinitas 28 ppt sebanyak 15 L serta pascalarva udang windu 30 ekor. Bakteri probiotik yang digunakan pada percobaan ini diisolasi dari air laut, daun mangrove, dan tambak. Pengamatan parameter kualitas air yang meliputi; BOT, NO2-N, PO4-P, NH4-N, total bakteri, dan total vibrio dilakukan pada awal penelitian dan selanjutnya 1 kali dalam setiap dua minggu, kecuali H2S yang diamati sekali dalam sebulan. Sedangkan sintasan udang windu diamati pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOT, NO2-N, PO4-P, NH4-N, dan H2S mengalami fluktuasi dari awal hingga akhir penelitian pada semua perlakuan. Total bakteri terendah pada perlakuan L (bakteri laut 102 cfu/mL + bakteri mangrove 102 cfu/mL + bakteri tambak 102 cfu/mL), sedangkan total vibrio terendah pada perlakuan O (bakteri laut 104 cfu/mL + bakteri mangrove 104 cfu/mL + bakteri tambak 104 cfu/ mL). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa sintasan udang windu tidak berbeda nyata (P>0,05) pada semua perlakuan.The experiment aimed to determine the effect of ratio of probiotic bacteria on changes of water quality and survival rate of tiger shrimp Penaeus monodon in tanks. This experiment conducted in Research Institute for Coastal Aquaculture web laboratory used aquarium with 40 cm x 30 cm x 27 cm in size. Each aquarium filled with pond sediment (10 cm), pond water 15 L (28 ppt), and 30 pcs of tiger shrimp postlarvae. Probiotic bacteria used in this study were isolated from sea water, mangrove leaf, and ponds. Water qualities; TOM, PO4-P, NO2-N, and NH4-N were observed be weekly while H2S was observed once in a month. Survival rate of tiger shrimp were obseved at the end of the experiment. The result showed that TOM (Total Organic Matter) NO2-N, PO4-P, NH4-N, and H2S concentration during experiment were fluctuative on all of treatments. Total bacteria was lowest on treatment L (sea bacteria 102 cfu/mL + mangrove bacteria 102 cfu/mL + pond bakteria 102 cfu/mL), however total vibrio was lowest on treatment O (bakteri laut 104cfu/mL + bakteri mangrove 104 cfu/mL + bakteri tambak 104 cfu/mL. Statistical analysis showed that survival rate of tiger shrimp not significantly (P>0.05) different among all treatments.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue