cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
KARAKTERISTIK DAN KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE, SULAWESI UTARA Andi Akhmad Mustafa; Tarunamulia Tarunamulia; Hasnawi Hasnawi; I Nyoman Radiarta
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.593 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.187-196

Abstract

Kabupaten Kepulauan Sangihe dengantiga pulau terdepannya memiliki potensi untuk pengembangan budidaya rumput laut (Kappaphycus alvarezii), namun belum tersedia data kondisi perairannya.  Kajian bertujuan untuk mengetahui karakteristik, kesesuaian, dan daya dukung perairan untuk budidaya rumput laut di kawasan pesisir Kabupaten Kepulauan Sangihe.  Data  kondisi perairan yang dikumpulkan berupa lingkungan fisik dan kualitas air.  Analisis dengan weighted linear combinationdalam SIG dilakukan untuk penentuan kesesuaian perairan danbesarnya kapasitas perairan digunakan untuk penentuan daya dukung perairan. Hasil kajian menunjukkan bahwa, karakteristik perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat mendukung usaha budidaya rumput laut, namun kedalaman perairan yang relatif dangkal dan adanya alur pelayaran yang menjadi faktor pembatas dalam kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut. Dari 4.839,36 ha kawasan pesisir yang dikaji di Teluk Talengen (Kecamatan Tabukan Tengah), Teluk Manalu (Kecamatan Tabukan Selatan), dan Teluk Dagho dan sekitarnya (Kecamatan Tamako dan Manganitu Selatan) dijumpai kawasan pesisir seluas 181,80 ha yang tergolong sangat sesuai; 852,82 ha yang tergolong cukup sesuai; 3.633,75 ha yang tergolong kurang sesuai; dan 179,99 ha yang tergolong tidak sesuai untuk budidaya rumput laut metoda tali panjang.  Budidaya rumput laut metoda tali panjang di Kabupaten Kepulauan Sangihe dapat dilakukan di Teluk Talengen, Teluk Manalu, dan Teluk Dagho dan sekitarnya  dengan pengembangan kawasan maksimal masing-masing seluas 324; 559; dan 1.171 ha yang dapat digunakan untuk masing-masing 1.296, 2.236, dan 4.684 unit rakit budidaya rumput laut berukuran 50 x 50 m.  Sangihe Archipelago Regency with its three outlying islands has the potential for seaweed farming development (Kappaphycus alvarezii), regrettably reliable water quality data are scarcely available in this region. The study was aimed to determine the characteristics, suitability, and carrying capacity of waters for seaweed farming in the coastal areas of Sangihe Archipelago Regency. The observed environmental quality of coastal waters included physical environment and water quality. A weighted linear combination  in a GIS environment method was applied to determine the suitability of waters and the capacity of coastal water to accommodate the maximum surface area of the farm was used to determine the carrying capacity of waters. The results of the study indicated that the characteristics of waters in Sangihe Archipelago Regency provide suitable environment for seaweed culture, however the relatively shallow waters and the existence of the shipping lanes in the study region can become major limiting factors for seaweed culture and development. Of 4,839.36 hectares of the coastal areas studied in Talengen Bay (Tabukan Tengah Subdistrict), Manalu Bay (South Tabukan Subdistrict), and Dagho Bay and surrounding areas (Tamako and Manganitu Selatan Subdistricts), a total of 181.80 ha were classified as very suitable; 852.82 ha were moderately suitable; 3,633.75 ha were less suitable; and 179.99 ha were not suitable for seaweed long-line culture method. Further analysis showed that seaweed culture of long-line method can be effectively practiced in Talengen Bay, Manalu Bay, and Dagho Bay and surrounding areas with the maximum development areas of 324, 559, and 1,171 ha respectively of which can be used for allocating 1,296, 2,236, and 4,684 culture raft units respectively, with the size of 50 x 50 m per unit.
FILOGENETIK POPULASI UDANG JERBUNG (Fenneropenaeus merguiensis de Man) DI INDONESIA BERDASARKAN SEKUENS 16S-rRNA DNA MITOKONDRIA Eni Kusrini; Komar Sumantadinata; Wartono Hadie; Alimuddin Alimuddin; Achmad Sudradjat
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.036 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.191-198

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kekerabatan stok udang jerbung Indonesia sebagai informasi dasar bagi program pemuliaan. Udang jerbung uji berasal dari Pantai Bengkulu, Selat Sunda (Banten), Pantai Cilacap (Jawa Tengah), Selat Lombok (NTB), dan Pontianak (Kalimantan Barat). Amplifikasi PCR dan sekuensing daerah 16S-rRNA DNA mitokondria dilakukan menggunakan primer 5’-CGCCTGTTTAAC-AAAAACAT-3’ dan 5’-CCGGTCTGAACTCAGATCATGT-3’. Hasil analisis homologi susunan nukleotida 16S-rRNA DNA mitokondria menunjukkan bahwa udang jerbung yang digunakan dalam penelitian merupakan Fenneropenaeus merguiensis. Hasil analisis kekerabatan menunjukkan bahwa 5 populasi udang jerbung uji dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu kelompok Kalimantan Barat dan kelompok Bengkulu-Banten-Jawa Tengah-NTB. Populasi udang jerbung Kalimantan dan Bengkulu masing-masing memiliki sekuens spesifik, yaitu ACTGACT dan C-GAC di terminal 5. Sekuens tersebut mungkin dapat digunakan sebagai penanda dalam program pemuliaan udang jerbung Indonesia.The experiment was conducted to understand the family relationship of banana prawn in Indonesia and to provide basic information for breeding program. Prawns were obtained from Bengkulu Coast, Sunda Strait (Banten), Cilacap Coast (Central Java), Lombok Strait (West Nusa Tenggara), Pontianak Coast (West Kalimantan). PCR amplification and sequencing of 16S-rRNA mitochondrial DNA region were performed using 5’-CGCCTGTTTAAC-AAAAACAT-3’ and 5’-CCGGTCTGAACTCAGATCATGT-3’. Analysis of homology sequences of 16S-rRNA mtDNA showed that banana prawn used in this study was Fenneropenaeus merguiensis. Result of family relationship analysis indicated that five populations of banana prawn can be divided into two groups, i.e. West Kalimantan and Bengkulu-Banten-Central Java-NTB groups. Banana prawns from West Kalimantan and Bengkulu have specific sequences at 5’ terminal, ACTGACT and C-GAC, respectively. Those sequences can potentially be used as marker in the breeding program of banana prawn in Indonesia.
PREFERENSI PENEMPELAN, PERTUMBUHAN, DAN SINTASAN LARVA TERIPANG PASIR, Holothuria scabra PADA SUBSTRAT LAMUN YANG BERBEDA Lisa Fajar Indriana; Yuli Afrianti; Sitti Hilyana; Muhammad Firdaus Firdaus
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.999 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.249-258

Abstract

Teripang pasir, Holothuria scabra merupakan komoditas hasil laut yang bernilai ekonomis tinggi. Penangkapan berlebihan stok di alam mendorong berkembangnya kegiatan budidaya. Penempelan merupakan fase kritis pada larva teripang karena terjadi peralihan sifat planktonis ke bentik yang memerlukan substrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi penempelan, pertumbuhan, dan sintasan larva H. scabra fase penempelan pada substrat lamun yang berbeda. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan perlakuan empat jenis daun lamun berbeda dan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas Enhalus acoroides (L-1), Syringodium isoetifolium (L-2), Cymodocea serrulata (L-3), dan Cymodocea rotundata (L-4). Jumlah awal larva sebanyak 1.000 individu dan substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 12 cm x 17 cm untuk setiap unit penelitian. Hasil penelitian menunjukkan jenis lamun yang digunakan sebagai substrat berpengaruh secara nyata terhadap preferensi penempelan dan sintasan larva teripang pasir, namun tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan. E. acoroides menunjukkan hasil terbaik dengan preferensi penempelan 0,26 ind. cm-2 dan sintasan 10,66%; sehingga layak digunakan sebagai substrat penempelan dalam pembenihan teripang pasir, H. scabra.Holothuria scabra larvae on different seagrass substrates. By: Lisa Fajar Indriana, Yuli Afrianti, Sitti Hilyana, and Muhammad FirdausSandfish Holothuria scabra is marine commodities with a high economic value. Overfishing of natural stocks has compelled an interest to begin aquaculture practice. Settlement is a critical phase for the planktonic larvae as they will transform to benthic form in the presence of substrate. This study aims to evaluate the settlement preferences, growth, and survival rate of H. scabra larvae settled on different seagrass leaves. The research was conducted using the Completely randomized design with four different species of seagrass leaves and five replications. The treatments consist of Enhalus acoroides (L-1), Syringodium isoetifolium (L-2), Cymodocea serrulata (L-3), and Cymodocea rotundata (L-4). Initial number of larvae was 1,000 individuals and the substrate was set with same widthof 12 cm x 17 cm for each unit. Results of the experiment indicated that settlement preference and survival rate of H. scabra larvae was significantly affected by seagrass used as substrate while no significantly differences was observed for growth of larvae. E. acoroides showed the best result with 0.26 ind. cm-2 settelement preference and 10.66% survival rate, so that suitable to be used as settlement substrate in H. scabra hatchery.
PENGGUNAAN TEPUNG BUNGA MARIGOLD DAN TEPUNG Haematococcus pluvialis SEBAGAI SUMBER KAROTENOID PENGGANTI ASTAXANTIN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS WARNA IKAN KOI Sukarman Sukarman; Rina Hirnawati; Siti Subandiyah; Nina Meilisza; I Wayan Subamia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.38 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.237-249

Abstract

Astaxantin sintetis umum digunakan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas warna ikan hias tetapi meningkatkan biaya pakan 15%-30%, sehingga perlu dicari alternatif karotenoid pengganti yang efektif dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan tepung kelopak bunga marigold dan tepung Haematococcus pluvialis sebagai sumber karotenoid pengganti astaxantin sintetis untuk meningkatkan kualitas warna ikan koi. Pakan yang diujikan adalah: (A) pakan kontrol tanpa sumber karotenoid, (B) pakan yang diberi tambahan tepung kelopak bunga marigold, (C) pakan yang diberi tambahan tepung Haematococcus pluvialis, (D) kombinasi tepung kelopak bunga marigold dan tepung Haematococcus pluvialis, (E) pakan yang diberi tambahan astaxantin sintetis dan (F) pakan koi komersial; masingmasing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati adalah kualitas warna meliputi nilai lightness (L), chroma (CH), hue (H) dan kandungan karotenoid pada jaringan ikan. Pengukuran nilai L, CH, dan H pada tubuh (sisik) ikan dilakukan menggunakan kolorimeter Minolta CR-400, sedangkan pengukuran total karotenoid pada jaringan ikan (daging, kulit, sisik dan ekor) menggunakan spectrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian karotenoid dari tepung bunga marigold sebesar 150 mg/kg pakan mampu menggantikan astaxantin sintetis dalam memperbaiki kualitas warna ikan koi dengan indikasi menurunnya nilai lightness hingga 66,61%; meningkatkan nilai chroma sebesar 54,44%; dan mempertahankan nilai hue 76,03 derajat, serta meningkatnya kandungan total karotenoid pada daging, kulit, sisik dan ekor ikan koi berturut-turut sebesar 23,07 mg/kg; 252,39 mg/kg; 138,89 mg/kg; 172,5 mg/kg. Sedangkan tepung Haematococcus pluvialis tidak bisa digunakan sebagai alternatif pengganti astaxantin sintetis untuk ikan koi. 
PERUNTUKAN KAWASAN PESISIR KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN SEBAGAI LOKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK RAMAH LINGKUNGAN Utojo Utojo; Akhmad Mustafa; Hasnawi Hasnawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2635.848 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.325-339

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan potensi kawasan pesisir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang layak sebagai lokasi pengembangan budidaya tambak ramah lingkungan dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG). Data sekunder yang didapatkan berupa data iklim, data pasang surut, peta Rupabumi Indonesia kawasan Maros skala 1:50.000, citra digital landsat ALOS AVNIR-2 akuisisi 21 Juni 2008 dan peta bathimetri skala 1:200.000. Data primer didapatkan di lokasi penelitian dengan metode survai berupa kualitas air dan tanah tambak. Sebaran stasiun pengamatan dilakukan secara acak dan sistematik, di mana setiap lokasi pengambilan contoh ditentukan posisi koordinatnya dengan alat Global Positioning System (GPS). Data primer dan sekunder serta data citra satelit digital tersebut dikumpulkan dan dianalisis secara spasial menggunakan SIG. Berdasarkan hasil survai dan evaluasi kelayakan lahan budidaya tambak ramah lingkungan di wilayah pesisir Maros seluas 10.249,1 ha. Yang berkelayakan sedang (3.111,4 ha) dan rendah (7.137,7 ha), tersebar di Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru, masing-masing dituangkan dalam peta prospektif skala 1:50.000.
PENENTUAN VARIASI GENETIK IKAN BATAK (Tor soro) DARI SUMATERA UTARA DAN JAWA BARAT DENGAN METODE ANALISIS RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHISM DNA (RAPD) Sidi Asih; Estu Nugroho; Anang Hari Kristanto; Mulyasari Mulyasari
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 1 (2008): (April 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.532 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.1.2008.91-97

Abstract

Variasi genetik ikan batak yang dikoleksi dari daerah Asahan, Aek Sarul (Tarutung), Aek Sirambe, Bahorok (Sumatera Utara), dan Sumedang (Jawa Barat) telah diteliti menggunakan metode Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Primer yang digunakan untuk analisis adalah OPC-01 dan OPC-02. Dari 2 primer yang digunakan hanya OPC-01 yang menunjukkan hasil PCR yang memberikan Polimorfisme. Berdasarkan nilai rata-rata heterozigositas (0,08—0,1250) dan persentase lokus polimorfik (22%—33%) secara umum menunjukkan bahwa keragaman genetik ikan batak yang dianalisis tergolong rendah. Hasil analisis RAPD juga menunjukkan bahwa secara genetik tidak ada perbedaan yang nyata di antara kelima populasi ikan batak.The genetic variabilities of Tor soro collected from Asahan, Aek Sarula (Tarutung), Aek Sirambe, Bahorok (North Sumatra), and Sumedang (West Java) were examined by RAPD. Primers used for analysis were OPC-01 and OPC-02. From both of the primers, only OPC-01 showed polymorphism. Based on the heterozigosity (0.08—0.1250) and percentage of polimorphyc locus value (22%—33%), indicated that genetic variation of Tor soro of North Sumatra was low. The RAPD analisis showed that no significantly difference among five population.
KONDISI RUMPUT LAUT ALAM DI PERAIRAN PANTAI UJUNG GENTENG, SUKABUMI DAN LABUHANBUA, SUMBAWA: POTENSI KARBON BIRU DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA Erlania Erlania; I Nyoman Radiarta; Joni Haryadi; Ofri Johan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.283 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.293-304

Abstract

Sumberdaya rumput laut alam yang berlimpah di perairan Indonesia merefleksikan besarnya potensi penyerapan karbon oleh rumput laut untuk mengurangi gas rumah kaca, CO2, yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya fenomena perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi serapan karbon oleh rumput laut alam di kawasan pesisir Labuhanbua, Kabupaten Sumbawa, NTB dan Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pengumpulan data lapangan berdasarkan titik-titik pengamatan yang disebar pada transek garis yang tegak lurus terhadap garis pantai; meliputi data luas tutupan, jenis, dan kandungan karbon rumput laut alam yang dominan ditemukan pada kedua lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis rumput laut yang ditemukan di kawasan pantai Ujung Genteng terdiri atas 36 spesies dan di Labuhanbua 28 spesies. Berdasarkan besarnya simpanan karbon dalam bentuk biomassa pada berbagai spesies rumput laut alam di kedua lokasi penelitian, maka Sargassum sp., Padina sp., Dictyota dichotoma, Hydroclathrus clatratus, Gracilaria sp., G. foliifera, G. salicornia, Gelidium sp., dan Turbinaria sp., merupakan spesies potensial yang berperan sebagai media penyimpanan karbon biru, dan semua jenis tersebut dapat dikembangkan melalui aktivitas budidaya.
PENILAIAN KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG BERDASARKAN MODEL SPASIAL PROPAGASI OMBAK MENDEKATI PANTAI Tarunamulia Tarunamulia; Jesmond Sammut; Rachmansyah Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.864 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.291-306

Abstract

Keberhasilan dan keberlanjutan usaha budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA) tidak terlepas dari tingkat keterlindungan lokasi dari aksi fisik peubah oseanografi fisik. Peubah oseanografi fisik yang paling utama menentukan tingkat keterlindungan lokasi adalah besar dan arah ombak yang datang ke pantai, karena selain berhubungan dengan tingkat kesesuaian lahan pada saat awal penyeleksian lokasi, juga dapat mempengaruhi aspek pengelolaan lebih lanjut setelah pelaksanaan dan pengembangan kegiatan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk hubungan spasial antara perubahan iklim dengan kondisi oseanografi fisik khususnya peubah ombak dalam penilaian kesesuaian lahan untuk budidaya ikan dalam KJA. Penelitian ini menitikberatkan pada analisis spasial ombak untuk berbagai perubahan arah dan kecepatan angin yang mungkin terjadi pada lokasi penelitian. Model spasial tersebut dianalisis dengan memadukan metode analisis spasial dalam SIG dan metode penyelesaian mild-slope untuk model ombak permukaan di perairan pantai (CGWAVE). Evaluasi tingkat kesesuaian lahan dilakukan dengan melihat pengaruh ombak terhadap kondisi perairan yang sedang dan kemungkinan akan diperuntukkan untuk kegiatan budidaya ikan dalam KJA di wilayah pesisir Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan. Model spasial ombak yang dikembangkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim yang mempengaruhi kondisi ombak akan secara signifikan langsung maupun tidak langsung mempengaruhi status tingkat kesesuaian perairan untuk budidaya ikan dalam KJA di lokasi penelitian. Dari 9.939,0 ha total luas perairan yang layak menurut kriteria kedalaman di Kabupaten Barru, hanya tersisa sekitar 2,9% (296,8 ha) yang layak setelah aspek keterlindungan berdasarkan ketinggian ombak diintegrasikan dalam analisis. Hasil penelitian ini pada akhirnya menyarankan perlunya pemahaman yang mendalam mengenai perubahan pola propagasi spasial ombak yang datang ke pantai akibat perubahan iklim dalam mengevaluasi metode pengelolaan budidaya ikan dan KJA yang ada serta mengembangkan metode pengelolaan yang tepat untuk masa yang akan datang.The level of exposure of sites used for sea cage aquaculture to physical oceanographic variables is one of the key factors determining the sustainability and continual success of coastal industry. Information on wave height and direction are the most reliable and critical oceanographic variables used for the assessment as the wave information will not only describe the level of suitability during site selection process but also relates to management strategies during and future development or expansion of the sea-based aquaculture. The objective of this research was to develop a spatial model of wave propagation approaching nearshore zone as a key criterion for the assessment of water suitability for coastal aquaculture. This study focused mainly on spatial modeling of coastal waves as a direct result from the variability of wind speed and direction at the study site. The spatial data, such as topographic and bathymetric maps of Barru coastal areas, were prepared using GIS softwares and further wave analysis was done using “coastal surface water wave model of the mild slope solution” (CGWAVE) software. The evaluation of water suitability was assessed by understanding the effect of wave propagation on the coastal areas used for present-day and potential development of sea-based aquaculture. In this study, the developed spatial model for coastal waves shows that climate change will influence wave condition and will limit water suitability at the study site. Of 9,939.0 ha total pre-identified suitable area for sea-cage aquaculture, factoring water depth criterion alone, the total area declined by 71% to just about 296.8 ha after the integration of the wave variables. This research emphasises the necessity of understanding the difference in spatial patterns of wave propagation due to climate change in the evaluation of existing coastal aquaculture and to plan for future development.
PERFORMA PEMIJAHAN IKAN TUNA SIRIP KUNING, Thunnus albacares DI KERAMBA JARING APUNG Jhon Harianto Hutapea; Ananto Setiadi; Gunawan Gunawan; I Gusti Ngurah Permana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.191 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.49-56

Abstract

Ikan tuna sirip kuning merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tinggi yang populasinya semakin menurun di alam. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut, Gondol dan bertujuan untuk mengetahui performa pemijahan ikan tuna sirip kuning yang dipelihara di dalam keramba jaring apung. Sebanyak 100 ekor induk ikan tuna dengan ukuran bobot sekitar 15-30 kg dipelihara dalam keramba sejak tahun 2014. Induk ikan diberi pakan berupa ikan layang dan cumi-cumi dengan rasio 2:1 dua kali sehari (pagi dan sore hari). Pengamatan yang dilakukan meliputi tingkah laku induk, pemijahan, dan keragaan telur yang dihasilkan, serta kualitas air terutama suhu dan oksigen dilakukan setiap hari. Induk ikan memijah untuk pertama kalinya terjadi pada tahun 2015. Selanjutnya pemijahan terjadi hampir setiap malam hari dengan jumlah telur yang dapat dikumpulkan berkisar 30.000-3.600.000 butir. Daya tetas telur yang diperoleh berkisar 26%-96%, dengan ketahanan hidup larva tanpa pakan (survival activity index-SAI) berkisar 0,1-3,8. Berdasarkan hasil pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa induk ikan tuna sirip kuning umur dua tahun dapat memijah di keramba jaring apung dan menghasilkan performa pemijahan yang baik.Yellowfin tuna is an export commodity and high economic value but its population tend to decrease. The research was conducted at Institute for Mariculture Research and Development of Indonesia. The purpose of this study was to observe the spawning performance of yellowfin tuna in floating net cage. The study was started in 2014 using 100 broodstock with estimated weight range of 15-30 kg. Feed supplied for broodstock were scad mackerel and squid with 2:1 ratio and was given twice a day in the morning and afternoon. The observations included broodstock behavior, spawning, egg performance, and daily morning of water quality (temperature and dissolve oxygen). First spawning was observed in January, 2015, where eggs were found in floating net collector deployed in floating net cage. Spawning occured nearly every day at night time. The number of eggs collected was ranged from 30,000 to 3,600,000 eggs with varied hatching of 26%-96% and survival activity index of 0.1-3.8. Based on these results, it can be concluded that yellowfin tuna broodstock can spawn in floating net cage near shore at the age of two year with good spawning performance.
APLIKASI METODE PCR YANG DIMODIFIKASI UNTUK KEPENTINGAN DIAGNOSA STREPTOCCOCIS Hessy Novita; Lila Gardenia; Isti Koesharyani; Hambali Supriyadi; Yani Aryati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.503 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.117-123

Abstract

Bakteri merupakan salah satu penyebab penyakit pada ikan selain parasit dan virus. Walaupun tidak menimbulkan kematian massal namun keberadaan penyakit bakterial sangat merugikan kegiatan budidaya ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh metode aplikasi yang mudah dan cepat untuk mendiagnosa penyakit bakterial khususnya yang disebabkan oleh infeksi Streptococcus iniae. Penelitian ini telah dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu: (1) Karakterisasi biokimia S. iniae. (2) Uji PCR menggunakan primer universal 16S rRNA dan primer spesifik LOX-1 dan LOX-2 S. iniae. Hasil riset menunjukkan bahwa isolat dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Bogor dan isolat dari Laboratorium Riset Kesehatan Ikan (LRKI), Jakarta hasil uji PCR dengan 16S rRNA adalah positif sedangkan dengan primer LOX-1 dan LOX-2 hasilnya negatif untuk isolat S. iniae BRPBAT dan positif untuk isolat LRKI. Dengan uji PCR, diagnosa penyakit bakteri lebih cepat, spesifik, dan sensitif serta lebih akurat dibandingkan dengan karakterisasi secara biokimia yang membutuhkan waktu 2-3 hari untuk identifikasi.Bacterial diseases has become an important diseases that have to be faced by aquaculturist. Even though unlike parasites, viral and bacterial diseases have caused fish farmers suffered great losses. The aim of the research was to develop a rapid detection method for bacterial disease especially for detecting Streptococcus iniae. The research was done in several steps which were (1) Biochemical characterization (2) PCR assay using universal primer for S. iniae 16S rRNA and specific primer LOX-1 and LOX-2. The results showed that based on biochemical characterization, the isolate was belonged to S. iniae. PCR assay of isolate collected from the Research Institute for Freshwater Aquaculture (RIFA) Bogor and isolate from the Research Laboratory for Fish Health (RLFH) with 16S rRNA were positive. However, RIFA isolate  was negative and RLFH isolate was positive for S. iniae tested using LOX-1 and LOX-2. The PCR assays offers more faster, specific, sensitive and accurate in identifying bacterial diseases compared to biochemical characterization that needs up to 3 days or more for bacterial identification.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue