cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
PENGEMBANGAN METODE ELISA UNTUK MENDETEKSI RESPON IMUN SPESIFIK PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIVAKSINASI TERHADAP Aeromonas hydrophila DAN Streptococcus agalactiae Tuti Sumiati; Sukenda Sukenda; Sri Nuryati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.171 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.243-250

Abstract

Ko-infeksi bakteri Aeromonas hydrophila dan Streptococcus agalactiae rentan terjadi pada budidaya nila, sehingga pencegahan menggunakan vaksin koktail yang mengandung kedua bakteri tersebut merupakan langkah yang tepat untuk pengendaliannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa respon imun spesifik (antibodi) serum ikan nila yang divaksinasi dengan vaksin koktail A. hydrophila dan S. agalactiae dengan menggunakan ELISA. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah optimalisasi ELISA, yang terdiri atas persiapan antigen dan penentuan konsentrasi optimum antigen untuk deteksi antibodi dan tahap kedua adalah mendeteksi antibodi pasca vaksinasi ikan nila. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum antigen A. hydrophila dan S. agalactiae untuk penentuan antibodi dalam ikan nila masing-masing sebesar 10 μg/mL. Konsentrasi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi serum pada ikan nila setelah diberi vaksin koktail A. hydrophila dan S. agalactiae. Titer antibodi ikan nila pada minggu kedua sampai pada minggu kelima pada kelompok vaksinasi secara signifikan lebih tinggi dibanding kontrol (P<0,05).
KERAGAAN PEMIJAHAN BUATAN ANTARA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) BETINA DAN IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) JANTAN DAN IKAN PATIN NASUTUS (Pangasius nasutus) JANTAN Bambang Iswanto; Evi Tahapari
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.05 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.191-201

Abstract

Upaya pengembangan budidaya ikan patin jambal (Pangasius djambal) dan ikan patin nasutus (P. nasutus) sebagai komoditas ekspor ikan patin daging putih sulit direalisasikan, karena kematangan induk-induk betinanya sulit dicapai pada musim kemarau dan keterbatasan fekunditasnya, sehingga produksi massal benihnya terbatas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ikan patin daging putih adalah melalui program hibridisasi antara ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) betina dengan ikan patin jambal jantan (menghasilkan ikan patin hibrida siam x jambal) dan atau dengan ikan patin nasutus jantan (menghasilkan ikan patin hibrida siam x nasutus). Potensi budidaya kedua ikan patin hibrida tersebut berkaitan dengan produksi massal benihnya merupakan hal yang penting untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi derajat fertilisasi, derajat penetasan, dan derajat deformitas larva kedua ikan patin hibrida tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat fertilisasi ikan patin hibrida siam x nasutus sama (P>0,05) dengan ikan patin siam, ikan patin hibrida siam x jambal dan ikan patin nasutus, sedangkan ikan patin jambal memiliki derajat fertilisasi yang lebih rendah tetapi tidak berbeda (P>0,05) dengan ikan patin nasutus dan ikan patin hibrida siam x jambal. Derajat penetasan ikan patin hibrida siam x nasutus adalah sama (P>0,05) dengan ikan patin siam dan ikan patin hibrida siam x jambal, dan lebih tinggi (P<0,05) daripada ikan patin nasutus dan ikan patin jambal. Derajat deformitas larva ikan patin hibrida siam x nasutus dan ikan patin hibrida siam x jambal rendah dan juga sama dengan ikan patin siam (P>0,05); sedangkan pada ikan patin jambal dan ikan patin nasutus lebih tinggi (P<0,05). Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa produktivitas (produksi massal benih) kedua ikan patin hibrida tersebut tinggi dan sama dengan ikan patin siam, sehingga potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya.
BARCODING DNA IKAN HIAS LAHAN GAMBUT Melta Rini Fahmi; Anjang Bangun Prasetio; Ruby Vidia Kusumah; Erma Primanita Hayuningtyas; Idil Ardi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.334 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.2.2016.137-145

Abstract

Perairan gambut merupakan ekosistem unik yang memiliki kekayaan biodiversitas ikan, sebagian besar di antaranya memiliki potensi sebagai ikan hias. Penelitian ini dilakukan untuk melakukan identifikasi dan analisis keragaman genetik, karakter genetik, jarak genetik, dan pohon kekerabatan ikan-ikan yang mendiami perairan gambut Cagar Biosfere Bukit Batu Provinsi Riau. Tahap pertama penelitian ini adalah identifikasi secara morfologi terhadap 29 ikan hasil koleksi yang potensial sebagai ikan hias. Selanjutnya amplifikasi dan alignment 675 bp (base pair) dari 90 runutan parsial cytochrome c oxidase subunit 1 (COI). Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diidentifikasi dapat dikelompokkan menjadi enam famili, yaitu Balontidae terdiri atas tiga spesies (12,5%); Cyprinidae 13 spesies (54,17%); Cobitidae satu spesies (4,17%); Siluridae dua spesies (8,3%); Datnoidae satu spesies (4,17%); dan Bagridae empat spesies (16,67%). Beberapa spesies memiliki perbedaan genetik intraspesies lebih dari 3%. Analisis kekerabatan dan clustering ikan hias lahan gambut berdasarkan gen COI memiliki nilai bootstrap 87-99 per ulangan.Peat is a unique ecosystem which a high fish biodiversity, and most of them are potential as ornamental fish. This research was conducted to identify and analyze genetic diversity, genetic code, genetic distances, and phylogenies of the fish that inhabit in the Bukit Batu Biosfere Reserves, Riau Province. The first stage of this study was identification of 29 fish species that potential as ornamental fish by using morphological character. The further stages were amplification and alignment of 675 base pairs of 90 partial sequences of cytochrome c oxidase subunit 1 (COI). Results showed that the identification based on COI could be classified into six families. These Families were Balontidae, Cyprinidae, Cobitidae, Siluridae, Datnoidae, and Bagridae which consist of three species (12.5%), 13 species (54.17%), one species (4.17%), two species (8.3%), one species (4.17%), and four species (16.67%), respectively. Some clustered have intra-species genetic divergence more than 3%. Phylogenetic and clustering analysis showed all of the OTU (0perational Taxonomic Unit) has a high bootstrap permutation of 87-99.
EFEKTIVITAS BEBERAPA BAHAN KIMIA TERHADAP COCCON DAN LINTAH LAUT hIRUDINEA (Zeylanicobdella arugamensis) Ketut Mahardika; Indah Mastuti; Ahmad Muzaki; Zafran Zafran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.29-38

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas bahan kimia terhadap Zeylanicobdella arugamensis yang menginfeksi ikan kerapu hibrida cantik secara in vitro dan in vivo. Uji in vitro dilakukan dengan mengoleksi Z. arugamensis dari ikan kerapu hibrida cantik dan ditempatkan dalam cawan petri (100-200 ekor/cawan petri). Z. arugamensis tersebut diinkubasi dalam suhu ruang selama satu hari agar menghasilkan coccon. Masing-masing dua cawan petri yang berisi Z. arugamensis direndam dengan obat cacing dan bahan kimia seperti albendazole, levamisole, oxfendazole, dan piperazine pada dosis 1.000 mg/L, ivermectin dosis 30-100 mg/L, calcium hypochlorite (kaporit) dosis 10.000 mg/L, formalin dosis 200-400 mg/L, klorin dosis 200-400 mg/L, tembakau dosis 10.000-50.000 mg/L dalam air laut dan air tawar, dan air laut sebagai kontrol. Perendaman dilakukan selama 60 menit dan selanjutnya diganti dengan air laut steril untuk diinkubasi selama 13 hari. Bahan kimia tersebut juga digunakan untuk perendaman secara in vivo terhadap ikan kerapu hibrida cantik yang terinfeksi lintah. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa formalin dan klorin pada dosis 300 mg/L dan 400 mg/L, ivermectin dosis 100 mg/L, kaporit dosis 10.000 mg/L selama 60 menit mampu membunuh Z. arugamensis dan cocconnya hingga 100%. Sedangkan perendaman obat cacing, dan tembakau kurang efektif untuk membunuh Z. arugamensis dan cocconnya. Hasil uji in vivo menunjukkan bahwa bahan kimia dengan dosis tinggi bersifat toksik pada ikan uji. Perendaman dengan formalin dan hidrogen peroksida pada dosis 100-200 mg/L dalam air tawar selama 60 menit efektif dalam membunuh Z. arugamensis dan aman bagi ikan kerapu hibrida cantik.The purpose of this study was to determine the effectiveness of different chemical compounds on parasite Zeylanicobdella arugamensis infecting hybrid grouper “cantik” through vitro and in vivo. The in vitro tests were carried out by collecting leeches from hybrid grouper “cantik”, and then placed in petridishes (100-200 leeches/petridish). The Z. arugamensis was incubated at room temperature for one day to allow cocoon. Afterward, each of the two petridishes containing Z. arugamensis were soaked with each selected chemical such as albendazole, levamisole, oxfendazole, and piperazine at doses of 1,000 ppm; ivermectin doses of 30-100 ppm; calcium hypochlorite dosage of 10,000 ppm; formalin doses 200-400 ppm; chlorine doses 200-400 ppm; tobacco doses 10,000-50,000 ppm mixed in sea water or fresh water, fresh water and sea water as a control. Soaking with the chemicals was carried out for 60 minutes and then replaced with sterile sea water and incubated for 13 days. These chemicals were also used in in vivo treatment against hybrid grouper “cantik” infected by Z. arugamensis. The in vitro test showed that formalin and chlorine at doses of 300 ppm and 400 ppm, ivermectin at a dose of 100 ppm, calcium hypochlorite dose of 10,000 ppm of seawater for 60 minutes were able to kill Z. arugamensis and its cocoon up to 100%. While the use of anti-worm chemicals or medicines (albendazole, levamisole, oxfendazole, piperazine), and herbal tobacco drugs were less effective in killing Z. arugamensis and its cocoon. The in vivo test provided evidences that high-dose of chemicals were toxic to hybrid grouper “cantik”. Soaking with formalin and hydrogen peroxide at a dose of 100-200 ppm in fresh water for 60 minutes were effective in killing Z. arugamensis and safe for hybrid grouper “cantik”.
DINAMIKA KELIMPAHAN BENIH LOBSTER (Panulirus spp.) DI PERAIRAN TELUK GERUPUK, NUSA TENGGARA BARAT: TANTANGAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA LOBSTER Erlania Erlania; I Nyoman Radiarta; Ketut Sugama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.189 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.475-486

Abstract

Aktivitas budidaya pembesaran lobster masih mengandalkan benih hasil tangkapan dari alam. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan observasi kelimpahan benih lobster, Panulirus spp. di perairan Teluk Gerupuk, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terkait dengan fluktuasi kualitas perairan secara spasial dan temporal. Data yang dikumpulkan mencakup kondisi kualitas perairan, kelimpahan benih lobster, dan total benih lobster hasil tangkapan di Teluk Gerupuk. Sebanyak sepuluh stasiun pengamatan kelimpahan lobster dan kualitas perairan disebar secara merata di lokasi penelitian. Pengamatan kelimpahan benih lobster menggunakan kolektor benih lobster yang dikenal dengan ‘pocong’, sedangkan data total tangkapan benih lobster diperoleh dari pengumpul di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran kelimpahan benih lobster tertinggi ditemukan di perairan sekitar Desa Gerupuk dan Desa Bumbang, yaitu berkisar 22-101 ekor/stasiun selama masa penelitian. Lokasi tersebut memiliki karakteristik perairan yang relatif terlindung, dangkal, kekeruhan tinggi, dan dasar perairan pasir berlumpur. Secara temporal, puncak kelimpahan benih lobster tertinggi terjadi pada bulan Juni-Juli yaitu antar 83-142 ekor/bulan selama masa penelitian, dan data kelimpahan tersebut menunjukkan pola yang relatif sama dengan data hasil tangkapan benih oleh masyarakat. Saat ini, dukungan pengembangan teknologi budidaya lobster sangat diperlukan, khususnya teknologi pembesaran untuk meningkatkan nilai ekonomis benih lobster hasil tangkapan, dan teknologi pembenihan untuk menjaga ketersediaan benih lobster di alam dan mendukung budidaya lobster secara berkelanjutan.
ESTIMASI HERITABILITAS DAN RESPONS SELEKSI IKAN NILA MERAH (Oreochromis spp.) PADA TAMBAK BERSALINITAS Adam Robisalmi; Raden Roro Sri Pudji Sinarni Dewi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.247 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.47-57

Abstract

Salah satu jenis ikan nila yang memiliki potensi nilai ekonomis yang tinggi dan dapat dibudidayakan di air tawar maupun di air payau adalah ikan nila merah. Dalam rangka pengembangannya diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas genetik di antaranya dengan cara seleksi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui estimasi nilai heritabilitas dan respons seleksi populasi jantan dan betina F-0 ikan nila merah hasil seleksi. Pemijahan dilakukan secara full-sib dengan perbandingan jantan dan betina 1:1 dan menghasilkan 10 famili dari 50 famili yang dibentuk. Pembesaran benih dilakukan di tambak bersalinitas 30 ppt menggunakan waring berukuran 3 m x 5 m x 1,5 m dengan padat tebar 10 ekor/m2. Seleksi calon induk pada populasi jantan dan betina ikan nila merah dilakukan setelah mencapai bobot 200-300 g. Cut off seleksi ditentukan pada bobot berkisar 225-354 g (jantan) dan 201-258 g (betina). Parameter yang diamati meliputi koefisien keragaman panjang dan bobot, diferensial seleksi, estimasi nilai heritabilitas, dan respons seleksi. Hasil penelitian menunjukkan koefisien keragaman karakter panjang pada populasi jantan berkisar dari 7,89%-11,18% dan bobot 21,22%-34,12% dengan diferensial seleksi 45,87-115,18 g; sedangkan populasi betina sebesar 6,08%-13,22% dan 16,39%-31,55%; serta 46,12-71,67 g. Hasil analisis estimasi nilai heritabilitas dalam arti luas) pada karakter bobot ikan nila merah jantan 0,47±0,19 dan betina 0,19±0,11. Adapun prediksi respons seleksi yang akan diperoleh adalah 33,06 g (jantan) dan 11,65 g (betina).
TRANSMISI TRANSGEN GLIKOPROTEIN DAN KETAHANAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) TRANSGENIK F1 TERHADAP INFEKSI KOI HERPES VIRUS (KHV) Khairul Syahputra; Yogi Himawan; Didik Ariyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.918 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.153-160

Abstract

Ketahanan penyakit merupakan salah satu karakter selain pertumbuhan yang potensial dikembangkan dengan metode transgenesis pada ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi transmisi transgen glikoprotein-GP11 (GP11) dari KHV dan menguji ketahanan ikan mas transgenik F1 terhadap infeksi koi herpes virus (KHV). Empat garis keturunan F1 transgenik (B1, B2, SA1, dan SA2) diproduksi dengan menyilangkan ikan mas jantan F0 yang membawa gen GP11 di sperma dengan betina non-transgenik.Pengujian transmisi transgen dilakukan dengan mendeteksi transgen pada larva dan benih transgenik F1. Deteksi transgen dilakukan dengan metode PCR menggunakan primer spesifik untuk konstruksi gen glikoprotein (krt-GP11). Evaluasi ketahanan terhadap KHV dilakukan dengan uji tantang secara kohabitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua jantan F0 mentransmisikan transgen pada generasi F1. Transmisi transgen pada ikan mas transgenik F1 berkisar antara 0%-3%. Ikan mas transgenik F1 lebih tahanterhadap infeksi KHV dibandingkan non-transgenik. Ikan mas transgenik F1 memiliki sintasan (85,56±7,29%) yang lebih baik dibandingkan dengan ikan mas non-transgenik (71,11±18,99%).
PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man) PADA PENDEDERAN BERBASIS SISTEM HETEROTROF DENGAN PADAT TEBAR BERBEDA Ikhsan Khasani; Asep Sopian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.842 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.3.2013.373-382

Abstract

Strategi untuk meningkatkan produksi udang galah dapat ditempuh melalui penyediaan benih unggul dalam jumlah memadai dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komponen teknologi pendederan udang galah yang lebih produktif. Teknologi bioflok pada sistem pendederan udang galah, dengan titik berat pada optimasi peran bakteri heterotrof untuk pengendalian senyawa toksik limbah budidaya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas melalui peningkatan padat tebar dan sintasan benih. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga tingkat kepadatan benih dan satu kontrol, yang terdiri dari: A) kepadatan 1 ekor/L, tanpa sistem heterotrof (TSH); B) kepadatan 1 ekor/L dengan sistem heterotrof (SH); C) 2 ekor/L dengan SH; D) 3 ekor/L dengan SH, masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Sistem heterotrof dijalankan dengan menambahkan molase sebagai sumber karbon dan bakteri Bacillus sp. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan padat tebar dan sistem pengelolaan air memberikan pengaruh nyata (P<0,05) baik terhadap sintasan maupun pertumbuhan benih. Nilai sintasan akhir benih yang diperoleh yaitu 63,3±13,6%; 78,0±22,0%; 88,7±8,1%; dan 89,6±3,7%, berturut-turut untuk perlakuan A, B, C, dan D. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui penerapan teknologi bioflok pendederan udang galah dapat dilakukan tanpa pergantian air dengan kepadatan hingga 3 ekor/L.
RADE-OFFS DAN COST OF PLASTICITY SIFAT PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI PADA PERSILANGAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DALAM SALINITAS BERBEDA Wartono Hadie; Irin Iriana Kusmini; Lies Emmawati Hadie
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.845 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.13-19

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh salinitas pada karakter pertumbuhan dan reproduksi dalam bentuk trade-offs dan cost of plasticity. Benih udang galah dengan bobot 0,01 ± 0,012 g dipelihara pada tiga level salinitas 0‰, 10‰, dan 15‰ dengan tiga ulangan. Sembilan persilangan diperoleh dari perkawinan antar dan dalam strain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada salinitas 10‰, udang memperlambat pertumbuhan sebesar 16,4% dan pada salinitas 15‰ memperlambat pertumbuhan 34,5%. Trade-offs terjadi dengan menurunkan fekunditas sebesar 0,47% pada salinitas 10‰, dan sebesar 18,73% pada salinitas 15‰. Sintasan udang mengalami penurunan sebesar 33,04% pada salainitas 10‰, dan 41,99% pada salinitas 15‰. Pertumbuhan udang terbaik terjadi pada salinitas 0‰ dengan rataan bobot mencapai 25,16 g, sintasan sebesar 63,17%, dan fekunditas berjumlah 23.384 butir telur.Research aimed to evaluated the effects of growth and reproduction trait in salinity expressed on the trade-offs and cost of plasticity. Giant prawn juvenile 0.01 ± 0.012 g of body weight were reared at three different salinities level i.e. 0‰, 10‰, and 15‰ with three replications. Nine crosses strain were obtained from cross breeding between and within strain. Result of research indicated that salinity of 10‰, prawn slower the growth equal to 16.4% and at salinity of 15‰ slower the growth up to 34.5%. Trade-offs happened by decreasing fecundity equal to 0.47% and 18.73% at salinity 10‰ and 15‰ respectively. Decreased of survival rate were 33.04% and 41.99% at salinity 10‰ and 15‰ respectively. The best performance is that salinity of 0‰ are 25.16 g, 63.17%, and 23,384 eggs for the body weight, survival rate, and fecundity respectively.
VARIASI GENETIK IKAN KERAPU SUNU Plectropomus leopardus F-0 HINGGA F-3 BERDASARKAN MARKA MIKROSATELIT Sari Budi Moria Sembiring; Jhon Harianto Hutapea; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.622 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.305-311

Abstract

Penelaahan keragaman genetik pada induk dan turunan ikan kerapu sunu, Plectropomus leopardus merupakan informasi penting dalam proses pemuliaan melalui seleksi konvensional dan penggunaan marka genetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi keragaman genetik ikan kerapu sunu dengan metode marka mikrosatelit untuk mendukung program pemuliaan bagi kepentingan penyediaan induk unggul. Sebanyak 10 sampel dari setiap generasi (F-0, F-1, F-2, F-3) ikan kerapu sunu dianalisis menggunakanempat lokus mikrosatelit (PLL4; PLL08; PLL04; PLL5). Seleksi pada keturunan pertama dan kedua (F-1 dan F-2) dilakukan dengan metode konvensional, yaitu memilih ikan berdasarkan pertumbuhan yang cepat. Setelah mendapatkan marka tumbuh cepat pada ikan turunan kedua, maka seleksi untuk turunan ketiga (F-3) dilakukan dengan aplikasi marka penanda tumbuh cepat. Hasil analisis menunjukkan bahwa polimorfisme alel dari keempat lokus mikrosatelit yang diamati pada empat generasi ikan kerapu sunu menunjukkan tingkat variasi yang tinggi dengan nilai PIC>0,5. Keragaman genetik (Ho/He) mengalami penurunan dari F-0 hingga F-3. Namun demikian, nilai indeks fiksasi (0,13410) menunjukkan bahwa keragaman genetik keempat populasi ikan kerapu sunu adalah tidak berbeda nyata. Dengan demikian, ikan kerapu sunu generasi F-1 hingga F-3 masih layak dijadikan induk dalam mendukung program pemuliaan untuk menghasilkan induk unggul.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue