cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
PENGARUH RANGSANGAN HORMON AROMATASE INHIBITOR DAN OODEV TERHADAP PERUBAHAN KELAMIN DAN PERKEMBANGAN GONAD IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus Hirmawan Tirta Yudha; Agus Oman Sudrajat; Haryanti Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.652 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.325-333

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi dalam penyediaan calon induk ikan kerapu sunu Plectropomus leopardus hasil budidaya yang bersifat hermaprodit sekuensial adalah keterlambatan dalam perkembangan gonad dan perubahan gonad dari betina menjadi jantan. Manipulasi hormonal merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam memacu perkembangan reproduksi dan pematangan gonad. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis hormon aromatase inhibitor dan oodev yang tepat untuk memacu perubahan kelamin dan perkembangan gonad ikan kerapu sunu. Ikan uji yang digunakan sebanyak 35 ekor F-1 dengan bobot rerata 2,3 ± 0,28 kg. Penelitian dilakukan selama dua bulan. Induksi hormon dilakukan melalui penyuntikan setiap dua minggu sekali dengan empat dosis aromatase inhibitor dan oodev yang berbeda; A (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan), O (oodev 1 mL kg-1 ikan), AO1 (aromatase inhibitor 0,1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan), AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan), dan K (plasebo). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan dan oodev 1 mL kg-1 ikan efektif untuk merangsang perubahan kelamin. Perlakuan tersebut dapat meningkatkan konsentrasi testosteron dalam darah (2,819 ng/mL) setelah delapan minggu pemeliharaan. Berdasarkan hasil histologi gonad dan observasi terhadap ekspresi gen terkait reproduksi menggunakan gen target DMRT1 dan SOX3 menunjukkan bahwa perlakuan hormon AO2 (Aromatase inhibitor 1 mg kg-1 ikan + oodev 1 mL kg-1 ikan) terbukti dapat memacu perubahan kelamin dari betina menjadi jantan dan kematangan gonad pada ikan kerapu sunu Plectropomus leopardus.The main problems faced in providing prospective broodstock of protogynous hermaphrodite coral trout grouper Plectropomus leopardus are lateness of gonadal development and gonadal sex reversal from female to male. Hormonal manipulation is the most effective way to induce reproductive development and gonadal maturation. The present study aimed to determine an effective dose of aromatase inhibitor and oodev on sex reversal and gonadal development of coral trout grouper. There were 35 F-1 fish with an average weight of 2.3 ± 0.28 kg. This research was conducted for two months. The fish were injected with four different dosages of aromatase inhibitor and oodev every two weeks: A (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish), O (1 mL oodev), AO1 (aromatase inhibitor 0.1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish), AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish), and K (placebo). The results showed that the combination of aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish and oodev 1 mL kg-1 fish was effective to induce the sex change. It could increase the concentration of testosterone in the blood (2.819 ng/mL) after eight weeks of culture. Based on the results of gonadal histology and reproductive-related genes expression observations using DMRT1 and SOX3 target genes, the hormonal treatment of AO2 (aromatase inhibitor 1 mg kg-1 fish + oodev 1 mL kg-1 fish) was able to accelerate sex reversal from female to male and gonadal maturation in coral trout grouper Plectropomus leopardus.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI Edwardsiella ictaluri PENYEBAB PENYAKIT Enteric Septicemia of Catfish (ESC) PADA IKAN PATIN (Pangasius sp.) Uni Purwaningsih; Hessy Novita; Desy Sugiani; Septyan Andriyanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.14.1.2019.47-57

Abstract

Penyakit Enteric Septicemia of Catfish (ESC) merupakan salah satu kendala pada budidaya ikan patin yang disebabkan oleh bakteri Edwardsiella ictaluri. E. ictaluri termasuk kelompok golongan bakteri gram negatif. Infeksi ESC ditandai dengan gejala klinis antara lain bercak putih pada organ internal, pendarahan pada pangkal sirip dan ekor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan karakterisasi isolat E. ictaluri, serta mengetahui tingkat patogenitasnya pada ikan patin (Pangasius sp). Sampel ikan patin sakit yang terduga terinfeksi ESC diperoleh dari tiga lokasi budidaya yaitu dari Jatiluhur, Sukabumi, dan Sukamandi. Berdasarkan hasil uji karakterisasi secara biokimia diperoleh delapan isolate; masing-masing satu isolat dari Jatiluhur, tiga isolat dari Sukabumi, dan empat isolat dari Sukamandi, yang definitif sebagai E. ictaluri. Hal ini juga didukung dengan diagnosa Polymerase Chain Reaction dan sekuensing DNA dari delapan isolat menunjukkan berat molekul pada 2.000 bp dan memiliki tingkat simiarlity sebesar 97%-99%. Berdasarkan uji patogenitas diperoleh hasil bahwa isolat E. ictaluri dengan kode PJh-01 asal Jatiluhur sebagai isolat yang memiliki patogenitas tinggi dengan nilai LD50 sebesar 3,23 x 107 cfu.Infection of Enteric Septicemia of Catfish (ESC) in catfish is caused by bacteria Edwardsiella ictaluri. E. ictaluri belongs to gram-negative bacteria. ESC infection was characterized by clinical symptoms such as whitish spots on internal organs and bleeding at the base of the fins and tail. The study aimed to identify and characterize E. ictaluri isolates and to determine its pathogenicity on catfish (Pangasius sp.). The sample of diseased catfish and suspected infected fish by of ESC was collected from three sites of catfish aquaculture (Jatiluhur, Sukabumi, and Sukamandi). Biochemical characterization revealed that eight isolates, i.e.; one isolate from Jatiluhur, three isolates from Sukabumi, and four isolates from Sukamandi, were identified as E. ictaluri. This finding was confirmed by the result of Polymerase Chain Reaction and DNA sequencing that all eight isolates had a molecular weight of 2,000 bp and showed a similarity level of 97%-99% to E. ictaluri. Based on the pathogenicity test, it was found that E. ictaluri isolate with code of PJh-01 collected from Jatiluhur has the higest pathogenicity LD50 value of 3.23 x 107 cfu.
Front Matter & Back Matter Suprapti Suprapti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.046 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.1-6

Abstract

EFEKTIVITAS KOMBINASI PROBIOTIK MIKROENKAPSULASI MELALUI PAKAN UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT MOTILE AEROMONADS SEPTICEMIA PADA IKAN LELE, Clarias gariepinus Angela Mariana Lusiastuti; Septyan Andriyanto; Reza Samsudin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.416 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.179-186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi probiotik mikroenkapsulasi melalui pakan dalam pengendalian penyakit pada ikan lele, Clarias gariepinus. Penelitian dilakukan mulai dari penyiapan kombinasi probiotik Bacillus cereus ND2 dan Staphylococcus lentus L1K, mikroenkapsulasi probiotik, uji probiotik mikroenkapsulasi, serta uji dosis secara in vivo. Proses mikroenkapsulasi menggunakan BUCHI mini spray dryer dengan suhu inlet 131°C-133°C dan suhu outlet 65°C-70°C. Pakan yang digunakan adalah pakan buatan dengan kadar protein 38% yang dicampur dengan probiotik mikroenkapsulasi sesuai dengan dosis perlakuan dan diberi putih telur 2% sebagai binder. Perlakuan yang dilakukan adalah membandingkan secara in vivo probiotik mikroenkapsulasi (PM) dan probiotik non-mikroenkapsulasi (PNM), dan dilanjutkan pengujian dosis melalui pakan untuk memperoleh dosis terbaik dari aplikasi probiotik mikroenkapsulasi. Parameter pengamatan berupa tingkat sintasan, biomassa, kadar hematokrit, hemoglobin, respiratory burst activity, dan total bacterial count. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi kombinasi probiotik mikroenkapsulasi Bacillus cereus ND2 dan Staphylococcus lentus L1K pada pakan lebih efektif, dan dengan dosis 2% menunjukkan hasil yang lebih baik dalam meningkatkan sintasan hingga 97,33%, biomassa dan respons imun (NBT assay, hematocrit, hemoglobin) ikan lele terhadap A. hydrophila.This study was aimed to know the effectivity of microencapsulated probiotic combinations administered through diet to control motile aeromonads septicemia disease in catfish (Clarias gariepinus). The research stages consisted of preparation probiotics, microencapsulation of probiotics and probiotic microencapsulation testing in vivo. BUCHI mini spray dryer was used in the microencapsulation process with inlet temperature ranged between 131°C-133°C and outlet temperature ranged between 65°C-70°C. The diets used in the research were pelleted feeds with a protein content of 38% and mixed with different dosages of microencapsulated probiotics. Egg albumen (2%) was used to bind the mixture. The effectivity of microencapsulated and non-microencapsulated feeds was compared in order to find an optimum microencapsulation dosage. The observed parameters were survival rate, biomass, hematocrit, hemoglobin, respiratory burst activity, and total bacterial count. The results showed that the supplementation of microencapsulated probiotic Bacillus cereus ND2 and Staphylococcus lentus L1K in the diets was more effective at a dose of 2%, showing better survival rate (97.33%), biomass gain, and immune responses (NBT assay, hematocrit, hemoglobin) against A. hydrophila in catfish Clarias gariepinus.
MORFOMETRI ROTIFER Brachionus rotundiformis STRAIN SS ASAL TAMBAK MINANGA DAN TAMBAK WATULINEY SULAWESI UTARA YANG DIKULTUR PADA SALINITAS YANG BERBEDA Inneke Fenny Melke Rumengan; Marseni Sulung; Zammrud Lantiunga; John Kekenusa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.612 KB) | DOI: 10.15578/jra.2.2.2007.221-229

Abstract

Rotifer Brachionus rotundiformis ditemukan mendominasi tambak Minanga dan Watuliney, Sulawesi Utara. Lokasi kedua tambak ini terpisah sekitar 7 km, terletak di pantai bagian tenggara jazirah Sulawesi Utara yang menghadap Laut Maluku. Morfometri kedua populasi rotifer yang dikultur pada salinitas berbeda di laboratorium, diduga dipengaruhi oleh salinitas asal tambak dari mana rotifer itu diisolasi, yaitu 25—33 ppt untuk tambak Minanga dan 0—3 ppt untuk tambak Watuliney. Kedua populasi rotifer dikultur pada salinitas 5—30 ppt masing-masing dengan interval 5 ppt. Rotifer asal tambak Minanga diadaptasikan secara bertahap dengan menurunkan salinitas dari 30 sampai 5 ppt, di mana pada salinitas perlakuan yaitu 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ppt disisihkan sebagian untuk stok eksperimen. Hal sebaliknya dilakukan pada rotifer tambak Watuliney, di mana rotifer diadaptasikan bertahap dengan menaikkan salinitas dari 5 ke 30 ppt, dan pada setiap salinitas perlakuan juga disisihkan sebagian untuk stok eksperimen. Pada setiap perlakuan, 5 ekor rotifer hasil tetasan turunan pertama dimasukkan kedalam tabung reaksi yang mengandung suspensi Nannochloropsi oculata dengan kepadatan 3x106 cells/mL pada suhu 25°C. Sesudah 7 hari, jumlah populasi rotifer meningkat akibat reproduksi partenogenesis, di mana sejumlah 30 rotifer yang membawa telur dari setiap perlakuan diukur bagian-bagian tubuhnya di bawah mikroskop. Ternyata kisaran ukuran rotifer Minanga dalam semua perlakuan lebih rendah dari rotifer Watuliney. Morfometri kedua populasi yang berasal dari tambak yang berlainan, mempunyai perbedaan yang nyata secara statistik. Ada kecenderungan panjang lorika rotifer Watuliney meningkat dengan meningkatnya salinitas, sedangkan rotifer Minanga tidak menunjukkan perbedaan ukuran dengan perubahan salinitas.The rotifers Brachionus rotundiformis were found predominantly in Minanga and Watuliney brackishwater ponds in North Sulawesi. The two ponds are located 7 km apart at south-eastern coast of North Sulawesi facing to Maluku Sea. Morphometry of the two groups may associate with the original salinities of the ponds, 25—33 and 0—3 ppt in Minanga and Watuliney ponds, respectively. The rotifers were cultured at different salinities in laboratory in order to observe the plasticity of their size. Rotifers from Minanga ponds were gradually adapted by lowering salinities from 30 ppt to 25, 20 until 5 ppt. In contrast, Rotifers from Watuliney ponds were adapted gradually by increasing salinities from 5 ppt to 10, 15, 20, 25, and 30 ppt. In each treatment, 5 first laid eggs were put into each test tube containing Nannochloropsi oculata (3x106 cells/mL) at 25°C, and after 7 days, the rotifer population remarkably increased due to parthenogenetic reproduction, and then body size of 30 egg-carrying rotifers of each treatment were measured under microscope. Body size of rotifers from Minanga ponds in all treatment was lower than that of rotifers from Watuliney ponds. Statistically, morphometry of the two groups was significantly different. However, there was a tendency for that lorica length of rotifers from Watuliney ponds to increase as the salinity increase, while rotifers from Minanga  ponds did not significantly changed in their sizes as the salinity changed.
PERANAN LEMAK PAKAN DALAM MENDUKUNG PERKEMBANGAN EMBRIO, DERAJAT PENETASAN TELUR, DAN SINTASAN LARVA IKAN BAUNG (Mystus nemurus) Ningrum Suhenda; Reza Samsudin; Anang Hari Kristanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.282 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.201-211

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT), Bogor dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kadar lemak pakan yang berbeda terhadap perkembangan embrio, derajat pembuahan, penetasan telur, dan sintasan larva ikan baung. Pakan yang digunakan berupa pakan buatan yang mengandung lemak dengan kadar yang berbeda yaitu 4%, 6%, 8%, 10%, dan 12% dengan sumber lemak yang dipergunakan adalah campuran minyak ikan dan minyak nabati dengan perbandingan 1:1. Bobot rata-rata induk ikan baung pada awal percobaan 420,89±72,10 g/ekor dan dipelihara di dalam kolam beton. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang diamati yaitu derajat penetasan, perkembangan embrio, dan sintasan larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lemak pakan merupakan faktor penting yang erat hubungannya dengan perkembangan embrio yang terlihat mulai dari pembuahan sampai dengan penetasan yaitu berkisar antara 25 jam 5 menit sampai 26 jam 37 menit. Stadia morula, blastula, dan gastrula terjadi relatif lebih cepat pada induk yang diberi pakan dengan kadar lemak 8%, akan tetapi induk yang diberi pakan dengan kadar lemak 6%, telur yang dihasilkan lebih cepat menetas. Perlakuan kadar lemak 6% dan 8% memperoleh derajat pembuahan di atas 98%, derajat penetasan telur di atas 95%, dan sintasan larva di atas 99%. Selanjutnya pakan ini cukup untuk mendukung terjadinya proses perkembangan embrio secara sempurna dan mendukung sintasan larva.Fish feed should contain sufficient amount of lipid and fatty acid because these elements play eminent roles in supporting reproduction and survival rate of larvae. Fatty acid in egg mass has an important role in fish breeding technology development because it influences the early development of embryogenesis and development of embryo. The research was conducted at the Research Institute for Freshwater Aquaculture, Bogor aimed to study the effect of different lipid levels in fish feed on embryo development, fertilizing rate, hatching rate, and survival rate of green catfish (Mystus nemurus) larvae. Pelleted feed containing 35% of protein and lipid levels of 4%, 6%, 8%, 10%, and 12% were given with daily ratio of 2% of body weight. Lipid sources were mixed with fish oil and vegetable oil with the ratio of 1:1. Broodstock with average body weight of 420.89±72.10 g/fish were cultured in concrete pond. Completely randomized design was used containing 5 treatments and 3 replications. The observed parameters were fertilization rate, hatching rate, egg diameter, yolk sac diameter, and embryo development. The results showed that lipid has an important effect and relationship with embryo development (it was started from fertilization to hatching time with range in between 25 hours 5 minutes and 26 hours 37 minutes). The morula, blastula, and gastrula stages lasted shorter in the eggs of broodstock that were fed with feed containing lipid level of 8% but the broodstock fed with feed containing 6% lipid level had faster hatched eggs. The feed with 6% and 8% lipid level produced fertilizing rate above 98%, hatching rate above 95% and the survival rate above 99%. 
PENAMBAHAN MIKROBA, Aspergillus niger DALAM BUNGKIL KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN UNTUK PEMBESARAN IKAN KERAPU MACAN Neltje Nobertine Palinggi; Kamaruddin Kamaruddin; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.837 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.385-394

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh dosis Aspergillus niger dalam bungkil kelapa sawit sebagai bahan pakan pada pembesaran ikan kerapu macan. Ikan uji yang digunakan berukuran bobot rata-rata 23,15±0,23 g; ditebar dalam keramba jaring apung ukuran 1 m x 1 m x 2 m, dengan kepadatan 16 ekor/keramba. Perlakuan yang diuji adalah penambahan Aspergillus niger sebanyak 2, 4, 8, 16 g/kg bungkil kelapa sawit dan kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali dan disain adalah rancangan acak lengkap. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan uji dua kali sehari (pagi dan sore) secara satiasi selama 20 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 8 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit memberikan pertambahan bobot dan laju spesifik lebih tinggi daripada kontrol (P<0,05), tetapi tidak berbeda dengan penambahan 2,4 dan 16 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit. Sedangkan nilai efisiensi pakan, rasio efisiensi protein, dan retensi protein pada perlakuan penambahan 8 g Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit tidak berbeda nyata dengan perlakuan penambahan 2 dan 4 g Aspergillus niger/kg kelapa sawit dan kontrol (P>0,05), namun nilainya nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan penambahan 16 g Aspergillus niger. Kisaran dosis Aspergillus niger/kg bungkil kelapa sawit adalah antara 7,2—8,2 g untuk memberikan respons tumbuh yang baik.The aim of this experiment was to determine the addition effect of microbe Aspergillus niger to palm oil cake as an ingredient of diet for the tiger grouper juveniles. Tiger grouper juveniles with average initial individual weight of 23.15±0.23 g were stocked into floating cages 1 m x1 m x2 m in size, each at stocking density of 16 individuals/cage. The tested treatments were four different dosages of A. niger, i.e.; 2, 4, 8, 16 g/kg palm oil cake and a control (without A. niger), each replicates three times. The juveniles were fed with the experimental diets twice daily (in the morning and afternoon) for a feeding periode of 20 weeks. The results of the experiment showed that the weight gain and specific growth rate of tiger grouper juveniles fed on the diet with 8 g A. niger/kg palm oil cake were significantly higher (P<0.05) than the control but, there were no significant different (P>0.05) among those of the juveniles fed on the diets with 2, 4, 16 g of A. niger/kg palm oil cake. Although the feed efficiency, protein efficiency ratio and protein retention of juveniles fed on the diet with 8 g A. niger/kg palm oil cake were not significantly different (P>0.05) from those of the juveniles fed on the diets with 2 and 4 g of A. niger/kg palm oil cake, those of juveniles the fed diet with 8 g of A. niger/kg palm oil cake were significantly higher (P<0.05) than those of the juveniles fed the diet with 16 g A. niger/kg palm oil cake. The best of growth rate of tiger grouper juveniles occurred at the dosage of 7.8—8.2 g A. niger/kg palm oil cake.
FORMULASI DAN APLIKASI PAKAN BUATAN BERBASIS RUMPUT LAUT UNTUK PENDEDERAN BENIH TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) I Nyoman Adiasmara Giri; Sari Budi Moria Sembiring; Muhammad Marzuqi; Retno Andamari
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 3 (2017): (September 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.769 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.3.2017.263-273

Abstract

Teripang merupakan salah satu komoditas perikanan penting dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi di Asia. Teknologi pembenihan teripang sudah mulai dikembangkan dan telah mampu memproduksi benih secara massal untuk budidaya. Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya teripang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa formula pakan berbasis rumput laut untuk pendederan teripang pasir. Empat pakan percobaan diformulasi menggunakan kombinasi beberapa jenis bahan baku, khususnya rumput laut. Pakan dibuat dalam bentuk pelet dengan kandungan protein 14% dan lemak 4,5%. Kontrol adalah pakan berupa bentos segar. Benih teripang pasir yang digunakan berukuran bobot 2,0 ± 0,6 g dengan panjang 2,8 ± 0,5 cm. Benih teripang dipelihara dalam bak persegi berkapasitas 150 L dengan kepadatan 50 ekor per bak. Benih teripang diberi pakan percobaan sekali dalam sehari pada sore hari. Percobaan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas lima perlakuan pakan dan empat ulangan. Percobaan berlangsung selama 120 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa benih teripang pasir yang diberi pakan buatan menghasilkan pertumbuhan (pertambahan bobot 341,3%-386,8%) dan sintasan (92,5%-97,5%) lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan yang diberi pakan bentos (kontrol), yaitu masing-masing 126,9% dan 75,0% untuk pertambahan bobot dan sintasan. Namun pertumbuhan benih teripang pada semua perlakuan pakan buatan tidak berbeda nyata (P>0,05). Kandungan protein teripang yang diberi pakan buatan (22,3%-24,4%) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan yang diberi pakan kontrol (18,4%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa benih teripang pasir dapat memanfaatkan pakan buatan dengan baik dan pakan berbasis tepung Sargassum sp. dapat diaplikasikan pada pemeliharaan benih teripang pasir.Sea cucumber is one of the important fishery commodities and has high economic value in Asia. Technology for seed production of sea cucumber has been developed and able to produce juveniles for supporting sea cucumber farming. Feed is an important factor that largely determines the success of sea cucumber farming. Therefore, this research aimed to evaluate several feed formulas based on seaweed powder for good growth performance of sea cucumber juveniles. Four experimental feeds were prepared by using a combination of several different raw materials, especially for the seaweed. The experimental feeds were prepared in pelleted form with protein and lipid content of 14% and 4.5%, respectively. Fresh benthos was used as the control feed. Juveniles of sea cucumber from hatchery with average weight of 2.0 ± 0.6 g and total length of 2.8 ± 0.5 cm were distributed into 20 of 150 L polycarbonate tanks, with a density of 50 juveniles per tank. Sea cucumber were fed the experimental feeds once a day in the afternoon for 120 days. The experiment was designed with Completely Randomized Design, with five dietary treatments and four replications. Results of the experiment showed that juvenile sea cucumber fed the artificial feeds produced significantly higher (P<0.05) growth (weight gain 341.3%-386.8%) and survival (92.5%-97.5%) than that of the control which were 126.9% and 75.0% for weight gain and survival, respectively. However, growth of juveniles among the artificial feed treatments was not significantly different (P>0.05). Protein content of sea cucumber fed the artificial feeds was significantly higher (22.3%-24.4%) (P<0.05) than that of the control (18.4%). Results of this study indicated that juveniles of sea cucumber could utilize artificial feed properly and Sargassum sp. based diet could be applied for nursery of sea cucumber juveniles.
BUDIDAYA UDANG VANAMEI, Litopenaeus vannamei POLA SEMI- INTENSIF DENGAN APLIKASI BEBERAPA JENIS PROBIOTIK KOMERSIAL Gunarto Gunarto; Erfan Andi Hendrajat
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.114 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.339-349

Abstract

Pengaruh beberapa jenis probiotik diujikan pada pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang vanamei yang dibudidayakan dengan pola semi-intensif di tambak. Tambak ukuran 4.000 m2 sebanyak enam petak masing-masing ditebari benur vanamei (L. vannamei) PL-10 dengan padat tebar 100.000 ekor/petak. Perlakuan yang diuji adalah A). Pemberian fermentasi probiotik komersial I, B). Pemberian probiotik komersial II yang dicampurkan ke dalam pakan udang dengan dosis sesuai kemasan, C). Pemberian fermentasi probiotik produksi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP), Maros yang terdiri atas kombinasi bakteri laut (BL 542), mangrove (BR 931, MY 1112), dan bakteri tambak (MR 55, BT 950). Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Pemberian probiotik dilakukan setiap minggu dimulai satu minggu sebelum penebaran hingga menjelang panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan A dan B rata-rata bobot akhir udang lebih tinggi dari yang diperoleh pada perlakuan C. Laju tumbuh harian udang pada perlakuan A berkisar 0,12—0,17 g/hari; sedangkan perlakuan B dan C masing-masing berkisar 0,15—0,16 g/hari dan 0,12—0,14 g/hari. Sintasan udang pada semua perlakuan lebih dari 90%. Rata-rata produksi udang paling tinggi dijumpai pada perlakuan A (1.339,1 ± 85,56 kg), kemudian perlakuan C (1.221,75 ± 95,39 kg), dan terendah pada perlakuan B (1.172,95 ± 111,79 kg). Ketiga perlakuan tersebut menunjukkan perbedaan yang tidak berarti (P>0,05) pada bobot akhir, laju tumbuh harian, sintasan, dan produksi udang vanamei yang dibudidayakan. Probiotik komersial yang dipergunakan pada perlakuan A mempunyai efek yang cenderung lebih baik dalam hal memperbaiki kualitas air (BOT, amoniak, nitrit, dan fosfat) dan kemungkinan faktor tersebut berakibat pada produksi udang di perlakuan A lebih tinggi daripada di perlakuan B dan C.The efectiveness of probiotics were tested on the growth, survival rates, production, and water quality condition of Pacific white shrimp L. vannamei cultured in pond under semi-intensif system. Six of pond compartments each sized 4,000 m2 were stocked with PL-10 at the density of 100,000 fries/compartment. Three treatments of probiotics application in pond were tested, there were A). Fermentation of commercial probiotic type 1, B). Commercial probiotic type 2 was applied by mixed it with shrimp feed at the recommended dosage, C). Fermentation of probiotic produced by RICA which composed of marine bacteria (BL 542), mangrove bacteria (BR 931, MY 1112) and pond bacteria (MR 55, BT 950). Each treatment was done in two replicated. On treatment A and C probiotic applied weekly to the ponds started on the first week before shrimp stocking untill harvested, while in treatment B probiotic application was mixed with feed pellet then it was given to the cultured shrimp in the ponds. Result of the research showed that final shrimp body weight in treatment A and B tend to be higher compared to the treatment C. Daily shrimp growth-rate in treatment A: 0.12—0.17 g/day, treatment B: 0.15—0.16 g/day and treatment C: 0.12—0.14 g/day. Shrimp survival rates in all treatments were more than 90%. Highest shrimp production was found in treatment A (1,339.1 ± 85.56 kg), then followed by treatment C (1,221.75 ± 95.39 kg) and the lowest in treatment B (1,172.95 ± 111.79 kg). However among those treatments there were no significant differences (P>0.05) in final shrimp weight, daily growth rate, survival rate and shrimp production. Probiotics used in treatment A resulted in the enhancement of water quality condition (total organic matter, ammonium, nitrite, and phosphate) compared to the other two tested probiotics (treatment B and treatment C). This condition presummably resulted the highest shrimp production in treatment A.
KANDUNGAN ASAM AMINO LISIN OPTIMAL DALAM PAKAN UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus I Nyoman Adiasmara Giri; Alifiah Sarah Sentika; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.541 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.357-366

Abstract

Kerapu sunu merupakan salah satu kerapu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ketersediaan pakan buatan merupakan salah satu kendala pada pengembangan budidaya kerapu di samping ketersediaan benih. Informasi kebutuhan protein dan lemak optimum, energi, asam lemak, dan vitamin telah dimanfaatkan sebagai dasar untuk pengembangan pakan buatan untuk kerapu. Namun demikian, informasi kebutuhan asam amino untuk kerapu masih terbatas sekali. Untuk itu, telah dilakukan riset untuk mengetahui kandungan asam amino lisin optimal dalam pakan untuk pertumbuhan kerapu sunu. Percobaan dilakukan dalam 18 buah bak polikarbonat volume 30 L yang dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setiap bak diisi 12 ekor benih kerapu sunu yang berasal dari hatcheri dengan bobot awal 17,6 ± 3,1g. Ikan diberi pakan percobaan dua kali sehari pada level satiasi selama 84 hari. Enam pakan percobaan dibuat berupa pelet kering dengan kandungan protein 45% dan mempunyai kandungan lisin berbeda, yaitu 1,71%; 2,21%; 2,71%; 3,21%; 3,71% dan 4,21%. Pakan percobaan mempunyai komposisi asam amino yang sama kecuali kandungan lisinnya. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan beda level lisin dan tiap perlakuan terdiri atas 3 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbedaan level lisin dalam pakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan sintasan kerapu sunu. Berdasarkan data pertambahan bobot ikan diperoleh bahwa kandungan lisin optimal dalam pakan untuk pertumbuhan kerapu sunu adalah 2,84%.Coral trout grouper is one among the most expensive species of grouper. The availability of a practical diet for grouper is still a major constraint to grow-out production besides of good quality of seed. Information regarding the optimum dietary protein and lipid levels, energy, essential fatty acids and vitamin requirements has been used to develop diet for grouper. However, very limited information is available on amino acid requirement for grouper. The objective of the study was to find out optimum lysine content in diet for growth of juvenile of coral trout grouper. A 84-day feeding experiment was conducted in 18 polycarbonate tanks of 30 L volume. Each tank was equipped with flow-through water system. Twelve hatchery_produced juveniles of coral trout grouper (17.6 ± 3.1 g BW) were stocked in each tank. Fish fed experimental diets twice everyday at satiation level. Six experimental diets with different lysine level of 1.71%, 2.21%, 2.71%, 3.21%, 3.71%, and 4.21% were prepared in form of dry pellet. All diets have the same protein level of 45% and the same amino acid composition to the amino acid composition of whole body protein of coral trout grouper, except for its lysine content. The experiment was designed based on completely random design with 6 treatments and 3 replications for each treatment. Result of the experiment showed that dietary lysine levels had significant effect on growth and survival of juvenile of coral trout grouper. Optimum dietary lysine requirement was calculated using orthogonal polynomial regression analysis. Based on weight gain data of indicates that the optimum lysine level in diet for growth of juvenile of coral trout is 2.84%.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue