cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 763 Documents
DIETARY CHITOSAN AND NANO-CHITOSAN OF BLACK SOLDIER FLY LARVAE FOR IMPROVING GROWTH AND PHYSIOLOGICAL INDICES OF Clarias gariepinus Mardianto, Nawwar; Aryani, Retno; Rudianto, Rudianto; Manurung, Hetty; Nugroho, Rudy Agung
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.103-119

Abstract

This research examined the effect of nutritional supplementation of 5% chitosan and nano-chitosan sourced from black soldier fly larvae exuviae on the growth and physiological profile of Clarias gariepinus (initial weight: 2.054 ± 0.02 g) over a period of 30 days. The feed treatments consisted of chitosan-supplemented, nano-chitosan-supplemented, and control feed, arranged in triplicate. In each trial unit, 30 fish were reared in plastic tanks (60 L capacity, filled with 50 L of freshwater). Growth, hematological profiles, and antioxidant activities were assessed after 30 days. The findings indicated that nano-chitosan markedly improved growth performance, as shown by increased final weight, body weight gain (BWG), and feed efficiency (FE), in comparison to chitosan and control diets. Specifically, nano-chitosan-fed fish exhibited a final weight of 2.878 ± 0.16 g ind-1 and a feed conversion ratio (FCR) of 1.376 ± 0.15, outperforming the chitosan group (2.660 ± 0.12 g ind-1; 1.267 ± 0.12) and the control group (2.344 ± 0.04 g ind-1; 1.857 ± 0.05). Additionally, nano-chitosan significantly increased activities of antioxidant enzymes, including those of superoxide dismutase (SOD) and catalase (CAT), while reducing malondialdehyde (MDA) levels, indicating reduced oxidative stress. The hematologicalprofile remained stable across the groups, confirming the safety of these feed additives. This research emphasizes nano-chitosan as a viable sustainable food additive for improving growth rate and oxidative resistance in C. gariepinus.  Penelitian ini mengevaluasi pengaruh suplementasi diet dengan 5% kitosan dan nano-kitosan dari cangkang pupa lalat tentara hitam terhadap pertumbuhan serta indeks fisiologis Clarias gariepinus (berat awal: 2,054 ± 0,02 g) selama 30 hari. Perlakuan pakan terdiri atas pakan yang disuplementasi nano-kitosan, disuplementasi kitosan, dan kontrol yang diulang tiga kali. Pada masing-masing unit percobaan, 30 ekor ikan dipelihara di wadah plastik (kapasitas 60 L, diisi dengan air sebanyak 50 L). Setelah 30 hari pemeliharaan, pertumbuhan, profil hematologi, dan aktivitas antioksidan dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nano-kitosan meningkatkan kinerja pertumbuhan, yang ditunjukkan dengan peningkatan berat akhir, pertambahan bobot tubuh (PBT), dan efisiensi pakan (EP), dibanding dengan pakan kitosan dan kontrol. Secara khusus, ikan yang diberi pakan nano-kitosan menunjukkan bobot akhir 2,878 ± 0,16 g ekor-1 dan rasio konversi pakan (RKP) 1,376 ± 0,15, lebih tinggi dari kelompok kitosan (2,660 ± 0,12 g ekor-1; 1,267 ± 0,12) dan kelompok kontrol (2,344 ± 0,04 g ekor-1; 1,857 ± 0,05). Selain itu, nano-kitosan secara signifikan meningkatkan aktivitas enzim antioksidan, termasuk superoksida dismutase (SOD) dan katalase (CAT), sekaligus menurunkan kadar malondialdehida (MDA), yang mengindikasikan berkurangnya stres oksidatif. Parameter hematologi tetap stabil di seluruh kelompok, yang menegaskan keamanan bahan tambahan pakan ini. Penelitian ini menyoroti nano-kitosan sebagai suplemen pakan berkelanjutan yang menjanjikan untuk meningkatkan laju pertumbuhan dan ketahanan oksidatif pada C. gariepinus. 
POTENSI BIJI DAN DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas) SEBAGAI SUMBER PROTEIN ALTERNATIF DAN IMUNOSTIMULAN DALAM MENDUKUNG AKUAKULTUR BERKELANJUTAN: KAJIAN PUSTAKA Sumiana, I Kadek; Takwin, Bagus Ansani; Fahtuhrohman, Adimas Bagus; Suleman, Gabriella Augustine
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.195-228

Abstract

Krisis pangan global dan tingginya kebutuhan protein hewani menuntut adanya sumber protein alternatif yang berkelanjutan dalam akuakultur. Ketergantungan pada tepung ikan sebagai bahan pakan utama menghadapi kendala berupa keterbatasan pasokan dan fluktuasi harga, sehingga diperlukan eksplorasi bahan nabati dengan potensi tinggi, antara lain jarak pagar (Jatropha curcas). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji potensi jarak pagar sebagai sumber protein alternatif dalam pakan akuakultur.  Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur atau kajian pustaka. Data diperoleh dengan  mempelajari teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan topik. Sumber kajian berasal artikel jurnal bereputasi nasional, internasional dan prosiding yang diterbitkan dari tahun 2010-2025. Proses pengumpulan literatur dilakukan melalui berbagai basis data seperti Scopus, Web of Science, PubMed, MDPI, Springer Link dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci yang sesuai.Hasil kajian menunjukkan bahwa jarak pagar mengandung protein tinggi 56–64% dengan profil asam amino lengkap serta senyawa bioaktif (flavonoid 0,09–2,92%, saponin 0,092–3,5%, tanin 0.0049–0,395%, fenolik 0,48-38%, alkaloid 0,070-0,50% terpenoid 0,022%) yang berfungsi sebagai imunostimulan. Proses detoksifikasi mampu menurunkan kandungan antinutrisi hingga 85%. Aplikasinya dalam pakan mampu menggantikan tepung ikan dan kedelai sebesar 10–40%, meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan, respons imun, dan kelangsungan hidup organisme budidaya hingga 88,3%. Kajian ini menyimpulkan jarak pagar memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif dalam pakan akuakultur karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan keberadaan senyawa bioaktif yang bermanfaat melalui metode pengolahan yang tepat. Namun, pemanfaatannya masih terbatas oleh kandungan senyawa toksik yang memerlukan proses detoksifikasi efektif dan aman. Tantangan riset ke depan mencakup optimalisasi teknologi detoksifikasi dan analisis kelayakan aplikasinya dalam skala industri.The global food crisis and the increasing demand for animal protein necessitate sustainable alternative protein sources in aquaculture. Dependence on fishmeal as the primary feed ingredient faces challenges due to limited supply and fluctuating prices, making it essential to explore high-potential plant-based materials such as Jatropha curcas. This article aims to review the potential of Jatropha curcas as a protein source alternative in aquaculture feed. The research employed a qualitative method through a literature review, analyzing theories, concepts, and previous studies relevant to the topic. The data sources were peer-reviewed national and international articles and conference proceedings published between 2010 and 2025. Literature was collected from various databases, including Scopus, Web of Science, PubMed, MDPI, Springer Link, and Google Scholar, using predetermined keywords. The findings indicate that Jatropha curcas contains high protein (56–64%) with a complete amino acid profile and bioactive compounds (flavonoids 0.09–2.92%, saponins 0.092–3.5%, tannins 0.0049–0.395%, phenolics 0.48–38%, alkaloids 0.070–0.50%, terpenoids 0.022%) that function as immunostimulants. Detoxification processes can reduce antinutritional factors by up to 85%. Its application in aquafeed can substitute 10–40% of fishmeal and soybean meal, improving growth, feed efficiency, immune response, and survival rate of cultured organisms up to 88.3%. This review concludes that Jatropha curcas has strong potential as an alternative protein source in aquaculture feed due to its high nutritional content and beneficial bioactive compounds when processed appropriately. However, its utilization remains constrained by toxic compounds that require effective and safe detoxification. Future research challenges include optimizing detoxification technologies and evaluating the plant feasibility for industrial-scale applications.
MANAJEMEN BUDIDAYA UDANG VANAME BERKELANJUTAN BERBASIS PENDEKATAN SOSIAL, EKONOMI, EKOLOGI, INSTITUSI, DAN TEKNOLOGI: STUDI KASUS DI UJUNG GENTENG, SUKABUMI Anwar, Kasful; Panggabean, Donwil; Malau, Albert Gamot; Mulyadi, Mulyadi; Khairunnisa, Anis
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.121-145

Abstract

Keberlanjutan pengelolaan akuakultur merupakan aspek krusial untuk memastikan produktivitas jangka panjang dan kesehatan lingkungan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi status keberlanjutan budidaya udang vaname (Penaeus vannamei) di kawasan Ujung Genteng, Sukabumi, melalui pendekatan multidimensi yang mencakup dimensi sosial, ekonomi, ekologi, institusional, dan teknologi. Metode yang digunakan adalah Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) berbasis pendekatan multi-dimensional scaling (MDS) yang dimodifikasi untuk memasukkan dimensi teknologi serta validasi melalui ulangan Monte Carlo sebanyak 25 kali. Hasil menunjukkan dimensi teknologi memperoleh skor tertinggi (77,325), mengindikasikan "sangat berkelanjutan", sementara dimensi lainnya, termasuk sosial (59,237), ekonomi (68,236), ekologi (61,856), dan institusional (60,215), dikategorikan sebagai "cukup berkelanjutan". Dimensi sosial, ekonomi, ekologi, dan institusional memiliki atribut sensitif, berpotensi meningkatkan status keberlanjutan dari cukup berkelanjutan menjadi berkelanjutan hingga sangat berkelanjutan, yang meliputi semangat gotong royong dan hubungan dengan pemerintah (sosial), tujuan pemasaran dan penyerapan tenaga kerja (ekonomi), tingkat pemanfaatan lahan dan kualitas air tambak (ekologi) serta skala usaha dan kemitraan kelembagaan (institusional). Penekanan juga diberikan pada integrasi teknologi canggih seperti sistem nanobubble, pemberi pakan otomatis, energi surya, dan pemantauan real-time berbasis IoT. Inovasi-inovasi ini menunjukkan potensi signifikan dalam meningkatkan kadar oksigen terlarut, efisiensi pakan serta pengurangan biaya operasional, yang berkontribusi pada pertumbuhan udang yang lebih baik dan penurunan tingkat kematian. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang mengombinasikan kemajuan teknologi, keterlibatan komunitas, dan dukungan institusional untuk mencapai praktik akuakultur yang berkelanjutan. Rekomendasi untuk penelitian mendatang mencakup pengujian aplikasi yang lebih luas di berbagai lingkungan akuakultur serta pengembangan teknologi adaptif untuk menghadapi tantangan yang muncul di sektor budidaya udang.Sustainability in aquaculture management is essential to ensure long-term productivity and environmental health. This study evaluates the sustainability status of whiteleg shrimp (Penaeus vannamei) farming in Ujung Genteng, Sukabumi, using a multidimensional approach covering social, economic, ecological, institutional, and technological dimensions. The Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) method, based on multi-dimensional scaling (MDS) and modified to include technology, was applied with 25 Monte Carlo iterations for validation. Results indicate that the technological dimension achieved the highest score (77.325), categorized as “highly sustainable”, while other dimensions, including social (59.237), economic (68.236), ecological (61.856), and institutional (60.215), were considered “moderately sustainable”. Sensitive attributes in social, economic, ecological, and institutional dimensions have the potential to improve sustainability status from moderately sustainable become sustainable to highly sustainable, including community cooperation and government relations (social), market orientation and employment absorption (economic), land use intensity and pond water quality (ecological), as well as business scale and institutional partnerships (institutional). The study highlights the role of advanced technologies such as nanobubble systems, automatic feeders, solar energy, and IoT-based real-time monitoring. These innovations can enhance dissolved oxygen levels, improve feed efficiency, reduce operational costs, and ultimately support better shrimp growth and lower mortality rates. Overall, the findings emphasize the importance of a holistic approach combining technological innovation, community involvement, and institutional support to achieve sustainable aquaculture. Future research is recommended to expand applications across diverse aquaculture environments and to develop adaptive technologies for emerging challenges in shrimp farming.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI SENYAWA FITOKIMIA EKSTRAK DAUN Avicennia marina DAN Avicennia alba TERHADAP ISOLAT BAKTERI Vibrio sp. DARI TAMBAK UDANG INTENSIF Fittroh, Lisdiana Miftakhul; Ning Asih, Eka Nurrahema; Safitri, Rosita
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.147-164

Abstract

Bakteri Vibrio sp. merupakan kelompok bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit vibriosis, sehingga memicu tingginya potensi kematian dan kegagalan panen budidaya udang intensif. Salah satu upaya untuk mengendalikan prevalensi penyakit ini adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan senyawa metabolit sekunder dari daun mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak daun Avicennia marina dan Avicennia alba terhadap bakteri Vibrio sp. dari tambak udang intensif di sekitar Selat Madura. Ekstraksi daun mangrove dilakukan menggunakan metode maserasi. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi cakram pada konsentrasi 10.000 ppm, 40.000 ppm, dan 80.000 ppm. Penelitian ini dirancang dengan model rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ekstrak mangrove mengandung senyawa saponin, tanin, dan triterpenoid. Zona hambat bakteri pada ekstrak A.marina berkisar 1,43 ± 0,72-4,31 ± 1,80 mm, sedangkan zona hambat pada A. alba berkisar 1,43 ± 0,72-4,71 ± 0,01 mm. Zona hambat yang terbentuk juga menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri kedua ekstrak daun mangrove pada konsentrasi 10.000 ppm dan 40.000 ppm tergolong lemah, sedangkan 80.000 ppm tergolong sedang. Pemberian konsentrasi ekstrak yang berbeda berpengaruh nyata terhadap zona hambat bakteri yang dihasilkan, namun jenis ekstrak secara signifikan tidak terdapat interaksi nyata terhadap konsentrasi ekstrak mangrove yang digunakan. Secara keseluruhan hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun A. marina dan A. alba dari Selat Madura berpotensi sebagai agen antibakteri alami terhadap bakteri Vibrio sp. pada budidaya udang intensif.Vibrio sp. bacteria are a group of pathogenic bacteria that can cause vibriosis, leading to high mortality rates and crop failure in intensive shrimp farming. One of the efforts to control the prevalence of this disease is by optimizing the use of secondary metabolites from mangrove leaves. This study aimed to determine the phytochemical content and antibacterial activity of Avicennia marina and Avicennia alba leaves extracts against Vibrio sp. bacteria from intensive shrimp ponds around the Madura Strait. Mangrove leaves extraction was carried out using the maceration method. Antibacterial activity was tested using the disc diffusion method at concentrations of 10,000 ppm, 40,000 ppm, and 80,000 ppm. The study was designed using a factorial completely randomized design (CRD). The results showed that both mangrove extracts contained saponins, tannins, and triterpenoids. The inhibition zone of bacteria in A. marina extract ranged from 1.43 ± 0.72 to 4.31 ± 1.80 mm, while in A. alba extract, it ranged from 1.43 ± 0.72 to 4.71 ± 0.01 mm. The inhibition zones also indicated that the antibacterial activity of both mangrove leaves extracts at concentrations of 10,000 ppm and 40,000 ppm was categorized as weak, while at 80,000 ppm it was categorized as moderate. Different extract concentrations had a significant effect on the bacterial inhibition zones produced; however, the type of extract showed no significant interaction with the concentrations of mangrove extract used. Overall, the results indicate that A. marina and A. alba leaves extracts from the Madura Strait have potential as natural antibacterial agents against Vibrio sp. in intensive shrimp farming.
EFFECTS OF SPINACH (Amaranthus sp.) EXTRACT SUPPLEMENTATION ON MOLTING DURATION AND PHYSIOLOGICAL RESPONSES OF MUD CRABS (Scylla sp.) REARED IN CRAB APARTMENT SYSTEMS Sutrisno, Bagas Gagat Rahina Asihing; Supriatna, Supriatna; Uzair, Hafiz Muhammad; Ismail, Azwar; Hertika, Asus Maizar Suryanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.165-180

Abstract

This study investigates the effects of dietary supplementation of spinach (Amaranthus sp.) extract, rich in phytoecdysteroids, on the molting process and physiological parameters of mud crabs (Scylla sp.) cultivated in crab apartment boxes integrated with a recirculating aquaculture system. This experiment was designed using a completely randomized design (CRD) with four different doses of spinach extract as treatments (0, 300, 700, and 1000 ng g-1 of crab) and three replications. Some parameters measured were molting duration, hormone levels, including ecdysteroid and molt inhibiting hormone (MIH), reactive oxygen species (ROS), and water quality. The results showed that higher doses of spinach extract significantly shortened the molting duration (p < 0.05), with the fastest molting observed at 1000 ng g-1 (11.83 ± 1.26 days). Increased spinach extract doses also significantly affected MIH and ROS levels. Specifically, MIH levels increased from 12.05 ng mL-1 in the control to 20.88 ng mL-1 in treatment D, while ROS levels rose from 116.80 to 147.33 µmol mL-1. Overall, the administration of phytoecdysteroids from spinach presents a promising, eco-friendly approach to enhance soft-shell crab production efficiency, although careful dose optimization is necessary to balance production acceleration with animal welfare.Penelitian ini mengkaji pengaruh suplementasi pakan dengan ekstrak bayam (Amaranthus sp.) yang kaya akan fitoekdisteroid terhadap proses molting dan parameter fisiologis kepiting bakau (Scylla sp.) yang dibudidayakan dalam kotak apartemen kepiting terintegrasi dengan sistem akuakultur resirkulasi. Percobaan ini dirancang menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat dosis ekstrak bayam sebagai perlakuan (0, 300, 700, dan 1000 ng g⁻¹ kepiting) dan tiga ulangan. Beberapa parameter yang diukur meliputi durasi molting, kadar hormon termasuk ekdisteroid dan molt inhibiting hormone (MIH), reactive oxygen species (ROS), serta kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan dosis ekstrak bayam secara signifikan memperpendek durasi molting (p < 0,05), dengan waktu molting tercepat pada dosis 1,000 ng g⁻¹ (11,83 ± 1,26 hari). Peningkatan dosis ekstrak bayam juga berpengaruh nyata terhadap kadar MIH dan ROS. Secara khusus, kadar MIH meningkat dari 12,05 ng mL⁻¹ pada kontrol menjadi 20,88 ng mL⁻¹ pada perlakuan D, sedangkan kadar ROS naik dari 116,80 menjadi 147,33 µmol mL⁻¹. Secara keseluruhan, pemberian fitoekdisteroid dari bayam menunjukkan potensi sebagai pendekatan ramah lingkungan untuk meningkatkan efisiensi produksi kepiting cangkang lunak, meskipun demikian optimasi dosis tetap diperlukan agar tercapai keseimbangan antara percepatan produksi dan kesejahteraan hewan.
EVALUASI PENGGUNAAN LIMBAH PENDEDERAN IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) DENGAN KONSENTRASI BERBEDA SEBAGAI MEDIA KULTUR Spirulina sp. SKALA MENENGAH Larasati, Ellen; Pertiwi, Ris Restu; Hudaidah, Siti; Putri, Berta; Alhafizoh, Fatimah; Alfionita, Wuni; Husna, Asmaul
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.2.2025.181-194

Abstract

Limbah pendederan ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kaya akan nitrogen (N) dan fosfor (P), berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang tanpa pengolahan. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimal limbah pendederan tersebut sebagai media kultur Spirulina sp. skala menengah. Limbah disaring (filter 25 µm) dan disterilkan menggunakan autoklaf (121°C, 15 menit, 1 atm) pada konsentrasi 10%, 15%, 20% dan 25%. Kultur dilakukan selama 9 hari dalam wadah fiberglass volume 15 L, diinokulasi dengan kepadatan awal 1 x 106 sel mL-1, diaerasi secara terus-menerus, dan diberikan pencahayaan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan untuk mengevaluasi laju pertumbuhan Spirulina sp., penurunan konsentrasi nitrat dan fosfat, serta parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, dan intensitas cahaya). Hasil menunjukkan bahwa perlakuan limbah 20% menghasilkan kepadatan tertinggi (6,43 x 106 sel m L-1) dan efisiensi penurunan konsentrasi nitrat sebesar 96,0% (dari 5,99 ± 0,13 mg L-1 menjadi 0,24 ± 0,05 mg L-1) dan penurunan fosfat sebesar 67,7% (dari 6,66 ± 0,34 mg L-1 menjadi 2,15 ± 0,32 mg L-1). Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah pendederan C. altivelis yang disterilisasi efektif digunakan sebagai media kultur Spirulina sp. skala menengah, dengan konsentrasi 20% memberikan hasil pertumbuhan, efisiensi penyerapan nutrien, dan kestabilan kualitas air terbaik, sehingga berpotensi diterapkan sebagai strategi bioremediasi berkelanjutan dalam konsep akuakultur sirkular.Effluent from humpback grouper (Cromileptes altivelis) nursery operations is rich in nitrogen (N) and phosphorus (P), posing a risk of environmental pollution if discharged untreated. This study aimed to determine the optimal concentration of humpback grouper nursery effluent as a rearing medium for Spirulina sp. cultured at an intermediate scale. The effluent was filtered (25 µm) and sterilized using an autoclave (121°C, 15 minutes, 1 atm) at concentrations of 10%, 15%, 20%, and 25%. Spirulina sp. was cultured at an initial density of 1 x 106 cells mL-1 in 15-L fiberglass tanks that were continuously aerated and illuminated for 9 days.  A completely randomized design (CRD) with three replications was used to evaluate the growth rate of Spirulina sp., the reduction of nitrate and phosphate concentrations, and water quality parameters (temperature, salinity, pH, and light intensity). Results showed that the 20% wastewater produced the highest cell density (6.43 × 10⁶ cells mL-1) and achieved a nitrate concentration reduction efficiency of 96.0% (from 5.99 ± 0.13 mg L-1 to 0.24 ± 0.05 mg L-1) and a phosphate reduction of 67.7% (from 6.66 ± 0.34 mg L-1 to 2.15 ± 0.32 mg L-1). This study demonstrated that sterilized effluent from humpback grouper nursery can be used as the rearing medium for Spirulina sp. cultured at an intermediate scale, with a 20% concentration providing optimal growth, nutrient removal efficiency, and stable water quality, thereby supporting its potential use as a sustainable bioremediation and circular aquaculture strategy.
THE INFLUENCE OF WOTON (Sterculia shillinglawii) LEAVES MEAL SUPPLEMENTATION ON THE GROWTH AND DIGESTIBILITY PERFORMANCES OF TILAPIA (Oreochromis niloticus) JUVENILES Hismayasari, Intanurfemi B.; Supriatna, Iman; Sayuti, Mohammad; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Saidin, Saidin; Asma, Siti; Prajayanti, Vini Taru F.; Abadi, Agung S.
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.1.2025.79-87

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of Woton (Sterculia shillinglawii) leaves meal supplementation on the growth performance and digestibility of tilapia (Oreochromis niloticus) juveniles. The treatments consisted of Woton leaves meal at inclusion levels of 0% (A), 5% (B), 10% (C), 15% (D), and 20% (E), with each treatment replicated three times. The observed parameters included average daily growth (ADG), average body weight (ABW), growth rate (GR), specific growth rate (SGR), survival rate (SR), feed conversion ratio (FCR), and feed efficiency (FE), as well as protein digestibility and total digestibility. Analysis of variance showed no significant differences in ADG, ABW, GR, and SR among the treatments. However, Treatment B recorded a relatively higher SGR (2.73 ± 0.44% day-1) compared to the other treatments (P < 0.05). The analysis of digestibility revealed significant differences. Treatment C (15% inclusion level) resulted in the highest protein digestibility (99.39 ± 0.02%) and total digestibility (99.37 ± 0.01%), while a lower FCR (1.76 ± 0.24) and a higher FE (57.59 ± 7.85%) were found in Treatment B (P<0.05). This study highlighted that despite Woton leaves meal improving fish digestibility and feed efficiency, its supplementation in fish feed should be limited to 5-10% due to the adverse effects of its flavonoid compounds. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi tepung daun Woton (Sterculia shillinglawii) terhadap kinerja pertumbuhan dan kecernaan juvenil ikan nila (Oreochromis niloticus). Perlakuan terdiri atas tepung daun Woton pada tingkat inklusi 0% (A), 5% (B), 10% (C), 15% (D), dan 20% (E), dengan setiap perlakuan diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi rata-rata pertumbuhan harian (RPH), rata-rata bobot tubuh (RBT), laju pertumbuhan (LP), laju pertumbuhan spesifik (LPS), tingkat kelangsungan hidup (TKH), rasio konversi pakan (RKP), dan efisiensi pakan (EP) serta kecernaan protein dan kecernaan total. Analisis varians tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada RPH, RBT, LP, dan TKH di antara perlakuan. Namun, Perlakuan B menunjukkan LPS yang relatif lebih tinggi (2,73 ± 0,44% hari-1) dibanding dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Analisis kecernaan mengungkapkan perbedaan yang signifikan. Perlakuan C (tingkat inklusi 15%) menghasilkan kecernaan protein tertinggi (99,39 ± 0,02%) dan kecernaan total tertinggi (99,37 ± 0,01%), sedangkan RKP yang lebih rendah (1,76 ± 0,24) dan EP yang lebih tinggi (57,59 ± 7,85%) ditemukan pada Perlakuan B (P<0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun tepung daun Woton meningkatkan kecernaan dan efisiensi pakan ikan, suplementasinya pada pakan ikan sebaiknya dibatasi hingga 5-10% karena dampak negatif senyawa flavonoid yang dikandungnya.
EFFECTS OF FEEDING RATE REDUCTION ON THE GROWTH PERFORMANCE AND FEED UTILIZATION OF PACIFIC WHITE SHRIMP REARED USING BIOFLOC SYSTEM Kusmiatun, Anik; Utami, Diah Ayu Satyari; Firnaeni, Tata; Kaborang, Yasinta Ega; Harijono, Teguh; Tangguda, Sartika; Triyastuti, Meilya Suzan; Djauhari, Ricky; Tantulo, Uras; Sihombing, Mika Azarya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.4.2024.331-343

Abstract

Biofloc in shrimp aquaculture provides natural food and reduces the reliance on commercial feed. The extent to which biofloc can optimize feeding management is not, however, fully understood. This study aimed to evaluate the effects of reducing feeding rates on the growth performance and feed utilization of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei) reared in a biofloc system. A completely randomized design was used with four treatments: K (standard feeding, clear water), N (standard feeding, biofloc), NA (25% feeding reduction, biofloc), and NB (50% feeding reduction, biofloc). Shrimp were stocked at 40 individuals per tank and fed commercial feed containing 40% protein over a 30-day period. Results showed that shrimp in the NA treatment (25% feed reduction with biofloc) had the highest final weight (8.66 ± 0.03 g), biomass (306.13 ± 14.27 g), and weight gain (5.74 ± 0.25 g) compared to other treatments (P<0.05). NA also exhibited a higher specific growth rate (3.63 ± 0.27 %/day) than K and NB. Feed utilization improved with a lower feed conversion ratio and higher protein retention in the NA group. This study highlights that a 25% feeding rate reduction in biofloc systems optimizes shrimp growth and feed utilization. Future research should explore long-term sustainability, biofloc composition variations, and technological integration for scaling up efficient and environmentally sustainable shrimp farming operations.Penggunaan bioflok dalam budidaya udang memberikan makanan alami dan mengurangi ketergantungan pada pakan komersial. Namun, sejauh mana bioflok dapat mengoptimalkan manajemen pakan belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek pengurangan laju pemberian pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang dibudidayakan dalam sistem bioflok. Desain penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan, yaitu: K (pemberian pakan standar, air jernih), N (pemberian pakan standar, bioflok), NA (pengurangan pakan 25%, bioflok), dan NB (pengurangan pakan 50%, bioflok). Udang ditempatkan sebanyak 40 individu per tangki dan diberi pakan komersial yang mengandung 40% protein selama 30 hari. Hasil menunjukkan bahwa udang pada perlakuan NA (pengurangan pakan 25% dengan bioflok) memiliki berat akhir tertinggi (8,66 ± 0,03 g), biomassa (306,13 ± 14,27 g), dan kenaikan berat (5,74 ± 0,25 g) dibandingkan perlakuan lainnya (P<0,05). NA juga menunjukkan tingkat pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi (3,63 ± 0,27 %/hari) dibandingkan K dan NB. Pemanfaatan pakan meningkat dengan rasio konversi pakan yang lebih rendah dan retensi protein yang lebih tinggi pada kelompok NA. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengurangan feeding rate pakan sebesar 25% dalam sistem bioflok mengoptimalkan pertumbuhan udang dan pemanfaatan pakan. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi keberlanjutan jangka panjang, variasi komposisi bioflok, dan integrasi teknologi untuk meningkatkan praktik budidaya udang yang efisien dan ramah lingkungan.
RESPONS PERTUMBUHAN, PEMANFAATAN NUTRIEN, DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN IKAN TORSORO (Tor soro) YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUPLEMENTASI GLUTAMIN Samsudin, Reza; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Widanarni, Widanarni; Alimuddin, Alimuddin; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 3 (2024): September (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.3.2024.205-227

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi glutamin terhadap pertumbuhan dan aktivitas antioksidan pada ikan Torsoro (Tor soro). Ikan uji yang digunakan adalah juvenil ikan dengan berat awal rata-rata 5,21 ± 0,04 g. Perlakuan yang diberikan terdiri atas suplementasi glutamin bebas dengan dosis yang berbeda (0; 0,5; 1,0; 1,5; dan 2%) dan alanil-glutamin (0,84; 1,67; 2,51; dan 3,35%) pada pakan, setiap perlakuan memiliki lima kali ulangan. Perlakuan pakan diberikan tiga kali sehari sekenyangnya. Ikan uji dipelihara selama 60 hari. Parameter yang diamati meliputi performa pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan yang disuplementasi glutamin bebas berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap performa pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan ikan uji. Hasil uji lebih lanjut menunjukkan bahwa suplementasi alanil-glutamin dalam pakan sebesar 2,51% memberikan hasil terbaik terhadap bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, retensi protein, rasio efisiensi protein, konversi pakan, rasio viseral somatik, rasio panjang usus, aktivitas superoksida dismutase, glutation peroksidase, dan katalase pada ikan Torsoro. Berdasarkan evaluasi keseluruhan terhadap parameter yang diamati, penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi alanil-glutamin dalam pakan pada tingkat 2,51% mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan, pemanfaatan nutrisi, indeks biologis, dan aktivitas antioksidan pada ikan Torsoro.This study aimed to evaluate the effects of glutamine supplementation on the growth of and antioxidant activity in Torsoro fish (Tor soro). The test fish used were Torsoro fish juveniles with an average initial weight of 5.21 ± 0.04 g. The treatments consisted of different supplementation levels of free glutamine (0; 0.5; 1.0; 1.5; and 2%) and alanyl-glutamine (0.84; 1.67; 2.51; and 3.35%) in feed, where each treatment had five replicates. The feed treatments were given three times a day ad satiation. The experimental fish were reared for 60 days. The parameters observed included growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity. The results showed that free glutamine-supplemented feed significantly affects (p<0.05) the growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity of the tested fish. Further test results showed that alanyl glutamine supplementation in feed at 2.51% produced the best results on the final weight, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, feed conversion, somatic visceral ratio, intestine length ratio, superoxide dismutase, glutathione peroxidase, and catalase activities of Torsoro fish. Based on the overall achievement of the observed parameters, this study determines that alanyl-glutamine supplementation in feed at 2.51% improves the growth performance, nutrient utilization, biological indices, and antioxidant activity of  Torsoro fish.
ENERGY EFFICIENCY IN AERATION SYSTEMS FOR AQUACULTURE PONDS: A COMPREHENSIVE REVIEW Nugraha, I Made Aditya; Desnanjaya, I Gusti Made Ngurah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.20.1.2025.1-25

Abstract

Aeration is a critical component in aquaculture systems to ensure optimal dissolved oxygen levels for aquatic organisms. However, aeration is also one of the most energy-intensive processes. This review critically analyzes energy efficiency strategies in aeration systems, highlighting technological advances and sustainable implementation practices analyzed using a systematic literature review approach, with inclusion criteria based on relevance to energy use, oxygenation performance, and real-world applications. The study identifies and compares different types of aeration technologies, including paddle wheel aerators, diffused air systems, venturi injectors, and renewable energy aerators in terms of energy efficiency and oxygenation effectiveness. In addition, the study explores key factors that influence aeration efficiency, such as pond design, automation, and integration of renewable energy sources, such as solar and wind, to power the aeration system. This paper extends previous literature by proposing a comprehensive framework that integrates digital technologies (e.g., sensor-based control systems and automation) with renewable energy sources to optimize aeration efficiency. The review offers a holistic approach that combines the evaluation of individual technologies or energy sources. The findings show that sensor-based automation can reduce energy consumption by up to 40%, and the integration of renewable energy significantly lowers long-term operating costs. Real-world applications of these strategies in aquaculture operations are also discussed, demonstrating both economic and environmental benefits in simple terms. Aerasi merupakan komponen penting dalam sistem akuakultur untuk memastikan kadar oksigen terlarut yang optimal bagi organisme akuatik. Akan tetapi, aerasi juga merupakan salah satu proses yang paling boros energi. Tinjauan ini menganalisis secara kritis strategi efisiensi energi dalam sistem aerasi, menyoroti kemajuan teknologi dan praktik implementasi berkelanjutan yang dianalisis menggunakan pendekatan tinjauan pustaka sistematis, dengan kriteria inklusi berdasarkan relevansi terhadap penggunaan energi, kinerja oksigenasi, dan penerapan di dunia nyata. Studi ini mengidentifikasi dan membandingkan berbagai jenis teknologi aerasi, termasuk aerator roda dayung, sistem udara terdifusi, injektor venturi, dan aerator energi terbarukan dalam hal efisiensi energi dan efektivitas oksigenasi. Selain itu, studi ini mengeksplorasi faktor-faktor utama yang memengaruhi efisiensi aerasi, seperti desain kolam, otomatisasi, dan integrasi sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, untuk memberi daya pada sistem aerasi. Makalah ini memperluas literatur sebelumnya dengan mengusulkan kerangka kerja komprehensif yang mengintegrasikan teknologi digital (misalnya, sistem kontrol berbasis sensor dan otomatisasi) dengan sumber energi terbarukan untuk mengoptimalkan efisiensi aerasi. Tinjauan ini menawarkan pendekatan holistik yang menggabungkan evaluasi teknologi individual atau sumber energi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi berbasis sensor dapat mengurangi konsumsi energi hingga 40%, dan integrasi energi terbarukan secara signifikan menurunkan biaya operasi jangka panjang. Aplikasi nyata dari strategi ini dalam operasi akuakultur juga dibahas, yang menunjukkan manfaat ekonomi dan lingkungan secara sederhana.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue