cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 361 Documents
Hubungan Kreativitas Mengajar Pendeta dengan Motivasi Belajar Anak Katekisasi Sidhi Andar Gunawan Pasaribu
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.182

Abstract

The purpose of this study was to analyze the effect of creativity variables on student learning motivation. The method used in this research is a quantitative approach using descriptive statistics and simple linear regression statistical tests. Data collection techniques used a Likert attitude scale with four answer choices distributed to 32 students who were respondents in this study. The results showed that the variable obtained an average score of 41,68 which was included in the high category while the Student Learning Motivation variable obtained an average score of 36,50 which was also included in the high category. The results of data processing showed that there was an influence of creativity variables on Student Learning Motivation by 18,9 % meaning that changes in the learning Motivation variable by 18,9% could be explained by changes in creativity variables. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh variable kreativitas terhadap motivasi belajar anak katekisasi sidhi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu pendekatan kuantitatif dengan mengunakan regresi linear sederhana. Teknik pengumpulan data mengunakan skala sikap Likert dengan empat pilihan jawab yang dibaikan kepada 32 orang anak katekisasi sidhi yang menjadi responden dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa varia-bel kreativitas memperoleh skor rata-rata sebesar 41,68 yang termasuk dalam kate-gori tinggi sementara variabel motivasi belajar anak katekisasis sidhi memperoleh skor rata-rata sebesar 36,50 yang juga termasuk dalam kategori tinggi. Hasil pe-ngolahan data menunjukkan ada korelasi variabel kreativitas mengajar terhadap motivasi belajar anak katekisasi sidhi sebesar 18,9%, artinya perubahan dalam variabel motivasi belajar sebesar 18,9 % dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variable kreativitas.
Partisipasi pendidikan Kristiani di ruang publik dalam menunjang deradikalisasi Wowor, Jeniffer Pelupessy
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.221

Abstract

This article highlights the issue of radicalism that is rife in Indonesia today. Deradicalization is seen as an effort that can be taken to overcome this problem. This paper presents the realization of this strategy from Christian Education's perspective. A qualitative approach through analysis of written materials in literature study is presented in this paper. In particular, the research results from the discourse analysis study of news papers that have been carried out previously are used along with some supporting works of literature to complement the required analysis data. Jack L. Seymour's ideas about the importance of a holistic approach in Christian Education, including a faith community approach, instructional and missional, are the theoretical basis in this paper. These three approaches are correlated with the concept of public theology. As a result, Christian education for encouraging people in the public sphere has become a transformational approach to present the benefits of faith education in the public sphere, primarily to support the deradicalization process. Abstrak Tulisan ini menyoroti persoalan radikalisme yang marak di Indonesia saat ini. Deradikalisasi dipandang sebagai salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam mengatasi persoalan ini. Tulisan ini mengetengahkan realisasi dari strategi ini dalam perspektif Pendidikan Kristiani. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui jenis penelitian literatur, analisis bahan tertulis dipaparkan dalam tulisan ini. Secara khusus hasil penelitian dari kajian analisis wacana atas surat kabar yang telah dilakukan sebelumnya beserta tambahan beberapa literatur penunjang disuguhkan untuk melengkapi data analisis. Gagasan Jack L. Seymour tentang pentingnya pendekatan holistik dalam Pendidikan Kristiani yang meliputi pendekatan komunitas iman, instruksional dan misi menjadi landasan teori dalam tulisan ini. Ketiga pendekatan ini dikorelasikan dengan kajian teologi publik. Hasilnya, partisipasi pendidikan Kristiani di ruang publik menjadi sebuah bentuk pendekatan transformasional dalam upaya untuk menghadirkan manfaat pendidikan iman pada ruang publik, khususnya dalam menunjang proses deradikalisasi.
Upaya Mereduksi Masalah Psikologis dan Akademis Korban Bullying melalui Implementasi Hidden Curriculum Gambar Diri Allah Fereddy Siagian
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.161

Abstract

One of the centers in developing Indonesia's human resources is teenagers in junior high school. Adolescents who are used as the center of human resource development are constrained by bullying, as one example of the bullying cases experienced by students of SMP Persada Bekasi, West Java, which is in the quite high category, namely 79.6%. In this study, the research instrument was used to test and non-test instruments. Non-test instruments with observation, interview, and document techniques. As a result, adolescents who are victims of bullying will experience psychological and academic problems. The psychological impact is a decrease in social competence, an attitude of preferring to be alone or to withdraw from social relationships, feelings of sadness, an attitude of condemning their birth, and a desire to end their life. The impact of academics is feeling less comfortable studying and decreasing academic achievement. Victims of bullying and cyberbullying can be overcome by learning the hidden curriculum image of God. Abstrak Salah satu sentral dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia adalah remaja yang saat ini duduk di bangku SMP. Remaja yang dijadikan sentral pembangunan sumber daya manusia mendapat kendala oleh karena adanya perilaku bullying. Sebagai salah satu contoh kasus bullying yang dialami oleh siswa SMP Persada Bekasi, Jawa Barat yang tergolong dalam kategori cukup tinggi yakni 79,6%. Dalam penelitian ini, Instrumen penelitian menggunakan instrumen tes dan non tes. Instrumen non tes dengan teknik observasi, wawancara dan dokumen. Hasilnya, remaja yang menjadi korban bullying akan mengalami masalah psikologis dan akademis. Dampak psikologis adalah berkurangnya kompetensi sosial, sikap lebih memilih menyendiri atau menarik diri dari hubungan sosialnya, perasaan sedih, sikap mengutuk kelahirannya, dan keinginan mengakhiri hidupnya. Dampak akademis merasakan kurang nyamannya belajar dan menurunnya prestasi akademik. Korban bullying dan cyberbullying dapat ditanggulangi melalui pembelajaran hidden curriculum gambar diri Allah.
Kebertahanan Janda Kristen Batak Toba dalam Hidup Menjanda Setelah Cerai Mati dan Cerai Hidup Hadriana Marhaeni Munthe; Harmona Daulay; Napsiah Napsiah
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.178

Abstract

The reality of the persistence of the Toba Batak Christian widows indicates a different habitus to that of most other widows who tend to remarry. This paper aims to determine the habitus that underlies the survival of Toba Batak Christian widows after divorce and divorce by using the theoretical framework or the habitus concept of Pierre Bourdiau. While the research method used in this study is a feminist qualitative research method that emphasizes women as the subject/center of research. Furthermore, it was found that the persistence of Toba Batak Christian widow women to live as widows was related to their habitus as women who have to be strong, hard-working, independent, and tough to support their children. This habitus is obtained from several dimensions of social capital. First, the cultural value of anakonki do hamo-raon diau (children are the most valuable treasure). Second, religious values, namely surrender and surrender of life to God by diligently praying and active-ly worshiping in churches and third, family values in the form of moral and material support from the closest family. This habitus creates a new image that the Toba Batak Christian widow is a hardworking, independent, and strong woman. Abstrak Realitas kebertahanan janda Kristen Batak Toba menjanda meng-isyaratkan habitus yang berbeda dengan habitus kebanyakan janda lain yang berkecenderungan menikah kembali. Tulisan ini bertujuan mengetahui habitus yang mendasari kebertahanan janda Kristen Batak Toba menjanda pasca cerai mati dan cerai hidup dengan menggunakan kerangka teori atau konsep habitus Pierre Bourdiau. Sedangkan metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah metode penelitian kualitatif feminis yang menekankan perempuan seba-gai subyek/sentral penelitian. Selanjutnya, diperoleh bahwa kebertahanan pe-rempuan janda Kristen Batak Toba untuk hidup menjanda ternyata berkaitan dengan habitus mereka sebagai perempuan yang harus kuat, pekerja keras, mandiri dan tangguh menghidupi anak-anaknya. Habitus ini diperoleh dari beberapa dimensi modal sosial. Pertama, nilai budaya anakonki do hamoraon diau (anak adalah harta yang paling berharga). Kedua, nilai religius yaitu berserah dan penyerahan hidup pada Tuhan dengan tekun berdoa dan aktif beribadah di gereja dan ketiga, nilai keluarga berupa dukungan moril dan materiil dari keluarga terdekat. Habitus ini menumbuhkan pencitraan baru bahwa janda Kristen Batak Toba merupakan sosok perempuan pekerja keras, mandiri dan kuat
Allah yang Kreatif dan Dinamis dalam Ayub 42:7-17: Sebuah Perlawanan terhadap Teologi Retribusi Firman Panjaitan; Hendro Hariyanto Siburian
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.131

Abstract

Theology often places the discourse on suffering in the concept of retribution, in the sense that suffering can occur because humans oppose God. Therefore, the way of deliverance or solution to suffering is through repentance, steadfastness, and persistence in suffering. This theological model of retribution is very contradictory to the message conveyed in the book of Job. By using the method of narrative interpretation, which tries to divide Job's story into several episodes and draws a "bridge" as a link between these various episodes, this paper intends to describe how God restored Job from all the suffering he had experienced. The conclusion of this research states that the God who is represented in the story of Job is a creative and dynamic God, and this would like to oppose the image of God in the view of retribution - orthodox, who will act based on human actions. The creative and dynamic image of God wants to open the eyes of everyone to believe that God is always involved in human life, not based on what humans do but based on God's free and independent will. Abstrak Teologi seringkali menempatkan diskursus tentang penderitaan dalam konsep retribusi, dalam pengertian penderitaan bisa terjadi karena manusia melawan Allah. Karena itu jalan kelepasan atau penyelesaian terhadap penderi-taan adalah melalui pertobatan, ketabahan dan kesebaran dalam penderitaan. Model teologi retribusi ini sangat berlawanan dengan berita yang disampaikan dalam kitab Ayub. Dengan menggunakan metode tafsir narasi, yang mencoba membagi kisah Ayub dalam beberap episode dan menarik ???benang merah??" sebagai penghubung dari berbagai episode tersebut, tulisan ini hendak meng-gambarkan bagaimana Allah memulihkan Ayub dari segala penderitaan yang telah dialami. Akhir dari penelitian ini menyatakan bahwa Allah yang diha-dirkan dalam kisah Ayub adalah Allah yang kreatif dan dinamis, dan hal ini hendak menentang gambaran tentang Allah dalam pandangan retribusi-ortho-dox, yang akan bertindak berdasarkan tindakan-tindakan manusia. Gambaran Allah yang kreatif dan dinamis hendak membuka mata setiap orang percaya bahwa Allah senantiasa terlibat dalam kehidupan manusia, bukan didasarkan apa yang dilakukan oleh manusia melainkan berdasarkan kehendak Allah yang bebas dan tidak terikat.
Pemikiran diskursif amanat agung Injil Matius 28:18-20 Surya, Agus; Setinawati, Setinawati
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.242

Abstract

This paper presents the discursive thinking of the Great Commission of Matthew 28:18-20. A correct understanding of the Great Commission is needed so that the implementation of the preaching of the gospel in society is not arbitrary, let alone cause conflict. This study in exploring the discursiveness of the Great Commission was conducted using a qualitative approach. Retrieval of data in the literature related to the topic in this paper. This research concludes that the discursive Great Commission of the Lord Jesus Christ is one of the culmination of all the biblical foundations for evangelism to develop faith that comes from the four Gospels and the Acts of the Apostles with different emphases. The results of the study conclude that the Gospel of Matthew 28: 18-20 emphasizes that disciples who are weak in faith are empowered to evangelize with the promise of God's participation until the end of time. Abstrak Tulisan ini menyajikan pemikiran diskursif Amanat Agung Matius 28:18-20. Pemahaman yang benar tentang Amanat Agung diperlukan agar implementasi pemberitaan Injil di masyarakat tidak sembarangan, apalagi menyebabkan konflik. Kajian dalam mendalami diskursif Amanat Agung ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan data secara literatur terkait topik dalam tulisan ini. Penelitian ini menyimpulkan, diskursif Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus adalah salah satu puncak dari semua dasar Alkitab bagi pekabaran Injil untuk menumbuh kembangkan iman yang bersumber pada ke empat Injil dan Kisah Para Rasul dengan penekanan yang berbeda-beda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Injil Matius 28: 18-20 menekankan, para murid yang dalam keadaan lemah iman diberi kuasa untuk melakukan penginjilan dengan janji penyertaan Tuhan sampai akhir zaman.
Kawruh Pamomong: Pendidikan Karakter Kristiani Berbasis Kearifan Lokal Fibry Jati Nugroho; Dwi Novita Sari
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.179

Abstract

This article reviews character education that uses local wisdom as a bridge. Through a qualitative approach with a descriptive method, Kawruh Pamomong is peeled to find concepts, which are then analyzed and presented descriptively, thus forming a conceptual framework as forming Christian characters that remain wise with Javanese culture. The results were found that the values of pinter, wasis, sregep, asih, and ngraosaken raosipun tiyang sanes have compatibility with the character of a Christian. Kawruh Pamomong can be a stimulant in developing Christian character education based on local wisdom. Abstrak Artikel ini mengulas tentang pendidikan karakter yang memakai kearifan lokal sebagai jembatannya. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, Kawruh Pamomong dikupas untuk menemukan konsep, yang kemudian dilakukan analisis dan disajikan secara deskriptif, sehingga mem-bentuk kerangka konseptual sebagai pembentuk karakter Kristen yang tetap arif dengan budaya Jawa. Hasilnya didapati bahwa nilai??nilai pinter, wasis, sregep, asih, dan ngraosaken raosipun tiyang sanes mempunyai kesesuaian dengan karakter seorang Kristen. Kawruh Pamomong dapat menjadi sebuah stimulan dalam mengembangkan pendidikan karakter Kristen yang berbasis pada kearifan lokal.
Dialog lintas iman: suatu perspektif psikonanalisis Jacques Lacan Ranimpi, Yulius Yusak
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.257

Abstract

It is a fact that Indonesia is a diverse nation from various backgrounds, including religions. This is a gift, if managed properly, and will produce an extraordinary and strong integration, but on the other hand, there will be disintegration if it is not effectively managed. One of the biggest threats to disintegration is the mindset and behavior that reflects intolerance in the context of religious life. One of the ways to eliminate this issue is to promote inter-religious dialogue. Through a literature review, this article focuses on inter-religious dialogue from the perspective of the French Neo-Psycho-analytic school, Jacques Lacan. This is an auto-anamnesis effort to understand human behavior, especially in religion. Through it, we can see that the pursuit of equilibrium through dialogue across religions is an existential condition that will affect human behavior. The equilibrium is not projected by some common ground, but to accept, acknowledge and respect the fact of differences. The integration will be realized with an attitude of acceptance and respect for differences. Abstrak Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dari berbagai macam latar belakang, termasuk agama. Ini adalah anugerah yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan integrasi yang luar biasa kuatnya, dan sebaliknya akan tercipta disintegrasi jika pengelolaannya tidak tepat. Salah satu ancaman terbesar terjadinya disintegrasi adalah pola pikir dan perilaku yang mencer-minkan intoleransi dalam konteks hidup beragama. Salah satu cara untuk mengelaminir isu ini adalah dengan mengupayakan dan mengembangkan terjadinya dialog lintas agama. Melalui kajian literatur, artikel ini menyoroti soal dialog lintas agama dari perspektif seorang tokoh dari aliran Neo-Psikoanalisis asal Prancis, yaitu Jacques Lacan. Ini adalah upaya auto-anamnesa dalam rangka memahami perilaku manusia, khususnya dalam keber-agama-an. Melaluinya kita dapat melihat bahwa upaya untuk mencapai kesetimbangan melalui dialog lintas agama merupakan kondisi eksistensial yang akan terus mengarahkan perilaku manusia. Keseimbangan yang dimak-sud adalah bukan untuk mencari titik temu, melainkan untuk menerima, mengakui, dan menghormati fakta adanya perbedaan. Integrasi akan terwujud dengan adanya sikap penerimaan dan penghormatan terhadap perbedaan
Pengembangan Website ??SSayang Anak Indonesia? Gabungan Gereja Baptis Indonesia Monica Muryawati; Bambang Ismanto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.139

Abstract

Children??"s character education becomes the most important part of the Indonesian education system. The church as part of the community has a moral responsibility to take part in it. Union of Indonesian Baptist Churches (UIBC/GGBI) launched Sayang Anak Indonesia (SAIN) movement and start the socialization 2017 to all church member bodies. This movement is a biblical based holistic children??"s character education to children aged 0-15year old which promotes the local cultural wisdom the cultivate nationalism. The method used in this research is research and development. The subjects were pastors, parents, mentors, and children. The data analysis technique used is descriptive qualitative. The results obtained in this study are (1) the implementation of SAIN movement in the regions has not fully met expectations due to the lack of information and communication between mentor and the national team; (2) mentor needs a practical manual to implement SAIN movement; (3) the result of this research is developing SAIN website as the communication, information and curriculum discussion media for a mentor. Abstrak Pendidikan karakter anak menjadi perhatian penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Gereja sebagai bagian komunitas masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk ikut berperan serta. Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) meluncurkan gerakan Sayang Anak Indonesia (SAIN) yang mulai disosialisasikan pada tahun 2017 kepada gereja-gereja anggota. Gerakan ini adalah pola pendidikan karakter kristiani kepada anak usia 0-15 tahun secara holistik dengan menggunakam kearifan budaya lokal sebagai bagian penanaman rasa kebangsaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan. Subyek dalam penelitian ini adalah pendeta, orang tua, pamong, dan anak. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh adalah (1) pelaksanaan kegiatan gerakan Sayang Anak Indonesia di daerah belum sepenuhnya memenuhi harapan karena kurangnya informasi dan komunikasi antar pamong maupun dengan tim nasional sebagai penggerak; (2) perlunya panduan praktis pelaksanaan kegiatan gerakan Sayang Anak Indonesia; (3) penelitian menghasilkan pengembangan website Sayang Anak Indonesia sebagai media komunikasi dan informasi serta diskusi kurikulum bagi para pamong.
Pengaruh dekadensi moral terhadap pendidikan karakter dan bimbingan konseling pada siswa Kristen Hutagalung, Stimson; Ferinia, Rolyana
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.217

Abstract

The background of this research is based on the moral crisis that occurred in an Adventist Christian high school. The purpose of the study was to identify the effect of moral decadence on character education and counseling guidance, as well as the effect of character education on counseling guidance. This quantitative research uses structural equation modeling (SEM). The data collection technique used random proportionate cluster sampling, with 553 students from three schools as the sample. The results of the study have an effect on positive moral decadence on character education and counseling guidance. Meanwhile, character education has a negative effect on counseling guidance. In conclusion, inconsistent character education results in moral decadence which requires students to do counseling, so character education must focus on one day-to-day rather than focus on student mistakes so that the process is consistent. Abstrak Latar belakang penelitian ini didasarkan pada krisis moral yang terjadi di sekolah menengah Kristen Advent. Tujuan penelitian untuk meng-identifikasi pengaruh dekadensi moral terhadap pendidikan karakter dan bim-bingan konseling, serta pengaruh pendidikan karakter terhadap bimbingan konseling. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pemodelan persamaan struk-tural (SEM). Teknik pengumpulan data menggunakan random propor-sionate cluster sampling, dengan 553 siswa dari tiga sekolah sebagai sampel. Hasil penelitian memperlihatkann bahwa dekadensi moral berpengaruh positif ter-hadap pendidikan karakter dan bimbingan konseling. Sementara pendidikan karakter berpengaruh negatif terhadap bimbingan konseling. Kesimpulannya, pendidikan karakter yang inkonsistensi mengakibatkan dekadensi moral yang mengharuskan siswa melakukan bimbingan konseling, sehingga pendidikan karakter harus berfokus kepada situasi sehari-hari daripada fokus mencari kesalahan siswa agar prosesnya konsisten.

Page 9 of 37 | Total Record : 361