cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 400 Documents
Analisis kritis konstruktif praksis teologi publik Gereja Masehi Injili Halmahera di era otonomi daerah Mojau, Julianus
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.364

Abstract

This paper highlights the praxis of public theology that resulted from the decisions of the Synod of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH Synod) in the context of the era of regional autonomy during the 2002-2017 ministry period. By using qualitative research methods through library research, this analysis examines theological discourse and living church praxis as stated in the decisions of the GMIH Synod. Starting from the analysis of the social function of the Church emphasized by Ricardo F. Nanuru and the praxis of inter-religious advocate public theology by Felix Wilfred, this study found that: (a) GMIH ecclesiastical documents have seeded the praxis of interreligious public theology in the form of a series of pastoral recommendations and information on the Church's social services; (b this interreligious public theology advocacy practice needs to have an adequate theological basis and a measurable translation into the practice of living in the GMIH church. This theologically measured programmatic integration helps GMIH demonstrate its ecclesiastical identity as a social-humanist-ecological body of Christ that has an impact on Halmahera's public sphere in the era of regional autonomy which is being overshadowed by the neo-liberal economy and the extractive and exploitive mining economy.  AbstrakTulisan ini menyoroti praxis teologi publik hasil keputusan-keputusan persidangan Sinode Gereja Masehi Injili di Halmahera (Sinode GMIH) dalam konteks otonomi daerah selama periode pelayanan 2002-2017. Dengan meng-gunakan metode penelitian kualitatif melalui jenis penelitian kepustakaan, analisis ini mengkaji wacana teologis dan praxis hidup seperti tertuang dalam keputusan-keputusan Sidang Sinode GMIH. Bertolak dari analisis fungsi sosial Gereja yang ditekankan oleh Ricardo F. Nanuru dan praxis teologi publik advo-katif intereligius Felix Wilfred kajian ini menghasilkan: (a) dokumen-dokumen gerejawi GMIH telah membenihkan praxis teologi publik intereligius dalam bentuk serangkaian anjuran pastoral dan informasi pelayanan sosial Gereja; (b) praxis advokasi teologi publik interreligious ini perlu mendapat pendasaran teo-logis yang memadai dan penerjemahannya yang terukur dalam praktik hidup menggereja GMIH. Pengintegrasian programatis terukur secara teologis ini membantu GMIH meragakan identitas eklesialnya sebagai tubuh sosial-huma-nis-ekologis Kristus yang berdampak dalam ruang publik Halmahera di era otonomi daerah yang sedang dibayang-bayangi oleh ekonomi neo-liberal dan ekonomi pertambangan ekstraktif dan eksploitatif.
Christian perspective on the tolerance of Christian religious education teachers and students in the era of disruption Arifianto, Yonatan Alex; Triposa, Reni; Saptorini, Sari
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.295

Abstract

Amid the swift currents of globalization triggered by the explosion of the information technology revolution, conflicts often occur on issues of discrimination on race, class, and religion. Religions face challenges in resolving controversies and violent behavior and maintaining harmony between religious communities. Christian Religious Education educators need to teach their students positive responses to plurality and pluralism in Indonesia. The most important thing is the impact on students. Research using descriptive qualitative research methods concludes: first, there is a need to increase pluralism in the frame of a pluralistic society and an era of disruption. Second, believers, in this case, Christian Religious Education teachers and students, should understand pluralism from a biblical point of view. Third, Christian Religious Education teachers and students are responsible for actualizing an attitude of tolerance towards a pluralistic society both in society in everyday life and in behavior in cyberspace communities based on a biblical understanding of pluralism. Fourth, Christian Religious Education teachers act as students' guides and counselors to develop an attitude of state life and socialize in a pluralistic society in building togetherness without any form of identity politics.
Nyanyian sebagai media pembelajaran pendidikan agama Kristen di sekolah Picanussa, Branckly Egbert
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.322

Abstract

The effectiveness of learning of Christian Religious Education at school needs some media. Song, as a part of musical activity, is one of the media which is used by Christian Religious Education teachers to teach the Christian faith effectively. The aim of this article is to affirm the important role of the song as one of the learning media of Christian Religious Education at school. This Article is written with an observation and library study approach. The result of this article shows that: song could be used by Christian Religious Education teachers as media in the teaching-learning process; song could be used in the beginning as a bridge to the entrance to a special topic, the song could be used in the middle of the lesson as a resource of learning, and song could be used at the end of earning to enforce topic that learned by students; using the song in teaching-learning Christian Religious Education has a good preparation, both knowing the meaning of the song and learning the melody so that Christian Religious Education teacher could sing the song, teaches students to sing, and sing together rightly. AbstrakPembelajaran Pendidikan Agama Kristen di sekolah yang efektif perlu ditunjang dengan berbagai media. Sebagai bagian dari aktivitas musikal, nyanyian merupakan salah satu media yang dapat digunakan oleh guru PAK untuk mengajarkan iman Kristen secara efektif. Artikel ini bertujuan untuk menegaskan peran penting dari nyanyian sebagai media dalam pembelajran PAK di Sekolah. Artikel  ini ditulis dengan menggunakan metode observasi dan studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh adalah: nyanyian dapat digunakan oleh guru PAK sebagai media dalam proses belajar-mengajar (pembelajaran); nyayian dapat digaunakan pada bagian awal pembelajaran sebagai jembatan untuk masuk pada topik tertentu, nyanyian dapat digunakan pada pertengahan sebagai sumber belajar, dan nyanyian dapat digunakan pada akhir pembelajaran sebagai penguatan kepada topik yang telah dipelajari oleh naradidik; penggunaan nyanyain dalam mengajar-belajar (pembelajaran) PAK perlu dipersiapkan dengan secara bertanggung jawab oleh guru, baik dalam hal mengetahui makna dari nyanyian dan juga belajar melodi nyanyian dengan baik sehingga guru PAK dapat menyanyikan nyanyian dengan baik dan membelajarkan nyanyian tersebut kepada naradidik dan bernyanyi dengan naradidik dengan benar.
Resiliensi spiritual menghadapi disruption religious value di masa pandemi Covid-19 pada lembaga keagamaan Pantan, Frans; Benyamin, Priskila Issak; Handori, Johni; Sumarno, Yuel; Sugiono, Sadrakh
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.352

Abstract

The Covid-19 pandemic has not yet provided a clear way of when this problem will end. It is precisely the opposite fact that is obtained, namely the increasing number of its spread. Of course, this can be a problem in cultivating the value of God's Word. The value that departs from the fruit of the Spirit is not well heeded and deeply ingrained. Therefore, a strategy is needed to increase spiritual resilience in order to survive during a pandemic. The methodology used in this research is descriptive qualitative with data collection techniques is a case study through data triangulation. The results of the study suggest that spiritual resilience can be seen from the intensity of prayer together with groups or families, exemplary through face-to-face worship meetings. There are also symbolic interactions when religious institution activities are carried out online. It creates an understanding of thinking and acting in the meaning of thoughts, understanding about oneself, and their relationship in the middle of social interactions. It is the ultimate goal to mediate and interpret the meaning in the community where the individual lives and socializes. AbstrakPandemi Covid-19 belum memberikan jalan terang kapan akan berakhir. Hal ini dapat menjadi masalah dalam penanaman nilai Firman Tuhan terkait Sembilan buah Roh; menjadi tidak terperhatikan dengan baik dan tertanam pada jemaat. Oleh karenanya, diperlukan strategi dalam meningkatkan ketahanan spiritual agar dapat tetap survive pada masa pandemi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah studi kasus melalui triangulasi data. Hasil penelitian mengemukakan bahwa ketahanan spiritual dapat dilihat dari intensitas doa bersama dengan kelompok atau keluarga, keteladanan melalui pertemuan-pertemuan ibadah secara tatap langsung. Terdapat juga interaksi simbolik ketika kegiatan lembaga keagamaan yang dilaksanakan secara online. Implementasi penanaman nilai firman tuhan menjadi salah satu strategi dalam rangkamembuat suatu pemahaman berpikir, selain itu terdapat juga aktualitas tindakan yang dipikirkan terlebih dahulu, pemahaman mengenai diri dan hubungannya dengan interaksi sosial. Strategi-strategi tersebut bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat dimana individu tersebut menetap dan bersosialisasi.
On be...ing political: Empat model identitas ramah-gereja di bawah bayang-bayang kanopi suci kebangsaan Adiprasetya, Joas
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.358

Abstract

This article discusses the idea of a hospitable church that struggles under the sacred canopy of the state, especially in the Indonesian context. By using Stanley Hauerwas’ social ethics and ecclesiology that views the church as an exemplary community, this article proposes an ecclesial model that maintains the tension of being true to its nature on the one hand and being political on the other hand. Such a model is demonstrated through its four dimensions: beholding, becoming, belonging, and befriending. The paper ends with a conclusion, in which the author reflects on the four dimensions by using the perspective of the four classical marks of the church (notae ecclesiae). AbstrakArtikel ini membahas gagasan mengenai gereja dengan identitas-ramah yang berjuang di bawah kanopi suci negara, khususnya dalam konteks Indonesia. Dengan menggunakan etika sosial dan eklesiologi Stanley Hauerwas, yang memandang gereja sebagai komunitas eksemplaris, artikel ini mengusul-kan model gerejawi yang mempertahankan ketegangan antara menjadi setia pada hakikatnya di satu sisi dan menjadi politis di sisi lain. Model semacam itu ditunjukkan melalui empat dimensinya: beholding, becoming, belonging, dan befriending. Makalah diakhiri dengan kesimpulan yang di dalamnya penulis merefleksikan empat dimensi di atas dengan menggunakan perspektif empat tanda klasik gereja (notae ecclesiae).
Implementasi pendidikan agama Kristen yang relevan dalam masyarakat majemuk sebagai dimensi misi gereja Tarrapa, Setrianto
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.308

Abstract

The reality of pluralism in the context of Indonesia on the one hand, is a challenge towards the implementation of Christian Religious Education. However, on the other hand, Christian Religious Education is becoming very essential for Christians to demonstrate the love of God in the midst of society. Christians are always in touch with adherents of other religions, even that kind of relationship feels so strong in various areas of life. This problem triggers how the idea of implementing Christian Education is relevant in the pluralistic context in Indonesia. This study was analyzed using qualitative research methods through library research techniques. Findings showed that, in the pluralistic context, the implementation of Christian Religious Education in Indonesia as an integral part of the mission can be carried out through three aspects, namely: revitalizing the thinking paradigm about pluralism; interpreting the implementation strategy of Christian Religious Education in a pluralistic society and mainstreaming and building the vision and mission of multicultural based Christian Religious Education. AbstrakRealitas kemajemukan dalam konteks Indonesia di satu sisi merupakan tanatangan terhadap pelaksanaan pendidikan agama Kristen, namun di sisi lain Pendidikan agama Kristen menjadi amat penting bagi orang Kristen untuk mendemonstrasikan kasih Allah di tengah-tengah masyarakat. Orang orang Kristen selalu bersentuhan dengan penganut agama lain, bahkan sentuhan itu terasa amat kuat dalam berbagai bidang kehidupan. Permasalahan ini memicu bagaimana gagasan pelaksanaan Pendidikan Kristen yang relevan dalam konteks majemuk di Indonesia. Kajian ini ditelaah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui teknik pustaka. Hasil temuan menunjukkan bahwa dalam konteks majemuk penyelenggaraan Pendidikan agama Kristen di Indonesia sebagai bagian integral misi dapat dilakukan melalui tiga aspek yaitu: merevitalisasi paradigma berpikir tentang kemajemukan; mereinterpretasi strategi pelaksanaan Pendidikan agama Kristen dalam masyarakat yang majemuk; serta mengarusutamakan dan membangun visi dan misi pendidikan agama Kristen berbasis multikultural
Reformasi dan keesaan gereja: Makna peristiwa 31 Oktober bagi Gereja Protestan dan Katolik masa kini Batlajery, Agustinus M. L.
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.326

Abstract

It has been well known that the sixteenth-century reformation of the church began on October 31st, 1517 when Martin Luther put 95 theses at the gate of Wittenburg church. That is the beginning of reformation but also starting point of church separation and split. While on October 31th 1999 the Lutheran representative and the Catholic leader signed what is called the Joint Declaration on the Doctrine of Justification in which the Protestants and the Catholics show their common understanding of the doctrine of justification. This event could be seen as an indication that unity among two churches is a possibility. So the first October 31st refers to reformation and separation but the second October 31st refers to unity. This article wants to analyze the meaning of these two events for the Protestants and Catholics nowadays. Both churches can learn much from these important events for their present and future relationship. By analyzing the meaning of the valuable historical event we can say that the way to come close to each other and to become one church in the future is open.AbstrakSebagaimana diketahui bersama bahwa reformasi gereja abad ke-16 dimulai pada 31 Oktober 1517, ketika Martin Luther memasang 95 dalil di pintu gerbang gereja di Wittenburg. Itulah permulaan reformasi sekaligus titik awal perpecahan gereja. Sementara pada 31 Oktober 1999 perwakilan dari gereja Lutheran dan pemimpin gereja Katolik menandatangani apa yang disebut Dekla-rasi Bersama Doktrin tentang Pembenaran, yang di dalamnya gereja Protestan dan Katolik memperlihatkan kesepahaman tentang ajaran pembenaran. Peristi-wa tersebut dapat dilihat sebagai petunjuk bahwa kesatuan antara kedua gereja adalah sebuah kemungkinan. Maka 31 Oktober 1517 merupakan tanggal refor-masi sekaligus perpecahan, sedangkan 31 Oktober 1999 merupakan tanggal per-damaian atau keesaan. Artikel ini hendak menganalisis makna kedua peristiwa tersebut bagi gereja Protestan dan Katolik masa kini. Kedua gereja dapat belajar banyak dari kedua peristiwa yang penting ini bagi relasi mereka masa kini dan mendatang. Melalui analisis terhadap peristiwa sejarah yang bernilai ini kita dapat mengatakan bahwa jalan kepada kedekatan satu sama lain serta keesaan keduanya telah terbuka.
Kesetaraan hula-hula dengan boru dalam budaya Batak Toba: Tinjauan sosio-teologis Galatia 3:28 Simanjuntak, Roy Martin; Prananingtyas, Niken Dewi; Patora, Marianus; Soegijono, Harry; Nugroho, Setya Hadi
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.354

Abstract

Dalihan Na Tolu is a culture and philosophy of life of the Batak people. It is not only the kinship relationship contained in it but also as a driving force for the life order of the believers. In the Dalihan Na Tolu philosophy, there is a relationship that needs to be evaluated in relation to social equality, namely the relationship between Hula-hula and Boru. The perspective of Christian faith will complement the philosophy of Dalihan Na Tolu if it is built in the love and sacrifice of Christ, which is ultimately driven by love in the Dalihan Na Tolu philosophy. This study used a qualitative literature approach, which uses descriptive methods, and analysis-argumentative. descriptive, analysis-interpretive, and argumentation-comparative. With the constructive comparative aid method, this study uses various literature sources, such as books, journal articles, and dissemination on web pages to gain new insights from the text being studied. The conclusion that can be drawn is that the theology of social equality in the perspective of the Christian faith should complement the philosophy of Dalihan Na Tolu which centers on the love and sacrifice of Christ. The relationship between hula-hula and boru is no longer seen as an order of law that implies a curse but rather as local wisdom that enriches mission values to introduce the love of Christ through the Dalihan Na Tolu philosophy. AbstrakDalihan Na Tolu adalah sebuah budaya dan falsafah hidup bagi orang Batak. Tidak hanya hubungan kekerabatan yang terkandung di dalamnya, te-tapi juga sebagai penggerak tatanan kehidupan. Dalam falsafah Dalihan Na Tolu ada hubungan yang menarik untuk diperhatikan berkaitan kesetaraan so-sial, yaitu hubungan antara Hula-hula dengan Boru. Hubungan ini sering diang-gap sebagai bentuk kesenjangan sosial, sehingga dalam perkembangan zaman banyak orang Batak yang telah memiliki paradigma yang berubah terhadap falsafah Dalihan Na Tolu. Artikel ini mengkaji bahwa hubungan antara Hula-hula dan Boru dalam falsafah Dalihan Na Tolu adalalah sebuah kesetaraan so-sial dan tidak bertentangan dengan iman Kristen. Perspektif iman Kristen akan menjadi penyempurna falsafah Dalihan Na Tolu karena dalam penerapannya telah membangun falsafah tersebut dengan dasar kasih Kristus sebagai mana yang dituliskan Paulus dalam Galatia 3:28. Pemaknaan dari sisi konteks Galatia 3:28 memberikan korelasi yang jelas mengenai kesetaraan dalam falsafah Dalihan Na Tolu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif.
Refleksi konseptual misi Yesus melalui keramahan gereja di Indonesia Simanjuntak, Fredy; Papay, Alexander Djuang; Lahagu, Ardianto; Evimalinda, Rita; Ferry, Yusak Hentrias
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.329

Abstract

Jesus, reflecting on the context of the mission in the Gospels, often touches on various dimensions, both physical, emotional, intellectual, social, and spiritual for each person and his environment. Many Gospel narratives show the face of friendliness as well as the social responsibility of Jesus in public spaces. Jesus didn't just stop at the gracious nature of God in His mission of ministry but also inspired his listeners to bring out the same kind of hospitality that Jesus did. This needs to reflect the portrait of church life in Indonesian society, which in general tends to focus on religious formalism. This paper aims to explore the concept of Jesus' mission and to realize it practically in the context of Indonesian society today. The method used is descriptive analysis and a hermeneutic approach to the narratives in the Gospels. This study seeks to offer a contextual concept and model of Jesus' ministry to the community served not only as an object of God's hospitality but also as a subject who actively participates in presenting hospitality in public spaces. In conclusion, the mission that Jesus intended to be carried forward by the church was God's mission which Jesus himself had accomplished during his earthly ministry, namely manifesting God's hospitality for humans through the preaching of the gospel and social care.AbstrakYesus, dalam konteks misi di Injil, kerap menyentuh berbagai dimensi, baik secara fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual, setiap orang dengan lingkungannya. Narasi Injil banyak menunjukkan wajah keramahan sekaligus tanggung jawab sosial Yesus di ruang publik. Yesus tidak hanya berhenti pada sifat keramahan Allah dalam misi pelayanan-Nya, namun juga menginspirasi para pendengarnya untuk menghadirkan keramahan yang sama, seperti yang Yesus lakukan. Hal ini perlu menjadi refleksi potret kehidupan bergereja pada masyarakat Indonesia, yang umumnya cenderung terfokus kepada formalisme agawami. Artikel ini bertujuan untuk menggali konsep misi Yesus serta merealisasikan secara praktis dalam konteks masyarakat Indonesia di masa ini. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif serta pendekatan yang hermeneutis pada narasi kitab-kitab Injil. Penelitian ini berupaya menawarkan konsep dan model pelayanan Yesus yang kontekstual kepada komunitas yang dilayani, bukan hanya sebagai objek keramahan Allah, namun sekaligus sebagai subjek yang aktif berpartisipasi menghadirkan keramahan pada ruang publik. Kesimpulannya, jelas terlihat bahwa misi yang dimaksudkan Yesus untuk diteruskan oleh gereja adalah misi Allah yang telah dikerjakan Yesus sendiri selama pelayanan-Nya di dunia, yaitu memanifestasikan keramahan Allah bagi manusia melalui pemberitaan Injil dan kepedulian sosial.
Internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam upaya mencegah radikalisme Pakpahan, Gernaida Krisna; Salman, Ibnu; Setyobekti, Andreas Budi; Sumual, Ivonne Sandra; Christi, Apin Militia
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.351

Abstract

As the basis of the Indonesian state, Pancasila has positive values that can be realized in all aspects, including the younger generation who will encourage the lives of Indonesian people. This must be considered because of the exposure to radicalism that is currently targeting the younger generation. For this reason, educational institutions need to instill the noble values of Pancasila to their students as early as possible, so that the values of togetherness and unity that are upheld are not intolerant. This is also done in the academic community of Bethel Indonesia Theological College (STT). The method used to uncover these facts is a case study that describes social interactions through an in-depth survey. The results of the study stated that STT Bethel Indonesia institutionally and individually practice the values of Pancasila by respecting existing differences, whether ethnicity, race, or class. STT Bethel Indonesia instills Pancasila values in every student through religious and educational activities. The narrative that is built for students is to love each other because it is a mandate given by God to humans to do. AbstrakSebagai dasar negara Indonesia, Pancasila memiliki nilai-nilai positif yang dapat mewujud dalam segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk generasi muda yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa Indonesia. Ini harus dipertimbangkan karena terpaan radikalisme yang saat ini menyasar generasi muda. Untuk itulah lembaga pendidikan perlu menanamkan nilai-ni-lai luhur Pancasila kepada peserta didiknya sedini mungkin, agar nilai-nilai ke-bersamaan dan persatuan yang dijunjung tidak intoleran. Hal ini juga yang di-lakukan di lingkungan civitas academica Sekolah Tinggi Teologi (STT) Bethel Indonesia. Metode yang digunakan untuk mengungkap fakta tersebut adalah studi kasus, yang menggambarkan interaksi sosial melalui survei mendalam yang intensif. Hasil penelitian menyatakan bahwa STT Bethel Indonesia, baik secara institusional maupun individual, mengamalkan nilai-nilai Pancasila de-ngan menghargai perbedaan yang ada, baik suku, ras, maupun golongan. STT Bethel Indonesia menanamkan nilai pancasila pada setiap siswa melalui kegiatan keagamaan dan pendidikan. Narasi yang dibangun bagi siswa adalah saling mencintai karena merupakan amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk dilakukan.

Page 10 of 40 | Total Record : 400