cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 400 Documents
Hasrat transhumanisme di tengah pandemi Covid-19: sebuah upaya memahami identitas diri melalui pendekatan teologi interkultural Baito, Linus
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.294

Abstract

This writing attempts to reread the ambitious dreams of transhumanism about the super civilization of humankind in future development, such as longevity, intelligence, and wellness. These super-thinks are now running into a formidable challenge of pandemic COVID-19 reality. Reflecting on Anthony Gittins’ thought of a new identity of believers, the author will develop this writing in some features. First, the urgency of critical reading toward the dreams of transhumanism. Second, how the COVID-19 pandemic turned into an enormous challenge for transhumanism concepts? Third, referring to the Gittins, how significant of his intentions could bring alertness to the transhumanists and believers in a new identity thought in Christ? In his explorative research, the author will employ a descriptive qualitative method. The last part is a result and suggestions for further exploration and also for readers to find out a dynamic of human self-identity.AbstrakTulisan ini berupaya untuk membaca ulang mimpi besar transhumanisme tentang suatu peradaban super agung manusia mengenai masa depan dalam aspek kekekalan, kejeniusan, dan kebahagiaan. Hasrat super tersebut menghadapi tantangan super besar pula melalui kenyataan pandemi Covid-19. Berefleksi dari konsep Anthony Gittins tentang identitas baru komunitas orang-orang percaya, tulisan dikembangkan sebagai berikut: Pertama, urgensi membaca ulang secara kritis mimpi super kalangan transhumanis. Kedua, bagaimana pandemi Covid-19 menjadi tantangan super bagi konsep transhumanime? Ketiga, merujuk pada pemikiran Anthony Gittins, sejauh mana konsep Gittins dapat menyadarkan kaum transhumanis, dan kelompok orang percaya tentang identitas baru dalam Kristus. Studi literatur dengan metode deskriptif kualitatif menjadi pilihan dalam upaya mengeksplorasi. Pada bagian akhir, akan disimpulkan serta disuguhkan beberapa saran bagi para peneliti selanjutnya, dan para pembaca untuk terus melakukan upaya dinamis dalam memahami identitas diri manusia.
Peduli kemanusiaan dan keutuhan ciptaan: Melacak pesan penatalayanan ciptaan di era pandemi Tampubolon, Yohanes Hasiholan; Sihombing, Aeron Frior; Prianto, Robi; Hia, Oferlin
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.249

Abstract

The Covid-19 pandemic has hit the world and become a global problem today. Various theological responses are also present to interpret suffering, worship to pastoral care. However, this pandemic cannot be separated from the problem of the relationship between humans and other creations of God. Humanitarian issues and environmental problems are interrelated. So, there needs to be a theological reflection related to the integrity of creation in the midst of a pandemic. The author uses the term stewardship of creation to describe the relationship between humans and other creations of God. This article uses a descriptive-analytic research method with a qualitative approach. The author found that important themes in the Bible can encourage human involvement in the stewardship of creation even though there are certainly various challenges that will be faced. AbstrakPandemi Covid-19 telah melanda dunia dan menjadi persoalan glo-bal saat ini. Berbagai respons teologispun hadir untuk memaknai mengenai penderitaan, peribadahan hingga pelayanan pastoral. Namun, pandemi ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan relasi antara manusia dan ciptaan Allah lainnya. Persoalan kemanusiaan dan persoalan lingkungan saling berkelindan, sehingga, perlu ada refleksi teologis yang berkaitan dengan keutuhan ciptaan di tengah pandemi. Kajian ini menggunakan istilah penatalayanan ciptaan untuk menggambarkan relasi manusia dengan ciptaan Allah lainnya. artikel ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan kualitatif. Apa yang ditemukan adalah, bahwa tema-tema penting dalam Alkitab bisa ditarik untuk mendorong keterlibatan manusia dalam penatalayanan cip-taan sekalipun tentu ada berbagai tantangan yang akan dihadapi.
Kerukunan sosial internal dalam jemaat: Refleksi teologis 1 Korintus 1:10-13 Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Sembodo, Joko; Santo, Joseph Christ
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.339

Abstract

Harmony in society is an important thing that needs to be realized as an effort to suppress conflict with the nuances of SARA (ethnicity, religion, race, inter-group). The church needs to have sensitivity in contributing to realizing this harmony. Starting from the internal harmony of Christians, this harmony extends to social harmony. This article seeks to answer how Christians realize social harmony with regard to Paul's message on 1 Corinthians 1:10-13. This research was conducted with a qualitative literature approach, using an interpretive descriptive method on the text of 1 Corinthians 1: 10-13. The conclusion of this paper is that Christians need to participate in building social harmony starting from the internal harmony of the congregation, which is done in three ways: speaking the same things, which means having agreement; being closely united, which means being bound together; and having one mind, which means having similarities in thinking and considering. AbstrakKerukunan dalam bermasyarakat merupakan hal penting yang perlu diwujudkan sebagai upaya untuk menekan konflik dengan nuansa SARA. Gereja perlu memiliki sensitivitas dalam turut mewujudkan kerukunan tersebut. Diawali dari kerukunan intern umat Kristen, kerukunan ini meluas kepada kerukunan sosial. Artikel ini berusaha menjawab bagaimana orang Kristen mewujudkan kerukunan sosial berkenaan dengan pesan Paulus melalui 1 Korintus 1:10-13. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif literatur, menggunakan metode deskriptif interpretatif atas teks 1 Korintus 1:10-13. Kesimpulan dari tulisan ini adalah, orang Kristen perlu turut membangun kerukunan sosial, yang dimulai dari kerukunan internal jemaat, dengan menerapkan tiga hal, yaitu: seia sekata, yang berarti memiliki kesepakatan; erat bersatu, yang berarti terikat bersama; dan sehati sepikir, yang berarti memiliki kesamaan dalam berpikir dan mempertimbangkan.
Dialog lintas kelompok dalam membangun harmoni kehidupan sebagai tindakan misi: Memaknai ulang narasi Yohanes 4:1-42 Zebua, Peringatan; Tarigan, Johannes; Widjaja, Fransiskus Irwan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.361

Abstract

The church is in a world that is experiencing various upheavals, including conflicts between groups, both groups based on religion, ethnicity, or class. As part of a social group, the church plays a role in developing dialogue which can have an impact on creating a harmonious life. This study aims to show that developing dialogue which has implications for the harmonization of life is part of Christian mission activities, which makes repentance possible. Through a qualitative approach to literature, using an interpretive descriptive analogy method on the narrative of John 4:1-42, it is concluded, the encounter of Jesus and the Samaritan woman is an analogy of a cross-group dialogic encounter in creating a harmonious life, as an act of Christian mission. AbstrakGereja berada dalam dunia yang sedang mengalami berbagai gejolak, di antaranya konflik antarkelompok, baik kelompok dengan basis agama, suku, atau golongan. Sebagai bagian dari kelompok sosial, gereja berperan untuk mengembangkan dialog yang dapat memberikan dampak pada terciptanya kehidupan yang harmonis. Kajian ini bertujuan untuk menunjukkan, bahwa mengembangkan dialog yang berimplikasi pada harmonisasi kehidupan merupakan bagian dari kegiatan misi Kristen, yang memungkinkan terjadinya pertobatan. Melalui pendekatan kualitatif literatur, dengan menggunakan metode analogi deskriptiif interpretatif atas narasi Yohanes 4:1-42, maka disimpulkan, perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria merupakan analogi dari perjumpaan dialogis lintas kelompok dalam menciptakan kehidupan yang harmonis, sebagai tindakan misi Kristen.
Model pendidikan nasionalis-religius Yahudi, dan refleksinya dalam pendidikan teologi di Indonesia Zaluchu, Sonny Eli
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.299

Abstract

This paper examines the practice of teaching and learning in the education system in Israel and its central role in shaping students' national insight. The method used is a characteristic-thinking analysis which is reported qualitatively descriptively. The analysis results show that the Israeli education system based on religious teachings has succeeded in forming the national insight and spirit of nationalism of students, which is then referred to as religious nationalism. Through the Havruta system or learning in pairs, each student is guided to find the meaning of the text and apply the text in the practice of living within the framework of national identity. This study proposes that the Indonesian theological education system needs to develop a similar model within the Indonesian context. Further research is needed to develop typical Indonesian models to produce Christian theologians integrated as salt and light in maintaining Indonesian identity.AbstrakPaper ini mengkaji praktik belajar mengajar di dalam sistem pendidikan di Israel dan peran sentralnya di dalam membentuk wawasan kebangsaan peserta didik. Metode yang dipergunakan adalah cirical-thinking analysis yang dilaporkan secara kualitatif-deskriptif. Hasil analisis memperlihatkan bahwa sistem pendidikan Israel yang berbasis pada ajaran agama berhasil membentuk wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme peserta didik yang kemudian disebut sebagai nasionalisme-religius. Melalui sistem Havruta atau belajar berpasangan, setiap siswa dituntun menemukan makna teks dan menerapkan teks tersebut di dalma praktik kehidupan dalam kerangka identitas nasional. Penelitian ini mengusulkan bahwa sistem pendidikan teologi Indonesia perlu mengembangkan model serupa tetapi di dalam konteks keindonesiaan. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengembangkan model-model khas Indonesia untuk menghasilkan teolog Kristen yang terintegrasi sebagai garam dan terang di dalam mempertahankan identitas keindonesiaan.
Menstimulasi sikap kerukunan dalam jemaat: Sebuah model moderasi beragama menurut Roma 14:1-4 Siahaya, Johannis; Rinukti, Nunuk; Setiawan, Ho Lucky; Siahaya, Charista Jasmine; Sutiono, Vicky Samuel
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.338

Abstract

Harmony between the people of religion in Indonesia is not only the responsibility of the government, but it is also the responsibility of all Indonesians to maintain the integrity of the nation by building an attitude of tolerance and tolerance, and harmony among the people themselves. This also applies to Christians in Indonesia, to take part and be active in building harmony between religious communities. The Bible, especially Romans 14: 1-4 provides a good example for Christians to respect and respect one another, and not to humiliate and judge one another, so that inter-religious harmony can be maintained properly. And this is the model of religious moderation that Christian scriptures uphold. This research was written using a descriptive qualitative method using journal and book sources as the main reference. The discussion was carried out by explaining the concept of harmony of religious communities in Indonesia, then briefly describing the concept from a Christian perspective. The analysis, which is a deconstruction, is specifically directed at Romans 14: 1-4 which is in the spirit of harmony both internally and among religious communities within the framework of moderation in Indonesia. Opportunities and challenges according to Indonesian conditions are discussed at the end. The conclusion is that religious harmony according to Romans 14: 1-4, stimulates Christians to further increase religious moderation in Indonesia, which, although different in terms of ethnicity, ethnicity, religion, and RAS, is tolerant and accepts others as they are, makes it less difficult for Christians to judge and humiliate others.
Nostra Aetate: Sebuah alternatif menuju keharmonisan di tengah suburnya intoleransi dan diskriminasi Novalina, Martina; Nixon, Grant; Sabdono, Erastus; Eli Zaluchu, Sonny; Christabella Phuanerys, Eliza
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.340

Abstract

Pandemi Covid 19 memberi dampak di berbagai lini kehidupan. Salah satunya adalah meningkatnya angka diskriminasi dan intoleransi yang dialami oleh berbagai kalangan masyarakat dari berbagai penganut agama maupun golongan. Banyak cara telah dilakukan demi hilangnya intoleransi dan diskriminasi di Indonesia namun masih saja terdapat tindakan-tindakan tersebut. Paper ini mengusulkan konsep dialog yang bertumpu pada deklarasi Nostra Aetate. Pendekatan utama yang dilakukan dalam paper ini adalah teori-kritik (critical theory) untuk menganalisa secara deskriptif konsep-konsep utama yang dibahas yakni Nostra Aetate dan dialog kerukunan. Hasil yang didapat adalah bahwa deklarasi Nostra Aetate merupakan sebuah tawaran alternatif yang dapat diambil di Indonesia guna menyampaikan kasih Allah kepada manusia melalui beberapa cara dialogis, pastoral dan harmonis. 
Konflik dan rekonsiliasi antarjemaat: Sebuah analisis teologis Ruhulessin, Johny Christian
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.362

Abstract

Conflict and reconciliation are a reality in the life of congregations. Generally, conflict emerges in the life of the congregation because of non-theological reasons. Principally, congregations involved in a conflict have the responsibility to overcome the conflict. So do the Elpaputih and Samasuru, two congregations in the Protestant Church in the Moluccas involved in a conflict. This research aims to discover the potential reconciliation between these congregations. Through interviews and focus group discussions, the researcher discover that forgiveness is an essential bridge to reconciliation. At the end of the research, the author emphazise that reconciliation is a must because it is a church calling. For this case, the land as the source of the conflict must be a place for reconciliation when perceived as belonging to God and God’s gift. AbstrakKonflik dan rekonsiliasi adalah kenyataan yang sangat sering dijumpai dalam kehidupan berjemaat. Umumnya, konflik yang terjadi dalam kehidupan jemaat didorong oleh faktor-faktor non-gerejawi. Pada hakikatnya, jemaat-jemaat yang berkonflik itu memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Demikian juga dengan jemaat Samasuru dan jemaat Elpaputih; dua jemaat di Gereja Protestan Maluku yang berkonflik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan potensi-potensi di dalam jemaat-jemaat ini untuk membangun rekosiliasi di antara mereka. Dengan melakukan wawancara dan focus group discussion, penulis menemukan bahwa pengampunan merupakan jembatan menuju rekonsiliasi. Rekonsiliasi perlu dilakukan karena itu merupakan panggilan jemaat, di mana tanah sebagai sumber konflik dapat menjadi tempat rekonsiliasi, ketika tanah itu dilihat sebagai milik dan pemberian Tuhan..
Harmonisasi masyarakat plural: Praktik sosial di sekolah teologi untuk membangun nasionalisme Indonesia yang inklusif Widjaja, Paulus Sugeng
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.359

Abstract

Indonesian Nationalism is historic and ethical, not natural. It was born out of a shared history of various groups in Indonesia in their struggle against the colonials, and of an ethical decision that those groups consciously took to become one nation. Such an inclusive nationalism must be intentionally developed structurally, systemically, and continuously by all the elements of the Indonesian nation, lest it would be wiped out by centralism, primordialism disguising in the form of dominant-religion-based nationalism, and unjust distribution of membership along with all its respected rights. Using the analysis from the perspective of Character Ethics, this article shows that theological schools have an important role in the character formation of inclusive nationalism through social practice in theological schools. Social practice is not simply a series of activities, but a series of intentional actions which are done together repeatedly by the whole members of the community. The history of an institution that was intended to prepare pastor assistants in Yogyakarta until it becomes the Faculty of Theology, Universitas Kristen Duta Wacana, at present is presented in this article as a model of effective social practice in the formation of inclusive nationalism. The research focuses on the intersubjective relations between all members of the Duta Wacana community, which reflects the very rich and deeply human experience, that takes place in the local everyday life, including various policies that are born out of that relationship with the religious-cultural identity that becomes its context.  AbstrakNasionalisme Indonesia bersifat historis dan etis, bukan alami. Ia lahir dari sejarah bersama kelompok-kelompok bangsa Indonesia melawan penjajah kolonial dan dari keputusan etis yang mereka ambil untuk menjadi satu bangsa Indonesia. Nasionalisme yang inklusif semacam itu harus dengan sengaja ditumbuh-kembangkan secara terstruktur, sistemik, dan berkesinambungan oleh segenap elemen bangsa agar tidak tergerus oleh ancaman sentralisme, primordialisme yang tersamar dalam bentuk nasionalisme berbasis agama dominan, dan ketidak-adilan distribusi keanggotaan beserta semua hak yang mengikutinya. Dengan menggunakan analisis dari perspektif Etika Karakter, tulisan ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah teologi memiliki peran penting untuk membentuk karakter nasionalisme yang inklusif melalui praktik sosial di sekolah-sekolah teologi terkait. Praktik sosial bukanlah sekadar rangkaian kegiatan, melainkan rangkaian tindakan yang dengan sengaja dilakukan secara bersama-sama berulang-kali oleh segenap anggota komunitas. Sejarah lembaga pendidikan asisten pendeta di Yogyakarta hingga menjadi Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana diangkat dalam tulisan ini sebagai sebuah model praktik sosial yang terbukti efektif membentuk nasionalisme yang inklusif. Penelitian difokuskan pada relasi intersubjektif di antara segenap anggota komunitas ini, yang mencerminkan pengalaman insani yang sangat kaya dan mendalam, yang terjadi sehari-harinya dalam konteks lokalitas hidup, termasuk berbagai kebijaksanaan yang lahir dari relasionalitas tersebut serta identitas kultural religius yang menjadi konteksnya.
Konflik jemaat dan identitas sosial Shema dalam 1 Korintus 12 Saputra, Brury Eko
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.272

Abstract

This article aims to read the echo of the Shema in 1 Corinthians 12. Using the Social Identity Theory shows that the apostle Paul echoes the Shema when utilizing the oneness language in 1 Corinthians 12. The theory also demonstrates that the Shema has social functions in 1 Corinthians 12. The article concludes that reading the echo of the Shema 1 Corinthians in light of the Social Identity Theory contributes to understanding conflict resolution in the Corinthian church.AbstrakArtikel ini bertujuan membaca gema terhadap Shema dalam 1 Korintus 12. Dengan menggunakan pendekatan Teori Identitas Sosial, kajian ini mengha-silkan bukti bahwa Rasul Paulus memang menggemakan Shema ketika meng-gunakan bahasa keesaan dalam 1 Korintus 12. Melalui Teori Identitas Sosial, di-tunjukkan bahwa rujukan terhadap Shema tersebut memiliki fungsi sosial di 1 Korintus 12. Kesimpulannya, pembacaan terhadap gema Shema dalam 1 Ko-rintus 12 dengan Teori Identitas Sosial memberikan kontribusi bagi pemahaman terhadap penyelesaian konflik yang dihadapi jemaat di Korintus

Page 11 of 40 | Total Record : 400