cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 18298907     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 810 Documents
Studi Kelayakan Daur Ulang Kantong Plastik dari Aspek Ekonomi dan Lingkungan Arieyanti Dwi Astuti; Jatmiko Wahyudi; Aeda Ernawati; Siti Qorrotu Aini
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.488-494

Abstract

Sampah plastik yang masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Sukoharjo merupakan penyumbang tertinggi kedua setelah sampah organik dengan persentase 17,29%. Lebih spesifik, jenis sampah plastik yang masuk TPA didominasi jenis plastik LDPE (Low Density Poly Ethylene). Pengelolaan sampah plastik yang paling efektif adalah daur ulang yang memposisikan plastik dan sampah plastik menjadi satu siklus yang saling berkaitan. Di Kabupaten Pati, usaha daur ulang sampah plastik sudah banyak didirikan namun belum ada yang menyasar khusus pada kantong plastik LDPE. Potensi ini kemudian ditangkap oleh Pemerintah Kabupaten Pati untuk mengembangkan usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan daerah sekaligus mengurangi beban lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan usaha daur ulang kantong plastik ditinjau dari aspek ekonomi dan lingkungan. Analisa data menggunakan pendekatan kuantitatif, yang dibagi berdasarkan aspek finansial (ekonomi) dan aspek non finansial (lingkungan). Kriteria kelayakan aspek ekonomi meliputi NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of Return), dan PP (Payback Periode), sedangkan aspek lingkungan difokuskan pada umur pakai TPA. Dari aspek ekonomi, penghitungan awal berupa besaran investasi, kemudian besaran penerimaan dan pengeluaran sehingga diperoleh laba setelah dikurangi pajak 12,5%. Kemudian selanjutnya dapat dihitung nilai NPV, IRR dan PP. Dari aspek lingkungan, umur pakai TPA akan dihitung sebelum dan setelah dilakukan proses daur ulang. Usaha ini direncanakan memiliki kemampuan menyerap 7,5 ton sampah plastik per hari atau sekitar 15,49% dari total sampah plastik yang masuk TPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) dari aspek ekonomi, usaha daur ulang kantong plastik dinyatakan layak untuk dijalankan dengan indikator kelayakan NPV = Rp14.054.689.623; IRR = 10,70%; PP = 2 tahun 7 bulan 12 hari; 2) dari aspek lingkungan, usaha daur ulang kantong plastik dikatakan layak karena mampu memperpanjang umur pakai TPA Sukoharjo, lebih lama 1 tahun 38 hari jika dibandingkan dengan pengelolaan sampah TPA tanpa daur ulang.AbstractPlastic waste at TPA Sukoharjo, Pati Regency, is the second highest contributor after organic waste with a percentage of 17.29%. Specifically, the type of plastic waste in TPA is dominated by single-use plastic (LDPE). The most effective in managing plastic waste is by recycling, which puts plastic and plastic waste into an interconnected cycle. In Pati District, many plastic waste recycling businesses have been established, but only few of those treat LDPE specifically. Perusda Aneka Usaha, a local owned enterprise in Pati, has a plan to establish a new business in recycling LDPE in order to increase regional income as well as tackle waste problems. The purpose of this research is to analyze the feasibility of plastic recycling business of both. Data analysis uses a quantitative approach with financial (economic) and non-financial (environmental) aspects. The feasibility criteria for economic aspect include NPV, IRR, and PP, while environmental aspect is focused on the lifespan of landfill. Economically, the initial analysis is in the form of the amount of investment, then the amount of income and expenditure in order to obtain a profit after deducting tax 12.5%. Environmentally, TPA lifespan will be calculated before and after recycling process. This business is planned to be able to absorb 7.5 tons of plastic waste per day or around 15.49% of total plastic waste at TPA. The results showed that 1) economically, the plastic bag recycling business was feasible to run with the NPV= IDR 14,054,689,623; IRR = 10.70%; PP = 2 years 7 months 12 days; 2) environmentally, the plastic bag recycling business will extend the service life of TPA Sukoharjo, 1 year 38 days longer compared to waste treatment in TPA without recycling
River Water Quality Based on Macrozoobentic Bioindicators in the Wonocolo Traditional Oil Mining Area Laily Agustina Rahmawati; Norma Afiati; Thomas Triadi Putranto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.29-35

Abstract

Many studies declared traditional oil mining in Wonocolo caused pollution, including river pollution.  During Covid-19 Pandemic, traditional oil mining in Wonocolo has been interrupted because world oil prices decreased. This made selling price of crude oil in Wonocolo declined. This made traditional oil mining decreased because oil wells were temporarily closed. The decrease in traditional oil mining might affect river water quality in Wonocolo. In a prior  study, the researcher had investigated water quality of Bungsu and Kragsaan River in Wonocolo, based on physicochemical parameters. The river had improved quality during Covid-19 Pandemic, seen from the decrease in the content of several chemical pollutants. Through this study, the researcher examined macrozoobentos community structure as a bio indicator of water quality, like assessing water quality of Bungsu and Kragsaan River based on biological indicators. This study used observation method by determining sample points purposively. Sample of macrozoobentos was analyzed using biodiversity index of Shannon-Wiener, species evennes index, and dominance index. Results of study showed Bungsu River had low biodiversity (H’ index 0.000 – 1.040), distressed community at B-1 and B-3 but stable at B-2, like high dominance at B-1 and B-3 but low at B-2. Kragsaan River also had low biodiversity (H’ index 0.000 – 1.010), unstable community at K-1 and K-3 like distressed at K-2, and low dominance at K-2 and K-3 but medium at K-1. Based on H’ index, Bungsu River was in the heavily polluted category at B-1 and B-3 and the medium polluted category at B-2. Meanwhile, Kragsaan River was in the heavily polluted category at K-1 and K-2 and the medium polluted category at K-3. This means although decreased levels of chemical pollutants at the sampling locations meant an increase in quality of water body, river ecosystem had not been able to rejuvenate condition during Covid-19 Pandemic.
Kualitas Air dan Udara dari Kota Tepian Air : Analisis Morfologi pada Kota Pontianak Dian Rahayu Jati; Bontor Jumaylinda Br Gultom; Affrilyno Affrilyno; Andi Andi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.170-180

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan rawannya penurunan kualitas air dan udara pada kota tepian di seluruh dunia. Tanda penurunan kualitas air dan udara terlihat di Pontianak di mana kualitas air sangat buruk dan tercatat memiliki kualitas udara terburuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan morfologi kota dan tingkat pencemaran lingkungan yang terjadi di Kota Pontianak melalui analisis korelasi. Metode yang digunakan adalah metode space syntax kombinasi analisis korelasi. Space syntax menganalisis morfologi kota dari segi faktor jaringan perkotaan dengan analisis integration dan analisis choice. Dalam penelitian ini, faktor tata fungsi lahan juga dipertimbangkan. Data pencemaran lingkungan di Kota Pontianak menggunakan data penelitian terdahulu berupa data hasil pengukuran tingkat polutan air dan udara pada beberapa titik lokasi yang tersebar di Kota Pontianak. Analisis korelasi menganalisis hubungan nilai dari variabel morfologi kota dengan variabel pencemaran lingkungan. Penelitian ini menemukan nilai korelasi yang bervariasi antara pencemaran lingkungan dengan morfologi kota. Secara umum, tingkat pencemaran air berkorelasi rendah dengan morfologi Nilai korelasi pencemaran air secara fisik dan kimia dengan analisis integration adalah sebesar 0,23 (rendah) dan -0,20 (rendah), secara berurutan. Sedangkan dengan analisis choice, nilai korelasinya sebesar 0,08 (tidak berkorelasi) dan 0,49 (sedang), secara berurutan. Di lain sisi, nilai korelasi antara tingkat pencemaran udara dengan morfologi kota memiliki nilai yang bervariasi tergantung pada jenis polutannya. CO (Karbon monoksida) berkorelasi tinggi dengan analisis integration dan choice dengan koefisien korelasi masing-masing 0,73(tinggi) dan 0,64 (tinggi). Sedangkan NO3 tidak memiliki korelasi dengan analisis integration (0,02 sampai dengan 0,16) tetapi berkorelasi rendah dengan analisis choice (0,30 sampai dengan 0,32). 
Daya Dukung Perairan Rawa Mesangat Sebagai Habitat Buaya Siam Teguh Muslim; Dwi Wahyu Mentari; Nanda Farhazakia
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.436-445

Abstract

Rawa Mesangat merupakan habitat utama buaya Siam yang tersisa di Indonesia dan juga sebagai lokasi utama bagi nelayan sekitar. Produksi ikan sebagai sumber ekonomi masyarakat sekaligus makanan potensial bagi buaya Siam dapat terus berkelanjutan bila rantai makanan ekosistem tidak terputus dengan syarat kualitas perairan yang sehat. Pengambilan sampel air ± 1200 ml di setiap lokasi yang dilakukan di 6 (enam) lokasi dalam area perairan rawa Mesangat. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Peraikanan dan Ilmu Kelautan. Kualitas perairan  menunjukkan pH yang normal, BOD 0,12 – 1,25 ppm termasuk dalam kategori tercemar rendah, COD 15,54 – 40,58 ppm dalam kategori tidak layak untuk kehidupan biota perairan, CO2 2,80 – 5,19 ppm kategori baik, TDS rendah antara 65 – 131 mg/L, TSS berkisar 7 – 87 mg/L, DO antara 2,86 – 3,19 mg/L, kadar nitrat tertinggi adalah 0,21 mg/L sedangkan kadar nitrat terendah 0,01 mg/L, kisaran suhu air antara 26 – 32oC, nilai Zn (seng) berkisar antara <0,003 – 0,02 mg/l. Perbedaan kualitas air pada setiap lokasi dapat disebabkan oleh faktor tutupan vegetasi pohon, vegetasi terapung, kekuatan arus sungai atau sirkulasi aliran air. Vegetasi terapung yang menyebar luas di perairan rawa sangat mungkin mempengaruhi kualitas air, salah satu contohnya adalah Salvinia molesta yang dapat memulihkan kualitas air atau sebaliknya tergantung kuantitas penutupan pada permukaan perairan. AbstractThe Mesangat Swamp is the main habitat of the remaining crocodiles in Indonesia as well as a prime location for nearby fishermen. Fish production as an economic source of society as well as potential food for the Siamese crocodile can continue to be sustainable when the food chain ecosystem is not disconnected with the condition of healthy water quality. Water sampling of ± 1200 ml in each location carried out at 6 (six) locations within the Mesangat Swamp water area. The analysis of water quality is done in the Fishery and marine Sciences laboratories. The quality of the water indicates a n ormal pH, the BOD 0,12 – 1,25 ppm belongs to the low tainted category, COD 15,54 – 40,58 ppm in a category not feasible for the life of aquatic biota, CO2 2,80 – 5,19 ppm good category, low TDS between 65 – 131 mg/L, TSS range 7 – 87 mg/L, DO between 2,86 – 3,19 mg/L, highest nitrate level is 0.21 mg/L while lowest nitrate rate is 0,01 mg/l, water temperature range between 26 – 32oC, The value of Zn (zinc) ranges between < 0,003 – 0,02 mg/L. The difference in water quality at each location can be caused by the tree vegetation cover factor, floating vegetation, river current strength or water flow circulation. Floating vegetation that is widespread in swamp waters is very likely to affect water quality, one example is Salvinia molesta that can restore water quality or vice versa depending on quantity closure on water surface
Review: Quorum Sensing Bakteri dan Peranannya pada Perubahan Nilai pH di Kolong Pascatambang Timah dengan Umur Berbeda Andri Kurniawan; Euis Asriani
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.602-609

Abstract

Bakteri menunjukkan kemampuannya untuk hidup sosial dan berinteraksi dengan koloni lainnya dengan cara membangun suatu komunikasi interseluler melalui mekanisme yang disebut quorum sensing (QS). Komunikasi seluler ini dapat memfasilitasi komunitas bakteri untuk saling merespon, melakukan metabolisme, menyampaikan informasi densitas, dan beraktivitas dengan mengenali molekul sinyal berupa feromon (pheromones) atau autoinducers. Review ini membahas tentang interaksi antarbakteri di kolong pascatambang timah yang dideskripsikan sebagai suatu sistem quorum sensing bakteri tersebut dan peranannya di dalam menghadapi perubahan nilai pH. Populasi bakteri anggota Filum Proteobacteria cenderung sangat sentral di kolong pascatambang timah karena keberadaannya mendominasi di semua umur kolong dengan jumlah yang tinggi. Proteobacteria mampu bersinergi dengan bakteri asidofilik lainnya dalam melakukan aktivitas oksidasi unsur-unsur (elements) yang berdampak pada terbentuknya kondisi pH asam (pH = 3). Proteobacteria juga menunjukkan indikasi mampu mendorong munculnya fungsi penting dari Bacteroidetes, Planctomycetes, Cyanobacteria, Spirochaeta, dan bakteri lainnya dengan melakukan dekomposisi bahan organik ataupun aktivitas metabolisme yang lain sehingga mampu meningkatkan nilai pH lingkungan kolong pascatambang timah menjadi netral (pH = 7). Struktur komunitas bakteri menunjukkan komposisi bakteri berbeda pada setiap perairan kolong yang mengalami kronosekuens berbeda. Kolong yang berumur < 1 tahun dengan pH sekitar 3 cenderung didominasi Filum Proteobacteria sekitar 30%, kolong berumur 5-10 tahun dengan pH sekitar 3 didominasi Filum Bacteroidetes sekitar > 40%, dan kolong berumur > 15 tahun dengan pH sekitar 7 didominasi Filum Planctomycetes > 37%. Interaksi bakteri melalui quorum sensing diharapkan bermanfaat di dalam proses pengelolaan lingkungan perairan pascatambang timah sehingga menghasilkan suatu ekosistem perairan yang lebih bermanfaat bagi manusia dan organisme perairan lainnya.ABSTRACTBacteria demonstrate their ability to live socially and to interact with other colonies by establishing an intercellular communication through a mechanism called quorum sensing (QS). This cellular communication can facilitate the bacterial community to respond to each other, carry out metabolism, density information, and activity by recognizing signaling molecules in the form of pheromones or autoinducers. This review discussed the interaction between bacteria in abandoned tin mining pit waters which was described as a quorum sensing system for the bacteria and its role to encounter the pH value changes. The member population of Phylum Proteobacteria looked very central in the abandoned tin mining pit because its dominance in all age of the pit with a high number. Proteobacteria were able to synergize with the other of acidophilic bacteria to carried out the oxidation activities of the elements that have an impact on the formation of acidic pH conditions (pH = 3). Proteobacteria also showed indications of being able to encourage the emergence of important functions of Bacteroidetes, Planctomycetes, Cyanobacteria, Spirochaeta, and other bacteria by decomposing organic matter or other metabolic activities so as to increased the pH value of ex-tin minig pits enironments to neutral (pH = 7). Community structure of bacteria showed bacteria composition was different for each pits water with chronosequence. Pits in age < 1 year with pH about 3 were dominated Phylum Proteobacteria about 30%, pits in age 5-10 year with pH about 3 were dominated Phylum Bacteroidetes about > 30%, and pits in age > 15 year with pH about 7 were dominated Phylum Planctomycetes about > 37%. The interaction of bacteria through quorum sensing is expected to be useful in the process of environmental management of post-tin mining waters to produce an aquatic ecosystem that is more beneficial to humans and other aquatic organisms.
Analisis Dampak Sosial Ekonomi Budaya Kegiatan Eksplorasi Panasbumi di WKP Baturraden (Studi Kasus di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas) Muhammad Fadil Ramadhan; Muslihudin Muslihudin; Mukhtar Effendi
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.117-126

Abstract

Hadirnya energi panasbumi sebagai Energi Baru Terbarukan (EBT) rupanya bukan berarti hadir tanpa suatu dampak bagi lingkungan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak sosial-ekonomi-budaya yang terjadi dan merumuskan strategi pengelolaan lingkungan komponen sosial ekonomi budaya guna meminimasi dampak negatif dan mengoptimasi dampak positif dari kegiatan eksplorasi panasbumi WKP Baturraden di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini merupakan penelitian metode campuran dengan pendekatan eksplanatoris sekuensial, yaitu dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif yang digunakan berupa analisis besar dampak serta analisis sifat dampak. Berdasarkan hasil pengolahan data secara kuantitatif tersebut, selanjutnya dianalisis secara kualitatif menggunakan matrik SWOT untuk perumusan strategi pengelolaan lingkungan komponen sosial ekonomi budaya. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur yang memiliki ketkaitan dengan topik penelitian. Berdasarkan hasil analis yang dilakukan dalam penelitian ini, menjelaskan bahwa dampak yang terjadi atas kegiatan eksplorasi panasbumi di WKP Baturraden bervariasi, dari yang tidak menimbulkan dampak hingga berdampak sangat besar. Sedangkan berdasarkan sifat dampaknya terdapat dampak yang cukup penting hingga sangat penting. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 dampak dengan bobot besar dampak dan sifat dampak tertinggi, yaitu penurunan kenyamanan masyarakat dan perubahan persepsi masyarakat. Dengan kondisi tersebut, meninjau tingkat urgensi kegiatan eksplorasi panasbumi dalam rangka pengupayaan energi baru terbarukan maka strategi pengelolaan lingkungan yang paling tepat pada komponen sosial ekonomi budaya berdasar analisis SWOT adalah menggunakan strategi devensif yang memadukan antara kekuatan internal dengan peluang eksternal dan strategi diversifikasi yang memadukan antara kekuatan internal dengan ancaman eksternal.
Analisis Ketersediaan, Kebutuhan dan Kualitas Air Pada DAS Batang Merao Sri Rahayu Ningsih; Eri Gas Ekaputra; Fadjar Goembira
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.545-555

Abstract

Sungai Batang Merao dimanfaatkan sebagai sumber air baku air bersih PDAM, sumber energi alternatif PLTMH, sumber air irigasi dan kebutuhan masyarakat sehari-hari di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Terganggunya kawasan hulu DAS berdampak terhadap pasokan dan kualitas air ke daerah tengah dan hilir. Ketebatasan ketersediaan air bersih dan penurunan kualitas air antara lain disebabkan oleh adanya kegiatan penambangan pasir dan batu di kawasan hulu, terjadinya konversi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan terbangun terutama di daerah bantaran dan sempadan sungai serta pemanfaatan sungai sebagai tempat pembuangan limbah cair domestik dan peternakaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif. Analisis ketersediaan air menggunakan metode debit andalan (Q80) dan kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan air pada sektor domestik, non domestik, pertanian, peternakan dan perikanan. Analisis status mutu air menggunakan metode indeks pencemaran (IP) untuk melihat kondisi kualitas air Sungai Batang Merao sesuai dengan KepmenLH Nomor 115 Tahun 2003. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ketersediaan air DAS Batang Merao adalah sebesar 22.70 m3/detik dan total kebutuhan sebesar 26.71 m3/detik. Status mutu air Sungai Batang Merao berdasarkan nilai indeks pencemaran (IP) berada dalam kondisi tercemar ringan dengan kisaran nilai indeks 2,41 – 6,43 berdasarkan baku mutu air kelas II PP No. 82 Tahun 2001 dengan parameter TSS, BOD, COD, T-Pospat, Nitirit, Minyak dan Lemak serta MBAS melebihi nilai baku mutu. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas air Sungai Batang Merao tidak layak untuk dikonsumsi dan tidak seusi dengan peruntukannya sebagai sumber air baku air bersih. Ketersediaan sumber daya air DAS Batang Merao tidak dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat pada DAS Batang Merao dengan neraca air dalam kondisi defisit sebesar 4.01 m3/detik.ABSTRACTThe Batang Merao River is used as a source of raw water for PDAM, an alternative energy source for PLTMH, a source of irrigation water and daily needs of the people in Kerinci Regency and Sungai Penuh City. The disruption of the upstream watershed area has an impact on the supply and water quality to the middle and downstream areas. Limited availability of clean water and a decrease in water quality are due to, among others, sand and rock mining activities in the upstream area, the conversion of land from agricultural land to developed land, especially in riverbanks and river boundaries and the use of rivers as a place for disposal of domestic liquid waste and livestock. The method used in this research is descriptive quantitative. Analysis of water availability uses the reliable discharge method (Q80) and water needs are calculated based on water needs in the domestic, non-domestic, agriculture, livestock and fisheries sectors. Analysis of water quality status using the pollution index (IP) method to see the condition of the water quality of the Batang Merao River in accordance with KepmenLH No. 115/2003. Based on the results of the study, the availability of water in the Batang Merao watershed is 22.70 m3/second and the total demand is 26,71 m3/second. The status of the Batang Merao River water quality based on the value of the pollution index (IP) is in a lightly polluted condition with an index value range of 2,41 – 6,43 based on class II water quality standards PP No. 82/2001 with parameters TSS, BOD, COD, T-Pospat, Nitrite, Oil and Fat and MBAS exceeding the quality standard value. Based on this, it can be concluded that the water quality of the Batang Merao River is not suitable for consumption and is not compatible with its designation as a source of raw water. The availability of water resources in the Batang Merao watershed cannot meet the water needs of the community in the Batang Merao watershed with the water balance in a deficit of 4,01 m3/second.
Pemantauan Kualitas Udara Kota Tegal (Studi Kasus : Kecamatan Tegal Selatan, Kecamatan Tegal Barat, Kecamatan Tegal Timur) Andika Pradifan; Widayat Widayat; Agus Suprihanto
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 19, No 1 (2021): April 2021
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.19.1.73-82

Abstract

Pengelolaan kualitas udara dan pengendalian pencemaran udara harus dilakukan untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan kehidupan. Pengelolaan dan pengendalian pencemaran udara dapat dilaksanakan dengan melakukan pemantauan kualitas udara. Hasil dari pemantauan kualitas udara ambien selanjutnya digunakan untuk perhitungan IKU.  Indeks Kualitas Udara/IKU merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian kualitas udara secara sederhana dengan menggunakan beberapa parameter terpilih.  Indeks Standar Pencemar Udara/ISPU, Parameter yang digunakan untuk menentukan ISPU yaitu Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2),  Oksidan (O3), Total Partikel (TSP), Karbon Monoksida (CO), Amoniak (NH3), Hidrogen Sulfida (H2S), Weather Station (Suhu Udara, Tekanan Udara, Kelembaban Udara), Arah dan Kecepatan Angin, GPS (Koordinat Lokasi), Tingkat Kebisingan, dan PM10. Sedangkan untuk perhitungan Indeks Kualitas Udara menggunakan 2 parameter utama yaitu Nitrogen Oksida (NOx) dan Sulfur Oksida (SOx). Pengambilan sampel udara di Kota Tegal menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS) dengan lama pengambilan selama 24 jam. Lokasi yang digunakan untuk pengambilan contoh kualitas udara ambien terletak di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo untuk pemantauan transportasi. Sedangkan untuk pemantauan kualitas udara dengan metode passive sampler memerlukan waktu selama 14 hari. Lokasi yang dipilih mewakili transportasi, kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan perkantoran dan kawasan perdagangan. Pengambilan sampel kualitas udara ambien selama 24 jam digunakan untuk menghitung Nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Nilai ISPU pada lokasi pemantauan di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo (Terminal Kota Tegal) masing masing yaitu : SO2 sebesar 21,25, CO sebesar 10, NO2 sebesar 48, O3 sebesar 22,92 dan PM10 sebesar 40. Seluruh parameter termasuk dalam rentang 0 – 50 dengan kategori baik.
Relationship between Plant Biodiversity and Carbon Stock in Rural Area of Cisadane Watershed Sunardi Sunardi; Regan Leonardus Kaswanto; Sofyan Sjaf
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.610-616

Abstract

The main activities in the rural landscape are agriculture, involved natural resources management that compose the function of area as settlement, government services, social services and economy activities.  These activities affected the rural landscape that changed plant diversities as well as carbon stock. The aim of this research was to evaluate biodiversity and carbon stock in the rural area of Cisadane Watershed.  Two villages were defined on a purposive random sampling, i.e. Sukadamai and Bantarsari.  The sampling plots were selected based on main land use type with size for tree was 20 m × 20 m, pole was 10 m x 10 m, sapling was 5 m x 5 m and seedling was 2 m x 2 m; with 3 replications.  Similarly, other concentric plots were established. The number of plant species were counted, diameter at breast height (DBH) and plant height were measured.   The analysis of carbon stock, plant diversity and the relationship was developed using Microsoft Excel and R 3.6.1 software.  The results showed that main land use in Sukadamai and Bantarsari Village consisted of settlement area, farmland, mixed farming and palm oil plantation.  In the research area where 106 species from 43 families that classified into 9 horizontal diversity based on function and 5 vertical diversity based on plant height. The values of Shannon-Wiener Diversity Index (H’) ranged 2,78–3,20.  Estimated carbon stocks were 1,16–51,40 Mg ha−1 in research areas, respectively. These research concluded there was a negative correlation between species richness and diversity index with carbon stock in the village landscapes.ABSTRACTThe main activities in the rural landscape are agriculture, involved natural resources management that compose the function of area as settlement, government services, social services and economy activities.  These activities affected the rural landscape that changed plant diversities as well as carbon stock. The aim of this research was to evaluate biodiversity and carbon stock in the rural area of Cisadane Watershed.  Two villages were defined on a purposive random sampling, i.e. Sukadamai and Bantarsari.  The sampling plots were selected based on main land use type with size for tree was 20 m × 20 m, pole was 10 m x 10 m, sapling was 5 m x 5 m and seedling was 2 m x 2 m; with 3 replications.  Similarly, other concentric plots were established. The number of plant species were counted, diameter at breast height (DBH) and plant height were measured.   The analysis of carbon stock, plant diversity and the relationship was developed using Microsoft Excel and R 3.6.1 software.  The results showed that main land use in Sukadamai and Bantarsari Village consisted of settlement area, farmland, mixed farming and palm oil plantation.  In the research area where 106 species from 43 families that classified into 9 horizontal diversity based on function and 5 vertical diversity based on plant height. The values of Shannon-Wiener Diversity Index (H’) ranged 2,78–3,20.  Estimated carbon stocks were 1,16–51,40 Mg ha−1 in research areas, respectively. These research concluded there was a negative correlation between species richness and diversity index with carbon stock in the village landscapes.
Tinjauan Nilai Manfaat pada Pengelolaan Sampah Plastik Oleh Sektor Informal (Studi Kasus: Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan) Ratna Kustanti; Arya Rezagama; Bimastyaji Surya Ramadan; Sri Sumiyati; Budi Prasetyo Samadikun; Mochtar Hadiwidodo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.495-502

Abstract

Penggunaan kembali material limbah dengan cara mendaur ulang merupakan salah satu cara efektif untuk menghindari pencemaran lingkungan dan mengurangi volume timbulannya di Tempat Pembuangan Akhir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi ekonomi kegiatan daur ulang sampah plastik oleh sektor informal di Kecamatan Purwodadi. Penelitian dilakukan melalui survei menggunakan kuesioner terhadap 29 pelaku daur ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi ekonomi yang terdapat dalam usaha daur ulang sampah plastik pada tiap tingkatan pelaku daur ulang berbeda-beda. Berdasarkan analisis kelayakan ekonomi menggunakan  nilai Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR),  dan  Internal Rate of Return (IRR) dapat disimpulkan bahwa usaha daur ulang tingkat penggiling layak secara ekonomi dengan nilai NPV Rp 923.395.260  (NPV > 1), nilai BCR 1,58 (BCR > 1), dan nilai IRR 56,82. Benefit (manfaat) dari implementasi program 3R sampah plastik pada sektor informal secara umum dapat digolongkan menjadi dua manfaat, yaitu manfaat langsung (direct benefit) dan manfaat tidak langsung (indirect benefit). Manfaat langsung (direct benefit) berupa keuntungan penjualan sampah plastik. Keuntungan bersih tiap jenis sampah plastik pada tingkat pemulung  antara Rp 500-Rp 2.600, tingkat bank sampah berkisar antara Rp 100-Rp 400, tingkat pengepul I berkisar antara Rp 91,67-Rp 391,67, tingkat pengepul II berkisar antara Rp 173,46-Rp 473,46, tingkat bandar berkisar antara Rp 186,94-Rp 686,94, dan tingkat penggiling berkisar antara Rp 136,23-Rp 1.136,32. Manfaat tidak langsung (indirect benefit) adanya pengelolaan sampah plastik oleh sektor informal yaitu tereduksinya sampah plastik di Kecamatan Purwodadi sebesar 10,08%.ABSTRACTRecycling of waste material is an effective way to eliminate environmental pollution and reduce the volume of its generation in landfills. This research purpose was to determine the economical potention of plastic waste recycling business by the informal sector in Purwodadi District. The research method by a questionnaire survey of 29 recycling actors. The results showed that the economical potention of the plastic waste recycling business at each level of the recycling actors was different. Based on the economic feasibility analysis using Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), and Internal Rate of Return (IRR), it can be concluded that recycling business at the grinder level is economically feasible with NPV value of Rp 923,395,260 (NPV> 1) , BCR value 1.58 (BCR> 1), and IRR value 56.82. The benefits of implementing the 3R plastic waste program in the informal sector can be classified into two benefits, there are direct benefit and indirect benefit. The direct benefit can be formed the profit from selling plastic waste. The net profit of each type of plastic waste at the scavenger level is about Rp 500-Rp 2,600, the level of waste bank about Rp 100-Rp 400, the level of collectors I about Rp 91.67-391.67, the level of collector II about  Rp 173.46-Rp 473.46, the level of dealer about Rp 186.94-Rp 686.94, and the grinder level about Rp 136.23-Rp 1,136.32. The indirect benefit of plastic waste management by the informal sector is the reduction of plastic waste in Purwodadi District for about 10.08%.

Filter by Year

2011 2025