cover
Contact Name
Andes Fuady
Contact Email
andes@um-tapsel.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
muharram.fajrin@um-tapsel.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padangsidimpuan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science)
ISSN : 25483129     EISSN : 25991736     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) menginformasikan hasil penelitian asli dan telaah pustaka dalam bidang peternakan meliputi : produksi, nutrisi, pengolahan hasil, pengolahan limbah, kesehatan ternak dan hijauan pakan ternak yang belum dan tidak akan dipublikasikan di tempat lain. Terbit dua kali setahun januari dan juli
Arjuna Subject : -
Articles 306 Documents
SIFAT KUALITATIF DAN KUANTITATIF BIBIT SAPI SUMBA ONGOLE KECAMATAN PANDAWAI KABUPATEN SUMBA TIMUR Denianus Hapu Kambanu; Alexander Kaka; Marselinus Hambakodu
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 5, No 3 (2022): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i1.4705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa bibit Sapi Sumba Ongole berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif di Kecamatan Pandawai Kabupaten Sumba Timur. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung di lapangan. Penelitian menggunakan sebanyak 383 ekor sapi Sumba Ongole, dengan jenis kelamin jantan dan betina, kemudian dikelompokkan beradasarkan umur ternak 18 - < 24 dan 24 – 30 bulan. Observasi dan pengukuran dilakukan untuk mengumpulkan data hubungan dari pengukuran variabel. Variabel penelitian meliputi tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, dan lingkar scrotum, sedangkan sifat kualitatif meliputi warna dan bentuk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sifat kuantitatif sapi SO jantan umur 18 - < 24 bulan pada kelas I terjadi penurunan di bawah SNI, sedangkan  kelas II dan III sesuai SNI. Sapi SO jantan umur 24-30 bulan kelas I dan III tidak sesuai SNI, sedangkan kelas II sesuai standar SNI. Performa kuantitatif sapi SO betina umur 18<24 kelas I kelas II dan III tidak memenuhi stndar SNI. Sapi SO umur 24-30 bulan kelas I dan II mencapai SNI, sedangkan kelas III tidak mencapai SNI. Performa kualitatif sapi SO jantan berwarna putih yakni mencapai 70%, sedangkan yang berwarna hitam 30%, dan sapi betina 100% berwarna putih.
PENAMBAHAN JAHE GAJAH (Zingiber officinale Rosc) DAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK TELUR ASIN DENGAN METODE PENGGARAMAN BASAH Yulia Santika Santika; Yoshi Lia Anggrayni; Mahrani Mahrani
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i1.6415

Abstract

Telur merupakan salah satu sumber protein hewani disamping daging, ikan dan susu, yang baik dikonsumsi oleh manusia baik anak-anak pada masa pertumbuhan, ibu hamil, dan menyusui, serta mereka yang sedang dalam proses penyembuhan setelah sakit. Akan tetapi telur memiliki sifat yang mudah rusak yang terjadi selama penyimpanan sehinggan diperlukan pengolahan lebih lanjut. Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan adalah membuat telur asin dengan menambahkan jahe gajah dan bawang putih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan jahe gajah dan bawang putih terhadap kualitas organoleptik telur asin. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan analisis sensori uji hedonik dengan 4 perlakuan yaitu X0 = Kontrol, X1 = JG 20% : BP 80 %, X2 = JG 50 % : BP 50 %, X3 = JG 80 % : BP 20 %. Parameter kualitas organoleptik yang dinilai adalah warna yolk dan albumen, aroma, tekstur, rasa, kemasiran dan tingkat kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jahe gajah dan bawang putih tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap penilaian warna yolk dan albumen, tekstur, kemasiran dan tingkat kesukaan sedangkan penilaian aroma dan rasa berpengaruh nyata (P<0.05) pada telur asin. Nilai rata-rata pada tiap aspek penilaian yaitu warna yolk 3.29 (kuning kecoklatan), warna albumen 3.86 (putih kecoklatan), aroma 2.87 (amis), tekstur 2.89 (tidak kenyal), rasa 3.21 (agak terasa jahe dan bawang putih), kemasiran 2.80 (tidak masir) dan tingkat kesukaan 3.12 (agak suka). Perlakuan terbaik yang didapatkan yaitu dengan kombinasi jahe gajah dan bawang putih sebanyak 50 % : 50 %.
POTENSI LIMBAH PERTANIAN DAN AGROINDUSTRI SEBAGAI PAKAN TERNAK DI KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG Nining Suningsih; Nur’aini Nur’aini; Muhammad Hakim; Umar Ibrahim; Arif Rahman Azis; Sudarmanto Sudarmanto
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i1.6420

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuipotensi  limbah pertanian dan agroindustry sebagai pakan ternak di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian ini telah  dilaksanakan dari bulan Juni – Oktober 2021. Lokasi penelitian adalah kecamatan Selupu Rejang kabupaten Rejang Lebong. Prosedur penelitian yang telah dilaksanakan meliputi tahapan: persiapan, koordinasi dengan perangkat daerah, pengambilan data primer dan sekunder melalui survey, pengambilan sampel limbah pertanian dan agroindustry, persiapan sampel untuk analisis proksimat, tabulasi data, analisis data, dan pembuatan output penelitian. Metode pengumpulan data melalui wawancara, survey, dan pengambilan sampel limbah pertanian dan agroindustry.Sampel penelitian diambil secara purposive sampling dan penentuan jumlah petani ditentukan secara proporsional sampling.Data yang diperoleh dilakukan tabulasi data selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil survey menunjukkan bahwa komoditas tanaman di kecamatan Selupu Rejang terdiri atas tanaman hortikultura 83,33%, tanaman perkebunan 10,61%, dan palawija 6,61%. Produksi limbah pertanian terdiri limbah tanaman hortikultura rata – rata 36,04%, limbah tanaman palawija (Jagung) 100-231,67%, dan limbah agroindustri rata – rata 55%. Hasil analisis proksimat: Tebon Jagung mengandung Abu 11.23%, Lemak kasar 0,6%, Protein Kasar 10,02%, dan Serat Kasar 27,12%. Kulit Biji Kopi mengandung Abu 32,20%, Lemak kasar 0,94%, Protein kasar 10,68%, dan Serat Kasar 14,20%. Kulit buah Aren mengandung Abu 13,72%, Lemak kasar 0,81%, Protein kasar 11,21%, dan Serat kasar 17,61%. Simpulan dari penelitian ini adalah dari segi kuantitas dan kualitas nutrisi, limbah pertanian dan agroindustri di kecamatan Selupu Rejang berpotensi sebagai pakan ternak, yaitu tebon jagung, kulit buah kopi, dan kulit buah aren. Kandungan nutrisi limbah pertanian perlu ditingkatkan kualitasnya dengan menerapkan teknologi pengolahan makanan ternak.
PBB, EFISIENSI PAKAN DAN IOFC PADA PENGGEMUKKAN TERNAK ITIK YANG DIBERIKAN RANSUM DENGAN LEVEL KONSENTRAT YANG BERBEDA Suryanta U. Radandima; I Made Adi Sudarma; I. P. Sirappa
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 5, No 3 (2022): JURNAL PETERNAKAN (JURNAL OF ANIMAL SCIENCE)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i1.4753

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui PBB, efisiensi ransum dan IOFC pada ternak itik yang diberikan ransum dengan level konsetrat yang berbeda dengan masa pemeliharaan 8 minggu. Penelitian dilakukan di Kalu Kelurahan Prailiu- Kec. Kambera dimulai dari bulan Desember 2020 sampai Februari 2021. Penelitian menggunakan itik umur 2 minggu sebanyak 36 ekor ditempatkan dalam kandang 1x1 m dimana masing-masing kandang terdiri dari 3 ekor ternak itik. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: pakan komersial BR2 100% (P0); pakan komersial BR2 50% + pakan rekayasa penggemukan ternak itik 50% (P1); dan pakan rekayasa penggemukan ternak itik 100% (P2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan rekayasa penggemukan ternak itik (P2) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan bobot badan total ternak itik namun memberikan dampak potensi pendapatan efisiesi pakan dan income offer feed cost yang jauh lebih besar. Ransum (P2) dapat dijadikan ransum penggemukan ternak itik dengan pemberian 100% untuk pemeliharaan umur 2-10 minggu.
KEARIFAN LOKAL DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU BERBASIS KAWASAN DI KABUPATEN MUSI RAWAS UTARA Muhammad Hakim; Nining Suningsih
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i1.6416

Abstract

Masyarakat Musi Rawas Utara memiliki budaya dalam sistem pemeliharaan ternak kerbau dimana sistem pemeliharaan bersifat tradisional dan erat kaitannya dengan nilai kearifan lokal. Tujuan penelitian adalah mengetahui kearifan lokal dalam mendukung perkembangan ternak kerbau berbasis kawasan. Objek yang diamati peternak dan stakeholder lainnya. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis deskriptif kuantitatif dan analisis Lacation Quantient (LQ) untuk menentukan wilayah kawasan. Luaran yang di targetkan publikasi artikel dijurnalnasional terakreditasi peringkat 1-6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 bentuk kearifan lokal dalam mendukung pengembangan ternak kerbau yaitu pemeliharaan sistem piket bergilir, sistem gaduhan ternak kerbau dari masyarakat, hukum adat tentang ternak kerbau, sistem pencarian ternak kerbau secara berkelompk pada sore hari, peloncengan pada ternak kerbau, sistem pemeliharaan ternak secara berkelompok (kolektif), serta pembangunan kandang secara berkelompok (kolektif). berdasarkan analisis LQ terdapat 3 Kecamatan kawasan ternak kerbau yaitu Kecamatan Rawas Ulu, Kecamatan Ulu Rawas dan Kecamatan Rupit. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat di simpulkan terdapat 7 kearifan lokal yang mampu mendukung pengembangan ternak kerbau berbasis kawasan dan 3 wilayah kawasan ternak kerbau di Kabupaten Musi Rawas Utara.
REVIEW : PERBANDINGAN KUALITAS TELUR AYAM RAS DI BERBAGAI NEGARA Anas Qurniawan; Suci Ananda; Amriana Hifizah; Irmawaty Irmawaty; Nurfaisah Baharuddin
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i2.7201

Abstract

Telur ayam ras merupakan produk pangan asal ternak yang memiliki nilai nutrisi tinggi, sehingga telur ayam ini sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak terpisahkan bagi konsumen. Pemenuhan kebutuhan konsumen yang tinggi ditandai dengan pesatnya industri telur ayam ras diberbagai banyak negara. Sehingga industri tersebut bersaing tidak hanya penilaian berat telur, melainkan memberikan kualitas telur yang baik. Kualitas telur merupakan indikator yang mengacu pada standar kualitas eksterior telur dan kualitas interior telur, selain itu kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas eksterior dan kualitas interior. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan perbandingan kualitas eksterior dan interior telur diberbagai negara. Penelitian dimulai dengan menganalisis pemasaran telur, kebutuhan konsumen dan kualitas telur, kemudian dilanjutkan dengan mengumpulkan literatur terkait, dan menganalisa data dari literatur yang didapat. Standar kualitas telur pada bagian eksterior khususnya pada ketebalan cangkang Saudi Arabia paling tipis yaitu 0,04 mm sementara negara negara lain hampir sama yaitu kisaran 0,2 – 0,4 mm. Kerabang telur yang tipis memiliki pori-pori yang banyak dan besar hal ini menimbulkan penguapan yang cepat sehingga mempercepat penurunan kualitas telur. menunjukkan persentase berat cangkang dari berbagai negara 9 – 15 %, berat cangkang berbagai negara beratnya hampir sama yaitu kisaran 5 – 9 gram dan rata rata berat telur berbagai negara 58 gram – 61 gram. Menurut (Badan Standarisasi Nasional, 2008) bobot/berat telur dengan kategori besar (> 60 g) pada negara Saudi Arabia, China, dan Brazil. Kategori sedang (50 g – 60 g) pada negara Colombia, Japan, Mesir dan Indonesia. Selanjutnya pada bagian interior telur khususnya pada warna yolk skor menunjukkan China memiliki nilai skor tertinggi yaitu 13 sementara terendah ada pada negara Saudi Arabia yaitu mencapai angka 5. Persentase yolk diukur untuk mengetahui rasio yolk terhadap berat telur dalam satuan persen. Berat yolk diukur dengan menimbang yolk telur setelah dipisahkan dengan albumin telur. menunjukkan kondisi berat yolk diberbagai negara yang memiliki rata 26 % - 29 %, berat albumin pada berbagai negara memiliki rata – rata 29 gram hingga 40 gram. Persentase albumin diukur untuk mengetahui rasio albumin terhadap berat telur dalam satuan persen. Haugh unit merupakan korelasi antara tinggi putih telur dengan berat telur dan menunjukkan nilai haugh unit telur ayam ras dari berbagai negara berdasarkan grade score yang dikeluarkan oleh (United States Department of Agriculture, 2000) grade AA (diatas 72.0) adalah Colombia, China, Mesir, Indonesia dan Brazil. Grade score A (60-71,9) adalah Saudi Arabia. Grade score B (31-59,9) adalah Japan. Kesimpulan dari tulisan ini bahwa kualitas eksterior dan interior telur konsumsi ayam ras memiliki kualitas yang hampir sama pada berbagai negara.
OPTIMASI KOMPOSISI PAKAN SAPI PEDAGING PADA PT FIRMA AGROS TERRA KABUPATEN SUKABUMI Radja Panutan; Dwi Rachmina; Triana Gita Dewi
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i2.7402

Abstract

Permintaan daging sapi yang semakin tinggi belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga kebutuhannnya dipenuhi melalui impor. Produksi daging sapi yang masih rendah disebabkan pemberian pakan yang belum optimal. Hal ini disebabkan tingginya biaya pakan, padahal sumber bahan pakan di Indonesia relatif beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi sapi pedaging pada tingkat biaya minimum. Analisis model program linear menunjukkan bahwa komposisi pakan optimal per hari untuk pembesaran sapi dengan bobot >400kg adalah 13,59 kg jerami padi basah, 11,61 kg rumput gajah, 3,32 kg tepung jagung, dan 10,18 kg ampas tahu basah. Komposisi pakan tersebut menghasilkan tingkat biaya yang lebih rendah sebesar 27,71 persen dibandingkan dengan biaya pakan aktual (dikeluarkan oleh perusahaan saat ini) dengan tetap memenuhi kebutuhan minimal 13,50 kg untuk BK, 1,41 kg untuk PK, dan 8,35 kg untuk TDN. Sedangkan komposisi pakan optimal per hari untuk pembesaran sapi dengan bobot <400kg adalah 10,58 kg jerami padi basah, 9,01 kg rumput gajah, 2,59 kg tepung jagung, dan 7,92 kg ampas tahu basah. Komposisi pakan tersebut menghasilkan tingkat biaya yang lebih rendah sebesar 39,04 persen dibandingkan dengan biaya pakan actual dengan tetap memenuhi kebutuhan minimal 10,50 kg untuk BK, 1,09 kg untuk PK, serta 6,54 kg untuk TDN
ANALISIS BEP PETERNAKAN AYAM RAS PETELUR DI SMK N 1 TULUNG KLATEN Mudrikah Khishaaluhussaniyyati; Putri Cahyaningtyas; Risda Putri Nugrahani; Wahyu Nugroho; Muhammad Aji Antoko Ehsa Wibowo; Nuqthy Faiziyah
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i2.5997

Abstract

Pertumbuhan penduduk Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, demikian pula permintaan akan pangan, termasuk kebutuhan akan pangan asal hewan dan tumbuhan. Pemenuhan kebutuhan pangan hewani berperan penting dalam pemenuhan kecukupan gizi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, masyarakat mencari makanan yang mengandung protein hewani dengan harga terjangkau, termasuk telur. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui analisis keuangan usaha dari BEP ayam petelur SMK N 1 Tulung. Setelah memahami siklus ayam petelur maka peternak akan memahami bahwa produksi ayam petelur lebih maju, dan sekaligus meningkatkan keuntungan kedepannya. Penelitian ini menggunakan data utama kualitatif, kuantitatif dan data tambahan. Data utama berasal dari proses wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh adalah ATR SMK N 1 Tulung mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp. 67.063.500 selama masa produksi ayam petelur dan biaya variabel sebesar Rp. 203.834.000 terjadi selama periode produksi sebesar Rp. 203.834.000 dan pengeluaran tahunan sebesar Rp. 101.917.000. Biaya pakan dan tenaga kerja yaitu Rp. 42.600.000 atau 43,16 persen, sedangkan biaya obat dan vaksin sebesar Rp. 3.600.000, atau 3,65 persen dari seluruh biaya produksi. ATR SMK N 1 Tulung total biaya Rp 98.703.750 merupakan komponen biaya terbesar, keuntungan yang diperoleh perusahaan peternakan ATR SMK 1 Tulung adalah sebesar Rp. 74.126.500 setiap periode, penjualan telur sebanyak 137.710 butir (Rp.206.565.708). Usaha Peternakan ayam petelur ATR SMK N 1 Tulung memperoleh keuntungan sebesar Rp.74.126.500 setiap periode, sudah berfungsi di atas break event point.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK BOKASHI SLUDGE BIOGAS DAUN LAMTORO DENGAN LEVEL YANG BERBEDA (0, 250, 500, 750, DAN 1000 GRAM/POLYBAG) PADA TANAMAN LAMTORO TARRAMBA I Made Adi Sudarma; Lukas Lowu Dawa
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i2.7280

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk bokashi sludge biogas daun lamtoro dengan level yang berbeda terhadap pertambahan tinggi tanaman lamtoro, diameter batang lamtoro dan jumlah helai daun lamtoro tarramba. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yaitu dengan 4 perlakuan 5 ulangan, adapun perlakuan P0= tanpa pemberian pupuk bokashi, P1= pemberian pupuk bokashi (250) gram, P2= pemberian pupuk bokashi (500) gram, P3= pemberian pupuk bokashi (750) gram, dan P4= (1000) gram pupuk. Adapun variabel yang di teliti yaitu tinggi tanaman lamtoro, diameter batang lamtoro dan jumlah helai daun majemuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata (P<0,05) pada pertumbuhan awal tanaman lamtoro yang diberikan pupuk bokashi daun lamtoro untuk setiap variabel. Pertumbuhan tanaman lamtoro Tarramba dengan pemberian pupuk bokashi sludge biogas daun lamtoro pada perlakuan level terbaik P2(500) gram/polybag pada minggu ke 6 dimana ditemukan tinggi tanaman sebesar 48,00 cm, diameter batang 3,4 cm, dan jumlah helai daun 144 helai. Disimpulkan bahwa pemberian pupuk sludge biogas daun lamtoro pada dosis 500 gram/polybag sudah cukup memberikan hasil pertumbuhan awal yang baik bagi tanaman lamtoro tarramba.
PEMANFAATAN KOTORAN HEWAN RUMINANSIA (PETERNAKAN SAPI) SEBAGAI BIOGAS (STUDI KASUS JALAN G.OBOS IV KOTA PALANGKA RAYA) Mohammad Bagus Pambudi
Jurnal Peternakan (Jurnal of Animal Science) Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Peternakan ( Jurnal Of Animal Science )
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jac.v6i2.6133

Abstract

Limbah padat sapi merupakan masalah bagi lingkungan jika banyak biomassa limbah tersebut dapat diolah menjadi biogas, sehingga perlu dijadikan suatu produk yaitu biogas. Penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui dan menghasilkan biogas dengan metode eksperimen. Analisis data menggunakan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah padat yang dihasilkan oleh Keraton Kambing dan Padepokan Sapi Mbah Brewok di Jalan G.Obos IV Kota Palangka Raya tidak dapat dimanfaatkan oleh pemilik dan masyarakat sekitar. Hasil pengukuran tekanan gas selama 21 hari dengan dua perlakuan. Perlakuan I dengan formula 10 kg sampah dan 9 liter air, dan perlakuan II dengan formula 15 kg sampah dan 4 liter air. Hasil pengukuran tekanan biogas perlakuan I total 0,728 Psi dan perlakuan II total 1.111 Psi (P1<P2). Sedangkan rata-rata biogas pada perlakuan I 0,034 Psi, perlakuan II 0,052 Psi (P2 > P1). menunjukkan hasil penelitian potensi pemanfaatan limbah padat kotoran ternak ruminansia (sapi) sebagai bahan pembuatan biogas.

Page 9 of 31 | Total Record : 306