cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ibn Abbas
ISSN : -     EISSN : 26207885     DOI : -
Core Subject : Social,
JURNAL IBN ABBAS MERUPAKAN JURNAL PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU ALQURAN DAN TAFSIR (S2) FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI ISLAM YANG SECARA KOMPREHENSIF MENGKAJI BIDANG ALQURAN DAN ILMU-ILMU ALQURAN BERBASIS TURATS, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI.
Arjuna Subject : -
Articles 106 Documents
AYAT RADIKAL ATAU RADIKALISME PENAFSIRAN? Yuzaidi Yuzaidi; Winda Sari; Muhammad Akbar Rosyidi Datmi
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11109

Abstract

AbstractRadical actions in the name of religion have been rife lately. Islam as a religion that has the most adherents in the world is inseparable from this. Even with so many radical actions taking place in the name of Islamic teachings, the consequence is the term radical Islam, fundamentalist Islam and other Islam which are eventually grouped into hardline Islam. main teachings of Islam or its interpretation. This research uses qualitative explorative research methods by exploring, understanding and interpreting related verses through the approach of the interpretation method of maudhu'i and muqarin. as well as contemporary interpretation books (bi al-ra'y) as secondary data. The results of the data analysis reveal that the verses of jihad and qital do not contain radical elements. Jihad is an effort that aims to achieve benefit. So that every Muslim is always required to always strive throughout his life. While qital (war) is a defensive effort after there is no other way except physical resistance. Even in the war there are also strict conditions. This finding is evidence that the verses of the Qur'an do not contain radical elements. Just a partial interpretation can give birth to an exclusive interpretation and potentially radicalism. Keywords: Paragraph, Interpretation, Radical
RESEPSI QUR’AN SURAH AL-FATIHAH DALAM LITERATUR KEISLAMAN PADA MASA ABAD PERTENGAHAN Winceh Herlena; Muads Hasri
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.7940

Abstract

Penelitian ini fokus terhadap kajian tentang “Resepsi QS.Al-Fatihah dalam Literatur keIslaman pada Abad Pertengahan”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya fenomena yang terjadi dimasyarakat yang masih kental dengan tradisi pembacaan surah al-Fatihah, diantaranya sebagai jimat, sebagai pengobatan seperti ruqyah, sebagai praktek ritual masyarakat seperti tahlilan, dsb. Fenomena-fenomena tersebut sudah menjadi sebuah tradisi yang umum dikalangan masyarakat. Namun, banyak orang yang belum mengetahui tentang tujuan-tujuan, dasar-dasar, dan sejarah awal mulanya praktek-praktek tersebut berasal. Oleh karena itu, dengan menggunakan teori informatif dan perfomatif yang digagas oleh Sam D. Gill maka penelitian ini bertujuan untuk mencari data-data darimana awal munculnya fenomena-fenomena tersebut direspon oleh masyarakat, dipahami dan diungkapkan serta berkembang dimasyarakat melalui literatur-literatur keIslaman pada masa abad pertengahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dari beberapa kitab resepsi yang ada, secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis kitab. Hal ini dapat dilihat dari kitab yang berbicara mengenai makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan ini diwakili oleh kitab al-Qurthubi, kitab yang amalan-amalan di dalamnya memiliki manfaat duniawi, seperti pengobatan dan ini diwakili oleh kitab Al-Nawawi, Al-Ghazali, dan Al-Dairabi.
ARGUMEN AL-QUR’AN TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH MENURUT SYEKH MUHAMMAD ZAIN Arifinsyah ,; Husnel Anwar; Japar ,
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2020): VOL 3, NO 1 (2020): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i1.11066

Abstract

Pemikiran teologi Syekh Muhammad dipengaruhi faham Asy’ariyah yang dituangkannya di dalam karya-karyanya yaitu Qat}ar al-Laban fi Aqa>’id al-Ima>n. Fawa>’id al-Zain fi>‘Ilm al-‘Aqa>id wa Ushu>luddi>n, Mifta>h{ ash-S{ibya>n fi Aqa>id al-Ima>n. Pemikiran tentang sifat Allah dipengaruhi oleh pemikiran Asy’ariyah, seperti Baqillani, al-Juwaini, al-Ghazal, Imam Sanusi dan lain-lain,  demikian juga tentang persoalan kasab atau iktisa>b. Dengan demikian Syekh Muhammad Zain disebut sebagai Asy’ariyah. Penggunaan ayat-ayat Alquran sebagai argumen untuk menjelaskan tentang sifat-sifat Allah, intensitasnya  relatif sama dengan penggunaan logika. Sehingga kesejajaran antara logika dan wahyu yang digunakan oleh Syekh Muhammad Zain dapat dilihat melaui karya-karyanya tersebut. Ayat-ayat yang digunakannya sesuai dengan ulama-ulama tafsir baik klasik  maupun kontemporer. Penggunaan takwil sebagai metode yang digunakan oleh aliran khala>f untuk menjelaskan ayat-ayat mutasya>biha>t, dilakukan oleh Syaikh Muhmmad Zain. Karena dia menganggap dengan metode ini masyarakat awam akan lebih mudah memahami tentang sifat-sifat Allah. Tentu saja penggunaan takwil disini yang memenuhi kriteria yang dibenarkan, sehingga tidak menyalahi ketentuan Alquran maupun sunnah.Kata Kunci: Tafsir, Argumen, Relatif, Wahyu
PERAN AYAH DALAM PROSES PERTUMBUHAN ANAK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Winceh Herlena
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.7939

Abstract

Artikel ini membahas tentang pandangan al-Qur’an terhadap peran ayah dalam proses perkembangan anak. Adapun yang menjadi fokus  kajian dalam penelitian ini adalah mengupas ayat-ayat Al-qur’an yang berkaitan dengan peran ayah dalam keluarga. Selain itu, artikel ini juga akan menggambarkan kisah ayah dalam Al-qur’an. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis dengan menggunakan pendekatan paradigma tafsir klasik-kontemporer. Dari analisis yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa: pertama, al-Qur’an menunjukkan peran yang seharusya diaplikasikan oleh seorang ayah dalam proses perkembangan anak-anaknya, salah satunya dengan memantau dan mengontrol keseharian anak, menanamkan nilai-nilai pendidikan, membangun kedekatan dan komunikasi yang baik bersama anak, dan memberi dukungan serta arahan yang baik. Kedua, beberapa ayat dalam al-Qur’an menggambarkan peran ayah yang memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya, sehingga cara tersebut relevan untuk diaplikasikan dalam konteks kekinian. Sosok ayah yang dimaksud adalah Luqman, Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, dan Nabi Ya’qub.
SIMBOLISASI WARNA DALAM AL-QUR’AN ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE Hamdan Hidayat
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.8232

Abstract

Abstract This article aims to discuss the symbolization of colors in the al-Qur'an's Charles Sanders Pierce's semiotic analysis using the thematic interpretation theory pioneered by Abdul Hay al-Farmawi. Through this thematic interpretation theory found 6 colors found in the Koran, namely red, yellow, green, blue, black, and white scattered in 33 verses contained in 22 letters by mapping the results of research using thematic techniques. The results of color research in the Qur'an are expressions that are marked with color in various forms of lafadz as a symbol to describe certain objects in a situation, situation, place, and nature of the object. First, red as a symbol of the beauty of nature. Second, yellow is a symbol of the image of humans in the world. Third, green as a symbol of a fertile earth. Fourth, blue as a symbol of the human condition on the Day of Judgment. Fifth, black as a symbol of human images on the Day of Judgment. Sixth, white as a symbol of human image when in heaven. The existence of this article shows that color is a simple but meaningful symbol hidden in the Qur'an which needs to be studied.Abstrak Artikel ini bertujuan membahas simbolisasi warna dalam al-Qur’an analisis semiotika Charles Sanders Pierce dengan menggunakan teori tafsir tematik yang dipelopori oleh Abdul Hay al-Farmawi. Melalui teori tafsir tematik ini ditemukan 6 warna yang terdapat dalam al-Qur’an, yaitu merah, kuning, hijau, biru, hitam, dan putih yang tersebar pada 33 ayat terkandung dalam 22 surat dengan memetakan hasil dari penelitian menggunakan teknik tematik. Hasil dari penelitian warna dalam al-Qur’an terdapat ungkapan-ungkapan yang ditandai dengan warna dalam berbagai macam bentuk lafadz sebagai simbol untuk menggambarkan objek tertentu pada suatu keadaan, situasi, tempat, dan sifat dari objek. Pertama, merah sebagai simbol gambaran keindahan alam. Kedua, kuning sebagai simbol gambaran manusia didunia. Ketiga, hijau sebagai simbol gambaran bumi yang subur. Keempat, biru sebagai simbol gambaran keadaan manusia pada hari kiamat. Kelima, hitam sebagai simbol gambaran manusia pada hari kiamat. Keenam, putih sebagai simbol gambaran manusia ketika berada di surga. Dengan adanya artikel ini menunjukkan bahwa warna adalah sebagai simbol yang sederhana namun bermakna yang tersembunyi dalam al-Qur’an yang perlu dikaji. Kata Kunci : Simbol, Warna, Charles Sanders Pierce
UBUDIAH ACCORDING TO IMAM NAWAWI AL-BANTANI (W.1897 AD) IN THE BOOK OF MARAH LABID LI KASYFI MAKNA OF THE QURAN MAJID. Muzakkir Muzakkir; Arifinsyah Arifinsyah; Riza Faisal Husaini
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.11079

Abstract

AbstractThis study aims to describe the Ubudiah according to Imam Nawawi Al-Bantani (W.1897 AD) in the Book of Marah Labid li Kasyfi Makna of the Quran Majid. This type of research is a library research with a qualitative approach. The research method used is the method of interpretation that is tahlily method. The source of this research is the interpretation of Marah Labid li Kasyfi Makna of the Quran Majid, other commentaries and literature relating to ubudiah, while the data analysis technique is done using content analysis. The results of this study are Ubudiah is the servitude of a servant to His Rabb, which is a servant when worshiping Allah Almighty is not merely to get rewards, in order to avoid the fire of hell, but the goal is to worship Allah Almighty in order to get His pleasure . The meaning of ubudiah according to Shaykh Imam Nawawi Al-Bantani in the book of the Marah Labid Li Kasyfi Makna of the Quran Majid is mentioned in his interpretation that a servant is classified into three parts: a. There are servants who worship Allah only because of Allah. is a God worthy of worship, whether he is given favor or not blessed. b. There are servants who worship Allah SWT because they are given Favor by Allah. continously. c. There are servants who worship Allah. because there is fear in him. Ubudiah according to Imam Nawawi al-Bantani has very close relevance in daily life, both in the political, economic, social and tolerance fields
الإشكاليات اللغوية في ألفاظ القرآن الكريم (دراسة دلالية) nur rohmatul mufidah
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 3, No 1 (2020): VOL 3, NO 1 (2020): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i1.8147

Abstract

In fact, the Al-Qur'an sentence, although in accordance with the rules of Arabic grammar, there are differences the over rules, because the Al-Qur'an sentence contains information that is charming, detail and beautiful. Then, the different setting of sentences has the purpose and aim with the rules of Arabic. The sentence has a holy meaning and includes the Rabbani secret is a new sentence arrangement that has never been known in Arabic. And some Muslims collapse the rules between Arabic and Qur’an language, and what is different from understanding Arabic is considered a mistake, sometimes some Muslims misunderstand that in the arrangement of the Qur’an sentence there are language problems. From the information above, the author tries to explain some of the secrets and hidden wisdom behind this problem. Based on this background, researchers tried to examine the problem of language in the Qur'an which was discussed with semantic studies. To obtain scientific data, researchers used the literatures method with primary data sources in the form of several literatures and books such as the interpretation of Al-Zamakhsyari or Al-Alusi. Secondary data is data that supports primary data. The data of this study were obtained by descriptive method, namely collecting and analyzing related data sources which were followed up with analytical methods by analyzing data, examined through a semantic approach, namely the meaning of the language approach. The results of this discussion discuss four aspects of the problem in the Qur'an, namely the uncontinuity between ma'thuf and ma'thuf alaihi, between ifrod, tasniyah, and jama ', between na'at and man'ut, and ta'nis al-mudzakkar and tadzkir al-muannas, these problems basically do not violate the rules of language or Arabic grammar, and the Ulama 'Qur'an has explained in detail the wisdom of the structure of the text, and precisely because of the characteristics of the I'jaz the Qur'an can not only be understood from the grammatical aspect.Keywords: Language Problems, Grammar, Semantic Studies.
ANALISIS PANDANGAN AHMAD HASSAN TERHADAP NASAKH DALAM AL-QUR’AN Ahmad Zuhri; Jidin Mukti
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 4, NO 1 (2021): APRIL-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v4i1.11106

Abstract

AbstractThe knowledge of abrogation is a very important aspect in interpreting the verses of the Qur'an. The scholars agree on the application of arbitration in Islamic law. In an effort to accept the concept of intra-Qur'anic abrogation, experts have different opinions, some accept it and some reject it. One who rejects the existence of texts among the verses of the Qur'an which is the interpreter of the archipelago is Ahmad Hassan. Hassan's argument against the existence of nasakh in the Qur'an has similarities in several aspects with Rashid Rida. So that Hassan's argument pattern has a common ground with Abu Muslim Al-Isfahani's argument about texts in the Qur'an.
Al-Safah dalam al-Qur'an Ujang Ujang
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.8703

Abstract

Kata al-safah memiliki makna yang identik dengan bodoh. Sehingga dalam kata ini sering diartikan dengan orang-orang bodoh. Namun, di dalam ayat-ayat al-Qur’an, kata itu tidak selalu difahami dalam makna bodoh saja, tetapi juga mengandung makna berbagai sifat-sifat menyimpang pada sebagian orang. Sepuluh ayat yang menyebut kata ­al-safah mengandung tiga tema yang masing-masingnya juga memiliki sub tema tersendiri. Ketiga tema itu ialah karakter orang-orang bodoh, perbuatan orang-orang bodoh, dan bantahan terhadap tuduhan orang-orang bodoh.
MUNASABAH KISAH ASHABUL KAHFI DAN KISAH NABI MUSA DENGAN NABI KHIDIR DI Q.S AL-KAHFI MENURUT AL-BIQA'I ( ANALISIS KITAB NADZMU AL-DURAR FI TANASUB AL-AYAT WA AL-SUWAR ) Sahila Aidriva
Ibn Abbas : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir VOL 3, NO 2 (2020): OKTOBER-MARET
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/jia.v3i2.11080

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh metode tafsir munasabah pada kisah Ashabul Kahfi dan Nabi Musa dengan Khidir dalam surah Al-Kahfi menggunakan Kitab karya Al-Biqa’i. Penelitian bertujuan untuk memperdalam ilmu tentang munasabah dan mengetahui problematika ayat-ayat munasabah terkhususnya pada surah Al-Kahfi ayat 9-26 dan ayat 60-82. Metode yang digunakan yakni pendekatan kualitatif dan penelitian pustaka yakni penelitian kitab karya Al-Biqa'i dengan judul Nadzmu Al-Durar Fi Tanasub Al-Ayat Wa Al-Suwar secara primer.Adapun hasil penelitian tentang munasabah kisah Ashabul Kahfi dan pertemuan Nabi Musa dengan Khidir adalah : Pentingnya Menuntut Ilmu (Q.S Al-Kahfi : 60 dengan 66), Keyakinan/Keimanan (Q.S. Al-Kahfi: 10 dengan 16), Semua tindakan atas izin Allah (Q.S. Al-Kahfi : 24 dengan 69), Keilmuan Nabi Khidir yang memiliki Ilmu Laduni (Q.S. Al-Kahfi : 65 dengan Q.S Jin : 26-27).Kata Kunci : Munasabah, Ashabul Kahfi, Nabi Musa dan Nabi Khidir

Page 4 of 11 | Total Record : 106