cover
Contact Name
Raflis
Contact Email
raflisdrs@gmail.com
Phone
+628126632761
Journal Mail Official
mhdikhsan62@gmail.com
Editorial Address
Redaksi Jurnal Ilmiah Langue and Parole Gedung Fakultas Sastra, Universitas Ekasakti Jalan Veteran Dalam No.26, Padang, Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Published by Universitas Ekasakti
ISSN : 25810804     EISSN : 25811819     DOI : https://doi.org/10.36057
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Journal provides direct open access to its content with the principle that making research freely available to the public, supporting greater global exchange of knowledge. Jurnal Ilmiah Langue and Parole is an open access peer review peer review journal that publishes genuine articles or reviews. This journal focuses on Language, Literature and Linguistics.
Articles 196 Documents
Mandoa Sambareh Bulan Rajab Sebagai Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Padang Pariaman Dinda Puspita; Hasnul Fikri; Rahma Zakia; Rilo Gama Fadhli Rohim; Alif Luqmanul Mukmin
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.612

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Tradisi Mandoa sambareh di Padang Pariaman dan proses pembuatan sambareh dalam tradisi Mandoa sambareh di Padang Pariaman untuk meningkatkan minat generasi muda dalam menyantap makanan tradisional sambareh. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. metode sastra, yaitu dengan mengumpulkan berbagai bacaan dari sumber-sumber yang ada, kemudian dianalisis dan dipadukan dengan permasalahan yang dipertimbangkan. Bagi sebagian masyarakat setempat, bulan Rajab atau Sambareh juga mempunyai nama lain yaitu “bulan anak”, karena tujuan mereka melaksanakan tradisi ini adalah untuk mendoakan arwah orang yang meninggal seperti orang tua atau anak. Di Padang Pariaman, para pendeta yang mengaji diberi gelar Tuanku, Tuanku adalah orang yang memimpin salat atas nama orang yang mengamalkan tradisi tersebut. Tuanku ini biasanya ada di setiap desa dan diundang ke rumah-rumah penduduk untuk melakukan sambareh mula. Di Sambareh müla terdapat kitab doa khusus yang dibaca pada saat acara müla. Tidak seperti doa-doa kebanyakan karena di dalam buku ini terdapat bacaan khusus untuk berdoa dengan makanan sumbareh. Eksekusi Sambareh müla sendiri biasanya dilakukan pada malam hari, namun ada juga yang sore hari. Biasanya orang yang ingin salat terlebih dahulu menyiapkan sambareh di rumah. Setelah itu warga memanggil Tuanku untuk membacakan doa. Saat tuanku memasuki rumah warga, doa pun dipanjatkan. Sebelum mula tentu ada tujuannya, yang disebut “kaba”. Ka'bah sendiri biasanya merupakan ucapan kepada orang yang telah meninggal, kepada ladang kebaikan, untuk memperlancar rezeki seseorang, tentunya doa bulan kanak-kanak ini tidak luput dari doa ka'bah ini. Setelah selesai salat, tuan rumah mempersembahkan makanan seperti yang biasa dilakukan bagal, yaitu. nasi dan sambal. Ketika makan selesai, sambaraeh disajikan kepada Tuhan. Sambareh ini disajikan dengan saus cocolan. Setelah Sang Guru makan, Sang Guru mencicipi sambareh tersebut, Setelah itu Sang Guru pulang ke rumah, namun sebelum kembali Sang Guru juga menerima sedekah. Menurut kepercayaan masyarakat, sedekah bermanfaat untuk tabungan akhirat dan juga agar doa kita sampai dan diterima oleh Yang Maha Kuasa. Selain sedekah, Tuanku juga diberi sebungkus sambareh untuk dibawa pulang. Begitulah pelaksanaan tradisi sambareh müla yang masih eksis hingga saat ini. Tradisi ini terus berkembang di masyarakat. Karena masyarakat umum mengimani sambareh mula di bulan Rajab, hal ini dikaitkan dengan peristiwa penting bagi umat Islam yang juga terjadi di bulan tersebut. Walaupun bulan Rajab telah digantikan dengan bulan anak-anak atau Sambareh, namun bulan ini merupakan bulan yang dimuliakan, sehingga Padang Pariaman khususnya Padang Pariaman mempunyai tradisi tersendiri di bulan ini. Menurut mereka, Sunnah Nabi bisa kita penuhi dengan makanan, dan makanan tersebut merupakan simbol dalam tradisi. Kalau sekedar bagal, hari-hari biasa juga bisa, namun dengan semaraknya bulan Sambareh, masyarakat pun turut menghormatinya dengan menambahkan sambareh sebagai simbol datangnya bulan Rajab. Generasi muda kita kedepannya diharapkan tetap menjaga tradisi yang ada, karena tradisi seperti müla sambareh mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat. Generasi penerus kita hendaknya lebih memperhatikan tradisi karena tradisi bagal merupakan identitas Minangakabau dan Padang Pariaman, khususnya daerah Padang Pariaman. Tradisi ini harus selalu dilestarikan agar tidak punah.Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh diantara 12 bulan penanggalan Hijriah. Sering dikatakan bahwa bulan ini adalah bulan kebaikan, “bulan Allah” dan seterusnya. Keutamaan bulan Rajab yang sering disebutkan yaitu puasa 7 hari di bulan Rajab menutup pintu neraka dan puasa 8 hari membuka 8 pintu surga. Di daerah Padang Pariaman, bulan Rajab sering disebut dengan bulan Sambareh. Sambareh adalah makanan yang terbuat dari tepung beras atau disebut juga serabi. Bagi sebagian masyarakat setempat, Bulan Rajab atau Bulan Sambareh juga disebut dengan nama lain “Anak Kanak Bulan” karena tujuan mereka melaksanakan tradisi ini adalah untuk mendoakan mereka. arwah yang telah meninggal seperti orang tua atau anak yang telah meninggal.
Kearifan Lokal Budaya Mandi Balimau di Minangkabau Dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan Rahmat Fajri; Syofiani Syofiani; Atika Amelia Sari; Junaidial Junaidial; Muhammad Fadhil Athallah
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.613

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji mengenai budaya mandi balimau di minangkabau dalam menyambut bulan suci ramadhan. Penelitian ini merupakan penelitian yang mengunakan metode kajian literature dan dititik beratkan pada penggunaan data sekunder berupa jurnal, website, ertikel ilmiah yang berhubungan dengan objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Budaya Mandi Balimau di Minangkabau merupakan tradisi yang kaya akan makna dan nilai, terutama dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Mandi balimau bukan sekadar mandi fisik, tetapi juga ritual yang mempunyai nilai spiritual yang dalam. Ritual ini dipercayai sebagai sarana untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, menjadikan pikiran lebih tenang, serta mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual untuk memasuki bulan Ramadhan dengan hati yang suci
Upacara Turun Mandi di Pariaman Lutvia Azzahara; Muslim Muslim; Tessa Malina Hanifah; Izmy Izhoiry; Zikra Maulana Matin
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.614

Abstract

Minangkabau terkenal dengan budaya-budaya nenek moyang yang sangat beragam. Budaya budaya tersebut telah ada dari zaman dahulu kala dan terus berkembang di masyarakat. Kebudayaan yang ada tersebut menjadi ciri dan keunikan tersendiri bagi suatu daerah. Dengan adanya suatu kebudayaan atau tradisi disuatu daerah akan menjadikan daerah tersebut lebih berwarna dalam system social masyarakatnya. Kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat akan mencerminkan tingkah laku, sikap dan sekaligus mencerminkan kepribadian masyarakat di suatu daerah. Sudah semestinya kita sebagai masyarakat yang ada didaerah tersebut menjaga dan melestarikan kebudayaan setempat. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, tradisi-tradisi yang ada sudah tergerus, salah satunya yaitu tradisi upacara turun mandi. Upacara turun mandi salah satunya terdapat di Pariaman, Sumatera Barat. Upacara ini sangat kompleks mulai dari sejarah dan tata cara pelaksanaannya serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Tradisi ini dikhawatirkan akan tergerus dan bahkan dapat hilang dari daerah tersebut. Oleh karenanya tradisi-tradisi seperti ini harus dilestarikan keberadaannya oleh kita sebagai bangsa Indonesia. Artikel ini dibuat untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai apa itu upacara turun mandi, bagaimana tata cara pelaksanaannya serta nilai-nilai yang terdapat pada upacara turun mandi. Upacara turun mandi ini merupakan tradisi yang terdapat di Sumatera Barat sebagai bentuk syukur masyarakat minang terhadap Allah SWT atas nikmat yang diberikan, yaitu berupa seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Tradisi ini juga sebagai tanda atau simbol bahwa dari sebuah suku atau keluarga telah lahir keturunan baru. Pelaksanaan upacara turun mandi diawali dengan membersihkan rumah sebelum acara dimulai untuk menerima tamu dan menciptakan suasana bersih dan nyaman bagi anak, kemudian dilanjutkan dengan memandikan bayi dengan air yang dicampur berbagai rempah-rempah yang dipercaya mampu membersihkan dan melindungi bayi, lalu orang tua akan membacakan doa untuk anak tersebut untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan bagi sang anak, selanjutnya bayi tersebut diberi nama oleh para tetua adat, dan tahap terakhir yaitu para tamu mengucapkan selamat kepada keluarga bayi tersebut yang biasanya perayaan tersebutakan dihidangkan makanan dan minuman. Upacara turun mandi memiliki nilai-nilai religious, social budaya serta nilai-nilai pendidikan. Upacara ini selain sebagai bentuk syukur karena mendapat keturunan baru juga tujuan utamanya untuk memperkenalkan dan menjalin silaturahmi dengan masyarakat setempat. Membawa bayi keluar dari rumah juga akan mengenalkan anak pada alam sekitar, sehingga pihak keluarga berharap ketika anak tumbuh besar, ia akan mengenal alam, dapat hidup dengan alam serta menikmati banyak atraksi alam atau dalam filosofi Minang dikenal dengan “Alam Takambang jadi Guru”.
Larangan Pernikahan Sesuku di Minangkabau Fauzan Al Amin; Syofiani Syofiani; Arif Rahmat; Fidya Novita; Laras Sandi
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.615

Abstract

Minangkabau adalah salah satu suku budaya yang ada di Indonesia. Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal, yaitu mengambil garis keturunan ibu. Dalam sistem matrilineal, masyarakat Minangkabau harus menikah dengan orang luar sukunya. Oleh sebab itu artikel ini akan membahas tentang pelaksanaan perkawinan adat pada masyarakat Minangkabau sudah sesuai dan tidak melanggar hukum adat setempat, pelaksanaan perkawinan adat sesuku di masyarakat Minangkabau, perkawinan ini adalah perkawinan yang dilarang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum sosiologis, yang menekankan pada penelitian yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan hukum secara empiris dengan langsung menuju pada tujuannya. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa pelaksanaan pernikahan adat pada masyarakat Minangkabau berlangsung melalui beberapa proses upacara adat yang melibatkan tetua adat dan tokoh adat. Prosesi pernikahan disebut Baralek. Begitu juga perkawinan sesama suku, atau perkawinan yang dilarang oleh adat, juga melibatkan beberapa prosesi yang melibatkan para tetua dan tokoh adat ketika dilakukan perundingan untuk mencari solusi bagi pelaku perkawinan sesama suku. Selain itu, pelaku perkawinan sesuku akan dikenakan sanksi sesuai adat setempat, seperti pengusiran sepanjang adat oleh penghulu suku, pengucilan dari masyarakat, hingga pembayaran denda sesuai kesepakatan.
Eksistensi Budaya Tabuik di Kalangan Generasi Milenial di Kota Pariaman Ahmad Raihan; Romi Isnanda; Dika Prima Sukma D; Faridz Adli; Khasih Qalbu Z; Nurul Hidayah
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.616

Abstract

Tradisi adalah kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi memberikan aturan tentang apa yang dianggap benar dan salah oleh masyarakat. Tabuik adalah warisan budaya yang telah ada di Pariaman selama dua abad yang lalu. Ini adalah ritual atau upacara adat. Tabuik adalah perayaan tahunan masyarakat Pariaman yang diadakan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Diadakan untuk mengingat kematian Husein Bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW, di Padang Karbela, yang ditunjukkan dengan usungan keranda Tabuik sebagai simbol jasad Husein. Persiapan, pelaksanaan, dan penyelenggaraan upacara melibatkan banyak orang.Studi ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan partisipasi generasi muda dalam melestarikan tradisi Tabuik dari Pariaman, Sumatera barat. Tradisi ini telah menjadi warisan turun temurun yang dilakukan setiap tahun. Selain itu, untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang kepekaan generasi muda terhadap pengetahuan tentang kebudayaan dan adat istiadat lain di Sumatera Barat. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori struktur fungsional dan teori peran. Menurut teori fungsionalitas, masyarakat memiliki sistem sosial yang saling berhubungan. Menurut teori peran, perubahan cara berpikir generasi muda menyebabkan perbedaan, sehingga hak dan kewajiban harus dilaksanakan sesuai dengan fungsinya masing-masing.elas bahwa partisipasi generasi muda sangat penting dalam pelestarian dan pengembangan suatu budaya. Perananan generasi muda dapat membantu kemajuan negara. Keikutserataan generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan tradisi Tabuik dapat memastikan bahwa perayaan Tabuik akan tetap ada dan tidak akan hilang oleh kemajuan zaman.
Filosofi Nilai Budaya Matrilineal di Minangkabau dan Hubungannya Dengan Pengembangan Hak-Hak Perempuan di Indonesia Syarah Zulkifli; Syofiani Syofiani; Farhan Julyansyach; Idul Febrianda
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.617

Abstract

Suku Minangkabau di Barat Sumatera dikenal dengan struktur sosial matrilineal, di mana garis keturunan dan warisan diturunkan melalui jalur ibu. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh sistem matrilineal terhadap kehidupan sehari-hari, struktur keluarga, dan peran perempuan di dlam masyarakat Minangkabau. Terdapat penekanan pada relevansi perspektif feminisme, mengungkapkan pergeseran dinamika gender, potensi pemberdayaan perempuan, dan tantangan dalam mencapai kesetaraan gender. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman mengenai keragaman budaya, sistem sosial, dan perjuangan gender dalam konteks lokal Minangkabau.
Tato Tubuh Sebagai Ekspresi Kepercayaan di Mentawai Putri Amini Naser; M Nursi; M.Rolanda Razaqu; Siti Nofrianti; Yunda Amelia
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.618

Abstract

Tato tubuh di kalangan masyarakat Mentawai, sebuah kelompok etnis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia, memiliki peran penting sebagai ekspresi kepercayaan, identitas budaya, dan warisan sejarah. Eksistensi budaya tato Mentawai di Sumatera Barat zaman sekarang yang semakin modren menjadi pertanyaan sebagai kalangan. Kebudayaan tato yang kuat akan asal usulnya dibudayakan secara turun temurun apakah masih diteruskan oleh anakmuda zaman sekarang ini? Proses penatoan yang masih menggunakan teknik, alat, dan bahan yang masih tradisional mungkin menjadi salah satu alasan anak muda sekarang. Kaum anak muda lebih tertarik dengan motif dan teknik tato yang lebih modern, disisi lain sejak dikeluarkan melalui SK No.167/PROMOSI/1954 yang memerintahkan suku Mentawai meninggalkan tradisi tato dan kepercayaan mereka, Arat Sabulungan. Masyarakat Mentawai mulai meninggalkan kebudayaan tersebut dan membangun kehidupan mengikutin zamannya. Namun kebudayaan tato itu sendiri telah menjadi identitas Mentawai yang telah banyak dikenal oleh rakyat Indonesia melalui asal usul, teknik, motif, alat, dan bahan yang digunakan dalam proses tersebut memiliki keunikan tersendiri bagi masyarakat Mentawai. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari informasi mengenai tato Mentawai dari asal-usul hingga keberadaan tato saat ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan secara studi literatur. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara utuh. Hasil yang kemungkinan ditemukan adalah penerimaan diri, merasa setara dengan orang lain, konsep diri yang dibangun, dan sisa- sisa keberadaan tato yang tidak lagi dibudayakan.Melampaui sekadar ornamen tubuh, tato-tato ini menyimpan makna mendalam yang merangkum simbolisme budaya, kepercayaan spiritual, dan identitas kelompok. Dalam tradisi Mentawai, tato tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga sarana komunikasi dengan dunia spiritual, perlindungan dari roh jahat, dan penanda status sosial. Proses inisiasi dan pematangan seringkali dihubungkan dengan pemberian tato, menambah dimensi simbolis dalam perjalanan hidup individu. Tradisi lisan turut memainkan peran penting dalam mempertahankan dan meneruskan pengetahuan tentang makna tato dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sementara tato Mentawai mempertahankan nilai-nilai tradisional, dampak globalisasi dan perubahan sosial memberikan tantangan serta peluang untuk memahami dan melestarikan kekayaan budaya ini. Penghormatan terhadap tato Mentawai bukan hanya sebagai seni visual, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai dan cerminan dari perjalanan sejarah masyarakat yang unik ini.
Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau Sebagai Pedoman Dalam Berkomunikasi Muhammad Reihan; Gusnetti Gusnetti; Wanda Mahararani; Zahran Ulima
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.619

Abstract

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber-sumber data diperoleh dari sumber prier maupun sekunder. Tulisan ini fokus kepada Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau. Kato nan ampek telah memberikan ajaran dan aturan dalam berkomunikasi kepada lawan yang diajak berbicara, seperti antara mamak dan kemenakan, antara menantu dan mintuo, dan antara anak kepada orang tuanya. Adapun permasalahan yang dibahas adalah mengenai tuturan orang Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi falsafah hidup suku Minangkabau, nilai-nilai yang ditanamkan dalam kato nan ampek yaitu sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW yang mana ajaran tersebut sangat berpengaruh kepada umat Islam, adapun nilai-nilainya, nilai malu, nilai parreso, nilai raso, dan nilai sopan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, seperti: merujuk pada buku-buku, skripsi, jurnal, dan internet yang membahas tentang kato nan ampek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami dan mengetahui tentang Etika Kato Nan Ampek Dalam Budaya Minangkabau. Adapun hasil penelitiannya, kato nan ampek menjadi falsafah orang Minangkabau. Bahwa sistem ini lahir dari hubungan antara perkawinan dan juga ada hubungan keluarga dan hubungan antara kerabat. Hal ini juga bermaksud agar antara pihak saling mengerti dan mengetahui tatakrama dan sopan santun dalam bertindak tutur.
Tradisi Upacara Basela Sebagai Kearifan Lokal Suku Anak Dalam (SAD) Jambi Dalam Mempertahankan Kultur di Era Globalisasi Novi Franciska; Pebriyenni Pebriyenni; Kurrota Aini; Dinda Nadya Qhotrunnada
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.620

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya dan setiap daerah mempunyai kearifan lokal yang berbeda-beda. Provinsi Jambi merupakan daerah yang memiliki banyak keanekaragaman budaya dan tradisi. Keberagaman budaya tersebut dapat ditunjukkan oleh beberapa suku di Jambi, antara lain suku Melayu, suku Kerinci, suku Batin, suku Senghulu, suku Anak Dalam (Kubu), dan suku nomaden. Salah satu suku yang paling populer adalah suku Anak Dalam atau sering disebut dengan suku Kubu. Suku Anak Dalam merupakan suku khas yang ada di Provinsi Jambi. Mereka tergolong minoritas dan mempunyai tradisi unik dalam mengobati penyakit, yakni melalui upacara Basela. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali sejarah dan nilai upacara Basela sebagai metode penyembuhan tradisional serta melestarikan kearifan lokal yang terkandung dalam budaya Basela di era globalisasi ini. Dalam pelaksanaannya menggunakan metode penelitian atudy literatur atau penelitian terdahulu seperti artikel, jurnal, buku, dan lain-lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Basela merupakan warisan budaya yang ditujukan untuk pengobatan non medis dan bentuk doa bagi suku Anak Dalam menghindari bencana. Komunitas batin suku Anak Dalam masih mempertahankan tradisi tersebut hingga saat ini karena mereka sangat memahami nilai-nilai kepercayaan Aimisme.
Cultural Values in Idiomatic Expression of Jambi Malay Language Bungo Malay Dialect: Antropholinguistics Perspective Dodi Oktariza; Dedi Efendi
Jurnal Ilmiah Langue and Parole Vol. 7 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Langue and Parole
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36057/jilp.v7i1.625

Abstract

This research is aimed to describe cultural values that found in the idiomatic expressions of Jambi Malay Language Bungo Malay dialect Then, the research is conducted through several steps, namely, collecting data, analyzing, and presenting the result of data analysis. The methods chosen in collecting data were observational and conversational method, by applying some techniques such as non participant observational technique, note taking technique, elicitation, and recording technique. Then, in analyzing technique, the writer used descriptive qualitative approach by using contextual analysis method in order to explain the cultural values from the expressions. Moreover, the writer used informal method for presenting the result of analysis. The result of research shows that the expressions of idiomatic from the Jambi Malay Language Bungo Malay dialect contain cultural values that have been developed in the society, especially for Jambi Malay speakers that categorized into good and bad values. Besides, the idiomatic expressions that used by Jambi Malay Language Bungo Malay dialect also contains ethics, moral, and politeness