cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
JPSCR : Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research
ISSN : -     EISSN : 2503331x     DOI : -
Core Subject : Health, Social,
Journal of Pharmaceutical Science And Clinical Research (e-ISSN 2503-331x) offers a forum for publishing the original research articles, review articles from contributors, and the novel technology news related to pharmaceutical science and clinical research. Scientific articles dealing with natural products, pharmaceutical science-industry and clinical research, etc. are particularly welcome. The journal encompasses research articles, original research report, reviews, short communications and scientific commentaries pharmaceutical science and clinical research including: bioactive products, chemotaxonomy, chemistry, ecological biochemistry, metabolism, pharmacy management, pharmacoeconomics, pharmacoepidemiology, clinical pharmacy, community pharmacy, pharmaceutical social and pharmaceutical industry.
Arjuna Subject : -
Articles 105 Documents
Eksplorasi Potensi Antidiabetes Gynura procumbens: Analisis Bibliometrik Berbasis Data Scopus Faisal Nur Arib; Aditya Nurul Chotimah; Kintoko Kintoko; Nina Salamah
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i3.98143

Abstract

Gynura procumbens (Lour.) Merr., tumbuhan tropis dari famili Asteraceae, telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit. Studi praklinis menunjukkan potensi G. procumbens sebagai agen antidiabetes, yang relevan dengan tren peningkatan kasus diabetes melitus (DM) secara global. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perkembangan riset praklinis G. procumbens sebagai agen antidiabetes melalui analisis bibliometrik berbasis data Scopus. Sebanyak 23 artikel terpilih (2000–2024) dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Analisis meliputi pemetaan tren publikasi, jaringan keterkaitan kata kunci (keyword co-occurrence), distribusi negara dan institusi, artikel paling berpengaruh, hubungan referensi bersama (bibliographic coupling), dan kutipan bersama (co-citation). Hasil menunjukkan peningkatan tren publikasi sejak tahun 2000, dengan Malaysia sebagai kontributor utama, khususnya Universiti Sains Malaysia. Tema utama mencakup efek hipoglikemik, mekanisme molekuler, identifikasi senyawa aktif, serta potensi unik dalam meningkatkan fertilitas pada kondisi DM—suatu arah riset yang jarang ditemukan pada agen antidiabetes lain. Perkembangan penelitian bergerak dari studi ekstrak kasar menuju formulasi inovatif seperti nanopartikel. Analisis bibliographic coupling dan co-citation mengungkap keterkaitan antar tema, membentuk empat klaster utama yang saling beririsan. Studi ini mengidentifikasi celah penting, termasuk kurangnya data toksikologi kronis dan profil farmakokinetik. Temuan pada penelitian ini menegaskan G. procumbens sebagai kandidat terapi antidiabetes berbasis bukti ilmiah, dengan peluang pengembangan pada terapi komplikasi reproduksi akibat DM. Temuan ini menyediakan peta tematik yang dapat dimanfaatkan peneliti untuk merancang studi multidisiplin, mempercepat pemahaman mekanisme kerja, dan mendorong pengembangan formulasi G. procumbens yang efektif dan aman untuk aplikasi klinis.
Analisis Efektivitas Biaya Terapi Tiotropium Bromide Dibandingkan dengan Salmeterol/Fluticasone Propionate pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di RSUD Tabanan Sagung Chandra Yowani; Yayanasri Yayanasri; Rasmaya Niruri; Rini Noviyani
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i2.94437

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyakit progresif yang membutuhkan terapi jangka panjang dengan bronkodilator. Dua terapi yang banyak digunakan adalah golongan long-acting muscarinic antagonists (LAMA) yaitu Tiotropium Bromide (Spiriva®) dan kombinasi long-acting β2 agonist (LABA) dengan inhaled corticosteroids (ICS) yaitu Salmeterol/Fluticasone Propionate (Seretide®). Studi untuk menganalisis perbedaan efektivitas dan biaya antara kedua terapi tersebut perlu dilakukan. Tujuan dari studi ini adalah membandingkan nilai ICER Tiotropium Bromide dengan Salmeterol/Fluticasone Propionate. Penelitian cross-sectional dengan teknik purposive sampling diterapkan dalam penelitian ini, dimana data kejadian rawat inap, peresepan salbutamol, dan biaya medis yang diperoleh dari catatan rekam medis pasien PPOK rawat jalan pada Januari 2022 – Desember 2023 di RSUD Tabanan, yang selanjutnya dianalisis menggunakan metode analisis efektivitas biaya untuk mendapatkan nilai ICER. Diperoleh 77 sampel yang mendapatkan terapi Tiotropium Bromide dan 107 sampel dengan terapi Salmeterol/Fluticasone Propionate. Total biaya medis pada kelompok terapi Tiotropium Bromide adalah Rp919.925.338,00 dan pada kelompok terapi Salmeterol/Fluticasone Propionate adalah Rp372.639.863,00. Sementara itu, 8 dari 77 sampel pada kelompok terapi Tiotropium Bromide dan 4 dari 107 sampel pada kelompok terapi Salmeterol/Fluticasone Propionate mengalami rawat inap, sedangkan 5 dari 77 sampel pada kelompok terapi Tiotropium Bromide dan 6 dari 107 sampel pada kelompok terapi Salmeterol/Fluticasone Propionate diresepkan Salbutamol saat kunjungan rutin ke dokter. Berdasarkan data tersebut, diperoleh nilai ICER sebesar (-Rp16.096.631,6) untuk parameter kejadian rawat inap dan (-Rp18.871.912,9) untuk parameter peresepan Salbutamol. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa Salmeterol/Fluticasone Propionate adalah cost-effective dibandingkan dengan Tiotropium Bromide. 
Evaluasi Formulasi Mikrokapsul Transfersom Ekstrak Etanol 96% Jahe Merah (Zingiber officinale var. rubrum) Yulius Evan Christian; Riky Suhardin
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i3.98011

Abstract

Jahe merah merupakan salah satu jenis jahe dengan rasa dan aroma khas. Gingerol adalah metabolit utama dalam jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) yang memiliki aktivitas farmakologis. Namun, senyawa ini memiliki keterbatasan berupa stabilitas rendah dan kelarutan air yang terbatas. Mengatasi keterbatasannya, digunakan sistem penghantaran seperti mikrokapsul transfersom guna meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi formula transfersom serta mikrokapsul transfersom ekstrak jahe merah guna meningkatkan stabilitas, bioavailabilitas, dan efisiensi penjerapan gingerol. Mikrokapsul transfersom memiliki vesikel fleksibel yang mampu meningkatkan stabilitas dan bioavailabilitas gingerol yang sensitif terhadap suhu dan pH. Dibandingkan metode penghantaran lain, transfersom lebih efektif mengatasi keterbatasan gingerol. Transfersom dibuat dengan metode hidrasi lapis tipis menggunakan variasi perbandingan fosfolipid dan Span 80 (6,5:3,5; 7,0:3,0; 9,0:1,0). Masing-masing formula diuji karakteristik fisikokimianya: ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, morfologi, dan efisiensi penjerapan. Formula terbaik dipilih berdasarkan kestabilan penyimpanan selama 7 hari dan parameter fisik sesuai standar nanopartikel, lalu dimikroenkapsulasi dengan metode spray drying menggunakan maltodekstrin (7,2%) dan gom arab (4,8%) sebagai bahan penyalut. Spray drying digunakan karena waktu paparan panas singkat dan suhu dapat dikendalikan agar tidak melebihi ambang stabilitas gingerol. Maltodekstrin dan gom arab melindungi gingerol dari degradasi panas sehingga tetap stabil. Karakteristik transfersom menunjukkan morfologi sferis, ukuran partikel 261,8 nm, indeks polidispersitas 0,470, zeta potensial -49,9 mV, dan efisiensi penjerapan 77,09%. Mikrokapsul memiliki morfologi sferis, ukuran partikel 433,76 nm, indeks polidispersitas 0,403, zeta potensial -32,2 mV, dan efisiensi penjerapan 93,85%. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah dapat diformulasikan menjadi transfersom dan mikrokapsul transfersom yang memenuhi kriteria nanopartikel, yaitu ukuran <500 nm, indeks polidispersitas <0,5, zeta potensial <-30 mV, dan efisiensi penjerapan >70%.
Narrative Review: Kandungan Senyawa Sekunder dan Aktivitas Antibakteri Spesies Pepaya (Carica papaya) dan Carica (Vasconcellea pubescens) Nur Anisa Rahma; Diniatik Diniatik; Ika Yuni Astuti
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i2.87821

Abstract

Famili Caricaceae terdiri dari sekitar 35 spesies dalam 6 genus, termasuk Carica papaya dan Vasconcellea pubescens yang banyak dibudidayakan. Berbagai bagian tumbuhan seperti biji, buah, kulit, daun, dan akar mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang berpotensi sebagai antibakteri. Artikel ini bertujuan mengkaji kandungan senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri dari C. papaya dan V. pubescens. Kajian disusun sebagai narrative review berdasarkan 134 artikel yang disaring melalui kriteria inklusi dan eksklusi, menghasilkan 20 artikel untuk dianalisis secara deskriptif. Aspek yang ditinjau meliputi spesies tanaman, bagian yang digunakan, senyawa aktif, metode uji antibakteri, dan efektivitasnya. Sumber berasal dari jurnal nasional dan internasional. Hasil review menunjukkan bahwa daun dan biji merupakan bagian paling sering dimanfaatkan sebagai antibakteri. Kandungan senyawa aktif meliputi fenolik, flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Metode uji antibakteri yang digunakan antara lain difusi agar (sumur dan cakram), uji kertas disk, pelat racun, dan metode spread plate. Bakteri yang dihambat mencakup gram positif (Bacillus cereus, B. subtilis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Clostridium perfringens, Corynebacterium diphtheriae, Listeria monocytogenes) dan gram negatif (Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella enteritidis, S. typhimurium, Shigella sonnei, Vibrio parahaemolyticus, V. vulnificus).
Therapeutic Potential of White Sweet Potato Peel in Enhancing Insulin Production and The Proliferation of Beta Cells in Diabetic Rats Aan Royhan; Rina Susilowati; Sunarti Sunarti
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v11i1.94516

Abstract

Diabetes mellitus (DM) affects approximately 422 million people worldwide, predominantly in low- to middle-income countries, and is associated with increasing morbidity and mortality. The long-term use of conventional antidiabetic drugs may cause adverse effects, prompting interest in natural therapeutic alternatives. This study aimed to evaluate the effects of white sweet potato peel (WSPP) on glycemic control, insulin expression, and pancreatic beta-cell proliferation in streptozotocin-induced diabetic rats. Male Wistar rats were divided into five groups: diabetic control, diabetic rats treated with WSPP at doses of 400, 800, and 1600 mg/kgBW/day, and non-diabetic controls. Diabetes was induced by a single intraperitoneal injection of streptozotocin (60 mg/kgBW). Fasting blood glucose (FBG) levels were measured at baseline and during treatment. Pancreatic tissues were analyzed using immunohistochemistry to assess insulin expression, Langerhans islet area, and beta cell proliferation using anti-insulin and anti-PCNA antibodies. WSPP administration resulted in a significant, dose-dependent reduction in FBG levels compared to diabetic controls (p < 0.05). The highest dose (1600 mg/kgBW/day) reduced FBG from approximately 250 mg/dL to 72.22 mg/dL after four weeks (p < 0.01), reaching the normal range. Immunohistochemical analysis demonstrated significant increases in insulin expression scores, Langerhans islet area, and the percentage of PCNA-positive cells in the 800 and 1600 mg/kgBW/day groups compared to untreated diabetic rats. At the highest dose, these parameters approached those observed in non-diabetic controls, indicating substantial restoration of pancreatic islet structure and function. In conclusion, WSPP improves glycemic control and promotes beta-cell proliferation in diabetic rats, highlighting its potential as a natural, cost-effective therapeutic strategy for diabetes management.
Pola Resistensi Bakteri Penyebab Ulkus Diabetikum terhadap Antibiotik di Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Surakarta Iin Novita Nurhidayati Mahmuda; Devi Usdiana Rosyidah; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; Yulia Intan Kania; Ishmah Nur Faizah; Fathiyya Noor Afifah; Andri Sugeng Prasetyo
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i1.85091

Abstract

Infeksi ulkus diabetikum termasuk sebuah komplikasi lanjutan dari diabetes melitus yang masih terus meningkat kasusnya. Apabila belum ditangani secara cepat akan memperlaju tingkat keparahan infeksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola resistensi bakteri penyebab ulkus diabetikum terhadap antibiotik pada pasien ulkus diaetikum. Jenis penelitian menggunakan deskriptif observasional. Sistem kompak VITEK 2 digunakan untuk identifikasi bakteri dan pengujian kerentanan antimikroba sesuai petunjuk. Kemudian, suspensi untuk inokulasi kartu AST GP 71 yang digunakan untuk uji kerentanan obat dilakukan dengan memindahkan 280µL suspensi kultur dari suspensi pertama ke dalam 3mL larutan garam steril untuk memperoleh kekeruhan akhir 10 CFU/mL. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 11 jenis bakteri teridentifikasi dari spesimen pus, didapatkan hasil bahwa Staphylococcus aureus dan Eschericia coli mendominasi bakteri terbanyak.
Pengaruh Penggunaan Pati Karboksimetil Umbi Keladi (Colocasia esculenta L.) sebagai Bahan Penghancur pada Sediaan Tablet Paracetamol Sri Sulistiana Sulaiman; Armini Syamsidi; Asriana Sultan; Mifta Sari Yuninda
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i3.104465

Abstract

Pati karboksimetil (CMS) umbi keladi berpotensi sebagai bahan penghancur tablet. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik fisik CMS, sifat granul, serta pengaruh variasi konsentrasi CMS terhadap waktu hancur tablet dibandingkan dengan pati alami dan disintegran komersial. CMS diperoleh melalui metode karboksimetilasi. Evaluasi karakteristik CMS yaitu kekuatan pengembangan, bulk density, tapped density, sifat alir (Rasio hausner), kompresibilitas (Indeks Carr), serta sudut diam. Tablet dibuat dengan metode granulasi basah menggunakan variasi: F0 (Pati alami 5%), F1 (CMS 0,5%), F2 (CMS 1%), F3 (CMS 2%), F4 (CMS 3%), dan F5 (Sodium Starch Glycolate (SSG) 2%). Evaluasi granul meliputi laju alir dan sudut diam, sedangkan evaluasi tablet meliputi keseragaman bobot, kerapuhan, kekerasan, waktu hancur, dan disolusi. Hasil karakteristik fisik menunjukkan CMS memiliki sifat yang lebih baik dibandingkan pati alami. Dengan perbandingan CMS dan pati alami sebagai berikut, kekuatan pengembangan 20,23 g/g dan 6,41 g/g, bulk density 0,5 g/mL dan 0,36 g/mL, tapped density 0,61 g/mL dan 0,55 g/mL, sifat alir 1,19 dan 1,53, kompresibilitas 16,43% dan 35,48%, serta sudut diam 19,66º dan 32,66º. Seluruh formula granul menunjukkan sifat alir baik. Evaluasi tablet menunjukkan formula F1–F5 memenuhi persyaratan farmakope. Formula F2 (CMS 1%) dipilih sebagai formula terbaik dengan keseragaman bobot 464 mg, kerapuhan 0,8%, kekerasan 5,98 kg, waktu hancur 3,82 menit, dan disolusi 95,88%. Dengan demikian, CMS 1% dinilai sebagai konsentrasi optimum sebagai penghancur tablet karena menghasilkan tablet dengan sifat fisik yang baik dan memiliki efektivitas penghancuran yang baik.
Hubungan Riwayat Asupan Suplemen Mikronutrien Ibu Selama Kehamilan dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas X Kota Jambi Jelly Permatasari; Deny Sutrisno; Nurmillah Tul Sa'diah
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 11, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v11i1.108585

Abstract

Stunting masih dianggap sebagai tantangan kesehatan utama, baik secara nasional maupun global, mengingat dampaknya terhadap kualitas sumber daya manusia. Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan anak yang tidak optimal akibat kekurangan gizi kronis, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara riwayat konsumsi suplemen mikronutrien ibu selama kehamilan dengan kejadian stunting pada balita. Studi menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling, 85 ibu dengan riwayat hamil tahun 2022 yang terdaftar di Puskesmas X Kota Jambi dilibatkan dalam studi ini. Data terkait kejadian stunting pada balita diperoleh secara retrospektif dan informasi mengenai riwayat asupan suplemen mikronutrien ibu selama kehamilan dikumpulkan secara prospektif menggunakan kuesioner. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Cramer’s V melalui JASP software. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 27,1% balita mengalami stunting. Terdapat hubungan signifikan secara statistik antara konsumsi vitamin B, zat besi, vitamin D, vitamin A, tembaga, dan zink selama kehamilan dengan kejadian stunting pada balita (p<0,05) dengan kekuatan hubungan tergolong sangat kuat ( >0,25). Temuan ini menegaskan bahwa kecukupan dan keteraturan konsumsi suplemen berperan penting dalam menurunkan risiko stunting. Hal ini menunjukkan bahwa program suplementasi perlu ditingkatkan baik melalui edukasi, pemantauan konsumsi, maupun pemerataan distribusi suplemen agar pemenuhan mikronutrien ibu hamil dapat lebih optimal dalam mencegah stunting sejak kehamilan. 
Evaluasi Pemberian Terapi pada Pasien Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Umum Provinsi Bali Dwi Arymbhi Sanjaya; Herleeyana Meriyani; Rr Asih Juanita; Nyoman Budiartha Siada; Made Elvenia Ambara Damayanti; Lusy Noviani
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i1.78958

Abstract

Sekitar 50-100 juta jiwa terjangkit demam berdarah dengue (DBD) setiap tahunnya dengan jumlah kematian mencapai 20.000 hingga 40.000 juta jiwa per tahun menurut World Health Organization (WHO). Provinsi Bali menduduki peringkat ke-3 dengan Incidence Rate (IR) DBD tertinggi pada tahun 2021 yaitu 59,8 per 100.000 penduduk. Penyakit DBD biasanya disertai dengan komplikasi dan penyakit penyerta yang dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran perbaikan klinis yang diamati dari parameter hematologi (leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit) pada pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di rumah sakit umum Provinsi Bali. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu data yang diperoleh dari bulan Januari 2020 hingga Desember 2021. Lima puluh tiga sampel pada penelitian diambil menggunakan teknik total sampling. Efektivitas penatalaksanaan DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada hari pertama, hari ketiga, dan hari kelima dianalisis menggunakan uji Cochran dengan post-hoc McNemar. Pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada penelitian ini sejumlah 53 orang dengan 66% laki-laki dan 34% perempuan dengan rata-rata lama rawat inap yaitu 6,0 hari. Ringer laktat dan parasetamol merupakan jenis terapi yang paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan DBD. Penatalaksanaan pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta di rumah sakit umum Provinsi Bali pada tahun 2020-2021 menunjukan peningkatan trombosit dan leukosit yang signifikan sejak hari ketiga hingga hari kelima (p<0,05). 
Analisis Faktor Risiko Penggunaan Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid Jangka Panjang terhadap Penyakit Ginjal Kronik di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau Septi Muharni; Syilfia Hasti; Rizka Meidhika; Fina Aryani; Husnawati Husnawati
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i2.59263

Abstract

Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global dengan angka kejadian yang terus meningkat, memiliki prognosis yang buruk dan banyak menghabiskan biaya dalam perawatannya. Salah satu faktor risiko penyakit ginjal kronikadalah penggunaan obat Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS) jangka panjang. AINS bekerja dengan menghambat enzim COX-1 yang berperan dalam mempertahankan perfusi ginjal. Penghambatan ini mengakibatkan terganggunya fungsi ginjal (autoregulasi ginjal) jika digunakan rutin dan dalam jangka waktu panjang, terutama pada pasien dengan faktor risiko seperti pasien hipertensi, gangguan fungsi ginjal dan pasien lanjut usia. AINS sangat mudah diperoleh masyarakat tanpa resep dokter dan menjadi salah satu risiko penggunaan yang tidak rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan kekuatan hubungan antara riwayat penggunaan AINS, frekuensi dan lama penggunaan terhadap kejadian penyakit ginjal kronik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan case control pada 100 pasien (50 kasus penyakit ginjal kronikdan 50 kasus non penyakit ginjal kronik) di Poli Penyakit dalam RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dengan teknik purposive sampling. Hasil uji statistik menunjukkan riwayat penggunaan AINS, frekuensi, dan lama penggunaan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penyakit ginjal kronik(nilai p>0,05) dengan odds ratio (OR) 2,19; 0,33 dan 0,556. Meskipun tidak bermakna secara statistik, hasil ini menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan risiko penyakit ginjal kronik pada pasien yang memiliki riwayat penggunaan AINS jangka panjang.

Page 8 of 11 | Total Record : 105