cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari, Papua Barat - 98314
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences)
Published by Universitas Papua
ISSN : 2620939X     EISSN : 26209403     DOI : -
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Papua. Jurnal ini merupakan media komunikasi ilmiah dibidang peternakan dan veteriner yang berupa hasil penelitian atau telaah pustaka (review) yang meliputi produksi ternak, nutrisi dan makanan ternak, sosial ekonomi peternakan, dan budidaya ternak/satwa harapan, kesehatan ternak dan hewan kesayangan, serta veteriner. Jurnal ini diterbitkan dengan frekuensi dua kali setahun pada bulan Maret dan September. Redaksi menerima sumbangan artikel dengan ketentuan penulisan seperti tercantum pada halaman akhir pada isi jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 343 Documents
Distribusi Skabies pada Peternakan Sapi Potong di Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan Nuriski, Meisi; Wicaksono, Ardilasunu; Basri, Chaerul
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.97

Abstract

Abstract Beef cattle farms in Barru district are susceptible to various diseases, including scabies. This study aims to analyze data about the distribution of disease temporally by measuring the spreading speed, and spatially by mapping risk areas for scabies over the past three years. The data of this study was collected using the records from Dinas Peternakan and conducting interviews using structured questionnaires. This research was a descriptive study by measuring the incidence rate and describing the risk map using geographic information system (GIS). The results of this study indicate that, based on the incidence rate, the average distribution rate of scabies in beef cattle in Barru is 13 cases per 10.000 head/year. This incidence rate always increases every year. Furthermore, the highest incidence of the disease occurs in Mallusetasi with an incidence rate of 35 cases per 10 000 head/year. The three areas that are classified as high risk are Mallusetasi, Tanete Riaja, and Barru. Control measures that have been carried out were not successful to reduce the spread of the disease. Keywords : Beef cattle; Distribution; Incidence rate; Risk; Scabies Abstrak Peternakan sapi potong di Kabupaten Barru rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk skabies. Penelitian ini bertujuan menganalisis data distribusi kejadian penyakit secara temporal dengan mengukur kecepatan penyebaran, dan secara spasial dengan memetakan wilayah berisiko skabies selama tiga tahun terakhir. Data dalam penelitian ini menggunakan rekapan dari Dinas Peternakan dan wawancara mendalam menggunakan kuesioner terstruktur. Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan mengukur incidence rate dan menggambarkan peta risiko menggunakan geographic information system (GIS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan incidence rate, kecepatan rata-rata penyebaran skabies pada sapi potong di Kabupaten Barru sebesar 13 kasus per 10000 ekor—tahun. Nilai incidence rate tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Kejadian penyakit paling tinggi terjadi di kecamatan Mallusetasi dengan incidence rate sebesar 35 kasus per 10000 ekor—tahun. Terdapat 2 wilayah yang tergolong ke dalam risiko tinggi, yaitu Kecamatan Mallusetasi dan Kecamatan Tanete Riaja. Tindakan pengendalian yang telah dilakukan belum berhasil dalam mengurangi kecepatan penyebaran penyakit. Kata kunci: Sapi potong; Incidence rate; Penyebaran; Risiko; Skabies
Aktivitas Urinasi dan Penampakan Ekor Berdiri Tegak Sebagai Indikator Tingkah Laku Kawin Rusa Timor (Cervus timorensis) Betina di Penangkaran Aro-M Manokwari Pattiselanno, Freddy; Gobay, Alfrida; Pawere, Frandz Rumbiak
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.82

Abstract

Abstract A deeper knowledge regarding the biology of the reproduction of tropical deer in its natural habitat is limited. The appearance of a standing tail and increased urination behavior are sexual characteristics of female deer. This research aims to study the mating behavior of females based on urination activity and upright-tail appearance in female Timor deer. The results showed that the lowest urination frequency of female deer (12.37%) occurred between 10.0012.00, while the highest (22.22%) was between 08.00-10.00. The appearance of tails that stand upright most often occurs in 06.00 - 08.00 (26.55%), and the lowest (8.19%), observed at 12.00-14.00. This study concludes that urination activity and appearance of upright tails was an indicator of the sexual desire of female deer to be mated by the male. Keywords: Behavior; Captivity; Female deer; Mating; Urinating Abstrak Pengetahuan yang mendalam mengenai biologi reproduksi rusa tropik yang ditangkarkan pada habitat aslinya masih sangat terbatas. Penampakan ekor yang berdiri tegak dan tingkah laku urinasi yang meningkat merupakan ciri rusa betina yang sedang berahi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku kawin berdasarkan aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak pada rusa timor betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi urinasi rusa betina terendah (12,37%) terjadi pada periode 10.00- 12.00 sedangkan yang paling tinggi (22,22%), pada periode 08.00-10.00. Penampakan ekor yang berdiri tegak paling sering terjadi pada periode 06.00–08.00 yaitu (26,55%), dan terendah (8,19%), teramati pada pukul 12.00-14.00 wit. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa aktivitas urinasi dan penampakan ekor berdiri tegak dapat digunakan sebagai indikator birahi rusa berina yang siap untuk dikawini pejantan. Kata kunci: Penangkaran; Rusa betina; Tingkah laku; Kawin; Urinasi
Pengaruh Larutan Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Sebagai Bahan Marinasi Terhadap Daya Terima Daging Kambing Wahyuni, Dyah; Yosi, Fitra; Muslim, Gatot
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i1.137

Abstract

Abstract This research evaluated wuluh starfruit (Averrhoa bilimbi L) solution as a marinade on the sensory quality of goat meat. This research was designed using the Completely Randomized Design (CRD) which consisted of 4 treatments: 0, 30, 60, and 90% wuluh starfruit solution. The observed variables in this research were taste, color, aroma, texture, and acceptability. The data were analyzed using the Non-Parametric Kruskal-Wallis test. The results showed that the usage of wuluh starfruit solution up to 90% as a marinade for goat meat had an average score of taste, color, aroma, texture, and acceptability which are not significantly different (P>0.05) compared to the control. It means that the sensory quality of marinated meat was relatively similar to the control. It can be concluded that wuluh starfruit solution up to 90% concentration can be used as a marinade to preserve the sensory quality of goat meat. Keywords: Wuluh starfruit; Goat meat; Marinade;Sensory. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan larutan belimbing wuluh sebagai bahan marinasi terhadap kualitas sensoris daging kambing. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan: 0, 30, 60 dan 90% larutan belimbing wuluh. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah rasa, warna, aroma, tekstur dan daya terima. Data dianalisa menggunakan uji hedonik Kruskal-Wallis. Hasil analisa data menunjukkan bahwa penggunaan larutan belimbing wuluh hingga 90% sebagai bahan marinasi daging kambing memiliki rerata skor rasa, warna, aroma, tekstur dan daya terima yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan kontrol. Artinya, daging yang dimarinasi memiliki kualitas sensoris yang relatif sama dengan kontrol. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa larutan belimbing wuluh hingga 90% dapat digunakan sebagai bahan marinasi untuk mempertahankan kualitas sensoris daging kambing. Kata kunci : Belimbing wuluh; Daging kambing; Marinasi; Sensoris.
Kadar Kolesterol, Asam Urat dan Glukosa Darah Ayam Petelur yang Diberi Jus Daun Sirih (Piper betle Linn) pada Level yang Berbeda Badaruddin, Rusli; Aka, Rahim; Ollong, Abdul Rahman; Tiya, Ning Ayu Dwi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i1.172

Abstract

ABSTRACT This study aims to assess cholesterol, uric acid and blood glucose levels in laying hens which are fed with the addition of betel leaf juice (Piper Bettle Linn). There were 16 chickens used in layer phase hens. The cage used is an individual cage equipped with a place for feeding and drinking water. The treatments in this study consisted of: (P0) commercial feed + 0 ml of betel leaf juice, (P1) commercial feed + 5 ml of betel leaf juice, (P2) commercial feed + 10 ml of betel leaf juice, and (P3) commercial feed + 15 ml of betel leaf juice. The variables observed were cholesterol, uric acid and blood glucose levels. The data obtained from the research results were analyzed using variance and continued with Duncan's multiple range test. The results showed that the administration of betel leaf juice had no significant effect (p <0.05) on cholesterol, uric acid and blood glucose levels in layer phase hens. Based on the results of the study, it can be concluded that the administration of betel leaf juice does not affect the amount of cholesterol, uric acid, and glucose levels in layer phase hens, but these conditions are still in normal physiological conditions. Keywords: uric acid, layer hens, glucose, cholesterol ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang kadar kolesterol, asam urat dan glukosa darah ayam petelur yang diberi penambahan jus daun sirih (Piper betle Linn) pada level yang berbeda. Ayam yang digunakan sebanyak 16 ekor induk ayam petelur betina fase layer. Kandang yang digunakan yaitu kandang individu yang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas: (P0) pakan basal + 0 ml jus daun sirih, (P1) pakan basal + 5 ml jus daun sirih, (P2) pakan basal + 10 ml jus daun sirih, dan (P3) pakan basal + 15 ml jus daun sirih. Variabel yang diamati adalah kadar kolesterol, asam urat, dan glukosa darah. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus daun sirih tidak memberikan pengaruh yang nyata (p<0.05) terhdadap kadar kolesterol, asam urat dan glukosa darah ayam petelur fase layer. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian jus daun sirih tidak mempengaruhi jumlah kadar kolestero, asam urat, dan glukosa ayam petelur fase layer, namun kondisi tersebut masih dalam kondisi fisiologis normal. Kata Kunci : asam urat, ayam petelur, glukosa, kolesterol
Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Kualitas Pertumbuhan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan di Jayapura, Papua Tirajoh, Siska; Tiro, Batseba M. W; Palobo, Fransiskus; Lestari, Rohimah H. S
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.113

Abstract

Abstract Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) chicken is a new improved variety of native chicken produced by the Agency for Agricultural Research and Development. In order to increase the productivity of KUB chickens, high quality feed ingredients are needed, one of the local feeds that has good nutritional content for chicken is Moringa oleifera Leaf Meal (MOLM). Moringa, a type of legume crop, can be used as a good source of protein for chicken growth. This study aims to determine the effect of MOLM on the quality of KUB chicken growth. Forty KUB chickens aged 6 weeks were allocated in this study and divided into 2 treatment groups, namely (i) T0 = without MOLM treatment; (ii) T1 = 5% MOLM treatment. Data were statistically analyzed using independent sample t-2 test or non-paired t test (non paired system) using Microsoft Excel application program. The parameters observed include body weight gain, body weight, feed consumption and feed conversion. The results showed that the addition of 5% MOLM to diet KUB chicken had a significant effect on an average body weight of 1,552.5 g/bird at 18 weeks, body weight gain of 1,000 g/bird, feed consumption of 5,720 g/bird and improve the feed conversion of 5.15. While those without added MOLM have an average body weight of 1,207 g/bird at 18 weeks, body weight gain of 723 g/bird, feed consumption is 5,150 g/bird, and feed conversion of 6.75. Keywords: Feed; Growth quality; KUB chicken; Moringa oleifera leaf meal; Abstrak Ayam KUB Balitbangtan merupakan varietas unggul baru ayam kampung hasil produksi Badan Litbang Pertanian. Untuk meningkatkan produktivitas ayam KUB diperlukan bahan pakan yang berkualitas, salah satu pakan lokal yang memiliki kandungan gizi yang baik untuk ayam adalah tanaman Kelor (Moringa oleifera). Kelor, sejenis leguminosa yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk pertumbuhan ayam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung daun kelor/MOLM terhadap kualitas pertumbuhan ayam KUB. Empat puluh ekor ayam KUB umur 6 minggu dialokasikan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu (i) T0 = perlakuan tanpa kelor; (ii) T1 = perlakuan daun kelor 5%. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji independent sample t-2 atau non paired t test (non paired system) menggunakan program aplikasi Microsoft Excel. Parameter yang diamati meliputi pertambahan bobot badan, bobot akhir, konsumsi pakan dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan MOLM 5% pada pakan ayam KUB berpengaruh nyata terhadap rata-rata bobot badan akhir 1.552,5 g/ekor selama 18 minggu, pertambahan bobot badan 1.000 g/ekor, konsumsi pakan 5.720 g/ekor dan nilai konversi pakan 5,15 sedangkan yang tidak diberi MOLM memiliki bobot badan akhir rata-rata 1.207 g/ekor selama 18 minggu, pertambahan bobot badan 723 g/ekor, konsumsi pakan 5.150 g/ekor, dan konversi pakan 6,75. Kata kunci: Ayam KUB; Kualitas pertumbuhan; Pakan; Tepung daun kelor
Pengaruh penggunaan Beberapa level Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam) dalam Ransum Basal Terhadap Plasma Metabolit Ayam Broiler Erwan, Edi; Wulandari, Santika Yulia; Irawati, Evi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i1.200

Abstract

Abstract Moringa leaves (Moringa oleifera Lam) is one of the potential local feed ingredients of broiler rations due to its nutrient contents such as carbohydrate (57,01%), crude protein (30,30%), crude fat (2,74%) as well as a source of vitamin C, carotenoids and flavonoids. This study aimed to determine the effect of using different levels of Moringa oleifera Lam leaf meal (MOLM) in basal ration on plasma metabolites, including total cholesterol (TCHO), triglycerides (TG), glucose (GLU), and total protein (TP). The research design of this study was a completely randomized design (CRD) with four treatments and five replications. The treatments were 4 levels of MOLM (0%, 5%, 10% and 15%), in basal ration. The parameters measured were TCHO, TG, Glu, and TP of in blood plasma. The results showed that inclusion of MOLM up to 15% of in basal ration very significantly (P<0.01) lowering levels TG and decreasing Glu. However, the inclusion of MOLM had no effect (P>0.05) on TCHO and TP. It is concluded that moringa leaf flour addition to the basal ration up to 15% could be used to decrease plasma metabolites especially TG and GLU in broiler chickens. Key words:Broilers; Moringa oleifera meal; total cholesterol, triglycerides, glucose and total protein Abstrak Daun kelor (Moringa oleifera Lam) merupakan salah satu bahan pakan lokal yang berpotensi dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusun ransum ayam ras pedaging karena mengandung nutrisi yang tinggi diantaranya karbohidrat (57,01%), protein kasar (30,30%), lemak kasar (2,74%) dan sebagai sumber vitamin C, karotenoid serta flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan beberapa level tepung daun kelor dalam ransum basal terhadap plasma metabolit ayam ras pedaging yang meliputi total kolesterol (TCHO), trigliserida (TG), glukosa (Glu) dan total protein (TP). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan terdiri dari 4 level tepung daun kelor di dalam ransum basal yakni 0%, 5%, 10% dan 15%. Parameter yang diukur meliputi TCHO, TG, Glu dan TP pada plasma darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tepung daun kelor hingga 15% dalam ransum berpengaruh nyata (P<0,05) menurunkan kadar TG dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) menurunkan Glu. Akan tetapi, pemanfaatan tepung daun kelor hingga 15% tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap TCHO dan TP. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tepung daun kelor dalam ransum basal hingga 15% dapat dimanfaatkan untuk menurunkan plasma metabolit khususnya TG dan Glu pada plasma darah ayam broiler. Kata kunci : Ayam ras pedaging; tepung daun kelor; plasma metabolit
Ucapan Terima Kasih Pada Reviewer JIPVET, Editor
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.152

Abstract

Redaksi Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences) menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih kepada Mitra Bestari dibawah ini yang telah membantu menelaah naskah yang dikirimkan kepada Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences).
Pengaruh Berbagai Aditif terhadap Kandungan Serat Kasar dan Mineral Silase Kulit Pisang Kepok Chrysostomus, Hieronymus Yohanes; Koni, Theresia Nur Indah; Foenay, Tri Anggarini Yuniwati
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.100

Abstract

Abstract Banana peels are rarely utilized as feedstuff alternatives due to their high content of crude fiber. Crude fiber can be reduced by biological treatment, specifically by making silage. One of the factors that influence the quality of silage is additives in the form of soluble carbohydrates. The purpose of this study was to examine crude fiber, calcium, and phosphorus banana peels silage by adding different additives. The silage of banana peel in this study used soluble carbohydrates such as rice bran, tapioca starch, and palm syrup, followed with a 21 days fermentation. This study was conducted with four treatments and five replications. The treatments were: P0 = banana peels without additives, P1 = banana peels + 5% rice bran, P2 = banana peels + 5% tapioca starch, P3 = banana peels + 5% palm syrup. Parameters measured in this study were the content of crude fiber, Ca, and P. Data were analyzed by analysis of variance and followed by Duncan's multiple range test. The results showed that the inclusion of rice bran, tapioca starch, and palm syrup by 5% reduce the crude fiber amount while also increase calcium and phosphorus levels in banana peels. The inclusion of tapioca starch as an additive by 5% had the highest reduction of crude fiber. The highest increase in calcium and phosphorus levels were obtained by adding 5% rice bran as a silage additive. The conclusion is the inclusion of soluble carbohydrates as additives not only reduce crude fiber content but also increase mineral content in banana peels. Keywords: Banana peels; Crude fiber; Calcium; Phosporus Abstrak Kulit pisang jarang dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif, karena kadar serat kasar yang tinggi. Serat kasar dapat dikurangi dengan proses pengolahan biologi yaitu dengan pembuatan silase. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas silase adalah aditif silase seperti karbohidrat mudah larut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kadar serat kasar, kalsium, dan fosfor kulit pisang yang ditambahkan aditif yang berbeda. Pembuatan silase kulit pisang dalam penelitian ini menggunakan beberapa karbohidrat mudah larut seperti dedak padi, tepung tapioka dan gula air dan difermentasi selama 21 hari. Penelitian ini dilakukan dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuannya adalah: P0 = silase kulit pisang tanpa aditif, P1 = kulit pisang +5% dedak padi, P2 = kulit pisang + 5% tapioka, P3 = kulit pisang + 5% gula air. Parameter yang diukur meliputi kandungan serat kasar, Ca dan P. Data dianalisis anova dan dilanjutkan dengan uji DMRT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dedak padi, tapioka dan gula air sebanyak 5% menurunkan serat kasar, dan meningkatkan kadar kalsium dan fosfor kulit pisang. Penurunan serat kasar tertinggi tertinggi pada penggunaan tapioka sebagai aditif dan mineral kalsium dan fosfor tertinggi pada penggunaan 5% dedak padi sebagai aditif silase. Disimpulkan bahwa penggunaan karbohidrat mudah larut sebagai aditif mampu menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kandungan mineral pada kulit pisang. Kata kunci: Kulit pisang; Serat kasar; Kalsium; Fosfor
Karakteristik Telur Berdasarkan Umur Ayam dan Ransum yang Diberikan Abbas, Abbas; Paly, Muh Basir; Rifaid, Rifaid
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i1.145

Abstract

Abstract This study aimed to observe the properties of eggs produced based on laying age and different feed compositions. This research was conducted in September 2017 at Cahaya Mario Group Farm, Puncak Mario, Sidenreng Rappang Regency, South Sulawesi. The materials used in this research were; 45 Lohman-strain layers, a digital scale with 0,001 g sensitivity, calipers, needle scales with 0,1 g sensitivity, buckets, feedlots, water containers, plastic bags, plates, and cleaning tools. Randomized Block Design was applied in this work which consisted of 3 different feed types and 3 different age groups of layers with 3 replications. The parameters measured in this study consisted of the egg's exterior and interior qualities. Based on statistical analysis, feed types and age groups showed no significant effect on the external quality of the eggs namely the egg’s shell thickness as well as no significant effect on eggs weight. The egg’s shell thickness varied from 0.42 to 0.44 mm. Interior quality, especially yolk color, was significantly influenced by age groups. The egg’s viscosity was significantly influenced by different feed types. Keywords: Egg properties; Egg viscosity; Yolk color; Lohman-strain; Layer. Abstrak Penelitian ini bermaksud untuk mengobservasi karaktersitik telur berdasarkan umur ayam dan perbedaan komposisi ransum yang diberikan. Penelitian ini dilakukan di bulan Agustus hingga September 2017 bertempat di Farm Cahaya Mario Group, Puncak Mario, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : ayam Lohman sebanyak 45 ekor, timbangan digital dengan kepekaan 0,001 g, jangka sorong, timbangan jarum dengan kepekaan 0,1 g, ember, tempat ransum, tempat minum, plastik, piring dan alat kebersihan. Tiga (3) jenis ransum diberikan pada tiga (3) kelompok umumr ayam yang berbeda dengan replikasi sebanyak tiga (3) kali, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Parameter yang diukur pada penelitian ini terdiri dari kualitas eksternal telur, dan kualitas interior telur. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, jenis ransum yang digunakan dan variasi umur tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas eksternal seperti pada berat telur dan tebal kerabang. Nilai tebal kerabang berkisar antara 0,42 - 0,44 mm. Kualitas interior telur secara signifikan dipengaruhi oleh kelompok umur yang berbeda untuk warna yolk dan terdapat perbedaan signifikan jenis ransum terhadap viskositas telur. Kata kunci : Produksi telur; Berat telur; Viskositas telur; Warna Yolk.
Kualitas Fisik Telur Ayam Petelur pada Tingkat Pelaku Usaha di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat Kamaruddin, Ahmad; Monim, Hanike; Mulyadi, Mulyadi; Sambodo, Priyo
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v10i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik, lama penyimpanan dan rantai pemasaran telur ayam ras pasok pada distributor dan pengecer di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Sampel telur diambil dari tiga distributor dengan lama penyimpanan 12 hari dari pengecer yaitu pasar tradisional dan pasar moderen untuk masing-masing lama penyimpanan 17 hari dan 22 hari. Kualitas fisik yang diukur adalah kedalaman kantong udara, indeks albumin dan indeks yolk serta lama penyimpanan telur yang meliputi 12 hari, 17 hari dan 22 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telur ayam ras pasok yang beredar di Kabupaten Manokwari telah mengalami penurunan kualitas fisik. Setelah lama penyimpanan 17 hari, berdasarkan badan standar nasional telur ayam ras pasok tidak layak dikonsumsi sehingga seharusnya tidak dipasarkan.

Page 8 of 35 | Total Record : 343


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 4 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 9 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol 9 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol 8 No 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 8 No. 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 7 No. 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 7 No 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 4 No. `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 4 No `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 3 No. 1 (2008): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 2 No. 1 (2007): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN More Issue