Articles
266 Documents
Bumi di Bawah Tekanan: COVID-19 dan Polusi Plastik
Maya Nabila Roxanne
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i1.30960
Sampah plastik merupakan tantangan yang memprihatinkan dan sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan, kemajuan, dan modernisasi. Kehadiran COVID-19 yang bermula di kota Wuhan di Tiongkok kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai belahan negara di dunia telah merubah segala bentuk kegiatan dan penutupan akses dalam berbagai sektor oleh pemerintahan di seluruh dunia hingga sebagian besar pekerjaan terpaksa dilakukan dari rumah. Pemerintah Indonesia menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengakibatkan perubahan tatanan kehidupan mulai dari adaptasi kebiasaan baru untuk memakai masker setiap hari hingga ketergantungan rumah tangga pada layanan pengiriman baik makanan maupun belanja kebutuhan harian yang berdampak pada meningkatnya volume sampah plastik. Dengan studi literatur dan data sekunder dari portal berita, artikel ini bertujuan untuk mengkaji perubahan perilaku konsumsi dalam rumah tangga yang terjadi secara daring selama pandemi yang mengakibatkan peningkatan polusi plastik pada lingkungan dengan menggunakan konsep Mary Douglas tentang “matter out of place” dan konsep material culture. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat akan plastik secara global bertambah saat COVID-19. Konsumsi pembelanjaan daring berbentuk paket meningkat menjadi 62% dan layanan pesan antar makanan sebesar 47%. Hal ini perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah yang lebih terstruktur sehingga tidak memicu krisis lingkungan di masa depan, pasalnya 96% pembelanjaan daring tersebut mengandung materi plastik yang berimplikasi pada peningkatan persentasi volume sampah plastik dan menimbulkan kekhawatiran jangka panjang yang serius dari perspektif lingkungan.
Penerapan Kepemimpinan Asta Brata dalam Pendidikan dari Sudut Pandang Teori Konflik
I Wayan Aryawan
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i1.31628
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kepemimpinan berlandaskan filosofi Asta Brata dalam pendidikan dari sudut pandang Teori Konflik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sumber data diperoleh melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian ini yaitu filosofi Asta Brata merupakan filosofi yang menuntun seorang pemimpin memiliki sifat dari delapan dewa dalam agama Hindu yang terdiri dari Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Candra Brata, Bayu Brata, Kuwera Brata, Baruna Brata, dan Agni Brata. Kepemimpinan Asta Brata dari sudut pandang teori konflik merupakan konsep kepemimpinan yang dapat digunakan sebagai peredam konflik. Pemimpin dalam hal ini kepala sekolah seharusnya memiliki sifat kedewataan sehingga dapat lebih bijaksana dalam menjalankan kepemimpinannya di lingkungan sekolah. Dengan sifat kedewataan yang diterapkan diharapkan konflik yang terjadi dapat dikelola menjadi konflik ke arah yang positif sehingga apa yang menjadi visi, misi dan tujuan sekolah dapat tercapai.
Faktor-Faktor Ambisi Politik Imigran Korea Utara di Korea Selatan (Studi Kasus: Keterlibatan Thae Yong-Ho dan Ji Seong-Ho sebagai Kandidat dalam Kontestasi Pemilu Legislatif di Korea Selatan Tahun 2020)
Ega Eugenia Naomi;
Ali Muhyidin
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i1.33131
Artikel ini membahas tentang bagaimana imigran asal Korea Utara terlibat dalam kontestasi di Pemilihan Legislatif tahun 2020 di Korea Selatan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan teknik studi literatur, penelitian ini menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mendorong ambisi politik Thae Yong-ho dan Ji Seong-ho. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ambisi politik kedua tokoh tersebut muncul didorong oleh berbagai faktor personal yaitu sosialisasi politik, pengalaman profesional individu, rekrutment politik, serta isu dan sikap politik terhadap kebijakan luar negeri Presiden Moon Jae-in mengenai hubungan Korea Selatan dan Korea Utara. Identifikasi faktor pendorong ambisi politik individu tidak hanya penting untuk menjawab pertanyaan mengapa individu berkompetisi pemilu, namun juga bagaimana ambisi personal berkembang sejalan dengan strukur kesempatan politik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah perspektif terkait kebijakan politik di negara demokrasi dalam merespon isu imigran.
Identifikasi Nilai dan Kelas Tanah untuk Updating Nilai Jual Objek Pajak Bumi dan Bangunan di Kota Palopo
M Zainal S;
Syafruddin Syafruddin;
M Risal;
Muhammad Aqsa;
Sapar Sapar
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i1.33658
Updating data objek dan subjek pajak bumi dan bangunan di Kota Palopo penting untuk dilakukan karena Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) per-meter jauh lebih rendah dari nilai jual (pasar) saat ini. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai tanah dan kelas tanah untuk updating NJOP Bumi dan Bangunan di Kota Palopo. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan moteode survei. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, pengamatan langsung di lapangan dan wawancara mendalam dengan informan kunci baik dari perwakilan pemilik tanah maupun pegawai kelurahan. Analisis data menggunakan teknik kuantitatif deskriptif melalui pengecekan dan sinkronisasi data primer dengan data sekunder khususnya data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tahun terakhir responden dan peraturan pemerintah (Keputusan Menteri Keuangan No 523/KMK.04/1998 tentang Klasifikasi Penggolongan dan Ketentuan Nilai Jual Tanah) untuk mengetahui gambaran kondisi tanah dan kelas tanah setiap responden yang tersaji pada Tabel 1-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum terdapat selisih kelas tanah setiap kecamatan di lokasi penelitian sehingga pemutakhiran kenaikan kelas tanah yang dilakukan Bapenda layak untuk dilaksanakan. Terdapat perbedaan antara nilai tanah berdasarkan NJOP dengan nilai tanah berdasarkan harga pasar di setiap kecamatan yang berbasis di kelurahan. Nilai tanah berdasarkan harga pasar di semua kelurahan setiap kecamatan tergolong tinggi. Nilai tanah tertinggi sebagian besar berada kecamatan Wara sebagai pusat ibu kota Palopo dengan penggunaan lahan sebagai pusat perdagangan dan jasa.
Ketimpangan Ekonomi Berdampak pada Tingkat Kriminalitas? Telaah dalam Perspektif Psikologi Problematika Sosial
Agung Minto Wahyu;
Panji Galih Anugrah;
Achmad Muhammad Danyalin;
Rakhmaditya Dewi Noorrizki
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i2.35361
Ketimpangan ekonomi merupakan salah satu fenomena yang dapat menjadi permasalahan sosial. Kriminalitas adalah salah satunya. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengkaji pengaruh ketimpangan ekonomi terhadap munculnya kriminalitas dari perspektif fungsionalisme, pengaruh ketimpangan ekonomi terhadap munculnya kriminalitas dari perspektif konflik dan menemukan solusi berbasis teori problematika sosial yang dapat digunakan untuk menurunkan ketimpangan ekonomi yang menjadi pemicu kriminalitas. Metode yang digunakan adalah narrative review yang merangkum berbagai hasil penelitian dan mengomparasikannya satu sama lain sehingga dapat menghasilkan interpretasi holistik. Literatur yang telah terkumpul diinterpretasi dalam bentuk naratif dengan mengelompokkan data hasil ekstraksi yang sejenis untuk menjawab tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif fungsionalisme melihat bahwa ketimpangan ekonomi yang berdampak pada kriminalitas disebabkan oleh ketidakmampuan setiap elemen dalam menjalankan fungsinya. Perspektif konflik melihat bahwa ketimpangan ekonomi yang berdampak pada kriminalitas disebabkan oleh ketidakmampuan masyarakat menengah bawah dalam memenuhi sumber daya dalam hidupnya. Dari sudut pandang fungsionalis, solusi untuk ketimpangan ekonomi adalah memaksimalkan kembali fungsi elemen masyarakat yang berperan dalam kegiatan ekonomi. sedangkan dari sudut pandang konflik, solusinya adalah para pemilik modal menambah jumlah anggaran dana untuk CSR. Dapat disimpulkan bahwa perspektif fungsionalisme dan konflik mendukung bahwa ketimpangan ekonomi dapat berdampak pada kriminalitas.
Peran Ganda Buruh Perempuan Peternakan Ayam Petelur dalam Institusi Keluarga
Satna Deswandari;
Yosafat Hermawan Trinugraha;
Yuhastina Yuhastina
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i2.35687
Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan peran dan beban kerja ganda serta mengetahui konstruksi sosial perempuan yang sudah berkeluarga terhadap pilihannya menjadi buruh perempuan di PT Rehobat. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi kasus. Lokasi penelitian adalah peternakan ayam petelur PT Rehobat berada di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Metode observasi, wawancara dan dokumentasi digunakan dalam pengambilan data. Validitas data dengan triangulasi sumber dan analisis data dengan analisis kualitatif model interaktif Miles dan Hubberman. Penelitian ini menjelaskan peran dan beban kerja ganda yang dimiliki buruh perempuan meliputi peran dalam keluarga, bekerja, dan lingkungan rumah atau masyarakat. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa ibu rumah tangga yang memutuskan bekerja menjadi buruh peternakan melalui tiga proses yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi di mana proses tersebut menunjukan konstruksi penerimaan terhadap buruh perempuan peternakan yang menjalankan peran ganda. Proses tersebut proses dialektika sesuai dengan teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Sebuah penerimaan yang sebenarnya secara tak langsung masih menggambarkan ketidaksetaraan gender.
Makna Simbolik dalam Tradisi Mipit Pare pada Masyarakat Desa Mekarsari Provinsi Jawa Barat
Muzizat Nurul Fauziah;
Fardiah Oktariani Lubis;
Ema Ema
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i2.35866
Banyak masyarakat Desa Mekarsari yang melakukan tradisi Mipit Pare tetapi tidak mengetahui makna simbol dari tradisi tersebut. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui makna simbol dan proses pelaksanaan yang terdapat dalam tradisi Mipit Pare. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dari pengamatan langsung, wawancara serta dokumentasi. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa, pelaksanaan tradisi Mipit Pare memiliki beberapa tahapan dan masing-masing memiliki makna simbol, diantaranya : Penentuan hari pelaksanaan memiliki makna simbol bahwa dalam menentukan sesuatu harus sesuai dengan kepercayaan yang dianut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sesajen memiliki makna simbol sebagai tanda terimakasih kepada leluhur dan Sanghyang Sri, pembacaan kidung dan membakar kemenyan memiliki makna simbol untuk memanggil leluhur dan Sanghyang Sri, Nyembur memiliki makna simbol sebagai penolak bala, pemotongan Indung Pare memiliki makna simbol sebagai permintaan izin kepada Sanghyang Sri untuk memotong padi, pembagian bakakak dan nasi uduk memiliki makna simbol sebagai tanda syukur. Hasil penelitian menunjukan masyarakat yang senantiasa memanjatkan rasa syukur atas rezeki yang dimiliki, berbagi sesama dan menghormati leluhurnya.
Penerapan Nilai-Nilai Karakter berlandaskan Falsafah Tri Hita Karana melalui Pembelajaran Tematik pada Siswa Kelas VI SD Lab Undiksha
I Made Yasa;
Sukadi Sukadi;
I Ketut Margi
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v8i1.36134
Penerapan nilai-nilai karakter yang berlandaskan kearifan lokal ditengarai mampu meningkatkan pembelajaran siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran dan hasil belajar siswa kelas VI di SD Lab Undiksha dengan menginsersikan muatan kearifan lokal di dalam pembelajaran. Desain penelitian yang digunakan untuk mengevaluasi efektifitasnya adalah penelitian aksi dengan metode desktriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan terdapat peningkatan aktivitas pembelajaran dan juga hasil belajar siswa secara gradual. Pada tahap pertama, rata-rata nilai 59,19 dan ketuntasan belajar 38% meningkat mejadi nilai rata-rata 64,19 dan ketuntasan belajar 50%, sementara pada siklus kedua, hasil tes evaluasi pembelajaran tematik kembali meningkat dengan nilai rata-rata menjadi 76,86 dengan ketuntasan belajar 75%. Pada tahap akhir, rata-rata nilai dan ketuntasan belajar sangat tinggi, masing-masing 84,89 dan 94%. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar sudah mencapai ketuntasan yang diharapkan yaitu minimal 85% siswa mencapai nilai lebih besar atau sama dengan nilai standar ketuntasan. Efektivitas penerapan nilai-nilai karakter berlandaskan Tri Hita Karana berimplikasi terhadap perlunya pengembangan aktivitas pembelajaran secara holistik yang selaras dengan kearifan lokal setempat.
Telaah Actor Network Theory dalam Kajian Sistem Pangan
Bunga Pertiwi Tontowi Puteri
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i2.37075
Tujuan dari artikel ini adalah menelaah sejauh mana penggunaan Actor Network Theory dalam kajian sistem pangan. Fokus penelitian kajian sistem pangan dalam sosiologi mengalami perkembangan, salah satunya Actor Network Theory yang memiliki paradigma jaringan. Actor Network Theory dinilai dapat menggali kompleksitas dari sistem pangan dengan tawaran gagasannya yang dinilai cukup radikal bagi sosiologi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan sumber utama berupa 12 artikel jurnal ilmiah tentang sistem pangan yang menggunakan analisis Actor Network Theory selama kurun waktu 5 tahun. Hasil telaah menunjukkan terdapat dua titik fokus pembahasan yang berbeda dalam kajian-kajian yang ada yaitu dinamika sistem pangan dan eksplorasi produk pangan, selain itu ditemukan potensi pengembangan kajian sistem pangan dengan pendekatan Actor Network Theory ke isu yang lebih luas seperti konsep agensi, keadilan pangan, keamanan pangan dan gerakan sosial.
Kewenangan Diskresi Kepolisian Republik Indonesia dalam Penegakan Hukum Pidana
Ni Ketut Sari Adnyani
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jiis.v7i2.37389
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kewenangan diskresi kepolisian dalam fungsi dan tugas kepolisian, dan menganalisis implementasi kewenangan diskresi kepolisian dalam penanganan tindak pidana. Jenis penelitian yaitu penelitian normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Sumber bahan hukum primer. Teknik analisis yang digunakan teknik analisis hermeneutika hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan diskresi kepolisian dilakukan dengan cara melakukan tindakan kepolisian lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Lebih jauh, implementasi kewenangan diskresi Kepolisian dalam penanganan tindak pidana, tindakan Polisi itu cenderung dihargai oleh publik, negatifnya banyak kalangan masyarakat yang tidak mengetahui kewenangan diskresi yang dimiliki polisi. Pembinaan kemampuan profesi pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat diselenggarakan melalui pembinaan etika profesi dan pengembangan pengetahuan serta pengalamannya di bidang teknis Kepolisian.