cover
Contact Name
JMCE
Contact Email
jmce@ppj.unp.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmce@ppj.unp.ac.id
Editorial Address
Jurusan Ilmu Sosial Politik, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang Kampus UNP Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar Padang 25171
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Journal of Moral and Civic Education
ISSN : 2580412X     EISSN : 25498851     DOI : 10.24036
Core Subject : Education, Social,
Journal of Moral and Civic Education (JMCE) is a scientific journal published by the Universitas Negeri Padang Social Political Science Department. JMCE publishes articles about moral and civic education, interdisciplinary studies of politics, law sociology, history, and culture that influence moral in civic education worldwide. Before publication, articles are peer-reviewed by independent experts and approved by our board of editors. JMCE is published twice a year in April and October.
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
Contextual Learning of Character Values in Minangkabau Culture Course to Strengthen National Identity Zulfa, Zulfa
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.673 KB) | DOI: 10.24036/8851412312019106

Abstract

Current problems in various regions make the world of higher education think of doing many things. The most pressing problems now are Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender (LGBT), which is increasingly troubling, drugs and other immoral acts that are increasingly worrying about the world of higher education. This is the problem that makes education in Indonesia focus on the character field. One program that can strengthen the national identity in higher education in learning Minangkabau Culture. The purpose of this study is to apply Contextual Learning (CTL) in learning character values ​​in Minangkabau culture and strengthen the national identity of students. The method used in writing is a literature study, the author tries to develop a contextual learning model which is examined from various relevant references. The results of this study were to use CTL learning to provide independence for students to identify character values ​​derived from the values ​​of life in the family environment or in the community in the Minangkabau community. Besides this learning model instills character values ​​directly through habituation that applies in Minangkabau cultural customs by participating in community activities, including collaborative activities or community meetings that are able to foster a character of tolerance and cooperation. Through CTL in learning Minangkabau Culture that contains character values ​​found in the family or Minangkabau community that can be a reinforcement of national identity. Keywords: contextual learning, character values, identity and Minangkabau culture ABSTRAK Permasalahan yang terjadi saat ini di berbagai daerah membuat dunia pendidikan tinggi berpikir untuk melakukan banyak hal. Masalah yang paling mendesak saat ini adalah Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), yang semakin meresahkan, obat-obatan dan tindakan amoral lainnya yang semakin mengkhawatirkan dunia pendidikan tinggi. Inilah masalah yang membuat pendidikan di Indonesia fokus pada bidang karakter. Salah satu program yang dapat menjadikan penguatan dalam identitas kebangsaan dalam pendidikan tinggi pada pembelajaran Budaya Minangkabau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan pembelajaran kontekstual (Contextual Learning/CTL) dalam pembelajaran nilai-nilai karakter dalam budaya Minangkabau serta memperkuat identitas nasional mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah studi literatur, penulis mencoba mengembangkan model pembelajaran kontekstual yang ditelaah dari berbagai referensi yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah menggunakan pembelajaran CTL untuk memberikan kemandirian bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang berasal dari nilai-nilai kehidupan di lingkungan keluarga atau di masyarakat dalam masyarakat Minangkabau. Selain itu model pembelajaran ini menanamkan nilai karakter secara langsung melalui pembiasaan yang berlaku dalam adat budaya Minangkabau dengan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan kerja sama atau pertemuan warga yang mampu menumbuhkan karakter toleransi dan kerja sama. Melalui CTL dalam pembelajaran Budaya Minangkabau yang berisi nilai-nilai karakter yang ditemukan dalam keluarga atau masyarakat Minangkabau yang dapat menjadi penguat identitas bangsa. Kata kunci: pembelajaran kontekstual, nilai karakter, identitas dan budaya Minangkabau
Development of Contextual Models in Subjects of Islamic Education Based on Dalihan Na Tolu to Improve Student Critical Thinking Aisyah, Siti; Effendi, Heri; Azmi, Faizul
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.324 KB) | DOI: 10.24036/8851412312019107

Abstract

This study aims to produce a Contextual Model in the History Course of Dalihan Na Tolu-based Islamic Education to improve students' critical thinking. Research activities include the development of learning tools and instruments needed in learning. Basically this learning model is an innovative model in the History of Islamic Education Learning, the main princi-ple of learning is to promote the philosophical values ​​of Dalihan Na Tolu as a basis for learning with a collaborative system. The process of developing this contextual model invol-ves the development of components of the learning model including: (1) Syntax; (2) Social systems (patterns or rules that apply and collaborate, discuss, ask questions, submit ideas when solving problems); (3) Principles of management reactions (lecturer behavior is allowed in guiding student work, responding to student behavior, directing and responding to student opinions); (4) Class atmosphere support system (semester learning plan, student worksheets, textbooks, student activity sheets, learning outcomes tests). This type of research is a device development research using a 4-D model (Thiagarajan model) et al (1974: 5) which includes defining, planning, developing and disseminate stages. The subjects of this study were the odd semester V STKIP Tapanuli South history education study program for the academic year 2017/2018. The research data was obtained through: (1) observation sheet, (2) test of learning achievement ability, and (3) questionnaire. Data analysis techniques carried out include descriptive statistical data analysis and inference statistical analysis. This research activity has been carried out through several stages, such as analysis, planning, design, development, and implementation. The results of the study consisting of RPP, LKM and Textbooks were stated to be very valid in terms of the validation of learning tools by validators with RPS obtaining an average score of 3.81, gaining a score of 3.82, and Textbooks gaining a score of 3.79 . Based on the results of the study it can be concluded that the Constitutional Model on the History Course of Dalihan Na Tolu-based Islamic Education to improve critical thinking students of the odd semester V history of STKIP Tapanuli Selatan in the school year 2017/2018 consisting of RPS, and Textbooks was declared very valid Keywords: contextual model, PSPI, Dalihan Na Tolu, critical thinking ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan Model Kontekstual Berbasis Dalihan Na Tolu dalam PSPI untuk meningkatkan berpikir kritis mahasiswa. Kegiatan riset meliputi pengem-bangan perangkat pembelajaran dan instrumen yang diperlukan dalam pembelajaran. Pada dasarnya Model pembelajaran ini merupakan model inovatif dalam Pembelajaran Sejarah Pendidikan Islam (PSPI), prinsip utama pembelajaran yaitu mengedepankan nilai-nilai filosifis Dalihan Na Tolu sebagai basis pembelajaran dengan sistem kolaborasi. Proses pengembangan model kontekstual ini melibatkan pengembangan komponen model pembela-jaran antara lain: (1) Sintaks; (2) Sistem sosial (pola atau aturan yang berlaku dan berkola-borasi, berdiskusi, bertanya, mengajukan ide ketika memecahkan masalah); (3) Prinsip reaksi pengelolaan (prilaku dosen yang diperbolehkan dalam membimbing kerja mahasiswa, merespon prilaku mahasiswa, mengarahkan dan menanggapi pendapat mahasiswa); (4) Sistem pendukung suasana kelas (rencana pembelajaran semester, buku ajar, lembar aktivitas mahasiswa, tes hasil belajar). Jenis penelitian ini merupakan penelitian pengembangan perangkat menggunakan model 4-D (model Thiagarajan) dkk (1974:5) meliputi tahap pendefenisian (define), tahap perencanaan (design), tahap pengembangan (develop) dan tahap penyebaran (disseminate). Subyek penelitian ini mahasiswa program studi pendidikan sejarah semester V ganjil STKIP Tapanuli Selatan tahun pelajaran 2017/2018. Data peneli-tian diperoleh melalui: (1) lembar observasi, (2) tes kemampuan prestasi belajar, dan (3) angket. Teknik analisis data yang dilakukan meliputi analisis data statistik deskriptif dan analisis statistik inferensi. Kegiatan penelitian ini telah dilakukan melalui beberapa tahap, seperti analisis, perencanaan, desain, pengembangan, dan implementasi. Hasil penelitian yang terdiri atas RPP, dan Buku Ajar dinyatakan sangat valid ditinjau dari hasil validasi perangkat pembelajaran oleh para validator dengan RPS memperoleh skor rata-rata 3,81, dan Buku Ajar memperoleh skor 3,79. Berdarsarkan hasil penelitian dapat disimpulkan Model Konstektual pada Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam Berbasis Dalihan Na Tolu untuk meningkatkan berpikir kritis mahasiswa sejarah semester V ganjil STKIP Tapanuli Selatan tahun pelajaran 2017/2018 yang terdiri atas RPS, LKM dan Buku Ajar dinyatakan sangat valid. Kata kunci: model kontekstual, PSPI, Dalihan Na Tolu, berpikir kritis
Students' Character Training through Game Online Extracurricular E-Sports in SMA 1 PSKD High School Jakarta Waldi, Atri; Irwan, Irwan
Journal of Moral and Civic Education Vol 2 No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.862 KB) | DOI: 10.24036/8851412222018119

Abstract

This study shows that the e-sports extracurricular program of SMA 1 PSKD Jakarta includes character value formation such as hard work, discipline, creativity, respect for achievement, communicative, peace-loving, and responsibility. This study used qualitative methods with a case study approach. The informants were chosen through in-depth interviews with students who chose e-sports development programs, e-sports coaches, the principal, and the teachers. The obstacle in implementing the e-sports program is the negative public stigma towards games and infrastructure that have not developed at the same level (school). To overcome these obstacles the school describe the e-sports to parents, where the e-sports program is a directed activity and includes guidance and supervision by e-sports coaches and coaches. Besides that, SMA 1 PSKD has an e-sports team that participates in existing e-sports events which are representatives of their schools in participating in the event. Keywords: character training, E-Sports, SMA 1 PSKD Jakarta Abstrak Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam program ekstrakurikuler e-sports di SMA 1 PSKD Jakarta terdapat esensi pembinaan nilai karakter berupa kerja keras, disiplin, kreatif, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, dan tanggung jawab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini diambil melalui wawancara mendalam kepada pihak-pihak yang dinilai dapat memberikan data secara maksimal terkait pembentukan karakter melalui program pembinaan e-sports, seperti peserta didik yang memilih program pembinaan e-sports, pembina e-sports, kepala sekolah, serta guru. Kendala dalam pelaksanaan program e-sports adalah masih adanya stigma negatif masyarakat terhadap game dan Infrastuktur yang belum berkembang di level yang sama (sekolah). Untuk mengatasi kendala tersebut pihak sekolah mengkomunikasikan e-sports kepada orang tua peserta didik, bahwa program e-sports ini merupakan kegiatan yang terarah dan di dalamnya terdapat pembinaan dan pengawasan oleh pembina dan coach e-sports. Selain itu SMA 1 PSKD mempunyai tim e-sports yang mengikuti event-event e-sports yang ada yang merupakan perwakilan sekolahnya dalam mengikuti ajang tersebut. Kata kunci: pembinaan karakter, E-Sports, SMA 1 PSKD Jakarta
Moral Education in Volunteering Activities of Young Citizens Adha, Muhammad Mona; Ulpa, Eska Prawisudawati; Johnstone, Jack McGregor; Cook, Billy L.
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.915 KB) | DOI: 10.24036/8851412312019160

Abstract

Moral education through voluntary work or volunteering greatly supports the development of individuals and society specifically in the improvement of social and practical skills, knowledge and experience. Voluntary activity not only forms common good but also develops a caring attitude to act and has a strong interest in working together to make a better community in the aspects of community's role and responsibility. Qualitative research with an ethnographic approach was carried out during the 2018’s Krakatau Festival cultural event which involved 60 volunteers. Observations, interviews, and documentation studies are important parts of data collection and data analysis significantly. This study found that the pattern of responsible activities and implementation of voluntary work can strengthen volunteering awareness and always foster a pattern of good cooperation with fellow volunteers and other work units as a moral responsibility and moral education that is very beneficial for volunteers in the future. The next researcher can conduct research on good volunteering planning preparation and effective and efficient cooperation patterns. Keywords: cooperation; moral education; caring attitude; volunteering; young citizen Pendidikan moral melalui kerja sukarela atau ‘volunteering’ sangat mendukung perkembang-an individu dan masyarakat khusus di dalam meningkatnya keterampilan sosial dan praktis, pengetahuan dan pengalaman. Kegiatan kesukarelaan tidak hanya membentuk kebaikan bagi masyarakat (common good) melainkan juga mengembangkan sikap kepedulian untuk bertindak dan memiliki semangat yang kuat dalam bekerja sama untuk membuat lingkungan masyarakat lebih baik dari aspek peran masyarakat dan tanggung jawab. Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografis dilakukan selama acara budaya Festival Krakatau 2018 dengan melibatkan 60 relawan. Observasi, wawancara, dan studi dokumentasi menjadi bagian penting untuk pengumpulan data dan analisis data secara signifikan. Penelitian ini menemukan bahwa pola aktivitas dan implementasi pekerjaan kesukarelaan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dapat memperkuat sikap kepedulian relawan dan selalu membina pola kerjasama yang baik dengan sesama relawan dan unit kerja lain sebagai tanggung jawab moral dan pendidikan moral yang sangat bermanfaat bagi diri relawan di masa depan. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai persiapan perencanaan kerja sukarela yang baik dan pola kerjasama yang efektif dan efesien. Kata kunci: kerjasama; pendidikan moral; sikap kepedulian; kesukarelaan; warga negara muda
Voter Education for First Time Voters through Rumah Pintar Pemilu Rafni, Al; Suryanef, Suryanef
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.754 KB) | DOI: 10.24036/8851412312019171

Abstract

Voter education for first time voters is important given the group’s potential in contributing to 30% of overall voters. Unfortunately, the potential is not well managed through systematical and comrprehensive voter education. Rumah Pintar Pemilu (Election Smart House/RPP) is one of the priorities of the Election Commission (KPU) that functions as a voter education service center. It has become a facility for first time voters to understand about the election and democracy in general. This research used research and development (R&D) method. Data was collected through deep interview, focus group discussion (FGD), and documentation study. The result shows the RPP’s potential in serving voter education for first time voters and how RPP is developed as a political education facility in cities/regencies. Keywords: voter education, first time voters, learning resources ABSTRAK Pendidikan pemilih bagi pemilih pemula menjadi penting mengingat potensi suara yang ada pada kelompok ini memiliki kontribusi lebih kurang 30% dari jumlah pemilih. Sayangnya potensi sebesar itu seringkali tidak dikelola dengan baik melalui pendidikan pemilih yang sistematis dan komprehensif. Kehadiran Rumah Pintar Pemilu (RPP) sebagai salah satu program prioritas Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang berfungsi sebagai pusat layanan pendidikan pemilih menjadi wahana tersendiri bagi pemilih pemula untuk mengerti tentang pemilu dan kehidupan demokrasi pada umumnya. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan atau Research and Development (R&D). Data penelitian dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan potensi RPP dalam memberikan layanan pendidikan pemilih bagi pemilih pemula dan bagaimana RPP dikembangkan sebagai sarana pendidikan politik di kabupaten/kota. Kata Kunci: pendidikan pemilih, pemilih pemula, sumber belajar
Transformasi Spirit Konferensi Asia Afrika pada Keterlibatan Warga Negara Muda sebagai Pembinaan Identitas Kebangsaan Rahmelia, Silvia; Ar, Endang Danial
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.365 KB) | DOI: 10.24036/8851412322019184

Abstract

The spirit of solidarity as an Asian-African Conference (KAA) historical value should be exemplified and internalized in the form of youth character development. Solid and effective involvement through understanding the nation’s historical struggle as the basic value of youth initiation becomes a form of positive engagement and solidarity. Positive solidarity should be able to minimize the meaning deviation of solidarity that is often the case among younger generation. This study aims to describe the analysis of role transformation in youth involvement in the realizations of rights, obligations, and responsibilities, as well as participating in local, national, regional, or international levels by not leaving their national identity. The research used qualitative approach with a case study method. Data was collected by interviews, observations, and documentation studies. The result shows that the nation's spirit of past struggle and commitment were manifested in a new format of youth involvement in the Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (SMKAA) community. The spirit of Asian African Conference’s solidarity is considered still relevant nowdays and transforming into a renewed spirit of togetherness, struggle, relinquishing subjectivity and united spirit. SMKAA, through its program, has transformed the KAA’s abstract history into concrete dissemination of values, i.e equality, cooperation, and coexistence. Youth involvement nowdays needs to be based on the spirit to examine the nation’s historical struggle, to strengthen and develop literacy, which will be an important asset. The spirit of solidarity mindset needs to be regenerated today to achieve future expectations. Keywords: Asian African Conference, young citizen involvement, solidarity spirit ABSTRAK Spirit solidaritas sebagai nilai historis Konferensi Asia Afrika (KAA) sepatutnya diteladani dan diinternalisasikan dalam implementasi pengembangan karakter warga negara muda. Keterlibatan yang solid dan efektif melalui pemaknaan sejarah perjuangan bangsa sebagai nilai dasar inisiasi warga negara muda menjadi bentuk keterlibatan dan solidaritas yang positif. Solidaritas yang positif selayaknya mampu meminimalisir penyimpangan makna solidaritas yang banyak terjadi pada generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah menggam-barkan analisis transformasi peran keterlibatan warga negara muda dalam perwujudan hak, kewajiban, tanggung jawab, serta terlibat aktif pada level lokal, nasional, regional, maupun internasional dengan tidak meninggalkan identitas kebangsaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilakukan dengan teknik pengum-pulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa spirit perjuangan bangsa pada jaman dahulu serta komitmen kebangsaan terwujud dalam format baru keterlibatan warga negara muda pada sebuah komunitas, yaitu Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (SMKAA). Spirit solidaritas KAA dinilai masih relevan hingga saat ini dan bertransformasi menjadi semangat terbarukan berupa kebersa-maan, semangat perjuangan, melepaskan subjektivitas, dan semangat bersatu. SMKAA melalui program kegiatannya telah mentransformasikan sejarah KAA yang bersifat abstrak menjadi konkret dengan penyebarluasan nilai-nilai KAA, yaitu kesetaraan, kerjasama, dan hidup berdampingan. Keterlibatan warga negara muda hari ini perlu dilandasi pula oleh spirit untuk mengkaji sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Memperkuat dan menumbuhkan literasi dalam spirit solidaritas akan menjadi modal yang penting. Pola pikir spirit solidaritas (the past as the memories) perlu ditumbuhkan kembali saat ini untuk meraih harapan-harapan ke depan (the future as expecatation). Kata Kunci: Konferensi Asia Afrika, keterlibatan warga negara muda, spirit solidaritas
Huma Betang: Identitas Moral Kultural Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah Apandie, Chris; Ar, Endang Danial
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.11 KB) | DOI: 10.24036/8851412322019185

Abstract

Nowadays local and national cultures are gradually left behind. Cultural artifacts—while having beyond-physical meaning, even moral and cultural identities—are no longer maintained neither have philosophical attraction. Exploration of philosophical values ​​in huma betang can be a step to revitalize culture in order to strengthen Indonesians’ cultural moral identity. Huma Betang is commonly known as "the big house". Dayak people—a traditional ethnic group in Borneo—with diverse religions and beliefs have been inhabiting the houses for a long time in harmony and peace. This research used qualitative approach with ethnographic method. Research was located in Betang Toyoi Tumbang Malahoi, Rungan District, Gunung Mas Regency, Central Borneo province. For the Dayak people, huma betang is more than just a place to live; it is the center of Dayak's life structure. Cultural identities reflected are that huma bentang: 1) as a reflection of tolerance; 2) as the origin of unity and togetherness among Dayak people after the Tumbang Anoi peace agreement; 3) as a replica of communal system adopted by Dayak people; 4) contains cosmological patterns that reflect a balance of values; 5) as a reflection of democratic and egalitarian life; 6) through the pattern of life in it delivers the concept of Dayak’s leadership; 7) represents the collective principle; 8) as the ideal model of a pluralist community system. Keywords: huma betang, cultural morality identity, Dayak ethnic group, Central Kalimantan ABSTRAK Dewasa ini benda cagar budaya seolah tidak lagi memiliki daya tarik filosofis dan tidak terpelihara, padahal benda cagar alam mengandung pemaknaan yang lebih dari sekedar fisik, bahkan merupakan identitas moral kultural. Eksplorasi nilai filosofis pada huma betang dapat menjadi langkah revitalisasi kebudayaan guna memperkuat identitas moral kultural warga negara Indonesia. Huma Betang dikenal secara luas dengan istilah “rumah besar”. Rumah ini ditinggali orang Dayak sejak jaman dulu dengan beragam agama dan kepercayaan di dalamnya, namun penghuninya tetap hidup berdampingan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Lokasi penelitian adalah di Betang Toyoi Tumbang Malahoi Kecamatan Rungan Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah. Bagi masyarakat Suku Dayak huma betang tidak hanya sekedar tempat tinggal, tapi merupakan jantung dari struktur kehidupan orang Dayak. Identitas kultural yang terefleksi yaitu huma bentang: 1) sebagai refleksi kehidupan masyarakat yang toleran; 2) sebagai asal mula tumbuhnya rasa persatuan dan kebersamaan antar suku Dayak setelah kesepakatan damai Tumbang Anoi; 3) sebagai replika sistem komunal yang dianut masyarakat Suku Dayak; 4) mengandung pola kosmologi yang mencerminkan keseimbangan sebuah nilai; 5) sebagai cerminan kehidupan demokratis dan egaliter; 6) melalui pola kehidupan melahirkan konsep kepemimpinan Suku Dayak; 7) merepresentasikan prinsip kolektif; 8) sebagai model ideal sistem masyarakat pluralis. Kata kunci: huma betang, identitas moral kultural, suku Dayak, Kalimantan Tengah
Penerapan Model Belajar Berbasis Riset dalam Mengembangkan Civic Skills Mahasiswa Novitasari, Novitasari; Nufus, Achmad Busrotun
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.667 KB) | DOI: 10.24036/8851412322019191

Abstract

Citizenship learning aims to create graduates who have civic competencies so that they become good citizens. However, Citizenship learning tends to be implemented using a model centered on lecturers so that lecturers are the only source of learning. Meanwhile, civic com-petencies, particularly civic skills, cannot be obtained simply by transferring knowledge. This study aims to analyze how the use of research-based learning models can improve student civic skills in the Citizenship course. This study used classroom action research with a quali-tative approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The result of the study shows that the research-based learning model can train students to think critically and have participatory skills. Based on the results, we recommend: (a) for educators, to map students’ learning needs and abilities at the beginning of a new semester or a new school year so that they can use effective learning models; (b) for other re-searchers, to use research-based learning models on different respondents or in other subjects so they can examine the effectivities of using research-based learning models more broadly. Keywords: Research-Based Learning Models, civic skills, citizenship ABSTRAK Pembelajaran mata kuliah Kewarganegaraan memiliki tujuan menciptakan lulusan yang memiliki civic competencies sehingga dapat menjadi warga negara yang baik. Akan tetapi, pembelajaran kewarganegaraan cenderung dilaksanakan dengan model pembelajaran yang berpusat pada dosen sehingga dosen sebagai satu-satunya sumber belajar, sedangkan kompetensi kewarganegaraan khususnya civic skills tidak dapat diperoleh hanya dengan mentransfer pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan model belajar berbasis riset dalam meningkatkan civic skills mahasiswa pada mata kuliah Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menggambarkan bahwa penerapan model belajar berbasis riset dapat melatih mahasiswa untuk terbiasa berpikir kritis dan memiliki keterampilan partisipasi. Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan antara lain: (a) bagi pendidik, memetakan kebutuhan dan kemampuan belajar peserta didik di awal semester atau tahun ajaran baru sehingga dapat menggunakan model pembelajaran yang efektif; (b) bagi peneliti selanjutnya, mencoba menggunakan model belajar berbasis riset pada responden yang berbeda atau mata kuliah yang lain sehingga dapat mengetahui efektivitas penggunaan model belajar berbasis riset secara lebih luas. Kata kunci: Model Belajar Berbasis Riset, civic skills, kompetensi kewargaan, kewarganegaraan
Implementasi Nilai Kebajikan Warga Negara (Civic Virtues) di Institut Teknologi Bandung Fauzi, Ridwan; Roza, Prima
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.024 KB) | DOI: 10.24036/8851412322019194

Abstract

Citizenship education (PPKn) has a very fundamental role in multidimensional character education particularly in developing civic competences, which are psychosocially reflected in civic knowledge, civic disposition, civic skills, civic commitment, and civic confidence, all of which radiate and crystallize into civic virtues. One of the roles of PPKn course is to promote more civilized citizens. Bandung Institute of Technology (ITB) as one of science and technology-based education institutions plays a role in building student characters through PPKn course. This study aims to: first, explain PPKn course learning outcomes at ITB; and second, analyze the implementation of PPKn course in internalising the virtues based on Pancasila. This study used descriptive quantitative approach. Data were collected by survey in ITB’s PPKn classes. The result shows that PPKn learning at ITB has influenced significantly the cultivation of Pancasila-based civic virtues to the students. It also delivered the understanding and skills needed to participate in implementing the civic virtues. Keywords: Pancasila and civic education, civic competences, civic virtue, Institut Teknologi Bandung ABSTRAK Pendidikan kewarganegaraan memiliki peran yang mendasar dalam pendidikan karakter multidimensi terutama untuk mengembangkan kompetensi kewarganegaraan. Kompetensi ini secara psikososial tercermin dalam pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), sikap kewarganegaraan (civic disposition), keterampilan kewarganegaraan (civic skill), komitmen kewarganegaraan (civic commitment), dan keteguhan kewarganegaraan (civic confidence), yang semua itu memancar dan mengkristal menjadi kebajikan/keadaban kewar-ganegaraan (civic virtues). Salah satu peran mata kuliah PPKn adalah untuk meningkatkan warga negara yang lebih berkeadaban. Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu institusi pendidikan berbasis sains dan teknologi juga berperan dalam membangun karakter mahasiswa melalui mata kuliah PPKn. Tujuan dari penelitian ini adalah: pertama, untuk mengetahui hasil belajar mata kuliah PPKn di ITB; dan kedua, untuk menganalisis pelaksanaan mata kuliah PPKn dalam penanaman nilai-nilai kebajikan berdasarkan Pancasila. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, dengan teknik pengambilan data yaitu survei di kelas PPKn di ITB. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran mata kuliah PPKn di ITB telah memberikan pengaruh yang signifikan untuk penanaman nilai-nilai kebajikan kepada siswa berdasarkan Pancasila. Pembelajaran ini juga memberikan pemahaman dan keterampilan yang dibutuhkan warga negara untuk siap berpartisipasi dalam mewujudkan kebajikan warga negara. Kata kunci: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, kecakapan kewarganegaraan, kebajikan warga negara, Institut Teknologi Bandung
Pembinaan Moral Anak-Anak melalui Sekolah Minggu di Gereja Santo Andreas Tidar Malang Wadu, Ludovikus Bomans; Ladamay, Iskandar; Vemi, Elisabet Elsiana
Journal of Moral and Civic Education Vol 3 No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Ilmu Sosial Politik Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.828 KB) | DOI: 10.24036/8851412322019204

Abstract

This research illustrated the church’s involvement in children’s moral education through Sunday school in Tidar, Malang, in order to support the implementation of good citizenship since early age. This study used a qualitative approach with case study research. Data were collected by interview, observation, and documentation methods. Data were analysed by reduction, display, and verification in the form of coding, categories; and were verified by triangulation. The result shows that the church is involved in the children’s moral development through activities of faith development, mental development, and encouragement to care for others. By being engaged in the Sunday school, the children are becoming more sensitive to what others went through, to their surrounding, such as throwing trashes in the bins and becoming a better person than before. Church’s involvement in improving children's morals through Sunday school is a form of church participation in supporting the improvement of good citizens. Keywords: church involvement, moral development, Sunday school ABSTRAK Penelitian ini menggambarkan keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu di Tidar, Malang, dengan tujuan untuk mendukung terwujudnya warga negara yang baik sejak dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan reduksi, tampilan (display), dan verifikasi dalam bentuk koding, kategori, dan tema. Sedangkan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu dilakukan dengan kegiatan pembinaan iman, pembinaan mental, dan penguatan untuk peduli terhadap sesama. Dengan adanya keterlibatan gereja melalui sekolah minggu dalam pembinaan moral anak-anak, mereka menjadi peka terhadap apa yang dialami oleh orang lain, menjadi peka terhadap lingkungan di sekitarnya, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Keterlibatan gereja dalam pembinaan moral anak-anak melalui sekolah minggu merupakan wujud partisipasi gereja dalam mendukung terbentuknya warga negara yang baik. Kata kunci: keterlibatan gereja, pembinaan moral, sekolah Minggu

Page 3 of 11 | Total Record : 102