cover
Contact Name
Kalis Stevanus
Contact Email
kalisstevanus91@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalfidei@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika
ISSN : 26218151     EISSN : 26218135     DOI : https://doi.org/10.34081/fidei
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika focusing on submission of field research results, systematic Theology, and practical theology, the study of Evangelical Theology and Community Development is not only internal of STT Tawangmangu but also external intitution with ratio 40:60. Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika published twice a year is the month of June (the limits of acceptance of the script in March) and December (the limits of acceptance of the script in September).
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025" : 16 Documents clear
Hubungan Dukungan Iman Orang Tua dan Dukungan Iman Pembina Remaja Terhadap Spiritualitas Remaja Kristi, Sara Kurnia; Suhendra, Junianawaty
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.579

Abstract

Faith support plays an important role in shaping adolescent spirituality. Adolescents who receive simultaneous faith support from parents and youth mentors tend to have higher levels of spirituality. This study aims to determine the relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. This study uses a quantitative method with data collection techniques through distributing questionnaires. The subjects of the study consisted of 120 adolescents aged 15–25 years who were active in the Jakarta Christian Church. The sampling technique used purposive sampling, while data analysis was carried out using the Pearson Product Moment correlation test. The results of the study showed a significant relationship between parental faith support and youth mentors' faith support on adolescent spirituality. The faith support provided synergistically by both parties showed a significant positive correlation with the development of adolescent spirituality. These findings provide an important contribution to adolescent development, by emphasizing the need for collaboration between youth mentors in the church and parents in supporting optimal adolescent spiritual growth. AbstrakDukungan iman memiliki peran penting dalam membentuk spiritualitas remaja. Remaja yang menerima dukungan iman secara simultan dari orang tua dan pembina remaja cenderung memiliki tingkat spiritualitas yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner. Subjek penelitian terdiri dari 120 remaja berusia 15–25 tahun yang aktif di Gereja Kristen Jakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sedangkan analisis data dilakukan dengan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan iman orang tua dan dukungan iman pembina remaja terhadap spiritualitas remaja. Dukungan iman yang diberikan secara sinergis oleh kedua pihak menunjukkan korelasi positif yang signifikan terhadap perkembangan spiritualitas remaja. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pembinaan remaja, dengan menekankan perlunya kolaborasi antara pembina remaja di gereja dan orang tua dalam mendukung pertumbuhan spiritualitas remaja secara optimal.  
Penghakiman bagi Perusak Bumi: Tinjauan Teologi Ekologis dalam Wahyu 11:18 dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Anak di Gereja Darmadi, Daud
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.616

Abstract

The escalating degradation of the earth demands early environmental stewardship, which should be instilled through Christian education for children. However, church-based Christian education curricula often lack integrated content on environmental sustainability. The decreasing engagement of children with nature contributes to a generation less concerned with the care of creation. This study aims to explore the concept of ecological theology based on Revelation 11:18 and examine its relevance to children’s Christian education. The research employs a hermeneutical approach to the biblical text and a qualitative descriptive analysis of educational practices within the church. The findings reveal three key insights. First, Revelation 11:18 highlights a sharp contrast between those who faithfully fulfill God's mandate and those who destroy the earth; in the final judgment, God rewards those who care for the earth and punishes its destroyers. Second, environmental stewardship is an expression of faithful obedience and a reflection of human nature as the imago Dei, participating in the restoration of creation. Third, children’s Christian education plays a strategic role in shaping ecological awareness through faith-based curricula and sustainable environmental projects. This study concludes that integrating ecological theological values into children’s Christian education is essential. Churches must develop curricula that instill responsibility to care for and restore creation in accordance with God’s will. Abstrak Kerusakan bumi yang semakin masif menuntut upaya pelestarian lingkungan yang ditanamkan sejak dini melalui pendidikan Kristen anak. Namun, kurikulum pendidikan Kristen di gereja masih kurang mengintegrasikan materi mengenai kelestarian lingkungan. Aktivitas anak yang semakin minim di alam turut membentuk generasi yang kurang peduli terhadap keberlanjutan ciptaan. Penelitian ini bertujuan menggali konsep teologi ekologis berdasarkan Wahyu 11:18 dan mengkaji relevansinya bagi pendidikan Kristen anak. Metode yang digunakan adalah hermeneutik terhadap teks Alkitab serta analisis deskriptif kualitatif terhadap praktik pendidikan anak di gereja. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, Wahyu 11:18 menegaskan kontras antara mereka yang setia menjalankan mandat Allah dan yang merusak bumi; Allah memberikan upah kepada yang memelihara bumi dan menghukum perusaknya pada hari penghakiman. Kedua, pemeliharaan lingkungan merupakan wujud kesetiaan iman dan refleksi natur manusia sebagai gambar Allah yang turut serta dalam pemulihan ciptaan. Ketiga, pendidikan Kristen anak berperan strategis dalam membentuk kesadaran ekologis melalui kurikulum berbasis iman dan proyek lingkungan berkelanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai teologi ekologis dalam pendidikan Kristen anak. Gereja perlu menyusun kurikulum yang menanamkan tanggung jawab untuk menjaga dan memulihkan ciptaan sesuai kehendak Allah.
Panggilan Perempuan Perspektif Edith Stein dan Relevansinya bagi Kehidupan Gereja Katolik Masa Kini Kowe, Petrus Thomas Sama; Punda Panda, Herman; Naif, Oktovianus
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.622

Abstract

This article examines the calling of women from the perspective of Edith Stein and its relevance to contemporary church life. Despite the significant contributions women have made throughout the history of the church, they are often marginalised in leadership roles and active participation. This research aims to explore Stein's thoughts on the identity and role of women to address the challenges faced by women within the Catholic Church. Drawing on literature studies and a comprehensive analysis of Stein's works, this article demonstrates that an understanding of women's experiences and callings can enrich pastoral and theological practices. This study aims to connect Stein's philosophical insights with contemporary gender issues and provides practical recommendations for enhancing the voice and role of women in ecclesiastical life. Consequently, the article contributes to the discourse on gender justice within the contexts of theology and pastoral care, while providing a fresh perspective on the role of women in the church's mission in the modern era. The conclusion drawn is that Stein's thought remains relevant and can be applied to foster a more inclusive environment for women within church communities. AbstrakArtikel ini mengkaji panggilan perempuan dari perspektif Edith Stein dan relevansinya bagi kehidupan Gereja Katolik masa kini. Meskipun perempuan memiliki kontribusi signifikan dalam sejarah gereja, mereka seringkali terpinggirkan dalam peran kepemimpinan dan partisipasi aktif. Tujuan penelitian ini adalah mendalami pemikiran Stein tentang identitas dan peran perempuan sebagai solusi untuk menjawabi tantangan yang dihadapi perempuan dalam Gereja Katolik. Dengan menerapkan metode studi pustaka, dan analisis mendalam terhadap karya-karya Stein, artikel ini menunjukkan bahwa pemahaman akan pengalaman dan panggilan perempuan dapat memperkaya praktik pastoral dan teologis. Penelitian ini berupaya menghubungkan antara pemikiran filosofis Stein dan isu-isu gender masa kini, serta memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan suara dan peran perempuan dalam kehidupan gerejawi dalam konteks Gereja Katolik. Dengan demikian, artikel ini berkontribusi bagi diskusi mengenai keadilan gender dalam konteks teologi dan pastoral, serta menawarkan perspektif baru tentang peran perempuan dalam misi gereja di era modern. Kesimpulan yang diambil adalah bahwa pemikiran Stein tetap relevan dan dapat diterapkan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi perempuan dalam komunitas gereja.
Integrasi Teologi dan Psikologi Terhadap Pemulihan Penyakit Mental Pada Anak Dari Keluarga Broken Home Rotua, Dewi Magdalena; Ranting, Hermin; Pangkey, Lidya Naomi; Wohon, Frimsi; Nendissa, Julio Eleazer
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.635

Abstract

Write down Children from broken home families often face significant psychological disorders, such as anxiety, depression, and behavioral problems, which impact their emotional and social development. Therefore, this research focuses on how the integration of theology and psychology can be an effective solution to support the mental recovery of children who have been traumatized by an intact family situation. This research uses the literature study method by analyzing the main theories in psychology related to children's mental disorders and the recovery process, as well as theological concepts that emphasize spiritual healing and love. This approach aims to find the relationship and harmony between theological principles, such as forgiveness, love, and restoration through faith, and psychological methods, such as cognitive therapy and trauma-based psychotherapy. The results showed that a combination of theological and psychological approaches can have a positive effect on children's mental and spiritual well-being. Theology-based interventions, such as prayer, pastoral counseling, and church community support, help provide deep emotional strengthening. Meanwhile, psychological therapies, such as cognitive behavioral therapy (CBT) and trauma-informed psychotherapy, provide space for children to overcome their trauma and rebuild self-confidence. The integration of these two approaches not only accelerates mental recovery, but also strengthens the spiritual dimension, which is an important part of the overall healing process. Abstrak Anak-anak dari keluarga broken home sering menghadapi gangguan psikologis yang signifikan, seperti kecemasan, depresi, dan masalah perilaku, yang berdampak pada perkembangan emosional dan sosial mereka. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana integrasi teologi dan psikologi dapat menjadi solusi efektif untuk mendukung pemulihan mental anak-anak yang mengalami trauma akibat situasi keluarga yang tidak utuh. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis teori utama dalam psikologi terkait gangguan mental anak-anak dan proses pemulihannya, serta konsep teologi yang menekankan penyembuhan rohani dan kasih. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan hubungan dan keselarasan antara prinsip-prinsip teologi, seperti pengampunan, kasih, dan pemulihan melalui iman, dengan metode psikologis, seperti terapi kognitif dan psikoterapi berbasis trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan teologis dan psikologis dapat memberikan efek positif pada kesejahteraan mental dan spiritual anak. Intervensi berbasis teologi, seperti doa, konseling pastoral, dan dukungan komunitas gereja, membantu memberikan penguatan emosional yang mendalam. Sementara itu, terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan psikoterapi berbasis trauma, menyediakan ruang bagi anak untuk mengatasi trauma mereka dan membangun kembali rasa percaya diri. Integrasi kedua pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan mental, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual, yang menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan secara keseluruhan.
Tradisi Hopong Ngae: Solidaritas Sosial dan Implikasi Teologi Kontekstual di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot Nulik, Eritrika Adriana; Ruku, Welfrid Fini
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.640

Abstract

The Hopong Ngae tradition in the GMIT Sonaf Neka-Huilelot congregation on Semau Island plays a crucial role in strengthening the congregation's social and spiritual solidarity. This study examines the meaning of solidarity, the continuity of tradition amidst modernization, and its relationship to the actualization of Christian faith in local culture. The method used is a descriptive qualitative approach with in-depth interviews and congregation surveys, combined with simple quantitative analysis. The results show that Hopong Ngae strengthens relationships among congregation members, serves as an expression of gratitude for God's blessings before the harvest, and is also a means of cultural preservation. From Durkheim's perspective, this tradition represents mechanical solidarity that binds congregation members through shared values and goals. Theological reflection confirms that Hopong Ngae can be a medium for contextualizing Christian faith in the congregation's agrarian life. However, challenges arise from the lack of involvement of the younger generation and the influence of globalization. One solution is to empower youth through the use of digital technology to produce creative content on social media. This effort is expected to encourage the participation of the younger generation in maintaining the sustainability of the tradition in the future.AbstrakTradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot, Pulau Semau, berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan spiritual jemaat. Penelitian ini menelaah makna solidaritas, keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi, serta kaitannya dengan aktualisasi iman Kristen dalam budaya lokal. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan survei jemaat, dipadukan dengan analisis kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hopong Ngae mempererat relasi warga jemaat, menjadi ungkapan syukur atas berkat Tuhan menjelang panen, sekaligus sarana pelestarian budaya. Dalam perspektif Durkheim, tradisi ini merepresentasikan solidaritas mekanik yang mengikat anggota jemaat melalui nilai dan tujuan bersama. Refleksi teologis menegaskan bahwa Hopong Ngae dapat menjadi medium kontekstualisasi iman Kristen dalam kehidupan agraris jemaat. Namun, tantangan muncul berupa minimnya keterlibatan generasi muda dan pengaruh globalisasi. Salah satu solusi ialah memberdayakan kaum muda melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghasilkan konten kreatif di media sosial. Upaya ini diharapkan mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan.
Implementasi Nilai Moderasi Beragama melalui Pendidikan Kristen di Indonesia: Analisis atas Empat Pilar Moderasi Beragama Zalukhu, Amirrudin
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.647

Abstract

Religious moderation is a crucial issue in the context of Indonesia’s multireligious society, particularly in addressing the challenges of intolerance, violence, and social disintegration. This study aims to analyze the implementation of religious moderation values through Christian education, focusing on four fundamental pillars: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of tradition. Employing a qualitative method with a literature study approach, this research examines both the theoretical and practical correlations between the principles of Christian education and the pillars of religious moderation. The findings reveal that Christian education, grounded in love, compassion, and service, provides a constructive framework for fostering mutual respect, strengthening interfaith dialogue, and cultivating collective responsibility within a pluralistic society. The integration of religious moderation values into Christian educational curricula and practices empowers individuals to act as agents of peace, justice, and social cohesion. This study concludes that Christian education plays a significant role in reinforcing religious moderation in Indonesia, while also emphasizing the importance of interfaith perspectives and cultural sensitivity in addressing the challenges of pluralism. AbstrakModerasi beragama merupakan isu krusial dalam konteks masyarakat multireligius di Indonesia, khususnya dalam menghadapi potensi intoleransi, kekerasan, dan disintegrasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai moderasi beragama melalui pendidikan Kristen dengan fokus pada empat pilar utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang menelaah keterkaitan teoretis maupun praktis antara prinsip-prinsip pendidikan Kristen dan pilar-pilar moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen, berlandaskan kasih, belas kasih, dan pelayanan, mampu menyediakan kerangka kerja untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memperkuat dialog lintas iman, serta membangun tanggung jawab kolektif dalam masyarakat majemuk. Integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum dan praksis pendidikan Kristen memberdayakan individu untuk menjadi agen perdamaian, keadilan, dan kohesi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya perspektif lintas agama dan kepekaan budaya dalam menghadapi tantangan pluralisme.
Providensia Allah dalam Tantangan Judi Online: Respons Teologis terhadap Krisis Iman Kristen Sianipar, Joice Engie Wella
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.652

Abstract

The increasingly widespread phenomenon of online gambling in the digital age presents a serious challenge to the understanding of Christian faith, particularly regarding the doctrines of providence and God's sovereignty. Using qualitative methods through literature study and theological analysis, this study raises the claim that winning in gambling is part of God's sovereignty and critiques the narrow view that separates winning and losing within the framework of providence. This study aims to theologically examine how online gambling practices contradict Christian work ethics and deny the fundamental principle of God's providence. The findings indicate that online gambling is not simply a moral issue, but a theological deviation that undermines the meaning of divine calling and human responsibility. Gambling makes money and wealth the center of life's hopes, replacing hard work and discipline, and leading to dependency and financial ruin, especially for the younger generation. This study affirms that God's providence is relational, not fatalistic. God remains sovereign, but His involvement in history respects human freedom and demands moral accountability. Choices remain within the scope of providence, but they carry ethical consequences that cannot be ignored. AbstrakFenomena judi online yang kian marak di era digital menghadirkan tantangan serius terhadap pemahaman iman Kristen, khususnya terkait doktrin providensia dan kedaulatan Allah. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur dan analisis teologis, penelitian ini mengevaluasi klaim bahwa kemenangan dalam perjudian adalah bagian dari kedaulatan Allah, serta mengkritisi pandangan sempit yang memisahkan antara kemenangan dan kekalahan dalam kerangka providensia. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara teologis bagaimana praktik judi online bertentangan dengan etika kerja Kristen dan mengingkari prinsip dasar providensia Allah. Hasil temuan menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar persoalan moral, melainkan penyimpangan teologis yang mengaburkan makna panggilan ilahi dan tanggung jawab manusia. Judi menjadikan uang dan keberuntungan sebagai pusat harapan hidup, menggantikan kerja keras dan disiplin, serta menyebabkan ketergantungan dan kehancuran finansial, khususnya bagi generasi muda. Penelitian ini menegaskan bahwa providensia Allah bersifat relasional, bukan fatalistik. Allah tetap berdaulat, namun keterlibatan-Nya dalam sejarah menghargai kebebasan manusia dan menuntut akuntabilitas moral. Pilihan berjudi tetap berada dalam cakupan providensia, tetapi membawa konsekuensi etis yang tidak bisa diabaikan.
Tafsir Ekoteologis atas Ritual Manuan Raja ni Duhutduhut dalam Adat Kematian Batak Toba Sihombing, Liner Mersia
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.664

Abstract

The global ecological crisis not only causes physical environmental damage but also reflects humanity's spiritual disconnection from the earth as a sacred home. This article explores the traditional rite of manuan raja ni duhutduhut from the Toba Batak saur matua death tradition as a form of ecological liturgy that unites body, land, and spirituality. This research uses a symbolic hermeneutics approach with a literature review of traditional texts and ecotheological theories from Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, and Thomas Laqueur. The analysis shows that the act of planting trees in this rite is not merely a symbol of respect for ancestors but also a form of spiritual participation in ecological regeneration. This article proposes a reinterpretation of the rite as a liturgical practice of planting memories that is inclusive and contextual. The implication is that local Toba Batak spirituality has the potential to contribute to the restoration of the relationship between humans and the earth, while also being an expression of ecological faith in response to the global ecological crisis. AbstrakKrisis ekologis global tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, tetapi juga mencerminkan keterputusan spiritual manusia dari bumi sebagai rumah yang sakral. Artikel ini menelusuri ritus adat manuan raja ni duhutduhut dari tradisi kematian saur matua Batak Toba sebagai bentuk liturgi ekologis yang menyatukan tubuh, tanah, dan spiritualitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika simbolik dengan studi pustaka terhadap teks adat dan teori ekoteologi dari Ronald L. Grimes, Sallie McFague, Leonardo Boff, dan Thomas Laqueur. Hasil analisis menunjukkan bahwa tindakan menanam pohon dalam ritus ini bukan sekadar simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga bentuk partisipasi spiritual dalam regenerasi ekologis. Artikel ini mengusulkan reinterpretasi ritus tersebut sebagai praktik liturgi tanam kenangan yang bersifat inklusif dan kontekstual. Implikasinya, spiritualitas lokal Batak Toba memiliki potensi kontribusi terhadap pemulihan relasi manusia dan bumi, sekaligus menjadi ekspresi iman ekologis dalam merespons krisis ekologi global.
A Desain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Untuk ABK Tunagrahita dalam Kelas Inklusif: Sebuah Usulan di SD Kristen Bukit Pengharapan Kota Balai Karangan Harita, Novi Saria; Halawa, Angilata K.; Kase, Adelsi; Duryadi, Marthinus; Simanjuntak, Junihot M.
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.665

Abstract

This study aims to design an innovative curriculum for students with intellectual disabilities at Bukit Pengharapan Christian Elementary School by considering their characteristics. This study uses a qualitative method with a library approach. Observation is one of the methods used to obtain data. The urgency of this research lies in the urgent need to design an innovative curriculum specifically for Christian Religious Education subjects for students with intellectual disabilities in inclusive classes. The results of the study indicate the importance of an adaptive curriculum design that is able to accommodate the needs of students with intellectual disabilities through learning strategies, digital-based approaches, and individual assessments. The resulting innovative PAK curriculum design includes individual assessments, adaptive learning strategies, adapted learning media, a dynamic assessment system, and ongoing mentoring. AbstrakPenelitian ini bertujuan merancang kurikulum inovatif bagi peserta didik tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan denan memperhatikan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Observasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh data. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk merancang kurikulum inovatif khusus mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi peserta didik tunagrahita di dalam kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pentingnya desain kurikulum yang adapatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik tunagrahita melalui metode strategi pembelajaran, pendekatan berbasis digital, dan penilaian individual. Desain kurikulum inovatif PAK yang dihasilan mencakup, asesmen indivdual, strategi pembelajaran adaptif, media pembelajaran disesuaikan, sistem penilaian dinamis dan pendampingan berkelanjutan.
Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon: Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon Patty, Lidya
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 8 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v8i2.666

Abstract

This article examines the collective trauma of the 1999–2002 Ambon post-conflict, which still leaves traces in the violent events of 2011 and early 2025. These social wounds indicate that the community's collective memory has not fully recovered and remains a source of vulnerability in interfaith relations. This paper aims to develop a trauma-healing-based reconciliation model in the Ambon context. Using qualitative methods based on literature studies, data are analyzed conceptually and thematically through three main approaches: Jeffrey C. Alexander's theory of collective trauma, Shelly Rambo's theology of trauma, and Miroslav Volf's theology of reconciliation. This article puts forward two arguments. First, post-conflict trauma in Ambon is still alive and is indicated by repeated conflicts in 2011 and early 2025 that reactivated the memory of the 1999 violence. Second, formal reconciliation such as the Malino II Agreement has not yet addressed the dimensions of deep trauma recognition and healing. Therefore, this article proposes the formation of a transformative space as a space between "remaining suffering" and "open embrace." This space allows wounds to be heard, narrated, and collectively reinterpreted through the reinterpretation of conflict sites (e.g., Silo Church and the Trikora Monument), interfaith forums, liturgical confessions, and public rituals. Thus, reconciliation does not stop at a formal agreement, but fosters interfaith solidarity and hope for sustainable peace.AbstrakArtikel ini membahas trauma kolektif pascakonflik Ambon tahun 1999–2002 yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal 2025. Luka sosial tersebut menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menjadi sumber kerentanan relasi lintas iman. Tulisan ini bertujuan mengembangkan model rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma dalam konteks Ambon. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis secara konseptual dan tematik melalui tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf. Artikel ini mengajukan dua argumen. Pertama, trauma pascakonflik di Ambon masih hidup dan terindikasi dari konflik berulang pada 2011 dan awal 2025 yang mengaktifkan kembali memori kekerasan 1999. Kedua, rekonsiliasi formal seperti Perjanjian Malino II belum menyentuh dimensi pengakuan dan pemulihan trauma yang mendalam. Karena itu, artikel ini mengusulkan pembentukan ruang transformatif sebagai ruang antara “penderitaan yang tersisa” dan “rengkuhan yang terbuka.” Ruang ini memungkinkan luka didengar, dinarasikan, dan dimaknai ulang secara kolektif melalui pemaknaan ulang situs konflik (misalnya Gereja Silo dan Tugu Trikora), forum lintas iman, liturgi pengakuan luka, dan ritus publik. Dengan demikian, rekonsiliasi tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi menumbuhkan solidaritas lintas iman dan harapan akan damai berkelanjutan.

Page 1 of 2 | Total Record : 16