cover
Contact Name
Tori Rihiantoro
Contact Email
toririhiantoro@poltekkes-tjk.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan@poltekkes-tjk.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. lampung selatan,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik
ISSN : 19070357     EISSN : 26552310     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Fokus jurnal adalah informasi tentang penelitian dan kajian di bidang keperawatan dan kesehatan. Jurnal ini diterbitkan setiap 6 bulan (April dan Oktober) dalam Bahasa Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 321 Documents
PENGARUH POSISI TEGAK (UPRIGHT) TERHADAP RASA NYERI DAN LAMANYA KALA I PERSALINAN IBU PRIMIPARA Titi Astuti; Mashaurani Yamin
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.431 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i1.276

Abstract

Dalam proses persalinan, ibu akan merasakan nyeri, cemas, stres emosional dan ketidaknyamanan karena adanya kontraksi uterus, peregangan serviks dan kemajuan bagian terendah janin. Nyeri persalinan jika tidak dikurangi akan mengganggu kemampuan, toleransi ibu yang dapat membahayakan ibu dan janin. Cara mengatasi nyeri dan lamanya kala I persalinan yaitu dengan teknik nonfarmakologik yaitu posisi tegak (upright). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh posisi tegak (upright) terhadap rasa nyeri dan lamanya kala I persalinan pada ibu primipara. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan rancangan post test only, sampel yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi sejumlah 64 responden yang terdiri dari 32 responden kelompok intervensi dan 32 responden kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan yaitu FPRS untuk mengukur observasi nyeri, lembar observasi untuk lamanya kala I . Analisis data menggunakan univariat dan bivariat dengan menggunakan uji T- Independen. Hasil penelitian membuktikan ibu yang mendapatkan posisi tegak (upright) lebih rendah nyerinya dari kelompok ibu primipara tanpa posisi tegak (upright) dengan p value 0,000,α 5%. lamanya kala I persalinan ibu primipara yang mendapatkan posisi tegak (upright) lebih cepat dari ibu primipara tanpa posisi tegak (upright) dengan  p value 0,000, α 5%.  Hal ini menunjukkan posisi tegak (upright) terbukti efektif untuk mengurangi nyeri persalinan kala I dan mempercepat lamanya kala I persalinan. Disarankan tenaga penolong persalinan dapat mengaplikasikan posisi tegak (upright), dalam memberikan pelayanan perawatan pada ibu bersalin secara fisiologis, meningkatkan rasa aman dan nyaman agar ibu dan bayinya sehat.
FAKTOR IBU DAN JANIN YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN ASFIKSIA Warjidin Aliyanto; Yeyen Putriana
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.769 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i2.583

Abstract

Salah satu ukuran dalam menilai derajat kesehatan suatu negara adalah dengan memperhatikan angka kematian bayi (AKB).  AKB di Indonesia pada tahun 2013 menempati peringkat ke-7 setelah Singapura, Brunei Darusalam, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Adapun angka kematian bayi terbesar adalah pada masa neonatal dini yaitu (0-7 hari). Penyebab kematian pada masa neonatal dini adalah asfiksia. Di Provinsi Lampung penyebab kematian bayi terutama disebabkan oleh asfiksia pada tahun 2013.Terjadi peningkatan kematian bayi akibat asfiksia dari tahun 2013 hingga tahun 2014 di RSUD Dr. H.  Abdul Moeloek Bandar Lampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor ibu dan bayi yang  berhubungan dengan kejadian asfiksia bayi baru lahir. Desain penelitian  analitik dan pendekatan case control. Populasi adalah bayi yang dirawat di RSUD Dr. Hi.Abdul Moeloek  dalam kurun waktu tahun 2014. Pengambilan sampel secara random sampling. Perbandingan sample 1:1, jumlah sampel kasus 48 dan jumlah kasus kontrol 48. Analisis bivariat menggunakan uji chi square .Analisis multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan hanya  satu variabel yang berhubungan dengan kejadian asfiksia adalah faktor meconium campur ketuban (p-value=0,00), demikian pula pada analisis multivariat .  Kesimpulan  tidak ada hubungan  preeklampsia- eklampsia, perdarahan antepartum, partus lama, demam selama kehamilan,  infeksi berat selama persalinan, post matur,   prematur,  persalinan sulit, kelainan kongenital, dengan kejadian asfiksia dan hanya  air ketuban bercampur meonium yang mempunyai hubungan dengan kejadian asfiksia.  Faktor yang paling dominan dalam analisis regresi adalah faktor air ketuban campur mekonium.Saran bagi RSUD Dr Hi Abdul Moeloek untuk memberikan pelatihan penangan asfiksia bagi para bidan dan perawat yang baru maupun yang sudah lama. Bagi bidan untuk lebih mematuhi standar pelayanan ANC. Bagi dinas kesehatan agar  melakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan standar pelayanan ANC dan memfasilitasi bidan melakukan deteksi dini menggunakan USG sederhana. 
INDEKS MASA TUBUH (IMT) PADA KEJADIAN BBLR DI RSUD PRINGSEWU LAMPUNG Yusari Asih
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.771 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v10i1.320

Abstract

Penyebab utama tingginya angka kematian bayi adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Faktor yang mempengaruhi kejadian BBLR, antara lain faktor ibu meliputi faktor obstetrik dan faktor nutrisi, faktor kehamilan, faktor janin, dan faktor lingkungan sosial ekonomi dan budaya. Prevalensi BBLR RSUD Pringsewu mengalami peningkatan dalam 4 tahun terakhir, dan masih berada diatas prevalensi propinsi lampung, yaitu sebesar 14%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian BBLR. Rancangan penelitian case control dilakukan di RSUD Pringsewu dengan populasi kasus ibu yang melahirkan BBLR di RSUD Pringsewu pada Januari sampai Oktober 2012, dan populasi kontrol adalah Ibu yang melahirkan bayi tidak BBLR di wilayah kecamatan Pringsewu pada Oktober 2012. Sampel berjumlah 200 ibu terdiri dari 100 kasus dan 100 kontrol.Hasil penelitian diketahui IMT normal (66%). Ada hubungan IMT dengan kejadian BBLR di RSUD Pringsewu Lampung tahun 2012 (p value 0,000). Perlu dilakukan upaya peningkatan status gizi ibu hamil dengan membentuk kelompok ibu hamil berisi pelatihan tentang cara berinovasi dan berkreasi membuat makanan tambahan berbasis pangan local oleh pihak Dinas kesehatanPringsewu dan seluruh provider kesehatan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu pada saat perencanaan kehamilan dan saat hamil, dan meningkatkan kualitas ANC pada semua ibu terutama ibu yang berisiko mengalami BBLR. 
HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA PENDERITA TB PARU TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT TB PARU Fina Oktafiyana; Nurhayati Nurhayati; Almurhan Almurhan
Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.06 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v12i1.344

Abstract

Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat diserang olehnya tapi yang paling sering diserang adalah paru-paru. Tujuan dari penalitian ini adalah Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja penderita TB Paru terhadap kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Panjang  Bandarlampung tahun 2015. Penelitian ini menggunakan metode  penelitian survei analitik dan dalam mencari hubungan variabel penelitian, peneliti menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua orang yang berobat ke  Puskesmas Panjang Bandarlampung tahun 2015  yang berusia 20-59 tahun pada bulan Januari-Mei 2015 yang berjumlah 730 orang dengan jumlah sampel yaitu sebanyak 131 orang. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa dari 79 orang responden yang menyatakan lingkungan kerja tidak baik sebanyak 41 orang (51,9%) terkena TB paru setelah bekerja di lingkungan kerja tersebut, dari 52 orang responden yang menyatakan lingkungan kerja tidak baik tidak ada yang terkena TB paru. Dari hasil uji statistik didapatkan nilai p-value (0,00) berarti p < α (0,05) artinya Ho ditolak.Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara lingkungan kerja penderita TB paru terhadap kejadian TB paru di Puskesmas Panjang Bandarlampung tahun 2015. Disarankan kepada Puskesmas Panjang untuk memberi informasi tentang TB paru dan memantau lingkungan kerja, serta menjalankan APD (Alat Pelindung Diri) baik di Puskesmas maupun lingkungan kerja. 
Pengaruh Pijat Oksitosin terhadap Involusi Uterus pada Ibu Postpartum Vidia Safitri Aisyah; I Gusti Ayu Mirah Widhi Sastri; Nyimas Aziza
Jurnal Keperawatan Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.241 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v13i2.925

Abstract

Hasil presurvey peneliti yang dilakukan di salah satu BPM Bandar Lampung didapatkan data adanya peningkatan kejadian perdarahan. Masalah yang ditemukan dalam penelitian ini adalah adanya peningkatan involusi yang tidak baik dari tahun 2015 (7,5%) dan 2016 (13,3%). Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh pijat oksitosin terhadap proses involusi uterus.Jenis penelitian ini adalah Ekperimental menggunakan Quasy Eksperiment dengan penilaian posttest only control group design.  Populasi penelitian ini seluruh ibu postpartum berjumlah 32 orang.Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 16 ibu yang diberi pijat oksitosin dan 16 ibu yang tidak diberi pijat oksitosin. Pengumpulan data menggunakan data primer dengan cara memberikan intervensi kepada responden dan mencatatnya pada lembar check list. Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat dengan Uji-t Independen.Hasil penelitian didapatkan bahwa Involusi uterus pada ibu postpartum yang diberikan pijat oksitosin memiliki rerata 3,19 jari dibawah pusat. Involusi uterus pada ibu postpartum yang tidak diberikan pijat oksitosin memiliki rerata 1,75 jari di bawah pusat. Ada pengaruh pijat oksitosin dengan proses involusi uterus. Dengan p value 0,000 < 0,05. Peneliti menyarankan agar pijat oksitosin dapat terus dilaksanakan dalam memberikan pelayanan postnatal kepada pasien sehingga kualitas pelayanan terhadap ibu postpartum dapat meningkat dan membantu menjadi salah satu alternatif upaya dan inovasi baru dalam mengurangi angka kematian dan perdarahan yang disebabkan oleh subinvolusi.
ANALISIS FAKTOR DETERMINAN STATUS GIZI LANSIA PENGHUNI PANTI WERDA BHAKTI YUSUA KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Dewi Sri Sumardillah; Yuliati Amperaningsih
Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.593 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v8i1.140

Abstract

Meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia). Lansia merupakan salah satu kelompok masyarakat yang rawan menderita masalah gizi sehingga kekebalan tubuh menurun, mudah terserang penyakit, timbul komplikasi penyakit bahkan risiko kematian. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya faktor determinan status gizi lansia penghuni Panti Werdha Bhakti Yusua Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan tahun 2011. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan mengukur seluruh populasi lansia yang berjumlah 104 orang. Instrument pengukuran yang digunakan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) untuk mengukur variabel dependen (status gizi) dan kuesioner untuk mengukur variabel independen (umur, jenis kelamin, status perkawinan, penyakit penyerta, kunjungan keluarga, partisipasi kegiatan sosial, kepemilikan gigi asli, konsumsi energi, konsumsi protein). Analasis bivariat untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen menggunakan uji chi square. Hasil penelitian diketaui bahwa 59,6% lansia memiliki status gizi kurus dengan rata-rata IMT 19,44+3,57. Faktor determinan yang berhubungan dengan status gizi lansia adalah status perkawinan (p=0,049), penyakit penyerta (p=0,000), kunjungan keluarga (p=0,041), partisipasi kegiatan sosial (p=0,004), jumlah kepemilikan gigi asli (p=0,011), konsumsi energi (p=0,039), dan konsumsi protein (p=0,042), sedangkan faktor determinan yang tidak ada hubungan adalah umur (p=0,644) dan jenis kelamin (p=0,835). Disarankan agar ada kerja sama antara kementerian sosial, kementerian kesehatan dan pemerintah daerah untuk menempatkan tenaga kesehatan di Panti Werdha Bhakti Yusua, membentuk posyandu lansia di Panti Werdha Bhakti Yusua agar kesehatan lansia dapat dipantau perkembangannya.
HUBUNGAN LAMANYA MASA TAHANAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL NARAPIDANA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN Ade Gunawati Sandi; Abdul Halim; Idawati Manurung
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 1 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.345 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i1.379

Abstract

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat, baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis.   Seksualitas merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis para narapidana di dapatkan banyak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan  yang melakukan perilaku seksual tidak normal, salah satu contohnya adalah onani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lamanya masa tahanan dengan perilaku seksual narapidana narkoba. Dari hasil penelitian pada 80 responden didapatkan bahwa 48 responden (60%) memiliki criteria masa tahanan lama dan di dapatkan 8 narapidan berperilaku seksual normal dan 40 narapidana berperilaku seksual tidak normal. Sedangkan dari 32 narapidana yang menjalani masa tahanan sebentar di dapatkan 29 narapidana berperilaku seksual normal dan 3 narapidana berperilaku seksual tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji statistik Chi Square dengan derajat kepercayaan (CI) 95% dengan nilai α (0,05) dihasilkan perhitungan ρ value 0,00 ≤ (0,05) yang berarti hipotesis Ho ditolak sehingga terlihat bahwa ada hubungan bermakna antara lamanya masa tahanan dengan perilaku seksual narapidana .Saran dari penelitian  diharapkan pihak lapas memfasilitasi mereka dengan kamar cinta.
PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA DENGAN PERILAKU KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI) Denny Septian; Rosmalia Helmy
Jurnal Keperawatan Vol 9, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.073 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v9i1.261

Abstract

Program perbaikan gizi masyarakat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. masalah gizi utama yang dihadapi Provinsi Lampung adalah masalah gizi kronis dengan prevalensi balita pendek+sangat pendek yang tinggi (>20%). Keluarga Sadar Gizi adalah suatu keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya, sebagai salah satu upaya preventif dan promotif diharapkan program Kadarzi mampu menurunkan masalah gizi yang terjadi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan perilaku keluarga sadar gizi. Penelitian ini dilakukan di Desa Hajimena Lampung Selatan pada bulan Juni tahun 2012. Penelitian ini menggunakan survey analitik dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional. Pengukuran terhadap perilaku Kadarzi  pengetahuan dan sikap menggunakan kuisioner, sedangkan untuk analisa data menggunakan chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan diketahui bahwa tingkat pengetahuan responden tentang kadarzi yang berkategori baik yaitu sebanyak 51.9%,  dan 48.1% memiliki pengetahuan kurang. Kemudian diketahui bahwa sikap responden sudah baik yaitu sebanyak 65.1% dan responden dengan sikap kurang baik terhadap perilaku Kadarzi sebanyak 34.9%. Penerapan perilaku Kadarzi di Desa Hajimena masih kurang yaitu sebesar 82,1%, sedangkan untuk keluarga yang sudah mampu berperilaku Kadarzi sebanyak 17,9%. Kesimpulan Yang diperoleh dari penelitian ini, ada hubungan yang bermakana (signifikan) antara Pengetahuan keluarga dengan perilaku Kadarzi,dan tidak ada hubungan antara sikap keluarga dengan perilaku Kadarzi. Saran yang bisa diberikan yaitu Puskesmas perlu mengintensifkan kembali kegiatan-kegiatan yang mungkin dapat memperbaiki pengetahuan dan sikap keluarga, sehingga pada akhirnya dapat menerapkan perilaku Kadarzi dalam keluarga.
HUBUNGAN PEMBERIAN STIMULASI IBU DENGAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU Yusari Asih
Jurnal Keperawatan Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.186 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v11i2.573

Abstract

Masa balita adalah masa keemasan (golden age) dimana peranan ibu sangat diperlukan untuk tumbuh kembang yang optimal. Masalah dalam penelitian ini adalah adanya balita yang mengalami gangguan perkembangan dan belum diketahui adakah hubungannya dengan pemberian stimulasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pemberian stimulasi ibu dengan perkembangan balita di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun 2015. Rancangan penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi  adalah seluruh ibu yang memiliki balita dan balitanya di Posyandu Melati wilayah kerja Puskesmas Pringsewu sebanyak 142 orang dan sampel 60 orang dengan tehnik proportional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi dengan menggunakan kuesioner yang berisi 20 pertanyaan dan KPSP yang terdiri dari 9-10 tugas perkembangan. Pengolahan data menggunakan editing, coding, processing dan cleaning. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dengan prosentase dan analisis bivariat dengan fisher exact test. Hasil penelitian tentang pemberian stimulasi ibu yaitu 56,7% responden memberikan stimulasi dengan baik dan 43,3% kurang. Perkembangan balita dengan kategori sesuai 81,7% dan tidak sesuai18,3%. Ada sebanyak 31 dari 34 (91,2 %) ibu yang memberikan stimulasi dengan baik dan perkembangan balitanya sesuai. Sedangkan diantara ibu yang memberikan stimulasi kurang baik, ada 18 dari 26 (69,2%) yang perkembangan balitanya sesuai. Diperoleh p value=0,044 dan OR=4,593. Kesimpulan i adalah terdapat hubungan  pemberian stimulasi ibu dengan perkembangan balita. Saran untuk ibu dan kader posyandu agar dapat memberikan stimulasi yang adekuat, teratur, dan sesuai kelompok umur serta bekerjasama dengan pihak puskesmas setempat untuk memberikan sosialisasi tentang stimulasi dan perkembangan balita baik dengan penyuluhan ataupun leaflet. 
PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 6-12 BULAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF Alfan F.W; Titi Astuti; Merah Bangsawan
Jurnal Keperawatan Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.647 KB) | DOI: 10.26630/jkep.v10i1.311

Abstract

ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi tanpa makanan tambahan atau cairan sampai umur 6 bulan (Suryoprajogo, 2009:53). Faktor-faktor pemberian ASI sangat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif,tingkat pendidikan dan pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.Tujuan penelitian,mengetahui hubungan pendidikan dan pengetahuan ibu yang mempunya bayi usia 6-12 bulan terhadap pemberian ASI eksklusif di  Desa Donomulyo Lampung Timur Tahun 2013. Jenis penelitian Analitik dengan pendekatancross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 28 juni s/d 9 juli 2013. Pengambilan sampel menggunakan teknik Simpel Random Sampling dengan jumlah responden 52 orang.Analisis data dengan menggunakan uji chi square.Hasil penelitian membuktikan bahwa pada α 5% ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p= 0,013, dan ada hubungan yang signifikan juga antara tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p= 0,000. Kesimpulan bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Donomulyo Lampung Timur Tahun 2013. Saran untuk petugas kesehatan lebih meningkatkan  penyuluhan tentang kesehatan, terutama tentang pemberian ASI sehingga masyarakat khususnya ibu-ibu menyusui dapat mengetahui secara jelas tentang kandungan ASI, keuntungan bagi ibu dan bayi jika memberikan ASI secara eksklusif.