cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,779 Documents
Kampanye Tbc Paru Ramah Keluarga: Meningkatkan Kesadaran Ibu dalam Melindungi Anak dari Penularan Tbc Jojor Silaban; Risdiana Melinda Naibaho; Perak Maruli Asi Roha Hutagalung
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27694

Abstract

ABSTRAK Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penemuan kasus TBC di Indonesia meningkat tajam, dengan 724.309 kasus ditemukan pada 2022 dan 821.200 kasus pada 2023. Estimasi jumlah kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar 1.060.000 kasus. Berdasarkan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), sebanyak 821.200 kasus TBC telah ternotifikasi pada tahun 2023, yang merupakan 77% dari target. Penularan TBC dalam keluarga mencapai 76,6%. Dari kasus yang ternotifikasi, 86% kasus TBC telah diobati. Keterlibatan keluarga memainkan peran penting dalam pengendalian dan pencegahan TB, terutama dalam penularan di rumah tangga. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu tentang TBC paru, cara penularan, dan pencegahannya, Menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga, menghapus stigma terhadap penderita TBC melalui pendekatan empatik dan edukatif dan mendorong peran aktif keluarga dalam mendeteksi dan mencegah penyebaran TBC. Manfaat kegiatan untuk membantu para ibu meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku dalam upaya pencegahan penuluran TBC. Khalayak sasaran dalam kegiatan penyuluhan ini adalah Ibu balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bunturaja berjumlah 53 orang. Ada 4 tahapan kegiatan: pertama melaksanakan pre-test pengetahuan sasaran tentang TBC Paru, kedua memberikan edukasi melalui ceramah, diskusi, tanya jawab dan demonstrasi; ketiga melakukan monitoring dan pendampingan; dan keempat melakukan evaluasi atau post-test test. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan dengan baik, Hasil evaluasi post-test menunjukkan bahwa edukasi efektif meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku peserta. Pengetahuan baik meningkat dari 5,66% menjadi 77,36%, sikap positif dari 15,06% menjadi 84,91%, dan perilaku baik dari 7,55% menjadi 81,13% setelah edukasi. Kata Kunci: Tuberkulosis, Kasus TBC, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a significant health issue in Indonesia, characterized by high morbidity and mortality rates. TB case detection in Indonesia has risen sharply, with 724,309 cases identified in 2022 and 821,200 cases in 2023; the estimated total number of TB cases in the country is approximately 1,060,000. According to the Tuberculosis Information System (SITB), 821,200 TB cases were notified in 2023, representing 77% of the target. Intra-familial TB transmission accounts for 76.6% of cases. Of the notified cases, 86% have undergone treatment. Family involvement plays a crucial role in TB control and prevention, particularly regarding household transmission. The objectives of this activity were to improve mothers' knowledge, attitudes, and behaviors regarding pulmonary TB, its transmission, and prevention; to foster clean and healthy living habits within the family; to eliminate stigma against TB patients through an empathetic and educational approach; and to encourage active family participation in detecting and preventing the spread of TB. The activity aimed to help mothers enhance their knowledge, attitudes, and behaviors in efforts to prevent TB transmission. The target audience for this health education activity consisted of 53 mothers with children under five years of age in the Bunturaja Community Health Center (Puskesmas) working area. The activity comprised four stages: first, conducting a pre-test to assess the participants' knowledge of pulmonary TB; second, providing education through lectures, discussions, QA sessions, and demonstrations; third, conducting monitoring and providing guidance; and fourth, performing an evaluation or post-test. The community service activity proceeded successfully; post-test results indicated that the education provided was effective in improving the participants' knowledge, attitudes, and behaviors. Good knowledge increased from 5.66% to 77.36%, positive attitudes from 15.06% to 84.91%, and good behavior from 7.55% to 81.13% following the educational intervention. Keywords: Tuberculosis, TB cases, Community service.
Socialization of Anthocyanin Content of Purple Sweet Potato Tubers in Bongkasa Pertiwi Village to Increase Public Knowledge I Wayan Putu Sutirta Yasa; I Made Jawi; A.A Ngurah Subawa; Ida Bagus Putra Manuaba; Komang Januartha Putra Pinatih; Putu Ayu Swandewi Astuti; I Gede Peri Arista; Gede Agus Ari Tirtayasa; Made Rendra Wisnu Rahasbistara; Iswahyudi Iswahyudi; I Putu Artha Wijaya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27629

Abstract

ABSTRACT Purple sweet potato (Ipomoea batatas L.) is a local food that contains anthocyanins and has the potential to be developed as a food source with functional value. However, information about the anthocyanin content of purple sweet potatoes in Bongkasa Pertiwi Village and its comparison with other areas in Bali is not widely known to the public. To increase public knowledge about anthocyanins and bioactive characteristics of purple sweet potatoes through research-based socialization and describing participants' responses to activities. The activity was held on July 18, 2026 in Bongkasa Pertiwi Village, Abiansemal District, Badung Regency, Bali, involving 50 participants. Socialization was carried out through the presentation of materials, presentation of research data, discussions, and questions and answers. Knowledge was measured using a pre-test and post-test which each consisted of 15 questions. The difference in scores was analyzed using a paired t-test at α=0.05, while the characteristics and responses of participants were analyzed descriptively. The average knowledge score increased from 45.2 ± 12.4 to 80.8 ± 9.6, with a difference of 35.6 points (t=18.42; df=49; p0.001). The proportion of participants with very high knowledge categories increased from 0% to 56%, while the low category decreased from 24% to 0%. Based on socialized research data, the anthocyanin content of purple sweet potatoes from Bongkasa Pertiwi was 1.17 ± 0.02 mg/g, higher than Mayungan, Tabanan (0.76 ± 0.01 mg/g) and Ubud, Gianyar (0.11 ± 0.01 mg/g). As many as 92% of participants were active in the discussion, 96% considered the material easy to understand, and 90% were interested in developing purple sweet potatoes as a value-added product. Socialization based on research results was followed by an increase in participants' knowledge and a positive response to the use of purple sweet potato as a local food commodity. Keywords: Anthocyanins, Purple Sweet Potatoes, Local Food, Socialization, Community Knowledge.
Implementation of Myofascial Release to Reduce Neck Pain in the Upper Trapezius Muscle Setiawan Setiawan; Yoni Rustiana Kusumawati; Afif Ghufroni; Ulfah Eka Wardani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27540

Abstract

ABSTRAK Hampir semua kalangan setiap hari mengeluhkan nyeri di daerah leher, permasalahan ini paling banyak dirasakan pada usia produktif dan lansia, sehingga mengganggu aktivitas dan produktifitas kesehariannya. Nyeri leher ini tidak dapat disepelekan, karena termasuk 5 besar seseorang mencari pertolongan kesehatan. Myofascial release merupakan salah satu cara untuk mengurangi keluhan nyeri leher, yaotu dengan melepaskan pembatas (hambatan) di dalam lapisan fascia yang lebih dalam. Hal ini dapat dilakukan dengan cara peregangan elastis komponen otot fascia, bersama dengan jaringan ikat, dan mengubah viskositas substansi dasar fascia. Sehingga dapat meningkatkan kemampuan fungsional.  Kegiatan pengabdian ini ditujukan meningkatkan pengetahuan pada kader posyandu dan masyarakat dalam upaya penurunan nyeri leher pada otot upper trapezius. kegiatan diawali dengan mengidentifikasi permasalahan, selanjutnya pre-test kemudian dilakukan penyuluhan dan demontrasi tentang penanganan sederhana dalam mengurangi nyeri. Pada minggu selanjutnya dilakukan pendampingan kader posyandu ke masyarakat, dan diakhir sesi kegiatan dilakukan post-test dan evaluasi. Didapatkan hasil peningkatan pengetahuan pada kader posyandu dan masyarakat dalam upaya penurunan nyeri leher pada otot upper trapezius dengan myofascial release. Penyuluhan dan cara penanganan sederhana upaya penurunan nyeri leher dengan myofascial release pada otot upper trapeziussangat bermanfaat, sehingga masyarakat dapat mengatasi keluhan nyeri leher pada otot upper trapezius. Kata Kunci: Myofascial Release, Nyeri, Leher, Upper Trapezius.   ABSTRACT People from all walks of life frequently complain of neck pain—an issue particularly prevalent among the working-age population and the elderly—which interferes with daily activities and productivity. Neck pain should not be underestimated, as it ranks among the top five reasons for seeking medical attention. Myofascial release is a method used to alleviate neck pain by releasing restrictions within the deeper fascial layers. This is achieved by elastically stretching the myofascial components and connective tissues, as well as altering the viscosity of the fascial ground substance, thereby enhancing functional ability. This community service activity aimed to increase the knowledge of *Posyandu* (integrated health post) volunteers and the general public regarding methods to reduce upper trapezius neck pain. The activity began with problem identification and a pre-test, followed by an educational session and a demonstration of simple pain-relief techniques. In the following week, volunteers provided guidance to community members, and the program concluded with a post-test and evaluation. The activity resulted in increased knowledge among *Posyandu* volunteers and community members regarding the use of myofascial release to reduce upper trapezius neck pain. Education and simple myofascial release techniques for the upper trapezius muscle proved highly beneficial, enabling the community to manage upper trapezius neck pain effectively. Keywords: Myofascial Release, Pain, Neck, Upper Trapezius.
Penguatan Edukasi Kesehatan Mental dan Pencegahan Kekerasan Seksual pada Siswa Sekolah Dasar melalui Media Animasi dan Virtual Reality Badruli Martati; Yuni Gayatri; Ajeng Retno Kustianingrum; Ardiyani Sekarningrum
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27447

Abstract

ABSTRAK Kesehatan mental anak dan pencegahan kekerasan seksual merupakan dua aspek penting yang saling berkaitan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Rendahnya literasi kesehatan mental serta kurangnya pemahaman mengenai pencegahan kekerasan seksual dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis, menurunkan rasa percaya diri, dan menghambat perkembangan sosial maupun akademik siswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi preventif yang inovatif sejak usia sekolah dasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental serta memperkuat pemahaman dan kesadaran pencegahan kekerasan seksual pada siswa SD Muhammadiyah 9 Surabaya melalui pemanfaatan media pembelajaran berbasis video animasi Virtual dan Reality (VR), yang didukung oleh penguatan kapasitas guru dan peran orang tua. Metode pelaksanaan terdiri atas lima tahapan, yaitu persiapan, implementasi, monitoring dan evaluasi, penyusunan laporan, serta keberlanjutan program. Implementasi program meliputi edukasi kesehatan mental mengenai pengenalan emosi, pengelolaan stres sederhana, kemampuan mencari pertolongan, pembelajaran interaktif tentang pencegahan kekerasan seksual menggunakan media VR dan video animasi, pelatihan bagi guru, serta edukasi parenting bagi orang tua. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mengenali emosi, membangun kesehatan mental yang positif, memahami batasan tubuh pribadi, membedakan sentuhan aman dan tidak aman, serta mengambil tindakan perlindungan diri ketika menghadapi situasi berisiko. Selain itu, kompetensi guru dan kesadaran orang tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan perlindungan anak juga mengalami peningkatan. Dengan demikian, pemanfaatan media animasi dan Virtual Reality terbukti efektif sebagai media edukasi dalam memperkuat kesehatan mental dan pencegahan kekerasan seksual pada siswa sekolah dasar guna mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan ramah anak. Kata Kunci: Kesehatan Mental, Pencegahan Kekerasan Seksual, Video Animasi, Virtual Reality, Sekolah Dasar.  ABSTRACT Children's mental health and the prevention of sexual violence are two interrelated aspects that play a crucial role in supporting children's optimal growth and development. Limited mental health literacy and inadequate understanding of sexual violence prevention may increase the risk of psychological problems, reduce self-confidence, and hinder students' social and academic development. Therefore, innovative preventive education should be introduced from the elementary school level. This community service program aimed to enhance mental health literacy and strengthen students' understanding and awareness of sexual violence prevention among students at SD Muhammadiyah 9 Surabaya through the use of innovative learning media based on animated videos and Virtual Reality, supported by capacity building for teachers and active parental involvement. The program was implemented in five stages: preparation, implementation, monitoring and evaluation, report preparation, and program sustainability. The implementation included mental health education covering emotional recognition, basic stress management, and help-seeking skills, as well as interactive learning on sexual violence prevention using VR and animated videos, teacher training, and parenting education for parents. The results demonstrated significant improvements in students' knowledge and skills in recognizing emotions, developing positive mental health, understanding personal body boundaries, distinguishing between safe and unsafe touch, and taking appropriate self-protection measures in risky situations. In addition, teachers' competencies and parents' awareness in creating a supportive environment for children's mental health and protection also improved. In conclusion, animated videos and Virtual Reality proved to be effective educational media for strengthening mental health literacy and preventing sexual violence among elementary school students, thereby contributing to the creation of a safe, healthy, and child-friendly school environment. Keywords: Mental Health, Sexual Violence Prevention, Animated Videos, Virtual Reality, Elementary School.
Edukasi Pencegahan Stunting dan Optimalisasi Kader Posyandu Kecamatan Riung Kabupaten Ngada, NTT Yunita Astriani Hardayati; Tasqia Sekar P M; Tuti Asrianti Utami
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26560

Abstract

ABSTRACT Stunting remains a priority public health issue in Indonesia, including in Ngada Regency, East Nusa Tenggara, with a prevalence of 8.3% in 2024. Posyandu cadres serve as frontline agents for early detection and nutrition education at the community level. To improve knowledge and skills of Posyandu cadres in Riung Sub-district on stunting prevention through nutrition education, early detection, and local-food-based supplementary food processing. Community service (PKM) was conducted using counselling, training, and mentoring methods for 21 Posyandu cadres on 30 July 2025 at Riung Sub-district Hall. Evaluation used pre-test/post-test and observation of anthropometric measurement skills. Mean knowledge score increased from 8.7 (pre-test) to 9.6 (post-test), a 10.3% improvement. All 21 cadres demonstrated competence in measuring height and mid-upper arm circumference (MUAC).  Community-based education proves effective in strengthening Posyandu cadres as frontline stunting prevention agents. Continuous mentoring, distribution of educational media (posters, videos) at Posyandu, and cross-sector partnerships (Puskesmas, sub-district, cadres) are needed to ensure program sustainability. Keywords: Early Detection, Nutrition Education, Posyandu Cadres, Stunting Prevention.  ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat prioritas di Indonesia, termasuk di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan prevalensi 8,3% pada tahun 2024 (BPS, 2024). Kader Posyandu berperan strategis sebagai garda terdepan deteksi dini dan edukasi gizi di tingkat komunitas. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu Kecamatan Riung dalam pencegahan stunting melalui edukasi gizi, deteksi dini, dan pengolahan makanan tambahan berbahan lokal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dilaksanakan dengan metode penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan terhadap 21 kader Posyandu pada 30 Juli 2025 di Aula Kecamatan Riung. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test serta observasi keterampilan pengukuran antropometri. Rata-rata pengetahuan kader meningkat dari 8,7 (pre-test) menjadi 9,6 (post-test), atau peningkatan 10,3%. Seluruh 21 kader mampu melakukan pengukuran tinggi badan dan lingkar lengan atas (LiLA) secara mandiri. Edukasi berbasis komunitas terbukti meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu sebagai ujung tombak pencegahan stunting. Diperlukan pendampingan berkelanjutan, distribusi media edukasi (poster, video) di Posyandu, serta penguatan kemitraan lintas sektor (Puskesmas, kecamatan, kader) untuk menjaga keberlanjutan program. Kata Kunci: Deteksi Dini, Edukasi Gizi, Kader Posyandu, Pencegahan Stunting
Health Screening and Elderly Gymnastics at Kembaran Posyandu as an Effort to Support the SDGs (Sustainable Development Goals) Isna Nur Nelinda; Rina Rina; Galih Sulistyowati; Muhammad Zakky Ashari; Abdullah Azam Mustajab
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27672

Abstract

ABSTRAK Posyandu sebagai sarana pemberdayaan masyarakat yang dikelola oleh kader dengan bimbingan petugas Puskesmas. Salah satu tugas kader yaitu melakukan skrining kesehatan terhadap peserta Posyandu dan melakukan pelayanan kesehatan diantaranya senam lansia. Melakukan skrining kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan peserta Posyandu dan kegiatan senam lansia untuk menjaga lansia tetap sehat dan bugar di Posyandu Dusun Kembaran, Kebutuhduwur. Melakukan skrining kesehatan pada peserta Posyandu dan melakukan senam lansia. Peserta yang dilakukan skrining Kesehatan sebanyak 18 bayi-balita serta peserta usia dewasa dan lansia sebanyak 30 orang. Kegiatan Posyandu di tutup dengan melakukan senam lansia yang diikuti oleh peserta dan petugas Posyandu. Peserta hadir dengan tertib dan antusias mengikuti setiap langkah yang dilaksanakan di Posyandu. Kata Kunci: Kesehatan, Posyandu, SDGs, Senam Lansia, Skrining  ABSTRACT Posyandu serves as a community empowerment platform managed by volunteers (cadres) under the guidance of Community Health Center (Puskesmas) staff. One of the cadres' duties is to conduct health screenings for Posyandu participants and provide health services, including exercise sessions for the elderly. To conduct health screenings to assess the health status of Posyandu participants and to hold exercise sessions for the elderly to maintain their fitness and health at the Posyandu in Kembaran, Kebutuhduwur. Conducting health screenings for Posyandu participants and facilitating elderly exercise sessions. Health screenings were performed on 18 infants and toddlers, as well as 30 adult and elderly participants. The Posyandu activity concluded with an exercise session for the elderly, attended by both participants and Posyandu staff. Participants attended in an orderly manner and enthusiastically engaged in every activity conducted at the Posyandu.  Keywords: Elderly Gymnastic, Health, Posyandu, Screening, SDGs 
Modul Tpq Kolaboratif: Gerakan Komunitas Masjid untuk Memperkuat Pendidikan Islam Agus Miftakus Surur; Alwi Musa Muzaiyin; Pandi Rais; Hisbulloh Hadziq; Fatimatuz Zahro; Novianah Khalimatus Sa`Diyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27590

Abstract

ABSTRAK Rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan TPQ dan keterbatasan sumber belajar menjadi isu krusial yang memengaruhi kualitas pendidikan Islam berbasis komunitas. Kondisi ini diperkuat oleh temuan teori tentang rendahnya modal sosial dan kurangnya media edukasi masyarakat, sehingga kolaborasi antara ustadz, takmir, dan warga belum berjalan optimal. Pengabdian ini bertujuan merancang dan mengimplementasikan modul TPQ kolaboratif yang mampu mengintegrasikan peran para pihak untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan partisipasi komunitas. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi kebutuhan, perencanaan aksi, implementasi, refleksi, dan re-planning. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada keaktifan santri, keterlibatan masyarakat, dan efektivitas peran takmir dalam penyediaan fasilitas belajar. Modul yang dihasilkan telah diuji coba, direvisi berdasarkan masukan mitra, dan disiapkan untuk perlindungan HKI serta publikasi ilmiah. Pengabdian menyimpulkan bahwa modul TPQ kolaboratif efektif memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis masjid dan meningkatkan keberlanjutan program. Direkomendasikan untuk memperluas materi Qur’ani, memperkuat jejaring komunitas, dan melanjutkan pendampingan agar modul terus berkembang sesuai kebutuhan lokal. Kata Kunci: Modul TPQ Kolaboratif, Pendidikan Islam Berbasis Komunitas, Partisipasi Masyarakat, Participatory Action Research (PAR), Peningkatan Keaktifan Santri.  ABSTRACT Low community participation in TPQ activities and limited learning resources are crucial issues affecting the quality of community-based Islamic education. This condition is reinforced by theoretical findings regarding low social capital and a lack of community educational media, resulting in sub-optimal collaboration among ustadz, takmir, and residents. This community service aims to design and implement a collaborative TPQ module capable of integrating the roles of stakeholders to enhance learning quality and community participation. The method used is Participatory Action Research (PAR) through the stages of needs identification, action planning, implementation, reflection, and re-planning. The results of the community service show a significant increase in student activity, community involvement, and the effectiveness of the takmir's role in providing learning facilities. The resulting module has been tested, revised based on partner input, and prepared for IPR (Intellectual Property Rights) protection as well as scientific publication. The community service concludes that the collaborative TPQ module effectively strengthens the mosque-based learning ecosystem and enhances program sustainability. It is recommended to expand Quranic material, strengthen community networks, and continue mentoring so that the module continues to develop according to local needs. Keywords: Collaborative TPQ Module, Community-Based Islamic Education, Community Participation, Participatory Action Research (PAR), Student Engagement Enhancement.
Pengabdian Masyarakat dan Edukasi Kesehatan Mengenai Penyakit Hepatitis Pada Agregat Penderita Penyakit Menular di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Atikah Adyas; Dewi Yuliana; Dwi Maya Wulandari; Febriyana Saputri Nara; M. Agung Dwi Huda
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.28105

Abstract

ABSTRAK Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati sistemik yang menjadi masalah kesehatan masyarakat global, termasuk bagi agregat penderita penyakit menular di Provinsi Lampung. Kurangnya literasi kesehatan memicu keterlambatan diagnosis dan peningkatan komplikasi fatal. Pengkajian awal menunjukkan mayoritas pasien belum memahami esensi penyakit ini yang memperlambat penyembuhan dan memicu penularan. Tujuan pengabdian masyarakat dan edukasi kesehatan ini yaitu untuk menstimulasi peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya penderita penyakit menular dan keluarganya, terhadap pentingnya pola hidup sehat, pencegahan hepatitis, serta meningkatkan pengetahuan secara komprehensif. Metode Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan kombinasi berupa ceramah interaktif, demonstrasi fisik, dan sesi tanya jawab. Sasaran kegiatan adalah pasien hepatitis dan keluarga di Ruang Endoscopy RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Hasil intervensi edukasi menunjukkan efektivitas yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman peserta. Persentase tingkat pengetahuan baik melonjak tajam dari sebelum dan setelah intervensi dilaksanakan. Evaluasi pencapaian materi dan praktik 6 langkah cuci tangan menyentuh tingkat keberhasilan 95%. Kesimpulannya, edukasi ini sangat efektif dalam memutus mata rantai penularan di lingkungan rumah sakit dan masyarakat. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Hepatitis, Pengabdian Masyarakat, Penyakit Menular, Promosi Kesehatan.  ABSTRACT Hepatitis is a systemic liver inflammatory disease representing a major public health challenge globally, including among infectious disease patient aggregates in Lampung Province. Inadequate health literacy triggers delayed diagnosis and escalates fatal complications. Initial assessments indicate the majority of patients lack essential understanding of this disease, which delays recovery and triggers transmission. Purpose community service and health education is to stimulate increased public awareness, especially among infectious disease patients and their families, regarding the importance of a healthy lifestyle, hepatitis prevention, and to comprehensively improve their knowledge. Method this community service activity uses a combination method in the form of interactive lectures, physical demonstrations, and question and answer sessions. The target of the activity is hepatitis patients and their families in the Endoscopy Room of RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Lampung Province. Result the educational intervention demonstrated significant effectiveness in enhancing participants’ understanding. The percentage of good knowledge levels increased dramatically from before and post-intervention. Evaluation of material comprehension and the 6-step handwashing practice reached a 95% success rate. The abstract should end with a comment on the significance of the results or a brief conclusion: this education is highly effective in breaking the chain of transmission within the hospital and community environments. Keywords: Community Service, Health Education, Hepatitis, Infectious Disease, Health Promotion.
Optimalisasi Peran Pendidik Sebaya melalui Kegiatan Penyuluhan Berbasis Android Pada Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi Remaja di Desa Mantup Kabupaten Lamongan Kharisma Kusumaningtyas; Dwi Wahyu Wulan Sulistyowati; Titi Maharrani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26928

Abstract

ABSTRAK Desa Mantup, salah satu dari 15 desa di Kecamatan Mantup, terletak di bagian tengah kecamatan dan berjarak sekitar 15 km dari Kabupaten Lamongan. Menurut data studi pendahuluan Puskesmas Mantup tahun 2023, angka kejadian fluor albus pada remaja di daerah tersebut cukup tinggi, mencapai 28,7%. Selain itu, hampir seluruh remaja putri (90%) memiliki pengetahuan yang kurang tentang kesehatan reproduksi remaja dan fluor albus. Target luaran yang diharapkan tercapai pada program pengabdian masyarakat ini adalah peningkatan pengetahuan masyarakat, khususnya remaja putri, tentang fluor albus, serta peningkatan peran remaja putri dalam memecahkan masalah yang ada di masyarakat melalui pembentukan kelompok pendidik sebaya. Metode yang diterapkan pada hari pertama yaitu pre-test dan penyuluhan serta pada hari kedua disampaikan aplikasi “Hi-Teens”, praktikum teman sebaya, dan post-test. Hasil dari pengabdian ini yaitu pemahaman remaja putri mengalami peningkatan dengan diberikannya penyuluhan tentang reproduksi remaja dalam upaya pencegahan fluor albus serta terbentuknya kelompok pendidik sebaya remaja sebanyak 40 orang telah diberikan tatacara pemberian informasi kepada temannya. Melalui program pengabdian masyarakat dengan metode penyuluhan, aplikasi interaktif, dan pembentukan kelompok pendidik sebaya, terjadi peningkatan pemahaman remaja putri mengenai pencegahan fluor albus dan terbentuknya kelompok pendidik remaja yang menunjukkan adanya keberhasilan dalam meningkatkan peran remaja putri sebagai agen edukasi di lingkungannya. Kata Kunci: Pendidik Sebaya, Remaja Putri, Kesehatan Reproduksi.  ABSTRACT Mantup Village, one of the 15 villages in Mantup Subdistrict, is located approximately 15 km from Lamongan Regency. Preliminary data from the Mantup Community Health Center (2023) reported a relatively high incidence of fluor albus among adolescents, reaching 28.7%. Furthermore, almost 90% of adolescent girls demonstrated insufficient knowledge of reproductive health and fluor albus. This community service program aimed to enhance adolescent girls’ knowledge of fluor albus and strengthen their role in addressing reproductive health issues through the establishment of peer educator groups. The intervention was carried out over two days. On the first day, participants completed a pre-test and received health education, while on the second day they were introduced to the “Hi-Teens” application, engaged in peer-led practice, and completed a post-test. Program outcomes indicated improved understanding of reproductive health and fluor albus prevention among adolescent girls. Moreover, a peer educator group was successfully established, involving 40 adolescents trained in delivering information to their peers.Overall, the program demonstrated that combining health education, interactive digital tools, and peer-based learning effectively increased knowledge and fostered active roles of adolescent girls as agents of health education in their community. Keywords: Peer Educators, Teenage Girls, Reproductive Health.
Pemberdayaan Siswa Melalui Edukasi dan Skrining Talasemia Berbasis Sekolah untuk Mendukung Deteksi Dini Yefi Ardyanti; Revika Rachmaniar; Adang Firmansyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27699

Abstract

ABSTRAK Talasemia sebagai kelainan genetik dengan konsekuensi kesehatan jangka panjang memerlukan strategi pencegahan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan penderita, tetapi juga pada peningkatan literasi kesehatan, deteksi dini pembawa sifat (carrier), dan penguatan dukungan tindak lanjut pada kelompok remaja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai talasemia sekaligus memperluas partisipasi dalam deteksi dini melalui integrasi edukasi, skrining, dan pendampingan berbasis sekolah. Kegiatan dilaksanakan pada delapan satuan pendidikan tingkat SMA, SMK, dan MA di Provinsi Jawa Barat dengan sasaran edukasi sebanyak 1.860 siswa. Evaluasi kegiatan melibatkan 350 siswa melalui kuesioner, sedangkan skrining talasemia diikuti oleh 309 siswa dengan mempertimbangkan ketersediaan perangkat dan kapasitas pemeriksaan. Hasil skrining menunjukkan terdapat 27 siswa yang memerlukan perhatian dan tindak lanjut lebih lanjut terkait kemungkinan status pembawa sifat talasemia. Hubungan antara edukasi, kesadaran, dan partisipasi skrining dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), yang menunjukkan koefisien jalur positif edukasi terhadap kesadaran sebesar β = 0,451, edukasi terhadap partisipasi skrining sebesar β = 0,486, dan kesadaran terhadap partisipasi skrining sebesar β = 0,435. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi memiliki posisi penting dalam membangun kesadaran dan mendorong keterlibatan siswa dalam deteksi dini, sedangkan pendampingan memperkuat kesinambungan program melalui keterlibatan siswa, keluarga, tenaga kesehatan, dan organisasi terkait talasemia. Program ini menunjukkan bahwa integrasi edukasi, skrining, dan pendampingan dapat menjadi pendekatan promotif dan preventif berbasis sekolah yang relevan untuk memperkuat deteksi dini talasemia. Pengembangan program selanjutnya perlu diarahkan pada perluasan cakupan skrining, penguatan sistem rujukan, peningkatan keterlibatan keluarga, serta penguatan jejaring layanan kesehatan agar proses tindak lanjut berlangsung secara berkelanjutan. Kata Kunci: Talasemia, Edukasi Kesehatan, Deteksi Dini, Skrining, Carrier, Remaja, Pemberdayaan Berbasis Sekolah.  ABSTRACTThalassemia, as a genetic disorder with long-term health consequences, requires preventive strategies that extend beyond the treatment of affected individuals to include improving health literacy, early detection of thalassemia carriers, and strengthening follow-up support among adolescents. This community service program aimed to improve students’ understanding and awareness of thalassemia while increasing participation in early detection through an integrated school-based approach combining education, screening, and mentoring. The program was implemented in eight senior high schools, vocational high schools, and Islamic senior high schools in West Java Province, involving 1,860 students as the target population for health education. Program evaluation involved 350 students through questionnaires, while thalassemia screening was conducted among 309 students, taking into account the availability of screening equipment and examination capacity. The screening results identified 27 students who required further attention and follow-up regarding the possibility of being thalassemia carriers. The relationships among education, awareness, and screening participation were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). The analysis showed positive path coefficients from education to awareness (β = 0.451), education to screening participation (β = 0.486), and awareness to screening participation (β = 0.435). These findings indicate that education plays an important role in developing awareness and encouraging student participation in early detection, while mentoring strengthens program continuity through the involvement of students, families, healthcare professionals, and thalassemia-related organizations. The program demonstrates that integrating education, screening, and mentoring can serve as a relevant school-based promotive and preventive approach to strengthening early thalassemia detection. Future program development should focus on expanding screening coverage, strengthening referral systems, increasing family involvement, and reinforcing healthcare service networks to ensure sustainable follow-up. Keywords: Thalassemia, Health Education, Early Detection, Screening, Carrier, Adolescents, School-Based Empowerment.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026) Vol 9, No 9 (2026): Volume 9 Nomor 9 (2026) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue