cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,779 Documents
Cegah Stunting dengan Pemberian Edukasi Gizi dan Demonstrasi Makanan Kaya Protein Hewani Berbasis Pangan Lokal Joyeti Darni; Retno Wahyuningsih; Reni Sofiyatin; Mira Utami Ningsih; Jaya Pandu Ruslan Ningrat
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26872

Abstract

ABSTRAK Stunting adalah masalah pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, Kondisi ini membawa dampak buruk jangka panjang, baik bagi individu maupun masyarakat, berupa hambatan perkembangan fisik dan kognitif, penurunan produktivitas, serta peningkatan kerentanan terhadap penyakit degenerative. Pemenuhan gizi melalui optimalisasi lauk-pauk berbasis pangan lokal sangat disarankan untuk pencegahan stunting. Meningkatkan Pengetahuan dan keterampilan kader posyandu tentang stunting dan keterampilan mengolah makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal. Metode pengabdian kepada masyarakat yang diterapkan meliputi penyuluhan gizi dan demonstrasi pembuatan makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal sebagai upaya preventif stunting. Pemberian penjelasan teori dan praktik langsung pengolahan bahan pangan lokal menjadi menu tinggi protein hewani yang praktis, serta sesi dialog interaktif bersama peserta. Sebagai penunjang, digunakan media booklet untuk memperkuat pemahaman visual, kuesioner pre-test dan post-test untuk mengevaluasi perkembangan pemahaman sebelum dan sesudah edukasi. Terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat pengetahuan kader Posyandu antara sebelum dan setelah diberikan edukasi gizi, peningkatan nilai rata-rata dari 5,21 menjadi 6,47 bahwa intervensi edukasi gizi dan demonstrasi makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal memiliki efektivitas dalam meningkatkan pemahaman serta kapasitas kader terkait pencegahan stunting.Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung secara kondusif dan mendapat respons positif dari kader Posyandu. Intervensi berupa kombinasi edukasi gizi serta demonstrasi pengolahan makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal tersebut terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas dan pemahaman kader terkait pencegahan stunting. Kata kunci: demostrasi, edukasi, protein hewani, stunting.  ABSTRACT Stunting is a growth and development disorder in children caused by chronic malnutrition. This condition carries long-term adverse impacts for both individuals and society, resulting in physical and cognitive developmental delays, reduced productivity, and increased vulnerability to degenerative diseases. Meeting nutritional needs by optimizing local food-based side dishes is highly recommended for stunting prevention. This study aims to enhance the knowledge and skills of Posyandu cadres regarding stunting, as well as their skills in processing local food-based foods rich in animal protein. The community service method applied included nutritional counseling and cooking demonstrations of local food-based foods rich in animal protein as a preventive measure against stunting. The intervention consisted of theoretical explanations, hands-on practice in processing local food ingredients into practical high-animal-protein menus, and interactive dialogue sessions with the participants. To support the program, booklet media were utilized to reinforce visual understanding, while pre-test and post-test questionnaires were administered to evaluate changes in understanding before and after the education. There was a significant difference in the knowledge level of Posyandu cadres before and after the nutritional education. The increase in the average score from 5.21 to 6.47 indicates that the nutritional education intervention and the demonstration of local food-based foods rich in animal protein were effective in improving the understanding and capacity of cadres regarding stunting prevention. The implementation of this community service activity proceeded smoothly and received positive responses from the Posyandu cadres. The intervention, combining nutritional education and cooking demonstrations of local food-based foods rich in animal protein, proved effective in increasing the capacity and understanding of cadres regarding stunting prevention. Keywords: Demonstration, Education, Animal Protein, Stunting.
Program Deteksi Dini Hipertensi melalui Skrining Tekanan Darah dan Edukasi Kesehatan di Desa Mandalahaji, Kabupaten Bandung Asep Roni; Dedeh Dahliah; Rizki Siti Nufitria; Ika Kunia Sukmawati; Novaliana Devianti Sagita; Wini Resna Novianti; Anri Anri; Tika Lubis; Fania Putri Alya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27680

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering tidak menunjukkan gejala sehingga deteksi dini melalui pemeriksaan tekanan darah menjadi penting di tingkat masyarakat. Posbindu dan kegiatan pengabdian masyarakat dapat menjadi sarana skrining serta edukasi faktor risiko hipertensi. Kegiatan ini bertujuan melakukan skrining tekanan darah dan memberikan edukasi mengenai hipertensi kepada masyarakat Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Kegiatan dilaksanakan pada 30 Juli 2026 di RW 10 Desa Mandalahaji dengan pendekatan edukatif dan skrining kesehatan. Data yang dianalisis meliputi karakteristik peserta, nilai pre-test, dan hasil pengukuran tekanan darah. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rerata. Sebanyak 34 peserta mengikuti kegiatan dengan rentang usia 24–74 tahun. Sebagian besar peserta adalah perempuan (88,2%). Rerata nilai pre-test sebesar 85. Rerata tekanan darah peserta adalah 130,82/84,35 mmHg. Sebanyak 17 peserta (50,0%) memiliki hasil tekanan darah ≥140 mmHg sistolik dan/atau ≥90 mmHg diastolik pada saat skrining. Dua peserta menunjukkan hasil sangat tinggi, yaitu 210/140 mmHg dan 196/117 mmHg, sehingga memerlukan tindak lanjut kesehatan. Skrining berbasis masyarakat ini berhasil mengidentifikasi peserta dengan hasil tekanan darah tinggi yang memerlukan pemantauan lebih lanjut. Kegiatan edukasi dan skrining perlu dilanjutkan secara berkala melalui Posbindu dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Hipertensi, Masyarakat, Skrining, Tekanan Darah.  ABSTRACT Hypertension is one of the major non-communicable diseases that may occur without noticeable symptoms, making early detection through blood pressure screening important at the community level. Community-based screening and health education can support early detection and hypertension prevention. This community service activity aimed to conduct blood pressure screening and provide hypertension education to residents of Mandalahaji Village, Pacet District, Bandung Regency. The activity was conducted on July 30, 2026, in RW 10, Mandalahaji Village, using an educational and screening approach. Data included participants' characteristics, pre-test scores, and blood pressure measurements. Data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and means. A total of 34 participants participated, with ages ranging from 24 to 74 years. Most participants were women (88.2%). The mean pre-test score was 85. The mean blood pressure was 130.82/84.35 mmHg. Seventeen participants (50.0%) had blood pressure readings of ≥140 mmHg systolic and/or ≥90 mmHg diastolic during screening. Two participants had markedly elevated readings of 210/140 mmHg and 196/117 mmHg and therefore required further health follow-up. This community-based screening successfully identified participants with elevated blood pressure who required further monitoring. Regular screening and health education through community health posts and primary healthcare facilities should be continued. Keywords: Blood Pressure, Community, Health Education, Hypertension, Screening.
Edukasi Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) sebagai Upaya Preventif Komplementer Terhadap Kanker Serviks melalui Peningkatan Daya Tahan Tubuh Pada Wanita Usia Subur di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang Miftakhul Mahfirah Ermadona; Indah Mauludiyah; Eva Inayatul Faiza; Riski Akbarani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27614

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Indonesia, dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang persisten sebagai penyebab utama. Wanita usia subur (WUS) di wilayah pedesaan seperti Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang memiliki akses dan pemanfaatan skrining IVA/Pap Smear yang masih rendah, sementara pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai pendamping gaya hidup sehat belum diintegrasikan secara terarah ke dalam edukasi kesehatan reproduksi. Mengevaluasi perubahan pemanfaatan TOGA, pengetahuan, dan perilaku konsumsi herbal pada WUS di Desa Slamet sebelum dan sesudah edukasi sebagai upaya preventif komplementer kanker serviks melalui peningkatan daya tahan tubuh. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan penyuluhan interaktif, pendampingan skrining mandiri berbasis aplikasi CerviCheck, serta edukasi dan demonstrasi enam jenis TOGA (kunyit putih, meniran, daun kelor, daun sirsak, keladi tikus, dan sambiloto), dengan desain one group pre-test post-test pada 55 responden WUS di Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Pemanfaatan TOGA meningkat dari 49,1% (pre-test) menjadi 76,4% (post-test), dengan pergeseran pola konsumsi ke arah kunyit putih dan daun kelor sebagai jenis herbal yang paling dominan. Rerata skor pengetahuan kesehatan reproduksi meningkat dari 63,6% menjadi 95,5%; pada item pengetahuan spesifik terkait herbal, pemahaman tentang kandungan antioksidan kunyit putih meningkat dari 61,8% menjadi 92,7%, dan pemahaman tentang pentingnya takaran herbal yang tepat meningkat dari 50,9% menjadi 100%. Peran tenaga kesehatan sebagai sumber informasi herbal meningkat tajam dari 0% menjadi 34,5%. Edukasi TOGA yang dipadukan dengan skrining berbasis machine learning terbukti efektif meningkatkan pemanfaatan herbal secara rasional, pengetahuan, dan kesadaran WUS mengenai peran TOGA sebagai pendamping, bukan pengganti, upaya pencegahan medis kanker serviks. Kata Kunci: Tanaman Obat Keluarga, TOGA, Kanker Serviks, Daya Tahan Tubuh, Pencegahan Komplementer, Wanita Usia Subur.ABSTRACT Cervical cancer remains a leading cause of cancer death among women in Indonesia, primarily caused by persistent Human Papilloma Virus (HPV) infection. Women of reproductive age (WRA) in rural areas such as Slamet Village, Tumpang Sub-district, Malang Regency still have low access to IVA/Pap smear screening, while the use of Family Medicinal Plants (TOGA) as a complementary healthy-lifestyle practice has not been systematically integrated into reproductive health education. To evaluate changes in TOGA utilization, knowledge, and herbal-consumption behavior among WRA in Slamet Village before and after education as a complementary preventive effort against cervical cancer through immune system enhancement. This community service activity used interactive counseling, assisted self-screening through the CerviCheck application, and education with demonstration of six TOGA species (white turmeric, phyllanthus, moringa leaf, soursop leaf, typhonium, and andrographis), applying a one group pre-test post-test design on 55 WRA respondents in Slamet Village, Tumpang Sub-district, Malang Regency. TOGA utilization increased from 49.1% (pre-test) to 76.4% (post-test), with a shift toward white turmeric and moringa leaf as the dominant herbs consumed. Mean reproductive-health knowledge score increased from 63.6% to 95.5%; herb-specific knowledge on the antioxidant content of white turmeric increased from 61.8% to 92.7%, and knowledge on proper herbal dosage increased from 50.9% to 100%. The role of health workers as a source of herbal information rose sharply from 0% to 34.5%. TOGA education combined with machine-learning-based screening effectively improved rational herbal utilization, knowledge, and awareness among WRA that TOGA is a complement to, not a substitute for, medical cervical-cancer prevention. Keywords: Family Medicinal Plants, TOGA, Cervical Cancer, Immune System, Complementary Prevention, Women Of Reproductive Age.
Tata Kelola Mangrove Berbasis Pentaheliks melalui Edukasi Lingkungan dan Penanaman Bibit di Peunaga Cut Ujong Eka Lisdayanti; Rahmawati Rahmawati; Nurul Najmi; Herri Darsan; Rudi Hermi; Anisah Nasution; Dandi Sardanul Alim
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27512

Abstract

ABSTRAK Pengelolaan mangrove membutuhkan tata kelola multipihak agar kegiatan rehabilitasi tidak berhenti pada penanaman seremonial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan, melaksanakan penanaman dan penyulaman mangrove, memetakan kontribusi aktor pentaheliks, serta menyusun rancangan pemeliharaan pascatanam di Gampong Peunaga Cut Ujong, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Kegiatan dilaksanakan pada 8 Juni 2026 melalui identifikasi substrat, koordinasi, edukasi lingkungan, praktik penanaman, evaluasi, dan perumusan tindak lanjut. Sebanyak 100 peserta mewakili unsur akademisi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media. Evaluasi edukasi menggunakan pre-test dan post-test pada 25 responden yang dipilih secara purposif dengan kuota lima orang pada setiap unsur. Sebanyak 500 bibit Rhizophora apiculata digunakan untuk penanaman pada bagian lahan yang belum bervegetasi dan penyulaman pada titik yang mengalami kehilangan bibit. Skor pemahaman meningkat dari 57% menjadi 92%, atau bertambah 35 poin persentase. Pemetaan peran menunjukkan bahwa akademisi dominan pada inisiasi, edukasi, dan evaluasi; pemerintah pada dukungan bibit, legitimasi, dan koordinasi teknis; masyarakat pada pengetahuan substrat dan pelaksanaan penanaman; media pada dokumentasi dan diseminasi; sedangkan dukungan dunia usaha pada tahap pascatanam belum terdokumentasi secara rinci. Kegiatan menghasilkan luaran edukatif dan operasional serta rancangan awal tata kelola berupa pembagian peran, inventarisasi petak, penanggung jawab lokal, kanal pelaporan, dan monitoring pada bulan ke-1, ke-3, ke-6, dan ke-12. Keberhasilan ekologis belum dapat disimpulkan sebelum tersedia data kelangsungan hidup dan pertumbuhan bibit. Kata Kunci: Edukasi Lingkungan, Mangrove, Pentaheliks, Rehabilitasi Pesisir, Tata Kelola.  ABSTRACT Mangrove rehabilitation requires multi-stakeholder governance to prevent planting programs from ending as one-day ceremonial activities. This community service program aimed to improve stakeholder understanding, conduct mangrove planting and replanting, map pentahelix actor contributions, and formulate a post-planting maintenance framework in Peunaga Cut Ujong Village, Meureubo District, West Aceh Regency. The program was implemented on 8 June 2026 through site assessment, stakeholder coordination, environmental education, planting practice, evaluation, and follow-up planning. A total of 100 participants represented academia, government, business, community, and media. Educational evaluation used pre- and post-tests completed by 25 purposively selected respondents, with five respondents from each pentahelix element. Five hundred Rhizophora apiculata seedlings were used for planting in unvegetated areas and replacing seedlings lost from earlier interventions. The aggregate understanding score increased from 57% to 92%, a gain of 35 percentage points. Role mapping showed that academia led initiation, education, and evaluation; government provided seedlings, legitimacy, and technical coordination; communities contributed site-based knowledge and field implementation; media documented and disseminated the activity; while the business sector's post-planting contribution remained insufficiently documented. The program generated measurable educational and operational outputs and an initial governance framework covering role allocation, plot inventory, local responsibility, reporting channels, and monitoring at months 1, 3, 6, and 12. Ecological success cannot yet be concluded without seedling survival and growth data. Keywords: Coastal Rehabilitation, Environmental Education, Governance, Mangrove, Pentahelix.
Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Pada Remaja Putri melalui Skrining Kesehatan Terpadu Atik Purwandari; Sjenny O Tuju; Sandra GJ Tombokan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27714

Abstract

ABSTRAK Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Faktor risiko PTM dapat mulai muncul pada usia remaja sehingga diperlukan deteksi dini dan edukasi kesehatan bagi mahasiswi. Meningkatkan deteksi dini faktor risiko PTM pada mahasiswi melalui skrining kesehatan dan edukasi kesehatan. Kegiatan dilakukan melalui skrining kesehatan pada 165 mahasiswi yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, hemoglobin, glukosa darah, indeks massa tubuh (IMT), lingkar lengan atas (LiLA), serta pemeriksaan kesehatan gigi pada 43 peserta. Seluruh peserta memperoleh edukasi kesehatan, konsultasi hasil pemeriksaan, dan rekomendasi tindak lanjut. Sebanyak 52,7% peserta mengalami pra hipertensi, 13,9% hipertensi ringan, dan 1,8% hipertensi sedang–berat. Risiko kekurangan energi kronis ditemukan pada 13,3% peserta. Anemia dialami oleh 39,4% peserta, sedangkan 1,2% memiliki kadar glukosa darah yang mengarah pada pradiabetes. Pemeriksaan kesehatan gigi menunjukkan 79,1% dari 43 peserta mengalami karies. Skrining kesehatan dan edukasi berhasil mengidentifikasi faktor risiko PTM pada mahasiswi sejak dini serta menjadi dasar pengembangan program skrining berkala dan promosi kesehatan untuk mendukung terwujudnya kampus sehat. Kata Kunci: Deteksi Dini, Penyakit Tidak Menular, Skrining Kesehatan, Mahasiswi, Pendidikan Kesehatan, Kampus Sehat.  ABSTRACT Non-communicable diseases (NCDs) are a leading cause of morbidity and mortality in Indonesia. Risk factors for NCDs may develop during adolescence, highlighting the need for early detection and health education among female university students. To improve the early detection of NCD risk factors among female university students through health screening and health education. This community service program involved health screening of 165 female university students, including measurements of blood pressure, hemoglobin, blood glucose, body mass index (BMI), and mid-upper arm circumference (MUAC). Oral health examinations were conducted for 43 participants. All participants received health education, counseling on screening results, and recommendations for follow-up care. The screening revealed that 52.7% of participants were classified as prehypertensive, 13.9% had stage 1 hypertension, and 1.8% had moderate to severe hypertension. A total of 13.3% were at risk of chronic energy deficiency based on MUAC measurements. Anemia was identified in 39.4% of participants, while 1.2% had blood glucose levels indicative of prediabetes. Oral health examinations showed that 79.1% of the 43 examined participants had dental caries. Health screening and education successfully identified NCD risk factors among female university students at an early stage. The findings provide a basis for implementing regular health screening and sustainable health promotion programs to support the development of a healthy campus. Keywords: Early Detection, Non-Communicable Diseases, Health Screening, Female University Students, Health Education, Healthy Campus.
Pemberdayaan Ibu Balita dalam Menyiapkan Makanan Bernilai Gizi Tinggi Berbasis Kearifan Lokal: Ubi Jalar dan Ikan Lele di Desa Mekar Agung Kecamatan Cibadak Kabupaten Lebak Siti Rusyanti; Nani Yuningsih
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26495

Abstract

ABSTRACT Lebak Regency recorded a high stunting rate, including Mekar Agung Village, which identified 7 stunted toddlers. Suboptimal nutritional fulfillment is triggered by limited knowledge and skills of mothers in preparing varied food. On the other hand, local wisdom commodities such as sweet potatoes and catfish are highly abundant, affordable, and nutrient-dense but have not been optimally utilized. This community service activity aimed to empower mothers of toddlers through nutritional education and food processing training based on local ingredients to prevent stunting. This activity involved 10 mothers of toddlers in Mekar Agung Village as target partners, assisted by 3 midwifery students. The implementation methods included situation analysis, pre-test, nutritional education, hands-on practice in making varied menus (catfish nuggets, catfish rolade, purple sweet potato pudding), post-test, and regular monitoring-evaluation through home visits with the Village Midwife. The results showed a significant increase in the "Good" knowledge category from 20% during the pre-test to 90% after the post-test. Target partners also became 100% highly skilled in practicing filleting techniques, hygienic processing, and innovative menu packaging. The monitoring phase confirmed behavioral changes in mothers regarding daily menu diversification, leading to improved child food acceptance and a positive trend in toddler weight gain by an average of 0.2 kg to 0.5 kg. Community empowerment through the utilization of local wisdom foodstuffs effectively improves mothers' cognitive and psychomotor capacities and supports the nutritional status improvement of toddlers. Keywords: Catfish, Local Wisdom, Nutrition, Stunting, Sweet Potato.  ABSTRAK Kabupaten Lebak mencatat angka stunting yang tinggi, termasuk di Desa Mekar Agung yang mengidentifikasi adanya 7 balita stunting. Pola pemenuhan gizi yang tidak optimal dipicu oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan ibu balita dalam mengolah makanan yang bervariasi. Di sisi lain, komoditas kearifan lokal seperti ubi jalar dan ikan lele sangat melimpah, murah, dan kaya gizi namun belum dimanfaatkan optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan ibu balita melalui edukasi nutrisi dan pelatihan pengolahan makanan berbasis bahan lokal guna mencegah stunting. Metode: Kegiatan ini melibatkan 10 ibu balita di Desa Mekar Agung sebagai mitra sasaran serta didampingi oleh 3 mahasiswa kebidanan. Metode pelaksanaan mencakup analisis situasi, pre-test, edukasi pemahaman nutrisi, praktik langsung pembuatan variasi menu (nugget lele, rolade lele, puding ubi ungu), post-test, serta monitoring evaluasi berkala melalui kunjungan rumah bersama Bidan Pembina Desa. Hasil kegiatan menunjukkan lonjakan pengetahuan kategori "Baik" dari semula 20% saat pre-test menjadi 90% setelah post-test. Mitra sasaran juga 100% menjadi sangat terampil dalam mempraktikkan teknik fillet, pengolahan higienis, dan pengemasan inovasi menu. Tahap monitoring mengonfirmasi perubahan perilaku ibu dalam diversifikasi menu harian balita yang berdampak pada peningkatan daya terima anak dan tren kenaikan berat badan (BB) balita rata-rata sebesar 0,2 kg hingga 0,5 kg. Pemberdayaan masyarakat secara mandiri melalui pemanfaatan bahan pangan kearifan lokal efektif meningkatkan kapasitas kognitif dan psikomotorik ibu serta mendukung perbaikan status gizi anak balita.  Kata Kunci: Gizi, Ikan Lele, Kearifan Lokal, Stunting, Ubi Jalar.
The Effectiveness of Adolescent Anxiety Management Education: Micro-Classroom and Auditorium Comparison Geraldino Hendy Manseaur; Adelse Prima Mulya; Ahmad Yamin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27663

Abstract

ABSTRACT Middle adolescence is highly vulnerable to academic stressors that precipitate anxiety, overthinking, and sleep disturbance. A school-based screening at a public junior high school in Bandung revealed that 58.8% of ninth-grade students experienced mild-to-severe anxiety, characterized by persistent worry (48.8%), cognitive rumination (34.1%), and insomnia (37.4%). This study evaluated a youth-centered anxiety management intervention, emphasizing how physical spatial configuration may influence cognitive absorption and knowledge retention. A quasi-experimental, one-group pre-test/post-test design was conducted with 212 ninth-grade students. The 60–65-minute intervention integrated education on uncertainty-induced anxiety with immediate psychomotor training in grounding and deep breathing exercises. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, stratified by intervention setting. Overall knowledge scores improved significantly from 85.66 to 91.13. However, stratification by intervention setting revealed divergent outcomes: micro-classroom cohorts (Classroom 9C: p = 0.018; Classroom 9D: p 0.001) demonstrated statistically significant improvements, whereas the large auditorium cohort (n = 101, all female) showed statistical stagnation (p = 0.410). This stagnation was strongly influenced by a ceiling effect, reflected in 77.2% unchanged scores among female students with high baseline knowledge (mean = 90.69), compounded by acoustic constraints and class congestion. Conversely, micro-classroom settings may have supported psychological safety and engagement among male cohorts. Physical spatial configuration may influence the effectiveness of school-based mental health education. Future school-based mental health protocols should prioritize micro-classroom clustering where feasible and transition advanced cohorts from written cognitive assessments toward longitudinal psychomotor and clinical outcome metrics. Keywords: Adolescent Mental Health, School Health Nursing, Spatial Configuration, Anxiety Management, Youth-Centered Approach, Grounding Exercises.
Penguatan Upaya Pencegahan Ispa melalui Inovasi Edukasi dan Sistem Digital Pemantauan Kesehatan di TK Islam Kamila Insan Cita Thresya Febrianti; Mizna Sabilla; Viarti Eminita; Zahwalia Putri; Novi Oktavia Rahayu; Syifa Fauziah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27587

Abstract

ABSTRAK Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)pada anak usia dini masih menjadi permasalahan Kesehatan Masyarakat di dunia. Pada bulan September 2025 dilaporkan lebih dari 50% siswa mengalami gejala ISPA seperti batuk, demam, flu dan lain-lain sehingga pihak sekolah meutuskan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar secara online untuk memutus rantai penularan ISPA di sekolah. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meingkatkan literasi guru dan memberikan pengalaman kepada siswa tentan ISPA dan cara pencegahannya berbasis Digi-ISPA-Kit, serta absensi digital untuk pemantauan Kesehatan siswa di sekolah. Desain pra-eksperimental (one group pre-post) digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan guru. Kegiatan edukasi pada guru melibatkan 12 guru, peningkatan pengetahuan guru diukur dengan pre-post dan dianalisis dengan uji Wilcoxon. dan pengukuran pengetahuan siswa hanya dilakukan dengan kemampuan siswa dalam menyebutkan gejala ISPA dan menunjukkan sistem pernapasan manusia. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan guru tentang ISPA (p = 0,003), selain itu guru juga bisa mengisi absensi digital. Siswa secara antusias mengikuti kegiatan pengabdian keapada Masyarakat dan bisa menyebutkan gejala ISPA dan sistem pernapasan manusia, dan siswa juga bisa melakukan cuci tangan yang baik dan benar. Intervensi dengan metode interaktif dan penggunaan teknologi sederhana mampu mengatasi masalah kurangnya pengetahuan guru dan siswa tentang ISPA dan belum adanya absensi digital berbasis gejala. Kegoatan ini berpptensi dilakukan secara berkelanjutan melalui komitmen sekolah dan pendampingan guru secara berkelanjutan dengan pengayaan konten digital dan memasukkan materi Kesehatan dalam proses pembelajaran serta kegiatan ini dapat direplikasi pada sekolah-sekolah lain. Kata Kunci: Edukasi ISPA, Anak Usia Dini, Absensi Digital.  ABSTRACT Upper respiratory tract infections (URTI) in young children remain a public health issue worldwide. In September 2025, it was reported that more than 50% of students were experiencing URTI symptoms such as coughing, fever, the flu, and others; as a result, school officials decided to conduct online instruction to break the chain of URTI transmission at the school. This community service activity aims to improve teachers’ literacy and provide students with experience regarding URIs and their prevention using the Digi-ISPA-Kit, as well as to implement digital attendance tracking for monitoring student health at school. A pre-experimental design (one-group pre-post) was used to measure teachers’ knowledge levels. The educational activities for teachers involved 12 teachers; improvements in teachers’ knowledge were measured using pre-post assessments and analyzed with the Wilcoxon test. Measurement of students’ knowledge was conducted solely by assessing their ability to identify ARI symptoms and illustrate the human respiratory system. The results showed a significant increase in teachers’ knowledge of ARI (p = 0.003); in addition, teachers were also able to complete the digital attendance system. Students enthusiastically participated in the community service activities and were able to list the symptoms of ARI and identify the human respiratory system; they were also able to practice proper handwashing techniques. Interventions using interactive methods and simple technology can address the lack of knowledge among teachers and students regarding acute respiratory infections (ARIs) and the absence of a symptom-based digital attendance system. This initiative has the potential to be implemented on an ongoing basis through the school’s commitment and continuous teacher support, supplemented by the enrichment of digital content and the integration of health-related material into the learning process; furthermore, this initiative can be replicated in other schools. Keywords: Education on Acute Respiratory Infections, Early Childhood, Digital Attendance.
Edukasi Penyakit Yang di Timbulkan Akibat Dampak Banjir Bandang Pasca Bencana di Desa Raja Tua di Kabupaten Aceh Tamiang Fazdria Fazdria; Hafsah Us; Mira Arnita; Silvia Dewi
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27719

Abstract

ABSTRAK Banjir dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah kesehatan pada masyarakat pascabencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penyakit yang ditimbulkan akibat dampak banjir bandang pascabencana di Desa Raja Tua, Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan dilaksanakan pada 15–16 Desember 2025 dengan melibatkan 32 peserta melalui metode penyuluhan dan diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat, di mana kategori pengetahuan baik meningkat dari 40,6% menjadi 84,4%. Penyakit yang paling banyak dilaporkan adalah batuk (81,2%), diare (68,8%), dan demam (62,5%). Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat masih rentan terhadap gangguan kesehatan pascabanjir. Kesimpulannya, edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan penyakit pascabanjir. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Banjir, Pengetahuan, Pascabencana.  ABSTRACT Floods can increase the risk of various health problems in post-disaster communities. This community service activity aimed to improve community knowledge regarding diseases associated with post-flood conditions in Raja Tua Village, Aceh Tamiang Regency. The activity was conducted on December 15–16, 2025, involving 32 participants through health education sessions and interactive discussions. Evaluation was carried out using pretest and posttest questionnaires. The results showed an increase in knowledge levels, with the proportion of participants in the good knowledge category rising from 40.6% to 84.4%. The most commonly reported post-flood health problems were cough (81.2%), diarrhea (68.8%), and fever (62.5%). These findings indicate that the community remains vulnerable to post-flood health issues. In conclusion, health education is effective in improving community knowledge regarding the prevention of post-flood diseases. Keywords: Health Education, Flood, Knowledge, Post-Disaster.
Pahari-Stroke: Model Pemberdayaan Rumah Caregiver untuk Mewujudkan Rehabilitasi Pascastroke Berkelanjutan di Desa Antasan Senor Ilir Bernadetta Germia Aridamayanti; Maulidya Germia Septiany; Ihya Hazairin Germia Noor; Muhammad Alif Bagus Germia Kadhafi; Shintani Germia Maharati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26881

Abstract

ABSTRACT Inadequate continuity of post-stroke rehabilitation at the family level has contributed to an increased risk of disability, complications, and dependency among stroke survivors. Limited knowledge and skills of caregivers have remained a major barrier to the implementation of home-based rehabilitation in Antasan Senor Ilir Village. This community service program aimed to improve caregivers' knowledge and skills through the implementation of the PAHARI-STROKE Program as a Caregiver House empowerment model to support sustainable post-stroke rehabilitation. A participatory approach was implemented through health education, training, demonstrations, simulations, mentoring, home visits, monitoring, and evaluation involving 30 participants consisting of stroke survivors, family caregivers, PKK cadres, and community health volunteers. The program was conducted over ten meetings from June to July 2026. Program effectiveness was evaluated using pre-test, post-test, and observational skill checklists. Data were analyzed using descriptive statistics and a paired t-test. The mean caregiver knowledge score increased from 58.40 ± 9.82 to 87.60 ± 5.94 (p0.001). Caregiver skills significantly improved in Range of Motion exercises, Activities of Daily Living, dietary management, medication adherence, and the utilization of the PAHARI-STROKE Mobile application. The program also established a Caregiver House as a community-based rehabilitation center. The PAHARI-STROKE Program effectively improved caregiver capacity and supported sustainable home-based post-stroke rehabilitation through community empowerment. Keywords: Caregiver, Community Empowerment, Post-Stroke Rehabilitation.  ABSTRAK Rehabilitasi pascastroke yang tidak berkelanjutan di tingkat keluarga menyebabkan tingginya risiko kecacatan, komplikasi, dan ketergantungan penyintas stroke. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan caregiver menjadi salah satu kendala utama dalam pelaksanaan rehabilitasi berbasis rumah di Desa Antasan Senor Ilir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan caregiver melalui implementasi Program PAHARI-STROKE sebagai model pemberdayaan Rumah Caregiver untuk mendukung rehabilitasi pascastroke yang berkelanjutan. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, pelatihan, demonstrasi, simulasi, pendampingan, home visit, monitoring, dan evaluasi terhadap 30 peserta yang terdiri atas penyintas pascastroke, caregiver keluarga, kader PKK, dan kader Posyandu. Program dilaksanakan selama 10 kali pertemuan pada Juni–Juli 2026. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, lembar observasi keterampilan, dan dianalisis secara deskriptif serta uji paired t-test. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 58,40 ± 9,82 menjadi 87,60 ± 5,94 (p0,001). Keterampilan caregiver dalam melakukan rehabilitasi berbasis rumah juga meningkat pada seluruh indikator, termasuk latihan Range of Motion, Activity of Daily Living, pengelolaan diet, kepatuhan pengobatan, dan penggunaan aplikasi PAHARI-STROKE Mobile. Program juga menghasilkan pembentukan Rumah Caregiver sebagai pusat rehabilitasi berbasis komunitas. Program PAHARI-STROKE efektif meningkatkan kapasitas caregiver dan mendukung rehabilitasi pascastroke yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat berbasis rumah. Kata Kunci: Caregiver, Pemberdayaan Masyarakat, Rehabilitasi Pascastroke.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026) Vol 9, No 9 (2026): Volume 9 Nomor 9 (2026) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue