cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,779 Documents
SMART PKK: Pemberdayaan PKK dalam Pencegahan PTM melalui Pendekatan Transcultural Nursing Berbasis Android Alfonsius Ade Wirawan; Dewi Christa Kobis; Reinhard Komansilan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.28047

Abstract

ABSTRAK Penyakit tidak menular (PTM) mengalami peningkatan setiap tahunnya. Untuk menekan peningkatan tersebut berbagai upaya dilakukan. Salah satunya dengan berfokus pada pencegahan PTM di lingkup kecil terlebih dahulu, yaitu keluarga. Dalam lingkup keluarga PKK memiliki peran dasar. PKK menjadi salah satu sasaran dalam pencegahan PTM di lingkup keluarga dan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PKK dalam pencegahan PTM. Kegiatan dilakukan pada PKK Lingkungan VI Teling Bawah. Metode kegiatan ini adalah lima tahapan yaitu sosialisasi, edukasi dan pelatihan, penerapan Ipteks, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang PKK. Penerapan teknologi kegiatan ini adalah aplikasi SMART PKK, buku pencegahan PTM berbasis budaya Minahasa dan alat monitoring kesehatan. Hasil analisis pengetahuan peserta menunjukkan ada peningkatan rata-rata pengetahuan dari 52,3 poin menjadi 80,3 poin (p value 0,05). Sebagian besar PKK berhsil mempraktikan penggunaan aplikasi SMART PKK, alat pemeriksaan kesehatan (gula darah, kolesterol dan asam urat, serta berat badan dan tinggi badan). Kesimpulan: Pemberdayaan PKK melalui pendekatan transcultural nursing dan SMART PKK dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan PKK dalam pencegahan PTM. Kata Kunci: Penyakit Tidak Menular, Transcultural Nursing, Aplikasi Android.  ABSTRACT The incidence of non-communicable diseases (NCDs) is rising annually. Various efforts are being undertaken to curb this increase, one of which focuses on preventing NCDs at the grassroots level—specifically, within the family. The Family Welfare Empowerment (PKK) movement plays a fundamental role in this context, serving as a key target for NCD prevention efforts within both families and the wider community. This program aims to enhance the knowledge and skills of the PKK regarding the prevention of non-communicable diseases (NCDs). This community service activity was conducted with the PKK group of Lingkungan VI, Teling Bawah, Manado. The activity employed a five-stage method are outreach or dissemination, education and training, application of science and technology, mentoring and evaluation, and program sustainability. Twenty PKK members participated in this program. The technologies implemented included the SMART PKK application, a guidebook on non-communicable disease (NCD) prevention based on Minahasan culture, and health monitoring devices. An analysis of participant knowledge revealed an increase in the average score from 52.3 to 80.3 points (p-value 0.05). Most PKK members successfully demonstrated the use of the SMART PKK application and health screening tools (for measuring blood glucose, cholesterol, uric acid, weight, and height). Empowering PKK through the transcultural nursing approach and the SMART PKK framework can enhance PKK members' knowledge and skills regarding the prevention of non-communicable diseases (NCDs). Keywords: Non-Communicable Diseases, Transcultural Nursing, Android Application.
Program Gawi Tuntas TB dalam Upaya Penguatan Kapasitas Kader TB dan Edukasi Berbasis Keluarga sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) Efektif di Wilayah Kerja Puskemas Cempaka Kota Banjarbaru Chrisnawati Chrisnawati; Irfan Maulana; Yohana Agustina Sitanggang; Ken Rangga Galang Adiantara; Rosni Yuniarti; Ririn Nurhidayayanti; Hidayah Putri; Rufaida Rufaida
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.26869

Abstract

ABSTRACT The high incidence of tuberculosis in the Cempaka Community Health Center’s service area indicates the need to strengthen health education strategies that involve patients, families, and health volunteers in an integrated manner. The main problem faced is low patient adherence due to limited knowledge and social support during long-term treatment. Program of Gawi Tuntas Tuberculosis aims to improve the knowledge, awareness, motivation, and treatment adherence of tuberculosis patients through a participatory educational approach based on families and community health workers. This community service activity was conducted over one month through a series of stages, including a pre-test, interactive health education sessions on the basics of pulmonary TB, TB management and treatment, strengthening the role of families as Medication Adherence Monitors (MAMs), and the distribution of educational materials such as leaflets and pocket guides. This program focused on strengthening the role of families as Medication Adherence Monitors (MAMs) and empowering community health workers to provide motivational support and monitor patients throughout the treatment process. Success was evaluated by comparing pre-test and post-test scores and through participatory observation. Program implementation yielded significant results, with an increase in knowledge regarding the recognition and management of TB in more than 85% of participants. Additionally, participants’ ability to recognize clinical symptoms improved by up to 90%, and their understanding of specific treatment management increased from an average score of 40% to 70%. This program demonstrates that community-based participatory education is effective in improving health literacy and supporting treatment adherence among tuberculosis patients. Keywords: Participatory Education, Family, Community Health Workers, Treatment Adherence, Tuberculosis.   ABSTRAK Tingginya angka kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Cempaka mengindikasikan perlunya penguatan strategi edukasi kesehatan yang melibatkan pasien, keluarga, dan kader kesehatan secara terintegrasi. Masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya kepatuhan pasien akibat keterbatasan pengetahuan dan dukungan sosial selama masa pengobatan jangka panjang. Program Gawi Tuntas Tuberkulosis bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, motivasi, serta kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis melalui pendekatan metode edukasi partisipatif berbasis keluarga dan kader.Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama satu bulan melalui serangkaian tahap yang meliputi pre-test, penyuluhan interaktif mengenai pengenalan penyakit TB paru, penatalaksanaan dan pengobatan TBC, penguatan peran keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) serta pemberian media edukasi berupa leaflet dan buku saku. Program ini menitikberatkan pada penguatan peran keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) dan pemberdayaan kader kesehatan untuk melakukan pendampingan motivasional serta pemantauan pasien selama proses pengobatan. Evaluasi keberhasilan dilakukan melalui perbandingan skor pre-test dan post-testserta observasi partisipatif. Implementasi program menunjukkan hasil yang signifikan, yakni terjadi peningkatan pengetahuan mengenai pengenalan dan penatalaksanaan TBC pada lebih dari 85% peserta. Selain itu, kemampuan peserta dalam mengenali gejala klinis meningkat hingga 90%, dan terjadi eskalasi pemahaman mengenai penatalaksanaan pengobatan secara spesifik dari skor rata-rata 40% menjadi 70%. Program ini membuktikan bahwa sinergi edukasi partisipatif berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan dan mendukung kepatuhan terapi pasien tuberkulosis. Kata Kunci: Edukasi Partisipatif, Keluarga, Kader, Kepatuhan Pengobatan, Tuberkulosis.
Pendampingan Pengolahan Air Kelapa (Cocos Nucifera L.) menjadi Permen Tradisional untuk Meningkatkan Nilai Ekonomi Potensi Lokal Masyarakat Kampung Waibron Agnes Aryesam; Abdul Karim; Agnes A Toam; Mutiara A Masaeyra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27679

Abstract

ABSTRAK Air kelapa merupakan salah satu bagian dari buah kelapa yang masih kurang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Waibron, Kabupaten Jayapura, dan cenderung dibuang sebagai limbah. Padahal, air kelapa mengandung gula alami, mineral, vitamin, dan senyawa lain yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan olahan bernilai ekonomi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan air kelapa menjadi permen tradisional, meningkatkan pemahaman mengenai higiene pangan, serta mendorong pengembangan peluang usaha berbasis sumber daya lokal. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui ceramah interaktif, demonstrasi, praktik terbimbing, diskusi, dan evaluasi hasil produk. Peserta berjumlah 35 orang yang terdiri atas ibu rumah tangga dan pemuda Kampung Waibron. Kegiatan dilaksanakan pada 2 Mei 2026 di Balai Kampung Waibron, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu mengikuti tahapan pengolahan air kelapa menjadi permen, mulai dari penyaringan, pencampuran bahan, pemanasan dan karamelisasi hingga pencetakan. Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai higiene dan keamanan pangan serta peluang pengembangan produk sebagai usaha rumah tangga. Kehadiran peserta mencapai 100%, partisipasi diskusi tergolong aktif, kemampuan praktik meningkat, pemahaman higiene pangan berada pada kategori baik, dan motivasi usaha tergolong tinggi. Pendampingan pengolahan air kelapa menjadi permen tradisional dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai produk pangan bernilai ekonomi serta menjadi langkah awal pengembangan usaha berbasis sumber daya alam Kampung Waibron. Kata Kunci: Air Kelapa, Pemberdayaan Masyarakat, Permen Tradisional, Potensi Lokal, Kewirausahaan.  ABSTRACT Coconut water is one part of the coconut fruit that remains underutilized by the community of Waibron Village, Jayapura Regency, and is often discarded as waste. In fact, coconut water contains natural sugars, minerals, vitamins, and other compounds that have the potential to be processed into food products with economic value. This community service activity aimed to improve community knowledge and skills in processing coconut water into traditional candy, increase understanding of food hygiene, and encourage the development of business opportunities based on local resources. The activity used a participatory approach through interactive lectures, demonstrations, guided practice, discussions, and product evaluation. The participants consisted of 35 housewives and young people from Waibron Village. The activity was conducted on May 2, 2026, at the Waibron Village Hall, West Sentani District, Jayapura Regency. The activity showed that participants were able to follow the stages of processing coconut water into candy, including filtering, mixing ingredients, heating and caramelization, and molding. Participants also gained an understanding of food hygiene and safety as well as opportunities to develop the product as a household business. Participant attendance reached 100%, discussion participation was active, practical skills improved, understanding of food hygiene was good, and entrepreneurial motivation was high. Assistance in processing coconut water into traditional candy can improve community knowledge, skills, and awareness in utilizing local resources as food products with economic value and can serve as an initial step toward developing resource-based community enterprises in Waibron Village. Keywords: Coconut Water, Community Empowerment, Traditional Candy, Local Resources, Entrepreneurship.
Implementasi Penyuluhan Faktor Risiko dan Deteksi Dini Kanker Serviks Berbasis Cervicheck sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran dan Cakupan Skrining Pada Wanita Usia Subur di Desa Slamet Kecamatan Tumpang Indah Mauludiyah; Miftakhul Mahfirah Ermadona; Eva Inayatul Faiza; Riski Akbarani; Edi Murwani; Nanik Susanti; Lilik Winarsih; Dian Hanifah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27613

Abstract

ABSTRAK Kanker serviks masih menjadi penyebab utama kematian akibat kanker pada perempuan di Indonesia, dengan cakupan deteksi dini yang masih rendah, terutama di wilayah pedesaan seperti Desa Slamet, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan partisipasi wanita usia subur (WUS) dalam deteksi dini kanker serviks melalui penyuluhan faktor risiko dan pendampingan skrining mandiri berbasis aplikasi CerviCheck. Kegiatan dilaksanakan pada 55 WUS di Desa Slamet melalui penyuluhan interaktif, pendampingan pengisian skrining mandiri pada aplikasi CerviCheck (cervicheck.my.id), serta motivasi rujukan pemeriksaan IVA/Pap Smear, dengan evaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Partisipasi deteksi risiko mandiri melalui CerviCheck meningkat dari 40,0% menjadi 100,0%, dengan 30,9% peserta teridentifikasi berisiko sedang. Cakupan skrining IVA/Pap Smear meningkat dari 21,8% menjadi 49,1%, mengidentifikasi 14,5% kasus IVA radang dan 1,8% erosi serviks. Rata-rata skor pengetahuan meningkat signifikan dari 63,6% (pre-test) menjadi 95,5% (post-test), dengan 96,4% peserta mencapai target skor ≥80% pada post-test; peningkatan terbesar terjadi pada pemahaman risiko KB hormonal jangka panjang (+47,3 poin) dan keamanan takaran konsumsi herbal (+49,1 poin), sementara status imunisasi HPV tidak berubah (tetap 94,5% belum lengkap). Penyuluhan faktor risiko dan pendampingan CerviCheck efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan cakupan skrining kanker serviks hingga melampaui target luaran, tetapi diperlukan penguatan berkelanjutan pada aspek aksesibilitas imunisasi HPV yang belum tersentuh oleh penyuluhan. Kata Kunci: Kanker Serviks, Cervicheck, Deteksi Dini, Penyuluhan, Skrining IVA  ABSTRACT Cervical cancer remains a leading cause of cancer death among women in Indonesia, with early detection coverage remaining low, particularly in rural areas such as Slamet Village, Tumpang, Malang Regency. To increase awareness, knowledge, and participation of women of reproductive age (WRA) in early detection of cervical cancer through risk-factor counselling and assisted self-screening using the CerviCheck application. The activity involved 55 WRA in Slamet Village through interactive counselling, assisted self-screening via the CerviCheck application (cervicheck.my.id), and referral motivation for IVA/Pap Smear examination, evaluated using pre-test and post-test questionnaires. Self-screening participation through CerviCheck increased from 40.0% to 100.0%, with 30.9% of participants identified as moderate risk. IVA/Pap Smear screening coverage increased from 21.8% to 49.1%, identifying 14.5% cervicitis and 1.8% cervical erosion. Mean knowledge scores rose markedly from 63.6% (pre-test) to 95.5% (post-test), with 96.4% of participants reaching the ≥80% target score post-test; the largest gains were in understanding long-term hormonal contraceptive risk (+47.3 points) and safe herbal dosing (+49.1 points), while HPV immunization status remained unchanged (94.5% still incomplete). Risk-factor counselling combined with CerviCheck-assisted screening effectively increased knowledge, awareness, and screening coverage for cervical cancer beyond the targeted outcome, although continued reinforcement is needed regarding HPV immunization accessibility, which counselling alone could not address. Keywords: Cervical Cancer, Cervicheck, Early Detection, Counselling, IVA Screening
Pendampingan Home Care “Pasca Operasi Seksio Caesarea” di Praktik Mandiri Perawat Kota Bandar Lampung Purwati Purwati; Aprina Aprina; Titi Astuti; Anita Anita
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27729

Abstract

ABSTRAK Pelayanan Home Care merupakan salah satu bentuk pelayanan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan ibu pasca operasi seksio caesarea melalui pemberian asuhan secara langsung di rumah. Pengembangan pelayanan tersebut sekaligus menjadi peluang kewirausahaan bagi perawat dalam mengembangkan praktik mandiri yang profesional, sehingga diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan pelayanan Home Care pasca operasi seksio caesarea. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan peserta dalam memberikan pelayanan Home Care pasca operasi seksio caesarea serta mengembangkan kemampuan kewirausahaan berbasis praktik mandiri perawat. Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan kepada 10 peserta yang meliputi pemberian materi, diskusi, demonstrasi, praktik keterampilan, serta implementasi pelayanan Home Care secara langsung pada pasien pasca operasi seksio caesarea di rumah. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test dengan instrumen 30 soal, sedangkan keterampilan dievaluasi melalui praktik dan pendampingan langsung. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Nilai pre-test berada pada rentang 18–27, sedangkan nilai post-test meningkat menjadi 27–30. Seluruh peserta mengalami peningkatan nilai setelah pelatihan dan beberapa peserta mencapai nilai sempurna. Tiga peserta dengan hasil terbaik, yaitu R1, R2, dan R3, memperoleh reward sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian dan partisipasi selama kegiatan. Implementasi pelayanan secara langsung menunjukkan bahwa peserta mampu menerapkan keterampilan pelayanan Home Care pasca operasi seksio caesarea dengan pendampingan. Pelatihan dan kewirausahaan pelayanan Home Care pasca operasi seksio caesarea berbasis praktik mandiri perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta serta memberikan pengalaman praktis dalam mengembangkan pelayanan keperawatan berbasis rumah. Kegiatan ini berpotensi mendukung pengembangan praktik mandiri perawat yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Home Care, Seksio Caesarea, Praktik Mandiri Perawat, Kewirausahaan, Pelatihan.  ABSTRACT Home Care services  are a form of nursing services that can meet the needs of mothers after cesarean section through direct care at home. The development of these services is also an entrepreneurial opportunity for nurses in developing professional independent practices, so it is necessary to increase the knowledge and skills of nurses in providing Home Care services  after cesarean section. This activity aims to improve the knowledge, skills, and readiness of participants in providing Home Care services after cesarean section as well as developing entrepreneurial skills based on nurses' independent practices. Research The activity was carried out through training and mentoring to 10 participants which included providing materials, discussions, demonstrations, skill practices, and the implementation of Home Care services  directly to patients after cesarean section surgery at home. Knowledge evaluation was carried out using pre-test and post-test with a 30-question instrument, while skills were evaluated through practice and direct mentoring. The results of the evaluation showed an increase in the participants' knowledge after participating in the training. The pre-test score  was in the range of 18–27, while the post-test score  increased to 27–30. All participants experienced an increase in scores after the training and some participants achieved perfect scores. The three participants with the best results, namely R1, R2, and R3, received rewards as a form of appreciation for their achievements and participation during the activity. The implementation of direct services showed that participants were able to apply Home Care service skills  after cesarean section with assistance. Conclusion: Training and entrepreneurship of postoperative home care services based on  nurses' independent practice can improve participants' knowledge and skills and provide practical experience in developing home-based nursing services. This activity has the potential to support the development of professional, innovative, and sustainable nursing independent practices. Keywords: Home Care, Caesarean Section, Nurse Independent Practice, Entrepreneurship, Training.
Edukasi Efektif Pencegahan Hipertensi Pada Pria dengan Usia 35 Ke Atas di Yayasan Mulia Budi Samarinda Wisnu Cahyo Prabowo; Astri Putri Erisca Hasugian; Klara Aprilia; Lilis Suriani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27323

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan suatu keadaan ketika tekanan darah sistolik 140 mmHg dan/atau diastolik 90 mmHg. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan sekitar 8 juta kematian setiap tahun di dunia, dengan 1,5 juta di antaranya terjadi di Asia Tenggara. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat menjadi 34,1%. Secara epidemiologi, prevalensi hipertensi sebelum usia 55 tahun signifikan lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Tujuan kegiatan promosi kesehatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pencegahan penyakit hipertensi pada pria berusia di atas 35 tahun di Yayasan Mulia Budi Samarinda. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan kesehatan gratis dan penyuluhan interaktif menggunakan media leaflet kepada 30 peserta. Efektivitas kegiatan diukur menggunakan instrumen pretest dan postest. Hasil kegiatan menunjukkan karakteristik peserta didominasi usia 56–65 tahun (43,33%) dan terjadi peningkatan pengetahuan responden yang signifikan, dengan rata-rata persentase nilai dari 63,00% saat pretest meningkat menjadi 93,67% saat postest (selisih 30,67%). Kesimpulannya, edukasi promosi kesehatan dengan media leaflet efektif meningkatkan pemahaman pria usia matang terhadap pencegahan hipertensi serta kesadaran pemeriksaan tekanan darah secara berkala. Berdasarkan hasil ini, disarankan pelaksanaan promosi kesehatan mengenai hipertensi dapat dilakukan secara berkelanjutan. Kata Kunci: Hipertensi, Leaflet, Promosi Kesehatan, Pencegahan, Pria.  ABSTRACT Hypertension is a condition characterized by systolic blood pressure 140 mmHg and/or diastolic blood pressure 90 mmHg. This disease is estimated to cause around 8 million deaths annually worldwide, with 1.5 million occurring in Southeast Asia. In Indonesia, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) data indicated that hypertension prevalence rose to 34.1%. Epidemiologically, the prevalence of hypertension before the age of 55 is significantly higher in men than in women. This health promotion activity aimed to increase knowledge regarding hypertension prevention among men aged over 35 years at the Mulia Budi Foundation, Samarinda. The methods implemented included free health screenings and interactive counseling utilizing leaflets as educational media for 30 participants. The program's effectiveness was evaluated using pretest and postest instruments. The results showed that the participants were predominantly aged 56–65 years (43.33%) and demonstrated a significant increase in respondents' knowledge, with the average score rising from 63.00% in the pretest to 93.67% in the postest (an increase of 30.67%). In conclusion, health promotion education using leaflets is effective in enhancing mature men's understanding of hypertension prevention and their awareness of regular blood pressure monitoring. Based on these outcomes, it is recommended that hypertension health promotion activities be conducted sustainably. Keywords: Hypertension, Leaflets, Men, Health Promotion, Prevention.
Pemberdayaan Relawan Balakarcana dalam Pembuatan Wedang Kombinasi Bunga Kecombrang Serta Jahe untuk Supporting Penyakit Hipertensi pada Lansia di RW 02 Dusun Krajan Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Luluk Anisyah; Sugiyanto Sugiyanto; Hestining Puspaweni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27583

Abstract

ABSTRAK   Minuman fungsional merupakan salah satu pangan fungsional. Wedang adalah minuman yang diseduh, dapat menghangatkan tubuh yang umumnya disajikan panas atau hangat dan sering kali berbahan dasar rempah-rempah.  Sasaran kegiatan ini adalah relawan balakarcana sejumlah 20 orang di RW 02 Dusun Krajan Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, diharapkan relawan mampu meningkatkan pengetahuan dan pendampingan pada lansia dalam melakukan edukasi terkait dalam pembuatan olahan minuman wedang, sehingga dapat menjadikan supporting pada penyakit hipertensi. Dalam mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk mewujudkan lanjut usia sehat, aktif, mandiri dan produktif, berdayaguna bagi keluarga dan masyarakat, maka salah satu usaha yang dapat diberikan adalah edukasi kesehatan melalui ceramah, pemberian keterampilan terkait cara pembuatan olahan wedang. Bentuk kegiatan meliputi 3 kegiatan antara lain: Tahap persiapan: melakukan pendekatan, persiapan bahan dan alat yang digunakan untuk pembuatan sediaan wedang kombinasi bunga kecombrang serta jahe; Tahap pelaksanaan: memberikan edukasi manfaat tanaman kecombrang dan wedang bagi Kesehatan lansia. Tahap evaluasi dilakukan untuk mengetahui adanya peningkatan pengetahuan dengan menggunakan kuesioner pre-post dan keterampilan kader Kesehatan dengan menggunakan ceklist. Hasil evaluasi untuk pengetahuan pretest sebesar 60,0, sedangkan untuk hasil posttest sebesar  92,5; serta peningkatan pengetahuan sebesar 65,0% (Baik), serta hasil untuk peningkatan keterampilan memberikan skor sebesar 3,87 (Sangat terampil). Kesimpulan bahwa tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dalam kegiatan PkM telah tercapai dengan baik didalam aspek tingkat kehadiran, peningkatan pengetahuan dan keterampilan para relawan balakarcana di RW 02 Dusun Krajan Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Kata Kunci: Bunga, Jahe, Kecombrang, Minuman fungsional, Wedang.  ABSTRACT Functional drinks are a type of functional food. Wedang is a brewed beverage that warms the body, is generally served hot or warm, and is often made with spices.This activity targets 20 Balakarcana volunteers in RW 02, Krajan Hamlet, Pandansari Village, Poncokusumo District, Malang Regency. It is hoped that the volunteers will be able to increase their knowledge and provide support to the elderly by providing education on making wedang drinks, thus supporting hypertension. In support of the Indonesian government's efforts to create healthy, active, independent, and productive seniors who are empowered by their families and communities, one effort that can be provided is health education through lectures and skills training on how to make wedang. The activity includes three stages: preparation phase: conducting an approach, preparing ingredients and tools used to make a wedang preparation combining torch ginger flowers and ginger; implementation phase: providing education on the health benefits of torch ginger plants and wedang for the elderly. The evaluation phase is conducted to determine whether there has been an increase in knowledge using a pre-post questionnaire and the skills of health cadres using a checklist. The evaluation results for pretest knowledge were 60.0, while for posttest results were 92.5; and the increase in knowledge was 65.0% (Good), and the results for skill improvement gave a score of 3.87 (Very skilled). The conclusion is that the goal of improving knowledge in PkM activities has been achieved well in terms of attendance levels, increasing knowledge and skills of Balakarcana volunteers in RW 02, Krajan Hamlet, Pandansari Village, Poncokusumo District, Malang Regency. Keywords: Flowers, Ginger, Torch Ginger, Functional Drink, Wedang.
Edukasi Bahaya Paparan Asap Rokok melalui Pendekatan Health Belief Model (HBM) Pada Keluarga dengan Bayi Usia 1 Bulan Inezia Zarqa Aviananda; Dadang Purnama; Mamat Lukman
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27662

Abstract

ABSTRAK Paparan secondhand smoke (SHS) dan thirdhand smoke (THS) merupakan masalah kesehatan yang berisiko bagi bayi karena sistem imun dan sistem pernapasannya belum berkembang optimal, sementara kurangnya pengetahuan keluarga mengenai bahaya asap rokok turut meningkatkan risiko paparan pada bayi. Mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan edukasi kesehatan berbasis Health Belief Model (HBM) pada keluarga dengan bayi usia 1 bulan. Kegiatan dilaksanakan melalui pendekatan asuhan keperawatan keluarga pada satu keluarga binaan dengan bayi usia 1 bulan yang memiliki kebiasaan merokok di lingkungan rumah, meliputi tahap pengkajian, penyusunan intervensi, implementasi edukasi berbasis HBM (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, dan cues to action), serta evaluasi melalui wawancara dan observasi. Setelah kegiatan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan keluarga mengenai SHS, THS, serta dampaknya terhadap kesehatan bayi, dan keluarga mulai menerapkan perilaku pencegahan seperti merokok di luar rumah, mengganti pakaian, serta membersihkan diri sebelum berinteraksi dengan bayi. Edukasi kesehatan berbasis HBM efektif meningkatkan pengetahuan dan mendorong perubahan perilaku keluarga dalam melindungi bayi dari paparan SHS dan THS. Perawat dan tenaga kesehatan diharapkan menerapkan pendekatan HBM secara berkelanjutan pada keluarga dengan anggota rentan terhadap paparan asap rokok sebagai bagian dari upaya promosi kesehatan masyarakat.  Kata Kunci: Health Belief Model, Edukasi Kesehatan, Asap Rokok, Bayi, Keluarga.  ABSTRACT Secondhand smoke (SHS) and thirdhand smoke (THS) exposure posed significant health risks for infants, particularly because their immune and respiratory systems had not yet fully developed, while limited family knowledge regarding cigarette smoke hazards increased infants' exposure risk. This activity aimed to describe the implementation of Health Belief Model (HBM)-based health education in a family with a one-month-old infant. The activity was carried out through a family nursing care approach with one target family whose infant was exposed to cigarette smoke due to smoking behavior at home, involving assessment, intervention planning, implementation of HBM-based education (perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, and cues to action), and evaluation through interviews and observation. Following the education, family knowledge regarding SHS, THS, and their health impacts on infants increased, and the family began adopting preventive behaviors such as smoking outside the house, changing clothes, and cleaning themselves before interacting with the infant. HBM-based health education was effective in improving family knowledge and encouraging behavioral change to protect infants from SHS and THS exposure. Nurses and health workers were encouraged to sustainably apply the HBM approach in families with members vulnerable to cigarette smoke exposure as part of community health promotion efforts.  Keywords: Health Belief Model, Health Education, Cigarette Smoke, Infant, Family.
Implementasi Pin Aromaterapi Peppermint terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Pasca Operasi dengan Anestesi Tiva Syaputri Syaputri; Dwi Novitasari; Amin Susanto; Warsiyati Warsiyati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27585

Abstract

ABSTRAK Nyeri pasca operasi tetap menjadi masalah klinis utama yang sering dialami pasien setelah pembedahan, termasuk pada pasien yang menerima Total Intravenous Anesthesia (TIVA). Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat mengganggu kenyamanan pasien, menghambat mobilisasi dini, memperpanjang proses pemulihan, serta meningkatkan risiko komplikasi pasca operasi. Meskipun analgesik farmakologis merupakan standar utama dalam manajemen nyeri, pendekatan nonfarmakologis yang aman, sederhana, dan mudah diterapkan diperlukan sebagai terapi komplementer. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengimplementasikan pin aromaterapi peppermint sebagai intervensi untuk menurunkan nyeri pada pasien pasca pembedahan dengan anestesi TIVA. Metode yang digunakan meliputi edukasi singkat kepada pasien, pengukuran tingkat nyeri awal menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), pemasangan pin aromaterapi pada area tubuh yang nyaman, serta observasi selama ± 15 menit, kemudian dilakukan pengukuran ulang tingkat nyeri untuk mengevaluasi perubahan tingkat nyeri setelah implementasi intervensi. Kegiatan dilaksanakan di Rumah Sakit Wijayakusuma DKT dengan jumlah peserta 35 pasien. Hasil menunjukkan terjadinya penurunan intensitas nyeri setelah implementasi pin aromaterapi peppermint, yang ditandai dengan perubahan mayoritas peserta dari kategori nyeri sedang menjadi nyeri ringan. Selain itu, terjadi kecenderungan perbaikan pada tekanan darah dan denyut nadi menuju kategori normal. Kesimpulan, implementasi pin aromaterapi dapat menjadi terapi komplementer nonfarmakologis yang praktis untuk membantu menurunkan nyeri serta meningkatkan kenyamanan pasien pasca operasi dengan anestesi TIVA. Kata Kunci: Anestesi TIVA, Aromaterapi Peppermint, Nyeri Pasca Operasi, Terapi Nonfarmakologis.  ABSTRACT Postoperative pain remains a major clinical problem frequently experienced by patients after surgery, including those receiving Total Intravenous Anesthesia (TIVA). Inadequately managed pain can compromise patient comfort, hinder early mobilization, prolong recovery, and increase the risk of postoperative complications. Although pharmacological analgesics remain the mainstay of pain management, safe, simple, and easily implemented nonpharmacological approaches are needed as complementary therapies. This community service activity aimed to implement peppermint aromatherapy pins as a complementary intervention to help reduce pain in postoperative patients receiving TIVA. The intervention included brief patient education, assessment of baseline pain intensity using the Numeric Rating Scale (NRS), placement of the aromatherapy pin on a comfortable area of the patient's clothing, and observation for approximately 15 minutes, followed by reassessment of pain intensity to evaluate changes after the intervention. The activity was conducted at Wijayakusuma DKT Hospital and involved 35 postoperative patients. The results showed a reduction in pain intensity following the implementation of peppermint aromatherapy pins, as indicated by a shift in the majority of participants from moderate to mild pain. In addition, there was a tendency for blood pressure and pulse rate to shift toward the normal range. In conclusion, peppermint aromatherapy pins may serve as a practical nonpharmacological complementary therapy to help reduce pain and improve comfort in postoperative patients receiving TIVA. Keywords: Nonpharmacological Therapy, Peppermint Aromatherapy, Postoperative Pain, TIVA Anesthesia.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dalam Upaya Meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan Kader Kesehatan dalam Penanganankorban Henti Jantung di Desa Cikamunding Lebak Banten Bangun Wijonarko; Viyan Septiyana Achmad; Dina Sri Mawaddah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i10.27488

Abstract

ABSTRAK Henti jantung (cardiac arrest) merupakan kondisi berhentinya aktivitas pemompaan jantung secara mendadak yang dapat menyebabkan kematian sel otak dalam waktu 4 menit dan kematian organ vital dalam 10 menit apabila tidak segera ditangani. Sebagian besar kejadian henti jantung terjadi di luar rumah sakit (Out Hospital Cardiac Arrest), sehingga peran masyarakat, khususnya kader kesehatan, sebagai penolong pertama (first responder) menjadi sangat penting. Kader kesehatan di Desa Cikamunding, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Banten belum pernah memperoleh pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), padahal desa tersebut berjarak tempuh sekitar 179 km dan 4–5 jam perjalanan darat dari rumah sakit rujukan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar secara cepat, tepat, dan aman. Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui penyuluhan edukatif, demonstrasi, dan pelatihan praktik langsung mengenai tahapan BHD (penilaian awal, aktivasi sistem gawat darurat, kompresi dada, dan ventilasi) yang melibatkan 20 orang kader Posyandu. Evaluasi dilakukan dengan kuesioner pre-test dan post-test pengetahuan serta observasi keterampilan sesuai pedoman American Heart Association (AHA) 2020. Pengetahuan kader sebelum pelatihan tergolong kurang pada 16 peserta (80%) dan meningkat menjadi baik pada 15 peserta (75%) setelah pelatihan. Keterampilan kader sebelum pelatihan tergolong kurang pada 18 peserta (90%) dan meningkat menjadi baik pada 17 peserta (85%) setelah pelatihan. Pelatihan Bantuan Hidup Dasar terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam penanganan korban henti jantung di Desa Cikamunding. Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar, Henti Jantung, Edukasi Kesehatan, Pelatihan Masyarakat, Resusitasi Jantung Paru.  ABSTRACT Cardiac arrest is a sudden cessation of effective cardiac pumping activity that can cause brain cell death within 4 minutes and vital organ failure within 10 minutes without immediate treatment. Most cardiac arrests occur outside the hospital (Out Hospital Cardiac Arrest), making community members, particularly health cadres, essential as first responders. Health cadres in Cikamunding Village, Cilograng Sub-district, Lebak Regency, Banten had never received Basic Life Support (BLS) training, despite the village being located approximately 179 km and 4–5 hours by road from the referral hospital. To improve the knowledge and skills of health cadres in performing Basic Life Support quickly, accurately, and safely. The community service activity was conducted through educational counseling, demonstration, and hands-on practical training on BLS stages (initial assessment, activation of the emergency response system, chest compression, and ventilation) involving 20 Posyandu cadres. Evaluation was carried out using pre-test and post-test knowledge questionnaires and skill observation based on the 2020 American Heart Association (AHA) guidelines. Prior to training, 16 participants (80%) had poor knowledge, which improved to good knowledge in 15 participants (75%) after training. Prior to training, 18 participants (90%) had poor skills, which improved to good skills in 17 participants (85%) after training. Basic Life Support training was proven effective in improving the knowledge and skills of health cadres in managing cardiac arrest victims in Cikamunding Village. Keywords: Basic Life Support, Cardiac Arrest, Health Education, Community Training, Cardiopulmonary Resuscitation.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 10 (2026): Volume 9 Nomor 10 (2026) Vol 9, No 9 (2026): Volume 9 Nomor 9 (2026) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue