cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
manuju@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Manuju : Malahayati Nursing Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26552728     EISSN : 26554712     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan
Articles 1,867 Documents
Intervensi Diagnosis Komunitas dalam Upaya Menurunkan Kasus Baru Stunting di Desa Legok, Kabupaten Tangerang Kamila, Nadhira Rachma; Pratiwi, Wynne; Wijaya, Tomi; P, Emia Debora; Tirtasari, Silviana
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24422

Abstract

ABSTRACT Stunting is a condition in which a child's height is below the standard for their age due to chronic nutritional deficiencies. In Indonesia, stunting remains a major health problem, with a prevalence of 21.5% in 2023, which is still far from the national target of 14% in 2024. In May 2025, the Legok Community Health Center recorded 60 new cases of stunting, with the highest number of new cases in Legok Village, highlighting the need for community diagnosis to understand the underlying causes and design more appropriate preventive measures. This program involves mothers of children under five through continuous improvement of their knowledge and skills in stunting prevention. The diagnosis process begins with the identification of various health problems, followed by prioritization using the USG (Urgency, Seriousness, Growth) method to determine the main problems that need to be addressed immediately To determine the contributing factors using the Blum Paradigm, prioritization using the non-scoring Delphi method, and searching for the root causes using Fishbone diagrams and 5 WHY analysis. Interventions were monitored using the PDCA (Plan-Do-Check-Act) cycle and evaluated using a systems approach. Interventions took the form of education about stunting, as demonstrated by 80% of participants obtaining a post-test score 80. These results show the importance of health promotion efforts in preventing stunting. Keywords:Community Diagnosis, Health Education, Health Promotion, Stunting.  ABSTRAK Stunting adalah kondisi ketika tinggi badan anak dibawah standar sesuai usianya akibat kekurangan gizi kronik. Di Indonesia stunting masih menjadi masalah kesehatan utama, prevalensi stunting pada tahun 2023 mencapai 21,5% yang masih jauh dari target nasional yaitu 14% pada tahun 2024. Pada Mei 2025, Puskesmas Legok mencatat 60 kasus baru stunting, dengan kasus baru tertinggi di Desa Legok, sehingga perlunya diagnosis komunitas untuk memahami penyebab dasar dan merancang langkah pencegahan yang lebih tepat.  Program ini melibatkan para ibu balita melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam pencegahan stunting secara berkesinambungan. Proses diagnosis dimulai dengan identifikasi berbagai masalah kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan penentuan prioritas menggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) untuk menentukan masalah utama yang perlu segera ditangani. Identifikasi masalah penyebab dengan Paradigma Blum, penentuan prioritas dengan metode Delphi non-scoring, dan mencari akar masalah penyebab  dengan diagram Fishbone dan analisis 5 WHY. Intervensi dimonitor menggunakan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan dievaluasi dengan pendekatan sistem. Intervensi berupa edukasi mengenai stunting, ditunjukkan dengan  80% peserta memperoleh nilai post-test 80. Hasil ini menunjukkan bahwa pentingnya upaya promotif kesehatan dalam pencegahan stunting.  Kata Kunci: Diagnosis komunitas, Edukasi Kesehatan, Upaya promotif, Stunting.
Hubungan Antara Aktifitas Fisik dengan Nyeri Haid (Dysmenorrhea) pada Remaja Putri Dila Teju, Selly Omega; Purnama, Ni Luh Agustini; Wahyuni, Lusia Dwi Sri
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.22316

Abstract

ABSTRACT Menstruation is a physiological that occurs periodically in a woman’s body. During menstruation, most women experience abdominal pain, also known as dysmenorrhea. The incidence of dysmenorrhea increases with inactivity and lack of exercise during menstruation. Appropriate physical activity (the right amount and intensity) can reduce menstrual pain, as exercise releases endorphins, which reduce pain. The purpose this study aims to determine the relationship between physical activity and menstrual pain in adolescent girls. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 60 respondents selected through propotiornal random sampling. Data was collected using a questionnaire that include variables for physical activity measured by IPAQ and pain levels measured by NRS scale (Numeric Rating Scale). The Result a statistical test using Spearman’s Rank showed a P value of 0,750 (p 0,05), which means there is no significant relationship between physical activity and menstrual pain in teenage girls. Conclusion there is no relationship between physival activity and menstrual pain in adolescent girls.  Keywords: Menstruation, Menstrual Pain, Physical Activity.  ABSTRAK Menstruasi merupakan perubahan fisiologis tubuh perempuan yang terjadi secara berkala. Pada saat mengalami mestruasi sebagain besar wanita akan mengalami rasa nyeri pada perut atau disebut dengan disminore. Kejadian disminore akan meningkat dengan kurangnya aktivitas dan kurangnya olahraga selama menstruasi. Aktifitas fisik yang dilakukan dengan tepat (jumlah dan intensitas yang tepat) dapat mengurangi nyeri haid, karena saat berolahraga tubuh dapat mengeluarkan hormone endorphin sehingga rasa nyeri akan berkurang. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktifitas fisik dengan nyeri haid pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional yang melibatkan 60 responden yang dipilih melalui teknik propotional random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup variabel aktifitas fisik yang diukur dengan IPAQ dan tingkat nyeri yang diukur dengan skala NRS (Numeric Rating Scale). Hasil penelitian Uji statistic dengan menggunakan Rank Spearman menunjukkan nilai P sebesar 0,750 (p 0,05), yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan nyeri haid pada remaja putri. Kesimpulan tidak ada hubungan antara aktifitas fisik dengan nyeri haid pada remaja putri  Kata Kunci: Menstruasi, Nyeri Haid, Aktivitas Fisik.
Hubungan Imunisasi BCG dengan Kejadian Tuberkulosis Paru pada Anak di RSUD Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat Cahyaningsih, Henny; Sari, Amelia Puspita; Nursyamsiyah, Nursyamsiyah; Ariyanti, Metia; Lukman, Mamat; Shalahuddin, Iwan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24547

Abstract

ABSTRACT Due to the extremely high number of cases, pulmonary tuberculosis in children is a serious public health concern in Indonesia. One of the globally recommended preventive efforts is the early administration of the vaccination against Bacillus Calmette-Guérin (BCG). To reduce the chance of developing pulmonary tuberculosis, babies less than two months are often vaccinated with BCG.  The bacteria Mycobacterium tuberculosis is the cause of the infectious illness TB, which can cause serious consequences and even death, especially in susceptible age groups like children. Consequently, the BCG vaccine is essential for avoiding pulmonary TB in children at a young age. This study aims to analyze the relationship between Bacillus Calmette–Guérin (BCG) immunization status and the occurrence of pulmonary tuberculosis in children. The researcher employed a quantitative approach utilizing a cross-sectional design, implemented accidental sampling as the method for selecting participants, and included at least 120 individuals in the sample. The results indicated a significant association between BCG vaccination and the incidence of pulmonary tuberculosis in children (p-value = 0.001), revealing a moderately strong correlation coefficient with a negative association. It is anticipated that hospitals will persist in raising public awareness regarding the importance of BCG vaccination and its link to pulmonary tuberculosis incidence. Keywords: BCG Immunization, Preschool, Pulmonary Tuberculosis.  ABSTRAK Tingkat insidensi tuberkulosis paru pada populasi anak di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan serius.  Salah satu upaya preventif terhadap penyakit dapat dilakukan melalui pemberian anak-anak imunisasi Bacillus Calmette-Guerin (BCG) sejak usia dini.  Bayi berusia di bawah dua bulan biasanya diberi imunisasi BCG untuk mengurangi risiko infeksi tuberkulosis paru. TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian, terutama pada anak-anak dan kelompok usia yang rentan. Akibatnya, imunisasi BCG sangat penting untuk mencegah tuberkulosis paru pada anak-anak sejak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status imunisasi Bacillus Calmette–Guérin (BCG) dengan kejadian tuberkulosis paru pada anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan berupa sampel random. Sampel minimal yang diambil adalah 120 orang. Dalam penelitian ini, lembar observasi, yang juga dikenal sebagai checklist, digunakan dan diuji dengan uji Chi-square. Temuan menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara imunisasi BCG dengan frekuensi kejadian tuberkulosis paru pada anak (p-value = 0,001), dengan arah korelasi negatif dan koefisien korelasi yang kuat. Diharapkan rumah sakit dapat terus memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi BCG dan kaitannya dengan kasus tuberkulosis paru. Kata Kunci: Imunisasi BCG, Preschool, Tuberkulosis Paru.
Hubungan Pola Menstruasi dan Status Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Hemoglobin pada Remaja Putri Maghfiroh, Dinda Oktia; Windyaningrum, Sabatina; Mutiasari, Dellis Eka; Itsnainy, Naila Farihatul
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24510

Abstract

ABSTRACT Adolescence is a phase of life that carries a high risk of anemia, particularly iron deficiency anemia, influenced by increased nutrient requirements during growth and blood loss due to menstruation. Menstrual patterns and nutritional status (BMI/Age) are factors suspected of contributing to variations in hemoglobin levels in this age group. This study aimed to analyze the relationship between menstrual patterns and nutritional status based on body mass index and hemoglobin levels in adolescent girls. The study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. A total of 70 adolescent girls from SMKN 3 Malang were recruited as respondents using a purposive sampling method. Data on menstrual patterns were obtained through questionnaires, while nutritional status (BMI/Age) and hemoglobin levels were measured directly. Data analysis included univariate and bivariate analyses (Pearson and Chi-Square test). The Pearson analysis showed a significant relationship between menstrual patterns and hemoglobin levels (p=0.035), with respondents with irregular menstrual patterns tending to have lower hemoglobin levels. In contrast, body mass index did not show a significant association with hemoglobin levels using the Chi-Square test (p=0.642). Adolescents with irregular menstrual patterns tend to have a higher risk of anemia compared to those with regular menstrual patterns. Meanwhile, nutritional status (BMI/Age) is not a major factor influencing hemoglobin levels in this population and does not necessarily reflect micronutrient adequacy, particularly iron. Keywords: Adolescent Girls, Menstrual Patterns, Nutritional Status, Hemoglobin, Anemia.  ABSTRAK Masa remaja putri merupakan fase kehidupan yang memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya anemia, khususnya anemia defisiensi besi, yang dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan zat gizi selama pertumbuhan serta kehilangan darah akibat menstruasi. Pola menstruasi dan status gizi (IMT/U) merupakan faktor yang diduga berkontribusi terhadap variasi kadar hemoglobin pada kelompok usia ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola menstruasi dan status gizi berdasarkan indeks massa tubuh dengan kadar hemoglobin pada remaja putri. Penelitian dilakukan menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 70 remaja putri SMKN 3 Malang dilibatkan sebagai responden dengan metode purposive sampling. Data mengenai pola menstruasi diperoleh melalui kuesioner, sedangkan status gizi (IMT/U) dan kadar hemoglobin diukur secara langsung. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat (uji Pearson dan Chi-Square). Hasil analisis Pearson menunjukkan bahwa pola menstruasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin (p=0,035), di mana responden dengan pola menstruasi tidak normal cenderung memiliki kadar hemoglobin yang lebih rendah. Sebaliknya, indeks massa tubuh tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kadar hemoglobin melalui uji Chi-Square (p=0,642). Remaja dengan pola menstruasi tidak teratur cenderung memiliki risiko anemia yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki pola menstruasi teratur. Sementara status gizi (IMT/U) bukan merupakan faktor utama yang memengaruhi kadar hemoglobin pada populasi ini dan belum tentu mencerminkan kecukupan mikronutrien, khususnya zat besi. Kata Kunci: Remaja Putri, Pola Menstruasi, Status Gizi, Hemoglobin, Anemia.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi pada Siswa SMA/K di Kota Kupang Sudin, Andreas Novembri; Ratu, Kristian; Setianingrum, Elisabeth Levina; Wungouw, Herman Pieter Louis
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24394

Abstract

ABSTRACT Adolescence represents a transitional developmental stage characterized by significant physical, psychological, and social changes, which increase vulnerability to reproductive health problems. Inadequate levels of knowledge and unfavorable attitudes during this period may lead to various risky sexual behaviors, including premarital sexual intercourse, unintended pregnancy, and the transmission of sexually transmitted infections, including Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). This study aimed to analyze the relationship between the level of knowledge and adolescents’ attitudes toward reproductive health among senior high school and vocational high school students in Kupang City. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The study population comprised all senior high school and vocational high school students in Kupang City at the selected research sites, with a total sample of 107 students selected using proportionate stratified random sampling and meeting the predefined inclusion and exclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed through univariate and bivariate analyses using the Fisher–Freeman–Halton Exact Test with a significance level of p 0.05. The results showed that the majority of respondents had high to very high levels of knowledge and demonstrated positive attitudes toward reproductive health. Statistical analysis indicated a significant relationship between the level of knowledge and adolescents’ attitudes toward reproductive health (p = 0.001). This study concludes that the level of knowledge is significantly associated with adolescents’ attitudes toward reproductive health, highlighting the need to strengthen reproductive health education in schools to foster positive attitudes and healthy reproductive behaviors among adolescents. Keywords: Adolescents, Attitude and Knowledge, Reproductive Health, Kupang City.  ABSTRAK Remaja mengalami tahap transisi yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang signifikan, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap permasalahan kesehatan reproduksi. Tingkat pengetahuan dan sikap yang kurang memadai pada kondisi ini dapat memicu berbagai perilaku seksual berisiko, seperti hubungan seksual pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan, serta penularan infeksi menular seksual, termasuk Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi pada siswa SMA/K di Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian meliputi seluruh siswa SMA dan SMK di Kota Kupang yang menjadi lokasi penelitian, dengan jumlah sampel sebanyak 107 siswa yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisis melalui analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher–Freeman–Halton Exact Test dengan tingkat signifikansi p 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi hingga sangat tinggi serta menunjukkan sikap positif terhadap kesehatan reproduksi. Analisis statistik mengindikasikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi (p = 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan berhubungan secara signifikan dengan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi, sehingga penguatan edukasi kesehatan reproduksi di sekolah diperlukan untuk membentuk sikap positif dan perilaku reproduksi yang sehat pada remaja.  Kata Kunci: Remaja, Pengetahuan dan Sikap, Kesehatan Reproduksi, Kota Kupang.  
Pengaruh Video Edukasi Terhadap Pengetahuan Dan Kepatuhan Minum Obat pada Penderita Tuberkulosis Paru DIRSUD Sultan Suriansayah Banjarmasin Sa’diah, Sa’diah; Olviani, Yurida; Hadrianti, Dessy; Afriyanti, Uni
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24453

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major global health issue, particularly in developing countries, and treatment adherence is crucial to prevent drug resistance. This study aimed to evaluate the effect of educational video interventions on knowledge and medication adherence among pulmonary TB patients at RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. A quasi-experimental pre-test and post-test design was employed involving 88 pulmonary TB patients. Data on knowledge and adherence were collected before and after video-based educational interventions and analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The findings showed a significant increase in both knowledge and adherence after the intervention. Positive ranks dominated with Z = -7.597 (p 0.05) for knowledge and Z = -8.175 (p 0.05) for adherence, indicating that video education effectively improved patients’ understanding and compliance with anti-TB treatment. Educational videos are an effective, flexible, and accessible tool to enhance knowledge and adherence in TB patients, supporting successful therapy outcomes and reducing the risk of drug resistance. Keywords: Tuberculosis, Video Education, Adherence  ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan global, dan kepatuhan pengobatan merupakan faktor penting untuk mencegah resistensi obat. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh video edukasi terhadap pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien TB paru di RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental pre-test dan post-test dengan 88 pasien TB paru. Data mengenai pengetahuan dan kepatuhan dikumpulkan sebelum dan sesudah intervensi video edukasi, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan kepatuhan pasien setelah intervensi. Dominasi positive ranks dengan nilai Z = -7,597 (p 0,05) untuk pengetahuan dan Z = -8,175 (p 0,05) untuk kepatuhan menunjukkan bahwa video edukasi efektif meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Video edukasi terbukti sebagai alat yang efektif, fleksibel, dan mudah diakses untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien TB, sehingga mendukung keberhasilan terapi dan menurunkan risiko resistensi obat. Kata Kunci: Tuberkulosis, Video Edukasi, Kepatuhan
Intervensi Multifaset dalam Peningkatan Kepatuhan Menjalani Program Pengobatan Pasien Hemodialisa Widianti, Anggriyana Tri; Irawati, Diana; Anggraini, Dewi; Ukim, Ukim; Wilandika, Angga; Dewi, Inggriane Puspita
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.18031

Abstract

ABSTRACT Hemodialysis is one of the common treatments performed by patients with CKD in Indonesia. The physical consequences of hemodialysis can affect the patient's psychology which ultimately results in non-compliance with the hemodialysis treatment program. This requires management to improve patient adherence to the hemodialysis program, namely multifaceted interventions in the form of education and cognitive behavioral therapy. This study aims to apply and prove a Multifaceted Intervention in increasing adherence of hemodialysis patients. This study was carried out on 12 hemodialysis patients intervention group and 12 patient control group. The level of adherence was measured using The End-Stage Renal Disease Adherence Questionnaire. A multifaceted intervention was provided over 3 weeks. The results of the application of EBN obtained an average pre-intervention score of 792 with a standard deviation of 126, a post-intervention score of 846 with a standard deviation of 127. Intradialytic weight gain pre-intervention 5.96 decreased to 5.39 in post-intervention, the p value of compliance was 0.002 and the p value of IDWG was 0.009. Every nursing action must be based on existing evidence so that it can improve the quality of nursing services, so it is suggested that multifaceted interventions can be used as non-pharmacological interventions for nurses to help increase adherence and reduce IDWG in hemodialysis patients. Keywords: Adherence, Cognitive Behavioral Therapy, Hemodialysis, Multifaset Intervention, Intradialytic Wight Gain.  ABSTRAK  Hemodialisis menjadi salah satu penatalaksanaan yang umum dilakukan oleh pasien dengan penyakit ginjal kronis di Indonesia. Konsekuensi fisik akibat hemodialisis ini dapat mempengaruhi  psikologis pasien yang akhirnya berdampak pada ketidakpatuhan terhadap program pengobatan hemodialisis. Hal tersebut membutuhkan manajemen dalam peningkatan kepatuhan pasien terhadap program hemodialisis yaitu intervensi multifaset berupa edukasi dan cognitive behavioral therapy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  Intervensi Multifaset dalam kepatuhan pasien hemodialisis dan intradialytic wight gain (IDWG). Penelitian menggunakan desain quasi experiment terhadap 12 orang intervensi dan 12 kontrol pasien hemodialisis. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan The End-Stage Renal Disease Adherence Questionnaire  . Intervensi multifaset diberikan selama 3 minggu. Hasil didapatkan rerata skor pre intervensi (Mean ± SD) 792±126, skor post intervensi (Mean ± SD) 846±127. Intradialytic wight gain (IDWG) pre intervensi 5,96 turun menjadi 5,39 pada post intervensi, dengan uji Wilcoxon p value IDWG  yaitu 0,009 dan uji T-Test p value kepatuhan yaitu 0,002 dan Intervensi multifacet terbuti menurunkan IDWG dan meningkatkan kepatuhan  pada pasien yang menjalani HD Kata Kunci: Cognitive Behavioral Therapy, Hemodialisis, Intervensi Multifaset, Kepatuhan, Intradialytic Wight Gain.
Hubungan Adekuasi Hemodialisis terhadap Kualitas Hidup, Kecemasan, dan Status Gizi Pasien Ginjal Kronis di RSUD Provinsi NTB Ramdhani, Nur Raihan; Utama, Lalu Buly Fatrahady; Adnyana, I Gede Angga; Setiobudi, Irwan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24632

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease is a global health problem with a continuously increasing prevalence. In the end stage, patients require long-term hemodialysis therapy, in which hemodialysis adequacy plays an important role in controlling uremic symptoms and influencing patients’ quality of life, anxiety levels, and nutritional status. This study aimed to analyze the relationship between hemodialysis adequacy and quality of life, anxiety, and nutritional status among chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025.This study employed a quantitative method with an observational analytic design. The sampling technique used was purposive sampling, involving 90 chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p-value 0.05.The results showed that the majority of patients had adequate hemodialysis adequacy, totaling 72 respondents (60.0%), good quality of life in 68 respondents (56.7%), mild anxiety levels in 70 respondents (58.3%), and normal nutritional status in 65 respondents (54.2%). The Chi-square test indicated a significant relationship between hemodialysis adequacy and quality of life (p-value = 0.003), anxiety level (p-value = 0.001), and nutritional status (p-value = 0.004).In conclusion, hemodialysis adequacy is significantly associated with quality of life, anxiety levels, and nutritional status among chronic kidney disease patients at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025. Keywords: Quality of Life, Chronic Kidney Disease, Gender, Self-Efficacy, Therapy Adherence.  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Pada stadium akhir, pasien memerlukan terapi hemodialisis jangka panjang, di mana adekuasi hemodialisis berperan penting dalam mengendalikan gejala uremia serta memengaruhi kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan adekuasi hemodialisis terhadap kualitas hidup, kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025.Metode penelitianinikuantitatif dengan desain analitik observasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 90 pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan batas nilai signifikansi p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki adekuasi hemodialisis yang adekuat sebanyak 72 responden (60,0%), kualitas hidup baik sebanyak 68 responden (56,7%), tingkat kecemasan ringan sebanyak 70 responden (58,3%), serta status gizi normal sebanyak 65 responden (54,2%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara adekuasi hemodialisis dengan kualitas hidup (p-value = 0,003), tingkat kecemasan (p-value = 0,001), dan status gizi (p-value = 0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis di RSUD Provinsi NTB tahun 2025. Kata Kunci: Adekuasi Hemodialisis, Penyakit Ginjal Kronik, Kualitas Hidup, Kecemasan, Status Gizi.
Laporan Kasus : Sindrom Aspirasi Mekonium Pada Neonatus Tamaro, Anggita; Firmansyah, Yohanes; Tunggadewi, Dian Emiria
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24424

Abstract

ABSTRACT Meconium Aspiration Syndrome (MAS) remains a significant cause of respiratory distress in term and post-term neonates, contributing to neonatal morbidity and mortality. The condition results from aspiration of meconium-stained amniotic fluid, leading to airway obstruction, inflammatory lung injury, surfactant inactivation, and impaired gas exchange. Differentiating MAS from other causes of early neonatal respiratory distress, particularly neonatal pneumonia and early-onset sepsis, remains clinically challenging. We report a case of a term female neonate born at 39 weeks of gestation via cesarean section, who developed respiratory distress immediately after birth following exposure to meconium-stained amniotic fluid. The infant presented with weak crying, central cyanosis, grunting, and subcostal retractions, requiring positive pressure ventilation and supplemental oxygen. Laboratory evaluation revealed leukocytosis without other significant hematologic abnormalities. Chest radiography demonstrated findings consistent with neonatal pneumonia. Supportive respiratory management and empiric antibiotic therapy were initiated while further evaluation for infection was conducted. Discussion: The clinical presentation, laboratory findings, and radiographic features supported the diagnosis of mild to moderate MAS, with neonatal pneumonia and early-onset sepsis considered as differential diagnoses. The case highlights the inflammatory pathophysiology of MAS and the overlap of clinical and radiological features with neonatal infection. Evidence from current literature emphasizes that supportive respiratory care remains the cornerstone of management, while the use of empiric antibiotics should be guided by serial clinical and laboratory assessment. Conclusion: This case underscores the importance of integrated clinical, laboratory, and radiological evaluation in the diagnosis and management of MAS. Early recognition and appropriate supportive care are essential to optimize neonatal outcomes and avoid unnecessary interventions. Keywords: Meconium Aspiration Syndrome, Neonatal Respiratory Distress, Meconium-Stained Amniotic Fluid, Neonatal Pneumonia, Term Neonate.  ABSTRAK Sindrom Aspirasi Mekonium (SAM) masih merupakan salah satu penyebab penting distres pernapasan pada neonatus cukup bulan dan post-term, serta berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas neonatal. Kondisi ini terjadi akibat aspirasi cairan ketuban bercampur mekonium yang menyebabkan obstruksi jalan napas, cedera paru akibat inflamasi, inaktivasi surfaktan, dan gangguan pertukaran gas. Secara klinis, membedakan SAM dari penyebab lain distres pernapasan neonatal dini, khususnya pneumonia neonatal dan sepsis onset dini, masih menjadi tantangan. Kami melaporkan suatu kasus neonatus perempuan cukup bulan, lahir pada usia kehamilan 39 minggu melalui seksio sesarea, yang mengalami distres pernapasan segera setelah lahir dengan riwayat paparan cairan ketuban bercampur mekonium. Bayi lahir dengan tangisan lemah, sianosis sentral, disertai grunting dan retraksi subkostal, sehingga memerlukan ventilasi tekanan positif dan suplementasi oksigen. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis tanpa kelainan hematologis bermakna lainnya. Pemeriksaan radiografi toraks memperlihatkan gambaran yang konsisten dengan pneumonia neonatal. Terapi suportif pernapasan serta antibiotik empiris diberikan sambil dilakukan evaluasi lanjutan terhadap kemungkinan infeksi. Gambaran klinis, hasil pemeriksaan laboratorium, dan temuan radiologis mendukung diagnosis MAS derajat ringan hingga sedang, dengan pneumonia neonatal dan sepsis onset dini sebagai diagnosis banding. Kasus ini menyoroti mekanisme patofisiologi inflamasi pada MAS serta adanya tumpang tindih manifestasi klinis dan radiologis dengan infeksi neonatal. Bukti dari literatur terkini menegaskan bahwa terapi suportif pernapasan merupakan pilar utama penatalaksanaan MAS, sedangkan pemberian antibiotik empiris sebaiknya dipertimbangkan berdasarkan evaluasi klinis dan pemeriksaan laboratorium serial. Kasus ini menegaskan pentingnya pendekatan terpadu melalui evaluasi klinis, laboratorium, dan radiologis dalam menegakkan diagnosis dan menentukan tatalaksana MAS. Pengenalan dini dan pemberian terapi suportif yang tepat sangat penting untuk mengoptimalkan luaran neonatal serta mencegah intervensi yang tidak diperlukan. Kata Kunci: Sindrom Aspirasi Mekonium, Distres Pernapasan Neonatal, Cairan Ketuban Bercampur Mekonium, Pneumonia Neonatal, Neonatus Cukup Bulan.
Efektivitas Neuromuscular Electrical Stimulation (Nmes) dan Terapi Latihan Pada Rehabilitasi Fisioterapi Post Pcl Reconstruction Fase Satu: Case Report Nurhayati, Yeni Tri; Mazidah, Nabila Zulfah Nur; Rahmawati, Rizka Asna
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.22342

Abstract

ABSTRACT Sports often involve a lot of physical movement and can lead to issues with the human musculoskeletal system, one of which is PCL (posterior cruciate ligament) injury. This is a type of knee ligament injury that typically occurs due to extreme force applied to the posterior aspect of the tibia when the knee is in a flexed position, characterized by stiffness and pain in the back of the knee, which can result in significant functional impairment. PCL Reconstruction (PCLR) is a surgical procedure aimed at restoring knee joint function. The first phase of post-PCLR rehabilitation lasts from 0–6 weeks, focusing on reducing pain, improving joint range of motion, reducing edema, enhancing muscle strength, and restoring functional activity. This study aims to determine the effectiveness of combined physical therapy management, consisting of exercise therapy and Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES), in the first phase of post-PCLR rehabilitation. The results of six physical therapy sessions showed a reduction in pain and edema, an increase in LGS and muscle strength, and improved functional activity. Therefore, it can be concluded that the combination of exercise therapy and NMES is more effective as an early intervention following PCLR. Keywords: PCL Reconstruction, Physiotherapy, NMES, Exercise Therapy, Rehabilitation.  ABSTRAK Olahraga banyak melibatkan gerak tubuh dan seringkali timbul masalah sistem gerak manusia salah satunya cedera PCL (posterior cruciatum ligament), yang merupakan salah satu cedera pada ligament sendi lutut dan biasanya terjadi akibat dorongan ekstrim ke arah posterior pada tulang tibia ketika lutut dalam posisi fleksi serta ditandai dengan kekakuan dan nyeri bagian belakang lutut sehingga dapat menimbulkan gangguan fungsional yang signifikan. PCL Rekonstruksi (PCLR) menjadi solusi prosedur bedah untuk memulihkan fungsi sendi lutut. Fase pertama rehabilitasi pasca PCLR berlangsung dari 0–6 minggu dengan fokus mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi oedema, meningkatkan kekuatan otot dan mengembalikan aktivitas fungsional. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penatalaksanaan fisioterapi kombinasi berupa terapi latihan dan Neuromuscular Electrical Stimulation (NMES) pada rehabilitasi post PCLR fase satu. Hasil pelaksanaan fisioterapi selama 6 kali menunjukkan penurunan nyeri dan edema, peningkatan LGS dan kekuatan otot, serta kemampuan aktivitas fungsional. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa kombinasi terapi latihan dan NMES lebih efektif sebagai intervensi fase awal pasca PCLR. Kata Kunci: PCL Reconstruction, Fisioterapi, NMES, Terapi Latihan, Rehabilitasi.

Filter by Year

2019 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026) Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026) Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026) Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026) Vol 7, No 12 (2025): Volume 7 Nomor 12 (2025) Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025) Vol 7, No 10 (2025): Volume 7 Nomor 10 (2025) Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025) Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025) Vol 7, No 7 (2025): Volume 7 Nomor 7 (2025) Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025) Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025) Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025) Vol 7, No 3 (2025): Volume 7 Nomor 3 (2025) Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025) Vol 7, No 1 (2025): Volume 7 Nomor 1 (2025) Vol 6, No 12 (2024): Volume 6 Nomor 12 (2024) Vol 6, No 11 (2024): Volume 6 Nomor 11 (2024) Vol 6, No 10 (2024): Volume 6 Nomor 10 (2024) Vol 6, No 9 (2024): Volume 6 Nomor 9 (2024) Vol 6, No 8 (2024): Volume 6 Nomor 8 (2024) Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024 Vol 6, No 6 (2024): Volume 6 Nomor 6 2024 Vol 6, No 5 (2024): Volume 6 Nomor 5 2024 Vol 6, No 4 (2024): Volume 6 Nomor 4 2024 Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024 Vol 6, No 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 2024 Vol 6, No 1 (2024): Volume 6 Nomor 1 2024 Vol 5, No 12 (2023): Volume 5 Nomor 12 2023 Vol 5, No 11 (2023): Volume 5 Nomor 11 2023 Vol 5, No 10 (2023): Volume 5 Nomor 10 2023 Vol 5, No 9 (2023): Volume 5 Nomor 9 2023 Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023 Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023 Vol 5, No 6 (2023): Volume 5 Nomor 6 2023 Vol 5, No 5 (2023): Volume 5 Nomor 5 2023 Vol 5, No 4 (2023): Volume 5 Nomor 4 2023 Vol 5, No 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 2023 Vol 5, No 2 (2023): Volume 5 Nomor 2 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 2023 Vol 5, No 1 (2023): Volume 5 Nomor 1 Januari 2023 Vol 4, No 12 (2022): Volume 4 Nomor 12 2022 Vol 4, No 11 (2022): Volume 4 Nomor 11 2022 Vol 4, No 10 (2022): Volume 4 Nomor 10 2022 Vol 4, No 9 (2022): Volume 4 Nomor 9 2022 Vol 4, No 8 (2022): Volume 4 Nomor 8 2022 Vol 4, No 7 (2022): Volume 4 Nomor 7 2022 Vol 4, No 6 (2022): Volume 4 Nomor 6 2022 Vol 4, No 5 (2022): Volume 4 Nomor 5 2022 Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022 Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022 Vol 4, No 2 (2022): Volume 4 Nomor 2 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 2022 Vol 4, No 1 (2022): Volume 4 Nomor 1 Januari 2022 Volume 3 Nomor 4 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 3 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 2 Tahun 2021 Volume 3 Nomor 1 Tahun 2021 Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 3 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020 Volume 2 Nomor 1 Tahun 2020 Volume 1 Nomor 2 Tahun 2019 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2019 More Issue