cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Respons Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap Pemberian Pupuk Organik Asal Pelepah Kelapa Sawit dan Pupuk Majemuk NPK Mira Ariyanti; Gita Natali; Cucu Suherman
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.937 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.14955

Abstract

ABSTRACTThe growth response of oil palm (Elaeis Guineensis Jacq.) seedling toward the application of organic fertilizer from palm fronds and NPK compound fertilizerThe research was aimed to study the influence between organic fertilizers from palm fronds and NPK compound fertilizer to reduce NPK compound fertilizer in main nursery. The experiment was conducted from January to April 2017 at the Experiment Station Ciparanje, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The experimental design used was Randomized Block Design that arranged in factorial patterns with two factors and three replications. The fisrt factor was dosage of organic fertilizers from palm fronds consisted of three levels of 0 g/polybag, 800 g/polybag, and 1600 g/polybag and the second factor was dosage of NPK compound fertilizer consisted of four levels of 0 g/polybag, 20 g/polybag, 40 g/polybag, and 60 g/polybag. The result of the experiment showed that there was interaction effect between organic fertilizers from palm fronds and NPK compound fertilizer on height of seedling and dry weight of the shoot. The dosage of 1600 g/polybag organic fertilizers from palm fronds with the dosage of 20 g/polybag NPK compound fertilizer showed the best result in dry weight of the shoot.Keywords: Oil palm seedling, Main nursery, Organic fertilizer, Palm frond, NPK compound fertilizerABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dengan pupuk majemuk NPK yang baik untuk mengurangi penggunaan pupuk majemuk NPK di pembibitan utama kelapa sawit. Percobaan dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan April 2017 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas , Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama meliputi dosis pupuk organik asal pelepah kelapa sawit terdiri dari tiga taraf yaitu 0 g/polybag, 800 g/polybag, dan 1600 g/polybag dan faktor kedua dosis pupuk majemuk NPK yang terdiri empat taraf yaitu 0 g/polybag, 20 g/polybag, 40 g/polybag, dan 60 g/polybag. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh interaksi pupuk organik asal pelepah kelapa sawit dengan pupuk majemuk NPK terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tajuk. Perlakuan pupuk organik asal pelepah kelapa sawit 1600 g/bibit dengan pupuk majemuk NPK 20 g/bibit menghasilkan bobot kering tajuk bibit kelapa sawit terbaik.Kata Kunci: Bibit kelapa sawit, Pembibitan utama, Pupuk organik, Pelepah kelapa sawit, NPK
Seleksi Berbasis Marka Molekuler pada Padi Generasi F2 Guna Merakit Galur Padi Harapan Tahan Wereng Coklat Nono Carsono; Gigih Ibnu Prayoga; Neni Rostini; Danar Dono
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.511 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8471

Abstract

ABSTRACTMolecular Marker-based Selection on F2 Progeny for Development of Promising Rice Lines Resistant to Brown PlanthopperBrown planthopper (BPH) is the major insect pest of rice and accounts for significant yield loss. This experiment was aimed to develop BC1F1 and F3 brown planthopper resistant rice lines. Selection on the basis of SSR markers can be done by using two polymorphic SSR markers, i.e., RM586 dan RM8213, which screened from eight SSR markers for BPH resistant. Sixty-three F2 genotypes from IP-1 (derived from IR-64 x PTB-33) population and twenty F2 genotypes from PP-11 (derived from Pandan Wangi x PTB-33) population were selected and will be used for further research by selfed and backcrossed to recipient parents. Chi-squares test for segregation of DNA bands in F2 generation showed that RM8213 fitted with 1:2:1 Mendelian ratio for controlling photosynthetic rates and trichomes length in IP-1 population. This information could be used in programs to develop a durable brown planthopper resistant rice cultivar.Keywords: BPH, F2 population, Moleculer marker, SSRABSTRAKWereng coklat merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi yang mampu menurunkan produksi padi secara nyata. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh galur-galur padi F2 yang memiliki marka-marka yang berasosisasi dengan ketahanannya terhadap wereng coklat. Seleksi pada galur padi F2 hasil persilangan telah dilakukan melalui teknik marka molekuler Simple Sequence Repeat (SSR) menggunakan dua marka SSR yang menunjukkan polimorphisme yaitu RM586 dan RM8213 dari delapan marka yang diskrining. Sebanyak 63 genotip dari populasi IP-1 (hasil persilangan IR-64 x PTB-33) dan 20 genotip dari populasi PP-11 (hasil persilangan Pandan Wangi x PTB-33) untuk disilangkan sendiri maupun disilang balik dengan tetua recipient. Selain itu, hasil analisis Chi-Kuadrat untuk segregasi pita DNA menunjukkan bahwa primer RM8213 memiliki rasio 1:2:1 (dominasi tidak sempurna) dalam mengontrol karakter laju fotosintesis dan panjang trikoma terhadap wereng coklat pada populasi IP-1. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini nantinya dapat digunakan untuk program perakitan kultivar padi tahan wereng coklat yang durable.Kata Kunci: Marka molekuler, Populasi F2, SSR, Wereng coklat
Analisis Residu Klorpirifos pada Tanah dan Validasinya Asep Kurnia
Agrikultura Vol 29, No 2 (2018): Agustus, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.097 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i2.19247

Abstract

ABSTRACTAnalysis of chlorpyrifos residues on soil and its method validationChlorpyrifos is an insecticide active ingredient that is still widely used by farmers to control pests in various commodities. However, its presence in agricultural land can cause pollution to soil and water. Therefore, it is necessary to continuously develop effective methods in analysing the residual content in the soil. The aims of this study was to find out the presence of chlorpyrifos residues in soil samples and to validate the analytical methods used. The result showed that soil samples did not contain pesticide residues of chlorpyrifos active ingredient. Correlation coefficient value showed the performance of the method used for the measured concentration range was very good. Precision value was not accepted so that the method cannot be used as a fixed method in the laboratory as well as the accuracy value was not accurate. Based on the LOD calculation, the measurement of analytes in the sample in the table still gave a significant response. Based on the calculation of LOQ, the measurement results in the table did not meet the criteria of accurate and precise.Keywords: Residue, Chlorpyrifos, SoilABSTRAKKlorpirifos merupakan bahan aktif insektisida yang masih banyak digunakan oleh petani untuk mengendalikan hama pada berbagai komoditas. Akan tetapi keberadaannya di lahan pertanian dapat menimbulkan pencemaran terhadap tanah maupun air. Oleh karena itu perlu untuk terus mengembangkan metode yang efektif dalam menganalisis kandungan residunya dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya residu klorpirifos pada contoh tanah yang diambil dan validasi terhadap metode analisis yang digunakannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel tanah tidak mengandung residu pestisida berbahan aktif klorpirifos. Nilai koefisien korelasi menunjukkan kinerja metode yang digunakan untuk rentang konsentrasi yang diukur sangat baik. Nilai presisi tidak diterima sehingga metode tersebut tidak bisa digunakan sebagai metode tetap pada laboratorium dan nilai akurasi tidak diterima sehingga metode yang digunakan tidak akurat. Berdasarkan hasil perhitungan LOD pengukuran analit dalam sampel pada tabel masih memberikan respon signifikan. Berdasarkan perhitungan LOQ hasil pengukuran pada tabel tidak memenuhi kriteria cermat dan seksama.Kata Kunci: Residu, Klorpirifos, Tanah
Pola Hubungan Nutrisi Tajuk, Morfologi Tajuk, Komponen Tandan dan Komponen Hasil Kelapa Sawit pada Lahan Gambut di Kalimantan Tengah Saiful Afif Almatholib; Cucu Suherman; Meddy Rachmadi
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.529 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.12291

Abstract

ABSTRACTRelationship models of canopy nutrition, canopy morphology, bunch and yield components of oil palm on peat soil in Central KalimantanThe study was conducted in oil palm plantations with ten years old plant samples, located in Rungun Estate, Kotawaringin Barat, Central Kalimantan, Indonesia. The aim of this study was to determine several factors that affect the variables of canopy nutrition, canopy morphology, bunch and yield components in oil palm and also to determine the relationship between those variables. Observations were conducted on 40 oil palm plant samples at Histosols soil. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with the Smart PLS 3.0 software. The results showed that some factors of leaf Ca, rachis Ca, leaf B and leaf Cu affected canopy nutrition variable, number and length of leaflet affected the canopy morphology, while fruit set, stalk weight and stalk thickness for bunch component variable. The obtained relationship model was yield component affected by canopy nutrition through canopy morphology and bunch component.Keywords: Oil palm, Histosols soil, Relationship model, Plant componentABSTRAKPenelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit dengan tanaman berumur sepuluh tahun yang berlokasi di Rungun Estate, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Indonesia. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh faktor-faktor yang memengaruhi variabel nutrisi tajuk, morfologi tajuk, komponen tandan, dan komponen hasil kelapa sawit serta memperoleh pola hubungan antar variabel tersebut pada tanah Histosols. Hasil penelitian ini digunakan sebagai dasar analisis faktor pembatas produksi sesuai dengan jenis tanahnya. Pengamatan dilakukan pada kelompok tanaman yang berjumlah 40 tanaman di tanah gambut (Histosols). Data dianalisis menggunakan model persamaan struktural (Structural Equation Model) dengan software Smart PLS 3.0. Faktor-faktor yang memengaruh variabel berupa Ca daun, Ca rachis, B daun, dan Cu daun (pada nutrisi tajuk), fruit set, tebal bonggol, dan lebar bonggol (komponen tandan), jumlah anak daun dan panjang anak daun (morfologi tajuk). Pola hubungan yang diperoleh adalah komponen hasil dipengaruhi nutrisi tajuk melalui morfologi tajuk dan komponen tandan.Kata Kunci: Kelapa sawit, Pola hubungan, Komponen tanaman
Pengujian Kemurnian Genetik Benih Padi Galur F3 (Pandanwangi x PTB33) Terseleksi Menggunakan Marka Molekuler Simple Sequence Repeats (SSR) Syindy Raffini Nasihin; Wieny H. Rizky; Nono Carsono
Agrikultura Vol 26, No 2 (2015): Agustus, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.44 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i2.8462

Abstract

ABSTRACTSeed Purity Testing of F3 Progeny of Rice Lines Derived from a Cross between Pandanwangi x PTB-33 Estimated by Simple Sequence Repeat MarkersSeeds with high purity is required to produce maximum crop yield. Genetic purity of selected F3rice seed progenies derived from a cross between Pandanwangi x PTB33 was estimated by SSR(simple sequence repeats) molecular markers. Objective of current experiment was to obtain riceseed with high genetic purity (100%) in terms of homogeneity of alleles. The experiment wasconducted at Laboratory of Plant Analysis and Biotechnology, meanwhile field experiment wasperformed at Ciparanje Experimental Station, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran.Based on primer designed by Bradbury (aromatic trait) and primers RM589 and RM586 (supposedto correlate with brown planthopper resistance gene), seeds of F3 selected had 100% geneticpurity. SSR markers applied for each offspring were able to demonstrate the purity of the seed.Genotypes with 100% genetic purity can be continued for propagating their seeds.Keywords: F3, seed purity, seed rice, SSR markersABSTRAKBenih dengan kemurnian genetik tinggi sangat diperlukan untuk produksi tanaman yangmaksimal. Kemurnian genetik padi generasi F3 hasil persilangan Pandanwangi x PTB-33 diestimasidengan menggunakan marka molekuler SSR. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan generasiF3 yang memiliki kemurnian genetik 100%. Penelitian dilaksanakan di Kebun PercobaanCiparanje, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dan Laboratorium Analisis dan BioteknologiTanaman. Hasil analisis menggunakan primer Bradbury menunjukkan 100% benih murniberdasarkan karakter aromatik, begitupun berdasarkan karakter ketahanan terhadap wereng(primer RM589 dan RM586) menunjukkan 100% benih murni. Marka molekuler SSR yangdigunakan untuk verifikasi kemurnian mampu menunjukkan kemurnian genetik benih padi yangtinggi. Genotip PP dapat dilanjutkan untuk pengujian dan atau perbanyakan benih sumber.Kata kunci: benih padi, F3, marka SSR, uji kemurnian genetik
Penggunaan Traktor Roda Dua pada Lahan Padi Sawah di Jawa Barat Saeful Bachrein; Agus Ruswandi; Trisna Subarna
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.918 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.955

Abstract

Pengembangan komoditas padi sawah yang berorientasi agribisnis seharusnya  didukung oleh alat dan mesin pertanian antara lain traktor moda dua. Kajian ini dilakukan untuk mengevaluasi tingkat penggunaan,  keragaan dan kelayakan penggunaan traktor roda dua di lahan  padi sawah  di Jawa Barat. Kajian ini juga bertujuan untuk membuat pendekatan  pengembangan traktor roda dua di Jawa Barat berdasarkan kenyataan di lapangan dan kebijakan pemerintah. Kajian ini dilaksanakan melalui metode Pemahaman Pedesaan  Partisipatif dan survey terstruk-tur. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa ketersediaan traktor relatif memadai dengan tingkat partisipasi rumah tangga pengguna di musim hujan dan kemarau masing-masing  96 % dan 97 %. Usaha jasa traktor layak diusahakan karena  mem-berikan nilai Revenue-Cost Rasio 1,36 dan Pay Back Period 2,74 per tahun dan titik Impas 30,77 ha/tahun. Pada penelitian ini, beberapa masalah sosial, budaya dan teknis dalam pengembangan traktor roda dua pada padi sawah di Jawa Barat telah diinventarisasi.
Analisis Kesesuaian Marka SSR ( Simple Sequence Repeats ) untuk Identifikasi Keragaman Genetik pada Kacang Bambara Asal Jawa Barat Safarinda Nurdianawati; Noladhi Wicaksana; Anas Anas
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.312 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.10528

Abstract

ABSTRACT Suitability Analysis of SSR Marker ( Simple Sequence Repeats ) for Genetic Diversity Identification in Bambara Groundnut West Java Origin Bambara groundnut ( Vigna subterranea ) is one of legume crops that has not been widely cultivated. It becomes food alternative sources in Indonesia as it has high of protein and carbohydrate content and low fat. Furthermore, bambara groundnut should be good production in marginal land. Molecular marker has been used for any crop development such as genetic diversity, matting system, clones identification, etc. This research used neutral genetic markers (SSR) to study genetic diversity in Bambara groundut population from West Java. Fifteen primers has used and the results showed that primer 1 and primer 19 were polymorphic and informative because the locus has high HE (heterozygosity) and PIC (Polymorphic Information Content) value compare to others. The higher HE and PIC value the more informative to distinguish each individual between genotype in one population. Keywords: Bambara groundnut ( Vigna subterranea ), Genetic diversity, Simple sequence repeats (SSR)  ABSTRAK Kacang bambara ( Vigna subterranea ) merupakan salah satu tanaman legume yang belum terlalu banyak dibudidayakan dan dapat menjadi sumber pangan alternative di Indonesia karena kandungan protein dan karbohidratnya  cukup tinggi dan rendah lemak. Selain itu, tanaman ini juga dilaporkan dapat berproduksi dengan baik pada lahan-lahan marginal. Penggunaan marka molekuler telah banyak digunakan pada tanaman untuk berbagai tujuan antara lain untuk mengevaluasi keragaman genetik suatu populasi, menduga system perkawinan, identifikasi klon dan lain-lain. Dalam penelitian ini digunakan marka netral (SSR) untuk mempelajari keragaman genetik populasi Kacang bambara ( Vigna subterranea ) asal Jawa Barat. Dari lima belas primer, primer 1 dan primer 19 merupakan primer yang bersifat polimorfik dan informative karena lokus tersebut memiliki nilai HE (heterozigositas) dan PIC ( P o l y m o r p h i c I n f o r m a t i o n Con tent ) yang tinggi dibandingkan dengan primer-primer lainnya. Semakin tinggi nilai HE dan PIC yang dihasilkan maka primer tersebut semakin informatif dalam membedakan individu antar genotip dalam populasi. Kata Kunci : Kacang bambara ( Vigna subterranea ), Keragaman genetik, Simple Sequence Repeats (SSR)
Lama hidup, Keperidian, serta Kemampuan Memangsa Curinus coeruleus Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae) terhadap Bemisia tabaci gennadius (Homoptera: Aleyrodidae) Agung Triantoro Riyanto; Sudarjat Sudarjat
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008): Desember, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.991 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i3.1015

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama hidup pada setiap tahap perkembangan dan keperidian Curinus coeruleus serta kemampuan memangsa C. coeruleus terhadap berbagai kepadatan nimfa Bemisia tabaci. Metode yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Rancangan Acak Kelompok Pola Faktorial, yang terdiri dari 2 faktor, yaitu: faktor tahap perkembangan predator C.coeruleus (larva instar-1, larva instar-2, larva instar-3, larva instar-4, imago betina dan imago jantan) dan faktor kepadatan mangsa nimfa B. tabaci (60, 120, dan 240 ekor mangsa). Hasil percobaan menunjukkan bahwa lama stadium larva instar-1 C. coeruleus berkisar antara 8–10 hari, larva instar-2  berkisar 4–6 hari, larva instar-3 berkisar 5–8 hari, larva instar-4 berkisar 9–12 hari, prapupa berkisar 2–3 hari, pupa berkisar 6–8 hari, lama hidup imago betina berkisar 63 – 76 hari dan lama hidup imago jantan berkisar antara 52–69 hari. Kemampuan  C. coeruleus meletakkan telur selama hidupnya berkisar antara 11–116 butir dengan persentase penetasan telur 54,55–81,03%, peletakan telur terjadi 2–6 kali. Masa inkubasi telur berkisar antara 6–7 hari. Jumlah pemangsaan tertinggi terjadi pada perlakuan larva instar-4 dengan kepadatan mangsa 240 ekor nimfa B. tabaci, yaitu rata-rata 102,5 ekor nimfa B. tabaci larva-1 hari-1.
Pemberdayaan Koperasi Unit Desa Melalui Analisis Faktor-Faktor Kunci Manajemen Sulistyo Sidik Purnomo; Briljan Sudjana
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010): April, 2010
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.242 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v21i1.973

Abstract

Koperasi Unit Desa (KUD) adalah lembaga pedesaan yang memiliki peran penting dalam pembangungan pertanian. Namun saat ini kemandirian KUD belum kuat karena KUD masih merupakan kepanjangan tangan pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan pedesaan terutama di sektor pertanian. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan faktor-faktor kunci manajemen KUD serta menentukan besar pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap kemandirian KUD. Penelitian dilakukan terhadap 10 KUD Kabupaten Garut yang berhasil mengembangkan KUD di tingkat nasional melalui survai lapangan dengan bantuan kuesioner untuk mendapatkan data primer. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) untuk menentukan besarnya pengaruh faktor kunci berupa faktor laten endogen dan eksogen terhadap keberhasilan dalam manajemen KUD. Analisis variabel-variabel yang diteliti menghasilkan l5 faktor kunci laten endogenous dan 80 faktor  kunci latent exogenous. Seluruh faktor kunci tersebut direkomendasikan untuk digunakan sebagai pedoman dalam upaya pemberdayaan KUD ke arah kemandirian.
PerkecambahanPeronosclerospora spp. Asal Beberapa Daerah di Jawa Barat pada Fungisida Berbahan Aktif Metalaksil, Dimetomorf dan Fenamidon Fitri Widiantini; Dwisari Januarily Pitaloka; Ceppy Nasahi; Endah Yulia
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.947 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.15753

Abstract

ABSTRACTGermination of Peronosclerospora spp. isolated from several maize plantation areas in West Java on fungicides containing active ingredient of metalaxyl, dimetomorph and fenamidoneDowny mildew is a major disease in corn plants that affect the world corn production, include in Indonesia. The control of downy mildew that caused by pathogen Peronosclerospora spp. are relying on the use of synthetic fungicides. However, the emergence of the Peronosclerospora spp. resistant against fungicides rise awareness for the need of constant surveillance. The aim of this study was to know the effectiveness of three commonly used active ingredients fungicide (Metalaxyl, Dimetomorph, and Fenamidone) in controlling Peronosclerospora spp. from five regions in Wes Java (Sumedang District,Bandung District, Majalengka District, Garut District and West Bandung District). Experiment was conducted using conidia germination method. The results of this study demonstrated that fungicide with active ingredient of Dimethomorph was able to suppress the germination of conidia Peronosclerospora spp. with 0% of conidia germination in 4 districts (Sumedang, Bandung, Majalengka and Garut) and only 0.47% conidia germinated in isolate collected from West Bandung District. Meanwhile, fenamidon experienced a decrease in effectiveness at West Bandung District. In this study, it was also found that the number of conidia germinated on isolates treated with Metalaxyl did not show any significant difference compared to control. This suggested that Peronosclerospora spp. might resistant to Metalaxyl.Keywords: Downy mildew, Peronosclerospora spp., metalaxyl, dimetomorph, fenamidoneABSTRAKPenyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang berpengaruh terhadap produksi jagung dunia, termasuk di Indonesia. Pengendalian penyakit bulai yang disebabkan oleh patogen Peronosclerospora spp. masih bertumpu pada penggunaan fungisida sintetik. Akan tetapi, terjadinya penurunan keefektifan fungisida terhadap Peronosclerospora spp. menyebbkan diperlukannya monitoring secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan tiga jenis bahan aktif fungisida yang umum digunakan (Metalaksil, Dimetomorf, dan Fenamidon) dalam mengendalikan penyakit bulai terhadap patogen Peronosclerospora spp.asal lima daerah di Jawa Barat (Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kab. Majalengka, Kab. Garut dan Kab. Bandung Barat). Pengujian keefektifan fungisida dilakukan dengan menggunakan metode perkecambahan konidia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan fungsida dimetomorf terhadap isolat Peronosclerospora spp. asal semua daerah dapat menekan perkecambahan konidia dengan persentase perkecambahannya 0% pada 4 daerah dan 0,47% pada isolat asal daerah Kab. Bandung Barat. Sementara Fenamidon menujukkan indikasi penurunan keefektifan di daerah Bandung Barat. Pada penelitian ini, ditemukan pula adanya indikasi resistensi patogen Peronosclerospora spp. terhadap fungisida Metalaksil. Hal ini terlihat dari perkecambahan konidia yang diperlakukan dengan Metalaksil yang hasilnya tidak berbeda nyata dengan kontrol yang tidak diperlakukan dengan fungisida.Kata Kunci: Penyakit bulai jagung, Peronosclerospora spp., Metalaksil, Dimetomorf, Fenamidon