cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Aktivitas Enzim Fosfatase dan Ketersediaan Fosfat Tanah pada Sistem Tumpangsari Tanaman Pangan dan Jati (Tectona grandis L.f.) setelah Aplikasi Pupuk Hayati Betty N. Fitriatin; Reginawanti Hindersah; Pujawati Suryatmana
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008): Desember, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.025 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i3.995

Abstract

Pupuk hayati seperti mikrob pelarut fosfat (MPF) dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) berperan dalam siklus unsur hara fosfor di dalam tanah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas enzim fosfatase dan ketersediaan fosfat di tanah Ultisols pada sistem tumpangsari jati (Tectona grandis L.f.) dengan tanaman pangan setelah aplikasi pupuk hayati berupa FMA dan MPF.  Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan faktor pertama adalah pupuk hayati (tanpa dan dengan 2 ton ha-1, 4 ton ha-1, dan  6 ton ha-1 pupuk hayati), dan faktor kedua adalah pola tanam tumpang sari dengan jati (jati dengan jagung, jati dengan kedelai, dan jati dengan jagung dan kedelai).        Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara pupuk hayati  dengan pola tumpang sari terhadap aktivitas fosfatase, fosfat tersedia dan populasi MPF. Aplikasi pupuk hayati meningkatkan  aktivitas fosfatase Ultisols dan mempengaruhi  perubahan populasi MPF, namun tidak mempengaruhi kandungan fosfat tersedia tanah. Aktivitas fosfatase tanah lebih tinggi pada pola tumpang sari jati dengan jagung dan kedelai dibandingkan dengan tumpang sari jati dengan jagung atau kedelai saja.  Pola tanam tumpang sari jati dengan tanaman pangan tidak mempengaruhi fosfat tersedia dan populasi MPF di dalam tanah.
Kajian Pengembangan Usahatani Padi Organik SRI (System of Rice Insensification) Berwawasan Agribisnis dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan Secara Berkelanjutan Tarya J. Sugarda; Anne Charina; Lisye Setiagustina; Iwan Setiawan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2740.391 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.625

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah merumuskan alternatif pengintegrasian on farm dengan off farm dalam sistem agribisnis untuk mewujudkan pola pengembangan SRI secara berkelanjutan di Iawa Barat. Melalui wawancara dengan pelaku padi organik di Kab. Ciamis, Kab. Tasikmalaya, dan Kota Sukabumi, serta analisis perbandingan. Diperoleh beberapa temuan; 1) Secara spasial, pilot project SRI masih terkonsentrasi di zona ekologi ]awa Barat bagian selatan. Secara sosial, mayoritas petani belum mengetahui informasi dan teknis SRI. Secara ekonomis, jika input organik diproduksi sendiri, metode SRI lebih menguntungkan dibandingkan dengan metode konvensional. Secara ekologis, dengan metode SRI, tanah menjadi lebih baik. Secara teknis. SRI dipandang rumit oleh petani, sehingga penerapannya masih berada pada tahap mencoba (trial) kecuali beberapa tokoh tani; 2) sosialisasi SRI berjalan terlalu tergesa-gesa dan orientasi yang bias (pseudo); 3) pengembangannya belum didukung payung hukum atau pemihakan politis; 4) perilaku bertani organic petani yang Iemah, ketergantungan pada metode konvensional, kurangnya motivasi, kurangnya supply pupuk, belum berperannya kelompok tani, belum memadainya tenaga fasilitator, minimnya informasi SRI, dan lemahnya akses jaringan pemasaran padi organik berpengaruh terhadap perkembangan padi SRI; dan 5) strategi untuk mengatasi permasalahan di atas meliputi: memproduksi pupuk organik yang lebih praktis dalam skala besar; menerapkan manajemen rice estate dan corporate farming berbasis kelompok tani; mengintegrasikan metode SRI dengan agribisnis peternakan; menguatkan modal sosial (seperti budaya beternak dan kerjasama); mengintegrasikan pasar padi organik; menggulirkan program rehabilitasi lahan, dan mengembangkan petani-petani SRI yang berusia muda, berpendidikan, dan berwawasan lestari.
Kemampuan Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam Silika Nano dan Serat Karbon untuk Menginduksi Ketahanan Bawang Merah terhadap Penyakit Bercak Ungu (Alternaria porri (Ell.) Cif) Hersanti Hersanti; Sudarjat Sudarjat; Andina Damayanti
Agrikultura Vol 30, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.905 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i1.22698

Abstract

ABSTRACTThe ability of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed, with carbon fiber and nano silica to induce resistance of shallot to purple blotchPurple blotch disease caused by Alternaria porri is one of the major disease on shallot. One of the methods that can be applied to control the disease is the use of antagonistic bacteria. Antagonistic bacteria can be used as a resistance inducer to suppress pathogen development. In this study, Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. were formulated in carbon fiber as a carrier and nano silica 3% as a complementary. This study was conducted to determine the ability of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed, with carbon fiber and nano silica to induce resistance of shallot to purple blotch. The experiment was conducted at the Laboratory of Phytopathology, Departement of Plant Pest and Diseases and Ciparanje Green House, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran from December 2017 until July 2018. Suspension of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. singly or mixed were formulated in carbon fiber 80 Mesh and 3% nano silica. The experiment used Randomized Block Design consisted of 8 treatments with 3 replications. Each replication consisted of 5 plants. The results showed that the mixture of Bacillus subtilis and Lysinibacillus sp. in 3% silica nano and carbon fiber was the ablest treatment to increase the resistance of shallot to purple blotch by 71,2%.Keywords: Antagonistic bacteria, BiocontrolABSTRAKPenyakit bercak ungu yang disebabkan oleh Alternaria porri merupakan salah satu penyakit utama pada bawang merah. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pengendalian yaitu menggunakan bakteri antagonis. Bakteri antagonis dapat digunakan sebagai penginduksi ketahanantanaman untuk menekan perkembangan penyakit. Pada penelitian ini, Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. diformulasikan dalam serat karbon sebagai bahan pembawa dan silika nano 3% sebagai bahan pelengkap. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan bakteri Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. secara tunggal maupun campuran dalam serat karbon dan silika nano3% untuk menginduksi ketahanan bawang merah terhadap penyakit bercak ungu. Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Rumah Kaca, Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran mulai dari bulan Desember 2017 hingga Juli 2018. Suspensi Bacillus subtilis dan Lysinibacillus sp. secara tunggal maupun campuran diformulasikan pada serat karbon dan silika nano 3%. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 3 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman. Dari hasil percobaan diketahui bahwa campuran B. subtilis dan Lysinibacillus sp. dalam silika nano 3% serta serat karbon mampu meningkatkan ketahanan bawang merah terhadap penyakit bercak ungu dengan persentase hambatan sebesar 71,2%.Kata Kunci: Bakteri antagonis, Biokontrol
Pola Pewarisan Karakter Umur Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Anas Anas; Iman Lukmanul Hakim
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.486 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.15137

Abstract

ABSTRACTInheritance Pattern of Maturity Character of Sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench)Information on the inheritance pattern for the maturity characters in sorghum (Sorghum bicolor [L.] Moench) is important for plant breeding program of early maturity sorghum. Objective of this experiment was to evaluate genetic control of days to flowering and anthesis. Three series of crossing Unpad 1.1 x 2.24-1, Unpad 1.1 x 2.24-3 and BSS x 2.24 were grown in field experiment at Ciparanje experimental station, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, West Java, from July to December 2014. As much 1046 F2 seeds were planted in row plot. Normality of data was analyzed by Kolmogorov-Smirnov test and inheritance pattern of data was analyzed by Chi Square test. The result showed that the distribution of days to flowering and anthesis was not normal distributed. Inheritance pattern of days to flowering and anthesis of Unpad 1.1 x 2.24-1, Unpad 1.1 x 2.24-3 and BSS x 2.24 tended to resemble Mendel’s inheritance pattern of 12:3:1 (epistasy dominant), and 13:3 (dominant-recessive epistasy).Keywords : Sorghum, Inheritance pattern, Maturity, Chi-squareABSTRAKInformasi mengenai pola pewarisan karakter-karakter umur tanaman sorgum sangat penting dalam program pemuliaan tanaman sorgum berumur genjah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kontrol genetik karakter umur berbunga dan umur anthesis. Tiga seri persilangan dari Unpad 1.1 x 2.24-1, Unpad 1.1 x 2.24-3 dan BSS x 2.24 ditanam di kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Percobaan dilaksanakan dari bulan Juli sampai Desember 2014. Sebanyak 1046 benih F2 ditanam dalam petak baris. Normalitas data dianalis dengan uji Kolmogorov-Smirnov dan pola pewarisan data dianalisis dengan uji Khi Kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan sebaran fenotip karakter umur berbunga dan umur anthesis tidak berdistribusi normal. Pola pewarisan karakter umur berbunga dan umur anthesis pada genotipe hasil persilangan Unpad 1.1 x 2.24-1, Unpad 1.1 x 2.24-3 dan BSS x 2.24 cenderung menyerupai pola pewarisan nisbah Mendel 12:3:1 (epistasis dominan) dan 13:3 (epistasis dominan-resesif).Kata Kunci: Sorgum, Pola pewarisan, Umur tanaman, Khi Kuadrat
Kecepatan dan Hambatan Rekolonisasi Musuh Alami Setelah Aplikasi Insektisida di Pertanaman Padi Baehaki Suherlan Effendi; Eko Hari Iswanto; Dede Munawar; Nono Sumaryono
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.88 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8476

Abstract

ABSTRACTRecolonization of Natural Enemies after Insecticide Application in Rice Planting AreaThe study to assess recolonization of natural enemies after insecticide application in rice planting area was carried out in the wet season of 2013 at Karawang Regency. The application of several insecticides of rynaxypyr, fipronil, dinotefuran, pymetrozine, imidacloprid, and BPMC was conducted when brown plant hopper population was rising and yellow stem borer flight was occurring. Observation of natural enemies was carried out on 1, 3, 5, 7, 10, 15, and 21 days after application (DAA) using sweep net for 4 swings per plot. The results showed that spiders were relatively safe to the rynaxypyr and fipronil insecticides with hampered recolonization index (HRI) of very light and light where recolonization occurred on 1 DAA. All tested insecticides highly affected Telenomus rowani with HRI of heavy to very heavy that this parasitoid recolonized at 7 DAA. On the other hand, all insecticides showed low influence on the recolonization of Tetrastichus schoenobii with HRI from unhampered to light hamper and the recolonization occurred on 1 DAA. The effect of rynaxypyr, fipronil, imidacloprid and BPMC application on Oligosita sp. and Anagus sp. recolonization was categorized to be low with HRI of light hamper that the recolonization happened at 1 DAA and 5 DAA, respectively. The insecticides of fipronil and BPMC were considered to slightly hamper the chironomid with the light value of the HRI and the chironomid recolonized at 1 DAA on fipronil and 3 DAA on BPMC.Keywords: Effect of insecticides, Recolonization of natural enemy, RiceABSTRAKPenelitian rekolonisasi musuh alami setelah aplikasi insektisida di pertanaman padi dilakukan pada musim hujan 2013 di Kabupaten Karawang. Aplikasi insektisida berbahan aktif rinaksipir, fipronil, dinotefuran, pimetrozin, imidakloprid, dan BPMC dilakukan saat populasi hama wereng coklat meningkat, sementara penerbangan penggerek batang padi kuning sedang berlangsung. Pengamatan terhadap musuh alami menggunakan jaring serangga sebanyak 4 ayunan per petak pada 1, 3, 5, 7, 10, 15, dan 21 hari setelah aplikasi (HSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa laba-laba relatif aman terhadap insektisida rinaksipir dan fipronil dengan nilai indeks hambatan rekolonisasi (IHR) kedua insektisida tersebut sangat ringan dan ringan dengan kecepatan rekolonisasi laba-laba pada 1 HSA. Semua insektisida menekan sangat tinggi terhadap Telenomus rowani dengan IHR berat sampai sangat berat dan rekolonisasi parasitoid tersebut dinilai lambat yaitu 7 HSA. Insektisida menekan sangat rendah terhadap Tetrastichus schoenobii dengan IHR dari tidak ada hambatan sampai hambatan ringan dan kecepatan rekolonisasinya terjadi pada 1 HSA. Tekanan insektisida rinaksipir, fipronil, imidakloprid, dan BPMC terhadap Oligosita sp. dan Anagus sp. agak rendah dengan IHR ringan dan kecepatan rekolonisasi Oligosita sp. pada 1 HSA dan Anagrus sp. pada 5 HSA. Insektisida fipronil dan BPMC agak menekan chironomid dengan nilai IHR ringan dan kecepatan rekolonisasi 1 HSA pada fipronil dan 3 HSA pada BPMC.Kata Kunci: Pengaruh Insektisida, Rekolonisasi musuh alami, Padi
Pengaruh Rock Phosphate Dan Dolomit Terhadap Distribusi Perakaran Tanaman Kelapa Sawit Pada Tanah Ultisols Eko Noviandi Ginting; Iput Pradiko; Rana Farrasati; Suroso Rahutomo
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.542 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25390

Abstract

Karakteristik morfologi akar tanaman kelapa sawit bervariasi pada berbagai jenis tanah yang disebabkan oleh perbedaan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian Rock phosphate dan dolomit terhadap karakteristik akar (perkembangan dan distribusi akar tanaman) pada tanah Ultisol. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Aek Pancur milik Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Tanjung Morawa, Sumatera Utara. Perlakuan yang dicobakan pada tanaman berumur 19 tahun dalam penelitian ini adalah K (kontrol); D (Dolomit dengan dosis 1 kg/pohon); RP (Rock Phosphate dengan dosis 1 kg/pohon); dan D+RP (Dolomit dan RP dengan dosis masing-masing 1 kg/pohon). Pengamatan dilakukan pada 1/6 bagian piringan dengan radius 0-4,5 m dari pangkal pohon dan kedalaman 0-40 cm. Distribusi perakaran tertinggi terdapat pada radius 0-1 m dari pangkal pohon. Akar primer lebih banyak ditemukan pada kedalaman 20-40 cm, sedangkan akar sekunder dan tersier lebih dominan pada kedalaman 0-20 cm. Aplikasi RP meningkatkan pH tanah sekaligus kandungan P, K, dan Mg pada perakaran. Total kerapatan akar (g/dm3) pada perlakuan RP berturut-turut 47%, 16%, dan 32% lebih tinggi dibandingkan perlakuan K, D, dan D+RP. Aplikasi RP pada penelitian ini dapat memperbaiki sifat kimia tanah, merangsang pertumbuhan akar, dan serapan hara tanaman.
Keragaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada Tanaman Padi Varietas Unggul Baru (VUB) dan Varietas Lokal pada Percobaan Semi Lapangan Sri Sudewi; Ambo Ala; Baharuddin Baharuddin; Muhammad Farid BDR
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25046

Abstract

Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada tanaman padi apabila tidak ditangani dengan serius akan menurunkan produktivitas tanaman secara signifikan. Keragaman OPT yang menyerang tanaman padi varietas lokal dan varietas unggul baru (VUB) sangat penting untuk diketahui agar dapat dilakukan tindakan pengendalian yang lebih efektif dan efisien. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2018, di Teaching Farm Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar. Metode yang digunakan pada percobaan semi lapangan ini dengan mengamati secara langsung jenis OPT yang menyerang rumpun tanaman padi, gejala serangan yang ditimbulkan serta menghitung persentase serangan. Pengamatan dilakukan setiap hari, dimulai pada saat tanaman berumur ± 30 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OPT yang menyerang VUB dan varietas lokal yaitu Locusta migratoria. L, Sesamia inferens, Cnaphalocrosis medinalis serta patogen penyakit hawar daun bakteri (HDB). Persentase serangan tertinggi terdapat pada VUB Inpari 16 dan Inpari 42 yang terserang HDB mencapai 50% sedangkan varietas lokal Kamba yang diamati memiliki reaksi ketahanan yang agak baik terhadap berbagai serangan OPT dengan persentase serangan ≤25%. Serangan Nilaparvata lugens hanya ditemukan pada varietas Inpari 16. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan sumber informasi agar pengelolaan dan tehnik pengendalian dapat dilakukan secara tepat, cepat, efisien dan efektif.
Respons Hasil dan Kualitas Hasil Unpollinated Tomat Beef Kultivar Umagna terhadap Jenis dan Konsentrasi ZPT (GA3 dan 4-CPA) di Dataran Medium Nedya Deninta; Kusumiyati Kusumiyati; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.856 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25053

Abstract

Tomat beef disukai karena ukuran buahnya yang besar dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan tomat di dataran medium yaitu peningkatan gugur buah sehingga menurunkan persentase fruit set. Permasalahan suhu tinggi di dataran medium yang menimbulkan kegagalan fertilisasi dapat diatasi dengan aplikasi zat pengatur tumbuh (GA3 and 4-CPA). Pembentukan buah partenokarpi juga dapat memengaruhi pembelahan dan pemanjangan sel. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari jenis dan konsentrasi ZPT terhadap hasil dan kualitas hasil buah partenokarpi tomat beef kultivar Umagna. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Terkendali, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah jenis ZPT dengan dua taraf yaitu GA3 dan 4-CPA serta anak petak yang merupakan konsentrasi ZPT dengan empat taraf yaitu 0, 15, 60, dan 90 ppm. Hasil penelitian menunjukkan terjadi interaksi antara jenis dan konsentrasi ZPT terhadap bobot dan jumlah buah serta ketebalan pericarp. Konsentrasi 90 ppm menghasilkan nilai yang sama dengan aplikasi ZPT pada konsentrasi 15 ppm dan 45 ppm terhadap persentase bobot dan jumlah kualitas A dan B.
Keanekaragaman Semut Musuh Alami (Hymenoptera: Formicidae) pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat di Kecamatan Timpeh Kabupaten Dharmasraya Ridho Romarta; Yaherwandi Yaherwandi; Siska Efendi
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.188 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25622

Abstract

Ekosistem perkebunan kelapa sawit terdiri dari berbagai jenis paku-pakuan, gulma, rerumputan dan serangga yang membentuk suatu ekosistem yang kompleks. Serangga dari golongan Formicidae merupakan aspek yang menarik untuk dikaji salah satunya yaitu semut. Pada ekosistem kelapa sawit, semut memiliki berbagai peran diantaranya sebagai penyerbuk, predator, pengurai dan herbivora. Penelitian ini dilaksanakan di perkebunan kelapa sawit rakyat di Nagari Panyubarangan dan Tabek, Kecamatan Timpeh, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat pada bulan September 2018 sampai Februari 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman semut pada ekosistem perkebunan kelapa sawit rakyat. Percobaan dilakukan dengan metode survei menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengambilan sampel menggunakan metode Hand Collecting, Bait Trap, dan Pitfall Trap. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Taksonomi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang. Analisis keanekaragaman menggunakan indeks Shannon-Wienner dan indeks kemerataan Simpson. Indeks keanekaragaman berkisar antara 1,83 sampai dengan 2,08. Total semut yang dikoleksi sebanyak 8.763 individu yang terdiri dari 14 genus, dan 29 spesies. Spesies yang paling dominan adalah Anoplolepis gracilipes diikuti Crematogaster borneensis dan Monomorium floricola dengan Indeks Nilai Penting yakni 0,57. Masing-masing spesies semut tersebut berperan sebagai predator beberapa hama kelapa sawit.
Pengaruh Senyawa Volatil yang dihasilkan Bakteri Endofit Asal Padi terhadap Rhizoctonia Oryzae dan Cercospora Oryzae Fitri Widiantini; Endah Yulia; Agung Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.247 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.27323

Abstract

Penggunaan fungisida dalam mengendalikan penyakit pada tanaman telah banyak dilaporkan menimbulkan dampak negatif terutama terhadap lingkungan. Oleh karena itu diperlukan alternatif pengendalian lain yang lebih ramah lingkungan. Bakteri endofit telah banyak dimanfaatkan sebagai agens biokontrol pada berbagai penyakit tanaman karena  dikenal sebagai sumber penghasil senyawa-senyawa yang bersifat antifungal. Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran memiliki koleksi beberapa bakteri endofit hasil isolasi asal tanaman padi yang masih dalam tahap pengujian. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui potensi antijamur dari senyawa volatil yang dihasilkan oleh bakteri endofit dalam menekan pertumbuhan jamur Rhizoctonia oryzae penyebab penyakit bercak pelepah daun dan jamur Cercospora oryzae penyebab penyakit bercak daun secara in vitro. Percobaan dilakukan dengan metode dual culture dengan menggabungkan dua cawan dimana isolat bakteri endofit dan jamur patogen ditumbuhkan secara terpisah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa isolat bakteri endofit Os1 dan Os2 memiliki kemampuan terbaik dalam menghambat patogen R. oryzae dengan persentase penghambatan pertumbuhan  masing-masing sebesar 68,7% dan 65,4%. Sedangkan isolat bakteri endofit Os3 adalah isolat bakteri endofit yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menghambat perkembangan patogen C. oryzae dengan persentase penghambatan sebesar 87,1%. Pengamatan mikroskopis memperlihatkan bahwa senyawa volatil yang dikeluarkan oleh isolat-isolat bakteri endofit tersebut dapat menyebabkan terjadinya malformasi pada miselia jamur R. oryzae dan C. oryzae.