cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Keefektifan Bakteri dan Khamir Asal Air Rendaman Kompos dalam Menekan Perkembangan Penyakit Bercak Coklat (Alternaria solani Sorr.) pada Tomat Noor Istifadah; Putu Ghita Novilaressa; Fitri Widiantini; Sri Hartati
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.383 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.26876

Abstract

Penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh jamur Alternaria solani Sorr. merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tomat. Cara pengendalian penyakit bercak coklat yang biasa dilakukan adalah dengan penyemprotan fungisida sintetik. Mengingat berbagai dampak negatif dari penggunaan pestisida yang terus-menerus, maka perlu dikembangakan cara pengendalian ramah lingkungan seperti pengendalian secara biologi. Bakteri dan jamur merupakan mikrob yang berpotensi sebagai agens biokontrol penyakit tanaman. Salah satu sumber dari agens antagonis patogen tanaman adalah air rendaman kompos. Paper ini mendiskusikan hasil penelitian yang mengevaluasi kemampuan bakteri mikrob yang diisolasi dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba untuk menghambat pertumbuhan A. solani in vitro dan menekan penyakit yang disebabkan patogen tersebut pada buah dan tanaman tomat. Percobaan secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap, sementara pengujian pada buah dan tanaman tomat menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Isolasi mikrob dari air rendaman kompos berbahan dasar kotoran sapi dan domba menghasilkan 35 isolat, yang mana 11 isolat (enam isolat bakteri dan lima isolat khamir) dapat menghambat pertumbuhan A. solani secara in vitro sebesar 79,3%-84,2% dengan zona hambat sebesar 0,0-28,3 mm. Pada pengujian secara in vivo, lima isolat non-patogenik (dua isolat bakteri dan tiga isolat khamir) dapat menekan penyakit bercak coklat pada buah tomat sebesar 100% dan pada daun tomat sebesar 77,5%-98,1%. Isolat-isolat ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agens biokontrol penyakit bercak coklat pada tanaman tomat.
Serangga Pengunjung Bunga Yang Berpotensi Sebagai Vektor Penyakit Darah Pada Tanaman Pisang Di Kabupaten Sigli, Banda Aceh Betty Sahetapy; Nina Maryana; Syafrida Manuwoto; Kikin H. Mutaqin
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.184 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.24176

Abstract

Penyakit darah disebabkan oleh blood disease bacterium (BDB). Bakteri diduga dapat ditularkan melalui bibit yang terinfeksi, alat pertanian, tanah yang terbawa air, kontak akar dan serangga pengunjung bunga pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serangga pengunjung bunga yang berpotensi sebagai vektor dalam penyebaran penyakit darah pada tanaman pisang. Penelitian diawali dengan pengumpulan sampel serangga di Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Sigli, Propinsi Banda Aceh. Lokasi ini merupakan area endemik penyakit darah pisang. Identifikasi serangga dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, sedangkan isolasi dan identifikasi BDB dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bakteri yang diisolasi dikonfirmasi dengan uji Gram, hipersensitif dan patogenisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga yang ditemukan di area pertanaman pisang Desa Capah Paloh 1, Capah Paloh 2, Simpang Betung 1, Simpang Betung 2 dan Pante Cermin adalah tergolong dalam ordo Diptera dan Hymenoptera. Drosophilidae (Diptera) ditemukan lebih dominan di antara serangga-serangga tersebut.  BDB berhasil diisolasi dari seluruh tubuh serangga ordo Diptera (Drosophilidae, Tephritidae dan Muscidae) sehingga membuktikan bahwa serangga-serangga ini berpotensi sebagai vektor BDB.
Perubahan Viabilitas Pollen dan Anatomi Stomata pada Dua Mutan Tomat, iaa9-3 dan iaa9-5, akibat Cekaman Suhu Tinggi Fitrianti Widya Lestari; Erni Suminar; Anne Nuraini; Hiroshi Ezura; Syariful Mubarok
Agrikultura Vol 31, No 1 (2020): April, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.823 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i1.25768

Abstract

Cekaman suhu tinggi (heat stress) merupakan salah satu cekaman abiotik utama yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat. Heat stress menyebabkan kegagalan perkembangan serbuk sari dan rendahnya viabilitas polen. Heat stress juga menyebabkan perubahan anatomi salah satunya stomata pada daun. Pada penelitian ini diuji dua tanaman tomat mutan iaa9-3 dan iaa9-5, serta WT-MT sebagai kontrol dengan dua kondisi suhu yang berbeda. Mutan iaa9-3 dan iaa9-5 merupakan tanaman tomat kultivar Micro-Tom yang mengalami mutasi genetik pada gen spesifik IAA9 yang berperan sebagai regulator respons auksin negatif. Tanaman diberi perlakuan suhu maskimum 30-35 oC dan 40-45 oC selama 3 jam setiap harinya. Hasil menunjukkan mutasi gen IAA9  pada mutan iaa9-3 dan iaa9-5 mampu meningkatkan jumlah polen viabel, polen semiviabel, serta menurunkan jumlah polen mati dibandingkan WT-MT baik pada suhu 30-35 oC maupun suhu 40-45 oC. Perbandingan jumlah polen viabel dan polen semiviabel pada mutan iaa9-3, mutan iaa9-5 dan WT-MT  pada suhu 40-45 oC lebih sedikit dibandingkan pada suhu 30-35 oC, sedangkan jumlah polen mati lebih banyak. Mutan iaa9-5 dan iaa9-3 memiliki jumlah stomata daun (abaxial) yang lebih banyak dibandingkan dengan WT-MT  baik pada suhu 30-35 oC maupun 40-45 oC. Jumlah stomata mutan iaa9-3 dan iaa9-5 serta WT-MT pada suhu 30-35 oC lebih banyak dibandingkan jumlah stomata mutan iaa9-3 dan iaa9-5 serta WT-MT pada suhu 40-45 oC. Cekaman suhu tinggi menyebabkan penurunan jumlah stomata.
Penggunaan Dolomit pada Bibit Jeruk Siam Asal Kuok di Tanah Gambut Provinsi Riau Tiara Septirosya; Fitra Wahyudi; Oksana Oksana; Novita Hera
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.26559

Abstract

Jeruk siam asal Kuok merupakan salah satu potensi buah lokal yang dimiliki oleh Provinsi Riau. Perluasan area tanam perlu dilakukan untuk dapat meningkatkan produksi, salah satunya di lahan gambut. Sifat masam yang terdapat pada gambut menjadikan lahan ini perlu diberi kapur untuk menetralkan pH tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis dolomit terbaik dalam upaya meningkatkan potensi pengembangan jeruk kuok di lahan gambut pada tahap pembibitan. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2019 di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal, yang terdiri atas empat dosis dolomit (0 g, 28 g, 56 g, 84 g per tanaman) sebagai perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa jeruk kuok berpotensi untuk dikembangkan di Provinsi Riau, karena mampu beradaptasi dengan baik di tanah gambut. Aplikasi dolomit dengan dosis 84 g/tanaman menunjukan respon pertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya.
Penekanan Penyakit Busuk Pangkal (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) pada Bawang Merah oleh Beberapa Jenis Bahan Organik Yudhisa Hendri Prabowo; Fitri Widiantini; Noor Istifadah
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28876

Abstract

Busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah. Bahan organik berpotensi untuk digunakan sebagai pengendali penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan bahan organik (blotong, limbah jamur merang, kompos jerami, dan pupuk kotoran ayam) untuk menekan penyakit busuk pangkal serta pertumbuhan dan hasil pada bawang merah. Mekanisme yang terlibat dalam penekanan F. oxysporum f.sp. cepae secara in vitro juga dikaji. Percobaan di rumah kaca menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis bahan organik yang diaplikasikan pada media tanam dengan atau tanpa penyiraman air rendamannya dua minggu sekali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua bahan organik yang diuji dapat menekan penyakit busuk pangkal pada bawang merah sebesar 50,5%-63,2% serta mendukung pertumbuhan dan hasil bawang merah. Mekanisme penekanan F. oxysporum f.sp. cepae oleh bahan organik sebagian besar karena adanya mikrob yang dapat menghambat pertumbuhan patogen tersebut. Mikrob yang menunjukkan penghambatan terhadap patogen yang terbaik (74,7%) adalah isolat MJ7 (Trichoderma sp.) yang berasal dari limbah jamur merang.
Pengaruh Varietas dan Umur Tanaman Berbeda terhadap Jumlah Populasi dan Tingkat Serangan Hama dan Penyakit Pisang (Musa sp.) di Kabupaten Sukabumi Hermanu Triwidodo; Efi Toding Tondok; Dwi Andini Shiami
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.27077

Abstract

Tanaman pisang merupakan tanaman hortikultura yang buahnya banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tanaman pisang biasanya ditanam di sekitar halaman rumah atau lahan campuran. Penanaman pisang dengan pola monokultur seperti di kebun PT Perkebunan Negara (PTPN) VIII dapat menyebabkan ledakan hama dan penyakit pada pisang. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis hama dan penyakit serta kejadian dan keparahan penyakit tanaman pisang. Penelitian dilakukan pada tiga blok di PTPN VIII Parakansalak, Sukabumi. Varietas pisang yang digunakan yaitu Barangan, Cavendis dan Mas Kirana. Setiap varietas ditentukan lima rumpun secara diagonal. Setiap varietas terdiri atas umur muda (0-4 bulan), sedang (5-8 bulan) dan tua (9-12 bulan). Pengamatan kejadian dan keparahan penyakit dilakukan secara langsung di lapang. Serangga hama dan bagian tanaman terinfeksi poatogen di bawa ke laboratorium untuk diidentifikasi. Hama yang ditemukan menyerang tanaman pisang selama pengamatan yaitu Erionota thrax (L) (Lepidoptera: Hespiriidae) dan Nacoleia octasema (Meyr.) (Lepidoptera: Pyralidae). Penyakit yang ditemukan adalah bercak sigatoka yang disebabkan oleh Mycospherellla musicola dan layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cubense. Fitonematoda yang ditemukan pada tanaman ini merupakan Radopholus sp. dan Helicotylenchus sp. Populasi dan serangan E. thrax tertinggi terdapat pada varietas Barangan pada umur sedang sedangkan N. octasema paling banyak ditemukan pada varietas Mas Kirana. Umur tanaman pisang yang semakin tua meningkatkan kejadian dan keparahan penyakit bercak sigatoka. Varietas Cavendish memiliki kejadian penyakit layu fusarium paling tinggi.
Sensory Test and Molecular Marker Based-Selection for Aromatic Rice in the F3 Progenies Nono Carsono; Amalia Purdianty; Santika Sari; Citra Bakti
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.27085

Abstract

Aromatic rice is a special type of rice that highly preferred by people in Asia due to the presence of aroma. Aroma in rice is determined by 2-acetyl-1-pyrroline (2AP) compound which is controlled by a recessive fgr gene. A hybridization between cv. Sintanur (aromatic rice) and PTB33 (non-aromatic, resistant to brown planthopper/BPH) has been done in order to develop aromatic rice lines that resistant to BPH. In the F2 progeny, molecular marker-based selection and bioassay for the brown planthopper resistant lines have been carried out; however selection for the aromatic trait has not been performed yet. The objective of this study was to obtain the F3 progeny’s individual with aromatic trait. Sensory test was conducted by KOH 1.7% solution, meanwhile molecular markers applied were ESP (External Antisense Primer), IFAP (Internal Fragrant Antisense Primer), INSP (Internal Non fragrant Sense Primer) and EAP (External Antisense Primer). Eighty-eight plants from two selected (SP#31 and SP#224) F3 lines progenies derived from cv. Sintanur and PTB33 have been evaluated in this study. Detection by molecular markers found seventy-five genotypes (85.23%) were homozygous recessive (aromatic rice) and one was heterozygous (non-aromatic). Eighty-five (96.59%) genotypes were aromatic as detected by sensory test alone. Seventy-two (81.82%) genotypes were categorized as aromatic rice based on sensory test and molecular markers. Due to inconsistency results from each method alone, it is advised both methods to be applied to ensure the reliability and the accuracy since aroma in rice is affected by genetic composition and environment conditions. Selected genotypes will be continued for breeding program in developing aromatic rice with improved agronomic traits.
Penambahan Gula pada Medium Biakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Kemampuan Antagonisme Candida tropicalis terhadap Patogen Penyebab Penyakit Layu Fusarium Tomat Sri Hartati; Timotius A. Sumbari; Ceppy Nasahi; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28544

Abstract

Layu fusarium merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tomat yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (FOL) Salah satu agens antagonis yang dapat menghambat pertumbuhan FOL adalah khamir Candida tropicalis. Pertumbuhan dan kemampuan antagonisme khamir dapat ditingkatkan dengan penambahan gula sebagai sumber nutrisi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi dan jenis gula yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan antagonisme C. tropicalis terhadap FOL. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 16 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas jenis gula yang ditambahkan pada medium tumbuh khamir yaitu glukosa, sukrosa, trehalosa, D-xylose, dan D-mannitol dengan konsentrasi masing-masing gula 1%, 2,5%, 5%, dan kontrol (PDA setengah dekstros dan PDA dekstros penuh). Hasil percobaan menunjukkan bahwa D-mannitol 1% mampu meningkatkan panjang koloni C. tropicalis tertinggi sebesar 4,80 cm, dibanding kontrol (4,07 cm). Sukrosa 2,5% mampu meningkatkan lebar koloni tertinggi sebesar 1,47 cm, dibanding kontrol (1,00 cm). Seluruh perlakuan mampu meningkatkan kerapatan sel khamir C. tropicalis.  Kerapatan sel tertinggi dihasilkan oleh trehalosa 1% sebesar 4,27 x 107, sementara pada kontrol 0,1 x 107 sel/ml. Gula trehalosa 2,5% dapat meningkatkan antagonisme khamir dengan daya hambat tertinggi sebesar 23,68%, dibandingkan dengan kontrol PDA dekstros penuh.
Pengaruh Komposisi Pakan Buatan terhadap Perkembangbiakan Menochilus sexmaculatus Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) Sudarjat Sudarjat; Ani Rosmiyati; Toto Sunarto; Wawan Kurniawan
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28816

Abstract

Menochilus sexmaculatus merupakan salah satu predator yang memangsa berbagai jenis serangga antara lain famili Aphididae, Coccidae, Diaspidae, dan Aleyrodidae yang menyerang tanaman hias, kacang-kacangan, jagung, kopi, tebu dan tembakau. Upaya perbanyakan serangga tersebut pada pakan alami seringkali menghadapi kendala. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi pakan buatan yang paling baik untuk perkembangbiakan M. sexmaculatus sehingga dapat menunjang upaya pembiakkan massal yang lebih praktis dan efisien. Penelitian menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu 7 perlakuan  pakan buatan dan 1 perlakuan pakan alami. Komposisi utama pakan buatan yang diuji adalah tepung hati ayam, tepung telur, tepung kedelai, tepung hati ayam dan tepung telur (1:1), tepung telur dan tepung kedelai (1:1), tepung kedelai dan tepung hati ayam (1:1), tepung hati ayam, tepung telur dan tepung kedelai (1:1:1), yang masing-masing dicampur bahan tambahan berupa ragi roti, gula pasir, madu, vitamin C dan vitamin E. Setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa M. sexmaculatus yang diperbanyak pada pakan buatan dengan komposisi utama berupa 30 g tepung telur + 20 g bahan tambahan adalah komposisi pakan buatan yang paling baik dengan menghasilkan jumlah telur 157,25 butir, persentase penetasan telur 92,54%, jumlah larva 145 ekor, jumlah imago 133 ekor dan persentase kemunculan imago 91,67%.
Uji In Vitro Keefektifan Ekstrak Air Daun Dan Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea l.) terhadap Jamur Alternaria solani Penyebab Penyakit Bercak Coklat pada Tanaman Tomat Tarkus Suganda; Pini Komalasari; Endah Yulia; Wahyu Daradjat Natawigena
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.28909

Abstract

Penyakit bercak coklat (Alternaria solani) merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan pada tanaman tomat. Umumnya penyakit ini dikendalikan dengan penggunaan fungisida sintetik, tetapi selain menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan, patogen ini juga mampu berubah menjadi tidak sensitif lagi terhadap bahan aktif fungisida sintetik yang digunakan.  Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak tumbuhan dapat menekan berbagai patogen. Tanaman kembang telang diketahui memiliki sifat antimikroba terhadap berbagai mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak air daun dan bunga kembang telang dalam menekan A. solani secara in vitro. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas empat konsentrasi ekstrak daun (0, 3, 6, dan 9%) dan empat konsentrasi ekstrak bunga (0, 5, 10, 15%) yang diperoleh berdasarkan uji LC50 pendahuluan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak air daun maupun bunga memperlihatkan penekanan terhadap pertumbuhan koloni jamur A. solani.  Penekanan tertinggi ekstrak air daun maupun bunga masing-masing pada konsentrasi 9% (34,78%) dan 15% (38,97%). Ekstrak air daun mampu menurunkan produksi konidia A. solani pada konsentrasi 9% yaitu 3,0 x 103 konidia/ml, sementara pada konsentrasi 15%, ekstrak air bunga kembang telang menekan total produksi konidia A. solani. Penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia (58,33%) ditunjukkan oleh ekstrak air daun kembang telang 3% sedangkan oleh ekstrak air bunga kembang telang sebesar 75,00% oleh konsentrasi 5%.  Kemampuan antisporulasi dari ekstrak air daun dan bunga kembang telang lebih dominan dibandingkan kemampuan fungistatik maupun kemampuan fungisidalnya.