cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Kerentanan Jenis Tepung terhadap Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae) Hendrival Hendrival; Latifah Latifah; Dedi Saputra; Orina Orina
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.083 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10918

Abstract

ABSTRACT Susceptibility of various flour types to the investation of red flour beetle ( Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae) The research on the level of flour susceptibility against infestation of Tribolium castaneum has been conducted in laboratory under conditions of 28-30oC and relative humidity of 70-75%. Each type of flour was infested by 10 pairs of T. castaneum adult. Variables observation included the population growth, development period, weight losses percentage and susceptibility index. The results showed that degree of flour suitability against population growth namely wheat flour > corn flour > bran > mungbean flour > rice flour > potato flour > purple cultivar sweet potato flour > bread crumbs > glutinous rice flour > tapioca flour = sago flour. The longest median development time of T. castaneum was found in tapioca and sago flours of 86 days while the shortest was in wheat flour of 23.33 days. The highest weight loss percentage occurred on wheat and corn flours. The susceptibility level of flours to T. castaneum with resistant category included tapioca flour, corn flour, glutinous rice flour, purple cultivar sweet potato flour and bread crumbs. Mungbean flour was in moderate gategory while potato flour was in resistant to moderate category. Rice flour and bran were classified in susceptible category while corn and wheat flours were classified as highly susceptible. Keywords: Tribolium castaneum , Flour, Population growth, Development period, Susceptibility ABSTRAK Penelitian tingkat kerentanan jenis tepung terhadap infestasi Tribolium castaneum telah dilakukan di laboratorium pada kondisi suhu 28-30oC dan RH 70-75%. Setiap jenis tepung diinfestasi 10 pasang imago T . c a s t a n e u m . Variabel pengamatan meliputi pertumbuhan populasi, periode perkembangan, persentase susut berat dan indek kerentanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian jenis tepung terhadap pertumbuhan populasi yaitu tepung gandum > tepung jagung > dedak > tepung kacang hijau > tepung beras > tepung kentang > tepung ubi jalar kultivar ungu > tepung panir > tepung ketan putih > tepung tapioka = tepung sagu. Median waktu perkembangan T. castaneum paling lama dijumpai pada tepung tapioka dan sagu yaitu 86 hari, sedangkan paling singkat pada tepung gandum yaitu 23,33 hari. Susut berat tepung paling banyak terjadi pada tepung gandum dan jagung. Tingkat kerentanan jenis tepung terhadap T. castaneum yaitu katagori resisten meliputi tepung tapioka, tepung sagu, tepung ketan putih, tepung ubi jalar kultivar ungu, dan tepung panir. Katagori moderat yaitu tepung kacang hijau, sedangkan tepung kentang tergolong resisten sampai moderat. Tepung beras dan dedak tergolong katagori rentan, sedangkan tepung jagung dan gandum tergolong katagori sangat rentan. Kata Kunci: Tribolium castaneum , Tepung, Pertumbuhan populasi, Periode perkembangan, Tingkat kerentanan
Seleksi Ketahanan Ubi Jalar Madu Genotipe F1 terhadap Penyakit Kudis (Sphaceloma batatas Saw.) Fitri Widiantini; Endah Yulia; Aina Anna Roosda; Agung Karuniawan
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.215 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8457

Abstract

ABSTRACTResistant Selection of Sweet Potato Genotypes F1 against Scab Disease (Sphaceloma batatas)Variety of sweet potato in Indonesia is very diversed which is an advantage to develop sweet potatovarieties. However, local sweet potato often replaced with higher economic value varieties. The aim of thisresearch was to determine the resistant ability of genotype F1 from open pollination of local sweet potatolandraces against scab disease (Sphaceloma batatas ). As much as 661 genotypes F1 were grown on researchplantation centre at Ciparanje, Faculty of Agriculture Universitas Padjadjaran. The experiment was doneusing randomized blocked augmented design. The result demonstrated that genotypes F1 as results ofcrossing over between local varieties of sweet potatoes had high resistance against scab. This wasdemonstrated by more than 50% of the assessed population were resistant to scab as showed by low value ofdiseases severity. However, growing those genotypes at different seasons and locations need to be done todetermine the resistance stability.Keywords: sweet potato, scab, Sphaceloma batatasABSTRAKVarietas lokal ubi jalar di Indonesia sangat beragam. Keragaman yang ada tersebut sangat bermanfaat dalampengembangan ubi jalar. Namun, varietas lokal semakin tergeser seiring dengan nilai ekonomi yang lebihmenguntungkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mngetahui ketahanan genotipe-genotipe F1 ubijalar madu hasil dari open pollination dari aksesi-aksesi ubi jalar lokal terhadap penyakit kudis (Sphacelomabatatas). Sebanyak 661 genotpe F1 beserta aksesinya digunakan dalam penelitian ini. Percobaan dilaksanakandi kebun percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Januari 2013-Juni2013. Percobaan disusun dengan menggunakan rancanga acak dengan perluasan (augmented design).Pengamatan dilakukan dengan menghitung intesitas serangan penyakit kudis dengan interval 30 hari. Hasilpercobaan menunjukkan bahwa genotipe-genotipe F1 yang diuji menunjukkan potensi ketahanan terhadapserangan penyakit kudis. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya genotipe ubi jalar yang relatif tahanterhadap serangan penyakit kudis. Lebih dari 50% dari genotipe F1 ubi jalar yang diuji tahan terhadapserangan penyakit kudis yang ditunjukkan dengan rendahnya nilai assessment serangan penyakit. Pengujiandi berbagai musim tanam dan lokasi perlu dilakukan untuk mengetahui kestabilan ketahanan yang dimilikoleh genotipe-genotipe F1 tersebut.Kata kunci: ubi jalar madu, kudis, Sphaceloma batatas
Pengaruh Konsentrasi Fungisida Mankozeb terhadap Pertumbuhan Tunas, Busuk Kering Ubi dan Susut Bobot Ubi Bibit Kentang (Solanum tuberosum L.) c.v. Granola di Ruang Penyimpanan Emid Hamidin; Sumadi Sumadi; Anne Nuraeni
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.5 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.945

Abstract

Saat ini bibit kentang untuk penanaman di dataran medium biasanya berasal dari bibit yang disimpan di dataran tinggi dengan suhu relatif rendah. Penyimpanan di dataran medium dapat meningkatkan pertumbuhan tunas tetapi memicu perkembangan penyakit. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan bibit terhadap pertumbuhan tunas dan serangan penyakit busuk kering ubi bibit. Rancangan Percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah elevasi ruang simpan dan faktor kedua adalah konsentrasi fungisida makozeb. Hasil percobaan menunjukan tidak ada interaksi antara konsentrasi fungisida mankozeb dan elevasi ruang simpan terhadap waktu muncul tunas, persentase bibit bertunas, persentase busuk kering ubi, dan persentase susut bibit. Konsentrasi fungisida mankozeb tidak berpengaruh terhadap waktu muncul tunas, persentase ubi bibit bertunas  pada 2   bulan setelah panen (BSP), dan susut bobot ubi pada 3 dan 4 BSP. Namun, aplikasi  3 g L-1 dan 4.5 g L-1 mankozeb menghasilkan persentase ubi bertunas paa 3 BSP yang lebih tinggi dan persentase busuk kering ubi yang lebih rendah dibandingkan dengan  tanpa fungisida. Sementara itu, ruang simpan di dataran medium memberikan  waktu muncul tunas yang 2 minggu lebih cepat, meningkatkan persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi yang lebih besar pada 3 BSP dan 4 BSP dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi. Di dataran medium waktu muncul tunas 2 minggu lebih cepat, persentase ubi bertunas pada 2 BSP dan susut bobot ubi pada 3 BSP dan 4 BSP lebih besar dibandingkan dengan di dataran tinggi. Penyimpanan di dataran medium tidak meningkatkan persentase ubi berunas pada 3 BSP dan persentase busuk kering ubi dibandingkan dengan ruang simpan di dataran tinggi.
Pengaruh Beberapa Sistem Teknologi Pengendalian Terpadu terhadap Perkembangan Penyakit Antraknosa (Colletotrichum capsici) pada Cabai Merah Cb-1 Unpad di Musim Kemarau 2015 Hersanti Hersanti; Eti Heni Krestini; Siti Afiqah Fathin
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.369 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.9987

Abstract

ABSTRAKCabai merah merupakan tanaman hortikultura yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Pada saat ini, Laboratorium Pemuliaan, Fakultas Pertanian, Unversitas Padjadjaran menghasilkan galur cabai merah CB-1 Unpad yang mempunyai hasil yang tinggi. Salah satu kendala budidaya tanaman cabai merah adalah adanya penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum capsici. Salah satu upaya untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan mengkombinasikan cara-cara pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh paket teknologi pengendalian terpadu (TPT) yang tepat untuk menekan penyakit antraknosa (C. capsici) pada tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan pada musim kemarau bulan Maret sampai Agustus 2015 di lahan milik petani, Dusun Cibogo, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah metode experimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas lima perlakuan yaitu TPT-1, TPT-2, TPT-3, TPT-4 dan sistem konvensional. Setiap perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian memperoleh satu paket TPT yang menunjukkan persentase kejadian penyakit antraknosa pada buah cabai yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan TPT lainnya dan sistem konvensional. Paket TPT tersebut adalah menggabungkan komponen penggunaan mulsa jerami, tumpang sari dengan bawang daun, penggunaan pupuk hayati Trichoderma spp., penggunaan pupuk NPK sebesar 40% dan penerapan manajemen pengendalian berdasarkan ambang kendali.Kata Kunci: Teknologi Pengendalian Terpadu, Antraknosa, Cabai Merah CB-1 Unpad
Peningkatan Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Usaha Pengolahan Salak Manonjaya Hepi Hapsari; Endah Djuwendah; Tuti Karyani
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008): Desember, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.282 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i3.1005

Abstract

Pengolahan buah salak Manonjaya dapat meningkatkan nilai jual buah dan pandapatan produsen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) nilai tambah pengolahan salak, 2) faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi usaha pengolahan salak, dan 3) strategi pengembangan pengolahan salak. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif. Responden penelitian adalah para pengrajin dan pedagang produk olahan salak di Tasikmalaya. Data dianalisis dengan  analisis nilai tambah, rasio penerimaan terhadap biaya, dan analisis faktor internal-ektenal. Hasil menelitian menunjukkan bahwa produksi dodol, manisan dan keripik salak menciptakan nilai tambah sebesar masing-masing Rp 6.234,65/kg, Rp 10.443,23/kg dan Rp 2.297,33/kg. Faktor internal kekuatan dan kelemahan usaha pengolahan buah salak, dan juga faktor eksternal yang menjadi peluang dan ancamannya telah diinventarisasi. Strategi untuk mengembangkan usaha pengolahan buah salak di Manonjaya adalah mempertahankan dan memelihara penetrasi pasar serta diversifikasi  produk olahan.
Kemampuan Ekstrak dan Bakteri Inhabitan Mucuna pruriens Linn. dalam Menekan Penyakit Bercak Daun Cercospora dan Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Endah Yulia; Fitri Widiantini; Ramdan Firmansah; Agung Karuniawan
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2212.172 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.637

Abstract

Tanaman velvet bean (Mucunna spp.) merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan biopestisida. Senyawa kimia yang diekstrak dari biji Mucuna telah banyak digunakan dalam pengobatan beberapa penyakit dalam bidang kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. serta menguji kemampuan bakteri inhabitan Mucuna dalam memacu pertumbuhan tanaman dan menekan perkembangan penyakit bercak daun cercospora pada tanaman kacang tanah. Metode penelitian berupa metode eksperimen untuk menguji potensi ekstrak biji dan daun Mucuna dalam menekan pertumbuhan Cercospora sp. dari dua aksesi Mucuna asal NTT dan Jabar, dan menguji kemampuan isolat bakteri yang diisolasi dari dua aksesi tersebut dalam memacu pertumbuhan tanaman dan penekanan penyakit bercak daun cercospora yang diaplikasikan melalui perlakuan benih pada benih kacang tanah. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada ketinggian + 700 m dpl, dari bulan Juli sampai bulan November 2007. Hasil penelitian menunjukkan potensi antimikrobial ekstrak Mucuna and ekstrak etanol biji Mucuna asal NTT menunjukkan penekanan pertumbuhan Cercospora sp. yang lebih baik dibandingan dengan ekstrak lainnya. Sementara itu, enam isolat bakteri inhabitan Mucuna cenderung meningkatkan pertumbuhan tanaman kacang tanah dan terdapat satu isolat bakteri yang secara nyata menekan penyakit bercak daun cercospora dengan penekanan penyakit sebesar 70,85%.
Pengaruh Dosis Pupuk Kalium terhadap Pertumbuhan dan Peningkatan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea Mays L.) Eso Solihin; Rija Sudirja; Nadia Nuraniya Kamaludin
Agrikultura Vol 30, No 2 (2019): Agustus, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.307 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i2.22791

Abstract

Produksi jagung di Indonesia masih tergolong rendah salah satu penyebabnya adalah tingkat kesuburan tanah yang rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian berbagai macam dosis Pupuk Kalium Hasil Inovasi (PKHI) terhadap peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis pada jenis tanah inceptisol. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan faktorial tunggal. Faktor perlakuan tunggal yang diujikan pada penelitian ini yaitu variasi dosis PKHI yang terdiri dari variasi dosis dan kontrol, yakni N, P tunggal; N, P, K tunggal; 1/4 K + N, P tunggal; 1/2 K + N, P tunggal; 3/4 K + N, P tunggal; 1 K + N, P tunggal; 1 1/4 K + N, P tunggal; 1 1/2 K + N, P tunggal; 1 3/4 K + N, P tunggal; dan kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali, sehingga jumlah seluruhnya adalah 30 plot percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian PKHI memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot tongkol, diameter tongkol, dan panjang tongkol. Dosis PKHI yang paling memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan atau hasil yaitu pada dosis 1 1/2 K dengan 240 kg/ha pupuk kalium yang diuji dan menghasilkan 18 ton tongkol/ha. Kata Kunci: Inovasi Pupuk Kalium, Jagung Manis, Hasil Pertanian
Uji Pendahuluan Efek Fungisida Bunga Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) terhadap Jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae Penyebab Penyakit Moler pada Bawang Merah Tarkus Suganda; Satryo Restu Adhi
Agrikultura Vol 28, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.277 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i3.15746

Abstract

ABSTRACT Preliminary study on the fungicidal effect of butterfly pea flower (Clitoria ternatea L.) against Fusarium oxysporum f.sp. cepae, the causal agent of moler diseases on shallot Butterfly pea (Clitoria ternatea) has been known worldwide to possess numerous anti microbe substances, both against bacteria, fungi, nematodes, and insects. Researches were mostly conducted against human microbial pathogens, whereas only a few against plant pathogens, especially in Indonesia. A preliminary study has been carried out to reveal the fungicidal effects of flower extract in inhibiting the in-vitro growth of Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC), the causal agent of moler diseases, one of the most destructive diseases on shallot. Results showed that the boiling extract of flower of butterfly pea at 5% concentration inhibited 46% the growth of FOC over control. Key words: Fungicidal effect, Cliteria ternatea, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, In-vitro ABSTRAK Kembang telang (Clitoria ternatea) sudah lama dikenal di seluruh dunia mengandung berbagai senyawa antimikroba, baik terhadap bakteri, jamur, nematoda. bahkan insekta. Target utama patogen yang banyak diteliti adalah terhadap patogen penyakit pada manusia. Penelitian terhadap patogen tanaman, terutama di Indonesia masih sangat kurang. Uji pendahuluan sudah dilakukan untuk mengetahui efek fungisidal bunga kembang telang dalam menghambat pertumbuhan in-vitro jamur Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC), penyebab penyakit moler yang sangat merugikan pada tanaman bawan merah. Hasil pengujian menunjukkan bahwa air rebusan bunga kembang telang memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan biakan FOC. Pada konsentrasi 5%, efek penghambatannya mencapai 46% terhadap kontrol. Kata kunci: Efek fungisida, Cliteria ternatea, Fusarium oxysporum f.sp. cepae, In-vitro
Efek Aplikasi Jamur Parasit Nematoda G. rostochiensis terhadap Pertumbuhan dan Tajuk serta Serapan P dan K Tanaman Kentang Marthin Kalay; Sadeli Natasasmita; Tarkus Suganda; Tualar Simarmata
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010): April, 2010
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.957 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v21i1.983

Abstract

Globodera rostochiensis (Woll)  adalah nematoda sista kuning (NSK)  pengganggu tanaman yang berbahaya pada tanaman kentang baik di daerah tropis maupun sub tropis. Mekanisme NSK untuk menyebabkan penyakit adalah pembentukan sinsitium yang menghambat serapan unsur hara dari tanah oleh akar tanaman. Penelitian rumah kaca ini dilakukan untuk menguji kemampuan jamur parasitik NSK dalam meningkatkan pertumbuhan dan serapan unsur hara makro fosfor (P) dan kalium (K) tanaman kentang yang ditanam di tanah diinfestasi sista NSK. Percobaan rumah kaca dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok yang menguji tujuh spesies jamur antagonis yang diisolasi dari sista NSK. Hasil percobaan menunjukkan bahwa inokulasi Fusarium oxysporum TR1, F. solani TR2, F. oxysporum KT1, F. chlamydosporum KT2, F. oxysporum SM1, Phaecilomyces  lilacinus SM3 dan F. chlamydosporum SM4 pada media tanam yang terinfestasi sista G. rostochiensis, dengan nyata meningkatkan bobot kering tajuk serta serapan P dan K pada daun kentang. Jamur antagonis ini berpotensi untuk digunakan sebagai agen hayati pengendali NSK.
Pengaruh Kelas Kemiringan dan Posisi Lereng terhadap Ketebalan Lapisan Olah, Kandungan Bahan Organik, Al dan Fe pada Alfisol di Desa Gunungsari Kabupaten Tasikmalaya Fetty Rahmayanti; Mahfud Arifin; Ridha Hudaya
Agrikultura Vol 29, No 3 (2018): Desember, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.359 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i3.22721

Abstract

ABSTRACTEffect of slope gradient and its position to plow depth layer, organic matter, Al and Fe contentsThis research was done to know the influence of slope gradient and its position to plow depth layer, organic matter, Al and Fe contents. This research was carried out January-March 2011. The research used survey method with descriptive comparative analysis with free physiographic approach based on land cover. Sampling technique was used a purposive stratified sampling. Soil sampel took from three slope gradients: 8-15%, 16-25% and 26-40% with three position of crest, middle and lower positions. The result showed that the gradient of slope and its position have influenced plow layer depth and content of iron but organic material and Al were not influenced. The highest of plow layer depth and content of iron were occured at 8-15%, while the highest of content of Al and iron were occured at 16-25 %. Based on slope position, the thick of plow layer, the content of organic matter, Fe wereoccured highest in the lower position and Al was occured in the middle position.Keywords: Slope, plow depth layer, organic matter, Al, FeABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh dari kelas kemiringan dan posisi lereng terhadap ketebalan lapisan olah, bahan organik, Al dan Fe. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2011 dengan menggunakan metode survai dan analisis deskriptif komparatif melalui pendekatan fisiografis secara bebas berdasarkan penampakan fisiografis lahan. Teknik sampling berdasarkan metode sampel pertimbangan dalam stratifikasi. Contoh tanah diambil dari tiga kelas kemiringan lereng : 8-15%, 16-25% dan 26-40% dengan tiga posisi lereng yaitu posisi atas, posisi tengah dan posisi bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan dan posisi lereng berpengaruh terhadap ketebalan lapisan olah dan kandungan Fe sedangkan terhadap bahan organik dan kandungan Al tidak berpengaruh. Ketebalan lapisan olah dan bahan organik tertinggi dijumpai pada kemiringan lereng 8-15% sedangkan kandungan Al dan Fe tertinggi yaitu pada kemiringan lereng 16-25%. Berdasarkan posisi lerengnya, ketebalan lapisan olah, bahan organik, kandungan Fe tertinggi dijumpai pada posisi lereng bawah sedangkan kandungan Al pada posisi lereng tengah.Kata Kunci: Lereng, Ketebalan lapisan olah, Bahan organik, Al, Fe