cover
Contact Name
Muhammad Kurniawan Alfadli
Contact Email
m.kurniawan@unpad.ac.id
Phone
+6285669298592
Journal Mail Official
bsc.ftg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bulletin of Scientific Contribution : Geology
ISSN : 16934873     EISSN : 2541514X     DOI : doi.org/10.24198/bsc%20geology.v18i1
BSC Geology adalah jurnal yang dikelola oleh Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran,terbit 3 kali dalam setahun (April, Agustus, dan Desember), yang menerbitkan karya tulis ilmiah dalam bidang kebumian terutama yang berkaitan dengan geologi seperti : Petrologi Paleontologi Geomorfologi Stratigrafi Geologi Dinamik Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi Geologi Teknik Geokimia Geofisika Sedimentologi. Setiap artikel yang akan diterbitkan adalah bersifat tanpa biaya (no processing charges dan no submission charges). Dewan redaksi dan penerbit tidak pernah meminta bayaran untuk penerbitan pada jurnal ini. Tujuan dari jurnal ini adalah untuk memperkaya pengetahuan dan informasi tentang ilmu kebumian dan dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama.
Articles 419 Documents
PENGARUH LITOLOGI TERHADAP KARAKTERISTIK BENTUKAN MORFOLOGI DAERAH SUNGAI KINANTAN BESAR, KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI Arnoly, Muhammad Farhan; Idarwati, .
Bulletin of Scientific Contribution Vol 21, No 3 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v21i3.47304

Abstract

Secara administratif, lokasi penelitian berada di Daerah Sungai Kinantan Besar dan Sekitarnya, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kenampakan bentang alam dengan bentukan lahan beragam memiliki bukti dengan adanya proses kejadian geologi yang terjadi pada suatu daerah, baik bersifat endogen dan eksogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bentukan morfologi terhadap persebaran litologi batuan penyusunnya. Metode penelitian meliputi studi pendahuluan, observasi lapangan, kerja studio dan analisis laboratorium. Studi pendahuluan meliputi studi literatur untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi geologi regional dan keadaan geologi lokal daerah penelitian. Observasi lapangan meliputi pengamatan singkapan dan pengambilan sampel dan pengamatan bentukan morfologi dengan aspek-aspek geomorfologi. Kerja studio meliputi pembuatan peta-peta dengan mengelola pada data Digital Elevation Model (DEM) dengan skala peta 1: 25.000, diolah menggunakan software Global Mapper, ArcGis 10.6 dan ArcScene 10.6. Terakhir, analisis laboratorium dengan menggunakan plate thin section dengan ketebalan sekitar 0,03 mm dapat dilihat menggunakan mikroskopis polarisasi untuk mengetahui komposisi penyusun batuan tersebut. Pengelompokan dan pembagian bentukan lahan yang terbentuk pada daerah penelitian dipengaruhi oleh litologi. Hasil pembagian bentuk bentang alam daerah penelitian terbagi menjadi 4 bentuk lahan utama yaitu Perbukitan Zona Sesar (PZS) didominasi oleh litologi Batusabak, Bukit Intrusi (BI) didominasi dengan litologi Andesit, Perbukitan Berlereng Curam (PBC) didominasi dengan litologi Granit dan Meander River (MR).Administratively, the research location is in the Kinantan Besar River Area and its surroundings, Batang Asai District, Sarolangun Regency, Jambi. The appearance of landscapes with diverse landforms has evidence of the process of geological events that occur in an area, both endogenous and exogenous. This study aims to determine the characteristics of morphological formation on the lithological distribution of its constituent rocks. Research methods include preliminary studies, field observations, studio work, and laboratory analysis. Preliminary studies include literature studies to gather information on regional geological conditions and local geological conditions of the study area. Field observations include outcrop observations and sampling and observations of morphological formations with geomorphological aspects. Studio work includes making maps by managing Digital Elevation Model (DEM) data with a map scale of 1: 25,000, processed using Global Mapper software, ArcGis 10.6, and ArcScene 10.6. Finally, laboratory analysis using a thin section plate with a thickness of about 0.03 mm can be seen using microscopic polarization to determine the composition of the rock constituents. The grouping and division of landforms formed in the study area are influenced by lithology. The results of the division of landscape forms of the study area are divided into 4 main landforms, namely Fault Zone Hills (PZS) dominated by Batusabak lithology, Intrusion Hills (BI) dominated by Andesite lithology, Steep Sloped Hills (PBC) dominated by Granite lithology and Meander River (MR).
KAJIAN STRUKTUR GEOLOGI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESTABILAN LAHAN DI DAERAH PINO BARU DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN, PROVINSI BENGKULU Heriani, Nova; Sutriyono, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.54429

Abstract

Desa Pino Baru merupakan salah satu wilayah administratif di Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Studi ini berfokus memberikan informasi terkait kestabilan lahan di daerah Air Nipis dan sekitarnya yang didukung dengan fenomena geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara struktur geologi dan implikasinya terhadap kestabilan lahan di daerah penelitian. Observasi lapangan didukung dengan analisa data struktur geologi untuk menginterpretasikan struktur daerah penelitian. Satuan batuan pada lokasi penelitian meliputi 2 formasi, yaitu: Formasi Seblat dan Formasi Lemau dengan struktur geologi berupa lipatan dan sesar. Analisis remote sensing berupa NDVI untuk menampilkan tingkat kerapatan vegetasi, kemudian analisa ruggedness index menunjukkan tingkat resiko tanah yang tidak stabil, dan analisa dissection index menunjukkan tingkat resiko pergerakan tanah di daerah penelitian. Berdasarkan analisis secara keseluruhan, dapat dihasilkan interpretasi bahwa daerah dengan tingkat kerentanan longsor di daerah penelitian paling tinggi berada pada arah WSW–ENE atau di Desa Batu Ampar, Desa Pino Baru, dan Desa Sukarami.
TIPE ENDAPAN MINERAL PADA BATUAN METAMORF KUBAH BAYAH, BANTEN KHOLIS, NUR.; Patonah, Aton.; Barkah, Mochamad. Nursiyam
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i1.48948

Abstract

Penelitian ini dilakukan di daerah Kubah Bayah, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik, jenis, asosiasi mineral ubahan, mineral logam, dan tipe endapan mineral pada batuan induk berupa batuan metamorf. Petrografi dan mineragrafi adalah metode yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil petrografi, didapatkan 6 jenis batuan metamorf, yaitu sekis klorit, sekis biotit klorit, sekis muskvoit klorit, sekis biotit muskovit klorit, sekis garnet biotit muskovit klorit, dan sekis aktinolit klorit sebagai batuan induk. Berdasarkan hasil identifikasi mineral ubahan dan asosiasinya, alterasi daerah penelitian dibagi ke dalam 2 zona mineral alterasi, yaitu zona epidot – klorit ± kuarsa yang termasuk ke dalam tipe alterasi propilitik dan zona serisit ± pirit yang termasuk ke dalam tipe alterasi filik. Selanjutnya, hasil mineragrafi, menunjukkan bahwa terdapat 2 asosiasi mineralisasi logam bijih, yaitu pos-metamorfik dan sin-metamorfik. Mineral penyusun asosiasi mineralisasi pos-metamorfik terdiri atas pirit, kalkopirit, sfalerit, bornit, kovelit, dan hematit, sedangkan mineral penyusun asosiasi mineralisasi sin-metamorfik terdiri atas pirit. Selain itu, juga teridentifikasi mineral logam berharga berupa emas pada asosiasi mineral pos-metamorfik. Berdasarkan karakteristik di atas, maka tipe endapan yang terbentuk di  daerah penelitian adalah didominasi oleh tipe endapan hidrotermal yaitu endapan epitermal sulfidasi menengah. Namun, sebagian kecil juga hadir, diduga sebagai endapan orogenik yang dicirikan oleh urat-urat paralel foliasi yang diisi oleh kuarsa sekunder, klorit sekunder, mineral lempung sekunder, dan mineral opak dan mineralisasi berupa mineral pirit yang terbentuk mengikuti foliasi pada mineral klorit.Kata kunci: Kubah Bayah, Zona alterasi – mineralisasi, batuan metamorf, epitermal sulfidasi menengah This research was conducted in the Bayah Dome area, Cihara District, Lebak Regency, Banten Province, with the aim of identifying the characteristics, types, associations of alteration minerals, metallic minerals, and types of metallic mineral deposits in metamorphic – hosted rocks. Petrography and mineragraphy are the methods used in this study. Based on the petrographic results, 6 types of metamorphic rocks were obtained, namely chlorite schist, chlorite biotite schist, chlorite muscovite schist, chlorite muscovite biotite schist, chlorite muscovite biotite garnet schist, and chlorite actinolite schist as the host rock. Based on the identification of alteration minerals and their associations, the alteration of the study area is divided into 2 zones of alteration minerals, namely the epidote - chlorite ± quartz alteration mineral zone which belongs to the propylitic alteration type and the sericite ± pyrite alteration mineral zone which belongs to the phyllic alteration type. Furthermore, mineragraphic results show that there are 2 ore metal mineralization associations, namely post-metamorphic and syn-metamorphic. The constituent minerals of the post-metamorphic mineralization association consist of pyrite, chalcopyrite, sphalerite, bornite, covellite and hematite, while the constituent minerals of the syn-metamorphic mineralization association consist of pyrite. In addition, valuable metal minerals in the form of gold were also identified in the post-metamorphic mineral association. Based on the above characteristics, the type of deposits formed in the study area is dominated by medium sulfidation epithermal deposits. However, a small part is also present, presumably as orogenic deposits characterized by foliation parallel veins filled with secondary quartz, secondary chlorite, secondary clay minerals, and opaque minerals and mineralization in the form of pyrite minerals formed following foliation on chlorite minerals.Keywords: Bayah Dome, Alteration-mineralization type, Metamorphic-hosted rock, Intermediate sulfide ephitermal 
BIOSTRATIGRAFI FORMASI TELISA BERDASARKAN PERSEBARAN FORAMINIFERA DI DAERAH MUAROPAITI, KECAMATAN KAPUR IX, KABUPATEN LIMA PULUH KOTA, SUMATERA BARAT Harfiandri, Muhammad Said; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.56104

Abstract

Pendekatan analisis paleontologi dapat digunakan dalam menentukan umur relatif suatu batuan dengan melihat distribusi dan acuan umur fosil foraminifera yang terdapat pada batuan. Oleh karena itu, metode ini digunakan sebagai acuan dalam penelitian biostratigrafi yang membahas mengenai penentuan umur batuan dengan menggunakan fosil yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini dilakukan di Desa Muaropaiti, Sumatera Barat yang secara regional terletak pada Cekungan Sumatera Tengah. Observasi lapangan telah dilakukan dalam rangka perekaman data geologi permukaan serta data paleontologi berupa foraminifera yang di dapatkan dari hasil preparasi sampel batuan. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menentukan umur relatif dan lingkungan batimetri pada Formasi Telisa melalui analisis biostratigrafi. Metode yang digunakan berupa analisis biostratigrafi dengan melihat umur dan batimetri pada fosil foraminifera planktonik dan bentonik serta analisis struktur sedimen yang terdapat pada daerah telitian. Studi ini mengungkapkan bahwa umur relatif pada Formasi Telisa berdasarkan analisis foraminifera planktonik adalah Middle Miocene (N8-N10). Lingkungan batimetri berdasarkan foraminifera bentonik didapatkan pada area Transisi-Neritik Tepi (15m – 90m). Hal ini menunjukan bahwa Formasi Telisa terendapkan pada kala Miosen Tengah dimana terjadinya transgresi (kenaikan muka air laut) yang mengendapkan litologi batuan sedimen dengan ukuran butir halus seperti batulempung, batuserpih, dan batulanau yang bersifat karbonatan.
PENYELIDIKAN STABILITAS RENCANA PIT TAMBANG DENGAN ANALISIS KEMANTAPAN LERENG MAJEMUK DI DESA MEKAR JAYA, KECAMATAN SEBULU Santoso, Hendra; Situmorang, Roni Marudut
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i1.53231

Abstract

Salah satu daerah yang telah menjadi fokus aktivitas pertambangan yaitu Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Desa Mekar Jaya memiliki litologi berklasifikasi batuan lemah, yang meningkatkan potensi terjadinya kelongsoran lereng. Oleh karena itu, analisis yang cermat terhadap kemantapan lereng menjadi sangat penting untuk merancang desain lereng PIT tambang yang optimal daerah penelitian tersebut. Faktor keamanan kelongsoran untuk Perencanaan pembukaan PIT Tambang memerlukan perhitungan desain rencana tambang optimal untuk menjamin kestabilan lereng wilayah pertambangan. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan kestabilan lereng wilayah PIT tambang dengan menggunakan pendekatan deterministic (statis) dan probabilistik (dinamis). Data-data yang diperlukan, seperti kondisi topografi, struktur geologi, serta sifat fisik dan mekanik material pembentuk lereng, akan diperoleh melalui kegiatan pemboran geoteknik. Penelitian ini akan merujuk pada standar peraturan Kepmen ESDM No.1827 tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik. Hasil analisis menunjukkan rekomendasi untuk desain lereng tambang, yaitu: (1) GT03: dikategorikan stabil dengan litologi batukalkarenit, batuserpih, batulempung dan batubara dengan tinggi 47-61 m, titik nilai FK statis 3.26-3.73, FK dinamis 2.2-2.54, dan PK 0% (2) GT 04 berdasar desain lereng tinggi dengan litologi batulempung, batulanau, dan batuserpih maksimal 50.7 meter dengan FK statis maksimal 1,3, dan berdasar FK dinamis stabil pada ketinggian maksimal 50,8 meter dan sudut lereng keseluruhan 41-48o dan FK dinamis 1,19-1,25, dan PK 0%. Analisis deterministik dan probabilistik memberikan rekomendasi yang hamper sama dalam menentukan rencana pembuatan ketinggian dan sudut kemiringan desain rencana lereng PIT yang optimal.
ANALISIS LINEAMENT DAN PENGARUH STRUKTUR GEOLOGI TERHADAP KLASIFIKASI BENTANG ALAM DAERAH KARANGNUNGGAL, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Wioso, Yosaphat Bismo; Sutriyono, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 21, No 3 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v21i3.48241

Abstract

Bentang alam di sepanjang zona deformasi pada area seluas 81 km2 di daerah Karangnunggal, Kabupaten Cianjur telah diidentifikasi dengan dua pendekatan, yaitu merekonstruksi penampang geologi dan menganalisis lineament dengan Digital Elevation Model (DEM). Penentuan batas zona struktur dilakukan dengan menginterpretasikan tiga penampang geologi yang dibuat berdasarkan peta geologi daerah studi, kemudian hasil interpretasi diperkuat dengan peta Lineament. Struktur geologi yang mengontrol bentang alam zona structural dalam studi ini memfokuskan pada blok sesar mendatar Cisokan, antiklin Rajamandala, sinklin Citarum, dan antiklin Citarum. Zona deformasi secara umum berorientasi NE-SW, sehingga identifikasi bentang alam dilakukan sepanjang arah umum sebaran struktur tersebut. Berdasarkan analisis tersebut diperoleh klasifikasi bentuk lahan daerah telitian, yaitu Perbukitan Struktural, Perbukitan Tinggi Lipatan, Perbukitan Vulkanik, Aliran Piroklastik dan Channel Irregular Meander. Formasi Gunung Api dan Endapan Gunung Api Muda diklasifikasikan ke dalam bentuk lahan vulkanik yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanisme, sedangkan Formasi Rajamandala dan Formasi Citarum diklasifikasikan ke dalam bentuk lahan zona structural dikarenakan adanya control struktur pada kedua formasi ini. Analisis diagram kipas dari kelurusan bukit-bukit pada setiap zona struktural diperoleh dua pola yaitu NE-SW dan NW-SE. Mekanisme pembentukan perbukitan diinterpretasikan sebagai hasil erosi yang mengikuti pola zona lemah (fractures) yang mengarah NE-SW dan NW-SE.
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK GEOLOGI PADA FENOMENA TUMBUKAN METEOR DI DAERAH CILETUH, JAWA BARAT DAN FENOMENA LAINNYA DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA (LITERATURE REVIEW) Sambodo, Tri Hananto; Sukiyah, Emi; Hutabarat, Johanes; Endyana, Cipta
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.51283

Abstract

Artikel ini memberikan pemahaman terhadap fenomena tumbukan meteor pada permukaan bumi, dari aspek geologi yang ditemukan, khususnya di daerah Geopark Ciletuh, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR), yang melibatkan analisis terhadap penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dilakukan pada berbagai fenomena lain yang serupa di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap fenomena benturan meteorit di bumi memiliki karakter geologi yang unik dan cenderung sama. Fenomena yang terjadi di daerah Ciletuh, Indonesia, salah satunya yaitu terdapat bukti unik berupa morfologi berbentuk cincin sebagai petunjuk terbentuknya kawah sederhana oleh karena dampak benturan, serta bukti lainnya ditemukannya struktur batuan yang menyerupai shatter-cone ditemukan di area kawah. Fenomena lainnya yang serupa dengan Ciletuh yaitu pada situs Yilan Crater di Cina, yaitu ditemukan bukti bentukan kawah yang menyerupai kawah sederhana dan bentukan punggungan perbukitan yang nampak unik. Penelitian lainnya juga mengungkapkan adanya anomali magnetik daerah Zagami Meteorite Impact Site di Nigeria, yang mengindikasikan kemungkinan adanya kawah tersembunyi yang menyerupai bentukan kawah sederhana hasil tumbukan yang melibatkan energi yang besar. Situs Lonar impact crater di India juga merupakan kawah dampak meteorit yang ditemukan pada permukaan basalt, beserta dengan danau kawah sentral yang menjadi daya tarik penelitian. Begitu pula pada situs lainnya seperti Barringer impact crater dan Bolaven volcanic field yang memiliki ciri dan persamaan akibat tumbukan meteor. Penelitian lebih lanjut tentunya diperlukan untuk memahami potensi adanya bukti keterjadian tumbukan meteor di Ciletuh tersebut, diantaranya melalui analisa photomicrograph maupun analisa lainnya yang mendukung. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang keterjadian tumbukan meteor beserta bukti lapangan berupa bentukan lahan yang unik pada situs-situs benturan meteorit. Hasil tulisan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut dalam memahami proses pembentukan kawah, perubahan geologi dan lingkungan akibat tumbukan meteor. Kata kunci: benturan meteorit, ciletuh, geopark, geologi
KELIMPAHAN FORAMINIFERA BENTONIK KECIL DAERAH CISANGKAL, KECAMATAN LANGKAPLANCAR, KABUPATEN PANGANDARAN, PROVINSI JAWA BARAT Rumsih, .; Jurnaliah, Lia; Winantris, .
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i1.50205

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di Kampung Cisangkal, Desa Bangunkarya,  Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 108°30’41,61’’ BT dan 7°36’17,10’’ LS sampai 108°30’40,48’’ BT dan 7°36’19,78’’. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan foraminifera bentonik kecil di Kampung Cisangkal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengambilan data lapangan dengan metode acak pada 2 stasiun, kemudian preparasi foraminifera kecil, dan analisis kuantitatif dengan menghitung setiap individu dan genus dari semua sampel. Sampel yang digunakan sebanyak 9 sampel batuan. Berdasarkan hasil penelitian kelimpahan foraminifera bentonik kecil pada daerah penelitian terdiri dari 1.059 individu foraminifera bentonik kecil dengan 38 genus. Kelimpahan tertinggi berada pada sampel ST2-H1 dengan jumlah 266 individu dan 24 genus. Sedangkan kelimpahan terendah berada pada sampel ST1-H7 dengan jumlah 17 individu dan 5 genus. Adanya perbedaan keragaman genus dan jumlah individu menunjukkan terjadinya perubahan lingkungan. Kata Kunci: Foraminifera bentonik kecil, Cisangkal, Kelimpahan, keragaman.
PRELIMINARY STUDI KELIMPAHAN MIKROFAUNA DAN POLEN DI TELUK CILETUH, KAWASAN GEOPARK CILETUH, SUKABUMI Fauzielly, Lili; Jurnaliah, Lia; Winantris, .; Fitriany, Ria; Rosana, Mega Fatimah
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i2.56710

Abstract

Sebanyak 31 sampel sedimen dari Teluk Ciletuh telah digunakan untuk studi mikrofauna dan polen. Pengambilan sampel permukaan menggunakan metoda shallow coring untuk analisis polen dan grab untuk mikrofosil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial mikrofauna dan polen di daerah konservasi kawasan Geopark Ciletuh.Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada bagian barat dan timur dari muara Sungai Palangpang. Secara umum, kondisi perairan di bagian barat dari muara sungai terlihat lebih jernih daripada perairan sebelah timur. Sedimen pantai di sebelah timur menunjukkan penghalusan ke arah barat, terdiri atas sedimen berupa pasir sangat kasar-sangat halus dengan kandungan pecahan fragmen cangkang bivalvia yang dominan, ke arah pantai berkembang kawasan mangrove yang dikembangkan oleh komunitas masyarakat setempat. di bagian barat dari muara sungai, sedimen berupa pasir sedang hingga lempung, dan ke arah pantai, endapan berupa pasir sedang yang bercampur dengan tanah.Hasil identifikasi dari 25 sampel sedimen yang diambil dari Teluk Ciletuh menunjukkan hanya 19 sampel yang mengandung mikrofauna. Identifikasi mikrofauna dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung jumlah individu per 1 gram sampel sedimen kering. Terdapat 5135 individu mikrofauna, dengan kelimpahan secara berurutan adalah dari kelompok foraminifera bentonik (82,07%), foraminifera planktonik (5,84%), spikula (4,55%) dan kelompok non foraminifera (7,53%).Dari kawasan mangrove yang berada di pantai Cikadal, analisis polen terhadap 6 sampel sedimen permukaan diperoleh polen asal lingkungan mangrove, polen freshwater, terrestrial dan polen dari pegunungan.
UMUR BATUAN SEDIMEN ANGGOTA CIKARANG FORMASI JAMPANG DI SUNGAI CIGANGSA, KECAMATAN SURADE, KABUPATEN SUKABUMI BERDASARKAN NANNOFOSIL GAMPINGAN Ramdhani, Muhammad Alfi Gilang; Pratiwi, Santi Dwi; Patonah, Aton
Bulletin of Scientific Contribution Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v22i1.54443

Abstract

Penelitian dilakukan pada batuan sedimen yang tersingkap di Sungai Cigangsa, Kecamatan Surade. Singkapan ini merupakan bagian dari Anggota Cikarang Formasi Jampang dengan susunan singkapan batuan di lapangan berupa batupasir dalam berbagai ukuran butir dan ketebalan dan batulempung. Secara stratigrafi, di bagian atas dan bawah disusun oleh batupasir karbonatan dengan ketebalan bervariasi antara 10 sampai 45 cm. Di bagian tengah disusun oleh batulempung dengan ketebalan 3 sampai 32 cm. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi umur relatif batuan sedimen Anggota Cikarang Formasi Jampang di Sungai Cigangsa dengan menggunakan metode measuring section dan analisis nannofosil gampingan secara semi kuantitatif. Sebanyak 36 spesies nannofosil telah diidentifikasi dari 47 sampel batuan sedimen yang telah diamati dengan preparasi nannofosil metode smear slide. Enam datum marker spesies nannofosil yang dapat digunakan untuk rekonstruksi biostratigrafi dari tua ke muda yaitu kemunculan akhir Sphenolithus ciperoensis (Zona NP25), kemunculan akhir dari Cyclicargolithus abisectus (Zona NN1), kemunculan awal Sphenolithus disbelemnos (Zona NN2/NN1), kemunculan awal Sphenolithus belemnos (Zona NN3/NN2), kemunculan umum akhir dari Sphenolithus belemnos (Zona NN4/NN3), dan kemunculan umum awal Sphenolithus heteromorphus (Zona NN4). Dapat disimpulkan bahwa Anggota Cikarang Formasi Jampang memiliki rentang umur NP25-NN4 (Oligosen Akhir – Miosen Awal).

Filter by Year

2005 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 22, No 3 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 22, No 2 (2024): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY Vol 22, No 1 (2024): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 3 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 2 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 21, No 1 (2023): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 3 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 2 (2022): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 20, No 1 (2022): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 3 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 2 (2021): Bulletins of Scientific Contribution : Geology Vol 19, No 1 (2021): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 3 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 2 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 18, No 1 (2020): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 3 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 2 (2019): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 3 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 2 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 16, No 1 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 15, No 3 (2017): Bulletin of Scientific Contribution:GEOLOGY Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY Vol 15, No 1 (2017): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 3 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 1 (2016): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 3 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 2 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 1 (2015): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 3 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 2 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 1 (2014): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 3 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 2 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 11, No 1 (2013): Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 2 (2012): Bulletin of Scientific Contribution Vol 10, No 1 (2012): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 3 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 2 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 9, No 1 (2011): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 3 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 2 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 8, No 1 (2010): Bulletin of Scientific Contribution Vol 7, No 2 (2009): Bulletin of Scientific Contribution Vol 7, No 1 (2009): Bulletin of Scientific Contribution Vol 6, No 2 (2008): Bulletin of Scientific Contribution Vol 6, No 1 (2008): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 3 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 2 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 5, No 1 (2007): Bulletin of Scientific Contribution Vol 4, No 2 (2006): Bulletin of Scientific Contribution Vol 4, No 1 (2006): Bulletin of Scientific Contribution Vol 3, No 2 (2005): Bulletin of Scientific Contribution More Issue