cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Perkembangan Bioteknologi dalam Produksi Kolkisin Farmasetis Anggita Putri Unggaran; Tina Rostinawati
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.02 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17577

Abstract

Kolkisin merupakan alkaloid utama yang terkandung dalam tanaman Colchicum autumnale dan Gloriosa superba L. Senyawa kolkisin memiliki beberapa khasiat terapeutik, di antaranya sebagai antimitotik, anti-inflamasi dan antifibrotil. Kebutuhan pasar yang tinggi akan suplai kolkisin mendorong berbagai penelitian untuk menemukan metode yang paling efisien guna meningkatkan produksi kolkisin. Budidaya konvensional tidak mampu mencukupi kebutuhan yang tinggi akan produk metabolit kolkisin, sementara sintesis kimia tidak dapat menjadi solusi yang tepat karena sulitnya mensintesis senyawa metabolit sekunder dengan struktur kimia yang kompleks. Solusi yang paling tepat untuk meningkatkan produksi kolkisin adalah kultur sel tanaman secara in vitro. Namun metode ini pun masih memiliki beberapa keterbatasan sehingga perlu dioptimalkan. Artikel ini meninjau delapan strategi untuk optimalisasi kultur sel, di antaranya elisitasi, product removal in situ, imobilisasi kultur sel tanaman, suspensi kultur sel tanaman dalam bioreaktor, demetilasi kolkisin dengan bantuan mikroba, mikrotuberisasi, kultur biorhizoma dengan bantuan enzim khusus, dan kultur biorhizoma dalam bioreaktor. Berdasarkan hasil tinjauan, dapat disimpulkan bahwa mikrotuberisasi, kultur biorhizoma dengan bantuan enzim khusus, dan kultur biorhizoma menggunakan bioreaktor merupakan strategi yang tengah banyak dikembangkan saat ini dan dinilai efisien untuk produksi kolkisin secara komersil.Kata Kunci: kolkisin, kultur sel tanaman, biorhizoma, bioreaktor
Kandungan Senyawa Kimia dan Bioaktivitas Melaleuca leucadendron Linn. AGI MEISARANI; Zelika Mega Ramadhania
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.041 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10818

Abstract

Melaleuca leucadendron Linn. merupakan spesies tanaman tropis dari suku Myrtaceae yang berasal dari Australia dan terdistribusi secara luas ke beberapa negara lain seperti Brazil, India, Cuba, serta Asia bagian Selatan termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki banyak khasiat yang dapat dijadikan sebagai herbal medik, dimana minyak essensialnya telah dibuktikan secara empiris dan ilmiah memiliki efektivitas farmakologi melalui pengujian in vitro dan in vivo dari beberapa studi penelitian. Adanya aktivitas farmakologi tersebut disebabkan karena kandungan senyawa kimia utamanya, seperti 1,8-Sineol, ⍺-Terpineol, β-Kariofilen dan D-Limonen. Adapun efek farmakologi yang dihasilkan dari tanaman ini karena adanya senyawa kimia yang terkandung didalam tanaman tersebut diantaranya adalah aktivitas antioksidan, antifungal, efek sedatif, serta inhibitor enzim hyaluronidase. Review terhadap studi tentang kandungan kimia dan bioaktivitas M. Leucadendron Linn. dilakukan dengan cara penelusuran pustaka terkait tinjauan botani, tinjauan kimia dan tinjauan farmakologi yang dapat diakses pada beberapa situs penyedia jurnal terpercaya (NCBI, Elsevier, Researchgate maupun google scholar) kemudian dilanjutkan dengan skrinning pada jurnal-jurnal tersebut sehingga didapatkan sumber studi yang masuk dalam kriteria inklusi. Diharapkan dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk dikembangkan menjadi fitofarmaka.
REVIEW ARTIKEL: RNS DAN PERANNYA DALAM KANKER PANKREAS HILMA AWALIA RAHMAH; ZELIKA MEGA RAMADHANIA; MUTAKIN MUTAKIN; JUTTI LEVITA
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2359.336 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.25907

Abstract

Spesies nitrogen reaktif (SNR) merupakan beberapa senyawa yang diturunkan dari oksida nitrat yang kehadirannya dalam tubuh dapat mengakibatkan stress nitro-oksidatif. Oksida nitrat (NO) dalam jumlah berlebih dapat dengan mudah memicu produksi SNR yang selanjutnya berkontribusi dalam mekanisme patofisiologis beberapa penyakit, salah satunya adalah kanker pankreas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa spesies nitrogen reaktif merupakan faktor non genetik yang penting pada tumorigenesis pankreas yang diinduksi defisiensi Breast Cancer 2 (BRCA2). SNR dapat dicegah atau dikurangi pembentukannya melalui perawatan menggunakan antioksidan secara signifikan. Selain mampu mencegah pembentukan SNR, perawatan antioksidan secara signifikan juga mampu mengurangi adduct oksidatif DNA dan mengurasi lesi DNA sehingga dapat menunda onset tumor. Kata Kunci      : BRCA2, Oksida Nitrat, Senyawa, Tumorigenesis.
ARTIKEL TINJAUAN: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN RISIKO PENGOBATAN SWAMEDIKASI MUHAMMAD JAJULI; Rano Kurnia
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.395 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.16789

Abstract

Swamedikasi merupakan pengobatan yang dilakukan diri sendiri tanpa melalui resep dokter. Dalam pengobatan risiko seperti kesalahan diagnosis, penggunaan dosis obat yang berlebihan, serta penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek buruk pada pasien. Penulisan artikel tinjauan ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan dan berperan untuk mencegah risiko yang ditimbulkan dari pengobatan swamedikasi. Artikel disusun dari artikel yang telah terbit pada Jurnal yang terindeks pada Sciencedirect, Pubmed-NCBI, dan Google Scholar. Berdasarkan beberapa artikel menyebutkan bahwa iklan, riwayat pengobatan, kondisi ekonomi, dan edukasi yang diterima pasien menjadi faktor pendorong pilihan swamedikasi. Faktor edukasi mengenai obat seperti efek samping sangat berperan dalam mencegah efek samping dari pengobatan swamedikasi.Kata Kunci: Swamedikasi, risiko swamedikasi, edukasi.
PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK PADA MASA PANDEMIK COVID-19 KHOIRIYAH, SHAHNAZ DESIANTI; Majid, Tiara Salsabila; Berliana, Alif Virisy; Iskandar, Yoppi
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.27324

Abstract

Standar pelayanan kefarmasian merupakan pedoman yang digunakan tenaga kefarmasian dalam melakukan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian di apotek saat pandemik COVID-19 dapat dilakukan secara online untuk meminimalkan pasien keluar rumah namun tetap mengutamakan keefektifan pengobatan dan kepatuhan pasien. Apotek juga dapat melakukan pengiriman obat secara langsung ke tempat tinggal pasien untuk tetap memastikan pasokan obat pasien di rumah. Saat masa pandemik penting untuk memberikan edukasi kepada pasien untuk tidak meminum obat yang kadaluwarsa karena kekurangan obat atau untuk menghindari kunjungan farmasi, serta mendorong pasien untuk menggunakan jasa konsultasi online dan jasa pengiriman obat ke tempat tinggal yang disediakan oleh apotek jika memungkinkan. Pelayanan kefarmasian lainnya yaitu mengedukasi pasien terutama pasien dengan penyakit kronis mengenai penyakit dan terapi yang dijalani untuk meningkatkan kepatuhannya dalam pengobatan. Dengan demikian pelayanan kefarmasian di apotek tetap dapat dilakukan dengan modifikasi-modifikasi yang dapat meminimalkan penyebaran dan penularan COVID-19.Kata kunci: Standar Pelayanan Kefarmasian, Pelayanan Kefarmasian, COVID-19.
REVIEW ARTIKEL: DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN TERAPI ASMA AINI QOLBIYAH AFGANI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.26222

Abstract

Asma merupakan penyakit heterogen, biasanya dikarakterisasi dengan adanya inflamasi kronis pada jalur pernafasan. Dapat ditandai dengan adanya mengi, nafas yang pendek, batuk dan rasa sesak di dada yang berulang dan intensif. Menurut hasil Riskesdas pada tahun 2018, prevelensi asma pada penduduk di Indonesia untuk semua umur mencapai angka 2,4%, dengan prevalensi terbanyak ada pada usia 75 tahun lebih. Oleh karena itu, artikel ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit asma, agar masyarakat mengetahui penyakit asma dan dapat lebih waspada dalam menangani penyakit asma. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai sumber jurnal penelitian dari Elsevier, ResearchGate, Sciencedirect, dan situs jurnal lain pada tahun 2010-2019. Dari penulusuran pustaka didapatkan bahwa asma dapat didiagnosa dengan melihat riwayat medis, pemeriksaan fisik dan pengukuran objektif, serta pertanyaan kunci yang ditanyakan kepada pasien. Manajemen terapi yang digunakan pada pasien asma terdiri dari obat pereda dan obat pengontrol.
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP NILAI MCV, MCH, DAN MCHC MELALUI PENDEKATAN INDEKS ERITEMA PADA MANUSIA DENGAN RENTANG UMUR 19-22 TAHUN Cecep Suhandi; Abib Latifu Fatah; Mamay Krisman; Nurfianti Silvia; Annisa Atusholihah; Randy Rassi Prayoga; Ersa Fadhilah; Ameilia Ameilia; Nadila Berliana; Dika Pramita Destiani; Rano Kurnia Sinuraya; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.28617

Abstract

Stres merupakan perasaan tertekan terhadap tuntutan yang sedang dihadapi. Stres juga diketahui mempengaruhi variabel erythron, sistem endokrin, hematopoietik, dan kekebalan tubuh. Status hematopoietik dapat ditentukan melalui pengukuran nilai indeks eritrosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC melalui pendekatan indeks eritema konjungtiva pada manusia normal. Subjek uji pada penelitian ini meliputi 150 mahasiswa farmasi Universitas Padjadjaran dimana 114 sukarelawan dengan data penelitian yang lengkap digunakan sebagai subjek uji akhir. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengecekan tingkat stres dilakukan menggunakan kuisioner stres pada instrumen DASS 42 serta aplikasi image analyzer (MATLAB) digunakan untuk mengukur indeks eritema. Tingkat stres dinyatakan sebagai nilai (skor) hasil pengisian kuisioner dan indeks eritema diketahui sebagai nilai perbedaan intensitas warna merah dan hijau pada konjungtiva mata. Berdasarkan uji Korelasi Pearson didapat nilai signifikansi >0,05 (0,847) yang menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan indeks eritema. Nilai korelasi Pearson -0,018 menandakan bahwa korelasi antara tingkat stres dan indeks eritema bersifat negatif (protective factor) dengan level korelasi sangat rendah. Dengan pendekatan bahwa indeks eritema berbanding lurus dengan nilai indeks eritrosit (MCH, MCV, dan MCHC), maka hasil uji statistik juga menyatakan secara tidak langsung hal yang sama mengenai hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC.Kata kunci: Stres, DASS 42, Indeks Eritema, MATLAB ABTRACTStress is feeling depressed about problem being faced. Stress is also known to affect the erythron, endocrine, hematopoietic, and immune variables. Hematopoietic status can be determined by measuring the erythrocyte index value. This study was conducted to determine the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC through the conjunctival erythema index approach in normal humans. Subjects in this study included 150 pharmacy students from Universitas Padjadjaran where 114 volunteers with complete research data were used as final subjects. The method in this study uses a Cross Sectional approach. Stress level measurement is performed using a stress questionnaire on the DASS 42 instrument and the application of an image analyzer (MATLAB) is used to measure the erythema index. The stress level is expressed as a value (score) from the filling out of the questionnaire and the erythema index is known as the value of the difference in the intensity of the red and green color in the eye conjunctiva. Pearson Correlation statistical test have showed a P-value> 0.05 (0.847) which indicates that there is no significant relationship between the level of stress with the erythema index. The Pearson correlation value of -0.018 indicates that the correlation between the stress level and the erythema index is negative (protective factor) with a very low level of correlation. With the approach that the erythema index is indirectly proportional to the erythrocyte index value (MCH, MCV, and MCHC), the statistical test results also imply the same conclusion about the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC.Keywords: Stress, DASS 42, Erythema Index, MATLAB
REVIEW ARTIKEL : STRUKTUR, REPLIKASI DAN INHIBITOR RNA-DEPENDENT RNA POLYMERASE CORONAVIRUS ERVITA INDRIANI; TINA ROSTINAWATI
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27769

Abstract

Coronavirus (CoV) merupakan virus patogen yang dapat menginfeksi manusia dan vertebrata. Wabah sindrom pernapasan akut yang parah (SARS) pada tahun 2003 dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) pada tahun 2012 menunjukkan kemungkinan penularan dari hewan ke manusia dan manusia ke manusia pada infeksi CoV yang baru muncul pada Desember 2019. Pengobatan suportif dapat digunakan untuk menangani kasus infeksi oleh CoV seperti obat yang dapat menghambat RNA-dependent RNA Polymerase (RdRp). RdRp merupakan bagian dari virus RNA yang berperan untuk mengkatalisasi sintesis virus dan memainkan peran sentral dalam siklus replikasi dan transkripsi. Tujuan dari artikel review ini yaitu untuk mengkaji struktur dan replikasi Coronavirus, dan obat yang dapat menghambat RdRp. Metode yang digunakan dalam review ini yaitu berupa penelusuran pustaka berbasis Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci “Coronavirus”, “Coronavirus replication” “Structure coronavirus”, dan “Inhibitor RdRp”. Simpulan dari review ini yaitu CoV termasuk virus RNA untai tunggal positif ((+) ssRNA), terdiri dari protein struktural dan non-struktural. RdRp termasuk protein non-struktural yang dapat dihambat aktivitasnya dengan analog nukleotida. Analog nukleotida tersebut yaitu remdesivir, favipirafir, sofosbuvir dan ribavirin. Remdesivir dapat digunakan sebagai terapi infeksi CoV terbukti dengan pengujian yang telah dilakukan secara in vitro maupun in vivo.Kata kunci : Coronavirus, RNA-dependent RNA Polymerase, replikasi coronavirus, inhibitor RdRp dan remdesivir
REVIEW ARTIKEL: INDEKS GLIKEMIK PADA BERBAGAI VARIETAS BERAS NURUL AFIFAH; NEILY ZAKIYAH
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27781

Abstract

Beras merupakan sumber makanan pokok dan utama bagi sebagian besar masyarakat dunia yang memiliki pengaruh penting terhadap pemasukan gizi dan nutrisi untuk kesehatan. Beras dikenal sebagai pangan yang dengan nilai indeks glikemik yang tinggi, namun hal tersebut bergantung pada varietas, proses memasak, kandungan nutrisi dan faktor-faktor lainnya. Sebagai bahan pangan yang berpengaruh sangat besar terhadap respon glikemik, konsumsi beras menjadi fokus terkait dampaknya yang dapat meningkatkan faktor resiko diabetes mellitus akibat adanya resistensi insulin karena konsumsi glukosa yang berlebihan. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai nilai indeks glikemik beras dari berbagai macam varietas.Kata Kunci: Beras, Indeks Glikemik, Varietas Beras
Analisis Kesesuaian Sistem Kegiatan Operasional pada Salah Satu Gudang Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Bandung Wahyu Ashri Aditya; Febrina Amelia Saputri
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.26991

Abstract

Aspek operasional dalam gudang Pedagang Besar Farmasi (PBF) merupakan parameter yang sangat penting dalam suatu rantai distribusi sediaan farmasi dimana terdiri dari pengadaan, penyimpanan hingga penyaluran produk farmasi. Sistem operasional yang baik dan benar di gudang telah diatur dalam Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gudang yang menerapkan sistem operasional sesuai CDOB terhindar dari menumpuknya produk kedaluwarsa dan kerugian finansial, sebaliknya gudang yang belum menerapkan CDOB mengalami kerugian fisik sediaan farmasi dan juga kerugian finansial akibat produk yang pasif di gudang. Hal ini berdampak kepada penurunan produktivitas dari PBF tersebut. Maka dari itu, diperlukan adanya evaluasi sistem operasional pada salah satu gudang PBF di Bandung. Penelitian dilaksanakan selama bulan Februari 2020 menggunakan metode observasional yang bersifat deskriptif dan evaluatif serta metode wawancara. Hasil penelitian mengenai sistem kegiatan operasional pada salah satu gudang PBF di Bandung menunjukkan bahwa sebagian sistem operasional yang digunakan oleh PBF tersebut belum sesuai dengan CDOB sehingga dihasilkan Corrective Action and Preventif Action (CAPA) untuk evaluasi pada PBF.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue