cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Peran Konseling Apoteker Terhadap Kepatuhan Terapi Pasien Hipertensi Pada Program Rujuk Balik BPJS di Puskesmas Kota Bandung Fitriah Nurhayani; Rini Hendriadi; Keri Lestari; Iis Rumawati
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42271

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dan menimbulkan masalah ketidakpatuhan sehingga pengelolaannya dapat dilakukan melalui program rujuk balik BPJS. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian konseling apoteker terhadap kepatuhan pasien hipertensi pada program rujuk balik BPJS di puskesmas kota Bandung dengan menggunakan kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS). Studi ini merupakan penelitian quasi experimental dengan metode pretestdanposttestwith control group design yang dilakukan pada bulan februari 2019 sampai dengan bulan april 2019 di puskesmas kota Bandung. Sebanyak 82 pasien dikelompokan secara non random menjadi kelompok yang mendapatkan intervensi berupa konseling (41 pasien) dan kelompok tanpa intervensi atau kontrol (41 pasien) yang diikuti selama tiga bulan untuk mengukur tingkat kepatuhan pasien dengan kuesioner MARS. Konseling apoteker memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan pasien hipertensi dalam program rujuk balik  untuk kelompok kontrol(p 0,025) dan kelompok intervensi (p 0,000). Setelah dilakukan konseling pada kelompok intervensi terjadi perubahan  dari kepatuhan sedang sebanyak 11 pasien (26,80%) menjadi kepatuhan tinggi sebanyak 30 pasien (73,20%). Terdapat pengaruh pemberian konseling oleh apoteker terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi program rujuk balik BPJS.
IMPACT OF PHARMACIST INTERVENTION MANAGING DRUG RELATED PROBLEMS IN PATIENTS TYPE 2 DIABETES MELLITUS Amirah Amirah; Ahmad Muhtadi; Siti Saidah
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42483

Abstract

Drug related problems (DRPs) are problems encountered often in the treatment of patients and can affect the decline of quality of life but increase disease morbidity and mortality on the other hand. From a review of 10 journals, it was found that untreated indication, adverse drug reaction, non-compliance/non-adherence, drug choice problem, dosing problem, drugs interaction, drug without indication, and drug use problem were the most common DRP experienced by type 2 diabetes mellitus patients. Pharmacists can effectively intervene in DRP through identification and prevention and physicians accept and act on these interventions. Pharmacists in their intervention on DRPs play an influential role at the prescriber level. Pharmacist intervention can also take place at both patient and drug levels. Pharmacist intervention is also capable of controlling the parameters of an objective examination to be better (lipids, blood pressure, blood sugar, etc.). Therefore, collaboration between pharmacists and other health workers needs to be pursued because it can affect the success in handling DRPs.
KORELASI POLIMORFISME GEN ERCC1 RS11615 DENGAN EFEKTIVITAS KEMOTERAPI BERBASIS-PLATINUM PADA PASIEN KANKER PARU JENIS KARSINOMA BUKAN SEL KECIL Muhammad F. Effendi; Nadiya N. Afifah; Ajeng Diantini; Ruri Intania; Melisa I. Barliana
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42350

Abstract

Kemoterapi berbasis platinum merupakan regimen kemoterapi lini pertama untuk pasien kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) pada stadium lanjut dan non-operasi tanpa mutasi gen Epidermal growth factor receptor (EGFR). Excision repair cross-complementation group 1 (ERCC1) adalah enzim yang mengeksekusi insisi dari untai DNA yang rusak dan menghilangkan aduksi DNA yang diinduksi oleh platinum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi polimorfisme gen ERCC1 rs11615 dengan efektivitas kemoterapi berbasis-platinum pada pasien KPKBSK di RS Paru dr. H. A. Rotinsulu Bandung pada bulan November 2019 sampai dengan Maret 2020. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan desain penelitian kohort prospektif terhadap 28 pasien. Polimorfisme gen ERCC1 rs11615 diidentifikasi dengan metode DNA squencing, sedangkan untuk efektivitas kemoterapi menggunakan metode response evaluation criteria in solid tumour (RECIST) dan analisis Cytokeratin 19 fragments (CYFRA 21-1). Hasil penelitian menunjukkan adanya frekuensi alel gen ERCC1 rs11615 masing-masing 50% (C/C), 35,7% (C/T), dan 14,3% (T/T). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara polimorfisme gen ERCC1 rs11615 dengan nilai RECIST (OR = 0,417; 95% confidence interval (CI): 0,091-1,908, P=0,256) atau dengan nilai CYFRA 21-1 (OR = 0,417; 95% confidence interval (CI): 0,063-2,768, P=0,357). Kami tidak menemukan bukti yang mendukung penggunaan gen ERCC1 rs11615 sebagai prediktor untuk menentukan efektivitas kemoterapi berbasis platinum. Dibutuhkan sampel yang memadai untuk mengkonfirmasi secara statistik korelasi polimorfisme gen ERCC1 rs11615 terhadap efektivitas kemoterapi.
Pengaruh Anemia Tanpa Terapi Eritropoetin Terhadap Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Dengan Terapi Hemodialisa di RSBSA Bandung Dan RSD Cimahi Dani Sumaryadi; Ahmad Muhtadi; Sri Hartini
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42266

Abstract

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang sering terjadi dan biasanya terjadi paling awal dari komplikasi yang lain adalah anemia. Defisiensi eritropoetin merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan anemia pada GGK. Penurunan fungsi ginjal yang progesif dan irreversible menyebabkan pasien GGK harus melakukan hemodialisa. Hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien mortalitas dan morbiditas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh anemia tanpa terapi eritropoetin terhadap kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dengan terapi hemodialisa di RSBSA Bandung dan RSD Cimahi yang dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2019. Desain penelitian ini menggunakan metode penelitian analisa cross sectional dengan menggunakan data primer dan teknik consecutive sampling. Hasil penelitian ini di dapat jumlah sampel 50 orang yang memenunuhi kriteria inklusi. Kualitas hidup diukur dengan menggunakan kuisioner EQ5D5L yang dilakukan pada saat pasien menjalani terapi hemodialisa. Nilai utilitas terapi eritropoetin 0,65±0,29 dan tanpa terapi eritropoetin mengalami penurunan menjadi 0,63±0,27. Sedangkan skor rata-rata EQ5D Visual Analog Scale (VAS) terapi eritropoetin adalah 62,29±18,88 dan tanpa terapi eritropoetin 69,42±14,65. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan nilai utilitas dan skor EQ5D VAS pasien hemodialisa terapi eritropoetin dan tanpa terapi eritopoetin tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara signifikan (p<0,05).
GUT MICROBIOTA FIRMICUTES AND BACTEROIDETES RATIO CORRELATED TO PROPIONATE IN OBESE SUBJECTS Selly Mulyadi; Trilis Yulianti; Rizky Abdullah
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42479

Abstract

Gut microbiota (Firmicutes, Bacteroidetes and Akkermansia muciniphila) imbalance is related with obesity. In colon, this gut microbiota produces short chain fatty acid (SCFA), which is hypothesized has a correlation with obesity.  The study was aimed to confirm the correlation between gut microbiota (Firmicutes/Bacteroidetes ratio, Akkermansia muciniphila) and SCFA (acetate, propionate, butyrate) in obesity. Subjects were recruited from Jakarta and surrounding areas on January until April 2020 and the study design was observational study with cross sectional approach. The subjects were 46 men, aged 25-40 years old. Subjects were divided into 2 groups, those are obese group and normal group. Analysis of Firmicutes, Bacteroidetes and Akkermansia muciniphila was done using real time PCR, while analysis of SCFA was done using GC-MS. This study found that there was positive correlation between Firmicutes/Bacteroidetes (F/B) ratio and propionate (r = 0.406 dan p = 0.024) in obese subjects. Correlation between Akkermansia muciniphila and SCFA could not be concluded since Akkermansia muciniphila was not detected in most of samples collected. There was no difference on F/B ratio (p=0.284), acetate (p=0.763), propionate (p=0.579), butyrate (p=0.648), total SCFA (p=0.514) between obese and normal group, however SCFA tends to be higher in obese group, while F/B ratio tends to be higher in normal group. Some of results are in line with previous reports, but data contradict with previous report regarding proportion of gut microbiota between grups, and this is still controversional.
ANALISIS EFEKTIFITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK MEROPENEM DAN TIGECYCLINE PADA PASIEN ACUTE RESPIRATORY FAILURE (ARF) DI INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RS Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Sry Y. Manurung; Cherry Rahayu; Auliya A. Suwantika
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42346

Abstract

Kondisi Acute Respiratory Failure (ARF) merupakan salah satu tantangan terbesar di rumah sakit terutama di ICU karena terkait tingginya morbiditas dan mortalitas nya di rumah sakit (Pisani, Corcione , & Nava, 2016). Dari data sensitivitas antibiotik ICU pada pasien ARF, Meropenem dan Tygecycline merupakan antibiotik yang sensitive terhadap berturut-turut 8 dan 10 jenis bakteri yang ada pada sampel kultur pasien ARF. Kedua antibiotik tersebut memiliki harga yang relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manakah nilai cost effectiveness yang lebih tinggi antara antibiotik meropenem dan kombinasi tygacycline pada pengobatan ARF di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung serta melihat probabilitasnya dalam menurunkan leukosit . Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medis pasien, data laboratorium dari website laboratorium RSHS,  data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) periode Januari 2017-Desember 2018 meliputi total biaya medik dari rumah sakit/healthcare perspective serta tarif INA CBGs dari BPJS/payer perspective. Nilai efektivitas pada penelitian ini diukur dalam penurunan leukosit. Hasil menunjukan nilai Average Cost-effectiveness Ratio (ACER) pada penggunaan Meropenem dari payer dan healthcare perspective secara berturut-turut adalah Rp. 22.799 dan Rp. 26.571 per 1 sel leukosit/mm3, lebih tinggi dibandingkan penggunaan Tygecycline yaitu Rp. 8.627 dan Rp. 16.118 per 1 sel leukosit/mm3. Berdasarkan hasil perhitungan Incremental Cost-effectiveness Ratio (ICER), diketahui bahwa jika penggunaan Tygecycline menggantikan Meropenem maka akan menghemat biaya sebesar Rp. 10.558 (payer perspective) dan menyebabkan kerugian Rp. 6.306 (healthcare perspective). Dari model pohon keputusan, penggunaan Tygecycline memiliki probabilitas lebih tinggi dalam menurunkan leukosit dibanding penggunaan Meropenem yaitu berturut-turut 67% dan 56%. Nilai EMV keduanya menunjukkan bahwa impact kerugian pada penggunaan Meropenem (Rp.955.248 per hari) lebih besar dibandingkan pada penggunaan Tygecycline (Rp. 465.330 per hari).
ANALISIS UTILITAS BIAYA ANNUAL POPULATION-BASED SCREENING DIBANDINGKAN DENGAN OPPOTUNISTIC SCREENING DIABETES MELITUS DI INDONESIA MENGGUNAKAN MARKOV MODEL Erick Budiawan; Auliya A. Suwantika; Neily Zakiyah
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42488

Abstract

Prevelensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun dan berdampak pada tingginya biaya perawatan. Salah satu upaya pencegahan DM yang dapat dilakukan adalah melalui deteksi dini atau skrining. Saat ini di Indonesia menerapakan oportunistic screening dan tidak menerapkan population-based screening. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan efektivitas biaya oportunistic screening dan population-based screening DM di Indonesia serta menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai incremental cost-effectiveness ratio (ICER). Penelitian ini dilakukan di Universitas Padjadjaran pada november 2020 hingga maret 2021. Nilai efektivitas biaya dihitung berdasarkan Markov model dengan siklus 1 tahun dalam time horizon 19 tahun.  Data yang digunakan sebagai input parameter adalah data epidemiologi, biaya (payer perspective) dan utilitas (QALYs). Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan probabilitas transisi antar health states. Hasil ICER akan dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita sebagai cost-effectiveness threshold. Population-based screening memiliki estimasi total biaya Rp8.530.479 per 13,768 QALYs dan oportunistic screening memiliki estimasi total biaya Rp7.115.974 per 13,743 QALYs. Nilai ICER adalah Rp79.502.211 dan nilai PDB perkapita adalah Rp56.938.723. Dapat disimpulkan bahwa population-based screening DM di Indonesia masih cost-effective apabila menggunakan cost-effectiveness treshold 1-3 PDB perkapita. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa biaya skrining, kualitas hidup pasien DM komplikasi dengan early maupun late treatment merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap nilai ICER.
Defined Daily Doses (DDD) MEROPENEM DAN TINGKAT KEPEKAAN Acinetobacter baumannii TERHADAP MEROPENEM PADA PASIEN INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE AGUSTUS 2017-AGUSTUS 2018 Yuyun Wahyuni; Tiana Milanda; Ida P. Santoso
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42475

Abstract

Acinetobacter baumannii resistan karbapenem (Carbapenem resistance Acinetobacter baumannii/CRAB) merupakan salah satu bakteri penyebab resistensi karbapenem yang sudah menyebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Karbapenem (terutama imipenem dan meropenem) merupakan golongan antibiotik pilihan utama yang dipakai untuk mengobati pada pasien pneumonia yang disebabkan oleh bakteri A. baumannii. Pemakaian antibiotik meropenem di ICU sangat tinggi karena dibutuhkan untuk pengelolaan infeksi berat. Namun, penggunaan yang tidak bijak memicu peningkatan resistensi. Akhir-akhir ini telah banyak ditemukan A. baumannii yang telah resisten meropenem, terutama pada pasien yang menggunakan alat-alat invasif seperti ventilator, kateter, pasien dengan sistem imunitas yang rendah dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kepekaan bakteri A. baumannii terhadap antibiotik meropenem dan mendapatkan data tentang kuantitas antibiotik meropenem dengan menghitung DDD antibiotik meropenem di ruang ICU RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Agustus 2017-Agustus 2018. Penelitian dilakukan sejak bulan Januari sampai Mei 2019 di Departemen Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian deskriptif analisis terhadap kuantitas penggunaan meropenem dilakukan secara retrospektif, sampel yang diambil dengan cara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan Secara kuantitatif dari 190 catatan medik didapatkan total penggunaan antibiotik meropenem sebesar 10,74 DDD/100 hari rawat. Persentase resistensi dari 208 isolat A. baumannii yang teridentifikasi, didapatkan A. baumannii resisten meropenem sebanyak 84.6% (176 isolat), sedangkan A. baumannii sensitif meropenem sebanyak 15.4% (32 isolat). Simpulan dari penelitian menunjukkan bahwa DDD meropenem di Ruang inap ICU RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung melebihi standar WHO, dan terdapat kasus-kasus resistensi meropenem yang semakin meningkat.
Pengaruh Konseling Apoteker Dengan Tindak Lanjut Layanan Telepon dan Kunjungan Rumah (Home Pharmacy Care) Terhadap Kepatuhan Pengobatan Pasien Gagal Jantung Juliani Ronike Turang; Anas Subarnas; Sri Hartini
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42267

Abstract

Ketidakpatuhan pengobatan gagal jantung meningkatkan rehospitalisasi, readmission rate, hasil klinik yang buruk dan biaya medis yang tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konseling apoteker dengan tindak lanjut layanan telepon dan kunjungan rumah (home pharmacy care) terhadap kepatuhan pengobatan dan kejadian rawat inap ulang (readmission) pasien gagal jantung di Instalasi Rawat Jalan BLUD RSU Anuntaloko Parigi pada Februari-Mei 2019. Desain prospektif quasy experiment study control group pretest posttest dengan teknik purposive sampling membagi pasien gagal jantung dalam kelompok kontrol (n=30) dan kelompok intervensi (n=30). Pasien yang bersedia setelah mengisi informed concent diikuti selama tiga bulan untuk menilai kepatuhan pengobatan dengan kuisoner MARS-5 dan MPR serta evaluasi kejadian rawat inap ulang (readmission) sebelum dan sesudah intervensi. Konseling apoteker dengan tindak lanjut layanan telepon dan kunjungan rumah (home pharmacy care) berpengaruh signifikan pada kepatuhan pengobatan p value (<0,05). Pasien patuh berdasarkan pengukuran MARS-5 beresiko lebih rendah terhadap readmission dibandingkan pada pasien patuh pengukuran MPR dengan nilai odds ratio [OR] 0,798 p value (0,028<0,05).
REVIEW ARTICLE - WNT/Β-CATENIN SIGNALING IN STEM CELLS: POTENCY FOR REGENERATIVE MEDICINE Dewi Kurniawati
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42480

Abstract

The ability of Wnt ligands to initiate signaling cascades that result in cytoplasmic stabilization, β-catenin underlies their ability to regulate progenitor cell differentiation. In this review, we will summarize current knowledge about the mechanisms underlying Wnt/β-catenin signaling and how pathways regulate the differentiation of normal stem cells in the human body and the role of Wnt/β-catenin signaling in the paracrine effect. It is desirable to have a picture regarding the role of Wnt/β-catenin in Regenerative Medicine.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue