cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 784 Documents
Pemantauan Terapi Obat Pada Pasien Lupus Eritematosus Sistemik Co-Morbid Infeksi Cytomegalovirus, Chronic Kidney Disease, dan Ventilator Associated Pneumonia di Ruang Intensive Care Unit RS Pemerintah Kota Bandung Salsabila, Alisha Zahra; Wilar, Gofarana
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.48493

Abstract

Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) biasa disebut penyakit seribu wajah merupakam penyakit autoimun yang bersifat kronis dengan manifestasi berubah-ubah dan menyerang hampir semua organ. SLE adalah jenis lupus dengan kejadian terbanyak dibanding lupus lainnya. Data dari Lupus Foundation of America pada tahun 2023 menunjukkan bahwa SLE menyumbang angka sekitar 70% dari tiga jenis lupus lainnya. Pemantauan Terapi Obat (PTO) ini dilakukan pada pasien Ny. RI berusia 24 tahun selama tujuh hari di ruang intensif salah satu Rumah Sakit Pemerintah di Bandung. Diagnosis utama pasien, yaitu SLE dengan infeksi cytomegalovirus (CMV), Chronic Kidney Disease (CKD), dan Ventilator Assosciated Pneumonia (VAP) dengan pemberian obat berupa ceftazidime avibactam, fosfomisin, meropenem, vankomisin, paracetamol, n–acetylcystein, lovenox, hidroksiklorokuin, dexamethasone, calos, asam folat, amlodipin, esomeprazole, KCl, dan kalsium glukonat. Perawatan dan terapi yang diterima oleh pasien berisiko menimbulkan efek samping obat yang kompleks akibat penggunaan terapi polifarmasi jangka panjang sehingga perlu dilakukan pemantauan terapi ketat untuk meminimalkan terjadinya efek obat yang tidak diinginkan dan memastikan pemberian obat yang tepat. Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis PTO terapi yang diberikan sudah sesuai dosis dan indikasi, tetapi menyebabkan beberapa efek samping yang kompleks akibat penggunaan terapi polifarmasi jangka panjang.
Review Artikel: Potensi Tanaman Herbal Sebagai Anti-Kanker Multiple Myeloma Ramadhiany, Ziyan Zulfah; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51045

Abstract

Kanker multiple myeloma adalah kelainan proliferatif sel plasma yang menjadi ganas dan tidak terkendali dalam sumsum tulang. Saat ini, telah banyak penelitian mengenai terapi alternatif kanker multiple myeloma, salah satunya dengan tanaman herbal yang dibandingkan dengan terapi konvensional dinilai memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai beberapa tanaman herbal yang memiliki potensi sebagai terapi alternatif pada kanker multiple myeloma yang telah diuji secara in vitro pada garis sel RPMI 8226. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dengan meninjau literatur pada beberapa sumber. Berdasarkan penelusuran pustaka, ditemukan beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai antikanker multiple myeloma, yaitu Buah salju (IC50 20 μg/mL), Rosella (IC50 30 μg/mL), Kayu manis (IC50 72 μg/mL), Ginseng India (IC50 76 μg/mL), dan Mangrove tancang (IC50 508,19 μg/mL). Dari ke-5 tanaman herbal tersebut, ekstrak etanol dari biji Buah salju memiliki potensi sitotoksik yang lebih besar dengan nilai IC50 ≤20 μg/mL.Kata kunci: kanker Multiple myeloma, tanaman herbal, garis sel RPMI 8226
Review Artikel : Nanopartikel Kitosan Untuk Meningkatkan Kualitas Nutraseutikal Azizah, Putri Nur; Herdiana, Yedi
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.47778

Abstract

Abstrak :Nutraseutikal adalah suatu senyawa metabolit sekunder berasal dari tanaman, mikroba, dan hewan yang dapat dikonsumsi untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, dan mengobati penyakit. Nutraseutikal sering kali ditemukan kelarutan dalam air, bioavailabilitas, absorbsi, dan efek farmakologinya rendah. Hal ini dikarenakan beberapa zat aktif mudah terdegradasi oleh sinar matahari dan larutan tertentu dengan pH asam atau basa. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pembentukan nanopartikel. Nanopartikel adalah partikel berukuran kecil atau nanometer yang dapat meningkatkan efektivitas metabolit sekunder. Nanopartikel kitosan merupakan nanopartikel yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Nanopartikel kitosan telah terbukti dapat meningkatkan kualitas nutraseutikal.Kata kunci: nanopartikel, kitosan, nutraseutikalAbstract:Nutraceuticals are secondary metabolits derived from plants, microbes and animals that can be consumed to improve health, prevent disease and treat disease. Nutraceuticals are often found to have low water solubility, bioavailability, absorbtion, and pharmacological effects. This is because some active substances are easily degraded by sunlight and certain solution with acidic or basic pH. These problem can be overcome by the formation of nanoparticles. Nanoparticles are small or nanometer-sized particles that can increase the effectiveness of secondary metabolites. Chitosan nanoparticles are nanoparticles that can be used to overcome this problem. Chitosan nanoparticles have been proven to improve nutraceutical quality.Keywords: nanoparticles, chitosan, nutraceuticals
Pharmacogenetics Overview of Quetiapine for Mental Health Disorders Khaira, Syifa; Qolbina, Shofura Marsa; Barliana, Melisa Intan; Zakiyah, Neily
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.55219

Abstract

Severe mental health disorders, such as schizophrenia and bipolar, often require treatment with atypical antipsychotic drugs, yet many patients exhibit incomplete responsiveness and adverse effects. This has led to the exploration of pharmacogenetics to personalize treatment potentially. Quetiapine, a commonly used atypical antipsychotic, is often used in mental health disorders for depressive episodes. Its pharmacokinetics and pharmacodynamics are potentially influenced by genetic variations in Cytochrome P450 (CYP) enzymes, Dopamine receptor D3 (DRD3), and other genes. Previous studies investigated the impact of genetic variants on quetiapine metabolism, revealing possible associations with CYP2D6, CYP2C19, Catechol-O-methyltransferase (COMT), and other genes. Notably, the COMT variant rs13306278 was linked to increased quetiapine exposure. CYP3A5 and CYP2B6 phenotypes also affected quetiapine variability, with the  ATP-binding cassette super-family G member 2 (ABCG2) variant rs2231142 associated with quetiapine accumulation. Recent pharmacogenetic advancements emphasize individualized treatment based on genetic profiles, particularly considering interactions with CYP3A4. Although concerns exist regarding drug-drug interactions and limited efficacy in certain conditions, integrating genetic information into clinical practice holds promise for optimizing quetiapine therapy and improving patient outcomes.
Analisa Audit Trail Review Sebagai Penentuan Persyaratan Parameter Proses Dalam Produksi Sediaan Tablet Salut Gula Aidi, Paramitha Ayu; Sopyan, Iyan
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.52761

Abstract

Audit trail review merupakan mekanisme penting untuk mendeteksi perubahan dalam keamanan data atau sistem, hal ini telah ditentukan pada Code of Federal Regulations (CFR 21) part 11 yang dikeluarkan oleh Food and Drug Administration (FDA) serta dijelaskan dalam Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) pada aspek dokumentasi yang merupakan bagian esensial dari sistem pemastian mutu. Pemastian mutu produk obat dapat dilakukan dengan memperhatikan setiap perubahan dalam parameter proses yang berhubungan dengan Critical Quality Attributes (CQA) dan Intermediate Critical Quality Attributes (ICQA). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa audit trail review yang tersedia pada mesin produksi sebagai penentuan persyaratan parameter proses sediaan tablet tambah darah salut gula. Metode yang dilakukan meliputi pengambilan dan pengkajian data audit trail sebanyak lima batch sediaan tablet tambah darah salut gula pada mesin granulasi (IGL-GEA), mesin cetak tablet (Kilian KTP 720X), dan mesin penyalutan (Coating Bosch), yang kemudian dibandingkan dengan nilai parameter proses pada Prosedur Pengolahan Induk. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak adanya perubahan pada parameter proses granulasi, namun terdapat beberapa perubahan pada parameter proses pengeringan granul, pencetakan dan penyalutan tablet. Sediaan tablet tambah darah salut gula ini yang sudah memenuhi syarat seluruh pengujian CQA dan ICQA serta sudah beredar dipasaran sehingga perubahan parameter proses yang dihasilkan dari analisa audit trail review ini bisa dijadikan rekomendasi syarat baru. Kata kunci: audit trail, tablet salut, mesin produksi, parameter proses ABSTRACTAudit trail review is an important mechanism for detecting changes in data or system security, this has been determined in the Code of Federal Regulations (CFR 21) part 11 issued by the Food and Drug Administration (FDA) and explained in Good Manufacturing Practices (GMP) on the documentation aspect which is an essential part of the quality assurance system. Ensuring the quality of medicinal products can be done by paying attention to any changes in process parameters related to Critical Quality Attributes (CQA) and Intermediate Critical Quality Attributes (ICQA). The purpose of this research is to analyze the audit trail review that is available on production machines to determine the process parameter requirements for sugar coated blood supplement tablets. The method used includes collecting and reviewing audit trail data for five batches of sugar-coated blood supplement tablet dosage on a granulation machine (IGL-GEA), a tablet printing machine (Kilian KTP 720X), and a coating machine (Coating Bosch), which is then compared with the process parameters values in the Master Processing Procedure. The research results showed that there were no changes to the granulation process parameters, but there were several changes to the granulation drying, tablet printing and tablet coating process parameters. This sugar-coated blood supplement dosage has met the requirements of all CQA and ICQA tests and is already circulating on the market so the changes of process parameters resulted from this audit trail review analysis can be used as recommendations for new requirements.Keywords: audit trail, coated tablets, production machines, process parameters
Review Artikel: Bahaya Kandungan Bahan Kimia Obat (BKO) Dalam Kopi Serta Metode Identifikasinya Kamaludin, Asilla Mauri Ramdini; Talib, Shafa
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.46938

Abstract

Kopi merupakan salah satu produk pangan olahan yang mengandung senyawa kafein, mengonsumsi kopi berguna untuk menghilangkan rasa kantuk, meningkatkan kewaspadaan, dan membantu performa fisik yang berhubungan dengan peningkatan daya tahan tubuh. Karena hal tersebut membuat kopi menjadi salah satu produk dengan tingkat produksi yang tinggi di Indonesia, seiring perkembangan zaman para produsen kopi pun semakin bervariatif dan inovatif. Namun, banyak pula produsen kopi yang memproduksi kopi tidak sesuai aturan dan pedoman yang berlaku, dimana pada bulan Maret Tahun 2022, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang bertugas untuk mengontrol dan pengawasan terhadap obat dan makanan yang beredar merinci beberapa merek kopi mengandung BKO atau bahan kimia obat paracetamol dan obat kuat pria yaitu sildenafil di Kabupaten Bogor dan Kota Bandung. Penambahan BKO ke dalam produk kopi sachet jelas melanggar aturan, karena tidak digunakan sesuai aturan pakai, dosisnya tidak diketahui sehingga BKO ini dapat merugikan tubuh karena risikonya dapat membahayakan kesehatan. Dalam rangka mendukung program pengawasan maka perlu adanya partisipasi dari berbagai kalangan khususnya peneliti, dengan cara identifikasi keberadaan bahan kimia obat dalam produk pangan olahan. Berdasarkan alasan tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengetahui metode analisis apa saja yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi BKO dalam kopi serta memaparkan bahaya bahan kimia obat tersebut jika dikonsumsi secara terus menerus dan tidak sesuai aturan pakai. Hasil yang diperoleh yaitu metode identifikasi BKO dalam kopi LC-MS karena memungkinkan untuk identifikasi senyawa tingkat tinggi, serta mempunyai tingkat selektifitas dan ketelitian yang tinggi.
Review Artikel: Metode Analisis Penetapan Kadar dan Identifikasi Domperidon Yang Berpotensi Sebagai Bahan Kimia Obat (BKO) Dalam Obat Tradisional Pelancar ASI Azzahra, Ratu Wifaira; Mita, Soraya Ratnawulan; Yuniati, Wiwiet
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51408

Abstract

Domperidon merupakan obat golongan agonis reseptor D2 yang banyak dimanfaatkan sebagai off-label drug untuk memperlancar air susu ibu (ASI). Adanya indikasi off-label tersebut, besar kemungkinannya bahwa penambahan Domperidon sebagai Bahan Kimia Obat (BKO) dalam obat tradisional pelancar ASI dapat terjadi.  Artikel ini bertujuan untuk mengulas berbagai macam metode analisis yang mencakup uji penetapan kadar dan uji identifikasi dari Domperidon berdasarkan e-book, e-journal, dan situs resmi yang valid dalam rentang waktu 10 tahun terakhir. Hasil ulasan didapatkan lima metode analisis uji penetapan kadar dan uji identifikasi Domperidon menggunakan instrumentasi High Performance Thin Layer Chromatography (HPTLC), Reverse Phase - High Performance Liquid Chromatography (RP-HPLC), High Performance Liquid Chromatography - Fluorescence (HPLC-FD), Spektrofotometri UV-Vis, dan Ultra-Performance Liquid Chromatography (UPLC). Kata kunci: Domperidon, Metode analisis, Pelancar ASI
Studi In Silico Senyawa Bioaktif Daun Sirih (Piper betle L.) Sebagai Anti Kolesterol pada Reseptor Hmg Co-A Reductase Djamaluddin, Muhammad Ilham; Suryanto, Rajwa Dwifauza; Salsabila, Salma; Aziz, Calista Sasikirana Finola; Setyowati, Lulu Alya; Muchtaridi, Muchtaridi; Mardisanutomo, Harsoning Tyas; Rusdin, Agus
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.48866

Abstract

Daun sirih (Piper betle L.) adalah tanaman yang memiliki potensi efek farmakologis dalam mengatasi kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis potensi senyawa (eucalyptol, cadinene, estragole, pinene, limonene, chavicol, hydroxychavicol, carvacrol, safrole, dan eugenol) sebagai antikolesterol dengan pembanding kontrol positif obat Simvastatin. Tahapan penelitian analisis potensi senyawa pada daun sirih (Piper betle L.)  secara in silico terdiri dari prediksi Lipinski, penentuan ADMET, skrining farmakofor, dan molecular docking. Analisis ini menggunakan website PubChem, PreADMET dan perangkat lunak  Discovery studio client 4.1, Ligandscout dan Autodock Tools. Senyawa Hydroxychavicol dan Eugenol menunjukkan hasil molecular docking terbaik untuk menjadi Lead Compound. Menilai dari energi Gibbs (ΔG), konstanta inhibisi dan kemiripan interaksi senyawa dengan kontrol positif, meliputi interaksi ikatan hidrogen ARGD590, ASPD690, ASNC755 dan ikatan residu asam amino. Hydroxychavicol dan Eugenol  dapat dilakukan penelitian lebih lanjut sebagai potensi antikolesterol dilihat dari seluruh pengujian pada penelitian yang menunjukkan kemiripan dengan kontrol positif Simvastatin.
Studi Literatur: Penggunaan Antihistamin Dalam Terapi Kondisi Alergi Pada Masa Kehamilan Isman, Hasna Siti Munifah; Iskandar, Yoppi
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.47338

Abstract

Antihistamin merupakan salah satu obat yang paling umum digunakan selama kehamilan dimana sekitar 10-15% wanita menggunakan obat antihistamin untuk meredakan mual dan muntah, serta gejala alergi selama masa kehamilannya. Pemilihan dan penggunaan obat-obatan pada masa kehamilan termasuk obat antihistamin dalam manajemen kondisi alergi perlu memperhatikan serta mempertimbangkan berbagai aspek, terutama terkait keamanannya baik bagi ibu maupun janin. Tujuan studi literatur ini yaitu untuk membahas terkait obat antihistamin sebagai terapi kondisi alergi, penggunaannya pada masa kehamilan, serta profil keamanannya bagi wanita hamil dengan mengumpulkan data dan informasi melalui pencarian literatur jurnal penelitian yang diakses secara daring melalui laman database Google Scholar, PubMed, dan Sciencedirect. Antihistamin generasi kedua lebih disukai dari generasi pertama baik pada pasien hamil maupun tidak hamil. Cetirizine atau loratadine lebih direkomendasikan berdasarkan pada data keamanan yang sangat baik dan telah direkomendasikan dalam banyak pedoman untuk kondisi alergi selama kehamilan, namun dengan tetap mempertimbangkan rasio risiko/manfaat bagi ibu dan kehamilannya.
Review Artikel: Metode Analisis Penetapan Kadar Glukosamin Dalam Suplemen Kesehatan Dengan Berbagai Metode Aryani, Annisa Fitri; Husni, Patihul; Nuryani, Tri Winarsih
Farmaka Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i2.53737

Abstract

Suplemen kesehatan yang banyak dikonsumsi masyarakat saat ini salah satunya yaitu glukosamin untuk pengobatan osteoartritis dan nyeri sendi lainnya. Penggunaan metode yang tepat untuk pemeriksaan konsentrasi glukosamin dalam suplemen kesehatan diperlukan untuk memastikan produk mengandung glukosamin dengan kadar yang sesuai. Oleh karena itu, tujuan dari studi literatur ini yaitu untuk menentukan kadar glukosamin dalam suplemen kesehatan dengan berbagai metode analisis. Studi literatur dilakukan dengan mencari beberapa artikel jurnal penelitian nasional dan internasional yang diterbitkan pada tahun 2013-2023, menggunakan kata kunci Glukosamin, Metode Analisis Glukosamin, dan Penetapan Kadar Suplemen Kesehatan. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa metode yang dapat digunakan untuk menganalisis kadar glukosamin dalam suplemen kesehatan yaitu High Performance Liquid Chromatography (HPLC), dan Ultra Performance Liquid Chromatography (UPLC). Sebagian besar suplemen glukosamin telah memenuhi kriteria, dimana kadar yang diperoleh pada sediaan tunggal mengandung 90-110% dari komposisi yang tertera di etiket sedangkan pada sediaan kombinasi dengan Metilsulfonilmetan atau Kondroitin mengandung 90-120% dari komposisi yang tertera di etiket. Hasil uji validasi pada semua metode yang meliputi selektivitas, linieritas, LOD, LOQ, akurasi, dan presisi juga telah sesuai persyaratan.

Filter by Year

2015 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue