Misykat: Jurnal Ilmu-ilmu Al-QurÆan, Hadist, Syariah dan Tarbiyah
Jurnal MISYKAT is a semiannual journal, published on June and December. MIYSKAT published by PPS IIQ Jakarta. MISYKAT provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, and students to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles. The journal invites professionals in study of Islamic Studies. ISSN: 2527-8371
Articles
136 Documents
Diskursus Poligami Perspektif Ibnu Asyur: Studi Maqashid Al-Syari‟Ah Dalam Kitab Maqashid Al-Syari‟Ah Al-Islamiyah
Sunarto Sunarto
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 4, No 2 (2019): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v4n2.167-184
Poligami baik secara diskursus maupun praktek selalu menjadi perbincangan yang menarik dan kontra produktif. Sebagian kalangan menganggap, bahwa praktik poligami sebagai simbol patriarchal dan marginalisasi kaum perempuan. Sementara di sisi lain poligami dianggap sebagai bagian dari ekspresi keimanan, bahkan merupakan hak asasi yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Dalam mensikapi poligami, ulama terbelah menjadi tiga varian. Pada umumnya ulama salaf mendukung adanya poligami, sementara ulama kalaf (modernis) lebih memperketat. Sebagian diantar ulama ada yang memperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Muhammad Thahir Ibnu Asyur (1879 M – 1973 M) di antara ulama modern yang memperbolehkan praktik poligami dengan syarat keadilan. Dalam kitabnya: Maqashid al-Syari‟ah al- Islamiyah (sebagai metodologi Maqashid al-Syari‟ah), beliau memperbolehkan praktik poligami dengan dalih kemaslahatan ummah. Konsepsi tersebut berseberangan dengan otoritas pemerintah Tunisia saat itu (Habib Bourguiba) yang melarang adanya praktik poligami.
Abdullah Bin Abbas Dan Perannya Dalam Penafsiran Al-Qur’an: Studi Tafsir Abdullah bin Abbas dalam Nuskhah Ali Bin Abi Tholhah
Mohammad Izdiyan Muttaqin
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 4, No 2 (2019): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v4n2.59-86
Artikel ini mendiskusikan tentang Abdullah bin Abbas dan peranannya dalam penafsiran al-Qur‟an. Penulis juga membahas ciri-ciri penafsiran Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan dalam nuskhah Ali bin Abi Tholhah. Artikel ini menjelaskan riwayat hidup Abdullah bin Abbas, dan konsistensinya dalam menghimpun hadits dan Ilmu-ilmu al-Qur‟an, sehingga ia dijuluki sebagai Turjuman al-Qur‟an. Penulis juga memberikan penjelasan tentang pentingnya nuskhah Ali bin Abi Tholhah, sebagai salah satu teks terbaik yang menghimpun tafsir Abdullah bin Abbas. Secara umum tafsir Abdullah bin Abbas mencakup sebagian ayat dari 106 surat dalam al-Qur‟an, dan ada 8 surat yang tidak ditafsirkan oleh Ibnu Abbas. Hal ini diyakini karena ayat-ayat tersebut sudah bisa dipahami oleh Umat Islam pada masa itu. Tafsir Ibnu Abbas secara umum menggunakan tiga metode utama: tafsir al-Qur‟an dengan al-Qur‟an, tafsir al-Qur‟an dengan as-Sunnah, dan tafsir al-Qur‟an dengan lisan Bangsa Arab. Tafsir Ibnu Abbas juga mencakup berbagai cabang ilmu al-Qur‟an, seperti Makki-Madani, Nasikh-Mansukh, Asbab Nuzul, Hukum-hukum Fiqih, Penjelasan kisah-kisah al-Qur‟an, dan penjelasan perumpamaan-perumpamaan
Tafsir Ayat Al-Siyam Karya M. Basiuni Imran, Sambas, Kalimantan Barat: Studi Kritis Atas Genealogi Pemikiran dan Epistemologi Tafsir
Hawasi Bin Arsam;
Ahmad Munif Suratmaputra;
Wendi Parwanto;
Sadari Sadari
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 4, No 2 (2019): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v4n2.185-214
Riset tentang tafsir ke-nusantara-an atau ke-indonesia-an telah banyak dilakukan oleh para peneliti, namun penelitian yang fokus pada tafsir yang ada di Kalimantan Barat belum banyak dilakukan, terutama terkait naskah Tafsir Ayat Al-Siyam karya M. Basiuni Imran. Di sini, penulis tertarik untuk mengisi ruang tersebut dengan memfokuskan pada aspek genealogi (asal-usul) dan episteme (rancang bangun) tafsirnya. Karena itu, tentu riset ini berjenis kepustakaan dengan metode deskriptif-analitis serta genealogi dan epistemologi sebagai kerangka teori yang akan penulis pakai secara lentur. Penelitian ini menemukan bahwa genealogi pemikiran M. Basiuni Imran banyak tertambat pada pemikiran M. Rasyid Ridha serta literatur-literatur Timur Tengah. Adapun dari aras epistemologi, sumber tafsir M. Basiuni Imran banyak merujuk pada kitab-kitab tafsir terdahulu, hadis, dan tentunya al-Qur‟an itu sendiri. Prinsip dan metode penafsiran yang digunakannya adalah prinsip deksripsi leksikal-linguistik, prinsip konektivitas dan relasi teks, dan prinsip ilustrasi sebagai penjelas penafsiran. Corak tafsirnya lebih pada adabi-ijtima’i dengan gaya ijmali. Validitas tafsirnya adalah pragmatis.
Living Values Education: Alternatif Pendekatan Pendidikan Karakter dalam Pencegahan Ekstremisme
Taufik Hidayatullah
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 4, No 2 (2019): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v4n2.87-126
Fenomena ekstremisme kekerasan dan masalah-masalah sosial yang semakin meningkat meniscayakan perlunya pendekatan pendidikan yang bukan sekadar menekankan dimensi pengajaran semata, tetapi juga pada dimensi kemanusiaan. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan karakter adalah Living Values Education (LVE). Pendekatan LVE tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan nilai (values), melainkan menggali dan menghidupkan nilai-nilai atau karakter murid dalam kehidupan. LVE menekankan pentingnya menggali nilai-nilai positif untuk membantu anak dalam menghadapi tantangan di kemudian hari, sehingga selain sebagai proses penyadaran yang berperan besar dalam melakukan transformasi sosial, LVE juga merupakan strategi maupun pendekatan baru dalam pendidikan. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara Pendidikan Islam dan Living Values Education, strategi pendekatan Living Values Education sebagai penguatan pendidikan karakter dalam Pencegahan Ekstremisme Kekerasan, serta relevansi Living Values Education bagi sistem pendidikan di Indonesia.
Pendidikan Multikultural Dalam Perspektif Ilmu Pendidikan Islam (Ipi)
Fitri Handayani;
Uus Ruswandi;
Mohamad Erihadiana;
Muhammad Hasan Basari
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.67-80
Beraneka ragam budaya, suku, bahasa, warna kulit, etnis, adat, agama dan kepercayaan serta berbagai konflik di Indonesia, namun dipersatukan dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda-beda namun satu jua. Hal ini bisa diwujudkan secara strategis melalui pendidikan multikultural pada pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan multikultural merupakan ide, gerakan pembaharuan pendidikan dan proses pendidikan yang bertujuan untuk mengubah struktur lembaga pendidikan supaya semua peserta didik menjadi anggota kelompok ras, etnis, dan kultur dapat memiliki kesempatan untuk mencapai prestasi. Pendidikan multikultural perlu dioptimalkan dalam menata dinamika keragaman untuk menjadi potensi kemajuan dan peradaban manusia menuju ketakwaan. Pendidikan multikultural merupakan “Education for All” yakni pendidikan untuk semua orang dan mengutamakan persamaan hak. Pendidikan multikultural dapat diimplementasikan pada pendidikan di Indonesia dan selaras dengan ilmu pendidikan islam. Melalui pendidikan multikultural, ilmu pendidikan Islam akan semakin meluas penyebarannya dan menjadi rahmat bagi seluruh alam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Proses Inovasi Kurikulum: Difusi dan Diseminasi Inovasi, Proses Keputusan Inovasi
Nimawati Nimawati;
Qiqi Yulianti Zaqiah
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.81-98
Inovasi sering dikaitkan dengan perubahan, Untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan perlu terus-menerus melakukan pembaruan atau inovasi sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman. Sebuah inovasi akan senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan manusia jika dalam inovasi tersebut terdapat sebuah kesepahaman akan terjadinya perubahan pada sebuah pendidikan yang lebih baik. Kurikulum merupakan salah satu aspek penting dalam konteks pendidikan. kurikulum mesti dinamis, adaptif mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakat, baik dunia usaha maupun dunia kerja. Dalam implementasi inovasi memerlukan difusi dan diseminasi. Difusi adalah proses mengkomunikasikan inovasi melalui saluran dan jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem social sedangkan diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Dengan menggunakan studi kepustakaan dan wawancara pada penelitian ini ditemukan bahwa terjadi proses inovasi kurikulum di Program Studi Magister Ekonomi Syariah (Prodi MES) Universitas Islam Bandung (UNISBA).
Larangan Perkawinan Ngalor-Ngulon dalam Adat Jawa di Desa Leses Kabupaten Klaten Perspektif Sadd Ad-dzariah
Chalwan Syafingi
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.99-114
Bagian dari keragaman tradisi di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah masyarakat Muslim yang beragam, adalah ihwal pernikahan. Di beberapa daerah Indonesia, pernikahan memiliki wajah yang unik dan menantang. Apa yang terjadi di Desa Leses, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah tentang apa itu yang disebut sebagai “perkawinan ngalor-ngulon” adalah salah satunya. Istilah ini merujuk pada larangan pernikahan karena posisi rumah antara calon suami dan calon istri dianggap bertentangan. Dalam benak masyarakat Jawa, arah mata angin merupakan sesuatu yang sakral, sehingga tradisi pelarangan seperti ini mungkin untuk terjadi. Pernikahan model ini dilarang sebab rumah mempelai perempuan berada di sebalah Barat Daya (ngalor-ngidul) mempelai laki-laki. Letak geografis salah satu mempelai berdampak pada hukum adat dan dipraktikkan secara turun-temurun di Desa Leses. Penelitian ini mencoba untuk melihat praktik larangan tersebut dari perspektif sadd al-dzari‟ah. Pertanyaan yang akan muncul berkisar antara bagaimana wajah dari praktik “perkawinan ngalor-ngidul” dan bagaimana hukumnya jika dilihat dari jendela Hukum Keluarga Islam, terutama teori sadd al-dzariah.
Resepsi Terhadap Konsep Pemaafan dalam Al-Quran: Sebuah Kajian Living Quran
Huda, Ade Nailul;
Fitriana, Muhammad Azizan
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.1-34
Umat Islam meyakini bahwa al-Qur’an adalah pedoman hidup (way of life) yang salah satu fungsinya adalah sebagai petunjuk kepada manusia agar dapat mencapai ketenangan jiwa dan kedamaian hidup. Manusia menyukai hidup damai dan harmonis dengan makhluk lainnya dan saat terjebak dalam konflik yang menyebabkan kekecewaan atau kemarahan, maka keseimbangan jiwa manusia akan terganggu, sebab kekecewaan dan kemarahan adalah beban. Pemaafan adalah salah satu jalan yang sejak 14 abad lalu disampaikan al-Qur’an sebagai salah satu cara untuk melepaskan diri dari beban tersebut. Artikel ini mencoba mengembangkan penelitian lain yang telah ada terkait konsep pemaafan dalam al-Qur’an. Penelitian yang telah ada umumnya berbicara pemaafan berdasarkan konteks bahasa yang ada di dalam al-Qur’an yaitu term al-„afw, ash-shafh dan al maghfirah. Artikel ini mengembangkan konsep pemaafan bukan hanya dari tinjauan bahasa namun juga analisa ayat ayat lain baik yang berbentuk perintah, kisah- kisah ataupun kabar. Artikel ini juga merupakan kajian living Qur’an yang menggabungkan dua macam penelitian, yaitu penelitian literatur berupa pembahasan konsep pemaafan di dalam al-Qur’an dan penelitian empiris untuk melihat bagaimana manusia merespon pemaafan dalam kehidupan mereka, lalu keduanya didiskusikan untuk mendapatkan gambaran.
Perbedaan Fatwa-Fatwa Sahabat Sebagai Sumber Hukum Islam
Paryadi Paryadi;
Sadari Sadari
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.115-126
Perbedaan-perbedaan fatwa yang terjadi dikalangan para sahabat disebabkan dua hal pertama, karena terjadinya kontak dan saling mempengaruhi antara Islam dan budaya-budaya lain yang bertetangga dengannya. Wilayah dan budaya yang dihadapi para sahabat sangat bervariasi tipologi dan permasalahannya. Kedua, kemampuan para sahabat tidak pada satu tingkat yang sama dalam ilmu mereka dalam memahami sunnah terkait hal ihwal sabda Rasulullah, keadaan mereka bertingkat-tingkat ada diantara mereka yang menghabiskan umurnya untuk selalu bersama Rasulullah siang, malam, saat berada dirumah atau bepergian, saat puasa maupun tidak, saat senang atau susah, saat jihad atau ibadah dan melayani sebagai besar kegiatan beliau seperti Anas bin Malik. Ada juga yang sering mengembara dipedalaman atau berdagangan diberbagai daerah. Ada pula yang hanya melihat sekali Nabi Saw, pada kesempatan haji wada‟. Juga sda yang menetap ataupun yang nomaden sehingga sangat wajar dan logis kalau para ulama sepakat bahwa kemampuan sahabat bertingkat-tingkat. Dalam meyikapi perbedaan-perbedaan fatwa maka harus ada kritik internal terhadap sejumlah tradisi yang dikenal oleh umat Islam untuk dapat memisahkan apakah suatu ayat atau tradisi tertentu cocok diterapan pada situasi tertentu. Karena sejak awal-awal Islam telah terjadi benturan yang tak dapat dihindari antara hukum yang tersurat dengan semangat yang terkandung didalamnya. Jadi perbedaan tersebut karena penafsiran dan penerapan yang digunakan dengan pertimbangan pribadi sahabat terhadap persoalan-persoalan yang belum diperoleh petunjuknya dalam al-Qur‟an dan Hadits
Filosofi Bisnis Ritel Modern Dalam Perekonomian Islam Di Indonesia
Nandang Ihwanudin;
Arky Nafisa Beladiena
MISYKAT Jurnal Ilmu-ilmu Al-Quran Hadist Syari ah dan Tarbiyah Vol 5, No 2 (2020): Misykat: Jurnal ilmu-ilmu Al-Quran, Hadits, Syariah dan Tarbiyah
Publisher : Pascasarjana Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33511/misykat.v5n2.35-52
Penulis menginterpretasikan dan menjelaskan tentang perubagan pemikiran mengenai kewirausahaan berdasar pada aplikasi sejarah, menyatukan konsep pemikiran kewirausahaan yang meliputi banyak hal serta menjelaskan konsep kewirausahaan secara terdapadu dalam sebuah konsep yang mendasar. Melalui pendekatan konseptual ini, dijelaskan pula gambaran teori kewirausahaan pada masa lalu sesuai dengan kondisi yang ada pada saat itu serta mengidentifikasi beberapa bidang konsepsi untuk kemajuan dimasa yang akan datang. Kehadiran industry ritel modern pada dasarnya memanfaatkan pola belanja masyarakat terutama kelas menengah ke atas yang tidak mau berdesak-desakan di dalam pasar tradisional yang biasanya becek atau tidak tertata rapi. Walaupun kehadiran ritel modern ini disoroti dapat mematikan pasar tradisional karena mempunyai keunggulan pada banyak faktor, perkembangannya sendiri dapat dikatakan tidak terbendung. Artikel ini memberikan pandangan bagi para pembaca dan praktisi tentang makna kewirausahaan bisnis ritel perekonomian di Indonesia. Bisnis ritel yang ideal adalah yang berlandaskan pada prinsipprinsip syriah. Sumber daya manusia pada sector bisnis ritel Syariah harus memiliki etos kerja islami.