VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Vidya Wertta Journal published by the Religion and Culture Fakulty of the Indonesian Hindu University. Publish twice a year, on April and October. The focus and reach of issues raised in the Vidya Wertta Journal include religion, philosophy, religious and cultural law.
Articles
166 Documents
DISKURSUS IDENTITAS KEBALIAN: RESPON TERHADAP MODERNITAS DAN DAMPAK PARIWISATA
I Gusti Agung Paramita
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4628
Studi ini berupaya melakukan pelacakan terhadap asal usul diskursus identitas kebalian dalam masyarakat Bali dan kondisi sosial-kultural yang melandasinya kemunculannya. Wacana ini muncul di kalangan kelas menengah terdidik Bali sebagai bentuk kegelisahan terhadap perubahan sosial-kultural dan ekologis yang terjadi sejak Orde Baru akibat perkembangan industri turisme. Akumulasi dampak perkembangan pariwisata Bali menyebabkan semakin tingginya tingkat alih fungsi lahan produktif, ledakan gelombang migrasi penduduk luar Bali, persaingan ekonomi antara penduduk lokal dan pendatang, sekularisasi kehidupan sehari-hari sebagai konsekuensi kehidupan modern, perubahan budaya di kalangan generasi muda, lemahnya otoritas lembaga-lembaga adat dan agama, semakin terpinggirkannya orang lokal di tengah desakan kapitalisme pariwisata, dan sempitnya ruang-ruang ekspresi budaya dan keagamaan. Dampak perkembangan industri pariwisata di Bali ini telah mempengaruhi kondisi sosial dan lingkungan Bali kontemporer. Berbagai persoalan inilah menimbulkan sebuah kecemasan sehingga melahirkan diskursus yang bernada politik identitas yakni kebalian.
FUNGSI DAN MAKNA RITUAL TURUN TAUN BAGI MASYARAKAT DUSUN KARANG BAJO, DESA KARANG BAJO, KECAMATAN BAYAN, KABUPATEN LOMBOK UTARA, NTB
Rajep Pandi;
I Ketut Kaler;
Aliffiati *
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4636
Masyarakat suku sasak sebelum masuknya Islam ke Nusantara sudah mempunyai kepercayaan lokal yang disebut Wetu Telu. Wetu Telu adalah tiga pilar hubungan, yang pertama hubungan manusia dengan Tuhan, yang kedua manusia dengan alam, dan terakhir manusia dengan sesama manusia. Salah satu wilayah di Pulau Lombok yang masih mempertahankan dan melestarikan kepercayaan lokal Wetu Telu terdapat di Dusun Karang Bajo Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara NTB. Masyarakat suku Sasak di desa tersebut sarat akan kegiatan budaya sebagai implementasi Wetu Telu, antara lain pelaksanaan ritual dalam hal ini ritual Turun Taun yang tidak lepas akan fungsi dan makna bagi masyarakat Dusun Karang Bajo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, menggunakan teori fungsionalisme Rapaport dan teori upacara bersaji. Ritual Turun Taun memiliki fungsi bagi masyarakat Desa Karang Bajo yaitu sebagai simbol penghormatan kepada lingkungan alam dan untuk meningkatkan jiwa gotong royong dalam masyarakat. Ritual Turun Taun dimaknai sebagai upaya pelestarian lingkungan alam serta penghormatan terhadap kepercayaan Wetu Telu.
UPAYA DEWAN KEAMANAN BADAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA (PBB) DALAM PENYELESAIAN KONFLIK INTERNASIONAL (STUDI KASUS RUSIA DAN UKRAINA)
Ni Luh Mentari Loviana
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4645
Ketegangan konflik antara Rusia dan Ukraina yang terjadi pada tahun 2022 menjadi perhatian dunia. Awal terjadi konflik ketika Rusia mengirimkan ribuan anggota militer ke perbatasan Ukraina. Dilanjutkan dengan keterlibatan NATO dan Amerika Serikat mengambil tindakan sehingga ketegangan semakin parah dan tidak bisa dikendalikan. Artikel ini menggunakan pendekatan institusionalisme liberal yang mana datanya diambil dari buku dan kajian pustaka dari berbagai literatur yang terkait. PBB sebagai organisasi internasional terbesar memilki tanggungjawab dan kewajiban untuk menjadi penengah dalam mencari solusi atas konflik kedua negara ini, dimana banyaknya negara yang dapat berpartisipasi agar kedepannya konflik antara Rusia dan Ukraina ini dapat segera terselesaikan. Artikel ini menganalisis bagaimana fungsi, tujuan dan peran PBB dalam menciptakan resolusi-resolusi konflik. Mengingat Rusia memiliki hak veto atas resolusi tersebut dapat dikatakan ada konsekuensi dari resolusi yang dikeluarkan PBB.
KEBERADAAN SURAT PAKSA BAGI WAJIB PAJAK YANG TIDAK MENTAATI HUKUM PAJAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO 19 TAHUN 2000
I DEWA GEDE BUDIARTA
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4757
Hukum pajak dalam arti luas adalah hukum yang berkaitan dengan pajak. Hukum pajak dalam arti sempit adalah seperangkat kaidah hukum tertulis yang memuat sanksi hukum. Mengingat bahwa hukum pajak sebagai bagian ilmu hukum tidak melesapkan sanksi hukum di dalamnya agar pejabat pajak maupun wajib pajak mentaati kaidah hukum sebagai substansinya. Dalam arti terhadap pajak maupun wajib pajak yang tidak mentaati hukum pajak, negara dapat menerapkan sanksi hukum yang terdapat di dalamnya. Sanksi hukum yang dapat diterapkan berupa sanksi administrasi dan sanksi pidana, berbicara mengenai sanksi hukum kaitan penelitian ini ialah untuk memberikan sanksi kepada wajib pajak yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan di negara Indonesia, sehingga upaya-upaya yang dilakukan negara untuk mengatasi wajib pajak yang melanggar ketentuan maka negara mengeluarkan Surat Paksa yang artinya surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak, dimana tujuan dari penelitian ini ialah untuk menertibkan wajib pajak terkait dengan kewajibannya.
KAWIN LILI DI DESA SUKAKIONG NUSA TENGGARA TIMUR
Edesta Hastuti Salju;
I Gusti Putu Sudiarna;
Ida Ayu Alit Laksmiwati
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4831
Budaya Manggarai mengenal berbagai jenis perkawinan. Salah satunya adalah perkawinan lili. Perkawinan lili adalah perkawinan yang dilakukan oleh seorang janda yang diambil menjadi istri oleh saudara laki-laki dari suami yang telah meninggal. Jenis perkawinan ini sangat lazim dilakukan di wilayah Kabupaten Manggarai karena sesuai dengan hukum adat yang berlaku disana. Salah satunya terjadi di Desa Sukakiong Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang perkawinan lili dan mengetahui faktor determinan sosial budaya apa yang mendorong terjadinya perkawinan lili. Penelitian ini menggunakan teori teori struktural Levi-Strauss serta teori teori fungsionalisme Malinowski untuk menjelaskan perkawinan lili yang di Desa Sukakiong Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model penelitian etnografi melalui teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka. Peneliti menjadi instrument utama penelitian yang dibantu dengan pedoman wawancara, alat perekam suara, kamera dan alat tulis. Berdasarkan hasil analisis penelitian menemukan bahwa Masyarakat Manggarai di Desa Sukakiong beranggapan bahwa perkawinan lili yang dilakukan di desa Sukakiong bertujuan untuk mempererat kembali hubungan darah yang telah ada sebelumnya berdasarkan dukungan dan kesepakatan kedua belah pihak baik itu pihak anak rona (keluarga asal isteri) dan anak wina (keluarga asal suami) serta kedua mempelai yang akan melanjutkan bahtera rumah tangga. Selain itu adapun beberapa pandangan lain terkait perkawinan lili ini yaitu: pandangan gereja/atau tokoh agama dan perspektif budaya Manggarai terhadap perkawinan lili. Serta faktor sosial budaya yang mendorong terjadinya perkawinan lili yaitu: faktor turun-temurun, faktor pembayaran belis (paca) pada perkawinan sebelumnya, faktor tanggungjawab suami dari perkawinan sebelumnya, dan faktor cinta.
KAYUAN SEBAGAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BALI AGA
Hironimus Sudin;
Aliffiati *;
I Nyoman Suarsana
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4896
Desa Pedawa merupakan salah satu desa Bali Aga yang terdapat di kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng yang memiliki seperangkat kearifan lokal mengenai kayuan atau sumber mata air yang bersifat sakral dan masih dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat. Kayuan merupakan sumber air atau mata air yang disakralkan berhubungan erat upacara adat dan keagamaan. Kayuan atau sumber air berfungsi sebagai sarana untuk pemuput upacara adat desa di Pedawa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikian kayuan sebagai kearifan lokal, serta untuk mengetahui fungsi dan makna kayuan di Desa Pedawa. Penelitian ini menggunakan teori dari Robert K. Merton tentang fungsi manifest dan fungsi laten dan teori interpretatif Clifford Geertz untuk mengetahui makna simbol dari kayuan. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Analisis yang digunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kayuan sebagai kearifan lokal sangat berperan penting dalan kehidupan manusia baik kebutuhan domestik maupun upacara adat dan keagamaan. Kayuan merupakan unsur terpenting yang sangat sakral sebagai sarana pemuput upacara adat dan keagamaan masyarakat desa Pedawa. Kayuan sebagai kearifan lokal terdapat fungsi manifest dan fungsi laten. Fungsi manifest dari kayuan atau sumber air merupakan unsur yang penting dalam pelaksanaan upacara adat dan keagamaan sebagai sarana upacara, hal ini tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Pedawa. Fungsi laten dari kayuan yaitu untuk mempererat soilidaritas terlihat dari kerjasama dari masyarakat Pedawa dalam menjaga sumber air.
FUNGSI HUKUM PARIWISATA DALAM PERLINDUNGAN DAN PELESTARIAN OBYEK WISATA
Ni Luh Made Elida Rani
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Belajar dari wabah virus corona ini Indonesia tidak bisa lagi untuk bergantung pada satu segmen market wisatawan saja. Kebijakan pemasaran pariwisata tidak saja harus mempertimbangkan sisi ekonomi tetapi juga mempertimbangkan faktor-faktor kesehatan global yang berhubungan dengan negara darimana wisatawan itu berasal. Tentang produk pariwisata, seperti paket wisata, penginapan, kuliner, oleh-oleh, selain faktor kreatifitas, keamanan, dan kenyamanan, juga harus mengontrol ketat standar kesehatan dalam menyajikannya kepada wisatawan. Wisatawan dunia sudah semakin cerdas, mereka dalam memilih destinasi pariwisata yang akan dikunjungi akan terlebih dahulu melakukan observasi, riset tentang lingkungan di daerah itu. Di tengah trend wisatawan seperti ini maka sangatlah penting bagi Indonesia untuk dapat memenuhi segala keinginan wisatawan-wisatawan yang sedang memilih destinasi ini.
KONTRADIKSI PRINSIP HUKUM MEMPERSUKAR PERCERAIAN DENGAN KEBAHAGIAAN KEHIDUPAN PERKAWINAN
IB. Alit Yoga Maheswara
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4931
Perpisahan atau lazimnya disebut perceraian adalah suatu hal yang dapat dilakukan oleh suatu pasangan jika dinilai sudah tidak bisa lagi menjalani mahligai perkawinan. Berbagai macam alasan yang menjadi syarat–syarat suatu pasangan bisa mengakhiri kehidupan perkawinannya juga telah diatur oleh undang–undang namun dinilai sebagai suatu syarat yang ternyata sangat mudah. Hal itu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka perceraian di Indonesia diluar dari alasan ekonomi, pribadi dan juga adat istiadat dan agama. Demi menekan tingginya angka perceraian di Indonesia, Mahkamah Agung mengeluarkan surat edaran yang isinya mengatur mengenai prinsip mempersukar perceraian. Namun dapat diteliti bahwa prinsip mempersukar perceraian ini juga bertentangan dengan Undang – undang Perkawinan sebagai catatan bahwa Undang – undang tersebut ada untuk menjamin kebahagiaan pasangan suami istri, sehingga adanya kontradiksi tujuan pemerintah dalam upaya membangun kehidupan pasangan suami istri yang bahagia dengan upaya untuk menekan angka kasus perceraian itu sendiri. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya suatu tumpang tindih kebijakan pemerintah dalam upaya mensejahterakan rakyatnya, berupaya untuk memberikan pendapat sehingga kedepannya dapat diteliti lebih jauh untuk mendapatkan solusi yang lebih baik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan normatif yuridis dengan lebih menitik beratkan pada analisa terhadap peraturan perundang- undangan dan literatur – literatur yang terkait.
KONSEP DAN IMPLEMENTASI KERUKUNAN UMAT BERAGAMA: (Studi Kasus di Desa Taropo, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu)
Ardiansyah *
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32795/vw.v6i2.4939
Indonesia merupakan negara multikultural yang memiliki berbagai macam Ras, Budaya, Suku dan Agama. Begitu juga di Desa Taropo yang dikenal sebagai Indonesia kecil yang memiliki berbagai macam Budaya, Suku, dan Agama. Artikel ini berupaya mengangkat konsep dan implementasi kerukunan umat beragama di Desa Taropo. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologis dan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini yaitu masyarakat Desa Taropo masih menggunakan budaya dan kerjasama sehingga melahirkan toleransi beragama. Peran pemerintah juga sangat diperlukan mengingat pemerintah merupakan penjaga dalam segi kerukunan terutama kerukunan umat beragama. Selain itu ada beberapa upaya yang dilakukan dalam menjaga kerukunan yakni memfasilitasi segala bentuk kegiatan masyarakat, memfasilitasi pertemuan antar tokoh-tokoh agama, dan mefasilitasi gotong royong antara dua desa baik Desa Taropo maupun Desa Mbuju tanpa membedakan status agama, ras, dan budaya.
WARNA ALAM DALAM BENANG TENUN TRADISIONAL BALI PERSPEKTIF SENI RUPA HINDU
I Kadek Sumadiyasa;
I Ketut Suwidiarta;
Ni Made Surawati;
Ida Ayu Putu Sari
VIDYA WERTTA : Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia Vol. 6 No. 2 (2023): Vidya Wertta: Media Komunikasi Universitas Hindu Indonesia
Publisher : FAKULTAS ILMU AGAMA DAN KEBUDAYAAN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Warna Bali dalam tatanan kebudayaan Bali sejak dahulu kala mengandung simbol-simbol ketuhanan yang dipakai dalam karya seni rupa. Warna alam bersifat unik mempunyai kandungan zat pewarna alami dan berkarakter anggun dan berwibawa. Warna alam mempunyai fungsi sesuai dengan kegunaannya baik secara pendidikan, seni, sosial, dan relegi. Warna alam ini dipergunakan secara turun temurun menghasilkan sapuan warna yang berkarakter dan mempunyai identitas kebalian. Dalam penelitian ini penulis akan membahas warna alam dalam benang tenun tradisional Bali perspektif seni rupa Hindu. Melihat perkembangan jaman terjadi fenomena yaitu warna alam yang semula telah tersisihkan penggunaannya dengan pemakaian warna sintetis, saat ini mulai digali karena disadari bahwa warna sintetis tidak ramah lingkungan dan mencemari kesehatan manusia, sedangkan warna alam ramah terhadap lingkungan dan tidak mencemari kesehatan manusia.