Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

BENTUK-BENTUK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MISKIN OLEH BAITUL MALL DI KOTA BANDA ACEH Juhari; Teuku Zulyadi
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 2 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i2.116

Abstract

Fenomena kemiskinan tidak saja terjadi di daerah pedasaan, akan tetapi juga dialami oleh masyarakat perkotaan. Munculnya corona virus disease (covid-19) tampak semakin mendorong peningkatan angka kemiskinan khususnya masyarakat Kota Banda Aceh. Berbagai ragam geliat perekonomian masyarakat beranjak mundur seiring dengan lahirnya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) oleh pemerintah. Meskipun kebijakan ini bertujuan memutuskan mata rantai peredaran Covid-19, namun telah berdampak cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kota Banda Aceh. Kemiskinan memang telah menjadi persoalan umum masyarakat dunia yang tidak mudah diselesaikan, tetapi tidak bermakna tidak bisa dicarikan solusi. Baitul Mal menjadi salah satu tumpuan harapan bagi penyelesaian persoalan kemiskinan terutama dalam menjawab kemana arah pemberdayaan masyarakat dan bagaimana bentuk pemberdayaan masyarakat Kota Banda Aceh..? Untuk memperoleh data terkait arah pembinaan masyarakat ini, maka penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan  in-depth interview, appreciative inquiry, dan studi dokumen. Proses analisis data diperkuat dengan menghubungkannya dengan Teori Intervensi. Teori ini dipandang cukup relevan karena baitul Mal Kota Banda Aceh  juga melakukan sejumlah intervensi dalam rangka memberdayakan ekonomi kerakyatan. Hasil penelitian menggambarkan bahwa baitul mal telah melakukan beberapa intervensi dalam rangka pemberdayaan masyarakat miskin dalam berbentuk colaboratif dan uswah fardiyah sehingga telah mendorong percepatan kemandirian masyarakat miskin.  
AKSIOLOGI ILMU PENGETAHUAN (Telaah Tentang Manfaat Ilmu Pengetahuan dalam Konteks Ilmu Dakwah) Juhari Hasan
Al-Idarah: Jurnal Manajemen dan Administrasi Islam Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.284 KB) | DOI: 10.22373/al-idarah.v3i1.4839

Abstract

Perkembangan ilmu Dakwah memang belum begitu kuat dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain yang sudah berkembang cukup lama. Saat ini usia ilmu dakwah masih sangat muda dan masih dipedebatkan oleh sebagian ilmuan, terutama pada aspek epistemologisnya. Ini adalah hal yang wajar, karena setiap ilmu baru yang diperkenalkan kepada publik pasti menimbulkan pro-kontra di kalangan ilmuan. Terlepas dari sikap pro dan kontra tersebut, bahwa wacana ilmiah tentang ilmu dakwah sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru sudah mulai berkembang dengan baik. Untuk penguatan ke depan, ilmu ini masih memerlukan sentuhan pemikiran para ilmuan agar ia bisa berkembang sebagaimana ilmu lainnya, bukan justeru menyerang dengan hanya melihat sisi-sisi kekurangan yang dimilikinya. Lebih jauh, kajian ini ingin menelusuri axiologi ilmu dakwah. Kajian tentang kebermanfaatan ilmu (aksiologis) ini salah satunya bertujuan ingin memberikan dukungan terhadap  proses kemajuan ilmu dakwah di antara ilmu-ilmu lainnya.  Memang tidak mudah untuk menentukan kriteria/ ukuran suatu ilmu itu bermanfaat atau tidak. Namun demikian, tulisan ini mencoba memberikan kriteria kebermanfaatan itu secara sederhana dalam perspektif ilmu dakwah. 
INTERACTION BETWEEN RELIGIOUS PEOPLE POST SOCIAL CONFLICT IN ACEH SINGKIL DISTRICT Juhari Juhari; Zulfadli Zulfadli
Islam Futura Vol 19, No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v19i2.3683

Abstract

The case Singkil district in October 2015 in the form of inter-religious clashes that led to the burning of churches and loss of life is the fact that social interaction anatar religious adherents in the district of Gunung Meriah has not gone well. This study focused on the background of conflict, the interaction between religious communities after conflict and efforts to foster religious harmony after a conflict in Aceh Singkil. This study used a qualitative approach by using in-depth interviews, Focus Group Discussion (FGD), and study the documentation as data collection techniques. The results showed that the social conflict between religious communities is part of the social dynamics that occur in the community that stretches the inter-religious relations, but on the other hand can strengthen internal solidarity respective faiths. Forms of social interaction leads to the associative process and found to be also the potential that may lead to forms of dissociative interaction. Other forms of social interaction among religions is mutual cooperation, kinship, mutual silaturrahmi and respect among religions. The search results show that during the Aceh Singkil district government has sought to provide guidance to inter-religious harmony though not maximized. This is evident from the Government's efforts impressed yet to find effective strategies for conflict resolution that is holistic, systemic and regenerative. Then it can be predicted that the events of religious conflicts are still likely to occur in the future, both in the district of Gunung Meriah and elsewhere, especially in the district of Aceh Singkil.
Muatan Sosiologi dalam Pemikiran Filsafat John Locke Juhari Juhari
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 19, No 1 (2013): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v19i27.94

Abstract

John Locke was not only known as a philosophers or political figures , but he was also very instrumental in laying a very strong rationale for the development of the sociology. Locke rejected the truth of rationalism that developed by philosophers in determining the source of knowledge and replace it with an empirical truth. Locke found that sense has limitations in determining the source of knowledge. On the one hand, what his mind is not necessarily consistent with the fact that there is, on the contrary the fact that there are quite a lot but have not thought up by intellect . Whatever the thinking mind is always something to do with the fact that there is , because it's basically a passive sense before it is stimulated by the five senses . This is the background to create the theory of Tabularasa. Thought it offers empiricism has become a sound basis for the development of the science of sociology. This also underlies the formation of 3 major paradigms in sociology , the paradigm of social facts , social definitions and social behavior .
RESPONS ULAMA DAYAH DARUSSA’ADAH TERHADAP PROBLEMA SOSIAL KEAGAMAAN DI ACEH Juhari Juhari
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 22, No 2 (2016): Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v22i34.877

Abstract

Abstrak: Problema sosial keagamaan dapat muncul dalam masyarakat manapun tanpa mempertimbangkan ruang dan waktu. Aliran sesat yang berkembang di Aceh merupakan bagian dari problematika itu, karena telah mengusik keharmonisan sosial masyarakanya. Dalam situasi seperti ini, ulama – khususnya yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Darussa’adah – dituntut mampu merespons berbagai persoalan yang dihadapi umat secara arif. Namun secara realitas mereka belum mampu memberikan respons solutif terhadap persoalan keummatan semisal aliran sesat sehingga ketenangan masyarakat semakin terganggu. Karena itu penelitian ini dilakukan untuk menemukan bentuk respons ulama Dayah Darussa’adah dalam menyikapi aliran sesat dan benih-benih perpecahan dalam masyarakat Aceh. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa Respon yang diberikan ulama Dayah Darussa’adah baru berbentuk lisaniyah, yaitu berupa penyampaian informasi secara oral melalui pengajian dan ceramah agama. Respons berbentuk lisaniyah ini dipandang kurang efektif sehingga pengarunya sangat kecil dalam upaya menjawab berbagai problema sosial keagamaan dalam masyarakat. Kata Kunci : Respons Ulama; problema sosial keagamaan Abstract: Social religious problems can appear in any society with no condition of place and time. One of the problems is pervert sect of religion and this condition has disturbing social harmony. In this situation, Ulamas especially who associated under Darussa’adah Islamic Education Foundation is requiring to respond to the various and complicated problems face by the community wisely. However, realistically they are still unable to provide a comprehensive solution to such this problem so that the social harmony is alarming. This study is aiming to figure out the appropriate respond of Ulama Dayah Darussa’adah in dealing with pervert sect and frictions seeds in Acehnese people. The result of the research found that the responds of the Ulama Darussa’adah is still in verbal way. They are informing the community verbally through worship and preaching. This kind of respond is considering less effective because not answering various social religious problem in community adequately. Key Words : The Respons of Ulama; Religious Sosial Problems.
PERUBAHAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF DAKWAH Juhari Juhari
Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah Vol 21, No 2 (2015): Jurnal Al Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/albayan.v21i32.428

Abstract

Perubahan sosial merupakan fenomena umum yang terjadi dalam kehidupan manusia sebagai makhluk bermasyarakat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Selama ini terdapat kecenderungan bahwa term tentang perubahan sosial cenderung dibahas dalam studi ilmu-ilmu sosial khususnya sosiologi. Namun secara akademik, studi ini tidak saja menjadi klaim ilmu sosiologi saja, akan tetapi dapat juga dianalisis menurut ilmu-ilmu lain khususnya ilmu dakwah. Secara teoritis, ketika sosiologi memandang perubahan sebagai fenomena umum yang bersifat bebas nilai, maka perspektif dakwah memandang perubahan itu sebagai fenomena umum yang terikat oleh nilai-nilai tertentu, sehingga perubahan itu telah menjadi bagian dari tujuan dakwah itu sendiri. Hanya saja konteks perubahan sosial itu belum dirumuskan secara baik dalam studi ilmu dakwah. Karena itu penelitian ini mencoba merumuskan konsep perubahan sosial dalam perspektif ilmu dakwah melalui data terkait. Kata Kunci : Perubahan Sosial – Dakwah. Social change is a common phenomenon that occurs in the life of social beings without being limited by time and space. This time there is a tendency that the term of social change tends to be discussed in the study of the social sciences , especially sociology . But in academically, this study is not only a claim of sociological science , but can also be analyzed with the other sides of sciences, especially the science of dakwah. In theoretically , when sociology views change as a common phenomenon that is value-free , then the dakwah perspective view the change as a common phenomenon that is bound by certain values , so that the changes it has become part of the purpose of dakwah itself . But today the context of the social changes that have not been well defined in the study of dakwah . Therefore, this study tries to formulate the concept of social change in the perspective of the science of dakwah. Key word : Social change – dakwah.
STRATEGI UNITED SABAH ISLAMIC ASSOCIATION (USIA) DALAM MENGEMBANGKAN DAKWAH DI KOTA KINABALU MALAYSIA Juhari Hasan; Muhd. Syahrul Nizam
Jurnal MD Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1573.663 KB) | DOI: 10.14421/jmd.2017.31-01

Abstract

Dalam realitas kehidupannya, masyarakat Islam selalu dihadapkan denganberbagai persoalan baik internal maupun eksternal. Untuk itu diperlukan aktivitas dakwah sebagai media penguatan pemahaman umat. Tujuan aktivitas dakwah adalah menyampaikan risalah Islam agar panji-panji kebenaran terus mewarnai kehidupan masyarakat di Kota Kinabalu Malaysia. Untuk tegaknya dakwah maka diperlukan strategi tertentu sehingga memudahkan pelaksanaan dakwah itu sendiri. Sebagai salah satu organisasi dakwah terkemuka di Sabah, USIA telah mempraktikkan beberapa strategi untuk mengembangkan dakwah yang terangkum dalam grand strategy dengan cara membentuk jaringan dakwah. Strategi ini erat hubungannya dengan teori jaringan yang dikembangkan oleh Wellman. Kajian ini lebih bersifat induktif kualitatif dengan mengutamakan data hasil wawancara, studi dokumentasi, dan observasi terbatas yang dilakukan selama proses pengumpulan data berlangsung.
ARAH DAN MODEL PEMBINAAN MUALLAF PADA ORGANISASI DEWAN DAKWAH ACEH DAN FORUM DAKWAH PERBATASAN Juhari
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 9 No. 1 (2021): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47574/kalam.v9i1.103

Abstract

Penelitian ini bertitik tolak dari minimnya perhatian terhadap pembinaan kaum muallaf yang diberikan oleh banyak pihak, baik bersifat individu maupun organisasi. Dalam kondisi ini dijumpai ada dua organisasi Islam, yaitu Dewan Dakwah Islam Aceh (DDA) dan Forum Dakwah Perbatasan (FDP) yang serius memberikan perhatian terhadap pembinaan Muallaf, terutama mereka yang menjadi muslim sebagai bagian dari keberhasilan dakwah FDP dan DDA. Karena itu penelitian dilakukan di kedua organisasi Islam ini dengan pendekatan kualitatif. Proses pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara,observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 (tiga) arah pembinaan yang dilakukan, yaitu bina Agama, Bina Ekonomi dan Bina Pendidikan. Untuk melakukan pembinaan terhadap ketiga sisi tersebut, maka diperlukan model yang efektif. Berdasarkan data yang dikumpulkan menunjukkan ada 2 (dua) model pembinaan yang selama ini dilakukan banyak pihak, yaitu (1) Model Strukturalis, dan (2) model Kolaboratif. Dari kedua model ini, kolaboratif merupakan model yang dipraktikkan oleh FDP dan DDA dalam membina kaum muallaf baik melalui pendekatan personal, silaturrahmi maupun halaqah. Bila dikaitkan dengan teori Constructuralis karya Von Glasersfield maka pembinaan  agama dan ekonomi dilakukan melalui  proses pendidikan. Glasersfield menyimpulkan bahwa pendidikan memegang peran strategis dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, khususnya para muallaf.   This research based on the low of attention to coaching of muallaf  by many parties, both individuals and organizations. In this case, found two Islamic organizations  namely Dewan  Dakwah Aceh and the Forum Dakwah Perbatasan which seriously paid attention to empowering of the Muallaf, especially those who became Muslims as part of the process of their dakwah activities. Therefore the research was carried out in these two Islamic organizations with a qualitative approach. The data collection process was carried out by interviewing, observing and studying documents. The results of the research showed  3 (three) directions of coaching, namely Religious Development, Economic Development and Education Development. To do coaching on these three sides, an effective model is needed. Based on the data collected, it shows that there are 2 (two) coaching models that have been carried out by many parties, namely (1) the Structuralist Model, and (2) the Collaborative Model. Based on these models, collaborative is one of a model that is practiced by the FDP and DDA in fostering the muallaf through personal, friendship and halaqah approaches. In relation to the theory of Constructuralist  by Von Glasersfield, religious and economic development is carried out through the educational process. Glasersfield concluded that education is a strategic role in empowering the community, especially the Muallaf.
EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) TERHADAP PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KECAMATAN TRIPA MAKMUR KABUPATEN NAGAN RAYA Juhari Juhari; Ela Yunita
Al-Idarah: Jurnal Manajemen dan Administrasi Islam Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-idarah.v5i2.15328

Abstract

Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program pemberi bantuan sosial bersyarat kepada keluarga miskin, sebagai upaya percepatan penanggulangan kemiskinan. Program ini menyeluruh di Indonesia termasuk di Provinsi Aceh Kecamatan Tripa Makmur. Kajian ini dilakukan untuk melihat efektifitas dari penerapan program PKH dalam masyarakat. Kajian ini juga ingin mengetahui hak dan kewajiban penerima PKH, strategi implementasi PKH dalam penanggulangan kemiskinan, serta bagaimana program bantuan PKH tersalurkan menyeluruh di Kecamatan Tripa Makmur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi, jenis penelitian ini adalah (field research). Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya masyarakat merasa terbantu dengan adanya bantuan dari PKH, masyarakat juga memenuhi hak dan kewajiban sebagai penerima bantuan PKH walaupun belum sepenuhnya terlaksana dengan sempurna, dan bantuan untuk saat ini juga sudah tersalurkan dan diterima dengan baik oleh penerima bantuan, walaupun  belum menyeluruh karna masih adanya penerima yang tidak tepat sasaran yang diakibatkan oleh keterlambatan dalam mengupdate data. Perlu adanya data yang kongkrit dan udate dalam penyaluran PKH kepada peserta sehingga tepat sasaran dan memanfaatkan sebaik mungkin bantuan yang diberikan sehingga menjadi keluarga yang lebih sejahtera.
STRATEGI DAKWAH PADA MASYARAKAT TERPENCIL DI SUKA DAME KECAMATAN TANAH PINEM KABUPATEN DAIRI SUMATERA UTARA Juhari
Kalam: Jurnal Agama dan Sosial Humaniora Vol. 10 No. 2 (2022): Agama dan Sosial Humaniora
Publisher : Lembaga Studi Agama dan Masyarakat Aceh (LSAMA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di antara persoalan dakwah yang dihadapi masyarakat pedalaman di desa Suka Dame Kecamatan Tanah Pinem Kabupaten Dairi adalah belum berkembangnya dakwah secara memadai baik dalam arti sempit seumpama ceramah maupun dalam arti luas seperti penguatan keagamaan, pendidikan maupun kemandirian ekonomi. Padahal dakwah merupakan kewajiban yang bersifat mengikat bagi setiap Muslim sesuai kemampuan dan strategi yang dimilikinya. Penelitian ini terfokus pada strategi dakwah yang dikembangkan oleh Forum Dakwah Perbatasan (FDP) di desa Suka Dame, yang merupakan sebuah desa terpencil di pedalaman Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Ketepatan strategi yang digunakan akan berpengaruh pada  hasil dakwah yang dicapai. Strategi dakwah di perkotaan akan berbeda dengan strategi di pedesaan. Untuk dakwah di daerah pedesaan yang terpencil memerlukan strategi tersendiri yang bersifat kolaboratif antara kekuatan stuktural, kultural dan pelaku profesional. Ketiga elemen ini menjadi penting dan strategis untuk pelaksanaan dakwah di daerak terpencil.   The problems of dakwah in rural communities in Suka Dame Village, Tanah Pinem Subdistrict, Dairi North Sumatera is still not yet developed optimally and has not touched on the aspect of Islamic strengthening, education and economic independence. Even though dakwah is a binding obligation for every Muslim according to the abilities and strategies he has. This research focuses on the strategy da'wah developed by the  Forum Dakwah Perbatasan (FDP) in Suka Dame village, which is a remote village in the interior of Dairi Regency, North Sumatra. The accuracy of the strategy used will affect the results of the da'wah achieved. The  strategies of Da'wah in urban areas will be different than rural areas. Da'wah in the rural areas need a separate  collaborative strategy between structural, cultural and professional actors of da’wah. These three elements are important and strategic for the implementation of da'wah in remote areas.