cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025" : 9 Documents clear
Prioritas Pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo Terhadap Keberlanjutan Ekosistem Terumbu Karang Rumasoreng, Samsul Bahri; Yulianda, Fredinan; Yulianto, Gatot
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.17525

Abstract

Penetapan skala prioritas dalam pengelolaan memiliki peran krusial sebagai pedoman bagi pengelola kawasan dalam mengoptimalkan pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas pengelolaan kawasan Taman Wisata Alam Pulau Pombo bagi keberlanjutan ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode jejaring Analitik (Analytic Network Process). Permasalahan dan solusi dalam menentukan prioritas pengelolaan dikategorikan ke dalam empat cluster utama, yaitu: ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Masing-masing cluster terdiri dari sub-cluster yang disusun berdasarkan hasil wawancara dengan para ahli dan pemangku kepentingan, menggunakan metode purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa masalah prioritas utama pengelolaan adalah cluster ekologi dengan nilai normalized sebesar 0.3659, nilai Kendall’s (W) yakni W=0,904, yang berarti 90,4% responden sepakat bahwa prioritas masalah pengelolaan adalah cluster ekologi, sedangkan prioritas solusi dari setiap cluster menunjukkan cluster ekologi menjadi prioritas utama dengan nilai normalized sebesar 0.3606, nilai Kendall’s (W) yakni W=1, yang berarti 100% responden sepakat fokus utama yang paling relevan dalam mengatasi pengelolaan Taman Wisata Alam Pulau Pombo bagi keberlanjutan ekosistem terumbu karang adalah prioritas cluster ekologi. Prioritas pengelolaan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, sosial dan kelembagaan yang dapat dilakukan melalui: (i) rehabilitasi ekosistem terumbu karang; (ii) tingkatkan infrastruktur penunjang pengelolaan kawasan; (iii) program edukasi konservasi; dan (iv) pengadaan peralatan penunjang fasilitas pengawasan.Title: Priority Management of Pombo Island Natural Tourism Park on the Sustainability of Coral Reef EcosystemsThe determination of priority scales in management has a crucial role as a guideline for area managers in optimizing the management of Pombo Island Natural Tourism Parks. This study aims to analyze the management priorities of the Pombo Island Nature Tourism Park area for the sustainability of coral reef ecosystems using the Analytic Network Process method. Problems and solutions in determining management priorities are categorized into four  main clusters, namely: ecological, economic, social, and institutional. Each cluster consists of sub-clusters that are compiled based on the results of interviews with experts and stakeholders, using the purposive sampling method. The results of the analysis showed that the main priority problem of management was the ecological cluster  with a normalized value  of 0.3659, the Kendall's value (W) was W = 0.904, which means that 90.4% of respondents agreed that the priority of the management problem was the ecological cluster, while the priority of the solution of each cluster showed  the cluster Ecology is the top priority with  a normalized value  of 0.3606, Kendall's value (W) is W=1, which means that 100% of respondents agree that the most relevant main focus in overcoming the management of the Pombo Island Nature Tourism Park for the sustainability of coral reef ecosystems is the cluster priority ecology. Management priorities by considering ecological, economic, social and institutional aspects that can be carried out through: (i) coral reef ecosystem rehabilitation; (ii) improve infrastructure to support regional management; (iii) conservation education programs; and (iv) procurement of supporting equipment for surveillance facilities.
Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove di Desa Kayu Arang Kabupaten Bangka Barat Herdianingsih, Ajeng; Akhrianti, Irma; Wahidin, La Ode
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16125

Abstract

Ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang berada dalam kondisi yang masih terjaga dan memiliki peran penting baik dari aspek ekologi maupun ekonomi. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menelaah kondisi dan fungsi ekosistem, namun data mengenai nilai ekonominya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besaran nilai guna, nilai non-guna, dan nilai ekonomi total (NET) ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang Kabupaten Bangka Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2024 dengan melibatkan 50 orang responden yang dipilih menggunakan pendekatan snowball sampling, stratified sampling dan purposive sampling. Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder bersifat deskriptif kuantitatif. Data primer dikumpulkan secara langsung melalui wawancara, kuesioner, dan observasi lapangan. Data sekunder diperoleh dari instansi terkait, studi pustaka, dan data citra Sentinel-2A. Analisis data dilakukan dengan pendekatan market price, benefit transfer, contingent valuation method (CVM), serta 10% dari nilai guna langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi total (NET) ekosistem mangrove di Desa Kayu Arang diestimasikan sebesar Rp46.283.106.017/tahun dengan luas mangrove mencapai 600 hektar, terdiri atas nilai guna sebesar Rp46.062.971.843/tahun dan nilai non-guna sebesar Rp220.134.174/tahun. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa ekosistem mangrove memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan dan menyediakan informasi penting bagi perencanaan pengelolaan kawasan yang berkelanjutan.Title: Economic Valuation ff Mangrove Ecosystem In Kayu Arang Village, West Bangka Regency    The mangrove ecosystem in Kayu Arang Village remains relatively well-preserved and plays an important role both ecologically and economically. Although several previous studies have examined the condition and functions of this ecosystem, data on its economic value is relatively limited. This study aims to calculate the magnitude of use value, non-use value, and total economic value (TEV) of the mangrove ecosystem in Kayu Arang Village, West Bangka Regency. The study was conducted in July 2024, involving 50 respondents selected using snowball sampling, stratified sampling, and purposive sampling approaches. The data consisted of primary and secondary data analyzed using a quantitative descriptive approach. Primary data were collected directly through interviews, questionnaires, and field observations. Secondary data were obtained from relevant agencies, literature review, and Sentinel-2A imagery. Data analysis was conducted using the market price approach, benefit transfer, contingent valuation method (CVM), and 10% of direct use value. The results show that the total economic value (NET) of the mangrove ecosystem in Kayu Arang Village is estimated at IDR 46,283,106,017 per year, covering an area of approximately 600 hectares, with a use value of IDR 46,062,971,843 per year and a non-use value of IDR 220,134,174 per year. This value indicates that the mangrove ecosystem provides a significant economic contribution and offers essential information for sustainable ecosystem management planning.
Identifikasi Klaster Maritim Unggulan Melalui Analisis Interregional Input Output (IRIO) Studi Kasus: Provinsi Sulawesi Selatan Syafii, Ghulam An-Nabalah Bani; Sitanggang, Claudia Janefer Romora; Saputri, Wahyu Widuri Andoko
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.18023

Abstract

Ekonomi biru kini menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang krusial untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan. Sebagai pusat pertumbuhan di Kawasan Timur Indonesia, Sulawesi Selatan memiliki potensi maritim yang besar. Namun, wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam transisi menuju ekonomi biru untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi kinerja sektor maritim Sulawesi Selatan dengan mengidentifikasi klaster maritim unggulan yang memiliki dampak pengganda ekonomi terbesar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis keterkaitan (linkage analysis) dan dampak pengganda (multiplier effect). Data yang digunakan meliputi Tabel Interregional Input-Output (IRIO) Indonesia 2016, data Produk Domestik Bruto (PDB) Maritim, dan Tabel Konkordansi KBLI-Klaster Maritim dari Kemenkomarves-BPS. Hasil analisis menunjukkan bahwa Klaster Sumber Daya Energi (SDE) Maritim menjadi klaster maritim unggulan di Sulawesi Selatan yang memberikan dampak pengganda terbesar. Secara spesifik, sektor industri makanan-minuman dan industri barang galian bukan logam memiliki keterkaitan kebelakang (backward linkage) dan kedepan (forward linkage) tertinggi. Hal ini mengindikasikan kemampuan stimulasi kuat sektor ini terhadap sektor hulu maupun hilir. Rekomendasi dari penelitian ini adalah memfokuskan investasi pada akselerasi hilirisasi produk laut seperti rumput laut dan perikanan tangkap melalui insentif fiskal di kawasan industri pengolahan, pengembangan industri material konstruksi ramah lingkungan untuk mendukung infrastruktur pesisir misalnya pembangunan pelabuhan hijau, dan penguatan konektivitas logistik pelabuhan untuk efisiensi distribusi produk unggulan ke pasar global.Title: Identification Of Leading Maritime Clusters Through Interregional Input-Output (IRIO) Analysis Case Study: South Sulawesi Province    The blue economy is now a crucial new source of economic growth that must be utilized sustainably. As a growth center in Eastern Indonesia, South Sulawesi has significant maritime potential. However, this region still faces challenges in transitioning to a blue economy to increase added value and regional competitiveness. This study aims to optimize the performance of South Sulawesi's maritime sector by identifying leading maritime clusters with the greatest economic multiplier impact. The study uses a quantitative approach through linkage analysis and multiplier effects. The data used include the 2016 Indonesian Interregional Input-Output (IRIO) Table, Maritime Gross Domestic Product (GDP) data, and the KBLI-Maritime Cluster Concordance Table from the Coordinating Ministry for Maritime Affairs and Investment-BPS. The analysis results indicate that the Maritime Energy Resources (SDE) is the leading maritime cluster in South Sulawesi with the greatest multiplier impact. Specifically, the food and beverage and non-metallic mining sectors have the highest backward and forward linkages. This indicates the sector's strong stimulating potential for both upstream and downstream sectors. This research recommends focusing investment on accelerating the downstream processing of marine products such as seaweed and capture fisheries through fiscal incentives in industrial processing areas, developing an environmentally friendly construction materials industry to support coastal infrastructure, such as the development of green ports, and strengthening port logistics connectivity for efficient distribution of superior products to the global market.
Peran Budi Daya Keramba Jaring Apung Pada Aliran Rantai Pasok, Tantangan dan Peluang Industri Akuakultur di Karimun Jawa Arismawati, Paramaditya; Nurhalissa, Rahmalia
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.15764

Abstract

Budi daya perairan yang menggunakan metode Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan industri yang sedang berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. KJA merupakan salah satu metode yang dapat mendorong peningkatan produksi serta optimalisasi pemanfaatan lahan budi daya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis aliran rantai pasok, tantangan dan peluang di industri akuakultur guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Tujuan penelitian untuk memetakan aliran rantai pasok dari hulu ke hilir serta mengidentifikasi tantangan dan peluang pengembangan produk sampingan ikan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka berpikir FSCN (Food Supply Chain Networks) yang dipetakan lima elemen rantai pasok diantaranya pra panen (pemasok benih ikan dan pembudi daya ikan) dan pasca panen (pengepul ikan hidup dan mati, pengecer dan konsumen akhir). Hasil penelitian menunjukan rantai pasok terintegrasi dengan baik antara para pelaku dan industri pengolahan ikan. Hasil analisis kinerja rantai pasok menggunakan margin pemasaran dan farmer’s share menunjukkan bahwa saluran II lebih efisien karena margin pemasarannya rendah, namun nilai farmer’s share-nya tinggi. Sementara itu, tantangan dan peluang yang teridentifikasi meliputi regulasi zonasi perairan, ekspor, serta pengolahan produk sampingan ikan kerapu cantang dengan membuat keripik kulit, abon dan berbagai aksesoris untuk sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Pemanfaatan produk sampingan ikan kerapu cantang berpotensi memberikan keuntungan bagi produsen utama dan sektor pangan (seperti pembudi daya ikan, peternakan, dan pertanian) di Karimun Jawa, Jepara. Rekomendasi kebijakan meliputi peningkatan akses masyarakat terhadap teknologi budi daya dan pengolahan ikan, pembinaan dan pelatihan untuk pengembangan produk sampingan olahan ikan, dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur untuk keperluan budi daya ikan.Title: The Role of Floating Net Cage Farming in the Supply Chain Flow, Challenges and Opportunities of the Aquaculture Industry in Karimun Java Aquaculture utilizing the Floating Net Cage (KJA) method is a growing industry that provides economic benefits to coastal communities. KJA is one of the methods that can enhance production and optimize the utilization of aquaculture land. This research was conducted to analyze the supply chain flow, challenges, and opportunities in the aquaculture industry to improve the welfare of coastal communities. The study aims to map the supply chain flow from upstream to downstream and identify challenges and opportunities in developing fish by-products. The research method employs a qualitative approach with the Food Supply Chain Networks (FSCN) framework, mapping five supply chain elements, including pre-harvest (fish seedsuppliers and fish farmers) and post-harvest (collectors of live and dead fish, retailers, and end consumers). The findings indicate that the supply chain is well-integrated between stakeholders and the fish processing industry. Supply chain performance analysis using marketing margin and farmer’s share shows that Channel II is more efficient due to its low marketing margin but high farmer’s share. Meanwhile, the identified challenges and opportunities include water zoning regulations, export policies, and the processing of hybrid grouper (kerapu cantang) by-products into value- added products such as fish skin chips, shredded fish flakes (abon), and various accessories, providing additional income sources for the community. The utilization of hybrid grouper by- products has the potential to benefit primary producers and the food sector (e.g., fish farmers, livestock, and agriculture) in Karimun Jawa, Jepara.
Penentuan Komoditas Perikanan Strategis Bagi Penguatan Ekonomi Wilayah Pesisir di Kabupaten Buton Tengah Nursalam, Nursalam; Nur, Indriyani; Darlina, Darlina; Bahari, Doddy Ismunandar
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16139

Abstract

Kabupaten Buton Tengah memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budi daya. Akan tetapi pengembangan sektor ini belum optimal karena belum tersedianya peta komoditas unggulan yang terarah dan tidak adanya analisis kuantitatif berbasis wilayah untuk mengukur keunggulan komoditas secara objektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis komoditas perikanan yang termasuk dalam kategori basis dan non-basis, serta menganalisis tingkat pertumbuhan produksi sektor perikanan di Kabupaten Buton Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2023 dengan menggunakan data sekunder berupa data runtun waktu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Tengah dan Provinsi Sulawesi Tenggara berdasarkan harga berlaku tahun 2018–2022. Analisis dilakukan dengan metode Location Quotient (LQ) untuk mengukur tingkat spesialisasi komoditas, dan Shift Share (SS) untuk menilai kecepatan pertumbuhan sektor. Hasil analisis menunjukkan bahwa satu-satunya komoditas basis dengan nilai rata-rata LQ > 1 adalah rumput laut, sedangkan komoditas non-basis (LQ < 1) meliputi ikan cakalang, tongkol, tuna, udang, bandeng, dan kerapu. Pertumbuhan produksi perikanan tergolong cepat (Gj – Nj > 1) pada periode 2018–2019, 2020–2021, dan 2021–2022, sedangkan pertumbuhan lambat (Gj – Nj < 1) terjadi pada periode 2019–2020.Title: Identification of Strategic Fisheries Commodities for Strengthening the Coastal Regional Economy in Buton Tengah Regency Buton Tengah Regency has considerable potential in fisheries resources, both in capture and aquaculture sectors. However, the development of this sector has not been optimal due to the absence of a well-directed map of leading commodities and the lack of region-based quantitative analysis to objectively assess commodity competitiveness. This study aims to identify fisheries commodities classified as basic and non-basic, and to analyze the production growth rate of the fisheries sector in Central Buton Regency. The research was conducted in November 2023 using secondary time series data from the Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Central Buton Regency and Southeast Sulawesi Province at current prices for the period 2018–2022. The data were analyzed using the Location Quotient (LQ) method to measure the level of commodity specialization, and the Shift Share (SS) analysis to assess the sector's growth rate. The results show that the only basic commodity with an average LQ > 1 is seaweed. Non-basic commodities (LQ < 1) include skipjack, mackerel tuna, tuna, shrimp, milkfish, and grouper. Fisheries production growth was categorized as rapid (Gj – Nj > 1) during the periods 2018–2019, 2020–2021, and 2021–2022, while slow growth (Gj – Nj < 1) occurred during the period 2019–2020.
Transformation of Sustainable Aquaculture Policy: The Blue Economy Perspective in Promoting Food Security Omalia, Noka; Mardhiah, Nellis
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.17510

Abstract

The high potential of aquaculture  does not automatically correlate with the achievement of sustainable food security due to the weak implementation of local aquaculture practices in the region.   Therefore, this study aims to identify the potential of aquaculture, the challenges of local practices, and recommendations for blue economy-based aquaculture policy transformation in promoting food security in West Aceh Regency. Data collection was conducted using a qualitative approach with in-depth interviews, field observations, and documentation studies. Informants were selected using purposive sampling techniques involving policy actors and key stakeholders in the aquaculture sector, including local government (policy actors), academics and knowledge institutions,  as key actors, and private parties involved in the production and distribution chain. Data analysis was carried out through data condensation, data reduction, data verification, and conclusion drawing.  The results show that the increase in aquaculture potential in West Aceh Regency is not directly proportional to sustainability and food security due to the gap between production expansion and governance capacity. The main obstacles include low adoption of eco-friendly technologies, limited capacity of farmers, and weak waste management, which reflect the lack of integration of blue economy principles such as resource efficiency and zero waste. This study identifies strengthening governance, zero waste-based waste management, and multisectoral collaboration as key leverage points in sustainable aquaculture transformation.   These findings indicate that strengthening aquaculture as a pillar of local food security requires policy leverage on governance reform, particularly zero waste management, capacity building and extension services for farmers, and cross-sector collaboration based on the blue economy.
Pemanfaatan Media Sosial Dalam Pemasaran Ikan Hias di Kota Bandung Saputra, Muhammad Fajar; Maulina, Ine; Rostika, Rita; Nurhayati, Atikah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.16520

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan media sosial dalam kegiatan pemasaran ikan hias di Kota Bandung dan menganalisis strategi dalam memaksimalkan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran (kuantitatif dan kualitatif) dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada 20 responden terdiri dari konsumen dan 5 responden pelaku usaha ikan hias. Data diperoleh dari sumber primer dan,  serta dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif, analisis Marketing Mix 7P, serta analisis SWOT.   Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram, WhatsApp, Facebook, dan TikTok digunakan secara aktif untuk kegiatan transaksi, meningkatkan visibilitas produk, dan memperluas jaringan pasar. Produk ikan hias yang paling banyak dibeli konsumen yaitu ikan air tawar seperti arwana, koki, guppy, dan datz, sedangkan untuk ikan laut yaitu ikan nemo. Berdasarkan analisis Marketing Mix 7P, strategi pemasaran yang diterapkan meliputi: penyajian produk yang menarik secara visual, harga yang bersaing, tempat distribusi berbasis digital, promosi melalui konten media sosial, orang (SDM) yang kompeten, proses layanan cepat dan interaktif, serta bukti fisik seperti kemasan yang sesuai standar. Analisis SWOT mengindikasikan bahwa kekuatan utama terletak pada jangkauan luas dan kemudahan penggunaan media sosial, sementara kelemahannya adalah keterbatasan pengetahuan digital sebagian pedagang. Peluang terbesar berasal dari tingginya minat masyarakat terhadap ikan hias, dan ancamannya adalah persaingan harga yang tidak sehat serta potensi penipuan daring. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan media sosial terbukti efektif dalam meningkatkan kinerja pemasaran ikan hias di Kota Bandung, dan penerapan strategi pemasaran berbasis digital melalui  pendekatan Marketing Mix 7P merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing dan jangkauan pasar pelaku usaha ikan hias.Title: Utilization of Social Media in Marketing Ornamental Fish in Bandung CityThis study aims to analyze the use of social media in ornamental fish marketing activities in Bandung City and analyze strategies in maximizing the use of social media as a promotional tool. The method used is a mixed approach (quantitative and qualitative) with data collection techniques through observation, interviews, and distribution of questionnaires to 20 respondents consisting of consumers and 5 respondents ornamental fish business actors. Data obtained from primary sources and, and analyzed using descriptive qualitative and quantitative approaches, Marketing Mix 7P analysis, and SWOT analysis. The results of the study show that Instagram, WhatsApp, Facebook, and TikTok are actively used for transaction activities, increasing product visibility, and expanding market networks. The ornamental fish products most purchased by consumers are freshwater fish such as arowana, koki, guppy, and datz, while for marine fish it is nemo fish. Based on the Marketing Mix 7P analysis, the marketing strategies implemented include: visually attractive product presentation, competitive prices, digital-based distribution places, promotion through social media content, competent people (HR), fast and interactive service processes, and physical evidence such as standard packaging. A SWOT analysis indicates that the main strength lies in the broad reach and ease of use of social media, while the weakness is the limited digital literacy of some traders. The greatest opportunity comes from the high public interest in ornamental fish, and the threats are unfair price competition and the potential for online fraud. The conclusion of this study shows that the use of social media has proven effective in improving ornamental fish marketing performance in Bandung City, and the implementation of a digital-based marketing strategy through the 7P Marketing Mix approach is an appropriate strategy to increase the competitiveness and market reach of ornamental fish businesses.
Digital Financial Inclusion as A Catalyst for Blue Economy Development: The Role of Regional Development Banks in Strengthening Fisheries and Marine Sector Revenue in East Java Hermita, Hermita; Nurdin, Nurliah; Taufiq, Muhammad; Karunia, R Luki
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.19848

Abstract

Indonesia's blue economy holds significant potential for regional economic development, yet coastal and fisheries communities remain underserved by formal financial services. This study examines how digital transformation in Regional Development Banks (BPDs) can drive financial inclusion and enhance revenue generation in the marine and fisheries sector. Using Bank Jatim as a case study, this research employs a qualitative approach with in-depth interviews and document analysis involving stakeholders from banking, regional government, fisheries agencies, and coastal community representatives. Findings reveal that digital financial services—including mobile banking, digital payment systems for fisheries transactions, and regional tax digitization—significantly improve access to capital for small-scale fishers and aquaculture businesses while accelerating Regional Own-Source Revenue (PAD) collection from marine resource levies. The study proposes an integrated Blue Economy Digital Finance Model encompassing four dimensions: (1) digital infrastructure for coastal financial inclusion, (2) adaptive institutional governance linking banks, fisheries agencies, and coastal communities, (3) capacity building for digital literacy among fishing households, and (4) collaborative policy frameworks aligning blue economy goals with regional fiscal sustainability. This research contributes to the literature on blue economy financing and provides policy recommendations for leveraging digital banking to strengthen Indonesia's marine and fisheries sector development.
Studi Kesejahteraan Rumah Tangga Nelayan di Kecamatan Sibolga Selatan Kota Sibolga Silitonga, Novi Liani; Martina, Martina; Fadli, Fadli; Barmawi, Barmawi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jsekp.v20i2.17156

Abstract

Nelayan merupakan kelompok masyarakat pesisir yang rentan secara ekonomi karena pendapatannya sangat bergantung pada hasil tangkapan yang bersifat musiman dan tidak stabil. Namun, besarnya pendapatan tidak selalu mencerminkan tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan secara riil. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengkaji kesejahteraan rumah tangga nelayan dengan mempertimbangkan pendapatan, struktur pengeluaran, dan kemampuan daya beli yang diukur melalui indikator Nilai Tukar Nelayan (NTN). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan di Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer melalui wawancara dan observasi, serta data sekunder dari instansi terkait. Sampel ditentukan dengan rumus Slovin sebanyak 82 responden yang terdiri atas nelayan pemilik armada dan anak buah kapal (ABK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan pemilik armada sebesar Rp98.005.886,90 per tahun, sedangkan nelayan ABK sebesar Rp38.000.000,00 per tahun. Berdasarkan indikator struktur pengeluaran, rumah tangga nelayan pemilik armada dikategorikan sejahtera, sedangkan nelayan ABK berada pada kategori pra-sejahtera. Namun, berdasarkan indikator NTN, nelayan pemilik armada memiliki nilai NTN > 1 (1,71) yang menunjukkan kemampuan daya beli relatif baik, sedangkan nelayan ABK memiliki nilai NTN sedikit di atas satu (1,08). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan semata belum cukup menjamin kesejahteraan rumah tangga nelayan. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang bersifat struktural, meliputi diversifikasi usaha non-tangkap untuk mengurangi ketergantungan pada sektor perikanan tangkap, penguatan akses pendidikan dan kesehatan, penyediaan fasilitas dasar seperti air bersih, perumahan, dan energi, serta penguatan kelembagaan nelayan melalui koperasi atau kelompok usaha bersama.Title: Study of Fishermen’s Household Welfare in South Sibolga District, Sibolga CityFishermen constitute a coastal community group that is economically vulnerable, as their income is highly dependent on seasonal and unstable fishing yields. However, income level alone does not necessarily reflect the actual welfare of fishermen’s households. Therefore, this study aims to examine fishermen’s household welfare by considering income, expenditure structure, and purchasing power, which is measured using the Fishermen’s Exchange Rate (FER) indicator. This research analyzes the level of fishermen’s household welfare in South Sibolga District, Sibolga City. This research employed a descriptive quantitative approach using primary data collected through interviews and observations, as well as secondary data from relevant institutions. The sample was determined using the Slovin formula and consisted of 82 respondents, including boat-owning fishermen and crew members (ABK). The results indicate that the average annual household income of boat-owning fishermen was IDR 98,005,886.90, while that of crew members was IDR 38,000,000.00. Based on expenditure structure indicators, the households of boat-owning fishermen were categorized as prosperous, whereas those of crew members were classified as pre-prosperous. However, according to the FER indicator, boat owner fishermen recorded an FER value greater than one (1.71), indicating relatively good purchasing power, while crew members had a slightly above-one FER value (1.08). These findings suggest that income alone is insufficient to ensure fishermen’s household welfare. Therefore, structural policies are needed, including diversification of non-fishing livelihoods, strengthening access to education and health services, improving basic facilities such as clean water, housing, and energy, and strengthening fishermen’s institutions through cooperatives or joint business groups.

Page 1 of 1 | Total Record : 9