cover
Contact Name
Sosiohumaniora
Contact Email
sosiohumaniora@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
santosaku_sumah@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sosiohumaniora
ISSN : 14110911     EISSN : 24432660     DOI : -
Jurnal Sosiohumaniora adalah jurnal berskala nasional yang mencakup kajian ilmu sosial dan humaniora. Jurnal ini menaruh perhatian pada persoalan gender, pemberdayaan masyarakat, lembaga dan administrasi publik, sistem pemerintahan lokal dan kesehatan masyarakat. Jurnal Sosiohumaniora akan menerbitkan Artikel terpilih dibawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
PERSEPSI DAN PERILAKU PRODUSEN DAN KONSUMEN TERHADAP LABEL ASAL DAERAH PADA MANGGA GEDONG GINCU Yosini Deliana; Sri Fatimah; Anne Charina
Sosiohumaniora Vol 16, No 1 (2014): SOSIOHUMANIORA, MARET 2014
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.12 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v16i1.5686

Abstract

Mangga gedong gincu (Mangifere indica var.Gedong) banyak diusahakan di Jawa Barat dengansentra produksi Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Hasil penelitian lapangan mengungkapkan bahwa manggagedong gincu dari Majalengka dan Cirebon lebih diminati konsumen daripada Gedong gincu dari Indramayu,karena bentuknya lebih bulat, warnanya lebih menarik dan aromanya lebih tajam (Deliana, 2011). Masalahnyaadalah tidak ada jaminan kualitas bahwa mangga tersebut memiliki kematangan tertentu, rasa dan bebas hamaseperti harapan konsumen. Sejak tahun 2005 pedagang besar di Kabupaten Majalengka, Cirebon dan Indramayumencoba menempelkan label pada mangga gedong Gincu, tapi bukan label asal daerah. Label asal daerah hanyadikeluarkan oleh Dinas Pertanian setempat dan hanya digunakan mangga Gedong Gincu pada saat pameranatau sebagai oleh-oleh kepada tamu khusus yang berkunjung ke daerah tersebut. Penelitian dilakukan dari bulanJuli sampai dengan September 2013 di Kecamatan Sedonglor Kabupaten Cirebon karena banyak pelaku pasarsudah menggunakan label. Sampel petani diambil secara acak sebanyak 30 orang, 30 konsumen Cirebon dan200 konsumen Bandung. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produsen dan konsumen mengganggap pentinglabel asal daerah, akan tetapiprodusen maupun konsumen tidak mengetahui bahwa label asal daerah seharusnyamenunjukkan informasi tanggal petik, informasi letak kebun, informasi asal daerah dan sebagai persyaratanuntuk ekspor. Untuk meningkatkan pemasaran mangga, harus ada program yang terintegrasi dan adanya salingketerkaitan antara konsumen, produsen, pelaku pasar, dan penentu kebijakan. Harapannya ke depan, origin labelingdapat dikembangkan menjadi Country of Origin labeling (COOL) dan menjadi titik awal untuk internasionalisasimangga di pasar globalKata kunci : Persepsi, perilaku, produsen, konsumen dan label asal daerah
STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI PERTANIAN MELALUI PEMANFAATAN CYBER EXTENSION DI PROPINSI LAMPUNG Dame Trully Gultom
Sosiohumaniora Vol 19, No 1 (2017): SOSIOHUMANIORA MARET 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.172 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v19i1.9289

Abstract

Production of some vegetables in  Lampung Province showed to decline in  the past five years, due to agricultural information technology does not distribute evenly, while the cyber extension could be used to search the agricultural information. The aims of study are (1)  Analyze the factors that influence the horticulture farmers communication behavior to fulfill the need of agricultural information, (2) Formulating the strategy of fulfillment need of agriculture information through the use of cyber extension.  Research design was Sequential Explanatory Design (Mixed Methods). The research was conducted in 16 villages in West Lampung District and Tanggamus District, from October 2014 to January 2015. Respondent samples were taken with sampling quota as many as 180 farmers. The data used were primary and secondary data.  Data analyzed by descriptive analyzed  and inferential analyzed by The Structural Equation Model  (SEM). The results of the study concluded that farmers communication behavior is positively influenced by the individual characteristics, the environmental factors, the potential of cyber extension information source and the potential of conventional information source.  The need fulfillment of  agricultural information  is influenced  by the farmers communication behavior. 
MENCIPTAKAN HARMONI DALAM ORGANISASI PERUSAHAAN: Rekonstruksi Pemikiran Frederick W. Taylor Sam’un Jaja Raharja
Sosiohumaniora Vol 9, No 3 (2007): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2007
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v9i3.5568

Abstract

Sebagai salah seorang tokoh aliran manajemen ilmiah gagasan pemikiran FW Taylor sering mendapat kritik karena cenderung mengabaikan faktor-faktor psikologi dan sosial para employee (pekerja). Gagasannya yang menekankan pada “efisiensi” dianggap memperlakukan pekerja layaknya sebagai “mesin”. Akan tetapi kalau ditelaah lebih jauh pemikiran beliau dalam buku yang berjudul “The Principles of Scientific Management,” kritik tersebut terbantahkan. Gagasan-gagasannya justru sangat manusiawi, yaitu menciptakan situasi yang harmonis dalam perusahaan. Dalam penjelasan yang disampaikan dalam suatu “testimoni” dihadapan Masyarakat Ahli Teknik Amerika Serikat (The American Society of Mechanical Engineers), ditegaskan bahwa perhatian utama dari manajemen ilmiah adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang memaksimumkan kesejahteraan baik bagi employer (pemilik perusahaan) maupun bagi setiap employee (pekerja). Dengan kesejahteraan maksimum kedua elemen inti dalam perusahaan tersebut akan tercipta suatu situasi yang kondusif bagi terwujudnya harmoni dalam organisasi perusahaan, positive sum game, bukan situasi desktruktif-antagonistik antar perusahaan-pekerja atau zero bahkan negative sum game Kata kunci : pekerja, employer, kesejahteraan, manajemen ilmiah
KOMUNIKASI INTERNAL DALAM MEMBANGUN KOHESIVITAS KELOMPOK PEGIAT WISATA DI KABUPATEN PANGANDARAN Iriana Bakti
Sosiohumaniora Vol 22, No 1 (2020): SOSIOHUMANIORA, MARCH 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3838.157 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v22i1.21144

Abstract

Perkembangan komunikasi internal dalam suatu organisasi menjadi sangat penting terutama dalam membangun kerjasama kelompok. Salah satu komunitas yang fokus mengembangkan aspek pariwisata di Pangandaran yaitu Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar). Komunitas ini memiliki potensi yang cukup besara dalam melakukan koordinasi dan kerjasama untuk mewujudkan visi Pangandaran sebagai destinasi wisata dunia karena memiliki latarbelakang profesi anggotanya yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aktivitas komunikasi internal kompepar dalam mengembangkan objek wisata berbasis alam dan kearifan lokal di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskrtiptif dengan sifat data kuantitatif berdasarkan pada teknik pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner yang dibagikan kepada responden secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas komunikasi internal dalam bentuk pertemuan rutin diantara anggota kompepar cukup tinggi untuk berbagi informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan, menjalin relasi, dan membangun kesadaran bagi para pengelola pelaku usaha pariwisata agar berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepariwisataaan di Kabupaten Pangandaran. Sedangkan aspek kohesivitas di kalangan anggota kompepar di Kabupaten Pangandaran dapat dikategorikan tinggi dalam membangun kesamaan pandangan, meningkatkan wawasan, membagi tugas, dan melakukan kerja sama untuk mencapai tujuan kelompok.
PENYEBAB ECONOMIC EXPOSURE PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR GO PUBLIC DI BURSA EFEK INDONESIA Zulki Zulkifli Noor
Sosiohumaniora Vol 13, No 2 (2011): SOSIOHUMANIORA, JULI 2011
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.961 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v13i2.5517

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi economic exposure dan faktor yang dominan pengaruhnya terhadap economic exposure pada perusahaan-perusahaan yang go public yang berada dalam kelompok perusahaan manufaktur. Ada lima faktor yang diteliti berdasarkan hubungan yang erat dengan fluktuasi kurs terutama USD yang merupakan mata uang yang lebih mendominasi dalam transaksi internasional di Indonesia, yaitu status perusahaan, kewajiban bersih valuta asing, prosentase ekspor terhadap total penjualan, impor bahan baku dan bahan pembantu, dan pelaksanaan hedging atas fluktuasi kurs. Analisa multivariate digunakan untuk melihat kelima faktor di atas terhadap economic exposure. Sebelum dilakukan analisa multivariate, terlebih dahulu dilakukan analisa univariate yang berguna untuk menguji setiap variabel yang digunakan. Berdasarkan penelitian ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : (1.) Kelima faktor tersebut mempengaruhi economic exposure di 62%, 38% lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain di luar faktor yang diteliti. (2.) Faktor yang dominan pengaruhnya terhadap economic exposure adalah kewajiban bersih valuta asing, karena memiliki nilai yang signifikan terhadap economic exposure. Kata Kunci : Kewajiban bersih valuta asing, prosentase ekspor terhadap total penjualan, impor bahan baku dan bahan pembantu, pelaksanaan hedging atas fluktuasi kurs, economic exposure.
MODEL PERILAKU PETANI DALAM ADOPSI SISTEM USAHATANI PADI ORGANIK: PARADOKS SOSIAL-EKONOMI-LINGKUNGAN Mahra Arari Heryanto; Yayat Sukayat; Dika Supyandi
Sosiohumaniora Vol 18, No 2 (2016): SOSIOHUMANIORA, JULI 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.17 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v18i2.9951

Abstract

Usahatani padi dengan sistem organik bukan merupakan hal baru dalam komoditas padi. Pasca Revolusi Hijau yang akhir-akhir ini dirasakan dampak negatifnya, telah banyak menggugah kesadaran petani akan pentingnyasistem pertanian organik yang lebih ramah lingkungan. Namun demikian, peralihan dari sistem usahatani padi yang konvensional menuju ke sistem usahatani padi organik tidak dengan mudah diterima petani. Isu kerusakan ekosistem sawah tidak begitu saja mengubah perilaku petani untuk beralih ke sistem usahatani organik. Minimnya pengetahuan petani akan sistem usahatani padi organik, memperlambat laju peralihan dari usahatani padi konvensional ke usahatani padi oganik. Tantangan menjadi semakin berat tanpa adanya insentif yang berarti bagi para petani padi organik karenaperbedaan harga yang diterima petani antara padi organik dan kovensional hanya berbeda sedikit. Alih-alih menambah jumlah petani dan luas lahan sawah yang ditanamai padi dengan sistem organik, petani yang telah menggunakan sistem organik setelah berhitung secara ekonomi banyak yang kembali beralih ke sistem konvensional. Berbagai paradoks persoalan usahatani padi organik ini dianalisis dengan menggunakan pendekatan berpikir sistem (system thinking) dalam suatu struktur diagram kausalitas. Masih diperlukan upaya yang lebih keras dan masif untuk meningkatkanproduksi organik dari aspek luas lahan dan petaninya terutama pada aspek sosial dan ekonomi yang secara langsung dialami oleh para petani.
MENCERMATI PENERAPAN KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH Budiman Rusli
Sosiohumaniora Vol 5, No 3 (2003): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2003
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v5i3.5523

Abstract

Terjadi fenomena yang menarik sekaligus memprihatinkan setelah hampir tiga tahun penerapan kebijakan otonomi daerah. Kondisi ini menggambarkan kelemahan yang ada dalam UU no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Bermunculan perda-perda bermasalah yang kontra produktif karena terlalu berorientasi pada peningkatan PAD. Pemerintah Pusat tidak mampu mengendalikannya mengingat kewenangan yang diberikan sangat terbatas. Beberapa hal penyebabnya adalah : (1) Semangat reformasi yang tinggi mewarnai penyusunan UU no. 22 tahun 1999, sehingga memberikan kelonggaran yang berlebihan pada Pemda untuk membuat perda. (2) Kewenangan yang diberikan kepada Pemerintah Pusat melalui Tim Pengkaji Perda (TPPD) untuk melakukan verifikasi terhadap perda sangat terbatas hanya 45 (empat puluh lima) hari, padahal ribuan perda yang harus diverifikasi. (3) Belum ada petunjuk pelaksanaan bagi pemda dalam merumuskan sebuah perda. (4) Semangat yang tinggi Pemda memanfaatkan momentum reformasi. Kata Kunci : Otonomi Daerah, Perda
PERUBAHAN BUDAYA ORGANISASI DARI UNIVERSITAS PEMBELAJARAN KE UNIVERSITAS PENELITIAN DI UNIVERSITAS LAMPUNG Feni Rosalia
Sosiohumaniora Vol 21, No 2 (2019): SOSIOHUMANIORA, JULI 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.082 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v21i2.20662

Abstract

Universitas Lampung (Unila) berproses dari Universitas Pembelajaran ke Universitas Penelitian, namun masih mengalami kendala dalam jumlah penelitian dan publikasi penelitian. Untuk menjadi Universitas Penelitian Unila dituntut untuk menyediakan keunggulan kompetitif yang strategis terkait budaya meneliti. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui budaya organisasi di Unila serta mengetahui proses perubahan budaya, dari Universitas Pembelajaran kepada Universitas Penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan statistik inferensi karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai variasi yang muncul dari perubahan budaya organisasi dari universitas pembelajaran ke universitas penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah Tenaga Pendidik Universitas Lampung, dengan sampel berjumlah 90 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat (analisis per variabel) dan analisis bivariat (analisis dua variabel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya organisasi Universitas Lampung sudah mengarah pada perubahan budaya dari Universitas Pembelajaran ke Universitas Penelitian. Namun budaya riset yang terbangun masih bersifat personal, karena kebutuhan pribadi bukan digerakkan secara masif oleh perguruan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari komparasi antara manajemen perguruan tinggi dan budaya riset. Prakarsa dan konsistensi didominasi oleh keinginan pribadi dan publikasi belum membudaya akibat lemahnya dosen menjangkau akses kepada publikasi tersebut. Saran penelitian adalah komitmen pemimpin yang tinggi, baik dari kebijakan yang dikeluarkan dan dukungan pendanaan, sarana dan prasarana. Budaya research tidak hanya mementingkan personal saja tetapi research dilaksanakan secara kelembagaan dan diyakini sebagai kebutuhan bersama. 
PERSEPSI DAN PRASANGKA ANTARETNIK DI LAMPUNG SELATAN: STUDI KOMUNIKASI ANTARETNIK DI BAKAUHENI KALIANDA Karomani -
Sosiohumaniora Vol 13, No 1 (2011): SOSIOHUMANIORA, MARET 2011
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.605 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v13i1.5461

Abstract

Daerah Bakauheni Lampung Selatan sebagai daerah pelabuhan merupakan daerah multietnik yang didiami beragam etnik Nusantara. Dalam masyarakat multikultur atau multietnik acapkali terjadi persepsi dan prasangka sosial yang buruk antaretnik yang disebabkan perbedaan latar belakang budaya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan persepsi dan prasangka antar etnik Sunda, Jawa, Batak, Lampung dan Sulawesi (Bugis) di Bakauheni Kalianda Lampung Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan alat pengumpul data wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnik Lampung, Bugis, Batak dan Sunda 100% berpersepsi bahwa orang Jawa sebagai etnik yang ”halus atau lembut ” tutur sapa dan perilakunya. Sama halnya terhadap etnik Jawa, kecuali etnik Lampung hanya 90% dan etnik Jawa hanya 80%, etnik Bugis dan Batakpun 100% berpersepsi bahwa etnik Sunda termasuk ”halus” pembawaanya. Demikian pula, kecuali etnik Lampung hanya 70%, etnik Batak, Jawa dan Sunda 100% berpersepsi bahwa orang Bugis adalah ”pemberani”. Kecuali etnik Lampung hanya 80%, etnik Bugis, Jawa dan Sunda 100% berpersepsi bahwa orang Batak juga sebagai ”pemberani. Kemudian terhadap etnik Lampung, kecuali etnik Jawa hanya 90%, etnik Bugis, Sunda, dan Batak berpersepsi orang Lampung juga sebagai ”pemberani”. Etnik Lampung, dan Batak 60% berprasangka bahwa etnik Jawa ”penakut”. Sementara etnik Bugis 90% berprasangka bahwa etnik Jawa ”feodal” dan etnik Sunda 60% berprasangka orang Jawa ”sekuler”. Etnik Lampung 60% berprasangka orang Sunda ”penakut” dan ”pemalas”. Sementara etnik Bugis berprasangka orang Sunda ”feodal”. Etnik Batak 60% lebih berprasangka orang Sunda ”penakut, ”boros, ”pemalas” dan ”tertutup”. Terhadap etnik Bugis 60 % lebih etnik Lampung, Sunda, Jawa, dan Batak berprasangka orang Bugis”angkuh”, ”kasar”, dan ”boros” hidupnya. Kemudian terhadap etnik Batak, 60% lebih etnik Lampung, Jawa, Sunda, dan Bugis berprasangka bahwa orang Batak ”angkuh”,dan ”kasar” prilakunya. Adapun terhadap etnik Lampung 60 % lebih etnik Sunda, Jawa, Bugis dan Batak berprasangka orang Lampung ”angkuh”, ”kasar” dan ”pemalas”. Aspek pengalaman seperti kedekatan pergaulan, aspek sosial budaya seperti agama, tingkat pendidikan, dan pekerjaan serta status sosial seseorang adalah faktor yang mewarnai persepsi dan prasangka antaretnik Sunda, Jawa, Lampung, Bugis, dan Batak di Bakauheni Lampung Selatan. Kata Kunci : Komunikasi, Persepsi, Prasangka, Antaretnik,
STRATEGI PENGEMBANGAN DAERAH TERTINGGAL DI KABUPATEN GARUT Endah Djuwendah; Hepi Hapsari; Eddy Renaldy; Zumi Saidah
Sosiohumaniora Vol 15, No 2 (2013): SOSIOHUMANIORA, JULI 2013
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.95 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v15i2.5744

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkandi wilayah Kabupaten Garut bagian selatan dan strategi dalam pembangunan daerah tertinggal di GarutSelatan.Metode yang digunakan adalah survey deskriptif dengan menggunakan data primer dan dataskunder dengan unit analisisnya 16 kecamatan. Teknis analisis menggunakan indek produktivitasrelatif (IPR)dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Garut bagian selatanmemiliki sumberdaya alam yang berciri sektor pertanian,perikanan, peternakan pertambangan dan energiserta pariwisata. Terdapat lima strategi utama untuk pengembangan daerah tertinggal di wilayah GarutSelatan yaitu dengan cara memadukan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang berbasis potensisumberdaya lokal melalui : (a) Peningkatan akses kerjasama berbagai sektor pemerintah, swasta danperguruan tinggi untuk mengatasi keterbatasan dana pembangunan berkelanjutan (b) pengembanganekonomi berbasis potensi lokal dengan cara pengembangan komoditas unggulan spesifik lokasi danproduk olahan melalui teknologi tepat guna dan perluasan pemasaran, (c) optimalisasi peran pusatpelayanan dengan cara melengkapi ketersediaan sarana dan prasarana serta keterkaitan sosial ekonomidengan daerah pelayanannya, (d) peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan masyarakat melaluipendidikan/pelatihan dan pembinaan kelembagaan berbasis pedesaan, (e) optimalisasi peran kabupatengarut sebagai daerah penyangga Jawa barat melalui efektifitas penggelolaan tata ruang kawasan lindungdan budidaya dengan mempertimbangkan kawasan rawan bencana alam. 

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 1 (2025): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2025 Vol 26, No 3 (2024): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2024 Vol 26, No 2 (2024): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2024 Vol 26, No 1 (2024): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2024 Vol 25, No 3 (2023): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2023 Vol 25, No 2 (2023): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2023 Vol 25, No 1 (2023): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2023 Vol 24, No 3 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2022 Vol 24, No 2 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2022 Vol 24, No 1 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2022 Vol 23, No 3 (2021): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2021 Vol 23, No 2 (2021): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, JULY 2021 Vol 23, No 1 (2021): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, MARCH 2021 Vol 22, No 3 (2020): SOSIOHUMANIORA, NOVEMBER 2020 Vol 22, No 2 (2020): SOSIOHUMANIORA, JULY 2020 Vol 22, No 1 (2020): SOSIOHUMANIORA, MARCH 2020 Vol 21, No 3 (2019): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2019 Vol 21, No 2 (2019): SOSIOHUMANIORA, JULI 2019 Vol 21, No 1 (2019): SOSIOHUMANIORA, MARET 2019 Vol 20, No 3 (2018): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2018 Vol 20, No 2 (2018): SOSIOHUMANIORA, JULI 2018 Vol 20, No 1 (2018): SOSIOHUMANIORA, MARET 2018 Vol 19, No 3 (2017): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2017 Vol 19, No 2 (2017): SOSIOHUMANIORA, JULI 2017 Vol 19, No 1 (2017): SOSIOHUMANIORA MARET 2017 Vol 18, No 3 (2016): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2016 Vol 18, No 2 (2016): SOSIOHUMANIORA, JULI 2016 Vol 18, No 1 (2016): SOSIOHUMANIORA, MARET 2016 Vol 17, No 3 (2015): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2015 Vol 17, No 2 (2015): SOSIOHUMANIORA, JULI 2015 Vol 17, No 1 (2015): SOSIOHUMANIORA, MARET 2015 Vol 16, No 3 (2014): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2014 Vol 16, No 2 (2014): SOSIIOHUMANIORA, JULI 2014 Vol 16, No 1 (2014): SOSIOHUMANIORA, MARET 2014 Vol 15, No 3 (2013): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2013 Vol 15, No 2 (2013): SOSIOHUMANIORA, JULI 2013 Vol 15, No 1 (2013): SOSIOHUMANIORA, MARET 2013 Vol 14, No 3 (2012): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2012 Vol 14, No 2 (2012): SOSIOHUMANIORA, JULI 2012 Vol 14, No 1 (2012): SOSIOHUMANIORA, MARET 2012 Vol 13, No 3 (2011): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2011 Vol 13, No 2 (2011): SOSIOHUMANIORA, JULI 2011 Vol 13, No 1 (2011): SOSIOHUMANIORA, MARET 2011 Vol 12, No 3 (2010): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2010 Vol 12, No 2 (2010): SOSIOHUMANIORA, JULI 2010 Vol 12, No 1 (2010): SOSIOHUMANIORA, MARET 2010 Vol 11, No 3 (2009): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2009 Vol 11, No 2 (2009): SOSIOHUMANIORA, JULI 2009 Vol 11, No 1 (2009): SOSIIOHUMANIORA, MARET 2009 Vol 10, No 3 (2008): SOSIIOHUMANIORA, NOPEMBER 2008 Vol 10, No 2 (2008): SOSIOHUMANIORA, JULI 2008 Vol 10, No 1 (2008): SOSIOHUMANIORA, MARET 2008 Vol 9, No 3 (2007): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2007 Vol 9, No 2 (2007): SOSIOHUMANIORA, JULI 2007 Vol 9, No 1 (2007): SOSIOHUMANIORA, MARET 2007 Vol 8, No 3 (2006): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2006 Vol 8, No 2 (2006): SOSIOHUMANIORA, JULI 2006 Vol 8, No 1 (2006): SOSIOHUMANIORA, MARET 2006 Vol 7, No 3 (2005): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2005 Vol 7, No 2 (2005): SOSIOHUMANIORA, JULI 2005 Vol 7, No 1 (2005): SOSIOHUMANIORA, MARET 2005 Vol 6, No 3 (2004): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2004 Vol 6, No 2 (2004): SOSIOHUMANIORA, JULI 2004 Vol 6, No 1 (2004): SOSIOHUMANIORA, MARET 2004 Vol 5, No 3 (2003): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2003 Vol 5, No 2 (2003): SOSIOHUMANIORA, JULI 2003 Vol 5, No 1 (2003): SOSIOHUMANIORA, MARET 2003 Vol 4, No 3 (2002): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2002 Vol 4, No 2 (2002): SOSIOHUMANIORA, JULI 2002 Vol 4, No 1 (2002): SOSIOHUMANIORA, MARET 2002 Vol 3, No 3 (2001): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2001 Vol 3, No 2 (2001): SOSIOHUMANIORA, JULI 2001 Vol 3, No 1 (2001): SOSIOHUMANIORA, MARET 2001 More Issue