cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Identifikasi genotipe kacang tanah tenggang terhadap kekeringan pada stadia reproduktif Astanto Kasno
Zuriat Vol 3, No 1 (1992)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v3i1.6678

Abstract

Identifikasi genotip kacang tanah toleran terhadap cekaman kekeringan pada periode reproduktif talah ditelaah. tujuannya adalah untuk mendapatkan genotip kacang tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan selama periode reproduktif dan untuk mengelompokkan populasi berdasarkan tingkat toleransinya terhadap kekeringan. Percobaan lapangan telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Muneng dan genteng, Balai Penelitian Tanaman, Malang pada MK II 1989 dengan menggunakan rancangan petak terbagi yang diulang dua kali. Petak utama berupa cara pengairan (pengairan 40 dan 80 hari setelah tanam selama 10 hari) dan 512 genotip kacang tanah sebagai anak petak. hasil polong dan indeks kekeringan digunakan sebagai kriteria penilaian untuk menandai dan memilih genotip kacang tanah yang toleran terhadap kekeringan pada periode reproduktif.Pengairan, genotip dan interaksi antara pengairan dan genotip nayat untuk hasil. Cekaman kekeringan selama periode reproduktif dinilai memadai untuk menandai dan memilih genotip kacng tanah yang toleran terhadap cekaman kekeringan pada periode tersebut adalah dengan menghasilkan sedikit polong dengan biji keriput dan berkulit tebal. Kehilangan hasil akibat kekeringan selama periode reproduktif berkisar antara 20%-52%, tergantung genotip, musim dan lokasi. genotip No. 187.2313 dinilai paling toleran terhadap kekeringan selama periode reproduktif, selain itu toleran terhadap penyakit layu dan penyakit daun. Seleksi genotip kacang tanah untuk sifat toleransi terhadap kekeringan, disarankan dilakukan pada musim kemarau dengan pengairan buatan hingga 40 hari setelah tanam. Kelaikan agronomis genotip kekeringan masih perlu diperbaiki melalui program persilangan.
Heritabilitas dan Aksi Gen Kandungan Fruktosa, Kandungan Kapsaisin, dan Aktivitas Enzim Peroksidase pada Hasil Persilangan Antarspesies Cabai Rawit X Cabai Merah I. M. Narka Tenaya; Ridwan Setiamihardja; Achmad Baihaki
Zuriat Vol 14, No 1 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i1.6810

Abstract

Percobaan lapangan dilaksanakan di Denpasar, Bali. Pengamatan dan analisis terhadap kandungan kapsaisin, fruktosa, dan glukosa pada buah di lakukan di laboratorium PAU ITB, Bandung. Penanaman dilakukan pada guludan dengan jarak tanam 60 cm x 60 cm tanpa rancangan. Populasi P1, P2, dan F1 diambil sampel masing-masing sepuluh tanaman, BC1 dan BC2 diambil sampel sebanyak 27 dan 28 tanaman, sedangkan pada F2 sebanyak 125 tanaman dari lima gulud terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai duga heritabilitas dalam arti luas masingmasing untuk kandungan kapsaisin tergolong tinggi (62.0%), sedangkan kandungan fruktosa dan enzim peroksidase tergolong rendah (12.5% dan 0.9%). Hal yang sebaliknya, terjadi pada nilai heritabilitas arti sempit, yaitu kandungan kapsaisin tergolong rendah (–1,76% atau 0), sedangkan kandungan fruktosa dan enzim peroksidase tergolong tinggi (53.9% dan 57.9%). Terdapat sifat dominan lebih dan efek interaksi nonalelik (dominan x dominan, aditif x aditif, dan aditif x dominan) yang mengendalikan karakter kandungan kapsaisin pada buah, sedangkan pada kandungan fruktosa terdapat efek interaksi gen nonalelik dominan x dominan dan aditif x dominan. Pada karakter aktivitas enzim peroksidase aksi gennya bersifat aditif tanpa adanya efek interaksi gen nonalelik.
Hirarki dan Diferensiasi Genetik Tanaman Sagu di Indonesia Berdasarkan Penanda RAPD Barahima Abbas; Muhammad Hasyim Bintoro; , Sudarsono; Memen Surahman; Hiroshi Ehara
Zuriat Vol 20, No 1 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i1.6643

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan hirarki dan diferensiasi  genetik tanaman sagu berdasarkan penanda molekuer RAPD. Keragaman genetik tanaman diungkapkan dengan menggunakan 10 jenis primer RAPD yang diamplifikasi dengan menggunakan mesin PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 86 lokus dari 10 primer RAPD yang digunakan pada 100 individu sampel tanaman sagu. Hirarki genetik tanaman sagu menunjukkan bahwa pada level antar individu dan populasi berbeda sangat nyata, sedang pada level pulau berbeda nyata. Diferensiasi genetik sampel tanaman sagu menunjukkan bahwa populasi tanaman sagu mengalami diferensiasi berdasarkan nilai probabilitas Fst dan exact test (chisquare). Populasi dari Pontianak berbeda nyata untuk semua populasi begitu pula populasi dari Selat Panjang berbeda nyata dengan semua populasi kecuali populasi dari Bogor. Hasil kalkulasi diferensiasi genetik menunjukkan bahwa sampel telah mengalami diferensiasi pada level individu, populasi. Berdasarkan observasi, tiap-tiap populasi sagu di tiap-tiap pulau perlu dipertimbangkan sebagai sumber plasma nutfah untuk program kegiatan koleksi plasma nutfah sagu.
PENGELOMPOKAN TETUA PADI HIBRIDA BERDASARKAN SIFAT-SIFAT MORFOLOGI DAN RAPD-PCR Aprizal Zainal; Bahagiawati Amirhusin
Zuriat Vol 16, No 1 (2005)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v16i1.6778

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengelompokkan tetua padi hibrida berdasarkan sifat-sifat morfologi dan Marka RAPD. Sepuluh RAPD primer polimorfis digunakan untuk menganalisis keragaman genetik 28 galur padi dengan analisis UPGMA. Analisis sifat-sifat morfologi didasarkan kepada 10 sifat kuantitatif dan dianalisis menurut metoda pautan rataan (Average Linkage). Analisis menggunakan marka RAPD pada tingkat kesamaan 76% didapatkan 5 kelompok tetua padi hibrida: I) IR58025A, IR58025B, IR62829A, IR62829B, IR68885A, C20, II) IR68886B, S4124F,  CISOKAN, IR65515-47-2-1-1-9, B10277-MR-1-4-3, B10373E-MR-1-3- 4-1-6, RHS 412-ICX-20X-OZH, IR30176-B-1-2-MR-2, IR53942, MAROS, IR68897B, IR68886A, DODOKAN, RCN-B-94-19, IR68, III) MTU 9992, B9154E-PN-1-1-4, IV) IR68885B, dan V) IR68888A, BR 827-35, IR68888B, IR68897A. Analisis berdasarkan sifat morfologi didapatkan 5 kelompok I) IR68897A, IR68888A, IR68885A, IR58025A, IR68886A, IR62829A, II) CISOKAN, B10277-MR-1-4-3, MTU 9992, IR58025B, DODOKAN, IR68897B, IR68888B, IR68886B, IR68885B, IR62829B, III) BR 827-35, IV) IR65515-47-2-1-1-9, C 20, MAROS, IR30176-B-1-2-MR-2, RCN-B-94-19, RHS 412-ICX-20X OZH, B9154E-PN-1-1-4, IR68, S4124F, IR53942, dan V) B10373E-MR-1-3-4-1-6. Dari penelitian terdahulu diketahui bahwa tetua padi hibrida yang didapatkan ber jarak genetik relatif jauh seperti IR58025A dan BR 827-35; IR58025A dan IR53942; IR58025A dan MAROS; serta IR58025A dan IR68 menghasilkan hybrid dengan hasil unggul. Penelitian ini menyatakan bahwa pengelompokan menurut morfologi tidak selalu sama dengan pengelompokan marka RAPD. Namun demikian beberapa galur CMS dan restorer sama-sama terdapat pada kelompok yang berbeda.
Potensi Hasil Plasma Nutfah Kelapa Kopyor Asal Kalianda, Pati, Sumenep dan Jember Ismail Maskromo; Hengky Novarianto; Dewi Sukma; , Sudarsono
Zuriat Vol 23, No 2 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i2.6878

Abstract

 Kelapa kopyor diketahui ada di berbagai sentra tanaman kelapa di Pulau Jawa dan Sumatera. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi keberadaan kelapa kopyor, memetakan provenan dan mengevaluasi produksi buah kelapa kopyor di Kalianda, Pati, Sumenep dan Jember melalui kegiatan survei di lapangan. Survei dilakukan pada bulan Juni sampai  Oktober 2011. Lokasi pengamatan ditentukan berdasarkan jumlah tegakan kelapa kopyor  di lokasi, yaitu minimal 10 pohon kopyor per lokasi. Posisi pohon kopyor di lapangandipetakan menggunakan GPS. Potensi produksi ditentukan dengan menghitung jumlah tandan, jumlah buah total dan jumlah buah kopyor per tandan. Kualitas endosperm dievaluasi dengan mengamati satu contoh buah kopyor per pohon. Hasil pengamatan menunjukkan kelapa kopyor di Kalianda dan Sumenep merupakan tipe kelapa Dalam Kopyor, sedangkan yang di Pati dan Jember dijumpai tipe kelapa Dalam, Genjah dan Hibrida Kopyor. Pertanaman kelapa kopyor di Kalianda, Jember dan Sumenep ada dalam bentuk kebun dengan luas 0.5 - 3 ha dan tersebar diantara tegakan kelapa normal. Sebaliknya, pertanaman kelapa di Pati umumnya ditanam di pekarangan. Produksi buah kopyor per tandan yang lebih tinggi diamati pada tegakan yang sama-sama kelapa kopyor. Sebaliknya, tegakan kelapa kopyor yang dikelilingi kelapa normal, produksi buah kopyornya lebih rendah. Untuk kelapa Dalam Kopyor, produksi buah kelapa kopyornya bervariasi antara 1–4 buah per tandan. Sabaliknya, untuk kelapa Genjah Kopyor antara 2–10 butir per tandan.  Kualitas endosperma kelapa kopyor di masing-masing lokasi bervariasi dari skor 1 sampai skor 9.
GENOTYPE BY ENVIRONMENT INTERACTION OF ADVANCED SOYBEAN BREEDING LINES IN LAMPUNG UPLAND SOILS Darman M. Arsyad; , Purwantoro
Zuriat Vol 19, No 1 (2008)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v19i1.6701

Abstract

KEKERABATAN FENETIK KERABAT LIAR UBI JALAR [Ipomoea trifida (H.B.K.) G.Don] ASAL CITATAH JAWA BARAT BERDASARKAN KARAKTER STRUKTUR LUAR POLEN Nisa Hurin; Budi Irawan; Tia Setiawati
Zuriat Vol 22, No 1 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i1.6846

Abstract

Kekerabatan fenetik kerabat liar ubi jalar Ipomoea trifida H.K. G.Don asal Citatah Jawa Barat telah dilakukan berdasarkan karakter struktur luar polen yaitu bentuk, ukuran, tipe apertur, serta ornamentasi eksin dari 30 aksesi I.trifida. Berdasarkan pengamatan preparasi polen dengan menggunakan metode Erdtman (1966) diketahui bentuk polen dari I.trifida yang diteliti adalah membulat (oblate spheroidal dan prolate spheroidal) dengan perbandingan P/E 7/8-8/8 & 8/8-8/7. Ukuran butir polen medium yaitu 25-50 µm, tipe apertur porus dan ornamentasi eksinnya echinet dengan variasi ujung echinet tumpul dan ujung echinet lancip. Pola kekerabatan dari karakter polen diatas dianalisis dengan program NTSYSpc version 2.0 menghasilkan dendogram yang membagi 30 aksesi I.trifida ke dalam 2 cabang. Cabang 1 terdiri dari 21 aksesi yaitu aksesi 69, 151, 166, 178, 94, 179, 108, 132, 111, 145, 147, 168, 214, 215, 158, 199, 201, 216, 212, 170, 171 dan cabang 2 terdiri dari aksesi 109, 167, 187, 180, 209, 177, 196, 197 dan 113. Hasil dari Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa komponen pertama (PC1) menunjukkan persentase sebesar 43,84% dari variasi yaitu kerapatan echinet polen, jumlah apertur, panjang sumbu ekuator dan sumbu polar. Komponen kedua (PC2) sebesar 24,27% yaitu bentuk ornamentasi eksin dan bentuk polen dan  komponen ketiga (PC3) yaitu panjang ornamentasi eksin sebesar 14,75%, sehingga PC1-PC3 sudah dapat menjelaskan 82,87 % dari total 100 % proporsi variasi karakter yang terjadi. Hasil grafik biplot (PCA) membagi 30 aksesi menjadi 2 kuadran.
Pengaruh Tetua Jantan dalam Persilangan Terhadap Produksi dan Kandungan Kimiawi Buah Salak Pondoh Super , Nandariyah; Edi Purwanto; Sasono Kurniadi
Zuriat Vol 11, No 1 (2000)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v11i1.6669

Abstract

Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi Salak Pondoh Super dilakukan penelitian pengaruh penggunaan tetua jantan di dalam persilangan pada Salak Pondok Super. Telah dilakukan persilangan Salak Pondoh Super terhadap 10 kultivar jantan sebagai sumber serbuk sari. Percobaan disusun dalam rancangan acak lengkap tiga ulangan, dengan faktor tunggal berupa macam tetua jantan terdiri dari 10 kultivar: Pondoh Super, Kembangarum, Nglumut, Jagan, Bejalen, Banjarnegara, Manonjaya, Suwaru, Bangkalan, dan Lawu. Bahan penelitian berupa bunga betina pada tanaman Salak Pondoh Super dan serbuk sari bunga jantan dari 10 kultivar, masing-masing diambil dari satu tanaman. Untuk mengetahui pengaruh tetua jantan pada hasil persilangan dilakukan uji homogenitas tetua betina Salak Pondoh Super. Pengujian meliputi karakter morfologi tanaman, komponen hasil dan kandungan kimiawi buah dengan melakukan penyerbukan menggunakan tetua sejenis (Pondoh Super). Hasil uji menunjukkan adanya homogenitas pada populasi betina sehingga dapat digunakan sebagai bahan induk dalam persilangan. Hasil persilangan dengan 10 kultivar tetua jantan, dengan pembanding Pondoh Super jantan menunjukkan adanya pengaruh nyata tetua jantan terhadap sejumlah karakter, meliputi bobot buah, volume buah, tebal daging buah, bobot daging buah, bobot kering daging buah, kadar tanin, kadar asam, dan kadar air buah. Pengaruh yang tidak nyata tampak pada bobot biji, diameter buah, panjang buah dan kadar gula buah. Dari 10 kultivar yang digunakan sebagai tetua jantan dengan pembanding Pondoh Super jantan, terdapat tiga kultivar yang mampu meningkatkan hasil dan kandungan kimiawi buah Salak Pondoh Super, berturut-turut adalah Kembangarum, Bejalen, dan Suwaru.
PRODUKSI GALUR MURNI MELALUI INDUKSI EMBRIOGENIK MIKROSPORA CABAI MERAH BESAR DENGAN STRES Ari Indrianto; Endang Semiarti; , Surifah
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6801

Abstract

Induksi embriogenik mikrospora cabai merah besar dapat dilakukan dengan stres panas dan pelaparan (starvasi karbohidrat). Stres diperlukan untuk mengubah perkembangan gametofitik (mikrospora membelah asimetrik) kearah sporofitik (mikrospora membelah simetrik) untuk membentuk embrio. Mikrospora pada stadium uninukleat akhir dikulturkan secara aseptik didalam medium starvasi karbohidrat (medium B) masing-masing pada 25oC; 33oC dan 35oC selama 2; 4 dan 6 hari. Setelah praperlakuan stres, mikrospora disubkultur kedalam medium embriogenesis (medium A2) tanpa zat pengatur tumbuh dan diinkubasi pada suhu 25oC. Pengamatan sitologis terhadap tipe pembelahan inti dan mikrospora multiseluler (proembrio) dilakukan dengan pengecatan DAPI. Hasil penelitian menunjukkan, praperlakuan starvasi selama 4 hari dapat menginduksi 3.4% dari populasi mikrospora menjadi embriogenik, dimana 4% diantaranya tumbuh menjadi proembrio. Tambahan stres panas 33oC selama 4 hari meningkatkan persentase induksi embriogenik mikrospora menjadi 29%, dimana 30% diantaranya berkembang menjadi proembrio. Induksi embriogenik mikrospora cabai merah besar merupakan langkah awal untuk memproduksi tanaman haploid, penggandaan kromosom selanjutnya akan menghasilkan tanaman dobel haploid yang merupakan galur murni.
Studi Pendahuluan Identifikasi Srikaya (Annona squamosa) Lokal Berdasarkan Random Amplified Polymerase DNA (RAPD) , Kristamtini; Prajitno al KS.
Zuriat Vol 20, No 2 (2009)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v20i2.6634

Abstract

Srikaya Sinyonya (Annona squamosa) merupakan buah unggulan bagi masyarakat Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan telah banyak dibudidayakan terutama di Desa Watugajah. Secara morfologi, srikaya Sinyonya hampir sulit dibedakan dengan srikaya jenis lain. Namun untuk membuktikannya secara genetis maka dilakukan analisis pendahuluan dengan menggunakan marka RAPD. Hasil pengujian menunjukkan bahwa srikaya Sinyonya memiliki sifat morfologi dan DNA yang khas sehingga dapat disimpulkan bahwa srikaya Sinyonya berbeda dengan varietas Srikaya pembanding Langsar.

Page 9 of 30 | Total Record : 298