cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
Kendali Genetik Ketahanan Kedelai terhadap Penyakit Virus Kerdil (Soybean Stunt Virus) , Asadi; , Soemartono; Woerjono M.; Jumanto H.
Zuriat Vol 14, No 2 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i2.6783

Abstract

Studi genetika ketahanan kedelai terhadap penyakit kerdil kedelai (SSV) dilakukan di kurungan kawat Balitbiogen, Bogor pada tahun 2001–2002. Genotipe kedelai B3570 dan Mlg2521 digunakan sebagai tetua tahan; Taichung sebagai tetua agak tahan, sedangkan Wilis dan Orba sebagai tetua rentan. Dari persilangan tetua tahan dengan rentan diperoleh 6 kombinasi persilangan. Pengaruh induk betina (maternal effect) dalam penurunan sifat ketahanan terhadap SSV diidentifikasi dengan melihat reaksi ketahanan pada tanaman F1 dan resiprokalnya melalui uji t. Benih tetua, F1, dan F2 dengan populasi berturut-turut 20 biji, 20 biji, dan 200 biji, masing-masing ditanam dalam pot berisi 4 kg tanah. Seminggu setelah tanam, seluruh tanaman uji diinokulasi dengan SSV strain J. Seminggu setelah inokulasi, setiap daun tanaman uji diambil untuk dideteksi dengan metode Dot Blot-ELISA. Skoring tingkat ketahanan diamati berdasarkan tampilan warna setiap sampel pada permukaan membrane nitroselulose dari hasil analisis Dot Blot- ELISA dengan skor 0–4. Berdasarkan angka skor ketahanan terhadap SSV pada populasi P1, P2, F1 dan F2 dapat diketahui, nilai heritabilitas, kesesuaian nisbah genetik, jumlah gen ketahanan, dan allelisme antar tetua tahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh tetua betina terhadap pewarisan sifat ketahanan terhadap SSV. Sifat ketahanan pada ketiga genotipe B3570, Mlg2521, dan Taichung dikendalikan oleh gen yang berbeda. Ketahanan pada B3570 bersifat dominant dan monogenic, dikendalikan oleh gen tunggal. Ketahanan pada Mlg2521 juga bersifat dominan, tetapi dikendalikan oleh dua gen yang terletak pada lokus berbeda dan berinteraksi duplikat resesif epistasi. Ketahanan Taichung bersifat resesif, dikontrol oleh dua gen yang terletak pada lokus berbeda dan berinteraksi duplikat resesif epistasi. Kemungkinan model genotipe pada tetua tahan B3570 adalah V1V1; pada Mlg2521 adalah V2V2V3V3, sedangkan pada Taichung adalah v4v4v5v5, Hasil penghitungan nilai heritabilitas mengindikasikan bahwa factor genetik lebih berperan dalam mpewarisan sifat ketahanan terhadap SSV.
Diversitas Genetik pada Beberapa Sifat Kuantitatif Tanaman Terigu (Triticum aestivum L.) Aan A. Daradjat; M. Noch; M. T. Danakusuma
Zuriat Vol 2, No 1 (1991)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v2i1.6611

Abstract

Diversitas genetik 40 galur terigu telah diduga dengan menggunakan uji statistik D2 untuk sifat-sifat komponen hasil. Hasil analisis varians menunjukkan adanya tingkat diversitas yang sangat nyata untuk semua sifat-sifat tersebut. Populasi dikelompokkan ke dalam 5 kluster. Kluster III merupakan kelompok terbesar yang mencakup lebih dari 2/5 dari populasi. Galur No. 39 yang berpotensi hasil tinggi secara genetik berada pada kluster yang berbeda dengan galur No. 9, 11, 23, 25, 28, dan 35 yang unggul dalam beberapa sifat komponen hasil, sehingga galur-galur tersebut dapat dijadikan calon tetua persilangan.
Identification of Differentially Expressed Genes Using cDNA-AFLP During Six Days In Vitro Tuberization of Potato Nono Carsono; Christian Bachem
Zuriat Vol 14, No 1 (2003)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v14i1.6751

Abstract

Tuberization in potato is a complex developmental process resulting in the differentiation of stolon into the storage organ, tuber. During tuberization, change in gene expression has been known to occur. To study gene expression during tuberization over the time, in vitro tuberization system provides a suitable tool, due to its synchronous in tuber formation. An early six days axillary bud growing on tuber induction medium is a crucial development since a large number of genes change in their expression patterns during this period. In order to identify, isolate and sequencing the genes which displaying differential pattern between tuberizing and non-tuberizing potato explants during six days in vitro tuberization, cDNA-AFLP fingerprint, method for the visualization of gene expression using cDNA as template which is amplified to generate an RNA-fingerprinting, was used in this experiment. Seventeen primer combinations were chosen based on their expression profile from cDNA-AFLP fingerprint. Forty five TDFs (transcript derived fragment), which displayed differential expressions, were obtained. Tuberizing explants had much more TDFs, which developmentally regulated, than those from non tuberizing explants. Seven TDFs were isolated, cloned and then sequenced. One TDF did not find similarity in the current databases. The nucleotide sequence of TDF F showed best similarity to invertase ezymes from the databases. The homology of six TDFs with known sequences is discussed in this paper.
Respon Lima Kultivar Kentang (Solanum tuberosum L.) Terhadap Perlakuan Manitol pada Kultur In Vitro ( Winna Firdawati; Farida Damayanti; Suseno Amien; Warid Ali Qosim
Zuriat Vol 30, No 1 (2019): Latest Issue (April 2019)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.266 KB) | DOI: 10.24198/zuriat.v30i1.21783

Abstract

Potato is one of the vegetable commodities that potentially use as a source of carbohydrate and could be developed to support food diversification program. Global climate changes that lead to extreme climate change could cause some agricultural problem, i.e., drought stress. It is necessary to develop drought-tolerant cultivar as one of the options to solve the problem. The objective of this research was to identify the level of drought stress in five potato cultivars by observing the response of those cultivars to mannitol in vitro culture. The experiment was conducted at Tissue Culture Plant Breeding Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, on May 2014 to June 2014. The experiment was arranged in a factorial, completely randomized block design with two factors. The first factor was potato cultivar (five levels), consisted of Granola, Atlantik, Andina, Ping 06, and Merbabu 17. The second factor was mannitol concentration (five levels), comprised of 0.0 M, 0.1 M; 0.2 M; 0.3 M, and 0.4 M. The results showed that there was no interaction between potato cultivar and mannitol concentration in all traits. Number of leaves, number of nodes, number of roots, root length were independently affected by cultivar and mannitol concentration, meanwhile plantlet height, chlorophyll concentration was only individuals affected by mannitol concentration. It was also showed that mannitol concentration of 0.4 M decreased plantlets height, a number of leaves, and a number of roots in potato cultivars Granola, Atlantik, Andina, Ping 06 dan Merbabu 17.
Hubungan Kekerabatan Genetik Antar Tanaman The F1 dari Persilangan TRI 2024 X PS 1 Berdasarkan Penanda RAPD Bambang Sriyadi; R. Setiamihardja; A. Baihaki; W. Astika
Zuriat Vol 13, No 1 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i1.6715

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tetua dalam program persilangan untuk memperbaiki potensi hasil dari klon-klon seri TPS. Penelitian dilakukan di Labolatorium Biologi Molekuler dan Imunologi, Unit Penelitian Biologi Perkebunan, Bogor dari bulan Mei sampai dengan Juni 2000. Bahan yang digunakan adalah daun segar dari klon TRI 2024, PS 1, dan 45 tanaman F1 dari persilangan TRI 2024 X PS 1. Penanda RAPD dibangkitkan menggunakan 11 praimer dengan DNA dari seluruh genotipe. Pengamatan dilakukan terhadap munculnya penanda RAPD pada setiap genotip untuk setiap praimer. Kesamaan antar genotip dihitung menggunakan indeks kesamaan dan hubungan kekerabatan genetik dikonstruksi dengan UPMA. Hasil penelitian menunjukkan jumlah penanda RAPD yang dibangkitkan menggunakan 11 praimer pada DNA klon TRI 2024, PS 1, dan 45 tanaman F1 sebanyak 118, yang 80 (68%) diantaranya merupakan penanda RAPD polimorfik. Pada tingkat perbedaan 28% genotipe yang diuji dapat dipisahkan dua kelompok, yaitu klon TPS 24/5 dan TPS 88/2 yang berkerabat dekat dengan TRI 2024 dan klon TPS lainnya yang berkerabat dekat dengan klon PS 1. Dari 45 tanaman F1 ternyata 40 klon memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan klon PS 1. Pada tingkat kesamaan genetik 74% klon-klon yang mempunyai potensi hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit cacar the terpisahkan dalam tiga kelompok, yaitu I. TPS 17/3, TPS 3/2, TPS 93/3, dan TPS 94/1 yang berkerabat dekat dengan PS 1, II. TPS 127/1 dan TPS 24/2 yang memiliki hubungan kekerabatan agak jauh dengan PS 1 dan, III. TPS 87/1 yang memiliki hubungan kekerabatan genetik sangat jauh dengan PS 1. Rancangan persilangan yang memberikan peluang besar untuk mendapatkan turunan yang mempunyai sifat tahan terhadap penyakit dan berpotensi hasil tinggi adalah tetua klon TPS 17/3, TPS 3/2, TPS 93/3, dan TPS 94/1 disilangkan dengan klon TPS 87/1.
Penampilan Hasil dan Karakter Agronomis Varietas Lokal Ubijalar Dataran Rendah Papua M. Jusuf; K. Noerwijati; J. Restuono; Abner Basna
Zuriat Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v23i1.6860

Abstract

Ubijalar merupakan pangan pokok utama bagi suku-suku yang hidup di wilayah yang sumber pangan alternatifnya sangat sedikit seperti suku Dani di kawasan Lembah Baliem yang hampir tidak memiliki tanaman tradisional lain seperti sagu. Ubijalar tidak hanya di budidayakan di dataran tinggi (daerah pegunungan), akan tetapi juga di dataran rendah yang umumnya ditanam oleh masyarakat asli kabupaten Jayawijaya yang menetap di dataran rendah seperti di Kabupaten dan Kota Jayapura. Eksplorasi plasma nutfah ubijalar di dataran rendah Papua dilaksanakan tahun 2008 bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Propinsi Papua. Dari eksplorasi tersebut telah dikumpulkan sebanyak 40 aksesi ubijalar yang berasal dari beberapa lokasi dataran rendah di kabupaten dan kota Jayapura pada ketinggian 300-500 meter diatas permukaan laut. Evaluasi potensi hasil dan karakter agronomis dari varietas lokal yang di koleksi ini dilaksanakan di tiga lokasi dataran rendah di Tumpang, kabupaten Malang, Jawa Timur pada tahun 2009, Kecamatan Waibu, Kabupaten Jayapura propinsi Papua tahun 2010 dan Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada tahun 2011. Penelitian disusun menurut rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan dan 40 perlakuan (varietas lokal) dan ukuran petak 2m x 5m. Panjang gulud 5 meter dengan jarak tanam antar gulud 100 cm dan dalam gulud 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas dan lokasi berpengaruh nyata terhadap hasil dan komponen hasil. Hasil umbi tertinggi diperoleh di daerah Tumpang, kabupaten Malang, Jawa Timur, diikuti oleh lokasi Wajak, kabupaten Malang Jawa Timur dan Waibu, kabupaten Jayapura, Papua dengan rataan hasil masing-masingnya 27,6 ; 25,7 dan 22,6 t/ha. Sedangkan klon yang memberikan rataan hasil yang tinggi dan konsisten di 3 lokasi adalah Ornanining Kakurap 1, Batatas 2 dan Yoka 5 yang memberikan hasil masing-masingnya 34,1; 31,8 dan 29,9 t/ha. Kultivar lokal Sota 2 memiliki bentuk umbi yang bagus serta bentuk dan ukuran umbi yang seragam dengan rata-rata hasil 25,3 t/ha dan bahan kering umbi 32%. Varietas lokal yang memberikan hasil yang tinggi dan kualitas umbi yang baik dignakan untuk tetua persilangan untuk memperbaiki potensi hasil di dataran rendah.
Potensi Hasil dan Mutu Koleksi Plasma Nutfah dan Galur Harapan Tembakau Kasturi Anik Herwati; , Suwarso; M. Sholeh; Fatkhur Rochman
Zuriat Vol 12, No 1 (2001)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v12i1.6683

Abstract

Percobaan dilakukan pada bulan Maret sampai Agustus tahun 1997, di lahan sawah di desa Kranjingan, kecamatan Sumbersari, kabupaten Jember. Tujuan penelitian untuk mendapatkan kultivar dan galur harapan tembakau Kasturi yang mempunyai potensi hasil dan mutu tinggi. Perlakuan terdiri atas tujuh galur harapan (S.2153/1/12, S.2153/1/11, S.358/2/3/11, S.2156/1/3, S.358/1/10/4/ 1/1, S.2293/1, S.2155/1/7/1); dan empat kultivar dari koleksi plasma nutfah (Kasturi Ledokombo, Kasturi Mawar, Kasturi, dan Kasturi Bentoel), sebagai pembanding adalah kultivar Jepun (yang berkembang di petani). Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Dari hasil pengujian didapatkan tujuh genotipe yang lebih tinggi hasilnya dibandingkan dengan Jepun yaitu: Kasturi Ledokombo (1.77 ton ha-1), S.2153/1/12 (1.75 ton ha-1), S.2153/1/11 (1.67 ton ha-1), S.358/2/3/11 (1.66 ton Ha-1), Kasturi Mawar (1.65 ton ha-1), S.2156/1/13 (1.63 ton ha-1), S.2155/1/7/1 (1.57 ton ha-1). Indeks tanaman genotipe yang lebih tinggi dari Jepun adalah: Kasturi Ledokombo (144.23), S.2153/1/12 (140.35), S.2153/1/11 (134.72), S.358/2/3/11 (133.16), Kasturi Mawar (131.42), S.2156/1/13 (124.95).
EVALUASI KELENTURAN FENOTIPIK ULAT SUTERA (Bombyx mori L.) TERHADAP SUHU TINGGI , Jakaria
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6815

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mengenai keberadaan kelenturan fenotipik ulat sutera (Bombyx mori L.) terhadap temperatur tinggi. Terdapat fenomena kelenturan fenotipik, cost of plasticity dan trade off antar sifat. Perbedaan kelenturan fenotipik antar populasi ulat sutera juga ditemukan terutama pada sifat bobot badan instar IV, bobot badan instar V dan daya tahan hidup larva, sedangkan sifat kuantitatif lainnnya tidak ditemukan adanya perbedaan kelenturan fenotipik. Ulat sutera ras Cina (702) memiliki nilai kelenturan fenotipik yang lebih tinggi dibandingkan dengan ulat sutera ras Jepang (703) dan ras Tropis (poli) untuk sifat bobot badan instar IV, bobot badan instar V dan daya tahan hidup larva. Nilai kelentruan fenotipik ulat sutara ras Jepang dan ras Tropis sama untuk semua sifat kuantitatif yang diamati kecuali sifat bobot badan instar IV dan bobot kokon betina.
Korelasi Sifat Komponen Hasil Terhadap Hasil Genotipe-Genotipe F1 dan F1 Resiprokal Lima Tetua Kacang Hijau dalam Persilangan Dialil Ceciliany Permadi; Achmad Baihaki; Murdaningsih H. K.; Toto Warsa
Zuriat Vol 4, No 1 (1993)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v4i1.6648

Abstract

Penelitian bertujuan mengevaluasi nilai korelasi genotipik dan fenotipik sifat komponen hasil terhadap sifat hasil populasi F1 dan F1 resiprokal seri persilangan lima tetua kacang hijau dalam disain dialil, dan telah dilakukan di Desa Manggungharja, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, dari bulan Juli sampai Desember 1988. Kelima genotipe tetua adalah Siwaik, No. 129, Bhakti, VC. 2750 A, dan VC, 3301 A. Percobaan dilaksanakan dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menujukkan bahwa sifat komponen hasil terpenting dalam menunjang program seleksi kacang hijau yang mempunyai hubungan yang paling erat dengan sifat hasill, adalah sifat jumlah polong per tanaman untuk populasi F1, dan sifat jumlah polong per tanaman serta jumlah biji per tanaman untuk populasi F1 resiprokal.
Beberapa Faktor Determinan dalam Penyusunan Peta Genetik , Jamsari
Zuriat Vol 18, No 1 (2007)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v18i1.6742

Abstract

Peta genetik merupakan faktor penting dalam isolasi gen berdasar kloning. Beberapa faktor, seperti sistem skoring, nilai REC dan nilai LOD memberikan pengaruh nyata dalam penyusunan peta genetik. Skoring kodominan (LOD bernilai 0−25) terbukti memberikan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan system scoring dominan (LOD bernilai 0−10). Disamping sistem skoring nilai parameter LOD yang digunakan juga terbukti mempengaruhi kestabilan peta genetic yang dihasilkan. Sistem scoring kodominan memberikan peluang penggunaan interval nilai LOD yang lebih luas dibandingkan dengan system scoring dominant.

Page 11 of 30 | Total Record : 298