cover
Contact Name
Arlan Kaharu
Contact Email
arlankaharu@ung.ac.id
Phone
+6281342423408
Journal Mail Official
srisutarni@ung.ac.id
Editorial Address
Jalan Prof. Dr. B. J. Habibie, Desa Moutong, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo, Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
JAMBURA Journal of Architecture
ISSN : 26545896     EISSN : 28088794     DOI : 10.37905
Jambura Journal of Architecture (JJoA) is a peer reviewed journal published biannual (Juni and Desember) by Architecture Departement, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Gorontalo. This journal provides immediate open access to its content on the principle that making research freely available to the public supports a greater global exchange of knowledge. The aims of this journal is to provide a venue for academicians, researchers, practitioners and architec for publishing the original research articles or review articles. JJoA is intended to be the journal for publishing of results of research on Architecture both empirical and normative study, especially in architecture issues. The various topics but not limited to, architecture theory, architecture design, architecture science, sustainable built environment, architectural history, material technology, Urban planning, Building structure, in the framework of architecture studies.
Articles 171 Documents
Kampung Segitiga Sompilan: Dinamika Ruang dan Kearifan Lokal Munandar, Munarsi; Suhardi, Cahyani; Mustakima, Dui Buana
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.34450

Abstract

Urbanisasi yang pesat di Yogyakarta telah mendorong transformasi kampung kota, termasuk Blok Sompilan di Kampung Pogung Kidul, yang kini menghadapi tekanan akibat komersialisasi lahan dan pembangunan infrastruktur kota. Permasalahan penelitian ini adalah menelaah bagaimana konfigurasi spasial Blok Sompilan terbentuk melalui praktik sosial warga serta nilai-nilai lokal yang memengaruhi pola spasialnya. Penelitian ini menganalisis produksi ruang di Blok Sompilan, Yogyakarta, dengan pendekatan teori produksi ruang Henri Lefebvre. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Blok Sompilan dibentuk oleh jaringan jalan berbentuk segitiga yang mengurung pola hunian organik dimana bagian tengah stabil sedangkan bagian tepi lebih dinamis dengan bangunan  multifungsi Temuan ini menunjukkan bahwa Blok Sompilan tidak tumbuh karena “kekurangan” sistem formal, melainkan merupakan hasil produksi ruang yang kompleks dan adaptif: morfologi organik terbentuk dari pewarisan lahan, pembagian kapling dan pembangunan jalan; adanya ikatan emosional terhadap kampung  mendorong  warga untuk tetap bertahan di tengah urbanisasi. Sehingga mengembangkan praktik sosial seperti ngindung serta sistem kepemilikan lahan bangunan yang tumpang-tindih (hibrid). Sehingga ruang di Sompilan adalah ruang negosiasi terus‑menerus antara kebutuhan ekonomi, nilai kultural, dan intervensi infrastruktur formal, sehingga menghasilkan konfigurasi spasial kampung kota yang dinamis.
TELAAH ARSITEKTURAL TERHADAP KARAKTER INDISH PADA DESAIN GEREJA MASEHI INJILI BOLAANG MONGONDOW DI KOTAMOBAGU Erick A, Yohanes P; Ma'sum, Ratna Dwi
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.31530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik arsitektur "Indish" pada Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow di Kotamobagu, dengan menelusuri bagaimana elemen desain kolonial Belanda diintegrasikan dengan adaptasi lokal untuk menghadapi kondisi iklim tropis dan kebutuhan fungsional masyarakat setempat. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, meliputi observasi lapangan, studi literatur dan arsip, analisis foto lama, guna melakukan triangulasi data dan memperoleh gambaran menyeluruh tentang penerapan ciri-ciri arsitektur seperti denah simetris, orientasi bangunan yang menghindari sinar matahari langsung, penggunaan bahan kayu yang kokoh, serta tata ruang yang diadaptasi untuk sirkulasi udara alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja ini mempertahankan beberapa elemen penting dari gaya Indish, misalnya berdirinya bangunan di atas tanah yang luas, penggunaan konstruksi kayu, ventilasi dan pencahayaan alami yang optimal, dan kehadiran elemen simbolik seperti bangunan penggantung lonceng. Namun terdapat penyimpangan pada elemen lain seperti ketiadaan teras yang mengelilingi bangunan, absennya elemen menara khas serta penggunaan material kaca pada jendela, yang mencerminkan proses modifikasi desain seiring perkembangan jaman. Penelitian ini mengungkap bahwa Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow merupakan hasil sintesis dinamis antara warisan arsitektur kolonial dan kearifan lokal menghasilkan identitas visual dan fungsional yang unik serta relevan dengan konteks modern di Sulawesi Utara.Kata kunci: Telaah Arsitektural; Arsitektur Indish; Gereja Masehi Injili; Bolaang Mongondow
REDESAIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH OTANAHA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN Monoarfa, Aderival Fidyanto; Siola, Amru; Antu, Evi Sunarti
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.35018

Abstract

Otanaha Regional Public Hospital is a Type C hospital located in Gorontalo Province. Existing issues at the hospital, such as poorly organized circulation, zoning that does not meet requirements, decentralized waste management, and inadequate facilities, serve as the basis for a redesign using a Sustainable Architecture approach. The design challenge is to identify an environmentally sustainable solution that balances the use of materials and energy while improving spatial organization and other environmental factors. The goal of this redesign is to develop a facility that aligns with the specifications and needs of the hospital, ensuring the implementation of physical construction that meets quality, time, and cost requirements, while also adhering to technical standards and building reliability regulations. The method used is an architectural design process incorporating a Sustainable Architecture approach. The resulting redesign incorporates features such as optimized natural lighting and ventilation through strategic placement of window openings and roof design, wastewater treatment for energy and water efficiency, integrated waste management, the selection of environmentally friendly materials, and the application of cultural preservation principles in the façade design, reflecting Gorontalo's cultural motifs.
PENERAPAN ARSITEKTUR TROPIS PADA PEYAPATA MOUNTAIN RESORT DI KABUPATEN BONE BOLANGO Huda, Miftakhul; Trumansyahjaya, Kalih; Arifin, Sri Sutarni
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.29621

Abstract

Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia menjadi potensi wisata alam yang tidak dapat dikesampingkan. Seperti rangkaian pegunungan yang menyejukkan dan menjadi tujuan pendakian para wisatawan. Pegununganpun menawarkan berbagai hal seperti udara yang sejuk, aktivitas pegunungan yang dapat menjaga kebugaran tubuh, memberikan petualangan dan membangun kebersamaan. Selain itu, keanekaragaman flora fauna menjadi daya tarik yang dimiliki oleh wisata alam. Bone Bolango bagian dari Provinsi Gorontalo merupakan daerah yang memiliki potensi dengan berbagai keanekaragaman sumber daya pariwisata, meliputi alam dan budaya serta pengembangan ekowisata. Salah satunya tempat wisata yang menyediakan wisata alam di Kabupaten Bone Bolango yaitu Bukit Peyapata. Bukit Peyapata merupakan wisata Camping Ground yang menghadirkan nuansa alam dan aktivitas pegunungan. Keadaan iklim yang terbilang cukup ekstrim karena merupakan daerah tropis serta berada pada dataran tinggi, maka perlunya konsep arsitektur yang berkesinambungan serta dapat beradaptasi dengan iklim daerah tersebut. Dari hal ini, maka penggunaan konsep arsitektur tropis dipilih karena mampu beradaptasi serta selaras dengan kondisi dan iklim yang ada.Peneletian ini bertujuan untuk mewujudkan kawasan Bukit Peyapata Kabupaten Bone Bolango sebagai pengembangan kawasan wisata alam yang terangkum dalam kawasan Mountain Resort, yang memenuhi kaidah arsitektural serta memiliki nilai estetika yang baik. Data pada penelitian dibagi menjadi dua, yakni data untuk objek perancangan Mountain Resort dan data untuk tema perancangan, dimana kedua data ini akan terbagi menjadi data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data primer menggunakan metode observasi secara langsung. Sedangkan teknik pengumpulan data sekunder menggunakan kajian studi literatur, arsip/dokumen yang berhubungan dengan objek rancangan, referensi buku atau skripsi, jurnal-jurnal terkait objek dan tema perancangan, serta melalui media internet. Hasil Laporan berupa konsep perancangan dan penerapannya pada rancangan sebagai pedoman untuk melanjutkan perancangan Peyapata Mountain Resort dengan Pendekatan Arsitektur Tropis di Bone Bolango.
IMPLEMENTASI PRINSIP BANGUNAN PINTAR PADA BANGUNAN KOMERSIAL DI KOTA MANADO (STUDI KASUS: PUSAT PERBELANJAAN MALL) Lintong, Steven; Mandey, Johansen Cruyff; Supardjo, Surijadi
JAMBURA Journal of Architecture Vol 7, No 2 (2025): JJoA : Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v7i2.35360

Abstract

Kota Manado, salah satu kota di Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, menghadapi tantangan signifikan seiring dengan meningkatnya urbanisasi dan kebutuhan akan infrastruktur yang efisien. Pertumbuhan populasi dan aktivitas komersial yang pesat menyebabkan tekanan pada sumber daya alam, lahan, dan energi. Dalam konteks ini, konsep bangunan pintar (smart building) muncul sebagai solusi inovatif yang dapat membantu mengatasi berbagai masalah tersebut. Bangunan pintar tidak hanya menawarkan efisiensi energi, tetapi juga meningkatkan kenyamanan pengguna dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Prinsip bangunan pintar melibatkan integrasi teknologi informasi dan komunikasi dengan sistem bangunan untuk menciptakan lingkungan yang responsif dan adaptif. Untuk itu, penelitian ini bertujuan melakukan eksplorasi terhadap implementasi prinsip-prinsip bangunan pintar dalam konteks bangunan komersial di Kota Manado. Menurut Prof. Mohammed Ali Berawi, M.Eng.Sc., Ph.D, dkk, dalam Nusantara’s Smart Buildings Guidline (2023) menyatakan bahwa bangunan pintar memiliki 6 prinsip, yaitu otomatisasi, multifungsi, adaptabilitas, interaktivitas, inklusivitas, dan efisiensi. Bangunan pintar dilengkapi beberapa komponen atau fitur yang memungkinkan efisiensi energi, keamanan, dan kenyamanan yang lebih baik. Setiap prinsip memiliki komponen atau fitur yang terintegrasi pada bangunan pintar yang harus memenuhi persyaratan dan spesifikasi fungsional. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk menggambarkan secara rinci fenomena penerapan bangunan pintar dalam konteks bangunan komersial di Manado. Data diperoleh melalui survei terhadap penghuni bangunan untuk mengukur tingkat kenyamanan dan kepuasan mereka, serta wawancara mendalam dengan arsitek, pengembang, dan pengelola bangunan. Hasil penelitian yang dilakukan pada Manado Town Square dan Mega Mall Manado ditemukan bahwa secara umum dan signifikan ke – 2 objek telah mengimplementasikan prinsip – prinsip Bangunan Pintar.
EVALUASI EFEKTIVITAS VOKAL POIN TERHADAP PENINGKATAN PENGALAMAN SENSORIK DAN EMOSIONAL WISATAWAN DI MALALAYANG BEACH WALK MANADO Loudy Moody Berce Kalalo; Fela Warouw; Hendriek Hanie Karongkong
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.38778

Abstract

ABSTRACT. This research evaluates the effectiveness of the vocal point in enhancing the sensory and emotional experiences of tourists at Malalayang Beach Walk Manado, an urban beach area with potential yet suboptimal utilization of its built landscape. Employing a mixed-methods approach (sequential explanatory), this study combines quantitative data from 100 respondents via Likert-scale questionnaires with qualitative data from in-depth interviews and observations. Descriptive analysis results indicate that the vocal point (observation tower) is rated as effective in attracting tourist attention (mean 4.25), significantly contributing to sensory experiences (correlation 0.68) which are rated highly (mean 4.24), particularly in visual and auditory aspects, as well as emotional experiences (correlation 0.72) which fall into the very high category (mean 4.35) with dominant indicators of satisfaction and comfort. Regression analysis demonstrates that the vocal point contributes 52% to the overall tourist experience, underscoring the crucial role of architectural elements in shaping perceptions and eliciting positive emotional responses. These findings affirm the urgency of designing with strong vocal points to enhance the attractiveness of tourist destinations, and provide practical implications for managers to optimize these elements to create a satisfying holistic experience for visitors. ABSTRAK. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas vocal point dalam meningkatkan pengalaman sensorik dan emosional wisatawan di Malalayang Beach Walk Manado, sebuah area pantai urban yang berpotensi namun belum optimal dalam pemanfaatan lanskap binaannya. Dengan menggunakan pendekatan mixed methods (sequential explanatory), penelitian ini mengombinasikan data kuantitatif dari 100 responden melalui kuesioner berskala Likert dan data kualitatif dari wawancara mendalam, serta observasi. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa vocal point (menara pandang) dinilai efektif menarik perhatian wisatawan (rata-rata 4,25), yang berkontribusi signifikan terhadap pengalaman sensorik (korelasi 0,68) yang dinilai tinggi (rata-rata 4,24), terutama dari aspek visual dan auditori, serta pengalaman emosional (korelasi 0,72) yang berada pada kategori sangat tinggi (rata-rata 4,35) dengan indikator kepuasan dan kenyamanan yang dominan. Analisis regresi menunjukkan bahwa vocal point memberikan kontribusi sebesar 52% terhadap keseluruhan pengalaman wisatawan, menggarisbawahi peran krusial elemen arsitektural dalam membentuk persepsi dan memicu respons emosional positif. Temuan ini menegaskan urgensi desain berbasis vocal point yang kuat untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata, serta memberikan implikasi praktis bagi pengelola untuk mengoptimalkan elemen-elemen tersebut guna menciptakan pengalaman holistik yang memuaskan bagi pengunjung.
EVALUASI OPTIMALISASI PENCAHAYAAN BUATAN RUANG LAB PERANCANGAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS SAMRATULANGI BERDASARKAN SNI MENGGUNAKAN SIMULASI DIALUXEVO Ryo Kurniawan Prijadi; Vincent Dwight Pasla; Windy Anastasia Tambuwun
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.39252

Abstract

ABSTRACT. This study aims to evaluate and optimize the artificial lighting system in the Architectural Design Lab Room of Sam Ratulangi University based on the Indonesian National Standard (SNI) using DIALux Evo simulation. The study was conducted with a quantitative approach through three-dimensional modeling of the laboratory space, measuring existing conditions, and analyzing photometric parameters including illuminance levels, lighting evenness (Uniformity/U0), lighting power density (LPD), and energy saving potential. The simulation results show that the student work area has an average illuminance level of 514–517 lux, thus meeting the SNI 03-6575:2001 standard for laboratory spaces and design studios. The lighting distribution is also relatively even with a good evenness value so that it can support user visual comfort. However, the evaluation results show that the lighting power density in the work area reaches 19.6 W/m², exceeding the maximum energy conservation limit according to SNI 6197:2020, which is 15 W/m². Energy simulations indicate potential savings of 461 kWh/year through the implementation of optimization strategies. Recommendations include the use of high-efficiency LED lamps, the implementation of a zoning-based control system, and the integration of natural lighting through daylight harvesting. This study demonstrates that ideal laboratory lighting should not only focus on visual comfort but also consider energy efficiency and building sustainability principles. ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan sistem pencahayaan buatan pada Ruang Lab Perancangan Arsitektur Universitas Sam Ratulangi berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) menggunakan simulasi DIALux Evo. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melalui pemodelan tiga dimensi ruang laboratorium, pengukuran kondisi eksisting, serta analisis parameter fotometri yang meliputi tingkat iluminansi, kemerataan pencahayaan (Uniformity/U0), kepadatan daya pencahayaan (Lighting Power Density/LPD), dan potensi penghematan energi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa area kerja mahasiswa memiliki tingkat iluminansi rata-rata sebesar 514–517 lux sehingga telah memenuhi standar SNI 03-6575:2001 untuk ruang laboratorium dan studio perancangan. Distribusi pencahayaan juga tergolong merata dengan nilai kemerataan yang baik sehingga mampu mendukung kenyamanan visual pengguna. Namun demikian, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kepadatan daya pencahayaan pada area kerja mencapai 19,6 W/m², melebihi batas maksimal konservasi energi menurut SNI 6197:2020 yaitu 15 W/m². Simulasi energi menunjukkan adanya potensi penghematan sebesar 461 kWh/tahun melalui penerapan strategi optimalisasi. Rekomendasi yang diajukan meliputi penggunaan lampu LED berefikasi tinggi, penerapan sistem kontrol berbasis zonasi, serta integrasi pencahayaan alami melalui konsep daylight harvesting. Penelitian ini menunjukkan bahwa pencahayaan laboratorium yang ideal tidak hanya berfokus pada kenyamanan visual, tetapi juga harus mempertimbangkan efisiensi energi dan prinsip keberlanjutan bangunan.
EVALUASI KINERJA PENGELOLAAN TAPAK PADA GEDUNG DEKANAT FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Alvin Jance Tinangon; Julianus Anthon R. Sondakh; Surjadi Supardjo; Billy Hinn Mandagi; Lionita Ekklesia Muaja; Joo Van Basten Josua Kolondam
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.28460

Abstract

ABSTRACTSite management is an important aspect in the assessment of Green Building performance because it relates directly to building orientation, accessibility, circulation, green open space, pedestrian facilities, parking areas, outdoor lighting, and public infrastructure. This study aimed to evaluate the performance of site management at the Deanery Building of the Faculty of Engineering, Universitas Sam Ratulangi, Manado, based on the Green Building assessment criteria regulated by the Ministry of Public Works and Housing. The research used a descriptive quantitative method with an evaluative approach. Data were collected through technical planning document review, field observation, visual documentation, and measurement of site components. The assessment focused on the technical planning stage for a new building, using the Green Building checklist as the main instrument. The results showed that the building obtained 19 points out of a maximum of 38 points, equal to 50%. This achievement placed the site management performance in the Pratama category. Several indicators had fulfilled the basic criteria, including building orientation, albedo value, rainwater infiltration wells, pedestrian access, disability ramp, and automatic outdoor lighting system. However, several aspects still required improvement, particularly the passive character of private green open space, limited pedestrian connectivity, the absence of bicycle parking, the absence of electric vehicle charging facilities, and the dominance of motor vehicle parking areas. The study concludes that the site management performance of the building has met the basic Green Building criteria, but further improvement is needed to support a more sustainable campus environment. ABSTRAKPengelolaan tapak merupakan salah satu aspek penting dalam penilaian kinerja Bangunan Gedung Hijau karena berkaitan langsung dengan orientasi bangunan, aksesibilitas, sirkulasi, ruang terbuka hijau, jalur pedestrian, lahan parkir, pencahayaan ruang luar, serta prasarana dan sarana umum. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja pengelolaan tapak pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado berdasarkan kriteria penilaian Bangunan Gedung Hijau yang diatur oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan evaluatif. Data diperoleh melalui kajian dokumen perencanaan teknis, observasi lapangan, dokumentasi visual, dan pengukuran komponen tapak. Penilaian difokuskan pada tahap perencanaan teknis bangunan gedung baru dengan menggunakan daftar simak Bangunan Gedung Hijau sebagai instrumen utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gedung Dekanat Fakultas Teknik memperoleh nilai 19 dari total 38 poin atau sebesar 50%. Capaian ini menempatkan kinerja pengelolaan tapak pada kategori Pratama. Beberapa indikator telah memenuhi kriteria dasar, seperti orientasi bangunan, nilai albedo, sumur resapan, jalur pedestrian, ramp disabilitas, dan sistem pencahayaan ruang luar. Namun, beberapa aspek masih perlu ditingkatkan, terutama fungsi aktif ruang terbuka hijau privat, keterhubungan jalur pedestrian, penyediaan parkir sepeda, fasilitas kendaraan listrik, dan pengendalian dominasi lahan parkir kendaraan bermotor. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kinerja pengelolaan tapak telah memenuhi kriteria dasar Bangunan Gedung Hijau, tetapi masih memerlukan peningkatan untuk mendukung lingkungan kampus yang lebih berkelanjutan.
ANALISIS ARSITEKTUR LANSKAP TAMAN RTH KOTA TENGAH GORONTALO DITINJAU DARI ASPEK EKOLOGIS, ESTETIKA, DAN KEBERLANJUTAN Faridah Idha; Suleman Rauf; Tio Prasetyo Les
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.38460

Abstract

ABSTRACT. Green Open Space (GOS) is a crucial element in the urban spatial system, serving to maintain ecological balance, enhance the aesthetic quality of the environment, and provide public space for community social activities. Landscape architecture is a crucial approach to designing and evaluating outdoor spaces through the integration of natural and artificial elements oriented towards function, aesthetics, and environmental sustainability. The Gorontalo Central City Green Open Space Park is one such public green open space that plays a strategic role as a social interaction space and a recreational facility for the community.This study aims to analyze the architectural quality of the Central City Green Open Space Park based on ecological, aesthetic, and sustainability aspects. The method used was descriptive qualitative through field observation, documentation, and questionnaires. Primary data were obtained from 50 respondents, active park users, selected using a purposive sampling technique. Data analysis was conducted descriptively by calculating the average score of the questionnaire results using a Likert scale of 1–5, then categorizing them into levels ranging from very poor to very good. Assessment parameters included vegetation condition, shade, and area infiltration for ecological aspects; vegetation arrangement, visual composition, and landscape elements for aesthetic aspects; and park maintenance, waste management, and supporting facilities for sustainability aspects.The results of the study showed that the ecological aspect obtained an average score of 3.68 (good), the aesthetic aspect 3.42 (good), and the sustainability aspect 2.96 (sufficient). Overall, the Central City Green Open Space Park has quite good landscape quality, but still needs improvement, especially in the sustainability aspect, particularly in the management and maintenance of the park. ABSTRAK. Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan elemen penting dalam sistem ruang kota yang berfungsi menjaga keseimbangan ekologis, meningkatkan kualitas estetika lingkungan, serta menyediakan ruang publik bagi aktivitas sosial masyarakat. Arsitektur lanskap menjadi pendekatan penting dalam merancang dan mengevaluasi ruang luar melalui integrasi elemen alami dan buatan yang berorientasi pada fungsi, estetika, dan keberlanjutan lingkungan. Taman RTH Kota Tengah Gorontalo merupakan salah satu ruang terbuka hijau publik yang memiliki peran strategis sebagai ruang interaksi sosial, sarana rekreasi masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas arsitektur Taman RTH Kota Tengah berdasarkan aspek ekologis, estetika, dan keberlnjutan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan kuesioner. Data primer diperoleh dari 50 responden pengguna aktif taman yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata hasil kuesioner menggunakan skala Likert 1–5, kemudian diklasifikasikan ke dalam tingkat penilaian sangat kurang hingga sangat baik. Parameter penilaian meliputi kondisi vegetasi, keteduhan, dan resapan kawasan pada aspek ekologis; penataan vegetasi, komposisi visual, dan elemen lanskap pada aspek estetika; serta pemeliharaan taman, pengelolaan sampah, dan fasilitas pendukung pada aspek keberlanjutan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek ekologi memperoleh nilai rata-rata 3,68 (baik), aspek estetika 3,42 (baik), dan aspek keberlanjutan 2,96 (cukup). Secara keseluruhan, Taman RTH Kota Tengah memiliki kualitas lanskap yang cukup baik, namun masih memerlukan peningkatan terutama pada aspek keberlanjutan, khususnya dalam pengelolaan dan pemeliharaan taman. 
KARAKTERISTIK KONDISI TERMAL PERMUKIMAN PESISIR DIKAWASAN PERAIRAN Husnirrahman Jamaluddin; Armiwaty Armiwaty; Umara Hasmarani Rizqiyah; Raeny Tenriola Idrus; Andi Achmad Fauzan Bachtiar
JAMBURA Journal of Architecture Vol 8, No 1 (2026): Vol 8, No 1 (2026) JJoA : Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jjoa.v8i1.37612

Abstract

ABSTRACT. Coastal settlements exhibit distinctive microclimatic characteristics resulting from complex interactions between water bodies and local atmospheric conditions. Variations in water types, including marine and inland waters, contribute to differences in air temperature, relative humidity, wind speed, and solar radiation, all of which influence thermal comfort. This study aims to analyze the differences in microclimatic characteristics between coastal areas adjacent to marine waters and those near inland waters, as well as to identify the most influential parameters affecting thermal conditions. Data were collected through field measurements of four primary parameters—air temperature, relative humidity, wind speed, and solar radiation—at four observation periods within a single day to capture diurnal variations. The data were analyzed using descriptive quantitative methods, followed by inferential statistical analysis employing an independent t-test to determine the significance of differences between the two locations. The results indicate that inland water areas tend to have higher air temperatures and greater thermal fluctuations, whereas marine coastal areas are characterized by higher humidity levels and stronger, more stable wind speeds. Although variations were observed across all parameters, only wind speed demonstrated a statistically significant difference. These findings suggest that sea–land breeze dynamics play a dominant role in shaping coastal microclimates. This study provides a scientific basis for developing adaptive, context-sensitive, and sustainable design and management strategies for coastal settlements in response to local microclimatic conditions. ABSTRAK. Permukiman pesisir memiliki karakter mikroklimat yang khas akibat interaksi kompleks antara badan air dan kondisi atmosfer setempat. Perbedaan jenis perairan, baik laut maupun darat, berkontribusi terhadap variasi suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan angin, serta radiasi matahari yang pada akhirnya memengaruhi kenyamanan termal penghuni. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan karakteristik mikroklimat antara kawasan pesisir perairan laut dan perairan darat, serta mengidentifikasi parameter dominan yang memengaruhi kondisi termal. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran empat parameter utama, yaitu suhu udara, kelembapan relatif, kecepatan angin, dan radiasi matahari, pada empat rentang waktu dalam satu hari untuk menangkap dinamika harian. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif, dilanjutkan dengan uji statistik menggunakan uji-t untuk menguji signifikansi perbedaan antar lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan perairan darat memiliki suhu udara yang lebih tinggi dengan fluktuasi termal yang lebih besar, sedangkan kawasan pesisir laut ditandai oleh tingkat kelembapan yang lebih tinggi serta kecepatan angin yang lebih kuat dan stabil. Meskipun terdapat perbedaan pada seluruh parameter, hanya kecepatan angin yang menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa dinamika angin laut–daratan merupakan faktor dominan dalam pembentukan mikroklimat pesisir. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi penting sebagai dasar ilmiah dalam perumusan strategi perancangan dan pengelolaan permukiman pesisir yang adaptif, kontekstual, dan berkelanjutan terhadap kondisi mikroklimat lokal.