cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2024): April" : 26 Documents clear
Model Kelembagaan Adat Desa dalam Membangun Ekonomi Produktif Masyarakat Faletehan, Aun Falestien; Mauludin, Muchammad Firman; Hakim, Ahmad Khairul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.29364

Abstract

Di tengah minimnya studi tentang model kelembagaan adat dan peranannya dalam sektor ekonomi, riset ini bertujuan untuk melahirkan model organisasi Lembaga Adat Desa yang efektif dan menggambarkan peranannya dalam pengembangan kegiatan ekonomi produktif masyarakat. Mengambil desain kualitatif, riset ini dilakukan di Desa Ngadisari Probolinggo dengan memanfaatkan teknik pengumpulan data seperti wawancara dan observasi. Dengan analisis tematik, hasil riset menunjukkan bahwa struktur kelembagaan adat di desa ini cenderung bersifat informal dan menekankan adanya kolaborasi kolegial antara kepala desa, Paruman Dukun Tengger, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia. Ketiganya membentuk kesatuan entitas unik yang bertugas dalam melestarikan adat dan mengayomi masyarakat terkait hal-hal apapun. Peranan Lembaga Adat Desa ini dalam mengungkit kegiatan ekonomi produktif masyarakat cukup tampak dalam fungsinya sebagai pelindung aset ekonomi warga, lembaga yang mengajarkan pendekatan spiritual dan kearifan lokal terkait sektor mata pencaharian masyarakat, penegak aturan adat untuk konservasi alam, inisiator kolaborasi dengan pihak luar, mentor teknis di sektor ekonomi, dan pengelola keharmonisan sosial dalam bekerja. Studi ini merekomendasikan agar model kelembagaan adat desa seperti ini hendaknya dipertahankan sebagai pola kepemimpinan yang unik untuk melestarikan adat, membantu pengembangan ekonomi produktif, dan mengayomi masyarakat.      Amidst the paucity of research on the customary institutional model and its involvement in the economic domain, this study endeavors to formulate an effective organizational framework for the village customary institution and scrutinize its contributions to the advancement of the community's productive economic endeavors. Employing a qualitative approach, this investigation was carried out in Ngadisari Village, Probolinggo, using data collection techniques including interviews and observations. With thematic analysis, the findings reveal that the structure of the customary institution in this village leans towards informality, prioritizing collaborative partnerships between the village head, Paruman Dukun Tengger, and Parisada Hindu Dharma Indonesia. These three entities together constitute a distinctive and cohesive unit, entrusted with the preservation of traditions and safeguarding the community's interests across diverse spheres. The village customary institution plays a discernible role in catalyzing the community's productive economic undertakings. It functions as a guardian of the community's economic assets, an institution that imparts spiritual insights and indigenous wisdom pertinent to the community's livelihood pursuits, enforcers of traditional regulations for ecological preservation, initiators of collaborative ventures with external entities, technical mentors in the economic domain, and managers of harmonious workplace interactions. This study recommends that such a model of village customary institutions should be preserved as a unique leadership pattern to preserve traditions, aid in the development of productive economies, and nurture communities.
Nilai-Nilai Etno-Parenting Pada Serat Sasana Sunu: Analisis Hermeneutik Hermawan, Salsabila Yuli Adys; Arilla Ainda Ubak; Sabila, Aliza Nur; Harits, Iasha Brillianti; Putra, Fathur Andyka; Wahyuni, Fitri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30173

Abstract

Terjadinya penyimpangan moral dan gaya hidup generasi muda sering kali menyebabkan bergesernya nilai-nilai moral dan budaya lokal yang ada sehingga diperlukan adanya revitalisasi nilai-nilai moral. Upaya tersebut dapat dilakukan dalam penerapan pola asuh dengan berlandaskan budaya lokal yang ada di lingkungan sekitar. Salah satu perantara yang dapat digunakan dalam mendidik karakter moral anak adalah Serat Sasana Sunu. Tujuan diadakannya riset ini adalah untuk; 1) mengkaji filosofi nilai-nilai yang terkandung pada Serat Sasana Sunu, serta 2) menginternalisasi dan mengintegrasikan Serat Sasana Sunu sebagai rekomendasi model parenting yang berlandaskan budaya lokal. Riset ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif hermeneutika milik Ricoeur. Data diperoleh menggunakan teknik studi literatur (literature riset). Hasil yang dicapai dalam riset di antaranya adalah ditemukannya 5 nilai dari Serat Sasana Sunu yang dapat digunakan sebagai model parenting, yaitu; ajaran beragama, ajaran menyikapi kegemaran hidup, ajaran berkawan, sikap sebagai generasi muda, dan ajaran bertutur kata. Integrasi nilai-nilai parenting yang telah ditemukan dalam Serat Sasana Sunu relevan dengan gabungan antara pendekatan pola asuh demokratis dan eklektik.   The occurrence of deviations in the morals and lifestyles of the younger generation often causes a shift in existing moral values ​​and local culture so that there is a need to revitalize moral values. These efforts can be made in implementing parenting patterns based on local culture in the surrounding environment. One of the intermediaries that can be used to educate children's moral character is Serat Sasana Sunu. The aim of conducting this research is to; 1) examine the philosophy of values ​​contained in Serat Sasana Sunu, and 2) internalize and integrate Serat Sasana Sunu as a recommended parenting model based on local culture. This research was carried out using Ricoeur's qualitative hermeneutical method. Data in this research was obtained using literature study techniques (literature research). The results achieved in the research include the discovery of 5 values ​​from Serat Sasana Sunu which can be used as a parenting model, namely; religious teachings, teachings about dealing with life's passions, teachings about making friends, attitudes as a young generation, and teachings about speaking. The integration of parenting values ​​that have been found in Serat Sasana Sunu is relevant to the combination of democratic and eclectic parenting approaches.
Pola Arkeoastronomi: Kerajaan Wengker Berdasarkan Garis Imajiner pada Sendang Kuno di Ponorogo Sucahyo, Iqbal Rizki; Zameilani, Niswa Asmi; Andhifani, Wahyu Rizky; Wiretno, Wiretno
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30205

Abstract

Kabupaten Ponorogo merekam jejak peradaban Kerajaan Wengker yang masih diperdebatkan lokasi pusat pemerintahan. Berdasarkan observasi awal, peneliti menemukan pola garis imajiner yaitu Situs Sendang Beji, Situs Sirah keteng, Goa Pertapa Selo Jolo Tundho dan Punden Ngreco. Pola garis tersebut menunjukkan kemungkinan sebuah pola tata ruang dan kosmologi. Metode yang digunakan adalah Grounded Research yang dibantu dengan ilmu Arkeoastronomi serta budaya untuk mencari hubungan garis imajiner dengan posisi benda langit. Penelitian ini menggunakan teknik analisis astronomi dan analisis arkeologi yang diperoleh dari wawancara, literatur, benda arkeologi dan kondisi geografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garis imajiner utama yang ditemukan peneliti memiliki kesegarisan dengan matahari pada Bulan Caitra yang merupakan bulan pertama dalam kalender saka serta kosmologi spiritual Masyarakat Wengker yang berorientasi pada gunung Suci Wilis. Topografi tinggalan arkeologi pada garis imajiner dan sekitarnya belum menunjukkan keberadaan lokasi pusat pemerintahan tetapi menjadi bukti adanya peradaban Kerajaan Wengker yang terbagi dalam 3 wilayah yaitu, tani atau pemukiman penduduk, dharma lpas atau tanah hibah raja dan karesyian. Selain itu, situs-situs disekitar garis imajiner juga menunjukkan pola pertahanan raja atau penguasa wilayah Wengker. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan pemerintah dalam pelestarian situs sejarah di Ponorogo, serta menambah khazanah ilmu pengetahuan, agar terus dikembangkan.   Ponorogo Regency records traces of the civilization of the Wengker Kingdom which is still debated on the location of the seat of government. Based on initial observations, researchers found imaginary line patterns, namely the Sendang Beji Site, Sirah keteng Site, Selo Jolo Tundho and Punden Ngreco. The line pattern shows the possibility of a spatial and cosmological pattern. The method used is Grounded Research which is assisted by archaeoastronomy and culture to find the relationship between imaginary lines and the position of celestial bodies. This research uses astronomical analysis techniques and archaeological analysis obtained from interviews, literature, archaeological objects and geographical conditions. The results showed that the main imaginary line found by the researcher has a parallelism with the sun in the month of Caitra which is the first month in the saka calendar as well as the spiritual cosmology of the Wengker Community which is oriented towards the Holy mountain Wilis. The topography of archaeological remains on the imaginary line and its surroundings has not shown the existence of a central government location but is evidence of the existence of the Wengker Kingdom civilization which is divided into 3 areas, namely, tani or residential areas, dharma lpas or king's grant land and karesyian. In addition, the sites around the imaginary line also show the defense pattern of the king or ruler of the Wengker region. The results of this research can be a reference for the government in preserving historical sites in Ponorogo, as well as adding to the treasury of knowledge, so that it continues to be developed. 
Pengembangan Pariwisata Berbasis Kerakyatan di Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal Jawa Tengah Nadhirah, Faizzati; Adiputra, Agung
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30583

Abstract

Pengembangan pariwisata kerakyatan mengutamakan partisipasi aktif masyarakat setempat dalam seluruh tahapan pengembangan pariwisata, mulai dari perencanaan hingga implementasi program pariwisata. Hal ini akan memastikan bahwa pembangunan pariwisata berlangsung secara berkelanjutan dan memperkuat ekonomi lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pariwisata kerakyatan dapat dikembangkan di kawasan Bumijawa. Penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis SWOT. Pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik Multistage Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengembangan pariwisata Kecamatan Bumijawa dilakukan menggunakan analisis SWOT yang termasuk dalam Kuadran I, menjelaskan bahwa Kabupaten Bumijawa masih dalam posisi yang baik karena mempunyai kekuatan yang dapat dimanfaatkan untuk  peluang yang menguntungkan. Analisis strategi yang digunakan pada Kuadran I adalah strategi agresif, yaitu dengan cara pengelolaan wisata yang dilakukan oleh masyarakat meningkatkan daya tarik wisata dan berdampak pada perekonomian lokal.   Popular tourism is an idea that supports the local community's economy with the culture and local wisdom of the local area. This idea will impact the selling value of the tourist destination by becoming a tourist attraction wrapped in local culture. Community tourism development prioritizes the active participation of local communities in all stages of tourism development, from planning to implementing tourism programs. This will ensure that tourism development takes place in a sustainable manner and strengthens the local economy. The aim of this research is to explain how popular tourism can be developed in the Bumijawa region. The research conducted by the researcher was a qualitative descriptive study using a SWOT analysis approach. The sampling technique for this research uses the Multistage Random Sampling technique. The research results show that one of the strengths of tourism is its high dependence on natural resources and local culture. The variety of tourist attractions in Bumijawa Regency is the reason why tourists are interested in visiting Bumijawa Regency because their interest is not only in the beauty of its natural resources, but also the rich culture offered by the local community. The reason tourists are interested in visiting is because of the friendliness of the community in receiving visitors, making it easier for visitors to carry out tourist activities.
Tinjauan Kritis Filsafat Kebudayaan Van Peursen dalam Nuansa Magis Upacara Adat Labuhan Yogyakarta Dony, Ahmad Rama; Daffa, Muhammad
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.30859

Abstract

Eksistensi dari Kerajaan Mataram di tanah Jawa tidak bisa terlepaskan dari upacara adat yang turun-temurun dan melekat pada kultur masyarakat, khususnya Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Tujuan penelitian sebagai tinjauan kritis filsafat kebudayaan Van Peursen dalam nuansa magis upacara labuhan Yogyakarta. Pemikiran C.A. Van Peursen berkolerasi dalam pelaksanaan upacara labuhan yang membagi kebudayaan menjadi tiga tahap; tahap mistis, ontologis dan fungsional. Penelitian ini menggunakan deskriptif analisis, mendeskripsikan data-data yang dihimpun kemudian dilakukan analisis, sehingga ditemukanlah tinjauan kritis kebudayaan Van Peursen melalui upacara labuhan. Hasil penelitian ini adalah 1) Pada tahap mistis upacara labuhan dilaksanakan atas perjanjian yang telah diikat oleh Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dan ikatan tersebut wajib dilanjutkan oleh anak cucu Panembahan Senopati. 2) Tahap ontologis dari upacara labuhan dilaksanakan adalah sebagai bentuk penyatuan masyarakat dan memberikan dampak sosial 3) Pada tahap fungsional, upacara labuhan memiliki peran sebagai pengembangan dan pembangunan sektor wisata yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dalam dan luar negeri. Namun berdasarkan tahap perkembangan kebudayaan ditemukan tahapan yang tidak bisa ditemukan dalam upacara labuhan. Upacara labuhan di Dlepih dan Gunung Lawu tidak bisa mencapai tahap fungsional, sehingga di dua tempat hanya sampai pada tahap mistis dan supranatural.   The existence of the Mataram Kingdom in Java cannot be separated from the traditional ceremonies that are hereditary and inherent in the culture of the community, especially the Surakarta Sunanate and Yogyakarta Sultanate. The purpose of the research is a critical review of Van Peursen's philosophy of culture in the magical nuances of Yogyakarta's Labuan ceremony. The thinking of C.A. Van Peursen correlates with the implementation of the Labuhan ceremony, which divides culture into three stages: mystical, ontological, and functional stages. This research uses descriptive analysis, describing the data collected and then analyzing it so that a critical review of Van Peursen's culture through the Labuan ceremony is found. The results of this research are 1) In the mystical stage, the Labuan ceremony is carried out on the agreement that has been bound by Panembahan Senopati and Kanjeng Ratu Kidul and the bond must be continued by Panembahan Senopati's children and grandchildren. 2) The ontological stage of the Labuhan ceremony is carried out as a form of community unification and has a social impact 3) At the functional stage, the Labuan ceremony has a role in the development and development of the tourism sector which has its attraction for domestic and foreign communities. However, based on the stages of cultural development, some stages cannot be found in the Labuhan ceremony. The Labuan ceremony in Dlepih and Gunung Lawu cannot reach the functional stage so in two places it only reaches the mystical and supernatural stages.
Dampak Aktivitas Pertambangan terhadap Pola Pikir dan Perilaku Beragama di Kawasan Pertambangan Morosi Ardi, Ardianto Aziz; Muliyani, Muliyani; Usman, Usman; Amaludin, Roni
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31070

Abstract

Area Morosi di Sulawesi Tenggara memiliki potensi tambang yang besar, namun dampaknya terhadap masyarakat setempat perlu dianalisis. Analisis dampak pertambangan di Morosi menyoroti bagaimana kegiatan tersebut memengaruhi pemikiran dan tindakan keagamaan masyarakat di sekitar wilayah tambang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis : 1) Pola pikir dan perilaku beragama masyarakat di kawasan pertambangan sebelum dan setelah adanya aktivitas pertambang; 2) dampak dari aktivitas pertambangan terhadap pola pikir dan perilaku beragama masyarakat di kawasan pertambangan; 3) Langkah-langkah penyelesaikan masalah yang terkait dengan dampak pertambangan terhadap pola pikir dan perilaku beragama di kawasan pertambangan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Kemuadian data yang terkumpul akan dianalisis dengan teknik analisis kualitatif, yaitu analisis tematik. Analisis tematik dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari data wawancara dan observasi partisipatif, kemudian tema-tema tersebut diorganisir menjadi kategori-kategori dan dianalisis lebih lanjut. Penelitian menunjukkan bahwa pertambangan dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku keagamaan, khususnya pada masyarakat mayoritas Islam di daerah pertambangan Morosi. Penting untuk mengevaluasi pola pikir dan perilaku beragama sebelum dan setelah adanya aktivitas pertambangan. Sebelumnya, masyarakat Morosi menjunjung tinggi nilai-nilai agama, namun aktivitas pertambangan mengubah pola pikir mereka. Meskipun agama tetap dianggap penting, adaptasi terhadap kondisi ekonomi baru dan ke majemukan sosial menjadi tantangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak pertambangan pada pola pikir dan perilaku beragama mencakup perubahan sikap terhadap praktik keagamaan, namun agama tetap diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Langkah-langkah penyelesaian mencakup komunikasi komunitas, pembentukan kelompok khusus, penggalangan dana, pendidikan masyarakat, konsultasi dengan ahli, partisipasi dalam pengambilan keputusan, pengawasan independen, dan lobi advokasi. Dengan pemahaman ini, tindakan dapat diambil untuk meminimalkan dampak negatif pertambangan, mempertahankan nilai-nilai agama, dan mendorong budaya berkelanjutan di wilayah tambang Morosi.   The Morosi area in Southeast Sulawesi has large mining potential, but the impact on local communities needs to be analyzed. Analysis of the impact of mining in Morosi highlights how these activities influence the religious thoughts and actions of communities around the mining area. This research aims to analyze: 1) The mindset and religious behavior of people in mining areas before and after mining activities; 2) the impact of mining activities on the mindset and religious behavior of communities in mining areas; 3) Steps to resolve problems related to the impact of mining on religious thought patterns and behavior in mining areas. This type of research is descriptive qualitative. The data collection techniques used were in-depth interviews and participant observation. Then the collected data will be analyzed using qualitative analysis techniques, namely thematic analysis. Thematic analysis was carried out by identifying themes that emerged from interview data and participant observation, and then these themes were organized into categories and analyzed further. Research shows that mining can influence religious thinking and behavior, especially in the majority Muslim community in the Morosi mining area. It is important to evaluate religious thought patterns and behavior before and after mining activities. Previously, the Morosi people upheld religious values, but mining activities changed their mindset. Although religion remains important, adapting to new economic conditions and social diversity is a challenge. The research results show that the impact of mining on religious thought patterns and behavior includes changes in attitudes toward religious practices, but religion remains integrated into everyday life. Resolution steps include community communication, formation of special groups, fundraising, public education, consultation with experts, participation in decision-making, independent oversight, and advocacy lobbying. With this understanding, action can be taken to minimize the negative impacts of mining, maintain religious values, and encourage a sustainable culture in the Morosi mining area.
The Role of Homestays in Shaping the Identity of Tourism Villages: A Case Study in Mekarlaksana Tourism Village Farhan, Aries; Malihah , Elly; Andari , Rini
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31329

Abstract

Tourism villages can be an alternative in the development of Community Based Tourism (CBT). CBT development in tourist villages is influenced by various aspects, one of which is homestay accommodation. However, there is still limited research related to the identity of tourist villages, especially in the context of homestays. Therefore, this study aims to explore the role played by homestays as a tourist village identity, with a focus on Mekarlaksana Tourism Village. This research used a descriptive qualitative approach, involving a case study in Mekarlaksana Tourism Village. Data were collected through observation and in-depth interviews with Pokdarwsi (Tourism Awareness Group) and homestay managers. In this study determined 10 resource persons with the criteria of people who were born, lived and made a living in the village. The findings of this study reveal that the identity of a tourist village and the role of homestays are key elements in the context of rural tourism. Tourism villages emphasize uniqueness, sustainability, and local wisdom, which include cultural attractions, nature, history, accommodation, and traditions that distinguish the village from other places. The role of homestays in developing the identity of a tourist village has proven to be very important. The findings of this study provide an understanding to tourism village managers that the presence of homestays can attract tourists to visit.   Desa wisata dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan Community Based Tourism (CBT). Pengembangan CBT di desa wisata dipengaruhi oleh berbagai aspek, salah satunya adalah akomodasi homestay. Namun, masih terbatasnya penelitian terkait identitas desa wisata khususnya dalam konteks homestay. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran yang dimainkan oleh homestay sebagai identitas desa wisata, dengan fokus pada Desa Wisata Mekarlaksana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan mengambil studi kasus di Desa Wisata Mekarlaksana. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan Pokdarwsi (Kelompok Sadar Wisata) dan pengelola homestay. Temuan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa identitas desa wisata dan peran homestay merupakan elemen kunci dalam konteks pariwisata pedesaan. Desa wisata menekankan pada keunikan, keberlanjutan, dan kearifan lokal, yang meliputi atraksi budaya, alam, sejarah, akomodasi, dan tradisi yang membedakan desa tersebut dengan tempat lain. Peran homestay dalam mengembangkan identitas desa wisata terbukti sangat penting. Temuan penelitian ini memberikan pemahaman kepada pengelola desa wisata bahwa keberadaan homestay dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Komunikasi Publik Kementerian Agama Kota Padang Priyanto, Muryadi Eko; Arif, Ernita; Sarmiati, Sarmiati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31799

Abstract

Komunikasi pelayanan publik yang efektif diperlukan untuk mengoptimalkan pelayanan terpadu satu pintu. Permasalahan berkaitan dengan kurang baiknya peranan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang dalam pelayanan kepada masyarakat, bisa saja terjadi karena kurangnya informasi tentang aturan atau program yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan menganalisis aliran pesan komunikasi publik, menganalisis media komunikasi serta menganalisis hambatan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang. Penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme, penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam, studi dokumentasi, teknik analisis data interaktif Miles Huberman, pengujian keabsahan data dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran pesan komunikasi pelayanan terpadu satu pintu pada Kantor Kementerian Agama Kota Padang dilakukan secara internal dan eksternal. Proses komunikasi internal melibatkan komunikasi antara petugas pelayanan dan pegawai serta para pimpinan Kantor Kementerian Agama Kota Padang. Sedangkan komunikasi eksternal melibatkan petugas pelayanan bagian pendaftaran, bagian front office dan masyarakat dengan memanfaatkan media komunikasi internal dan eksternal. Pada aktivitas komunikasi tersebut masih ditemukan hambatan berupa hambatan teknis, terbatasnya pemanfaatan sarana prasarana, hambatan perilaku dan sikap pegawai yang kurang memiliki sense of mission. Komunikasi yang dilakukan oleh Kementerian Agama dengan Publik sudah dilakukan dengan berbagai media baik offline maupun online.   Effective public service communication is needed to optimise one-stop integrated services.  Problems related to the poor role of one-stop integrated service communication at the Padang City Office of the Ministry of Religious Affairs in providing services to the community may occur due to a lack of information about the rules or programmes being implemented. This research aims to analyse the flow of public communication messages, analyse communication media and analyse communication barriers of one-stop integrated services at the Padang City Ministry of Religious Affairs Office. This research uses qualitative research methods with a constructivism paradigm, this research uses in-depth interview techniques, documentation studies, Miles Huberman interactive data analysis techniques, data validity testing with source triangulation.  The results showed that the one-stop integrated service communication message flow at the Padang City Ministry of Religious Affairs Office was carried out internally and externally. The internal communication process involves communication between service officers and employees and leaders of the Padang City Ministry of Religious Affairs Office. While external communication involves service officers in the registration section, the front office and the community by utilising internal and external communication media. In these communication activities there are still obstacles in the form of technical obstacles, limited use of infrastructure, behavioural obstacles and attitudes of employees who lack a sense of mission. Communication carried out by the Ministry of Religion with the Public has been carried out with various media both offline and online.
Kesenian Tari Orang-Orang Bertopeng: Memperkuat Relasi Sosial dan Warisan Melayu Kalimantan Barat Aditya, Mega Cantik Putri; Ramadhan, Iwan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31808

Abstract

Tari Orang-orang Bertopeng memainkan peran penting dalam upacara pernikahan serta mempererat ikatan sosial di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendalami peran dan fungsi Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng dalam memperkuat relasi sosial, memelihara warisan budaya Melayu, serta memahami dinamika hubungan sosial. Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng di Desa Mega Timur, Kalimantan Barat, mencerminkan kekayaan warisan budaya Melayu dan memainkan peran penting dalam upacara pernikahan. Dalam perspektif sosiologis, pertunjukan ini menjadi landasan untuk memahami dinamika hubungan sosial di masyarakat. Tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium yang mempererat ikatan antarindividu dan kelompok. Di antara anggota kesenian, terbentuk keakraban melalui kerjasama dan koordinasi, menciptakan norma dan nilai bersama yang menguatkan struktur sosial kelompok. Hubungan dengan masyarakat sekitar juga menjadi penting, di mana interaksi antara penampil dan penonton menciptakan respons positif dan memperkaya pengalaman bersama. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Orang-orang Bertopeng bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai representasi hubungan sosial yang kompleks dalam masyarakat sehari-hari. Tarian ini mencerminkan dinamika relasi sosial dalam masyarakat dan memperkuat hubungan sosial antara berbagai pihak yang terlibat dalam pertunjukan tari ini. Seni pertunjukan juga memainkan peran penting dalam membentuk, memelihara, dan memperluas jaringan sosial di tengah masyarakat.  Interaksi antara penampil dan penonton dalam pertunjukan Tari Orang-orang Bertopeng menciptakan respons positif dan memperkaya pengalaman bersama. Kesenian Tari Orang-orang Bertopeng memainkan peran vital dalam memperkuat hubungan sosial dan memelihara warisan budaya Melayu. Pertunjukan tarian ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai representasi dinamika relasi sosial dalam masyarakat sehari-hari. Seni pertunjukan menjadi sarana penting dalam memperluas jaringan sosial dan memahami keanekaragaman budaya.   The Masked People Dance plays a significant role in wedding ceremonies and strengthens social bonds within the community. This research aims to delve into the role and function of the Masked People Dance in reinforcing social relations, preserving Malay cultural heritage, and understanding social relationship dynamics. The Masked People Dance in Desa Mega Timur, West Kalimantan, reflects the richness of Malay cultural heritage and plays a crucial role in wedding ceremonies. From a sociological perspective, this performance serves as a foundation for understanding the dynamics of social relationships within the community. The dance not only serves as entertainment but also as a medium for strengthening bonds among individuals and groups. Among the members of the art, camaraderie is formed through cooperation and coordination, creating shared norms and values that strengthen the social structure of the group. Interaction with the surrounding community is also important, where interaction between performers and audiences creates positive responses and enriches shared experiences. The research method used is qualitative descriptive method with data collection techniques including participatory observation, interviews, literature studies, and documentation. The research findings indicate that the Masked People Dance is not only for entertainment but also a representation of complex social relationships in everyday life. This dance reflects the dynamics of social relations in society and strengthens social relationships among various parties involved in the dance performance. Performing arts also play a crucial role in shaping, preserving, and expanding social networks within the community. Interaction between performers and audiences in the Masked People Dance performance creates positive responses and enriches shared experiences. The Masked People Dance art plays a vital role in strengthening social relationships and preserving Malay cultural heritage. The dance performance is not just for entertainment but also a representation of the dynamics of social relations in daily life. Performing arts serve as an important means of expanding social networks and understanding cultural diversity.
The Existence of Traditional Madurese Batik Patterns in the Exposure of Time and Technology Triandika, Lulus Sugeng
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31829

Abstract

Batik is generally inspired by cultural elements and philosophies of life. Madura Batik as part of Indonesian Batik continues to maintain its existence from generation to generation. However, the influence of developments over time and technological innovation has brought new things to Madurese Batik. On the one hand, batik is increasingly popular in society, but on the other hand, concerns arise regarding the originality of batik patterns. This phenomenon is thought to have an impact on the existence of traditional batik patterns that have existed for hundreds of years in the archipelago. Batik is interesting to study as a cultural entity that is expected to maintain ancestral rules in the process of making it. Even though there are many articles about batik, there are still few discussions about batik patterns. So, this article has urgency in enriching literacy about batik patterns. In this article, data was obtained through observation, literature articles, and interviews with batik makers, then conclusions were drawn based on data analysis. The result is the emergence of modern batik patterns because of market demand. This impacts the existence of traditional Madurese Batik patterns which are increasingly being displaced by contemporary batik patterns. Another fact is the existence of printed batik which has an impact on the existence of traditional batik houses. Traditional batik patterns will become increasingly rare and will be forgotten or even lost.   Batik secara umum terinspirasi dari unsur budaya dan filosofi kehidupan. Batik Madura sebagai bagian dari Batik Nusantara terus dijaga keberadaannya turun-temurun lintas generasi. Namun, pengaruh perkembangan zaman dan inovasi teknologi menghadirkan hal-hal baru di batik Madura. Dalam satu sisi batik semakin populer di masyarakat, namun di sisi lain muncul keprihatinan terkait orisinalitas corak batik. Fenomena tersebut dianggap berimbas pada eksistensi corak batik tradisional yang telah ada sejak ratusan tahun di nusantara. Batik menarik untuk dikaji sebagai entitas budaya yang diharapkan mempertahankan tata aturan leluhur dalam proses pembuatannya. Meskipun telah banyak artikel tentang batik, namun masih sedikit membahas tentang corak batik. Sehingga artikel ini memiliki urgensi dalam memperkaya literasi tentang corak batik. Dalam artikel ini data diperoleh melalui observasi, artikel literatur, dan wawancara dengan pembatik, kemudian diambil kesimpulan berdasar analisis data. Hasilnya adalah munculnya corak batik modern sebagai imbas permintaan pasar. Sehingga berdampak pada eksistensi corak tradisional Batik Madura yang semakin tergeser corak batik komtemporer. Fakta lain adalah Keberadaan batik printing yang berdampak pada eksistensi rumah batik tradisional. Corak batik tradisional akan semakin jarang dibuat sehingga terlupakan atau bahkan hilang.

Page 1 of 3 | Total Record : 26