cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2025): October" : 31 Documents clear
The traditional custom of Tawas Jaa as a means of strengthening social cohesion among the Dayak Deah community Dewicca Fatma Nadilla; Bambang Subiyakto; Deasy Arisanty; Syaharuddin Syaharuddin; Fitri Mardiani; Ilham Galih Pambudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.39202

Abstract

The Tawas Jaa tradition practiced by the Dayak Deah community in Upau represents a culturally significant ritual imbued with profound spiritual and social values. Beyond its role as a medium of ancestral veneration, this tradition is an integral mechanism for reinforcing communal bonds. The collective participation of all societal strata in the ritual across gender, generational, and religious lines reflects a strong foundation of social cohesion rooted in shared religious and cultural beliefs. This study examines the sociocultural meaning of the Tawas Jaa tradition as a form of religious-based social cohesion within the Dayak Deah community of Kaong. Employing a qualitative research design with a descriptive approach, the research was conducted in Kaong Village, identified in 2024 & 2025 as the sole remaining village in the Upau subdistrict actively maintaining the Tawas Jaa practice. Data was collected through participant observation and in-depth interviews, with informants selected via snowball sampling techniques. Data analysis employed source triangulation, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings indicate that the Tawas Jaa tradition serves as a central pillar of community cohesion, facilitating the integration of diverse social segments through collective involvement. The ritual encompasses elements of mutual cooperation, community-driven fundraising, and the symbolic use of cultural artifacts such as ancak and the dragon boat—each reinforcing collective identity and interdependence. In addition to its spiritual dimensions, the tradition underscores the importance of egalitarianism, social solidarity, and communal self-reliance. Furthermore, by embracing religious plurality, the tradition fosters a resilient social structure and affirms the enduring relevance of ancestral values in shaping communal life.     Tradisi Adat Tawas Jaa pada masyarakat Dayak Deah di Upau merupakan praktik budaya yang tidak hanya sarat nilai spiritual dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai sarana memperkuat kohesi sosial berbasis religi di tengah kehidupan komunitas. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota komunitas. Melalui pelaksanaan ritual-ritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, Tawas Jaa mencerminkan kohesi sosial yang berakar pada nilai-nilai religi yang kuat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi makna tradisi adat Tawas Jaa sebagai bentuk kohesi sosial berbasis religi bagi masyarakat Dayak Deah Kaong. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dipilihnya Desa Kaong karena pada tahun 2024 & 2025 merupakan satu-satunya desa yang menyenggarakan Tradisi Adat Tawas Jaa ini di Kecamatan Upau. Data dikumpulkan dari observasi dan wawancara mendalam. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Snowball Sampling. Analisis data menggunakan teknik triangulasi sumber, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi Tawas Jaa dalam masyarakat Dayak Deah berfungsi sebagai pilar kohesi sosial, mengintegrasikan seluruh lapisan masyarakat melalui partisipasi lintas gender, generasi, dan agama dalam penyelenggaraan nya. Ritual ini melibatkan gotong royong, pengumpulan dana secara mandiri, serta simbol-simbol adat seperti ancak dan perahu naga yang memperkuat identitas budaya mereka. Selain nilai spiritual, Tawas Jaa juga menegaskan pentingnya kesetaraan, solidaritas sosial, dan kemandirian komunitas. Dengan menghormati keberagaman keyakinan, tradisi ini membangun ketahanan sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai kolektif yang diwariskan oleh para leluhur.
Hate speech in digital space: A sociolinguistic analysis of the “CIN” domestic violence case on Instagram Putri Ambarwati; Sailal Arimi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40148

Abstract

This study aims to analyze the forms and gender-based differences of hate speech produced by male and female netizens in responding to the domestic violence case involving Cut Intan Nabila on Instagram. Employing a sociolinguistic approach, this research applies Speech Act Theory (Austin, 1962; Searle, 1979) and the concept of hate speech in digital communication. Data were collected from netizens’ comments on related posts and analyzed to identify linguistic forms and gender variations in hate expressions. Unlike previous studies that primarily focused on political or ethnic hate speech, this research situates the phenomenon within Indonesia’s digital culture, reflecting shifts in social values, public morality, and gender relations in online spaces. The findings reveal significant differences in the linguistic forms and strategies used by male and female netizens, illustrating how each gender expresses emotion and moral stance through hate speech. This study contributes to digital sociolinguistic research by highlighting the role of language in shaping social interaction and gender awareness within Indonesia’s digital discourse.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk serta perbedaan ujaran kebencian antara netizen laki-laki dan perempuan dalam merespons kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan Cut Intan Nabila di Instagram. Kajian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik dengan memanfaatkan teori tindak tutur (Austin, 1962; Searle, 1979) dan konsep ujaran kebencian dalam komunikasi digital. Data dikumpulkan dari komentar netizen pada unggahan terkait kasus tersebut dan dianalisis untuk mengidentifikasi bentuk ujaran kebencian serta variasinya berdasarkan gender penutur. Berbeda dari penelitian terdahulu yang cenderung menyoroti ujaran kebencian dalam konteks politik atau etnis, penelitian ini menempatkan fenomena ujaran kebencian dalam konteks budaya digital Indonesia yang merefleksikan pergeseran nilai sosial, moralitas publik, dan relasi gender di ruang daring. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam bentuk dan strategi kebahasaan antara ujaran kebencian laki-laki dan perempuan, di mana perbedaan tersebut mencerminkan cara masing-masing gender mengekspresikan emosi dan posisi moralnya. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian sosiolinguistik digital serta menegaskan peran bahasa dalam membentuk dinamika sosial dan kesadaran gender di era media digital.  
The integration of Islamic deliberative values in party politics: A case study of PDI Perjuangan Deli Serdang branch Muhammad Fachrurrozy; Hasyimsyah Nasution; Junaidi Junaidi; Nurun Nisa
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40468

Abstract

The limited involvement of local party members in political decision-making processes reflects the persistent weakness of internal democratic practices within political parties. This issue is crucial to examine as it contradicts the values of deliberation (musyawarah) upheld in Indonesia's political system and in Islamic teachings. This study focuses on the implementation of musyawarah in political decision-making within the Branch Leadership Council (DPC) of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Deli Serdang Regency. It explores its relevance to the Islamic concept of shura. Employing a qualitative approach with a phenomenological design, data were collected through in-depth interviews and direct observations of the party’s decision-making processes. The findings indicate that while musyawarah is formally practiced, it does not fully reflect the principles of shura, which emphasize equality, justice, and active participation of all members. This study offers a concrete contribution by proposing a model of political decision-making grounded in Islamic shura values to strengthen substantive democracy at the local level.   Minimnya keterlibatan kader partai tingkat lokal dalam proses pengambilan keputusan politik menunjukkan masih lemahnya praktik demokrasi internal dalam partai politik. Kondisi ini penting untuk dikaji karena bertentangan dengan nilai-nilai musyawarah yang dijunjung dalam sistem politik Indonesia dan ajaran Islam. Penelitian ini berfokus pada pelaksanaan musyawarah dalam pengambilan keputusan politik di Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Deli Serdang, serta menelusuri relevansinya dengan prinsip syura dalam perspektif Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis, melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap proses pengambilan keputusan di lingkungan partai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan musyawarah telah dilakukan secara formal, namun belum sepenuhnya mencerminkan prinsip syura yang mengedepankan kesetaraan, keadilan, dan partisipasi aktif semua anggota. Penelitian ini berkontribusi secara konkret dalam bentuk rekomendasi model pengambilan keputusan politik berbasis nilai-nilai syura Islam yang dapat memperkuat demokrasi substansial di tingkat lokal.
War takjil for non-muslims: An analysis of social solidarity in Indonesian Ramadan traditions Labibah Sayaka Ilma; M. Ahmad Jamaluddin Zamzami; Iksan Iksan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40526

Abstract

The war takjil phenomenon during Ramadan in Indonesia is not only a tradition of food-sharing but also a space for social interaction involving people of different faiths, including the active participation of non-Muslims. This study aims to analyze how non-Muslim involvement in war takjil contributes to social harmony and tolerance in a diverse society. Using a qualitative approach and netnographic analysis of TikTok content, along with additional data from literature, this research explores how creators and netizens shape narratives of inclusivity within the Ramadan tradition. The findings indicate that non-Muslim participation in war takjil strengthens social solidarity by fostering a harmonious sense of togetherness. These results align with Émile Durkheim’s theory of social solidarity, where this tradition represents mechanical solidarity through shared values of generosity within the Muslim community and organic solidarity through interfaith interactions that reflect positive social interdependence. Thus, war takjil serves not only as a cultural practice but also as a symbol of tolerance and harmony in Indonesia’s multicultural society.   Fenomena war takjil selama Ramadan di Indonesia tidak hanya menjadi tradisi berbagi makanan tetapi juga ruang interaksi sosial yang melibatkan masyarakat lintas agama, termasuk partisipasi aktif dari non-Muslim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keterlibatan non-Muslim dalam war takjil berkontribusi terhadap harmoni sosial dan nilai toleransi di tengah keberagaman masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan netnografi terhadap konten TikTok, serta data tambahan didapatkan dari studi literatur. Penelitian ini mengeksplorasi interaksi kreator dan netizen dalam membentuk narasi inklusivitas dalam tradisi Ramadan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi non-Muslim dalam war takjil memperkuat solidaritas sosial dengan menciptakan ruang kebersamaan yang harmonis. Temuan ini selaras dengan teori solidaritas sosial Emile Durkheim, di mana tradisi ini mencerminkan solidaritas mekanis melalui nilai berbagi yang mengikat komunitas Muslim, serta solidaritas organik melalui interaksi lintas agama yang menunjukkan ketergantungan sosial yang positif. Dengan demikian, war takjil tidak hanya menjadi praktik budaya, tetapi juga simbol toleransi dan harmoni dalam masyarakat multikultural Indonesia.  
Citarum plastic exploration for Solusi Sungai Resik's community environmental fundraising action Vita Jasinta Sarjono; Sanabila Fatah; Terbit Setya Pambudi; Hanif Azhar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40694

Abstract

This study responds to the growing environmental problem of plastic pollution in the Citarum River and to the limited funding available to local environmental organizations. It aims to identify the most suitable material from a blend of recycled plastics—LDPE and HDPE—to serve as the base material for fundraising bracelets for the Solusi Sungai Resik Foundation. The material selection is based on its availability at the foundation's waste management facility and the quality of the processed outcome for bracelet production. The research employs an adapted Material Development Design (MDD) method, which includes material exploration, sample creation, durability testing, and user interviews to assess material experience through aesthetic, tactile, emotional, and functional aspects. The adaptation of MDD in this study focuses on selecting and validating material experience, without fully implementing it in the final product, due to technical constraints. The results show that the LDPE-HDPE blend produces a visually appealing marble pattern resembling river streams, has a comfortable texture, and elicits positive emotional responses from informants. The material also demonstrates resistance to water, sunlight, and skincare products, and is safe for skin contact. These findings indicate that plastic waste from the Citarum River can be transformed into a functional and meaningful material for fundraising bracelets supporting Solusi Sungai Resik's environmental mission. Beyond material innovation, this approach contributes to social change by raising environmental awareness, encouraging public participation, and supporting the financial sustainability of local environmental initiatives.   Penelitian ini merespons permasalahan lingkungan yang semakin meningkat terkait pencemaran plastik di Sungai Citarum serta keterbatasan pendanaan yang dihadapi oleh organisasi lingkungan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi material paling tepat dari campuran plastik daur ulang, yaitu LDPE dan HDPE, yang akan digunakan sebagai bahan dasar gelang penggalangan dana untuk Yayasan Solusi Sungai Resik. Pemilihan material didasarkan pada ketersediaannya di fasilitas pengelolaan limbah yayasan serta kualitas hasil olahan untuk produksi gelang. Penelitian ini menggunakan metode Material Development Design (MDD) yang telah disesuaikan, meliputi eksplorasi material, pembuatan sampel, pengujian daya tahan, dan wawancara pengguna untuk menilai pengalaman material dari aspek estetika, taktil, emosional, dan fungsional. Adaptasi MDD dalam penelitian ini difokuskan pada pemilihan dan validasi pengalaman material tanpa penerapan penuh pada bentuk produk akhir karena keterbatasan teknis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran LDPE-HDPE menghasilkan pola marmer yang menarik secara visual menyerupai aliran sungai, memiliki tekstur yang nyaman, dan memicu respons emosional positif dari para informan. Material ini juga tahan terhadap air, sinar matahari, produk perawatan kulit, serta aman bersentuhan dengan kulit. Temuan ini menunjukkan bahwa limbah plastik dari Sungai Citarum dapat diubah menjadi material fungsional dan bermakna untuk gelang penggalangan dana yang mendukung misi lingkungan Solusi Sungai Resik. Selain inovasi material, pendekatan ini berkontribusi pada perubahan sosial melalui peningkatan kesadaran lingkungan, mendorong partisipasi publik, dan mendukung keberlanjutan pendanaan bagi inisiatif lingkungan lokal.
Symbolic upcycled medals to encourage hiker participation in Indonesia’s Mount Gede Pangrango Cleanup Program Sanabila Fatah; Vita Jasinta Sarjono; Hanif Azhar; Ahmad Riyadi Swandhani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40696

Abstract

Increased hiking activities in Gunung Gede Pangrango National Park have increased waste accumulation, posing environmental challenges despite ongoing cleanup efforts such as Operasi Bersih (Opsih). One key issue is the lack of recognition systems that validate hikers' contributions, especially those who voluntarily carry trash back from the mountain. This study proposes an appreciation medal made from upcycled plastic waste collected during hikes, designed to serve as both a symbolic reward and a catalyst for social change, promoting environmental responsibility, collective pride, and increased participation in volunteer cleanup programs. Using a Design Thinking approach, data were collected through observations, interviews, and questionnaires with hikers and Opsih volunteers. The 3D-printed prototype was positively received, with users valuing its symbolic significance and environmental message. These findings highlight the potential of symbolic upcycled objects to foster behavioral change and strengthen shared values around sustainability and volunteerism.   Aktivitas pendakian yang meningkat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menyebabkan akumulasi sampah yang semakin bertambah, menimbulkan tantangan lingkungan meskipun sudah ada upaya pembersihan seperti Operasi Bersih (Opsih). Salah satu permasalahan utama adalah kurangnya sistem pengakuan yang memvalidasi kontribusi para pendaki, terutama yang secara sukarela membawa kembali sampah dari gunung. Penelitian ini mengusulkan desain medali apresiasi yang terbuat dari limbah plastik daur ulang hasil pendakian, yang berfungsi sebagai penghargaan simbolis sekaligus katalis perubahan sosial, mendorong tanggung jawab lingkungan, kebanggaan kolektif, dan peningkatan partisipasi dalam program pembersihan sukarela. Dengan menggunakan pendekatan Design Thinking, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada pendaki dan relawan Opsih. Prototipe medali yang dicetak menggunakan teknologi 3D printing mendapat respons positif, dengan pengguna menghargai nilai simbolis dan pesan lingkungan yang terkandung. Temuan ini menyoroti potensi objek simbolis hasil daur ulang untuk mendorong perubahan perilaku dan memperkuat nilai bersama mengenai keberlanjutan dan kegiatan sukarela.
Innovation of the “Tumbas” marketplace: Policy network analysis in the empowerment of small and medium industries in Mojokerto Regency Tsabitah Mariyah Dwiyanti; Kalvin Edo Wahyudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40812

Abstract

Empowering Small and Medium Enterprises (SMEs) through a policy network approach has rarely been studied in depth, particularly in the context of marketplace innovation. This study examines how policy networks contribute to SME empowerment through the "Tumbas" marketplace innovation in Mojokerto Regency. Using a descriptive qualitative approach and Waarden's (1992) seven-dimensional framework of policy networks, this study involved in-depth interviews, observation, and documentation. The results indicate that the "Tumbas" policy network has actors and functions, a collaborative structure, strong institutionalization, functional rules of action, and complementary actor strategies. The Department of Industry and Trade is central to decision-making, while other actors support an inclusive digital ecosystem. Performance achievements exceed targets, reflecting the policy network's success in supporting technology-based local economic empowerment policies. The novelty of this study lies in its comprehensive policy network analysis of regional marketplace innovation, particularly "Tumbas," and in its practical implications for replicating collaborative policy models in other regions.   Pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui pendekatan jaringan kebijakan masih jarang dikaji secara mendalam, khususnya dalam konteks inovasi lokapasar. Penelitian ini mengkaji bagaimana jaringan kebijakan berkontribusi dalam pemberdayaan IKM melalui inovasi lokapasar “Tumbas” di Kabupaten Mojokerto. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kerangka tujuh dimensi jaringan kebijakan dari Waarden (1992), penelitian ini melibatkan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan kebijakan “Tumbas” memiliki aktor dan fungsi, struktur kolaboratif, pelembagaan yang kuat, aturan bertindak yang fungsional, serta strategi aktor yang saling melengkapi. Disperindag berperan sentral dalam pengambilan keputusan, sementara aktor lain mendukung ekosistem digital yang inklusif. Capaian kinerja menunjukkan yang melebihi target, mencerminkan keberhasilan jaringan kebijakan dalam mendukung kebijakan pemberdayaan ekonomi lokal berbasis teknologi. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada analisis jaringan kebijakan secara komprehensif terhadap inovasi lokapasar daerah khususnya “Tumbas”, serta memberikan implikasi praktis bagi replikasi model kebijakan kolaboratif di wilayah lain.
Empowering women through local learning programs: A case study of the PUTARAN initiative in East Java, Indonesia Berlian Fauzia Maylani; Lukman Arif
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40814

Abstract

This study explores the process of women's empowerment through the PUTARAN program (Women's Empowerment Learning Center), initiated by the DP3AK of East Java Provincial Government. The research is motivated by the persistent structural barriers faced by women, including limited access to resources, gender-based violence, and restricted participation in public spaces. The study examines how a state-run, learning-based empowerment program facilitates personal and social transformation among marginalized women. A qualitative interpretive case study design was employed, with data collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings reveal a multidimensional transformation process unfolding across three stages: critical awareness, capacity enhancement, and intellectual empowerment. Participants reported increased self-awareness, social agency, economic resilience, and digital literacy. This study contributes to the empowerment literature by offering a novel application of Freire’s conscientization, Kabeer’s theory of resources and agency, and Sen’s capability approach within a localized public-sector initiative in Indonesia. Unlike previous studies focusing on NGO-based interventions, this research highlights the transformative potential of state-led programs when combined with dialogical learning and institutional support. The study concludes that integrating contextual learning, inclusive governance, and digital capacity-building constitutes an effective and sustainable women empowerment strategy. Policy implications include providing access to microfinance, post-training mentoring, advanced digital literacy training, establishing women-led business networks, and replicating the program in other regions through standardized curricula and cross-sectoral support. Thus, PUTARAN represents a state-led model of women’s empowerment that is responsive, participatory, and sustainable.   Penelitian ini mengeksplorasi proses pemberdayaan perempuan melalui program PUTARAN (Pusat Pembelajaran Pemberdayaan Perempuan) yang diselenggarakan oleh DP3AK Provinsi Jawa Timur. Latar belakang penelitian ini adalah masih kuatnya hambatan struktural yang dihadapi perempuan, seperti ketimpangan akses terhadap sumber daya, kekerasan berbasis gender, dan keterbatasan partisipasi dalam ruang publik. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana program pemberdayaan berbasis pembelajaran tersebut memfasilitasi transformasi personal dan sosial peserta perempuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif, dan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi program.Temuan mengungkapkan bahwa program PUTARAN berhasil mendorong transformasi multidimensional melalui tiga tahap: penyadaran kritis, peningkatan kapasitas, dan penguatan intelektual. Peserta mengalami peningkatan signifikan dalam kesadaran diri, agensi sosial, keterampilan ekonomi, serta literasi digital. Penelitian ini berkontribusi terhadap literatur pemberdayaan dengan menawarkan aplikasi lokal dari teori Paulo Freire (conscientization), Naila Kabeer (resources and agency), dan Amartya Sen (capability approach) dalam program berbasis kebijakan publik daerah. Berbeda dari studi sebelumnya yang banyak berfokus pada intervensi NGO, studi ini menunjukkan bahwa model pemberdayaan berbasis negara juga dapat bersifat transformatif jika didukung oleh pendekatan dialogis dan dukungan kelembagaan.Kesimpulan dari studi ini menekankan pentingnya integrasi antara pembelajaran kontekstual, struktur kelembagaan yang inklusif, dan penguatan digital sebagai strategi pemberdayaan perempuan yang berkelanjutan. Implikasi kebijakan mencakup penyediaan akses permodalan mikro, pendampingan pasca pelatihan, pelatihan literasi digital lanjutan, pembentukan jaringan usaha perempuan, serta replikasi program di daerah lain dengan standarisasi kurikulum dan dukungan lintas sektor. Sehingga, PUTARAN menjadi model pemberdayaan perempuan berbasis negara yang responsif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Designing modular camera bags for outdoor photographers: A human-centered response to visual culture and environmental challenges in Indonesia Dewi Pitaloka Sari; Hanif Azhar; Bintang Nugraha
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40843

Abstract

Outdoor photography represents an evolving visual culture practice within Indonesia’s digital society, where mobility, self-expression, and environmental adaptability are increasingly crucial. However, existing photography gear often fails to address the contextual challenges faced by outdoor photographers, particularly in relation to unpredictable tropical weather and the demands of a mobile digital lifestyle. This study responds to this gap by designing a modular camera bag using a Human-Centered Design (HCD) approach. Employing a qualitative case study method with participatory elements, the research integrates interviews, field observations, and questionnaires involving urban outdoor photographers. The design process follows the IDEO Human-Centered Design (HCD) framework, consisting of the stages of Inspiration, Ideation, and Implementation, and is supported by a thematic analysis of field data to derive actionable design insights. The resulting design emphasizes spatial flexibility, weather-resistant materials, and a modular system that promotes sustainability and personalization. Beyond addressing functional requirements, the bag embodies visual identity and reflects how everyday object design can negotiate cultural expressions, environmental adaptation, and digital mobility within Indonesia’s socio-visual landscape.   Fotografi outdoor merupakan praktik yang berkembang dalam masyarakat digital Indonesia, yang ditandai oleh interaksi antara mobilitas, ekspresi diri, dan adaptasi lingkungan. Meskipun mengalami pertumbuhan, perlengkapan fotografi yang ada seringkali mengabaikan tantangan kontekstual yang dihadapi oleh fotografer outdoor, termasuk cuaca tropis yang tidak menentu dan tuntutan gaya hidup digital yang mobile. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan merancang tas kamera modular menggunakan pendekatan Human-Centered Design (HCD), dengan metode kualitatif berupa wawancara, observasi lapangan, dan kuesioner yang melibatkan fotografer outdoor urban. Proses desain mengikuti kerangka kerja HCD IDEO, yang terdiri dari tahap inspirasi, ideasi, dan implementasi, serta didukung oleh analisis tematik data lapangan untuk menghasilkan wawasan desain yang aplikatif. Desain akhir menitikberatkan pada fleksibilitas ruang, material tahan cuaca, dan modularitas untuk mendukung keberlanjutan dan personalisasi pengguna. Selain memenuhi aspek fungsional, tas ini berfungsi sebagai artefak budaya yang mewujudkan identitas visual serta merundingkan hubungan antara mobilitas digital, kondisi lingkungan, dan ekspresi budaya. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperluas kerangka desain produk yang responsif secara budaya dengan mengintegrasikan dimensi sosial-budaya dan lingkungan, serta menjadi model inovasi berkelanjutan dalam konteks lanskap sosio-visual Indonesia.  
Responsiveness in the digital governance system for complaint services at the East Java Provincial Education Office Luthfiyyah Nabiilah; Vidya Imanuari Pertiwi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.40882

Abstract

This study examines the responsiveness of the digital governance system for complaint services at the East Java Provincial Education Office through the SP4N LAPOR application. The research problem begins with the still-high number of public complaints about education services, despite the availability of a digital complaint system. This study aims to describe how responsive the complaint service is, including the obstacles that arise. This research method uses a qualitative case study approach; data is obtained through in-depth interviews, observation, and documentation, which are analyzed using the interactive model of Miles et al. (data collection, condensation, presentation, and concluding). The results of the study indicate that the six indicators of responsiveness according to Zeithaml — community responsiveness, speed, accuracy, precision, timeliness, and the ability to respond to complaints — have been implemented quite well. However, there are still obstacles, such as delays in re-verifying complaints. In conclusion, the implementation of SP4N LAPOR at the East Java Provincial Education Office is an important innovation in public education services, but still requires improvement in coordination and monitoring to be more optimal.   Penelitian ini mengkaji responsivitas dalam sistem tata kelola digital pelayanan pengaduan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur melalui aplikasi SP4N LAPOR. Masalah penelitian berangkat dari tingginya jumlah pengaduan masyarakat terkait layanan pendidikan, meskipun sudah tersedia sistem pengaduan digital. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana responsivitas pelayanan pengaduan dijalankan, termasuk hambatan yang muncul. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang dianalisis dengan model interaktif Miles et al. (pengumpulan data, kondensasi, penyajian, penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam indikator responsivitas menurut Zeithaml, yakni kemampuan merespons masyarakat, kecepatan, ketepatan, kecermatan, ketepatan waktu, serta kemampuan merespons keluhan, telah diterapkan cukup baik meski masih terdapat kendala seperti keterlambatan verifikasi ulang aduan. Kesimpulannya, penerapan SP4N LAPOR di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjadi inovasi penting dalam pelayanan publik pendidikan, namun tetap memerlukan perbaikan pada aspek koordinasi dan monitoring agar lebih optimal. Penelitian ini hanya terbatas pada Provinsi Jawa Timur, sehingga studi lanjutan dapat dilakukan pada wilayah lain untuk memberikan perbandingan yang lebih luas.

Page 1 of 4 | Total Record : 31