cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2025): October" : 31 Documents clear
Social and cultural strategies in the frugal living practices of UNNES students amidst contemporary economic pressures Niswatun Mufarrikhah; Harto Wicaksono
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41676

Abstract

This study aims to understand the socio-cultural strategies used by students in practicing a frugal lifestyle amidst economic challenges and a consumer culture in higher education. This study was conducted at Semarang State University (UNNES) using a qualitative approach and descriptive design. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation with six primary informants and eight supporting informants selected purposively. Data analysis used the interactive model of Miles and Huberman, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research results show that students implement three main strategies, namely (1) rational financial management through budget recording and planning; (2) controlling consumption by limiting daily expenses and prioritizing basic needs; and (3) socio-cultural adaptation through internalizing the values ​​of simplicity, solidarity among boarding housemates, and family habits. These three strategies illustrate that a frugal lifestyle is not only a response to economic limitations, but also an expression of social and cultural values ​​that shape student identity. Theoretically, this study extends the application of Parsons' theory of frugality and social adaptation to the cultural context of Indonesian college students, by positioning frugal living as a moral practice and a form of counterculture to a consumptive lifestyle. Practically, the results of this study can serve as a basis for developing policies on financial literacy, character development, and student welfare based on socio-cultural values. The limitations of this study lie in the limited number of informants and research locations. Therefore, further research is recommended to expand the context and use a mixed methods approach to obtain more comprehensive results.   Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi sosiobudaya yang digunakan oleh mahasiswa perguruan tinggi dalam menerapkan gaya hidup hemat di tengah tantangan ekonomi dan meningkatnya budaya konsumerisme di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan enam informan utama dan delapan informan pendukung yang dipilih secara purposif. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa menerapkan tiga strategi utama: (1) pengelolaan keuangan rasional melalui perencanaan anggaran dan pemantauan pengeluaran; (2) pengendalian konsumsi dengan membatasi pengeluaran harian dan memprioritaskan kebutuhan dasar; dan (3) adaptasi sosiobudaya melalui internalisasi kesederhanaan, solidaritas sesama, dan nilai-nilai yang diwariskan keluarga. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukan hanya respons ekonomi, tetapi juga ekspresi budaya yang membentuk identitas sosial mahasiswa. Secara teoritis, studi ini memperluas penerapan teori kesederhanaan dan kerangka kerja adaptasi sosial Parsons dalam konteks budaya mahasiswa Indonesia, menempatkan kesederhanaan sebagai praktik moral dan kontra-budaya terhadap konsumerisme. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan wawasan untuk mengembangkan program literasi keuangan, pendidikan karakter, dan kebijakan kesejahteraan mahasiswa yang berakar pada nilai-nilai sosial dan budaya. Penelitian ini dibatasi oleh jumlah informan yang sedikit dan cakupan institusional tunggal; oleh karena itu, penelitian masa depan sebaiknya memperluas konteksnya dan menggunakan metode campuran untuk mencapai pemahaman yang lebih komprehensif.
Atelir Ceremai: Identity negotiation and artists’ resistance in urban collective space Fajar Hanif Mubarok; Tisna Prabasmoro; Lina Meilinawati Rahayu
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.41735

Abstract

This study explores the strategies of urban art collectives in shaping collective identity through collaborative practices within social spaces. Focusing on Atelir Ceremai, an art collective located on the cultural periphery of Jakarta (East Jakarta), the research examines how contemporary artists respond to marginal urban contexts through community-based artistic production. Drawing on social constructionism, collective identity theory, and theories of spatial practice, the study examines how space, language, and group dynamics shape the formation of collective consciousness among artists. This process reflects a shift from individual creativity to a communal artistic ecosystem, from market norms to symbolic autonomy, and from personal identity to a more adaptive collective identity. Based on in-depth interviews, document analysis, and participatory observation, the study finds that this transformation is made possible through various activities, including knowledge-sharing, collective use of space and tools, and the activation of joint projects. The study concludes that art collectives such as Atelir Ceremai play a crucial role in creating spaces for artistic production while simultaneously articulating adaptive forms of identity through dialectical processes. This adaptive identity is expressed through performative language, collective decision-making, and shared labor, symbolically distancing itself from the norms and logic of the art market.   Penelitian ini mengeksplorasi strategi kolektif seni urban membentuk identitas kolektif melalui praktik kolaboratif dalam ruang sosial. Dengan menyoroti Atelir Ceremai, sebuah kolektif seni yang berlokasi di pinggiran lanskap budaya Jakarta (Jakarta Timur), riset ini mengkaji bagaimana seniman kontemporer merespons konteks urban-pinggiran melalui produksi artistik berbasis komunitas. Bertolak dari kerangka konstruksionisme sosial dan teori identitas kolektif, serta teori mengenai praktik ruang, studi ini menelusuri bagaimana ruang, bahasa, dan dinamika kelompok membentuk kesadaran kolektif di antara seniman. Hal ini berkontribusi pada pergeseran dari kreativitas individual ke ekosistem artistik komunal, dari norma pasar ke otonomi simbolik, dari identitas individual ke identitas kolektif yang adaptif. Melalui wawancara mendalam, analisis dokumen, dan observasi partisipatif, ditemukan bahwa proses pergeseran tersebut dimungkinkan melalui sejumlah aktivitas yang merentang dari saling berbagi pengetahuan, ruang dan alat, serta serangkaian aktivasi proyek bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kolektif seni seperti Atelir Ceremai memainkan peran penting dalam menciptakan ruang produksi artistik sekaligus bentuk-bentuk adaptasi identitas yang terjadi secara dialektis. Identitas adaptif ini terartikulasi melalui bahasa performatif, keputusan bersama, serta kerja kolektif yang secara simbolik mengambil jarak dari norma dan logika pasar seni.
Digital communication strategy and creative entrepreneurship in branding “Mini Bali” tourism village Sri Narti; Dilmai Putra; Edi Susilo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42311

Abstract

Village tourism serves as a community-based development strategy that plays a vital role in driving social, cultural, and economic transformation. This study aims to analyze digital communication strategies and creative entrepreneurship in strengthening the branding of Rama Agung Village as “Mini Bali.” Using a qualitative case study design conducted between July and September 2025, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation review. The results reveal that digital communication through social media, websites, and documentary films effectively shapes destination image and increases youth participation. Creative entrepreneurship through local MSMEs such as MP Jewellery, Sabunne Chris, and traditional handicrafts further strengthens cultural identity and economic independence. Collaboration between students, lecturers, the Papida Rama Agung Tourism Awareness Group, and the village government produces innovative branding rooted in local wisdom, religiosity, and economic creativity. The study concludes that the synergy between digital communication and creative entrepreneurship enhances community empowerment and boosts the competitiveness of rural tourism in the digital era.   Pariwisata berbasis desa merupakan salah satu strategi pembangunan partisipatif yang mampu mendorong perubahan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi komunikasi digital dan kewirausahaan kreatif dalam proses branding Desa Rama Agung sebagai “Mini Bali”. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, dilaksanakan pada periode Juli hingga September 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan kepala desa, ketua Pokdarwis Papida Rama Agung, serta pelaku UMKM seperti MP Jewelry dan Sabun Eco-Enzyme Chris, disertai observasi partisipatif dan telaah dokumentasi.Temuan penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pendampingan oleh mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dehasen Bengkulu berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi digital masyarakat. Pemanfaatan berbagai platform digital seperti media sosial, situs web, dan video kreatif terbukti efektif dalam membangun citra destinasi wisata yang mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritual lokal. Sementara itu, penguatan kewirausahaan kreatif berbasis produk lokal turut mendukung pembentukan identitas budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM.Sinergi antara pemerintah desa, komunitas, dan akademisi menghasilkan model branding desa wisata yang berkelanjutan dan berbasis pada narasi digital yang autentik, kolaboratif, serta berorientasi pada daya saing. Kesimpulannya, integrasi strategi komunikasi digital dan kewirausahaan kreatif menjadi faktor kunci dalam pemberdayaan masyarakat serta peningkatan daya saing desa wisata di era digital.
Gurindam: Local wisdom literature to cultivate life motivation in Millennials and Generation Z Fathiyyah Azizah; Amanah Belinda; Yanuarita Nur Hanifa
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42349

Abstract

This study is motivated by the declining attention of Millennials and Generation Z toward local wisdom, particularly gurindam, which embodies moral, religious, and motivational values. The research aims to analyze the role of gurindam in the millennial era as a form of digital local wisdom-based literature in fostering life motivation among young people. The study was conducted at SMPIP Daarul Jannah and several public senior high schools in Cibinong District, Bogor Regency, West Java Province. Using a qualitative approach through interviews, observations, and document analysis, the data were systematically processed to gain a deep understanding of the phenomenon. The findings reveal that adapting gurindam through social media platforms such as Instagram effectively increases young people’s reading interest and appreciation of its moral messages. Moreover, the values of local wisdom contained within gurindam are perceived as relevant sources of life motivation in the modern context. The novelty of this research lies in its exploration of gurindam as a medium of cultural revitalization in the digital era, demonstrating how traditional literature can be transformed into a motivational tool through contemporary digital platforms. Thus, gurindam in the millennial era not only serves as a means of cultural preservation but also as a motivational instrument that supports character formation and the psychological well-being of young generations.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menurunnya perhatian generasi milenial dan generasi Z terhadap kearifan lokal, khususnya gurindam, yang sejatinya mengandung nilai-nilai moral, religius, dan motivasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran gurindam pada era milenial sebagai literatur digital berbasis kearifan lokal dalam menumbuhkan motivasi hidup generasi muda. Penelitian ini dilaksanakan di SMPIP Daarul Jannah dan beberapa SMA Negeri di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen, yang diolah secara sistematis untuk memperoleh pemahaman mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modifikasi gurindam melalui media sosial Instagram mampu meningkatkan minat baca dan apresiasi generasi milenial terhadap nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal dalam gurindam dipahami sebagai sumber motivasi hidup yang relevan dengan konteks kehidupan modern. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya mengkaji gurindam sebagai media revitalisasi budaya di era digital, dengan menekankan transformasi sastra tradisional menjadi instrumen motivasional melalui platform digital modern. Dengan demikian, gurindam era milenial tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga sebagai media motivasional yang mendukung pembentukan karakter dan kesejahteraan psikologis generasi muda.  
The existence of Tanah Liek Batik in the development of creative industries in Padang City Rosalena Aprizia; Agusti Efi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42390

Abstract

Tanah Liek Batik is a distinctive Minangkabau textile that uses natural clay-based dyes and holds deep historical and philosophical meaning. This study examines the existence and sustainability of Tanah Liek Batik within Padang's creative sector and evaluates the government’s role in supporting its development. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observation, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model, encompassing data reduction, display, and conclusion drawing. The findings introduce a new perspective by positioning Tanah Liek Batik not only as a traditional craft but also as an adaptive cultural industry that integrates heritage preservation with modern entrepreneurial strategies. The findings reveal that Tanah Liek Batik serves as both a marker of Minangkabau cultural identity and an economic commodity that contributes to employment, local income, and tourism. Entrepreneurs maintain their relevance through motif innovation, product diversification, and digital marketing. The novelty of this research lies in identifying the dynamic transformation of Tanah Liek Batik from a local cultural product into a creative economic asset through digital adaptation and intergenerational collaboration. However, challenges persist, including limited market access, high production costs, scarcity of raw materials, competition from printed batik, and low interest among youth. Government agencies have supported artisans through training, funding, equipment provision, and promotion, though constrained by limited budgets and weak regeneration. The study highlights the need for culture-based innovation and stronger youth involvement to ensure the sustainability of this traditional Minangkabau craft.   Batik Tanah Liek merupakan tekstil khas Minangkabau yang menggunakan pewarna alami berbasis tanah liat serta memiliki makna historis dan filosofis yang mendalam. Penelitian ini menganalisis eksistensi dan keberlanjutan Batik Tanah Liek dalam sektor industri kreatif di Kota Padang serta mengevaluasi peran pemerintah dalam mendukung pengembangannya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian ini memperkenalkan perspektif baru dengan memposisikan Batik Tanah Liek tidak hanya sebagai kerajinan tradisional, tetapi juga sebagai industri budaya adaptif yang mengintegrasikan pelestarian warisan dengan strategi kewirausahaan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batik Tanah Liek berperan sebagai penanda identitas budaya Minangkabau sekaligus sebagai komoditas ekonomi yang berkontribusi terhadap lapangan kerja, pendapatan daerah, dan pariwisata. Para pelaku usaha menjaga relevansinya melalui inovasi motif, diversifikasi produk, dan pemasaran digital. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi perubahan Batik Tanah Liek dari produk budaya lokal menjadi aset ekonomi kreatif melalui adaptasi digital dan kolaborasi antar generasi. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan akses pasar, tingginya biaya produksi, kelangkaan bahan baku, persaingan dengan batik cap, serta rendahnya minat generasi muda. Pemerintah telah memberikan dukungan kepada para perajin melalui pelatihan, pendanaan, bantuan peralatan, dan promosi, meskipun masih terkendala oleh keterbatasan anggaran dan lemahnya regenerasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya inovasi berbasis budaya dan keterlibatan generasi muda untuk menjaga keberlanjutan kerajinan tradisional Minangkabau ini.
Analysis of terms in the sasak nyunat tradition and their pedagogical implications Ahmad Supriadi Guna Putra; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42432

Abstract

This study examines the linguistic forms and cultural meanings embedded in the nyunat (circumcision) tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It addresses a research gap in which circumcision traditions in Indonesia have mostly been explored from anthropological and health perspectives. The study aims to document, classify, and interpret ritual lexicons as cultural markers that embody identity, social roles, and spiritual values. Through qualitative methods involving observation, interviews, and document analysis, supported by audio–video recordings, the research constructs a taxonomy of ritual lexicons categorized into three semantic domains—berjap ‘getting ready’, begawe ‘holding a celebration’, and perebaq jengkis ‘ending the ceremony’. This taxonomy demonstrates how ritual language organizes cultural knowledge and encodes social order. Theoretically, the study advances the field of anthropological linguistics by showing how ritual lexicons function as systems that preserve and negotiate cultural meaning across generations. Pedagogically, the findings highlight the potential integration of local ritual lexicons into heritage-based education, cultural literacy, and digital storytelling programs to promote linguistic awareness and cultural sustainability.   Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk linguistik dan makna budaya yang tertanam dalam tradisi nyunat (khitan) masyarakat Sasak dari perspektif linguistik antropologi. Kajian ini menanggapi kesenjangan penelitian, di mana tradisi khitan di Indonesia sebagian besar telah diteliti dari sudut pandang antropologis dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan menafsirkan leksikon-leksikon ritual sebagai penanda budaya yang merepresentasikan identitas, peran sosial, dan nilai-nilai spiritual. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang didukung oleh rekaman audio–video, penelitian ini membangun taksonomi leksikon ritual yang dikategorikan ke dalam tiga domain semantik, yaitu berjap (‘bersiap’), begawe (‘mengadakan perayaan’), dan perebaq jengkis (‘menutup upacara’). Taksonomi ini menunjukkan bagaimana bahasa ritual mengorganisasi pengetahuan budaya dan mengodekan tatanan sosial. Secara teoretis, penelitian ini memperluas bidang linguistik antropologi dengan menunjukkan bagaimana leksikon ritual berfungsi sebagai sistem yang mempertahankan dan menegosiasikan makna budaya lintas generasi. Secara pedagogis, temuan penelitian ini menyoroti potensi integrasi leksikon ritual lokal ke dalam pendidikan berbasis warisan budaya, literasi budaya, dan program penceritaan digital untuk meningkatkan kesadaran linguistik dan keberlanjutan budaya.
Lack of neutrality among village officials in conflict resolution and law enforcement in Lebong Regency Mike Jayanti; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42494

Abstract

Law Number 6 of 2014 concerning Villages provides a legal basis for village officials in exercise their authority. However, in practice, there are still gaps, especially in the neutrality of village officials in handling conflicts in rural areas, which are often biased. Such impartiality certainly has an impact on the sense of trust in local officials and the social cohesion of the village community. This study analyzes the lack of neutrality of village officials in resolving conflicts in Suka Negeri Village, Lebong Regency. The aim is to describe how this lack of neutrality is not only an administrative issue but also a manifestation of power relations and social legitimacy that shape how law and justice are enforced. This study uses a qualitative case study approach. Research data was collected through semi-structured interviews and observations to gain an understanding of the conflicts that occurred and the resolution of cases by village officials. The theoretical framework uses Ralf Dahrendorf's conflict analysis to review the dynamics of pseudo-groups, interest groups, and conflict groups in the village social structure. This study fills a gap in research that tends to focus only on administrative governance in villages, without examining socio-cultural biases in conflict resolution. The findings show that village officials have not played a fair role in conflict resolution due to partiality and patronage that favor those with kinship ties to them, thereby fostering resistance and a crisis of trust.   Adanya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memberikan landasan hukum bagi perangkat desa dalam menjalankan kewenangannya. Namun dalam praktik masih terdapat kesenjangan, terutama pada netralitas perangkat desa dalam menangani konflik di pedesaan yang sering kali bias. Ketidaknetralan semacam itu tentunya berdampak pada rasa kepercayaan terhadap pejabat lokal dan kohesi sosial masyarakat desa. Penelitian ini menganalisis ketidaknetralan perangkat desa dalam penyelesaian konflik di Desa Suka Negeri, Kabupaten Lebong. Guna mendeskripsikan bahwa ketidaknetralan tersebut bukan hanya persoalan administratif, tetapi merupakan manifestasi relasi kuasa dan legitimasi sosial yang memengaruhi cara hukum dan keaadilan ditegakkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  dengan pendekatan studi kasus, data penelitian dikumpulkan melalui wawancara semi struktur dan observasi untuk memperoleh pemahaman mengenai konflik yang terjadi dan penyelesaian kasus oleh perangkat desa. Kerangka teoritis menggunakan analisis konflik Ralf Dahrendorf untuk mengulas dinamika kelompok semu, kelompok kepentingan dan kelompok konflik dalam struktur sosial desa. Studi ini mengisi celah penelitian yang cenderung menyoroti tata kelola administratif desa saja tanpa menelaah bias sosial-budaya dalam resolusi konflik. Temuan menunjukkan bahwa perangkat desa belum menjalankan peran secara adil dalam penyelesaian konflik karena keberpihakan dan patronase yang memberi keuntungan bagi pihak yang memiliki hubungan kekerabatan ke pejabat desa sehingga memunculkan resistensi dan krisis kepercayaan.
Unveiling cultural values and pedagogical insights through the terminologies of the Sasak Kepaten tradition Saadilah Husni; Mahsun Mahsun; Burhanudin Burhanudin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42529

Abstract

This study explores the ritual language system in the kepaten tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It aims to identify the linguistic forms, cultural meanings, and value systems embedded in death ritual expressions. Language in this context is viewed not merely as a communicative tool but as a symbolic mechanism that structures social, spiritual, and moral behavior. Employing a qualitative–descriptive method through observation, interviews, and documentation, the research collected ritual lexicons analyzed using HBB, HBS, and HBSP techniques to construct taxonomies and semantic domains across three main stages: nyiepan ‘pre-burial’, nguburan ‘burial’, and suwahan ‘post-burial’. The findings reveal that each linguistic form conveys not only lexical meaning but also a triadic value system connecting human–human, human–nature, and human–God relationships. These values form the foundation of what this study terms language as moral ecology—a linguistic system that regulates ethical conduct and sustains communal harmony. From a pedagogical standpoint, the kepaten lexicons provide culturally grounded learning materials that can nurture solidarity, spirituality, and ecological care in character education. Overall, the study enriches anthropological linguistics by positioning ritual discourse as both a moral–ecological practice and a model for heritage-based pedagogy rooted in Sasak cultural wisdom.   Penelitian ini mengkaji sistem bahasa ritual dalam tradisi kepaten masyarakat Sasak melalui perspektif linguistik antropologis. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk lingual, makna budaya, dan sistem nilai yang terkandung dalam tuturan ritual kematian. Bahasa dalam konteks ini tidak dipandang semata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai mekanisme simbolik yang menstrukturkan perilaku sosial, spiritual, dan moral masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menghimpun leksikon ritual yang dianalisis menggunakan teknik HBB, HBS, dan HBSP untuk membangun taksonomi dan domain semantik pada tiga tahap utama: nyiepan ‘pra-pemakaman’, nguburan ‘pemakaman’, dan suwahan ‘pasca-pemakaman’. Temuan penelitian menunjukkan bahwa setiap bentuk lingual tidak hanya memuat makna leksikal, tetapi juga merepresentasikan sistem nilai triadik yang menghubungkan relasi manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari konsep bahasa sebagai ekologi moral (language as moral ecology), yaitu sistem linguistik yang menata perilaku etis dan menjaga keharmonisan sosial. Dari sudut pandang pedagogis, leksikon kepaten dapat dijadikan sumber pembelajaran berbasis budaya yang menumbuhkan solidaritas, religiusitas, dan kepedulian ekologis dalam pendidikan karakter. Secara keseluruhan, penelitian ini memperkaya kajian linguistik antropologis dengan menempatkan wacana ritual sebagai praktik moral-ekologis sekaligus model pedagogi berbasis kearifan lokal masyarakat Sasak.
Communication and culture: Exploring the impact of modernization and social change in Subulussalam city through Dampeng dance Fathayatul Husna; Siti Derhana; Ainal Fitri; Lilis Sariyanti; Futri Syam
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42536

Abstract

This article examines the traditional art of Dampeng Dance in Subulussalam City. Dampeng Dance is one of the distinctive traditional art forms of Subulussam, carrying deep social and cultural significance for the local community. Over time, the Dampeng Dance has undergone several transformations, including changes in the composition of dancers, performance duration, and customsThe purpose of this study is to find out how does the presence of the Dampeng dance bring about social change and communication within the community of Subulussalam city through modernization? This is inseparable from the influence of internal and external factors of the dance. This research uses the theory of social change by Soekanto, which is based on two factors: external and internal. The research employs a qualitative method with a descriptive-qualitative approach. Informants were selected through purposive sampling, focusing on individuals with substantial knowledge and understanding of Dampeng Dance tradition in Subulussalam. Data were collected through interviews, observations, and documentations, then analyzed using Reflexive Thematic Analysis. The results of this study are predominantly influenced by internal factors, such as demographic growth, the emergence of new cultural innovations, and internal social conflicts. Meanwhile, external factors such as physical environmental conditions and warfare had little impact, although cross-cultural interactions significantly influence the dance’s style and presentation. These transformations also reflect broader social changes within the community, including of Dampeng Dance is not merely an aesthetic adaptation to modernity but a representation of the complex processes of social change in the life of Subulussalam society.   Artikel ini mengkaji terkait seni tradisional Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Tari Dampeng merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Kota Subulussan yang memiliki nilai sosial dan budaya tinggi bagi masyarakat. Seiring berjalannya waktu, Tari Dampeng telah mengalami beberapa transformasi, termasuk perubahan komposisi penari, durasi pertunjukan, dan adat istiadat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kehadiran Tari Dampeng membawa perubahan sosial dan komunikasi dalam masyarakat Kota Subulussalam melalui modernisasi? Hal ini tidak terlepas dari pengaruh faktor internal dan eksternal tarian tersebut. Penelitian ini menggunakan teori perubahan sosial Soekanto, yang didasarkan pada dua faktor: eksternal dan internal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu dengan cara menentukan informan yang memiliki pengetahuan dan pemahaman lebih terkait Tari Dampeng di Kota Subulussalam. Sedangkan data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi, serta dilakukan analisis data dengan menggunakan Reflexive Thematic Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan Tari Dampeng lebih dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi pertumbuhan penduduk demografis, munculnya inovasi budaya baru, serta konflik sosial internal. Sementara itu, faktor eksternal berupa kondisi lingkungan fisik dan peperangan tidak memiliki dampak yang berarti, meskipun interaksi budaya lain terbukti memberikan pengaruh kuat terhadap gaya dan bentuk penyajian tari. Transformasi ini turut membawa perubahan sosial dalam masyarakat, seperti pergeseran pola pikir, perilaku dan budaya material. Dengan demikian, perubahan Tari Dampeng bukan sekedar adaptasi estetik terhadap modernitas, melainkan juga representasi dari proses perubahan sosial yang kompleks dalam kehidupan masyarakat Subulussam.
The loss and damage fund as a site of global resistance: Power asymmetries and normative disruption in climate governance Abdul Halim; Sari Mutiara Aisyah; Erlisa Saraswaty; Roy Setiawan; Sri Mulya Pratiwi; Athira Nisrina; Wahyu Saputra
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42599

Abstract

The issue of loss and damage has long been sidelined in global climate governance, despite its increasing urgency for climate-vulnerable countries. This study examines the political, moral, and cultural dimensions of climate justice that shaped the negotiation and institutionalization of the Loss and Damage Fund (LDF) under the UNFCCC framework. Politically, the fund reflects enduring power asymmetries between developed and developing countries; morally, it embodies contested claims of historical responsibility; and culturally, it signals a shift in global norms toward reparative justice and transnational solidarity. Using a qualitative-descriptive approach, the research draws on official UNFCCC documents, COP decisions, and academic literature to trace the institutional dynamics and strategic negotiations that enabled the fund’s creation. The findings show that Global South actors, despite internal asymmetries, strategically reframed loss and damage from a technical concern into a moral and political demand. Indonesia’s diplomatic role within the G77 coalition at COP27 illustrates how procedural resistance and discursive realignment contributed to political recognition of irreversible climate harm. This study addresses a gap in the literature by moving beyond normative appeals to examine the institutional mechanisms and strategic agency that transformed a marginalized agenda into formal policy. Its academic contribution lies in synthesizing historical institutionalism and Global South dependency theory, while connecting institutional change to broader shifts in values, norms, and global solidarity. The Loss and Damage Fund is not merely a financial instrument; it is a contested site of political struggle and symbolic transformation in the architecture of global climate governance.   Isu kerugian dan kerusakan telah lama terpinggirkan dalam tata kelola iklim global, meskipun urgensinya semakin meningkat bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak iklim. Studi ini menelusuri dimensi politik, moral, dan kultural dari keadilan iklim yang membentuk proses negosiasi dan pelembagaan Dana Kerugian dan Kerusakan (Loss and Damage Fund/LDF) di bawah kerangka UNFCCC. Secara politik, LDF mencerminkan ketimpangan kekuasaan antara negara maju dan berkembang; secara moral, ia memuat klaim tanggung jawab historis yang diperdebatkan; dan secara kultural, ia menandai pergeseran norma global menuju keadilan reparatif dan solidaritas transnasional. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengandalkan analisis dokumen resmi UNFCCC, keputusan COP, dan literatur akademik untuk menelusuri dinamika institusional dan strategi negosiasi yang memungkinkan pembentukan LDF. Temuan menunjukkan bahwa aktor-aktor Global South, meskipun memiliki asimetri internal. secara strategis mereformulasi isu kerugian dan kerusakan dari persoalan teknis menjadi tuntutan moral dan politik. Peran diplomatik Indonesia dalam koalisi G77 pada COP27 menjadi contoh bagaimana resistensi prosedural dan pergeseran wacana berhasil mendorong pengakuan politik atas kerugian iklim yang tidak dapat diadaptasi. Studi ini mengisi celah dalam literatur yang selama ini cenderung menekankan aspek normatif tanpa mengkaji mekanisme institusional dan strategi politik yang memungkinkan agenda terpinggirkan menjadi kebijakan global. Kontribusi akademik penelitian ini terletak pada sintesis teoritis antara institusionalisme historis dan teori ketergantungan Global South, serta analisis transformasi nilai dan solidaritas global. LDF bukan sekadar instrumen finansial, melainkan arena perjuangan politik dan simbol transisi kelembagaan dalam arsitektur tata kelola iklim dunia.

Page 3 of 4 | Total Record : 31