cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
IBN THUFAIL'S PHILOSOPHICAL THOUGHTS IN THE STORY OF HAYY BIN YAQDZON Iqbal, Moch; Mukaromah, Melisa
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4387

Abstract

Abstract The purpose of this study is to examine and explain and convey his philosophical thoughts in various aspects through the story of Hayy bin Yaqdzon. Therefore researchers are interested in conducting in-depth research on how the philosophical thoughts of Ibn Thufail are contained in the story of Hayy bin Yaqdzon. This research uses the Library Research method (literature study) with qualitative descriptive. As a result of this research, the researcher concludes that the philosophical thoughts of Ibn Thufail contained in the story of Hayy bin Yaqdzon include ontological aspects regarding nature and being (Hayy bin Yaqdzon's origins, matter and form as well as arguments proving the existence of God), epistemological aspects regarding sources of knowledge (mind). , five senses and revelation) as well as axiological aspects including ethics (towards God, environment and social). Keywords: Philosophical Thought, Ibn Thufail, Acts, Hayy bin Yaqdzon.
LOGIKA TOLERANSI BERAGAMA MENURUT PERSFEKTIF MASYARAKAT PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG Abdul Halim, Ilim; Muhlas, Muhlas
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4406

Abstract

Penelitian ini menganalisis cara berpikir penganut agama tentang toleransi beragama. Pemikiran toleransi ini sejak dulu sudah diteliti oleh berbagai Lembaga dan diprogramkan oleh pemerintah dan Lembaga-lembaga, namun masih tetap perlu dikaji mengingat masyarakat Indonesia memiliki potensi konflik dan intoleransi. Terdapat tiga hal dibahas di dalam tulisan ini. Pertama, konsep toleransi beragama menurut masyarakat perkotaan. Kedua, tindakan toleransi beragama sebagai bentuk sikap kehidupan. Ketiga, proses penalaran masyarakat perkotaan mengenai toleransi beragama. Konsep logika silogisme yang dikembangkan Aristoteles digunakan dalam penelitian ini sebagai metode deskriptif dengan analisis kualitatif. Temuan utama dalam tulisan artikel ini adanya konsep toleransi beragama dari masyarakat perkotaan. Konsep toleransi beragama itu terangkum dalam tiga nilai yaitu adil, bebas dan identitas. Masyarakat perkotaan memiliki proposisi atau pernyataaan tentang toleransi beragama yang dianggap benar menurut cara pandang dan pengalaman mereka. Terdapat tiga jenis proses penalaran adalah penalaran induktif, deduktif dan silogisme. Simpulan dari tulisan ini adalah masyarakat perkotaan memiliki pemikiran tentang toleransi beragama yang logis dan dijadikan dasar dalam Tindakan sosial kehidupan beragama.
RELIGIOUS DISCOURSE IN THE ARAB MEDIA KLAINA, MEKKI
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4488

Abstract

The goal of oral and written Arab media is to send a message both inside and outside the country, to correct a misconception, or to spread a negative opinion about a particular aspect of politics, society, or the economy for a variety of reasons. Under the guise of modernizing the religious discourse, condemning its past, emancipating itself from religion, or restricting itself to international norms, this discourse had a presence in the Arab media. On the other hand, a different discourse seeks to portray Islam as a religion of peace, rights, and responsibilities as well as an embrace of others free from prejudice. The 2011 attack contributed to the growth of Islamophobia, which necessitates an inclusive conversation for understanding. This study will examine the consequences of this prevalent discourse on social cohesion in the Arab world. For this purpose, many institutions and scholars try to clarify the issue to improve social and religious life. Keyword: religious discourse; Islam; Arab media; Islamophobia
SALAFI-INFLUENCERS ON SOCIAL MEDIA: ANALYTICAL STUDY OF OF THE DISCOURSE OF NEO-SALAFI PREACHERS Abdulmajid, Adib
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4489

Abstract

This discourse analytical study tackles the rise of Neo-Salafism in the digital age. It constitutes an exploration of the discursive technics, strategies and practices employed by the new generation of Salafī preachers on social media. It strives to unveil the various discursive methods of indoctrination pursued by Salafi-influencers and the ends such strategies tend to serve. It involves an exploration of linguistic and contextual activities and seeks to identify explicit and implicit messages incorporated into the discourse of those young preachers. The main hypothesis upon which this study rests is that young preachers of Neo-Salafism resort to modified discursive technics that correspond to the age of digitalization and social media activism for the sake of ensuring a resounding impact among their addressees. These recipients represent a social incubator to the extremist Salafī ideology and a potential pool for a new wave of radicalization among the Muslim youth worldwide. A multi-dimensional methodological framework is employed to tackle the topic raised by this study. The data analyzed within the framework of this study consist of speeches and instructional communications by young Salafī preachers published through different social media platforms. Salafi-influencers seem to have developed a discourse characterized by certain manipulative strategies to communicate particular ideological messages and to indoctrinate recipients.
ANALISIS ETIKA POLITIK AL-MAWARDI ATAS KASUS PEMILIHAN KEPALA DESA DI KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2019 diana, lutvi; Fatkhan, Muhammad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4467

Abstract

At this time, political ethics seemed to no longer apply, in fact now political ethics seem to have disappeared from society. Politics is defined as an arena of struggle for power and interests, doing everything possible to achieve a goal. One example is the practice of money politics that occurs in village head elections which does not at all reflect the behavior of someone who is religious, especially Islam, which prohibits unethical behavior. Therefore, researchers are interested in discussing the thoughts of a major figure, namely Al-Mawardi with a scientific work entitled Al Mawardi's Political Ethics: An Analysis of the Village Head Election Case in Lamongan Regency in 2019. So, this research will analyze how Al Mawardi's political ethics is compared to the money politics case in Lamongan Regency? The urgency of this research is to analyze the impact of money politics which can damage ethics in politics on society. This type of research is qualitative research using a case study approach, in order to obtain in-depth information and assist in the analysis process. Data collection methods include observation and interviews as well as sources of informants including people who have the right to vote in elections. The results obtained in this study, namely the constellation of money politics practices in Lamongan Regency are caused by a lack of public awareness of the importance of the concept of political ethics in religion which prohibits this unethical behavior. In this work, it is hoped that people will open their eyes consciously. Keyword:Ethics; Money politic ; Al-Mawardi.   Abstrak Pada saat ini, etika politik seakan tidak berlaku lagi, justru kini etika politik seakan telah lenyap dari masyarakat. Politik diartikan sebagai arena perebutan kekuasaan dan kepentingan, melakukan segala kemungkinan cara untuk mencapai suatu tujuan. Salah satu contohnya adalah praktik politik uang yang terjadi didalam pemilihan kepala desa yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku seseorang yang beragama khususnya agama Islam yang melarang perilaku yang tidak etis. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk membahas pemikiran dari tokoh besar yaitu Al-Mawardi dengan karya ilmiah berjudul Etika Politik Al Mawardi : Analisis Terhadap Kasus Pemilihan Kepala Desa Di Kabupaten Lamongan Tahun 2019. Maka, penelitian ini akan menganalisa terkait bagaimana etika politikl Al Mawardi jika disandingkan dengan kasus money politik di Kabupaten Lamongan? Urgensi penelitian ini adalah meganalisis dampak money politik yang dapat merusak etika dalam berpolitik terhadap masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus, guna memperoleh informasi secara mendalam dan membantu dalam proses analisis. Metode pengumpulan data mencakup observasi dan wawancara serta sumber informan meliputi masyarakat yang mempunyai hak pilih dalam pemilu. Hasil yang diperoleh dalam penelitian, yaitu konstelasi praktik politik uangdi Kabupaten Lamongan disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya konsep etika politik dalam beragama yang melarang perilaku tidak etis tersebut. Dalam karya ini diharapkan agar masyarakat membuka mata dengan sadar. Kata kunci: Etika; Politik Uang ; Al-Mawardi.
PERSPEKTIF FILSAFAT AGAMA TENTANG KERUKUNAN BERAGAMA Theguh Saumantri
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4470

Abstract

Indonesia, as a country rich in cultural, ethnic, and religious diversity, has faced complex challenges in achieving social harmony and inter-religious harmony. Over time, the complexity of religious diversity has given rise to a number of problems, including inter-religious conflicts, insults, and a lack of understanding of the principles of religious harmony. This study aims to enrich the understanding of the concept of religious harmony from the perspective of religious philosophy as well as identify the contribution of religious philosophy to enriching the understanding of religious harmony in the context of religious diversity in Indonesia. This research uses a descriptive research method with a phenomenological approach. Based on the analysis conducted, it can be interpreted that religious harmony is a fundamental concept in the lives of religion and society. This relates to the formation of an attitude of tolerance, mutual respect, and understanding differences. In the philosophy of religion, religious harmony can be built through Synergizing Religious pluralism, involving Inter-Religious Dialogue, and implementing Religious Ethics and Morality holistically. Keywords: Religious Harmony, Religious Philosophy, Tolerance.   Abstrak Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya, etnis, dan agama, telah menghadapi tantangan kompleks dalam mencapai harmoni sosial dan kerukunan antarumat beragama. seiring berjalannya waktu, kompleksitas keberagaman agama telah menimbulkan sejumlah permasalahan, termasuk konflik antaragama, diskriminasi, dan kurangnya pemahaman tentang prinsip-prinsip kerukunan beragama. Penelitian ini bertujuan untuk memperkaya pemahaman tentang konsep kerukunan beragama dalam perspektif filsafat agama, serta mengidentifikasi kontribusi filsafat agama dalam memperkaya pemahaman tentang kerukunan beragama dalam konteks keberagaman agama di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kerukunan beragama merupakan konsep fundamental dalam kehidupan beragama dan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan terbentuknya sikap toleransi, saling menghormati, dan memahami perbedaan. Dalam filsafat agama, kerukunan beragama dapat dibangun melalui Mensinergikan Pluralitas Agama, melibatkan Dialog Inter-Religius, serta menerapkan Etika dan Moralitas Agama secara holistik.  Kata kunci: Kerukunan Beragama, Filsafat Agama, Toleransi.
MULTIKULTURALISME DALAM PRAKTIK PENDIDIKAN: KAJIAN LIVING PHILOSOPHY ATAS MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SD SPEAK FIRST KLATEN Shafa Alistiana Irbathy
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4511

Abstract

Abstract Multiculturalism inspires multicultural education. Multicultural education is a concept, creating equal educational opportunities for students of different backgrounds and helping students acquire knowledge, attitudes and skills to interact and communicate with citizens from diverse groups so that a moral society is loved. Through multicultural education students are expected to have good competence in behaving and implementing democratic values, humanism and pluralism in the school environment and outside of school. On the other hand, educational institutions are tasked with preparing students to become a generation that has insight into attitudes and actions in the life of the nation and state that pays attention to multiculturalism. The development of multicultural education in schools can use a management approach both in teaching and learning activities in school activities and in the application of multicultural-based school management. The purpose of this study was to find out the form of multicultural education that integrates with the fields and activities of the school and how social interaction in the family of this educational institution is based on cultural and multicultural differences. The research approach uses a phenomenological approach that aims to describe the conditions or phenomena that occur, with the type of field research that is qualitative in nature. tera is based on multiethnic and multicultural differences as seen in the formation of an organizational structure for human resources in multi-ethnic educational institutions. Keywords: Multicultural Education and School-Based Management   Abstrak Multikulturalisme menginspirasi suati pendidikan multikuktural. Pendidikan multikultural merupakan sebuah konsep menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi peserta didik yang berbeda latar belakang dan membantu peserta didik memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk berinteraksi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral. Melalui pendidikan multikultural, peserta didik diharapkan memiliki kompetensi yang baik dalam bersikap dan menerapkan nilai demokratis, humanisme dan pluralisme di lingkungan sekolah dan di luar sekolah. Di sisi lain, lembaga pendidikan bertugas mempersiapkan peserta didik menjadi generasi yang memiliki pengetahuan, wawasan / sikap dan tindakan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang memperhatikan latar belakang multikulturalisme. Pengembangan pendidikan multikultural di sekolah dapat menggunakan pendekatan manajemen baik di dalam kegiatan belajar mengajar, kegiatan sekolah maupun penerapan manajemen sekolah berbasis multicultural. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk pendidikan multikultural yang menyatu dengan bidang dan kegiatan sekolah serta bagaimana interaksi sosial dalam keluarga lembaga pendidikan ini berdasarkan pada perbedaan multietnik dan multikultural Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan fenomenologis yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi, dengan jenis penelitian lapangan yang bersifat kualitatif. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian diperoleh adanya salah satu kegiatan sebagai bentuk pendidikan multikultural yaitu kegiatan Cross Cultural Understanding yang bermanfaat untuk menumbuhkan dan menguatkan nilai-nilai multikultural sebagai sebuah ikatan kebersamaan dan kemanusiaan.  Selain itu adanya interaksi sosial secara positif dan sejahtera berdasar pada perbedaan multietnik dan multikultural yang terlihat dalam pembentukan struktur organisasi sumber daya manusia lembaga pendidikan yang berbasis multietnis. Pembentukan struktur organisasi yang berbasis multietnis dapat saling menguatkan sehingga lebih fokus dan optimal dalam mewujudkan impian kehidupan multikulturalisme yang harmonis dan damai di lingkungan sekolah. Kata Kunci : Pendidikan Multikultural dan Manajemen Berbasis Sekolah
ETIKA PLATO DAN ARISTOTELES DAN RELEVANSINYA BAGI KONSEP KEBAHAGIAN DALAM ISLAM: Etika Plato dan Aristoteles dalam Perspektif Islam Rusmini, Agustina
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i2.4549

Abstract

This research discusses the relevance of Plato and Aristotle's ethical views to the concept of happiness from the perspective of Islam. Ethics is a fundamental discipline in philosophy that examines morality and how humans live to achieve true goodness. In the history of traditional philosophy, ethics is divided into four branches: logic, metaphysics, epistemology, and ethics itself. Plato and Aristotle's ethical views regarding happiness emphasize the importance of moral virtues and self-improvement through the understanding of knowledge. Plato emphasizes the significance of philosophical thinking and the regulation of reason to attain a good and happy life. On the other hand, Aristotle sees moral goodness as the highest goal in human actions, where happiness is obtained through the development of good character and moral virtues. The perspective of Islam also emphasizes moral values and obedience to Allah as integral parts of achieving genuine happiness. Islamic ethics understands and considers previous philosophical thoughts, including the perspectives of Plato and Aristotle, to apply relevant ethical principles in the contemporary context. This research adopts the library research method, collecting data from various sources such as books, scholarly journals, and classical writings of Plato and Aristotle. The data analysis is descriptive and analytical, aiming to comprehend the classical ethical views and their relevance to the Islamic ethical perspective. The findings of this research indicate that there are similarities, differences, and relevance between the ethical views of Plato and Aristotle and the ethical perspective in Islam. The common ground is that the moral values advocated in both perspectives can be applied in the context of modern human life. Keyword:  Etihcs, Plato, Aristotle, Perspective, Islam Abstrak Penelitian ini membahas tentang relevansi pandangan etika Plato dan Aristoteles terhadap konsep kebahagiaan dari perspektif Islam. Etika adalah disiplin pokok dalam filsafat yang mengkaji tentang moralitas dan bagaimana manusia hidup agar mencapai kebaikan yang hakiki. Dalam sejarah filsafat tradisional, etika terbagi menjadi empat cabang, yaitu logika, metafisika, epistemologi, dan etika itu sendiri. Pandangan etika Plato dan Aristoteles terkait kebahagiaan menekankan pentingnya kebajikan moral dan peningkatan diri melalui pemahaman pengetahuan. Plato menekankan pentingnya pikiran filosofis dan pengaturan akal untuk mencapai kehidupan yang baik dan bahagia. Sementara Aristoteles melihat kebaikan moral sebagai tujuan tertinggi dalam tindakan manusia, di mana kebahagiaan diperoleh melalui pembangunan karakter dan keutamaan moral yang baik. Perspektif Islam juga menekankan nilai-nilai moral dan ketaatan kepada Allah sebagai bagian dari mencapai kebahagiaan yang hakiki. Etika dalam Islam memahami dan mempertimbangkan pemikiran-pemikiran filosofis sebelumnya, termasuk pandangan Plato dan Aristoteles, untuk menerapkan prinsip-prinsip etika yang relevan dalam konteks zaman saat ini. Penelitian ini menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, dan tulisan-tulisan klasik Plato dan Aristoteles. Analisis data bersifat deskriptif analitis untuk memahami pandangan etika klasik tersebut dan bagaimana pandangan-pandangan tersebut relevan dengan pandangan etika dalam Islam. Dari hasil penelitian ini, dapat ditemukan persamaan, perbedaan, dan relevansi dengan pandangan etika Islam adalah bahwa nilai-nilai moral yang diperjuangkan dalam kedua pandangan tersebut dapat diaplikasikan dalam konteks kehidupan manusia modern. Kata kunci: Etika, Plato, Aristoteles, Perspektif, Islam
STUDI LIVING QURAN ATAS PENGAMALAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM AMALIAH DZIKIR AL-MA’TSURAT DI PPTQ AR-ROUDHOH PUTRI BOTORAN TULUNGAGUNG Fatimatuzzahro', Nurushofa; As’adah, Rifqi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4559

Abstract

This research discusses the verses of the Koran in the practice of dhikr at the Tahfidz al-Qur'an Ar-Roudhoh Putri Botoran Tulungagung Islamic Boarding School. The purpose of this study is to briefly describe the history and procession of the practice of al-Ma'tsurat so that the practitioners know the meaning of amaliah dhikr of the verses of the Koran. The research was conducted using qualitative descriptive methods and social theory of knowledge by Karl Mannheim, namely objective, expressive and documentary. The conclusion resulting from this research is that the amaliah tradition of dzikir al-Ma'tsurat at the Tahfidz al-Qur'an Ar-Roudhoh Putri Botoran Timur Tulungagung Islamic Boarding School is carried out at two times, namely, after the morning prayer and after the maghrib prayer in congregation and led by one one on schedule. The discussion regarding the profile of the Islamic boarding school, the history of the beginning of the practice and what the procession is then the meaning obtained so as to produce research that is in accordance with the formulation of the problem. At the core of the discussion related to meaning there is an objective meaning, it is found that there is a compulsion on new students and a sense of ta'dzim in implementing it on old students. Then in terms of expressive meaning, from some of the interviewees who have been interviewed, in general, they feel calm in their hearts and minds so that they are more focused on worship. While the meaning of the documentary, the practice that is part of the activities of the pondok and continues to this day, is unknowingly included in the routine of the boarding school. Keywords: Dhikr Al-Ma'tsurat, Living Qur'an, Karl Mannheim.   Penelitian kali ini membahas mengenai ayat-ayat Al-Qur’an dalam amaliah dzikir di Pondok Pesantren Tahfidz al-Qur’an Ar-Roudhoh Putri Botoran Tulungagung. Tujuan dari penelitian terhadap fenomena sosial tersebut untuk mendeskripsikan sekilas sejarah dan prosesi pengamalan al-Ma’tsurat sehingga mengetahui makna yang terkandung dalam amaliah dzikir ayat-ayat al-Qur’an bagi para pengamalnya. Metode yang digunakan dalam penelitian seperti berikut; deskriptif kualitatif dan teori sosial pengetahuan oleh Karl Mannheim, yaitu objektif, ekspresif, dan dokumenter. Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini bahwa, tradisi amaliah dzikir al-Ma’tsurat di Pondok Pesantren Tahfidz al-Qur’an Ar-Roudhoh Putri Botoran Timur Tulungagung dilaksanakan setelah melaksanakan shalat subuh dan shalat maghrib secara berjamaah dan dipimpin salah seorang sesuai jadwalnya. Pembahasan mengenai bagaimana profil dari pondok pesantren, sejarah awal mula diadakannnya kegiatan amalan tersebut dan apa saja prosesi kemudian makna yang didapatkan sehingga menghasilkan penelitian yang sesuai dengan rumusan masalah. Pada inti pembahasan terkait makna terdapat makna objektif, ditemukan adanya keterpaksaan pada santri baru dan rasa ta’dzim dalam melaksanakannya pada santri lama. Kemudian pada makna ekspresif, dari beberapa para narasumber yang telah diwawancara pada umumnya merasakan temtramnya hati dan fikiran sehingga lebih fokus dalam ibadah. Sedangkan makna dokumenter, amalan yang dijadikan bagian dari kegiatan pondok dan terus dijalannya hingga saat ini, tanpa disadari termasuk dalam rutinitas pondok. Kata Kunci : Dzikir Al-Ma’tsurat, Living Qur’an, Karl Mannheim.
TINJAUAN FILSAFAT MANUSIA MUHAMMAD TAQI MISHBAH YAZDI ATAS PERMASALAHAN KEMANUSIAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Ammar, Ammar Mahir Hilmi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4671

Abstract

This research will to identify the relationship between human concepts according to Muhammad Taqi Mishbah Yazdi and the discourse on Artificial Intelligence (AI). The problem of this research is to what extent humans are influenced by artificial intelligence technology in making decisions, what impacts can potentially be felt by humans with the increasingly massive use of AI, and whether the application of artificial intelligence is good or bad. This research uses a library study method by collecting various library data related to thoughts about humans according to Mishbah Yazdi and then dialogues with the discourse theme of artificial intelligence, especially related to the humanitarian problems it causes. The results of the research found that there are several similarities and differences between the concept of humans according to Mishbah Yazdi and the discourse on artificial intelligence and its problems related to humanity. The similarities include that humans and AI both have knowledge that makes them intelligent, while what differentiates the two is that everything humans have is natural and obtained directly through a series of efforts. As for AI systems, no matter how great they are, they still depend on the humans who programmed them. Keyword: Artificial Intelligence; Humanism; Human Philosophy   Penelitian ini hendak mengidentifikasi keterkaitan konsep manusia menurut Muhammad Taqi Mishbah Yazdi dengan diskursur Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI). Permasalahan dari penelitian ini yakni sejauh mana posisi manusia dipengaruhi oleh teknologi kecerdasan buatan dalam mengambil keputusan, apa saja dampak yang berpotensi dirasakan oleh manusia dengan semakin massifnya penggunaan AI, serta apakah baik atau buruk penerapan kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan berbagai data pustaka yang terkait dengan pemikiran tentang manusia menurut Mishbah Yazdi lalu mendialogkannya dengan tema diskursus kecerdasan buatan, utamanya terkait dengan permasalahan kemanusiaan yang ditimbulkannya. Hasil dari penelitian menemukan adanya beberapa persamaan maupun perbedaan antara konsep manusia menurut Mishbah Yazdi dengan diskursus kecerdasan buatan dan permasalahannya terkait kemanusiaan. Persamaannya antara lain manusia dan AI sama-sama mempunyai pengetahuan yang membuatnya menjadi cerdas, sedangkan yang membedakan keduanya yakni segala yang dimiliki oleh manusia semuanya bersifat alami dan diperoleh langsung melalui serangkaian usahanya. Adapun pada sistem AI, bagaimanapun hebatnya tetap bergantung pada manusia yang telah memprogramnya. Kata kunci: Kecerdasan Buatan; Kemanusiaan; Filsafat Manusia

Page 11 of 14 | Total Record : 132