cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
KONTRIBUSI ILMUAN MUSLIM TERHADAP KEMAJUAN SAINS DI BARAT Nur, Muhammad Jabal
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3847

Abstract

Abstrak Perkembangan ilmu pengetahuan dan sains tidak terlepas dari pengaruh ilmuan muslim atas sumbangsih pemikiran yang sangata mendalam. Masa kegelapan di barat yang di barengi dengan masa keemasan di timur menjadi sebuah catatan sejarah fenomenal akan sumbangsih pemikiran islam terhadap dunia barat. Masa keemasan timur yang identik dengan kejayaan islam dengan lahirkan penemuan-penemuan di berbagai bidang. Karya-karya sastra yang menjadi rujukan para pelajar barat dan filsafat ilmu menjadi alasan utama tingginya peradaban timur pada saat itu. Pada penelitian ini penulis akan mencoba mengkaji lebih dalam tentang sumbangsih pemikir atau ilmuan muslim terhadap kemajuan Ilmu Pengatahuan dan Sains di Barat dengan menggunakan pendekatan studi literature dan library research serta upaya penggabungan beberapa pandangan yang kaitannya dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Sains di Barat. Kata Kunci : Ilmuan Muslim, Ilmu Pengatahuan dan Sains, Barat   Abstract The development of science and science cannot be separated from the influence of Muslim scientists for the contribution of very deep thoughts. The dark ages in the west which were accompanied by the golden ages in the east became a phenomenal historical record for the contribution of Islamic thought to the western world. The golden age of the east which was synonymous with the glory of Islam by giving birth to discoveries in various fields. Literary works that became a reference for western students and philosophy of science were the main reasons for the high civilization of the East at that time. In this study the author will try to examine more deeply the contribution of Muslim thinkers or scientists to the advancement of knowledge and science in the West by using a literature study and library research approach as well as efforts to combine several views related to the progress of science and science in the West.   Keywords: Muslim Scientists, Knowledge and Science, West
ELEMEN KONSTRUKTIVIS FILSAFAT ETIKA MULLA SHADRA Shadra, Yasser Mulla
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3857

Abstract

Abstrak Beberapa jenis konstruktivisme moral telah banyak dijelaskan para ahlinya. Secara epistemologis, konstruktivisme moral merupakan pengetahuan moral atau justifikasi yang diperoleh melalui penggunaan dan refleksi sudut pandangan praksis atau prosedur untuk menjelaskan sudut pandangan praktis tersebut. Secara semantik, konstruktivisme moral merupakan pandangan bahwa kebenaran moral dan makna diadasarkan pada syarat atau prosedur ini. Ada juga konstruktivisme moral metafisik yang berpendapat bahwa sifat dan wujud fakta dan sifat moral didasarkan pada ciri-ciri praktis dasar atau prosedurnya. Oleh kerana, secara praksis tradisi falsafah morah dipahami secara berbeda sebagaimana falsafah moral Mulla Shadra. Falsafah moral Mulla Shadra merupakan menggabungkan ciri-ciri peripatetik Islam dan tradisi mistik Islam.  Kedua tradisi ini mengandung elemen konstruktivis yang penting. Yang pertama berakar dari Aristotelian dan yang terakhir berakar dari pengembangan para ahli mistik. Kedua merupakan contoh kajian unsur konstruktivis “Tiga Akar” Mulla Sadra.    Kata Kunci: Mulla Shadra, Tiga Akar, Kontruktivisme Moral   Abstract Moral constructivism have been defined by experts. Epistemological moral constructivism is the thesis that moral knowledge or justification is acquired through the use of and reflection on the practical point of view or the procedures designed to elucidate it. Semantic moral constructivism is the view that moral truths and meanings are grounded in these conditions or procedures. Whreas, metaphysical moral constructivism holds that the natures and existences of moral facts and properties are grounded in features of the practical standpoint or the procedures of its manifest. Since the practical point of view is understood differently in different traditions of moral philosophy, one finds Aristotelian, Humean, Kantian, Hegelian, Nietzschean, and other forms of moral constructivism. The moral philosophy of Mulla Sadra is one that combines features of the Islamic-peripatetic and Islamic mystical traditions. Both of these traditions contain important constructivist elements: first with roots in Aristotelian and second what is developed by the mystics. Examples of both are presented and discussed in the course of Three Roots constructivist elements of Mulla Sadra͛s.   Keywords: Mulla Shadra, Three Roots, Moral, Contructivism
TASAWUF SEBAGAI PSIKOTERAPI PENYAKIT HATI Naan, Naan; As-Shidqi, Muhammad Haikal
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3909

Abstract

Abstract Di tengah krisis kehidupan yang sangat mengedepankan materialistis, sekuler serta kehidupan yang sangat sulit. Kemamampuan menyusuaikan diri serta mengontrol emosi dalam menghadapi permasalahan-permasalahan kehidupan tersebut, menjadikan manusia rentan terhadap terjangkitnya penyakit hati, seseorang yang diserang oleh penyakit hati kepribadinnya menjadi terganggu, mereka seringkali tidak merasakan bahwa dirinya itu sedang sakit, sebaliknya ia menganggap bahwa dirinya itu normal dan bahkan lebih baik, dan lebih unggul dari orang lain.  Disini tasawuf sebagai ilmu yang identik mengenai hati memberikan peranannya sebagai terapi dalam memberikan ketahanan terhadap krisis spiritualitas yang mengakibatkan mereka tidak tahu lagi siapa yang dia maksud dan tujuan hidup di muka bumi. Kurangnya kejelasan tentang makna dan tujuan hidup, akhirnya mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui berbagai jenis penyakit hati yang dapat diselesaikan dengan psikoterapi mistik, tasawuf sebagai gambaran peran psikoterapi dalam mengatasi penyakit hati, dan untuk menggambarkan implementasi tasawuf sebagai psikoterapi dalam mengatasi penyakit hati. Penelitian ini termasuk dalam studi literatur dan kualitatif karena datanya disajikan dalam bentuk pernyataan-pernyataan. Untuk menjawab masalah psikologisnya, tasawuf mengajarkan tentang hidup bahagia dengan menerapkan ajaran-ajarannya, yaitu maqamatul ahwal. Hidup bahagia harus hidup dalam keadaan sehat baik secara fisik maupun mental dan Hidup bahagia dengan penyakit hati tidak akan pernah didapat. Hal itu akrena kebahagiaan hidup akan tercipta jika seseorang mampu membuang seluruh penyakit hati yang ada dalam hati, dan yang pada akhirnya akan menjadikan seseorang tersebut hidup dalam keadaan bahagia. Kata Kunci: Tasawuf, Psikoterapi, Hati.   Abstract In the midst of a life crisis that puts forward materialistic, secular and very difficult life, the ability to adapt and control emotions in dealing with life's problems, makes humans vulnerable to mental disorder. Someone attacked by this problem becomes disturbed, often do not feel that they are sick, and on the contrary, they think that they are normal and even better, and superior to others. Sufism as a heart management knowledge plays a therapeutic role in providing resistance to spiritual crises that result in unmeaningful of life. The purpose of this study was to determine the types of liver disease that can be resolved with mystical psychotherapy, Sufism as a description of the role of psychotherapy in overcoming mental or phycological diseases, and to describe the implementation of Sufism as psychotherapy in overcoming them. This research is library study and qualitative reaearch, the data is presented in the form of statements. To answer psychological problems, Sufism teaches about how life happily. To live happily, people must live in a healthy state both physically and mentally, and to get rid of all mental diseases, which in turn will make them live in a happy state. Keyword: Sufism; Psychotehrapy; ,Heart 
TRADISI PEMBACAAN SURAT AL-SAJDAH DENGAN SUJUD TILAWAH DALAM SALAT SUBUH DI HARI JUMAT DI MASJID GEDHE KAUMAN YOGYAKARTA: (KAJIAN LIVING HADIS) Ulil Albab, Ahmad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.3912

Abstract

Abstrak Resepsi terhadap teks al-Qur'an dan Hadis di masyarakat mengalami perkembangan mengikuti locus dan tempus yang menyertainya. Tradisi pembacaan surat al-Sajdah dengan sujud tilawah dalam salat subuh di hari Jumat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang terilhami dari hadis Nabi tidak sepenuhnya sama dengan tradisi yang tertulis pada teks dan tradisi yang sekarang dijalankan di Jazirah Arab. Melainkan mengalami penyesuaian dengan sosio-historis yang ada di masyarakat. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori resepsi yang memiliki titik fokus dalam bentuk resepsi fungsional untuk mengetahui penyambutan agen dan objek penerima tradisi dalam memaknai tradisi tersebut. Kata kunci: Sujud Tilawah, al-Sajdah, Masjid Gedhe, Living Hadis.   Abstract Reception of the texts of the Qur'an and Hadith in society has developed following the locus and tempus that accompany it. The tradition of reciting sura al-Sajdah with prostration of recitations in Friday morning prayers at the Gedhe Kauman Mosque in Yogyakarta, which was inspired by the hadith of the Prophet, is not completely the same as the traditions written in the texts and traditions that are now carried out in the Arabian Peninsula. Instead, they experience adjustments to the socio-historical existing in society. In this study, the researcher uses reception theory which has a focal point in the form of functional reception to find out the reception of agents and objects who receive tradition in interpreting this tradition. Keywords: Sujud recitations, al-Sajdah, Gedhe Mosque, Living Hadith.
TANGGUNGJAWAB MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP : (KAJIAN LIVING TEOLOGI) Tapingku, Joni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.4015

Abstract

Abstrak Penelitian ini, sebagai kajian living teologi, bermaksud untuk menganalisis tanggung jawab warga Gereja Toraja Eben Haezar Omu terhadap lingkungan hidup sebagai implikasi ajaran dalam Kitab Kejadian 1: 26-28. Di dalam ayat-ayat tersebut digambarkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah dan diberi kuasa untuk berkuasa atas dan memelihara seluruh bumi. Artikel ini menjawab masalah penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan menganalisis data-data lapangan. Hasil penelitian menunjukkan living teologi yang sejalan bahwa warga Gereja Toraja Eben haezar Omu setuju bahwa kesegambaran dan keserupaan manusia dengan Allah menjadikan manusia mahkota ciptaan-Nya, wakil Allah di bumi, dan memiliki hubungan dengan ciptaan lainnya. Mereka percaya bahwa tugas manusia di bumi untuk menaklukkan alam, tetapi bukan dalam arti kesewenang-wenangan. Sehingga, mereka juga percaya bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk memelihara lingkungan hidup dengan gambar dan rupa Allah seperti memelihara, merawat, menjaga dan reboisasi lingkungan hidup. Kata Kunci: Living Teologi, Tanggung Jawab Lingkungan, Kitab Kejadian   Abstact This research, as a study of living theology, intends to analyze the environment responsibility of Toraja Eben Haezar Omu Church members as an implication of the teachings in the Book of Genesis 1: 26-28. In these verses it is described that humans were created in the image and picture of God and were given the power to rule over and care for the entire earth. This article answers this research problem by using a descriptive-qualitative approach by analyzing field data. The results of the study show a living theology which is in line with the fact that Toraja Eben haezar Omu Church residents agree that the image and picture of humans to God makes humans the crown of His creation, God's representatives on earth, and have a relationship with other creations such as environment or earth. They believed that it was man's duty on earth to subdue nature, but not in the sense of arbitrariness. Thus, they also believe that humans have a responsibility to care for the environment in the image and picture of God such as maintaining, caring for, protecting and reforesting the environment. Keywords: Living Theology, Environmental Responsibility, Genesis
RESEPSI ESTETIS DAN FUNGSIONAL ATAS ADEGAN RUQYAH DALAM FILM ROH FASIK : (KAJIAN LIVING QUR’AN) Nurmansyah, Ihsan; Abdul Jabbar, Luqman; Sulaiman
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.4021

Abstract

Abstrak   Tulisan ini membahas tentang fenomena living qur'an atas adegan ruqyah dalam film Roh Fasik yang diproduksi oleh RA Pictures pada tahun 2019. Adegan ruqyah dalam film Roh Fasik memiliki keunikan tersendiri dibanding film-film yang lain, yakni dimana seorang ustadz melantunkan ayat suci al-Qur’an dengan irama yang sangat merdu. Untuk mengetahui apa dasar penggunaan ayat ayat al-Qur’an dilantunkan dan mengapa ayat tersebut digunakan, peneliti menggunakan teori resepsi estetis dan fungsional yang diperkenalkan oleh Ahmad Rafiq. Hasil penelitian ini adalah: 1) Resepsi estetis terlihat pada saat proses ruqyah, ustadz Hasan dan Kemal melantunkan ayat suci al-Qur'an dengan irama Bayyati pada Surah al-Baqarah/2: 148, irama Nahawand pada Surah al-Baqarah/2: 255, irama Bayyati Kurdi pada Surah al-A'raf/7: 117-122, irama Rost pada Surah al-Ikhlas dan al-Falaq. Tujuannya sebagai media yang efektif bagi pasien untuk cepat bereaksi. 2) Resepsi fungsional pada aspek informatif berisi tentang keagungan Allah dan potensi manusia yang dapat menghadapi jin. Sedangkan resepsi fungsional pada aspek performatif, yaitu jin yang ada di dalam tubuh manusia tidak dapat bersembunyi dan melakukan tipu daya, serta jin tersebut dapat dikeluarkan dari tubuh manusia.   Kata kunci: Film Roh Fasik; Living Qur’an; Ruqyah; Resepsi   Abstract   This paper discusses the living qur'an phenomenon of the ruqyah scene in the film Roh Fasik produced by RA Pictures in 2019. The ruqyah scene in the film Roh Fasik has its own uniqueness compared to other films, namely where an ustadz recites the holy verse al- Qur'an with a very melodious rhythm. To find out what is the basis for using the verses of the Qur'an and why they are used, the researcher uses the aesthetic and functional reception theory introduced by Ahmad Rafiq. The results of this study are: 1) Aesthetic reception is seen during the ruqyah process, ustadz Hasan and Kemal recite the holy verses of the Qur'an with the Bayyati rhythm in Surah al-Baqarah/2: 148, the Nahawand rhythm in Surah al-Baqarah/2: 255, Bayyati Kurdish rhythm in Surah al-A'raf/7: 117-122, Rost rhythm in Surah al-Ikhlas and al-Falaq. The goal is as an effective medium for patients to react quickly; 2) Functional reception on the informative aspect contains the majesty of Allah and the potential of humans who can face the jinn. While the functional reception is in the performative aspect, namely the jinn in the human body cannot hide and commit deceit, and the jinn can be removed from the human body.   Keyword: Film Roh Fasik; Living Qur’an; Ruqyah; Reception 
ISLAMIC PHILOSOPHY PERSPECTIVE ON BIRR AL-WALIDAIN Wijaya, Mirza Mahbub; Mahmutarom; Ekaningrum, Ifada Retno; Nurcholish, Nanang
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.4051

Abstract

Along with the times, not a few people are getting away from the values of the Qur’an. This includes the causes of moral decline. This study aims to determine the philosophical concept of birr al-walidain in Surah al-Ahqof verse 15. This study is qualitative research with the type of library research. The data collection technique used is technical documentation. The data analysis used was the tahlili interpretation method. The results of this study obtained, ontologically, the concept of birr al-walidain is an intermediary for devotion to Allah. In the epistemological dimension, the role model of parents is the main source in birr al-walidain. Whereas in the axiological dimension, the concept of birr al-walidain is included in the transcendental virtue which is obtained through character strength (psychological composition, both process, and mechanism) with spirituality (religion, faith, and purpose)
ANALISIS FENOMENOLOGIS ATAS TRADISI MALAPEH KAWUA PADI DI AIA MANGGIH: KAJIAN LIVING HADIS Adi Pradana, Mahatva Yoga; Abror, Indal; Meri Oktarini
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v5i2.4053

Abstract

Abstrak Kajian living hadis tradisi Malapeh Kawua Padi di Kenagarian Aia Manggih berlandaskan metode kualitatif berdasar teori gagasan Alfred Schutz dalam konsep in order to motif (tujuan) serta becauce of motiv (sebab) sebagai obor Fenomenologi tradisi malapeh kawua padi masyarakat Aia manggih pada masa bercocok tanam dimulai. Praktek tradisi malapeh kawua padi berangkat dari adanya nilai sunnah yang hidup dan menyatu dalam ruang tradisi. Hadis nabi terkait niat/nazar rujukan teologis riwayat Imam Ad-Daruqutni nomor 4273 menjadi landasan utama hadirnya tradisi Malapeh Kawua padi di tengah peradaban masyarakat Aia manggih. Tradisi Malapeh Kawua padi menawarkan nilai-nilai kehidupan dan agama yang terus dilestarikan masyarakat hingga era Dewasa ini bersamaan dengan peran setiap elemen masyarakat. Pengaplikasian tradisi malapeh kawua padi menempatkan motiv tersendiri sebagai kursus pelestarian tradisi luhur, penyelarasan visi yang sama, pengaruh kondisi wilayah, serta membudayakan tradisi keagamaan sekaligus momentum dalam mendekatkan diri kepada Allah swt.   Kata Kunci: Living Hadis, Tradisi, Malapeh Kawua Padi, fenomenologi, Kenagarian Aia manggih   Abstract The study of the living hadith of the Malapeh Kawua Padi tradition in Kenagarian Aia Manggih is based on a qualitative method based on Alfred Schutz's theory in the concept of in order to motif and the cause of motivation as a torch. The practice of the Malapeh Kawua Padi tradition departs from the existence of sunnah values that live and are integrated in the tradition space. The prophet's hadith related to the theological reference intention/voice of Imam Ad-Daruqutni's history number 4273 became the main basis for the presence of the Malapeh Kawua padi tradition in the midst of the civilization of the Aia Manggih people. The Malapeh Kawua Padi tradition offers life and religious values that the community continues to preserve until today's era along with the role of every element of society. The application of the Malapeh Kawua Padi tradition places its own motivation as a course in preserving noble traditions, aligning the same vision, influencing regional conditions, as well as civilizing religious traditions as well as momentum in getting closer to Allah swt.   Keywords: living hadith, tradition, Malapeh Kawua Padi, phenomenologi, Kenagarian Aia Manggih
POLA KONFLIK SOSIAL ALIRAN KEAGAMAAN (STUDI KASUS ALIRAN WAHIDIYAH DI GOLOKAN SIDAYU GRESIK) Jamaluddin, Muhammad; Habibah, Khildah Ziyadatul; Huda, Sholihul
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i1.4338

Abstract

Abstrak: Pola konflik keagamaan memiliki jenis yang meliputi isu penyebab konflik, pelaku, dan dampak dari konflik. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk menemukan jawaban dari rumusan masalah yang diajukan,yaitu: 1). Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi konflik keagamaan antara tarekat wahidiyah dengan masyarakat Desa Golokan. 2). Untuk memahami terkait pola konflik keagamaan antara tarekat wahidiyah dengan masyarakat Desa Golokan. 3). Untuk memahami implikasi konflik keagamaan terkait tarekat wahidiyah dengan masyarakat Desa Golokan. Munculnya konflik agama di bantu dengan adanya pendekatan sosiologis. Teori yang digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola konflik agama dan sosial adalah teori Louis Coser dan teori konflik etnis dari Jaques Jacques Bertrand. Masyarakat Desa Golokan memiliki kapasitas untuk merespon isu-isu penyebab konflik keagamaan dalam bentuk aksi-aksi damai.  Dengan adanya aksi tersebut mendorong masyarakat untuk mencegah timbulnya konflik yang sangat besar. Isu-isu yang mendorong terjadinya konflik diberbagai daerah bervariasi sehingga langkah-langkah penangananya juga perlu didesain sesuai dengan variasi isu konflik keagamaan masing-masing daerah tersebut. Masyarakat  Desa Golokan mempunyai beragam kepercayaan tarekat, di antaranya tarekat wahidiyah. Tarekat merupakan jalan. Tarekat yaitu suatu jalan menuju tingkatan untuk mencapai makrifat Allah (Mengenal Allah). Tarekat wahidiyah mempunyai  kegiatan yang sering dilakukan sehari-hari seperti memperbanyak membaca selawat-selawat seperti selawat badawiyah, selawat nariyah, selawat munjiyat, selawat masisiyah, dan sebagainya yang mana Jemaah pada masyarakat Desa Golokan melakukannya pada malam hari selepas salat isya hingga tengah malam. Adanya konflik muncul di sebabkan dari aktivitas yang dilakukan masyarakat golokan, aktivitas tersebut mengganggu ketenangan masyarakat Desa Golokan yang berada di sekitar tempat tersebut Kata Kunci: Konflik, Sosial, Agama, dan Tarekat Wahidiyah Abstract: The pattern of religious conflict has several types which include the issues of the causes of the conflict, the actors, and the impact of the conflict. This study uses a sociological approach to determine the social impact of the emergence of religious conflicts. The theory used to identify patterns of religious and social conflict is the theory of Louis Coser and the theory of ethnic conflict from Jacques Bertrand. The people of Golokan Village, has the capacity to respond to issues that cause religious conflicts in the form of peaceful actions. People to make peaceful action as the main option in order to prevent a bigger conflict from happening. The issues that lead to conflict in various regions vary widely so that the steps to deal with it also need to be designed according to the variety of religious conflict issues in each region. The residents of Golokan Village, have a community with various tarekat, including the tarekat wahidiyah. Tarekat is linguistically a way. In terms, tarekat is a way to get to the level to reach the makrifat of Allah (Knowing Allah). Tarekat Wahidiyah has the usual activity of doing activities to multiply reading salawat such as badawiyah salawat, nariyah salawat, munjiyat salawat, masisiyah salawat, and so on which the congregation in the Golokan village community of does at night after the evening prayer until midnight. The activities carried out by the tarekat wahidiyah in Golokan Village received a poor response. The problems that arise are due to the activities of the tarekat wahidiyah carrying out their teaching activities so that it disturbs the peace of the people of Golokan who are around the place. Keywords: Conflict, Social, Religion, and the Tarekat Wahidiyah
IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA PERSPEKTIF LIVING THEOLOGY PADA MASYARAKAT PERUMAHAN TAMAN PURI BANJARAN (TPB) NGALIYAN KOTA SEMARANG Safii; Achmad Ma’arif Saefuddin; Winarto; Thiyas Tono Taufiq
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v6i1.4376

Abstract

Living Theology dalam konteks penelitian ini adalah teologi yang hidup di masyarakat. Salah satu problem teologi sekarang adalah banyaknya paham yang mengarah pada intoleransi dan radikalisme. Melihat kekhawatiran tersebut, penelitian ini mengkaji tentang moderasi beragama yang dianggap penting untuk dihadirkan dalam mengimbangi wacana tersebut. Moderasi beragama merupakan bagian dari konsep wasatiyyah mempunyai peranan penting dalam menyatukan masyarakat yang plural dan multikultural di masyarakat. Penelitian ini mengangkat masyarakat transisi di Perumahan Taman Puri Banjaran (Perumahan TPB) Bringin, Ngaliyan, Kota Semarang. Masyarakat transisi memiliki berbagai macam perbedaan, yang rawan terpengaruh paham intoleran, radikalisme maupun ekstremisme. Penelitian ini merupakan jenis penelitian lapangan yang menggunakan metode analisis desktiptif, dengan pendekatan sosiologis dan fenomenologis. Hasil penelitian ini adalah telaah terhadap kegiatan keagamaan masyarakat Perumahan TPB meskipun tergolong perumahan baru yang terletak di perkotaan, namun sudah memiliki pandangan moderat meskipun belum bisa dikatakan sumpurna. Adapun implementasi paham keagamaan yang menunjukkan bahwa masyarakat Perumahan TPB memiliki beberapa pandangan, yakni: (1) memiliki modal sosial kultural, (2) memiliki tokoh-tokoh yang moderat, (3) memiliki pandangan yang terbuka (inklusif) dan (4) memiliki pemahaman pluralisme yang baik.

Page 9 of 14 | Total Record : 132