cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
STUDI LIVING QUR’AN DALAM ANIMASI UPIN DAN IPIN: REPRESENTASI NASIHAT LUQMAN AL-HAKIM DEPISODE INDAHNYA RUMAH RASA SAYANG Yahya, Yuangga Kurnia; Mahmudah, Umi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4691

Abstract

This research focuses on the representation of Luqman Hakim's advice in the animation Upin and Ipin episode "Indahnya Rumah Rasa Sayang" using Living Qur'an perspective. This research is a qualitative descriptive research based on literature sources. The data used in this study came from observation and documentation. The purpose of this study, firstly, is to analyze the verbal messages in the series and Luqman's advice to his son in Surah Luqman 12-19. Secondly, this study aimed to discuss the application of the living Qur'an in popular culture, especially films. The results of the study found seven pieces of advice on abstaining from surah Luqman verse 12-19 that appear in this episode. Those advices are 1) a commandment to always be grateful 2) orders always do good to parents 3) explain all human actions, good and bad 4) commanding prayers and commanding to do ma'ruf (good), prevent the evil, and be patient in dealing with various things happened 5) giving a smile and a cheerful face and not looking away from other people because of pride 6) equalize in behaving and speaking; 7) maintain good manners in interacting with others. Keyword: Surah Luqman; Upin and Ipin serial; Animation for Children; Living Qur’an   Penelitian ini bertujuan membahas tentang representasi nasihat Luqman Hakim dalam animasi Upin dan Ipin episode “Indahnya Rumah Rasa Sayang”: Perspektif Living Qur’an. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang berbasis dari sumber-sumber pustaka. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari observasi dan dokumentasi dari tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu, pertama menganalisis pesan-pesan verbal di serial tersebut dan nasihat Lukman kepada anaknya dalam Surah Luqman 12-19. Kedua, mendiskusikan aplikasi living qur’an dalam budaya populer, khususnya film.  Hasil penelitian menjelaskan terdapat tujuh nasihat penting yang terdapat surat Lukman ayat 12-19 yang diimplementasikan dalam tayangan ini, yaitu 1) perintah untuk selalu bersyukur; 2) perintah selalu berbuat baik kepada orang tua; 3) menjelaskan seluruh perbuatan manusia, baik dan buruknya; 4) perintah shalat, mengerjakan yang ma’ruf, mencegah kemunkaran, serta sabar terhadap berbagai hal yang menimpa; 5) memberikan senyuman dan wajah yang ceria serta tidak memalingkan wajah dari orang lain karena sombong; 6) sederhana dalam bertingkah laku dan berbicara; 7) menjaga budi bahasa dalam berinteraksi dengan orang lain. Kata kunci: Surah Luqman; Upin dan Ipin; Animasi Anak; Living Qur’an
KRITIK IBRAHIM M. ABU RABI’ ATAS PERSEPSI ISLAMOFOBIA BARAT Almas, Afiq Fikri
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4767

Abstract

Islamophobia symptoms significantly emerged among Westerners after the attack on the World Trade Center in the United States on September 11, 2001. Furthermore, the gap between the ideals of Islam as a religion of peace and the Western perception of Islam as a violent religion has become an issue that needs addressing. This research employs a qualitative method based on literature sources, focusing on the thoughts of Ibrahim M. Abu Rabi’, who proposes an approach in religious studies to correct Islamophobia. The research is conducted through literature sources, documents, archives, and similar materials. Ibrahim M. Abu Rabi’ emphasizes the importance of studying Islam through historical and sociological religious approaches. Through the "historical" approach, the study and empirical-historical-critical religious approach are expected to reduce the levels and intensity of violence and tension among religious believers, although not claiming to eliminate them entirely. Ibrahim M. Abu Rabi’ also recommends the necessity of dialogue between Islam and the West. This dialogue, indirectly, will revive the tradition of intellectualism that is free, dialogic, innovative, creative, and egalitarian between these two compass points. Keyword: Ibrahim M. Abu Rabi’, Historical Approach, Religious Sociology   Gejala Islamophobia banyak muncul dari orang-orang barat setelah terjadinya serangan terhadap WTC di Amerika Serikat pada 11 September 2001. Selain itu kesenjangan antara cita-cita Islam sebagai agama perdamaian dengan konteks kehidupan Islam yang dipandang oleh barat sebagai agama kekerasan sudah menjadi isu yang muncul dan harus diselesaikan. Penelitian ini dengan metode kualitatif yang berdasarkan sumber kepustakaan terhadap pemikiran Ibrahim M. Abu Rabi’ yang menawarkan pendekatan dalam kajian keagamaan untuk meluruskan Islamofobia. Penelitian dilakukan melalui sumber pustaka, dokumen, arsip, dan lain sejenisnya. Ibrahim M. Abu Rabi’ menekankan pentingnya kajian Islam melalui pendekatan historis dan sosiologi keagamaan. Melalui pendekatan “historis”,studi dan pendekatan agama yang bersifat empiris-historis-kritis diharapkan mampu mengurangi kadar dan intensitas kekerasan dan ketegangan antara sesama pemeluk agama, tentu tidak juga berpretensi untuk menghilangkan sama sekali. Ibrahim M. Abu Rabi’ juga merekomendasi pentingnya dialog antara Islam dan Barat. Dialog ini secara tidak langsung akan menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas, dialogis, inovatif, kreatif sekaligus egaliter antara kedua arah mata angin ini. Kata kunci: Ibrahim M. Abu Rabi’, Pendekatan Historis, Sosiologi Keagamaan
LINGUISTIC INTERPRETATION OF THE DIFFERENCE OF THE HARAKAT OF LETTERS IN THE RECITATION OF AL-QIRA'AT AL-'ASYR Amin Kahila, Muhammad ad-Dasuki; Nasir, Husain; Sabry, Muhammad Sadik; Malik, Firdaus; Has, Muhammad Hadsin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4804

Abstract

In the science of Qiraat, the problem of vowel reading on letters and words in the Qur'an is still much that has not been revealed, both from the aspect of classical and modern scholarly opinions. This study aims to describe and introduce several rules about the process of occurrence of vowel a/i/u in certain words and verses, which are caused by the presence of letters, hamzah, sukun, and ishmam, including exploring new ways of analyzing the phonology of modern Arabic vowels based on standard generative theory. This research is literature research. Primary data sources were obtained by al-Našr fi al-Qirā'at al-Islāmiyyah, and several verses of the Qur'an for comparison. Secondary data sources are literature, both in the form of books, journals, and research results related to phonology. Data collection is carried out by documentation techniques, listening, and recording. Data analysis techniques use open coding, then analyzed descriptively using grounded theory. This study informs about the rule that the variety of vowel punctuation on some verbs in the Qur'an will change according to the readings attributed to the ten Qira'at. The Vowel sign emphasizes the reading of dammah/kasrah). The emphasis mark on nouns requires the insertion of dammah while on verbs and insertion of kasrah. The round distinguishing mark (sifr) is important in turning kasrah into dammah. Both Kasrah and dammah have the property of 'Al, but some of them are distinguished by round marks on dammah and square marks on kasrah. The Vowel sign for classical scholars indicates that the kasrah from the letter "waw" in the verb "qul" moved to the letter "qaf" after hadzf dammah, then "waw" changed to "ya" to correspond to the kasrah in front of it. Modern linguists believe that the dammah of the letter "qaf" can be changed to Kasrah and then "waw" removed, so that the existence of the two kasrahs is merged and becomes a long shaddah. The differences and changes in vowels in phonetics cannot be separated from the debate that exists between classical and modern scholars. This indicates that the problem of qira'at is closely related to diacritical marks that are icons of producing sounds with various characters. This research has implications that having to study Qur'anic verses from a Vowel aspect will require us to see how scholars used to read so that the sounds produced are not only one variant but have a variety of very detailed and interesting reasons to be studied based on modern linguistic theory. Keywords: Vowel; linguistic interpretation; recitation, Qira’at Ten   Dalam ilmu Qiraat, persoalan bacaan vokal pada huruf dan kata-kata dalam al-Qur’an masih banyak yang belum diungkap, baik dari aspek pendapat ulama klasik maupun modern. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan  dan mengenalkan  beberapa kaidah tentang proses terjadinya vokal a/i/u pada kata dan ayat tertentu, yang disebakan oleh adanya huruf, hamzah,  sukun dan isymam, termasuk  mengeksplorasi cara-cara baru dalam menganalisis fonologi vokal bahasa Arab modern berdasarkan teori generatif standar. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Sumber data primer diperoleh al-Našr fi al-Qirā'at al-Islāmiyyah, dan beberapa ayat al-Qur’an sebagai bandingannya. Sumber data sekunder adalah literatur, baik berupa buku-buku, jurnal dan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan fonologi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, simak dan catat. Teknik analisis data menggunakan  pengkodean terbuka, lalu dianalisis secara deskriptif menggunakan grounded theory. Penelitian ini menginformasikan tentang kaidah bahwa ragam tanda baca vowel pada beberapa kata kerja dalam al-Qur’an akan berubah sesuai dengan bacaan yang dinisbatkan kepada sepuluh Qira’at. Tanda Vowel menekankan pada bacaan dammah/kasrah). Tanda penekanan pada kata benda mengharuskan penyisipan dammah sedangkan pada kata kerja dan penyisipan kasrah. Tanda pembeda bulat (sifr)penting dalam mengubah kasrah menjadi dammah. Baik Kasrah maupun dammah sama-sama memiliki sifat ‘Al, namun beberapa di antaranya dibedakan dengan tanda bulat pada dammah dan tanda persegi  pada kasrah. Tanda Vowel bagi ulama klasik  mengiformasikan bahwa kasrah dari huruf “waw” pada kata kerja “qul” berpindah ke huruf “qaf” setelah terjadi hadzf dammah, kemudian “waw” berubah menjadi “ya” agar sesuai dengan kasrah di depannya. Sedangkan bagi para linguis modern meyakini bahwa dammah dari huruf “qaf” dapat berubah menjadi Kasrah dan kemudian “waw” dihapus, sehingga keberadaan kedua kasrah tersebut digabung dan menjadi shaddah yang panjang. Perbedaan dan perubahan Vowel dalam ilmu fonetik tidak lepas dari perdebatan yang pajang antara ulama klasik dan modern. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah qira’at sangat berkaitan dengan tanda diakritik yang menjadi icon penghasil bunyi dengan aksara yang  beragam. Penelitian ini berimplikasi pada  keharusan  mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dari aspek Vowel akan mengharuskan kita untuk melihat kmbali seperti apa para ulama dulu membaca, sehingga bunyi-bunyi yang dihasilkan tidak hanya satu varian, namun memiliki ragam alasan yang sangat detail dan menarik untuk dipelajari berdasarkan teori linguistik modern. Kata kunci: Linguistik interpretasi:  Suara, Vokal, Qiraat 10 mutawatir
MENEGUHKAN IDENTITAS SOSIAL KEAGAMAAN: ANALISIS DAKWAH ATAS GERAKAN ISLAM LIBERAL Irawan, Deni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4808

Abstract

The main aim of this research is to understand the phenomenon of the liberal Islamic movement and the role of da'wah in this movement. This research aims to analyze the understanding of liberal Islamic movements, their goals, and the da'wah strategies used to spread liberal thoughts in Islam. The research design used is a qualitative approach. This research involved collecting data through in-depth interviews with members of the liberal Islamic movement, analysis of documents related to the movement, and observations of the movement's activities and events. The data obtained was then analyzed descriptively and interpretively to understand the dynamics of the movement, the thinking of the actors, and their implications in social and religious contexts. The main result of this research is a deeper understanding of the liberal Islamic movement and the role of da'wah in the movement. This research reveals that the liberal Islamic movement aims to reform the understanding of Islam to make it more inclusive, tolerant and relevant to current developments. This movement uses various da'wah strategies, such as the use of social media, open religious teaching, and interfaith dialogue, to spread liberal thinking in Islam. The results of this research also show that the liberal Islamic movement faces challenges and controversy in society. Some parties consider this movement to be a deviation from actual religious teachings, while others see it as an attempt to reform the understanding of Islam to make it relevant to modern times. This controversy created fierce debate among Muslims and the wider community. The conclusion of this research is that the liberal Islamic movement is a complex and controversial phenomenon. Da'wah plays an important role in spreading liberal thoughts in Islam. This movement offers a more open and inclusive interpretation of religion, emphasizing the principles of freedom of thought, tolerance and a contextual understanding of Islamic teachings. Although controversial, this movement reflects an attempt to reform the understanding of Islam to make it relevant to modern times. Keywords: Religious Identity, Da'wah, Islam, Liberal   Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memahami fenomena gerakan Islam liberal dan peran dakwah dalam gerakan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman gerakan Islam liberal, tujuan mereka, serta strategi dakwah yang digunakan untuk menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Desain penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan anggota gerakan Islam liberal, analisis dokumen yang terkait dengan gerakan tersebut, dan observasi terhadap kegiatan dan acara gerakan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif dan interpretatif untuk memahami dinamika gerakan, pemikiran para aktor, dan implikasinya dalam konteks sosial dan agama. Hasil utama dari penelitian ini adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang gerakan Islam liberal dan peran dakwah dalam gerakan tersebut. Penelitian ini mengungkapkan bahwa gerakan Islam liberal memiliki tujuan untuk mereformasi pemahaman Islam agar lebih inklusif, toleran, dan relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan ini menggunakan berbagai strategi dakwah, seperti penggunaan media sosial, pengajaran agama yang terbuka, dan dialog antaragama, untuk menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa gerakan Islam liberal menghadapi tantangan dan kontroversi dalam masyarakat. Beberapa pihak menganggap gerakan ini sebagai bentuk penyimpangan dari ajaran agama yang sebenarnya, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya untuk mereformasi pemahaman Islam agar relevan dengan zaman modern. Kontroversi ini menciptakan perdebatan yang sengit di kalangan umat Islam dan masyarakat luas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gerakan Islam liberal merupakan fenomena yang kompleks dan kontroversial. Dakwah memainkan peran penting dalam menyebarkan pemikiran liberal dalam Islam. Gerakan ini menawarkan interpretasi agama yang lebih terbuka dan inklusif, dengan menekankan pada prinsip-prinsip kebebasan berpikir, toleransi, dan pemahaman yang kontekstual terhadap ajaran Islam. Meskipun kontroversial, gerakan ini mencerminkan upaya untuk mereformasi pemahaman Islam agar relevan dengan zaman modern. Kata Kunci: Identias keagamaan, Dakwah, Islam Liberal
MODERASI BERAGAMA DAN PERAN GURU DALAM PENANAMANNYA DI SEKOLAH Darma Yanti, Annisa; Masduki; Syafiuddin, Fauzan Azima; Siregar, Syahruddin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.4881

Abstract

Indonesia is a country with all the diversity that exists. Ethnic, cultural and religious diversity are some of the forms of diversity that exist in Indonesia. Prolonged conflicts in the name of religion often occur in various regions in Indonesia. Mosques are burned, churches are attacked, religious leaders are subjected to cruelty by irresponsible hands, suicide bombings in the name of religion, radicalism and discrimination in the name of sara issues often occur and become national news. For this reason, an attitude or perspective is needed to be a resolution to the conflict. Religious moderation is a moderate perspective, attitude and behavior in religion, namely understanding and practicing religious teachings without extremes. Neither extreme right nor extreme left. Basically, normative Islam itself has a wasathiyah character, moderation. Religious moderation education in strengthening national insight is important especially in recent years the diversity on earth Indonesia is being tested by the existence of extreme religious attitudes expressed by a group of people in the name of religion. This happens in actions in the real world and statements in cyberspace. This exclusive and intolerant group is dangerous for the religious climate in Indonesia. This research is a type of library research. What is called library research or often also called library studies, is a series of activities using library data collection methods, reading and recording and processing research materials. The world of education is the foundation of hope for strengthening the values of religious moderation. The high participation of the Indonesian people in establishing and organizing religion-based educational institutions needs to be directed to strengthen this idea. Religious moderation education needs to be developed along with the character building of students. Religious moderation education is expected to answer the target of the mental revolution of students to continue to develop the values of peace and tolerance.  Keywords : Religious Moderation, Teacher Role, School   Indonesia merupakan negara dengan segala keragaman yang ada. Keragaman suku bangsa, budaya dan agama merupakan beberapa bentuk keberagaman yang ada di Indonesia. Konflik berkepanjangan atas nama agama sering kali terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Masjid dibakar, Geraja diserang, tokoh agama menjadi sasaran kekejaman tangan-tangan tidak bertanggung jawab, bom bunuh diri mengatasnamakan agama, radikalisme dan diskriminasi atas nama isu sara seringkali terjadi dan menjadi pemberitaan nasional. Untuk itu dibutuhkan suatu sikap atau cara pandang untuk dapat menjadi resolusi dari konflik tersebut. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap dan perilaku dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem. Baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Pada dasarnya normatif Islam itu sendiri mempunyai watak wasathiyah, moderasi. Pendidikan moderasi beragama dalam penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting apalagi dalam beberapa tahun terakhir keragaman di bumi Indonesia sedang diuji dengan adanya sikap keberagamaan yang ekstrem yang diekspresikan oleh sekelompok orang yang mengatas namakan agama. Hal ini terjadi dalam aksi-aksi di dunia nyata maupun statement di dunia maya. Kelompok ekslusif dan intoleran ini membahayakan bagi iklim keberagamaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian dengan jenis riset kepustakaan. Apa yang disebut dengan riset kepustakaan atau sering juga disebut studi pustaka, merupakan serangkaian kegiatan yang dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Dunia pendidikan menjadi tumpuan harapan untuk penguatan kembali nilai-nilai moderasi beragama. Partisipasi masyarakat Indonesia yang tinggi dalam mendirikan dan menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis agama, perlu diarahkan untuk menguatkan gagasan ini. Pendidikan moderasi beragama perlu dikembangkan beriringan dengan pembangunan karakter peserta didik. Pendidikan moderasi beragama diharapkan menjawab sasaran revolusi mental para peserta didik untuk terus mengembangkan nilai-nilai kedamaian dan toleransi. Kata kunci : Moderasi Beragama, Peran Guru, Sekolah
LOGIKA EMPIRISME IBNU TAIMIYYAH DAN RELEVANSINYA TERHADAP STABILITAS EPISTEMOLOGI ISLAM Muhammad Aviv Nafiudin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5165

Abstract

Islamic civilization in its golden age is a civilization built by the Islamic intellectual tradition with all its developments in intuitive, textual, rational, and empirical areas. However, while Islamic knowledge in the intuitive, textual, and rational areas can be witnessed today, it is not the case with knowledge concerning the empirical area which seems to sink from the paradigm of Islamic thought. Therefore, this research aims to explore the logical structure of Ibn Taymiyyah's empiricism and see its relevance to the stability of Islamic epistemology. To answer these questions, this study uses a qualitative method with the type of library research that refers to two works of Ibn Taymiyyah "Naqdh al-Manthiq" and "al-Radd 'ala al-Manthiqiyyin", while the theory used is the framework of empiricism epistemology. This study found that Ibn Taymiyyah's criticism of Aristotelian formal logic (deductive-syllogistic) which is deeply rooted in the Islamic intellectual tradition is the thing that led to the formulation of the empiricism logic. While Ibn Taymiyyah deconstructed the deductive style of thought, indeed at the same time he had formulated the logic of empiricism, that the essence of natural reality is everything as far as it is particular-concrete, which to capture it requires inductive reasoning in the form of sensory observation, particular syllogism, and analogical reasoning. Finally, this finding has its urgency and contribution to the stability and comprehensiveness of Islamic epistemology. Keyword: Epistemology; Naqdh al-Manthiq; al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin; Deductive; Inductive.   Peradaban Islam pada masa keemasannya adalah peradaban yang dibangun oleh tradisi intelektual Islam dengan segala perkembangannya baik dalam wilayah intuitif, tekstual, rasional, maupun empiris. Namun demikian, sementara ilmu pengetahuan Islam dalam wilayah intuitif, tekstual, dan rasional dapat disaksikan perkembangannya hingga dewasa ini, tidak halnya dengan pengetahuan yang menyangkut wilayah empiris yang seakan tenggelam dari paradigma pemikiran Islam. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk menggali struktur logika empirisme Ibnu Taimiyyah dan melihat relevansinya terhadap stabilitas epistemologi Islam. Untuk menjawab persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model library research yang mengacu pada dua karya Ibnu Taimiyyah “Naqdh al-Manthiq” dan “al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin”, sementara teori yang digunakan adalah kerangka epsitemologi empirisme. Penelitian ini menemukan bahwa kritik Ibnu Taimiyyah terhadap logika formal Aristotelian (deduktif-silogistik) yang mengakar kuat dalam tradisi intelektual Islam adalah hal yang melatarbelakangi gagasan logika empirismenya. Sementara Ibnu Taimiyyah mendekonstruksi corak pemikiran deduktif tersebut, sungguh pada saat yang sama ia telah merumuskan logika empirismenya, bahwa hakikat dari realitas kealaman adalah segala sesuatu sejauh ia bersifat partikular-konkret, yang untuk menangkapnya diperlukan penalaran induktif yang berupa observasi indrawi, silogisme partikular dan penalaran analogis. Pada akhirnya, temuan ini memiliki urgensi dan kontribusinya tersendiri terhadap stabilitas dan komperhensifitas epistemologi Islam. Kata kunci: Epistemologi; Naqdh al-Manthiq; al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin; Deduktif; Induktif.
PENDEKATAN BURHANI DALAM PEMENUHAN NAFKAH SKINCARE DAN KOSMETIK DALAM ISLAM Alfikri, Ahmad Faiz Shobir; Soleh, Achmad Khudori; Wahda, Maziya Rahma
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5182

Abstract

The wife's need for skincare and cosmetics has become the latest discourse in the framework of the fulfillment of maintenance by the husband to the wife. This study aims to examine the perspectives of classical and contemporary scholars on the fulfillment of skincare and cosmetic maintenance for wives in Islam and explore the use of burhani epistemology in reconstructing the law on the fulfillment of skincare and cosmetic maintenance. The method used in this research is library research with a descriptive-qualitative approach. The results of this study are (1) Skincare which is a necessity to maintain the cleanliness of the wife's skin so it must be fulfilled based on the agreement of the scholars of 4 madhhabs related to maintenance of body hygiene. However, the fulfillment of cosmetic nafkah is not mandatory, except in the Maliki school of thought, provided that the wife requires it; (2) The fulfillment of skincare and cosmetics maintenance by husbands can be analyzed using burhanu epistemology with the al-Qiyas al-Jam'i and tahlili methods. The al-Qiyas al-Jam'i method draws an analogy between basic needs and modern needs, while the tahlili method breaks down these elements for in-depth analysis of product halalness, health benefits, and psychological impact. With this burhani approach, the fulfillment of skincare and cosmetic needs is considered an integral part of the husband's maintenance responsibilities, supporting the wife's physical, mental and emotional well-being in accordance with maqasid sharia. Keywords: Burhani Epistemology; Nafkah; Skincare; Cosmetics.   Kebutuhan istri akan skincare dan kosmetik menjadi diskursus terkini dalam kerangka pemenuhan nafkah oleh suami kepada isteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perspektif ulama klasik dan kontemporer tentang pemenuhan nafkah skincare dan kosmetik bagi istri dalam Islam serta mengeksplorasi penggunaan epistemologi burhani dalam rekonstruksi hukum pemenuhan nafkah skincare dan kosmetik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu (1) Skincare yang merupakan kebutuhan untuk menjaga kebersihan kulit istri sehingga wajib dipenuhi berdasarkan kesepakatan ulama 4 mazhab berkaitan dengan nafkah kebersihan badan. Namun, pemenuhan nafkah kosmetik tidak wajib dipenuhi, kecuali dalam mazhab Maliki, dengan ketentuan apabila istri mensyaratkannya; (2) Pemenuhan nafkah skincare dan kosmetik oleh suami dapat dianalisis menggunakan epistemologi burhanu dengan metode al-Qiyas al-Jam’i dan tahlili. Metode al-Qiyas al-Jam’i menarik analogi antara kebutuhan dasar dan kebutuhan modern, sedangkan metode tahlili memecah elemen-elemen tersebut untuk analisis mendalam mengenai kehalalan produk, manfaat kesehatan, dan dampak psikologis. Dengan pendekatan burhani ini, pemenuhan kebutuhan skincare dan kosmetik dianggap sebagai bagian integral dari tanggung jawab nafkah suami, mendukung kesejahteraan fisik, mental, dan emosional istri sesuai dengan maqasid syariah. Kata kunci: Epistemologi Burhani; Nafkah; Skincare; Kosmetik
LIVING QUR’AN DI MEDIA SOSIAL: RESEPSI Q.S AL-ASHR (1-3) DALAM FILM INSPIRASI “AL-QUR’AN MERINDUKANMU” PADA GONTOR TV Anggraini, Tri Faizah
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5253

Abstract

The study of the living Qur'an has now spread to cyberspace. The living Qur'an, which is generally synonymous with practical phenomena in real life, does not prevent the virtual world from taking part in representing the practice of the living Qur'an in the world of cinema. The same thing happened in the film "Al-Qur'an Missing You". This inspirational short film, which aired with a duration of 19:23 seconds, succeeded in attracting an audience of 23,113. This research aims to find receptions that have been classified by Ahmad Rafiq in the film "Al-Qur'an Missing You". To achieve this goal, this research uses a qualitative research method with a descriptive-analytic approach while introducing Ahmad Rafiq's version of the living Qur'an theory as the basis for data analysis. By referring to the research process, this research found that exegetical reception, aesthetic reception and functional reception were found in the film "Al-Qur'an Missing You". By providing specific efforts, the exegetical reception is realized in Ayah's interpretation of surah al-Ashr verses 1-3, the aesthetic reception is represented in Alif's pattern of reading the Qur'an in tartil and the functional reception is from the informative aspect which is indicated by the narrative knowledge of groups of people The losers are those who abandon good deeds. Meanwhile, functional reception from the performative aspect can be seen in Alif's religious play, which begins to neutralize the reading of the Qur'an in his activities by relying on his understanding of surah al-Ashr 1-3. Keywords: Living Quran, Reception; Inspiration Film, Gontor TV   Kajian living qur’an kini merambah ke dunia maya. Living qur’an yang umumnya identik dengan fenomena praktikal di kehidupan nyata, tak menghalangi dunia maya untuk turut andil merepresentasikan praktik living qur’an di dunia perfilman. Hal yang sama terjadi pada film “Al-qur’an Merindukanmu”. Film pendek inspirasi yang tayang dengan durasi 19:23 detik ini berhasil menggait penonton sebanyak 23.113. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan resepsi yang telah diklasifikasikan oleh Ahmad Rafiq sekaligus mencari proses transmisi dan transformasi pada film “Al-qur’an Merindukanmu”. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis sekaligus mengintrodusir teori living qur’an versi Ahmad Rafiq sebagai basis analisa data. Dengan mengacu pada proses penelitian tersebut, penelitian ini menemukan titik temu bahwa resepsi eksegesis, resepsi estetis dan resepsi fungsional terdapat dalam film “Al-qur’an Merindukanmu”. Dengan memberikan upaya spesifikasi, resepsi eksegesis terwujud pada penafsiran Ayah terhadap surah al-Ashr ayat 1-3, resepsi estetis terrepresentasi pada pola bacaan al-Qur’an Alif secara tartil dan resepsi fungsional dari aspek informatif yang terindikasi pada pengetahuan narasi golongan orang-orang yang merugi adalah golongan yang meninggalkan amal sholih. Sementara resepsi fungsional dari aspek performatif terlihat pada lakon beragama Alif yang mulai menetralisir dengan bacaan qur’an dalam aktivitasnya dengan bersandar pada pemahamannya terhadap surah al-ashr 1-3.   Keyword:  Living Quran, Resepsi; Film Inspirasi, Gontor TV
KEPEMIMPINAN DALAM PASANG RI KAJANG: PERSPEKTIF LIVING HADIS Shadra, Yasser Mulla; Yeri, Yeri; Amin, Muhammadiyah; Tasbih, Tasbih; Alamshah, Anisah binti
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5256

Abstract

This research attempts to identify and describe the concept of leadership from the perspective of Hadith in general and the concept of leadership from the perspective of Pasang ri Kajang. The reference of this research problem leads to how the concept of leadership according to the Prophet's Hadith, how the concept of leadership in Pasang ri Kajang, and how the encounter of leadership values between the two as a manifestation that the Kajang indigenous community is very intimate with Islamic cultural values. This research uses a mixed method that is library and field by using the concept of Edmund Husserl's phenomenology in looking at the social situation in the Kajang indigenous community. The results of this study found that Leadership in the perspective of the Prophet's hadith and Pasang ri Kajang Perspective has differences and similarities in value, ideal leadership criteria based on the Prophet's hadith. at least fulfills 5 elements, namely a leader has a leadership spirit such as the soul of the Quraysh tribe, intellectual and professional, and able to carry out the task. While leadership criteria according to Pasang ri Kajang Leadership perspective of Pasang ri kajang refers to three main aspects, namely, Macca na Lambusu (intellectual and trustworthy), Barani na gattang (brave and firm), and Sabbara na pesona (patient and trustworthy). The encounter between the two values can be seen from the aspect of intellectual and trustworthy leader criteria, besides that on the other hand the leader must also be honest, have faith in Allah Swt and be responsible. Keywords: Leadership, Hadis, Pasang ri Kajang   Penelitian ini berikhtiar mengidentifikasi dan menguraikan konsep kepemimpinan perspektif Hadis secara umum dan konsep kepemimpinan perspektif Pasang ri Kajang. Adapun rujukan permasalah penelitian ini mengarah kepada bagaimana konsep kepemimpinan menurut hadis Nabi, bagaimana konsep kepemimpinan dalam Pasang ri Kajang, dan bagaiman perjumpaan nilai-nilai kepemimpinan diantara keduanya sebagai wujud bahwa komunitas adat Kajang sangat intim dengan nilai-nilai kebudayaan Islam. Penelitian ini menggunakan metode mix method yaitu pustaka dan lapangan dengan memanfaatkan konsep fenomenologi Edmund Husserl dalam meliht situasi social pada masyrakat adat Kajang.  Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kepemimpinan dalam perspektif hadis Nabi dan Perspektif Pasang ri Kajang memiliki perbedaan dan kesamaan nilai, kriteria kepemimpinan yang ideal berdasarkan hadis-hadis Nabi saw. paling tidak memenuhi 5 unsur, yaitu seorang pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan seperti jiwa suku Quraisy, intelektual dan professional, serta mampu melaksanakan tugas. Sedangkan kriteria kepemimpinan menurut Pasang ri Kajang Kepemimpinan perspektif Pasang ri kajang mengacu pada tiga aspek pokok yaitu, Macca na Lambusu (intelektual dan Amanah), Barani na gattang (berani dan tegas), dan Sabbara na pesona (sabar dan tawakal). Perjumpaan nilai keduanya dapat ditinjau dari aspek kriteria pemimpin yang intelektual dan amanah, selain itu disisi lain pemimpin juga harus jujur, bertakawwal kepada Allah Swt serta bertanggungjawab. Kata Kunci: Kepemimpinan, Hadis, Pasang ri Kajang
BERAGAMA BAHAGIA UNTUK BINA DAMAI: KAJIAN ATAS TEORI KEMATANGAN BERAGAMA WILLIAM JAMES Ismail, Roni
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5277

Abstract

In the ideal or normative terms, all religions teach the tenet of peace, so that they express a "friendly" face. However, in historical reality, religion often displays an "angry" face and is used as a tool for hostility, hatred, violent conflict, and even war. Cassanova calls this the Janus face or double face of religion. Religious scholars, practitioners and academics have made various efforts to return religion to its ideal face as a power of peace, brotherhood, unity and humanity. Some propose a peaceful, inclusive, pluralist, dialogical, archipelagic, progressive religiosity, and so on. This article offers a happy religion or religiosity through a psychology of religion approach as participation in discussions of religion for peace, through a study of William James' mature religious theory. James' four mature religious criteria are: (1) always feeling God's presence in life, (2) His presence gives rise to surrender to God and His values, (3) self-surrender gives rise to happiness, freedom and loss of ego, and , (4) changing emotions into love and harmony, are indicators of religious happiness. Happy religiousity are unlikely to hurt, hate, get involved in hostility and violent conflict in the name of religion, but are instead able to spread happiness and peace to others. Happy religiosity are able to build peace, namely: maintaining the sacredness of life and upholding the ideal of life's happiness. Keywords: Happy Religiosity, Mature Religion William James, Peace. Secara idealitas-normatif, semua agama memuat ajaran damai sehingga berwajah “ramah”. Akan tetapi, secara realitas-historis seringkali agama menampilkan wajah “marah” dijadikan alat permusuhan, kebencian, konflik kekerasan, bahkan perang. Cassanova menyebut ini sebagai janus face atau wajah ganda agama. Para agamawan, praktisi dan akademiki telah melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan agama pada idealitasnya sebagai pejuang kedamain, persaudaraan, persatuan, dan kemanusiaan. Ada yang menggagas beragama damai, inklusif, pluralis, dialogis, nusantara, berkemajuan, dan lain-lain. Artikel ini menawarkan beragama bahagia melalui pendekatan psikologi agama sebagai keikutsertaan dalam diskusi fungsi beragama untuk perdamaian, melalui kajian atas teori beragama matang dari William James. Empat kriteria beragama matang James, yaitu: (1) merasakan selalu kehadiran Tuhan dalam hidup, (2) kehadiran-Nya memunculkan kepasrahan kepada Tuhan dan nilai-nilai-Nya, (3) kepasrahan diri memunculkan kebahagiaan, kebebasan, dan hilang ego, dan, (4) mengubah emosi menjadi cinta dan harmoni, merupakan indikator kebahagiaan keagamaan. Orang beragama bahagia tidak mungkin menyakiti, membenci, terlibat permusuhan dan konflik kekerasan atas nama agama, tetapi justru mampu menebar kebahagiaan dan perdamaian kepada sesama. Orang beragama bahagia mampu membangun perdamaian, yaitu: menjaga sakralitas kehidupan dan menjunjung ideal kebahagiaan hidup. Kata Kunci: Beragama Bahagia, Beragama Matang William James, Perdamaian.