cover
Contact Name
Jurnal Living Islam
Contact Email
living.islam@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
living.islam@uin-suka.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Living Islam: Journal of Islamic Discourses
ISSN : 26216582     EISSN : 26216590     DOI : -
Living Islam: Journal of Islamic Discourses merupakan jurnal yang berada di bawah naungan Prodi Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Living Islam: Journal of Islamic Discourses didesain untuk mewadahi dan mendialogkan karya ilmiah para peneliti, dosen, mahasiswa dan lain-lain dalam bidang studi: Filsafat Islam, al-Qur'an dan Hadis, dan Studi Agama dan Resolusi Konflik, baik dalam ranah perdebatan teoritis, maupun hasil penelitian (pustaka dan lapangan). Living Islam: Journal of Islamic Discourses terbit dua kali dalam satu tahun, yakni pada bulan Mei dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 132 Documents
PEMIKIRAN AMINAH WADUD TENTANG RELASI KUASA DALAM RUMAH TANGGA Adib, M. Afiqul
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5358

Abstract

Gender injustice and inequality often arise in patriarchal family relationships that dichotomize the roles of men (husbands) and women (wives) within the household. This study aims to analyze Aminah Wadud's perspective on the imbalance of power relations in the household based on her interpretation of the Quran. This research uses the library research method, focusing on various relevant sources and references about Aminah Wadud's views on gender studies in the Quran and their application in the context of household relationships. The theoretical framework underlying this research is Islamic feminism, which is used to understand how Quranic interpretation can shape or challenge patriarchal structures within the family. The results show that Aminah Wadud emphasizes the importance of an egalitarian and inclusive interpretation, highlighting justice and gender equality within the household. Wadud's views provide new insights into the role of the Quran in forming fairer and more equal gender relations in society, offering a framework to reassess traditional interpretations that are often gender-biased. This study also reveals that more progressive and contextual interpretations of sacred texts can contribute to forming more just and equal social norms. The findings of this research are expected to serve as an important reference for academics and practitioners in developing strategies to reduce gender inequality in the context of both household and broader society.   Keyword: Power Imbalance; Gender Study; Aminah Wadud.   Ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender sering muncul dalam pola relasi keluarga patriarkis yang mendikotomikan peran antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri) dalam rumah tangga. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pandangan Aminah Wadud terhadap ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga berdasarkan penafsirannya terhadap Alquran. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan fokus pada penelusuran berbagai sumber dan referensi yang relevan tentang pandangan Aminah Wadud terkait kajian gender dalam Alquran dan aplikasinya dalam konteks relasi rumah tangga. Teori yang mendasari penelitian ini adalah teori feminisme Islam, yang digunakan untuk memahami bagaimana interpretasi Alquran dapat membentuk atau menantang struktur patriarki dalam keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aminah Wadud menekankan pentingnya tafsir yang egaliter dan inklusif, yang menekankan keadilan dan kesetaraan gender dalam rumah tangga. Pandangan Wadud memberikan wawasan baru mengenai peran Alquran dalam membentuk relasi gender yang lebih adil dan setara dalam masyarakat, sekaligus menawarkan kerangka kerja untuk mengkaji ulang interpretasi tradisional yang sering kali bias gender. Studi ini juga mengungkapkan bahwa penafsiran yang lebih progresif dan kontekstual terhadap teks-teks suci dapat berkontribusi pada pembentukan norma-norma sosial yang lebih adil dan setara. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi penting bagi akademisi dan praktisi dalam mengembangkan strategi untuk mengurangi ketimpangan gender dalam konteks rumah tangga dan masyarakat luas. Kata kunci: Ketimpangan Kuasa; Kajian Gender; Aminah Wadud.
KRITIK KUNTOWIJOYO TERHADAP ISLAMISASI ILMU Fathony, Bimba Valid
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5366

Abstract

As a form of response to the development of existing scientific paradigms, it is not uncommon for criticism to arise between each other. The development of the Islamization of science itself has given rise to criticism that the Islamization of science is only used as an instrument for the sterilization of modern science which is currently developing. So it has not yet emerged the true substance of Islam. In this research, researchers used qualitative research methods. This research is a type of library research, namely research whose object of study uses library data in the form of books, journals and articles as data sources. The results of the research entitled "Kuntowijoyo's Criticism of the Islamization of Science" explain, among other things, the Islamization of Science as a response to the crisis in modern society which is caused by the large amount of science that has developed based on the West. The Islamization of science is also understood as a way to liberate Western assumptions attached to Islamic science which are then replaced with an Islamic perspective. For Kuntowijoyo, science has a revolutionary nature. When Islam is made into a science, it will also become a paradigm, from which the ability to make changes will emerge. Kuntowijoyo tries to make this knowledge something objective, so objective knowledge does not need to be Islamized. He made a breakthrough, namely "Islamic science". The Islamization of Science makes Muslims closed to methods that originate from outside. Keyword: critics; Kuntowijoyo; Islamization of Science   Sebagai bentuk respon dari berkembangnya paradigma ilmu yang ada, maka tidak jarang muncul kritik antar satu sama lain. Berkembangnya Islamisasi ilmu sendiri telah memunculkan suatu kritikan dimana Islamisasi ilmu hanya dipakai sebagai instrument untuk sterilisasi terhadap ilmu modern yang tengah berkembang. Sehingga belum memunculkan substansi Islam yang sebenarnya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitan kulaitatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian pustaka (library research), yakni penelitian yang obyek kajiannya menggunakan data pustaka berupa buku-buku, jurnal, dan artikel sebagai sumber datanya. Hasil dari penelitian yang berjudul “Kritik Kuntowijoyo Terhadap Islamisasi Ilmu” ini dijelaskan antaranya, Islamisasi Ilmu sebagai bentuk respon terhadap krisis di masyarakat modern yang diakibatkan karena banyaknya ilmu yang berkembang bertumpu pada Barat. Islamisasi Ilmu juga dipahami sebagai cara untuk membebaskan asumsi-asumsi Barat yang melekat pada ilmu pengetahuan Islam yang selanjutnya diganti dengan cara pandang Islam. Bagi Kuntowijoyo ilmu memiliki sifat revolusioner. Saat Islam dijadikan ilmu maka ia akan sekaligus menjadi paradigma dari situ akan timbul suatu kemampuan untuk membuat perubahan. Kuntowijoyo berusaha menjadikan ilmu tersebut sebagai sesuatu yang objektif, maka pengetahuan yang objektif tidak perlu diislamisasi. Ia membuat suatu terobosan yaitu “pengilmuan Islam”. Islamisasi Ilmu menjadikan umat Islam tertutup dengan metode-metode yang bersumber dari luar. Kata kunci: kritik; Kuntowijoyo; Islamisasi Ilmu
AL-TASĀMUH OR TOLERANCE IN THE QURAN AND SUNNAH AND CLAIMS OF THE DENIERS Klaina, Mekki; Putra, Ansusa
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 1 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i1.5367

Abstract

This research examines the topic of al- Tasāmuh in the Quran and Sunnah and how it aligns with the meaning declared in 1995. It is evident that there is a difference in meaning between the two. Those who deny al- Tasāmuh in Islam rely on a different concept that seeks to separate from religious and cultural identity and rely on secularism. This research shows that the scope of tolerance is wide in Islam, which gives Muslims and non-Muslims the right to coexist in safety. It is connected with what a person has the right to be tolerant in. As for Allah's rights, they do not fall under this right. Moreover, freedom has limits to prevent self-harm or harming others. Islam does not impose religion on people, but focuses on dialogue and persuasion. To promote positive tolerance, emphasis should be placed on teaching future generations how to interact with others, and laws should protect the rights of all without tolerance for disrespect for religious sanctities or the spread of deviant behavior. Keyword: Al-Tasāmuh; Tolerance; Quran and Sunnah; Islamophobia.   Kajian ini membahas tentang topik al-Tasāmuh dalam Al-Quran dan Sunnah serta sejauh mana maknanya sesuai dengan apa yang disebutkan oleh UNESCO pada tahun 1995. Jelas sekali ada perbedaan makna di antara keduanya. Mereka yang menolak al-Tasāmuh dalam Islam mengandalkan berbagai konsep yang mencoba memisahkan diri dari identitas agama dan budaya serta mengandalkan sekularisme. Kajian ini menunjukkan bahwa ruang lingkup toleransi dalam Islam sangat luas, yang memberikan hak kepada umat Islam dan non-Muslim untuk hidup bersama dengan aman. Itu terkait dengan apa yang menjadi hak seseorang untuk toleran. Kebenaran Tuhan tidak termasuk dalam kebenaran ini. Selain itu, kebebasan memiliki batasan untuk mencegah kerugian bagi diri sendiri atau orang lain. Islam tidak memaksakan agama pada manusia, tetapi berfokus pada dialog dan persuasi. Untuk mempromosikan toleransi positif, perlu ditekankan pendidikan generasi mendatang tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain, dan undang-undang harus melindungi hak-hak semua orang tanpa menoleransi kerusakan kesucian agama atau berupaya menyebarkan perilaku menyimpang. Kata kunci: Al-Tasāmuh; Toleransi; Quran dan Sunnah; Islamofobia
KRISIS IDENTITAS MANUSIA DAN EKOLOGI MODERN DALAM PERSPEKTIF EKO-FILOSOFI SEYYED HOSSEIN NASR Amril, Amril; Hadi, Rahmad Tri
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5368

Abstract

This article focuses on understanding Seyyed Hossein Nasr's eco-philosophy about the current crisis of modern human identity and ecology. The method used in this research is a descriptive-analytical method with an integration and interconnection approach with emphasizes the need for a meeting point between religion and ecology which leads to position taking both of which should no longer be show of power or conflict with each other, but seek a negotiating point (consensus) in facing the identity crisis of modern humans. The primary data used in this research are the works of Nasr himself. Meanwhile, secondary data in this research are books, journal articles and other websites that discuss Nasr's thoughts. The research results show that Nasr proposed two models of his eco-philosophy approach. First, Islamic epistemology is the identity crisis of modern humans. Second, ecological Islamic epistemology. Some of Nasr's alternatives to the crisis of modern human identity and ecology, first, traditional agricultural systems; second, the traditional way of building a house; third, consumption efficiency; fourth, control human greed; fifth, wise economics; sixth, human society with a deep responsibility towards nature. Keyword: Ecology; Eco-Philosophy; Identity Crisis; Modern; Seyyed Hossein Nasr.   Tulisan ini berfokus pada pemahaman eko-filosofi Seyyed Hossein Nasr sehubungan dengan krisis identitas manusia modern dan ekologi saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-analitis dengan pendekatan integrasi dan interkoneksi, dengan menekankan perlu adanya titik temu antara agama dan ekologi yang mengantarkan pada position taking keduanya yang seharusnya tidak lagi saling bertentangan satu sama lain, akan tetapi mencari titik temu negosiasi (consensus) dalam menghadapi krisis identitas manusia modern. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah karya-karya Nasr sendiri. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku, artikel jurnal, dan website lainnya yang membahas tentang pemikiran Nasr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nasr mengusulkan dua model pendekatan eko-filosofinya. Pertama, epistemologi Islam krisis identitas manusia modern. Kedua, epistemologi Islam ekologi. Beberapa alternatif Nasr atas krisis identitas manusia modern dan ekologi di antaranya, pertama, sistem pertanian tradisional; kedua, cara tradisional membangun rumah; ketiga, efisiensi konsumsi; keempat, mengontrol keserakahan manusia; kelima, ekonomi bijaksana; keenam, masyarakat manusia dengan tanggung jawab mendalam terhadap alam. Kata kunci: Ekologi; Eko-Filosofi; Krisis Identitas; Modern; Seyyed Hossein Nasr.
FILSAFAT MUHAMMAD ABID AL-JABIRI DALAM TELAAH EPISTEMOLOGI BURHANI SINERGI NALAR ISLAM Hakim, Maman Lukmanul; Al-Habibi, Muhammad Luthfi Jalaludin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5425

Abstract

This research aims to discuss the study of Muhammad Abid Al-Jabiri Philosophy in Epistemology (Burhani) Synergy of Islamic Reason. This research uses a qualitative approach and applies descriptive-analytical methods. Philosophy is Positioned as a formal object, the material object is Muhammad Abid Al-Jabiri and the context is Epistemology (Burhani) and Islamic Reason. The result and discussion in this research show that Muhammad Abid Al-Jabiri Philosophy through his throughts on Islamic Reason is embedded in Burhani’s epistemologi through his curiosity about the domination of science which is based on the use of reason as the main human ability to obtain knowledge using the method of deducation. Culture it self a cultural heritage, thought, religion, literature, art, philosophy, sufism and kalam that comes from the past. This research concludes that Muhammad Abid Al-Jabiri, Epistemology Burhani (Philosophy) is relevant to be used synergi Islamic Reason and understand of texts and implied and explicit meanings in reality cause and effect (asbabun nuzul) of Islamic reason traditions in the present so as to forget the traditions of the history. Keywords: Epistemology Burhani; Islamic Reason; Muhammad Abid Al-Jabiri; Phylosophy; Turath   Penelitian ini bertujuan untuk membahas Telaah Filsafat Muhammad Abid Al-Jabiri dalam Epistemologi (Burhani) Sinergi Nalar Islam, Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif serta menerapkan metode deskriptif-analitis, Filsafat di posisikan sebagai objek formal, objek materialnya Muhammad Abid Al-Jabiri serta konteksnya Epistemologi (Burhani) dan Nalar Islam. Hasil dan pembahasan pada penelitian ini menunjukkan bahwa Filsafat Muhammad Abid Al-Jabiri melalui pemikirannya tentang Nalar Islam tertera pada Epistemologi Burhani melalui rasa ingin tahunya pada pendominasian ilmu pengetahuan yang didasari dengan penggunaan akal untuk kemampuan utama manusia memperoleh ilmu pengetahuan tersebut dengan metode deduksi. Kebudayaan sendiri merupakan suatu warisan budaya, pemikiran, agama, sastra, seni, filsafat, tasawwuf dan kalam yang hadir dari kita maupun orang lain, baik itu dekat dan jauh, menyertai kekinian kita yang datang dari masa lalu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Epistemologi Burhani (Filsafat) Muhammad Abid Al-Jabiri relevan digunakan untuk mensinergikan Nalar Islam serta pemahaman akan teks dan makna yang tersirat serta tersurat dalam mengejawantahkan sebab-akibat (asbabun nuzul) tradisi nalar Islam pada masa sekarang hingga tidak melupakan tradisi masa lalu. Kata kunci: Epistemologi Burhani; Filsafat; Muhammad Abid Al-Jabiri; Nalar Islam; Turath
TOLERANSI DALAM SURAH AL-KAFIRUN: KOMPARASI TAFSIR AL-AZHAR DAN HAK DINI KUR’AN DILI Ghufrani, Azzam; Muhajirin, Muhajirin
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5497

Abstract

This article presents the concept of tolerance using a comparative method from two commentators from different countries and similar historical contexts. Hamka and Hamdi were prominent mufassir and lived during the transition period. Both are related to government and contribute to the continuity of religious life in their respective countries. Surah al-Kafirun, which is a Makkiyah surah, has a strong message about tolerance and religious freedom. Hamka emphasized the importance of maintaining faith and rejecting compromise between monotheism and shirk and emphasized the need to build togetherness and maintain relations between religious communities without sacrificing faith. In the history of his life, Hamka showed a firm attitude towards religious beliefs, including his resignation from the Indonesian Ulema Council because he refused to withdraw the fatwa regarding wishing a Merry Christmas. On the other hand, Elmalılı Hamdi Yazır emphasized the importance of a gentle approach in da'wah and conveying the message of the Qur'an in a good way. His interpretation also reflects the context of the secularization of the Turkish Republic at that time. These two interpretations show differences in approach and historical context, but both agree that tolerance does not mean sacrificing one's beliefs. This research provides in-depth insight into various perspectives in the tradition of interpreting the Koran and how the values of tolerance can be applied in various social and political contexts. Keywords: Religion Moderation, Sekularization, Takfir, Turks   Artikel ini mengemukakan konsep toleransi dengan metode komparatif dari dua mufassir dengan negara yang berbeda dan memiliki konteks historis yang serupa. Hamka dan Hamdi merupakan mufassir terkemuka dan hidup pada masa peralihan pemerintahan. Keduanya memiliki keterkaitan dengan pemerintahan dan berkontribusi dalam keberlangsungan kehidupan beragama di negara masing-masing. Surah al-Kafirun, yang merupakan surah Makkiyah, memiliki pesan kuat tentang toleransi dan kebebasan beragama. Hamka menekankan pentingnya menjaga akidah dan menolak kompromi antara tauhid dan syirik, serta menekankan perlunya membangun kebersamaan dan menjaga hubungan antar umat beragama tanpa mengorbankan keimanan. Dalam sejarah kehidupannya, Hamka menunjukkan sikap tegas terhadap keyakinan agama, termasuk pengunduran dirinya dari Majelis Ulama Indonesia karena menolak menarik fatwa tentang mengucapkan selamat Natal. Di sisi lain, Elmalılı Hamdi Yazır menekankan pentingnya pendekatan yang lembut dalam dakwah dan menyampaikan pesan al-Qur'an dengan cara yang baik. Tafsirnya juga mencerminkan konteks sekularisasi Republik Turki pada masa itu. Kedua tafsir ini menunjukkan perbedaan dalam pendekatan dan konteks historis, tetapi keduanya setuju bahwa toleransi tidak berarti mengorbankan keyakinan sendiri. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang berbagai perspektif dalam tradisi penafsiran al-Qur'an dan bagaimana nilai-nilai toleransi dapat diterapkan dalam berbagai konteks sosial dan politik.   Kata kunci: Moderasi Beragama, Sekularisasi, Takfir, Turki
RESOLUSI KONFLIK DALAM ISLAMIC STUDIES: PERSPEKTIF HARMONISASI ANTAR UMAT BERAGAMA RICHARD C. MARTIN Suaidi, Suaidi
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5546

Abstract

Disharmony among religious communities in the era of globalization has become a focal point for religious observers, as it often gives rise to complex issues in Europe, North America, and other parts of the world. This article will explore the importance of Islamic studies in understanding the complexity of relationships between Islam and other cultures and religions. It will utilize Richard C. Martin's multidisciplinary approach to Islamic studies. The research method employed is qualitative-normative, focusing on literature review and the concepts of cross-cultural dialogue and inclusivity within the context of global religious diversity. The findings of the research indicate that Martin's approach, which advocates for inclusivity and cross-cultural dialogue, is the best way to promote a deeper understanding of religions and to reduce global conflicts. Understanding the historical approach, phenomenological approach, theological approach, comparative religions approach, and structuralist approach is one of Martin's methods to achieve an inclusive interpretation of religions broadly, especially Islam. Such an understanding can lead to better global peace and cooperation. Martin's ideas offer profound insights into how Islamic studies can play a crucial role in building harmony among religious communities, particularly as a means of resolving conflicts through comparative methods. His approach underscores the need for a comprehensive understanding of the historical, social, and cultural contexts of religions to foster mutual respect and cooperation in a multicultural world. Keywords: Resolution, Conflict, Islamic Studies, Harmonization   Disharmoni antar umat beragama di era globalisasi menjadi sorotan para pemerhati agama karena sering kali melahirkan persoalan kompleks seperti di Eropa, Amerika Utara maupun di belahan dunia lainnya. Artikel ini akan mengulas pentingnya studi keislaman (islamic studies) dalam memahami kompleksitas hubungan antara Islam dengan budaya dan agama lain. Artikel ini akan menggunakan pemikiran Richard C. Martin sebagai pendekatan multidisipliner dalam Islamic studies. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-normatif dengan mengkaji literatur Pustaka (liberary research) dan konsep dialog lintas budaya dan inklusivitas dalam konteks keberagaman religius global. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan Martin, yang menganjurkan inklusivitas dan dialog lintas budaya, adalah cara terbaik untuk mempromosikan pemahaman yang lebih dalam tentang agama-agama dan mengurangi konflik global. Memahami pendekatan historis, pendekatan fenomenologis, pendekatan teologis, pendekatan perbandingan agama, dan pendekatan strukturalis adalah salah satu metode Martin untuk mencapai interpretasi inklusif terhadap agama-agama secara luas, khususnya Islam. Pemahaman seperti ini dapat membawa kepada perdamaian dan kerja sama global yang lebih baik. Gagasan Martin menawarkan wawasan yang mendalam tentang bagaimana studi Islam dapat memainkan peran penting dalam membangun keharmonisan di antara umat beragama, terutama sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik melalui metode komparatif. Pendekatannya menggarisbawahi perlunya pemahaman yang komprehensif mengenai konteks sejarah, sosial, dan budaya agama-agama untuk menumbuhkan rasa saling menghormati dan kerja sama dalam dunia yang Multi-kultural. Kata Kunci: Resolusi, Konflik, Islamic Studies, Harmonisasi
TAFSIR MAQASID DALAM MEMAHAMI AYAT-AYAT HUKUM: ANALISIS TAFSIR AL-JASSAS Saleh, Muhammad; Riyadi, Abdul Kadir; Mubarok, Nafi'
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5603

Abstract

Maqasid interpretation, or interpretation based on the goals of Islamic law, plays an important role in deepening the understanding of Qur'anic legal verses. It seeks to uncover the intentions and purposes hidden behind the legal verses, highlighting the legal aspects underlying the rules. One of the tafsir works that considers this approach is Tafsir al-Jassas. This article analyses the contribution of Tafsir al-Jassas in revealing the maqasid (objectives) of Islamic law, especially in the context of legal verses. The content analysis method is used to explore al-Jassas' views on selected legal verses, focusing on the interpretations and interpretations he produces. The findings of this analysis illustrate how al-Jassas' commentaries provide deep insights into the application of maqasid in Islamic law, demonstrating its relevance in the modern legal context. The conclusion of this article emphasises the importance of expanding the use of maqasid-based interpretive approaches in understanding the Islamic legal heritage, to address contemporary challenges and enhance a more holistic understanding of the values and objectives of shari'a law. Keywords: Verses of Law, Tafsir Al-Jassas   Tafsir maqasid, atau penafsiran berdasarkan tujuan-tujuan syariat Islam, memainkan peran penting dalam memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat hukum Al-Qur'an. Tafsir ini berusaha mengungkap maksud dan tujuan yang tersembunyi di balik ayat-ayat hukum, menyoroti aspek-aspek hukum yang mendasari aturan-aturan tersebut. Salah satu karya tafsir yang mempertimbangkan pendekatan ini adalah Tafsir al-Jassas. Artikel ini menganalisis kontribusi tafsir al-Jassas dalam mengungkapkan maqasid (tujuan-tujuan) hukum Islam, khususnya dalam konteks ayat-ayat hukum. Metode analisis konten digunakan untuk mengeksplorasi pandangan al-Jassas terhadap ayat-ayat hukum yang dipilih, dengan fokus pada interpretasi dan penafsiran yang dihasilkannya. Temuan dari analisis ini menggambarkan bagaimana tafsir al-Jassas memberikan wawasan mendalam mengenai aplikasi maqasid dalam hukum Islam, menunjukkan relevansinya dalam konteks hukum modern. Kesimpulan artikel ini menekankan pentingnya memperluas penggunaan pendekatan tafsir berbasis maqasid dalam memahami warisan hukum Islam, untuk mengatasi tantangan kontemporer dan meningkatkan pemahaman yang lebih holistik terhadap nilai-nilai dan tujuan hukum syariat. Kata kunci : Tafsir, Ayat-Ayat Hukum, Tafsir Al-Jassas
KONSEP NAFS DALAM PERSPEKTIF IBNU SINA: PEMBUKTIAN LOGIS TERHADAP KEBERADAAN JIWA Ihsan, Nur Hadi; Silmi, Nadaa Afifah; Indallah, Sayyid Muhammad
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5617

Abstract

The soul or nafs is a metaphysical study that is very important to study in knowing human nature. Because, from this concept, an understanding or worldview of the human concept will be formed. The West understands the soul as an entity that is united with the body, or even only views humans from one aspect, namely the body. So this understanding will lead to misunderstandings about human psychology and the main purpose of human creation, namely worshiping God. This manuscript aims to explain the concept of the soul in Ibn Sina's view. The author uses the descriptive analysis method to explain Ibn Sina's concept of the soul. The results of this study produce several important points. First, Ibn Sina's explanation of the soul is very comprehensive, in which he puts the soul as a substance that makes the body move or live. Second, the nafs is an independent substance, it is not accidental or 'ard and not the body itself. Hence, it does not have the form of a body. Third, the eternal nafs, when the body can change or perish, because it is an emanation or emanation from God's Essence. Keyword: Ibn Sina; Human Nature; Soul; Body Jiwa atau nafs merupakan kajian metafisis yang sangat penting untuk ditela’ah dalam mengetahui hakikat manusia. Karena, dari konsep inilah akan terbentuk pemahaman atau worldview terhadap konsep manusia. Barat memahami jiwa sebagai suatu entitas yang menyatu dengan jasad, atau bahkan hanya memandang manusia dari satu aspek yaitu jasad. Sehingga dari pemahaman tersebut, akan menimbulkan kesalahpahaman tentang psikologi manusia dan tujuan utama penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah. Naskah ini bertujuan untuk menjelaskan konsep jiwa dalam pandangan Ibnu Sina. Penulis menggunakan metode deskriptif analisis untuk menjelaskan konsep Ibnu Sina tentang jiwa. Hasil dari kajian ini, menghasilkan beberapa poin penting, Pertama, penjelasan Ibnu Sina tentang jiwa sangat komperhensif, di mana ia meletakkan jiwa sebagai suatu substansi yang menjadikan badan bisa bergerak atau hidup. Kedua, bahwa nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, ia bukan aksiden atau ‘ard dan bukan jasad itu sendiri. Makanya, ia tidak memiliki bentuk sebagaimana jasad. Ketiga, nafs yang bersifat kekal, saat jasad dapat berubah ataupun musnah, karena ia sebagai pancaran atau emanasi dari Zat Tuhan. Kata kunci: Ibnu Sina; Hakikat Manusia; Jiwa; Jasad
KAJIAN LIVING QUR'AN ATAS PEMBENTUKAN KELUARGA ISLAMI DALAM TAFSIR AL-MISBAH Auliyah, Iqna; Rusli, Ris'an; Suryanto, Totok Agus
Living Islam: Journal of Islamic Discourses Vol. 7 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/lijid.v7i2.5646

Abstract

This study addresses the challenges faced by Muslim families in applying Qur'anic values in the modern era. Amid globalization and rapid social changes, many Muslim families struggle to balance spiritual values with modern life demands, often leading to internal conflicts, decreased quality of relationships among family members, and difficulties in maintaining family harmony and sustainability. This research aims to analyze the Qur'anic values relevant to Islamic families, focusing on the Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab, which provides a deep and contextual interpretation of Qur'anic verses related to family. The research employs a qualitative method with a documentation study approach, collecting data through literature review and in-depth analysis of Tafsir Al-Misbah. The theory used is the Living Quran theory, which emphasizes the importance of applying Qur'anic teachings in daily life as practical guidance. The findings reveal that Tafsir Al-Misbah highlights fundamental values such as compassion, justice, effective communication, and responsibility as key pillars in forming a harmonious and prosperous Islamic family. These findings are expected to enrich understanding of the application of Qur'anic teachings in the family context and provide practical guidance for Muslims in improving family life quality. Keywords: Qur'an, Islamic family, Tafsir Al-Misbah, family values, family formation, Islamic teachings.   Tantangan yang dihadapi keluarga Muslim dalam menerapkan nilai-nilai Al-Qur'an di era modern. Di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, banyak keluarga Muslim mengalami kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara nilai-nilai spiritual dan tuntutan kehidupan modern, yang sering kali berujung pada konflik internal, penurunan kualitas hubungan antar anggota keluarga, serta ketidakmampuan dalam mempertahankan keharmonisan dan keberlanjutan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai Al-Qur'an yang relevan bagi keluarga Islami, dengan berfokus pada tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, yang menawarkan interpretasi mendalam dan kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keluarga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi dokumentasi, di mana data dikumpulkan melalui telaah literatur dan analisis mendalam terhadap Tafsir Al-Misbah. Teori yang digunakan adalah teori Living Quran, yang menekankan pentingnya penerapan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari sebagai pedoman praktis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Misbah menyoroti nilai-nilai fundamental seperti kasih sayang, keadilan, komunikasi efektif, dan tanggung jawab sebagai pilar utama dalam membentuk keluarga Islami yang harmonis dan sejahtera. Temuan ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang aplikasi ajaran Al-Qur'an dalam konteks keluarga dan memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam meningkatkan kualitas kehidupan keluarga. Kata Kunci: Al-Qur'an, keluarga Islami, tafsir Al-Misbah, nilai-nilai keluarga, pembentukan keluarga, ajaran Islam.