cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 310 Documents
KARAKTERISTIK PETIR TERKAIT CURAH HUJAN LEBAT DI WILAYAH BANDUNG, JAWA BARAT Deni Septiadi; Safwan Hadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.936 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.97

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menganalisis aktivitas petir menggunakan Lightning Detector sepanjang tahun 2009 dengan radius sekitar 10 km sekitar Bandung. Tujuan analisis adalah untuk identifikasi potensi hubungan antara parameter petir yaitu Cloud-to-Ground (CG) dengan curah hujan lebat di atas 50 mm/hari. Hasil analisis menunjukkan hubungan yang kuat antara CG dan curah hujan lebat serta dominasi CG- (66.1%) sepanjang musim dengan puncak aktivitas pada MAM (43.6%). Pemahaman akan keganjilan aktivitas kilat akan memberikan informasi penting dalam struktur, pertumbuhan awan, labilitas atmosfer ataupun sebagai warning (peringatan) cuaca ekstrim. The objective of this paper is to analyze the lightning activities using Lightning Detector during the year 2009 with a radius about 10 km around Bandung. The purpose of this analysis is to identify potential relationships between lightning parameters i.e Cloud-to-Ground (CG) with torrential rainfall more than 50 mm/day. The results showed a strong relationships between CG and torrential rainfall and dominance of CG- (66.1%) throughout the season with a  peak at MAM (43.6%). Understanding of the peculiarities of lightning activity will provide important information in the structure, the growth of clouds, atmospheric labilitas or as a warning extreme weather.
STUDI AWAL PENYUSUNAN SKALA INTENSITAS GEMPABUMI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Muzli Muzli; Masturyono Masturyono; Jaya Murjaya; Mochammad Riyadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19016.177 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i2.440

Abstract

Untuk mengukur dampak gempabumi terhadap infrastruktur dan kondisi lainnya selama ini Indonesia menggunakan skala intensitas gempabumi menurut Modified Mercalli Intensity (MMI). Skala ini cukup kompleks dengan dua belas tingkatan dan kondisi bangunan yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi saat skala tersebut diperkenalkan. Oleh karena itu perlu adanya skala intensitas gempabumi yang lebih sederhana, mudah dipahami dan disesuaikan dengan kondisi infrastruktur yang ada saat ini di Indonesia dengan tetap mengacu pada nilai parameter ilmiah lainnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menggagas penyusunan skala intensitas gempabumi BMKG (SIG-BMKG) dengan skala I-V. Dengan mempunyai lima skala ini, SIG-BMKG menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat serta tetap mengakomodir keterangan dampak yang ditimbulkan gempabumi dan parameter saintifik lainnya. Perbandingan penggunaaan skala intensitas MMI dan SIG-BMKG terhadap beberapa kasus gempabumi yaitu gempabumi Sorong tanggal 24 September 2015 dengan magnitudo 6,8, Gempabumi Sumbawa Barat tanggal 12 Februari 2016 dengan magnitudo 6,6 dan Gempabumi Painan, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 2016 dengan magnitudo 6,6, menunjukkan bahwa SIG-BMKG dapat diimplementasikan dengan relatif lebih mudah dan akurat dibandingkan dengan skala MMI. In order to measure the impact of a strong earthquake, the intensity scale is normally used. Up to now Indonesia uses the scale of Modified Mercalli Intensity (MMI). The MMI scale is relatively complicated with the twelve levels and the current development of modern building design is not suitable anymore for the scale as it was introduced for the first time. Therefore, it is necessary to have a universal but simple intensity scale, easy to be implemented and suitable for current typical buildings but also reflects the scientific parameters. Indonesia as one of the countries which is very prone of significant or destructive earthquakes, should have a new and more representative intensity scale which is suitable for the typical buildings in Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) proposes the scale of intensity i.e. the Earthquake Intensity Scale of BMKG (SIG-BMKG) with the scales from I to V. With these five scales, SIG-BMKG is much simple and easier to be used but could describe most of typical impacts. The comparison of MMI and SIG-BMKG scales to several cases of significant earthquakes is implemented for the 2015, Mw 6.8 Sorong earthquake, the 2016, Mw 6.6 Sumbawa Barat earthquake and the 2016, Mw 6.6 Painan, West Sumatra earthquake. The results show that the SIG-BMKG scale can be implemented relatively easier with better accuracy than MMI scale.
CURAH HUJAN EKSTRIM DI AREA MONSUN BASIN BANDUNG Bayong Tjasyono H. Kasih; Rahmat Gernowo
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.805 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v9i2.23

Abstract

Curah hujan ekstrim basah menimbulkan bencana banjir. Dalam udara cukup basah dan labil, awan konvektif dapat tumbuh mencapai paras yang tinggi dengan arus keatas yang kuat dan menghasilkan hujan deras yang dapat disertai dengan batu es hujan. Peristiwa ekstrim mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda. Peristiwa yang terjadi pada skala waktu yang pendek antara kurang dari satu hari dan sekitar 1 minggu sering dinyatakan sebagai cuaca ekstrim. Badai guruh dan tornado biasanya mempunyai durasi kurang dari satu hari. Dalam kajian ini akan dibahas curah hujan ekstrim harian di daerah basin Bandung. Wet extreme rainfall cause flood disaster. In humid and unstable air, convective clouds able to grow up to higher level by strong updraft wich yield shower accompanied by hailstone. Extreme events have many different shapes and sizes. Events occurring over short time scales, between less than 1 day and about 1 week, are often referred to as extreme weather events. Thunderstorms and tornadoes usually have duration shorter than a day. In this study, it will be discussed diurnal extreme rainfall in basin area of Bandung.
APLIKASI BUSINESS INTELLIGENCE UNTUK ANALISA DAN PRAKIRAAN CUACA MARITIM Subekti Mujiasih
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.039 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v14i2.158

Abstract

Salah satu teknologi yang dapat mewujudkan kecepatan dan kemudahan analisa data adalah Business Intelligence (BI). Teknologi ini dapat menampilkan data dalam bentuk grafik yang bersifat multidimensi, sehingga dapat dilakukan pemilihan informasi sesuai kebutuhan. Aplikasi BI yang dibangun tidak hanya membuat tampilan berbagai komponen cuaca dalam bentuk grafik/dashboard, tetapi juga suatu gudang data. Dalam proses pembuatan informasi prakiraan cuaca maritim diperlukan banyak komponen data, diantaranya arah dan tinggi gelombang, arah dan kecepatan angin, pasang surut dan swell. Data tersebut diintegrasikan dalam bentuk data warehouse secara multidimensi melalui dimensi waktu dan lokasi. Data warehouse yang dikembangkan untuk mendukung model BI hanya yang bersifat deparmental, yaitu berbentuk datamart. Aplikasi BI yang dikembangkan meliputi aplikasi ETL dan aplikasi Dashboard dengan memanfaatkan perangkat lunak Visual Studio 2008, SQL Server Database dan Analysis Services 2008. Aplikasi ini menyediakan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan pencarian, pemilihan dan analisa data. Trend data yang dihasilkan dari proses tersebut menjadi pengontrol range nilai prediksi cuaca maritim. One technology that can realize the rapidity and simplicity of data analysis is Business Intelligence. This technology can present multidimensional data both in graphical and spatial form, so selecting the information as needed will easily be done. The developed BI is not only a graphical product but also a data warehouse. In the process of providing marine weather forecast information, it requires many components of data including wave direction and height, wind direction and speed, tides and swell. These data are integrated into a multidimensional form of Data warehouse through the dimension of time and location. The developed data warehouse for supporting the model of Business Intelligence is datamart that covers only one division. The resulted BI includes ETL application and dashboard application using Visual Studio 2008, SQL Server Database and Analysis Services 2008. This application provides rapidity and simplicity for data searching, sorting, selecting and analyzing. The data trend resulted from that process became a threshold controller in marine weather forecasting.
PENERAPAN METODE COKRIGING DENGAN VARIOGRAM ISOTROPI DAN ANISOTROPI DALAM MEMPREDIKSI CURAH HUJAN BULANAN JAWA BARAT Anik Djuraidah; Septian Rahardiantoro; Azizah Desiwari
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 1 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.236 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v20i1.594

Abstract

Curah hujan merupakan salah satu unsur iklim yang penting dalam pertanian. Informasi mengenai ukuran curah hujan dapat diketahui dari pos hujan pada suatu wilayah. Permasalahan yang dihadapi adalah tidak semua wilayah memiliki pos hujan, sehingga metode interpolasi spasial dapat digunakan dalam memprediksi besarnya curah hujan pada suatu wilayah. Metode cokriging merupakan salah satu metode interpolasi spasial yang bersifat Best Linear Unbiased Prediction (BLUP) dengan melibatkan minimum dua peubah. Peubah yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan keeratan hubungannya, yaitu peubah curah hujan dan elevasi pos hujan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah curah hujan bulanan tahun 1981 hingga 2013 pada 38 pos hujan di wilayah Jawa Barat. Metode analisis diawali dengan menetukan variogram isotropi  yang ditentukan berdasarkan jarak spasial dan variogram anisotropi yang ditentukan berdasarkan jarak dan arah pada kedua peubah. Selanjutnya, variogram yang terbaik digunakan untuk prediksi curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan variogram terbaik adalah variogram isotropi dengan hasil prediksi curah hujan bulanan yang mempunyai nilai reduced means square error berkisar antara 0.54 sampai dengan 1.46 dan nilai average error hampir 0.Rainfall is one of the important climatic elements in agriculture. The information on the amount of rainfall can be known from the weather station in a region. The problem faced is not all regions have its own weather station, so that spatial interpolation can be used to predict the amount of rainfall in a region. Cokriging is one of spatial interpolation that has properties BLUP (Best Linear Unbiased Prediction) that involved at least two variables. In this study, the variables used were the amount of rainfall and elevation of the weather station because these variables have a correlation. The data used in this study were monthly rainfall from 1981 to 2013 at 38 weather stations in West Java. The first step in analysis data was determined isotropy variogram determined based on spatial distance and anisotropic variogram determined based on distance and direction in the two variables. Furthermore, the best variogram was used for the rainfall prediction. The results showed the best variogram is isotropy with the results of monthly rainfall predictions with the cokriging method having reduced means square error values ranging from 0.54 to 1.46 and the average error value of almost 0. 
SIMULASI HUJAN EKSTRIM PADA KEJADIAN BANJIR DI MATARAM TANGGAL 10 JANUARI 2009 MENGGUNAKAN WRF-EMS Wido Hanggoro; Iis Widya Harmoko; Erwin Eka Syahputra Makmur
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.727 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v13i1.120

Abstract

Kejadian hujan ekstrim pada tanggal 10 Januari 2009 yang mengakibatkan banjir di Mataram disimulasaikan secara numerik dengan menggunakan dua model. Pertama, digunakan model WRF EMS (Weather Research and Forecasting Environmental Modeling System) dengan resolusi 5 dan 15 km. Kedua, menggunakan model IDW (Inverse Distance Weighted) dengan resolusi 15 km. Hasil simulasi tersebut dibandingkan dengan pola distirbusi curah hujan hasil pengamatan pada tanggal-tanggal yang sama. Hasil simulasi keduanya menunjukkan kesamaan dengan nilai korelasi mencapai R 0,43 dan RSME 83,24 untuk kasus hujan pada tanggal 10 Januari 2009, sedangkan simulasi hujan untuk tanggal 5 – 11 Januari 2009 menunjukkan nilai rata-rata korelasi, koreksi dan  RSME masing-masing 0,30; 5,25 dan 41,60. Two numerical simulation models were used to simulate extreme rainfall on January 10, 2009 that caused flood in Mataram, i.e. WRF EMS (Weather Research and ForecastingEnvironmental Modeling System) and IDW (Inverse Distance Weighted), respectively. The result based on 15 km and 5 km resolusions were compared with the distribution pattern on the same date. The 15 km resolution on IDW method showed value of R 0.43 and RMSE 83.24 for January 10, 2009, whilst the average correlation, correction and RMSE for January 5-11, 2009 are respectively 0.30, 41.60 and -5.25 m, respectively.
PEMODELAN INUNDASI TSUNAMI DI SEPANJANG PESISIR MANADO AKIBAT GEMPABUMI M8,5 DI ZONA SUBDUKSI SULAWESI UTARA Robert Owen Wahyu; Rignolda Djamaluddin; Gybert E. Mamuaya; Tatok Yatimantoro; Priyobudi Priyobudi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.808 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v19i1.448

Abstract

Zona subduksi Sulawesi Utara merupakan kawasan tektonik yang sangat aktif. Seismisitas yang tinggi di wilayah ini disebabkan oleh zona subduksi Sulawesi utara, zona subduksi lempeng laut Maluku dan juga sesar-sesar lokal. Kota Manado terletak di sebuah teluk di pesisir utara Sulawesi. Kondisi ini membuat Kota Manado sangat rentan terhadap bahaya tsunami. Pemodelan inundasi tsunami dilakukan untuk memperkirakan potensi bencana tsunami. Gempabumi dengan magnitude Mw 8.5 digunakan untuk memperkirakan dampak tsunami terburuk. Pemodelan numerik tsunami dilakukan dengan menggunakan TUNAMI-N3 dengan grid bersarang (nested grid). Data batimetri dari GEBCO 1 arcsec dan data topografi dari SRTM 1 arcsec digunakan dalam perhitungan model. Resolusi grid ditingkatkan secara bertahap melalui 6 grid bersarang. Virtual tide gauge dibuat untuk melihat karakter gelombang tsunami di 7 titik sepanjang pantai Manado. Tsunami menggenangi wilayah pantai Manado antara 0,5 hingga 1,2 km ke darat. Ketinggian tsunami maksimum akibat skenario gempa ini adalah 18 meter. Waktu tiba tsunami di pantai sekitar 17 menit setelah gempabumi terjadi. North Sulawesi subduction zone is a very active seismic region. Manado directly faces the subduction zone and therefore made the city prone to tsunami hazards. To the best of our knowledge, there has been no research on how big a threat is a tsunami in Manado. A tsunami inundation modeling was performed to estimate the potential threat of a tsunami in the city. An earthquake with a magnitude of M8.5 represented the worst-case scenario of the tsunami. The numerical model for the tsunami modeling used in this study was TUNAMI-N3 with nested grids. For tsunami calculation, 1 arc-minute GEBCO bathymetric data and 1 arc-second SRTM topographic data were used. Several virtual tide gauge locations were set to detect wave characteristics of the tsunami along the coast of Manado. The results showed that the inundation distance varied from 500 to 1200 meters inland, the tsunami wave height varied from 8 to 18 meters, and tsunami arrived at a coastal area within 17 minutes after the earthquake. According to this inundation model, the tsunami-prone area in Manado might extend up to 500-1200 meters inland near the coastal areas. Local government should have tsunami inundation maps generated using detailed topographic data that will be useful for evacuation plans in case of a tsunami.
PEMANFAATAN DATA LUARAN MODEL PRAKIRAAN CUACA CONFORMAL-CUBIC ATMOSPHERIC MODEL (CCAM) SEBAGAI INPUT MODEL GELOMBANG WIND WAVE-05 Roni Kurniawan; Suratno Suratno; Hastuadi Harsa; Muhammad Najib Habibie; Utoyo Ajie Linarka
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 1 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13706.201 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i1.88

Abstract

Pada kajian ini dilakukan uji coba pemanfaatan data model cuaca CCAM untuk dijadikan sebagai input model WindWave-05. Data kondisi awal yang digunakan adalah dari data GFS, NCEP-NOAA tanggal 20 dan 23 Oktober 2010, diperoleh data angin hasil luaran model CCAM pada sigma level 1 dan  GFS pada ketinggian 10 meter untuk  prediksi 7 hari per 6 jam (dari jam ke 0 sampai 168). Adapun wilayah kajian adalah 90°-141°BT dan 15°LS–12°LU. Hasil kajian diperoleh bahwa data CCAM dapat digunakan sebagai input WindWave-05. Hasil verifikasi visual dari luaran model WindWave-05 menggunakan input data GFS dan CCAM menunjukkan kemiripan pola spasial, namun diperoleh perbedaan intensitas nilai yang cukup besar, hal ini dapat disebabkan oleh perbedaan pengertian level ketinggian angin yang digunakan, dimana CCAM menggunakan sigma level 1 yang berada pada kisaran nol meter, sedangkan pada GFS level ketinggian angin 10 meter. Terkait dengan ketersediaan data, output CCAM dapat dijadikan sebagai alternatif untuk input Windwave-05, akan tetapi perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk memperoleh parameter angin yang lebih sesuai dan dilakukan validasi dengan data observasi. This research accomplished the utilization of the CCAM output as input data for WindWave-05 model. The initial conditions data is the GFS NCEP-NOAA at 20 and 23 October 2010, and the wind data predictions from the CCAM model at sigma level 1 and GFS at 10 meters of altitude, for 7 days per 6 hours (from 0 to 168 hours), for the corresponding time scale. The coverage area of this study is 90°-141°E and 15°S-12°N. The results  showed that CCAM output can be used as input for WindWave-05. Visual verification method showed that the outputs of WindWave-05 have similar spatial patterns when using GFS and CCAM as input. The differences occured in the output of intensity values for each dataset. This occurred due to the difference of understanding the level of altitude winds that are used. CCAM used sigma level 1 to mesure the heights in the range of zero meters, while the GFS model used 10 meters of height. The results also proved that CCAM's output can be used as an alternative data for WindWave-05. Nevertheless, it is suggested to perform further research to obtain a more suitable, verified, and validated wind parameters according to the observation data.
PEAK GROUND ACCELERATION AT SURFACE AND SPECTRAL ACCELERATION FOR MAKASSAR CITY BASED ON A PROBABILISTIC APPROACH Bambang Sunardi; Jimmi Nugraha
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8929.937 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v17i1.380

Abstract

The December 12, 2010 earthquakes (M 5.9) has drawn attention on the importance of knowledge of peak ground acceleration at surface (PGAM) and spectral acceleration for Makassar City. The PGAM and spectral acceleration play an important role in seismic design regulations. The purpose of this paper is to present the PGAM and spectral acceleration for Makassar City based on a probabilistic approach. The analysis involved determination of peak ground acceleration at bedrock using Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), the average shear wave velocity at 30 m depth (Vs30), and site classification. Results of the analysis showed that the values of PGAM for Makassar City were varied from 0.177 – 0.21 g. Meanwhile, the spectral acceleration values at T = 0.2 and T = 1 second were varied from 0.459 – 0.541 g and 0.277 – 0.369 g respectively. From these results, the values of PGAM and spectral acceleration are relatively higher at Tamalanrea and Biringkanaya districts and relatively lower at Tamalate district in comparison to other districts in Makassar City. This condition is associated with the location of those areas which are relatively closer to the  earthquake source (Walanae fault), and is geologically dominated by stiff soil (SD).Gempa 12 Desember 2010 (M5.9) menarik perhatian kita akan pentingnya pengetahuan tentang percepatan tanah maksimum di permukaan (PGAM) dan spektra percepatan untuk Kota Makassar. PGAM dan spektra percepatan memegang peranan penting dalam peraturan desain gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan PGAM dan percepatan spektra untuk Kota Makassar berdasarkan pendekatan probabilistik. Analisis yang dilakukan meliputi penentuan percepatan tanah maksimum di batuan dasar menggunakan Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA), rata-rata kecepatan gelombang geser pada kedalaman 30 m (Vs30), dan klasifikasi site. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai PGAM untuk Kota Makassar bervariasi dari 0.177 – 0.21 g. Sementaraitu, nilai spektra percepatan pada T=0.2 dan T=1 detik berturut-turut bervariasi dari 0.459 – 0.541 g dan 0.277 – 0.369 g. Nilai PGAM dan spektra percepatan relatif lebih tinggi di Kecamatan Tamalanrea dan Biringkanaya serta relatif lebih rendah di Kecamatan Tamalate dibandingkan dengan Kecamatan lainnya di Kota Makassar. Hal tersebut dikarenakan lokasinya yang relatif lebih dekat dengan sumber gempa (patahan Walanae), dan secara geologi di dominasi oleh jenis tanah sedang (SD).
Pengantar dan Daftar Isi JMG BMKG
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 2 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.345 KB)

Abstract

Pengantar dan Daftar Isi Jurnal Meteorologi dan Geofisika