cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JFIOnline
ISSN : 14121107     EISSN : 2355696X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Farmasi Indonesia yang diterbitkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia. Isi website memuat seluruh jurnal yang telah diterbitkan mencakup semua aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kefarmasian antara lain farmakologi, farmakognosi, fitokimia,farmasetika, kimia farmasi, biologi molekuler, bioteknologi, farmasi klinik,farmasi komunitas, farmasi pendidikan, dan lain-lain.
Arjuna Subject : -
Articles 443 Documents
MOLECULAR IDENTIFICATION OF ENDOPHYTIC FUNGI ISOLATED FROM Garcinia porrecta AND Garcinia forbesii Radji, Maksum; Nugraheni, Femi Arifah; Sumiati, Atiek
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi isolat-isolat kapang endofit yang telah diisolasi dari tanaman Garcinia porrecta dan Garcinia forbesii yang dikoleksi di Laboratorium Mikrobiologi dan Bioteknologi Departemen Farmasi Universitas Indonesia. Lima galur isolat yang telah terbukti menunjukkan bioaktivitasnya sebagai antimikroba dan antioksidan diidentifikasi secara molekuler menggunakan profil sekuen DNA yang berasal dari gen penyandi ribosomal RNA. Identifikasi isolat kapang endofit dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer NS1 dan NS4. Hasil amplifikasi dengan PCR selanjutnya dianalisis dengan sekuensing DNA yang kemudian dibandingkan dengan data pada GenBank dengan program BLAST (Basic Local Alignment Search Tools). Berdasarkan hasil analisis sekuens DNA, 5 isolat berhasil diidentifikasi. Empat isolat kapang endofit teridentifikasi sampai tingkat spesies yaitu: Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, dan Nectria curta. Sedangkan satu isolat lain teridentifikasi sampai tingkat genus yaitu Pestalotiopsis sp. ABSTRACT The objective of this study was to identify the endophytic fungi isolated from Garcinia porrecta and Garcinia forbesii deposited in Laboratory of Microbiology and Biotechnology, Department of Pharmacy, University of Indonesia by using molecular tools. Five isolates of endophytic strains which were displayed the strongest antibacterial and antioxidant activities were identified based on ribosomal RNA (rRNA) gene sequence analysis. The Polymerase Chain Reaction (PCR) was used to identify these endophytic fungi by using primer NS1 and NS4. Amplicon or PCR product was analyzed by sequencing method to determine the DNA sequence. The result of sequencing DNA then compared with GenBank’s database using Basic Local Alignment Search Tool (BLAST). The results revealed that five isolates of endophytic strains had been successfully identified by this method. Four of them were identified up to the level of species as Penicillium purpurogenum, Zasmidium cellare, Colletothricum gloeosporioides, and Nectria curta, while the other one was identified up to the level of genus namely Pestaloptiosis sp.
EFEK EKSTRAK DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia L.) TERHADAP JUMLAH PROTEIN GLUT4 PADA TIKUS PUTIH HIPERGLIKEMIK Kirtishanti, Aguslina; Budiono, Ryanto; Ratih, .; Isfandiari, Fitria
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 2 (2008)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Difficulties in finding anti-diabetics which are effective, tolerable by the patients, safe, cause people to try to find other alternative, such as taking traditional medicine like “mengkudu” [Morinda citrifolia L.]. Mengkudu fruit had been proven to be able to increase the number of protein GLUT4 at type 2 diabetic male white rat’s sceletal muscle. Fruit of mengkudu has similar chemical ingredient with its leaves. So far, however, mengkudu leaves had not been studied to increase the number of protein GLUT4 at sceletal muscle. This study use male white rats Wistar strain. Total number of white rats involved in this study were 40 rats which treated : 10 rats as negative control group [no treatment], 10 rats as positive control group and they are treated with exogen insulin 0,35 U per body weight three times daily for 10 days. The last 20 rats is divided into 2 groups with 10 rat for each group as first trial group and second trial group. The trial group are treated with exogen insulin and first trial group were given water extract of mengkudu leaves 7,5 g per body weight and second trial group were given alcohol extract of mengkudu leaves 1,8 g per body weight twice daily which were administered starting from the seventh to tenth day of exogen insulin administration. After ten days of administration, blood glucose level of all rats was measured and all rats were killed afterwards. The next step is sceletal muscle tissue processing to be painted immunohistochemistry to GLUT4. Conclusion of the result is water extract and alcohol extract of mengkudu leaves  could not increase the number of protein GLUT4 at type 2 diabetic male white rats. ABSTRAK Kesulitan mendapatkan obat antidiabetes yang efektif dan aman menyebabkan pasien mencoba obat alternatif, misalnya dengan menggunakan obat tradisional “mengkudu” (Morinda citrifolia L.). Buah mengkudu telah terbukti dapat meningkatkan jumlah protein Glut4 pada otot rangka tikus putih jantan diabetik. Buah mengkudu memiliki kandungan kimia yang hampir sama dengan daunnya. Oleh sebab itu dalam penelitian ini dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah daun mengkudu juga dapat meningkatkan jumlah protein Glut4 seperti buahnya. Dalam penelitian ini digunakan 40 tikus putih jantan strain Wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif yang diberi insulin eksogen 0,35 U per berat badan tiga kali sehari selama 10 hari, kelompok perlakuan pertama yang diberi ekstrak air daun mengkudu 7,5 g per kg berat badan, dan kelompok perlakuan kedua yang diberi ekstrak alkohol daun mengkudu 1,8 g per kg berat badan dua kali sehari mulai hari ke-7 sampai hari ke-10. Kadar gula darah diukur setelah hari ke-10. Jaringan otot rangka diambil dan dilakukan pewarnaan untuk melihat protein Glut4. Dari hasil penelitian yang diperoleh disimpulkan bahwa ekstrak air dan alkohol daun mengkudu tidak dapat meningkatkan jumlah protein Glut4 pada tikus putih jantan diabetik tipe 2.
ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI JAMUR ENDOFIT DARI DAUN DAN RIMPANG Zingiber ottensii Val. Noverita, .; Fitria, Dinah; Sinaga, Ernawati
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endophytic fungi is cluster of fungi lives in the plant tissues for a few time or entire of its life. This kind of fungi usually produces secondary metabolites which have significant bioactivity, such as anti cancer, anti virus, or antibacterial agents. Endophytic fungi can be isolated from many kinds of plants, especially medicinal plant such as Zingiber ottensii Val. (Ghost Bangle), which is abundant in Indonesia. The objective of this research is to isolate endophytic fungi from leaves and rhizomes of Zingiber ottensii Val. and investigate its antibacterial activity towards Escherichia coli and Staphylococcus aureus. From the experiments we could obtain 10 endophytic fungi isolates from leaves and rhizomes of Zingiber ottensii Val., and experiments showed that all of the endophitic fungi have significant antibacterial activity towards Escherichia coli and Staphylococcus aureus.   ABSTRAK Jamur endofit merupakan  sekelompok jamur  yang sebagian atau seluruh hidupnya berada dalam jaringan tumbuhan hidup dan biasanya tidak merugikan pada inangnya. Jamur-jamur endofit umumnya memproduksi metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis yang bermanfaat seperti misalnya senyawa-senyawa anti kanker, anti virus, atau antibakteri. Jamur endofit dapat ditemukan pada berbagai jenis tumbuhan, terutama pada tumbuhan obat, seperti misalnya Zingiber ottensii Val. (Bangle hantu), salah satu tumbuhan obat yang banyak terdapat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat jamur endofit dari daun dan rimpang Zingiber ottensii Val., serta menguji aktivitas antibakteri dari isolat jamur yang diperoleh terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh 10 isolat jamur endofit dari daun dan rimpang Zingiber ottensi Val. Kesepuluh  isolat jamur endofit tersebut  memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan kedua jenis bakteri uji, dengan kekuatan yang berbeda-beda.
ISOLASI SENYAWA SITOTOKSIK TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA DARI KULIT BATANG Garcinia griffithii T. Anders Wahyuni, Fatma Sri; Lusianti, Mittha; Almahdy, .; Dachriyanus, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A cytotoxic compound was isolated from n-hexane the stem bark of Garcinia griffithii T. Anders. (Guttiferae) as colourless needles from which melted at 242-243oC. Based on spectroscopies data of this compound was identified as isoxanthocymol. Cytotoxic assay using Microculture Tetrazolium (MTT) assay showed that isoxanthocymol was active against breast cancer cell line MCF-7, with IC50 value 35,46 μg/ml.   ABSTRAK Telah diisolasi senyawa sitotoksik dari kulit batang Garcinia griffithii T. Anders. (Guttiferae). Senyawa diisolasi dari fraksi n-heksana berupa amorf tidak berwarna dengan jarak leleh 242-2430C. Dari data spektroskopi massa, 1H-RMI, 13C-RMI, diketahui bahwa senyawa tersebut adalah isoxanthocymol. Pengujian aktifitas sitotoksik isoxanthocymol dilakukan dengan metode Microculture Tetrazolium (MTT) terhadap sel kanker payudara MCF-7, dan memperlihatkan aktifitas dengan nilai IC50 sebesar 35,46 μg/ml.
PENGARUH PEMBERIAN REBUSAN KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINFEKSI BAKTERI Escherichia coli Kumala, Shirly; Yuliani, .; Tulus, Didik
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research has done using two methods.Method A treatment was conduct 2 hours after infecting the mice with the Escherichia coli,  while in the B method, the tratment was given to the mice after 24 hours. In every method, there were six groups (K1 was normal control using  healthy mouce, K2 was negative control, infecting with bacteria without treatment with antibiotic,. and K3 was positive control using chloramphenicol) K4-K6 were the test group in this group were treated with different concentrations of “kayu secang”. After 3 days  of treatment, the peritonium fluid of the mice was taken followed by quantitative analysis using plate count and qualitative with bacteria reidentification. Quantitative analysis via method A demonstrated that a decreased of K4 39.65 %, K5 45.64 % and K6 44.74 %. in bacterial colony number was observed in the samples collected from K4. K5 and K6 respectively. Method B showed decreased K4 37.26 %, K5 43.13 % and K6 42.93 % in the colony number counted. The qualitative analysis using differential medium demonstrated metallic light that showed the isolated bacterial strain was Escherichia coli. ABSTRAK Penelitian dilakukan menggunakan 2 metode. Metode A pengobatan dilakukan 2 jam setelah bakteri diinfeksi ke mencit, sedangkan pada metode B pengobatan dilakukan setelah 24 jam infeksi. Setiap metode terdiri dari 6 kelompok, kelompok 1 (normal), kelompok 2 (kontrol negatif) hanya diinfeksi bakteri tanpa diobati, kelompok 3 (positif) diinfeksi bakteri dan diobati dengan antibiotika kloramfenikol, kelompok 4, 5, 6 diinfeksi bakteri dan diobati dengan  rebusan kayu secang dengan 3 konsentrasi yang berbeda. Pengobatan diberikan satu kali sehari selama 3 hari, setelah itu dilakukan pengambilan cairan intraperitonium dan diuji secara kuantitatif menggunakan metode plate count serta uji secara kualitatif dengan melakukan reidentifikasi bakteri. Hasil penelitian menunjukan rebusan kayu secang dengan konsentrasi 10 %, 20 % dan 50 % pada metode A secara uji kuantitatif dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, dengan prosentase penurunan koloni bakteri pada K4 37,26 %, K5 43,13 % dan K6 42,93 %. Pada metode B, K4 37.26 %, K5 43.13 % dan K6 42.93 % Pengamatan metode A dan B secara kualitatif  pada  media diferensial Eosin Methylen Blue agar, menunjukkan kilap logam metal.
FORMULASI EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) DENGAN BASIS GEL SEBAGAI ANTIINFLAMASI Abdassah, Marline; Sumiwi, Sri Adi; Hendrayana, Jemmy
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formulation anti-inflammatory gel  from sukun leaves extract (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) by various sukun leaves extract concentrate 4%, 8%, 12%, and 16% has been carried out. The purpose is  to find a stable formula of extract, efective and safe as gel anti-inflammatory. The evaluation included  stability,  organoleptic, pH , viscosity, consistency, safety test after 56 days storage, and anti-inflammatory activity has been investigated on male white rats of Wistar strain. The activity test using the carrageenan inducement method of the right paw of the rats and the  materials test were given topically. The result showed after  physical and chemical stability observation  , no changes occurred. In  safety test, every forms has been guaranteedly safety since no skin irritation occur. Effectivity test showed that every formula can produces anti-inflammatory activity. The best formula  was given anti-inflamatory, is gel with concentrate sukun leaves extract (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg)of  16%, inflammation inhibition of 6.96%. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian mengenai formulasi gel antiinflamasi dari ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) dengan menggunakan variasi konsentrasi ekstrak 4%, 8%, 12%, dan 16%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula gel yang stabil, efektif dan aman dalam penggunaannya  sebagai  sediaan gel antiinflamasi. Pengujian meliputi uji stabilitas, yaitu pemeriksaan secara organoleptis, perubahan pH, viskositas, konsistensi, uji keamanan selama 56 hari penyimpanan, dan uji aktivitas antiinflamasi terhadap tikus putih jantan galur Wistar. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan metode penginduksian karagenan pada telapak kaki kanan tikus dan bahan uji diberikan secara topikal. Hasil pengamatan stabilitas fisik dan kimia sediaan meliputi konsistensi, warna, dan bau menunjukkan bahwa selama 56 hari penyimpanan tidak terjadi perubahan. Sedangkan untuk nilai viskositas dan pH mengalami penurunan. Berdasarkan uji keamanan, setiap formula dinyatakan aman untuk digunakan karena tidak mengiritasi kulit. Hasil pengujian efektivitas menunjukkan bahwa semua formula dapat memberikan aktivitas antiinflamasi.  Formula yang memberikan aktivitas antiinflamasi paling baik adalah formula dengan konsentrasi ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis (Parkins.) Fosberg) 16%,  dengan memberikan efek inhibisi radang 6,96%.
FORMULASI GEL TOPIKAL DARI EKSTRAK NERII FOLIUM DALAM SEDIAAN ANTI JERAWAT Djajadisastra, Joshita; Mun’im, Abdul; NP, Dessy
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 4, No 4 (2009)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The leaf of Nerium oleander has an antibacterial activity toward some microorganisms and empirically had been used to solve the acne problem. The anti acne formulation should not make the acne worse because of mistaken to choose the dosage form. In this study the gel formulation (has no oil content makes the acne worse) was chosen containing the dried leaf extract of Nerium oleander in 97% alcohol and varying respectively carbomer, sodium carboxy methyl cellulose and sodium alginate as a gelling agent. The efficacy test was confirmed by the extract antibacterial activity test upon Propionibacterium acnes bacterium causing acne, and the gel formula evaluation test was done by physical stability test including organoleptical test (color and odor), pH, viscosity stored in low temperature of 40C, room temperature of 280C, and high temperature of 400C, cycling test and mechanical test. The results showed that carbomer gel has better physical stability than sodium CMC or sodium alginate gel. ABSTRAK Daun Nerium oleander mempunyai aktifitas antibakteri terhadap beberapa mikroba dan secara empiris telah digunakan untuk mengatasi masalah jerawat. Formula yang layak untuk dibuat menjadi sediaan anti jerawat seyogyanya tidak memperburuk gangguan jerawat itu sendiri karena pemilihan bentuk sediaan yang tidak tepat. Bentuk sediaan gel dipilih karena tidak mengandung bahan minyak yang akan memperburuk jerawat. Formulasi sediaan gel untuk mengatasi jerawat ini mengandung ekstrak Nerium oleander dalam etanol 97% yang telah dikeringkan, sedangkan untuk basis gelnya dicoba bahan karbomer, Natrium CMC, dan Na alginate. Penilaian keberhasilan untuk pemastian manfaat dilakukan dengan uji aktifitas ekstrak terhadap bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat, sedang terhadap keberhasilan formula dilakukan uji kestabilan fisik sediaan gel yang meliputi uji organoleptik (warna, bau), pH, dan viskositas selama masa penyimpanan dalam suhu rendah (4oC), suhu kamar (28oC) dan suhu tinggi (40oC). Dilakukan juga cycling test dan uji mekanik terhadap sediaan gel tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa gel berbasis karbomer memiliki kestabilan fisik yang lebih baik daripada gel berbasis Natrium CMC maupun Natrium alginat.
PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN SIROSIS HEPATIK ENSEFALOPATI DI RUMKITAL Dr. RAMELAN SURABAYA Suharjono, .; Rusdiana, Silvia; Lestiono, .; Bagiyo, Harry
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hepatic Encephalopathy  is a neuropsychiatric disorder that occurs due to liver damage, especially in  such as cirrhosis hepatic. Most cases of HE are caused by toxic substances such as ammonia. The aim of this study was to identify the profile and pattern of drug use as for HE patients. A retrospective-prospective method was used with a descriptive analysis. Samples taken from October 2008-February 2009 for the retrospective (n = 9) and March 2008-June 2009 for prospective (n = 15) in Room A1, A2, B1 and B2 Department of Internal Medicine Rumkital Dr. Ramelan.   Of 24 patients, 14 patients were male and 10 patients were female.The main therapeutic options for HE patients include parenteral nutrition of the BCAA that were given in 19 people (79.17%); flumazenil, levodopa, bromocriptine, L-ornithine-L-aspartate, citicholine, piracetam; antibiotics also was given such as kanamycin in 19 people (79.17%), neomycin 1 person (4.17%) and metronidazole 2 people (8:33%),  and 3rd generation cephalosporin ie ceftriaxone in 16 people (66.67%). and lactulose in 15 people (66.67%).   ABSTRAK Ensefalopati Hepatik (EH) adalah gangguan neuropsikiatrik yang terjadi karena kerusakan liver  terutama pada sirosis hepatic. Sebagian besar kasus EH disebabkan zat-zat toksik diantaranya ammonia. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi profil dan pola penggunaan obat sesuai indikasi pasien EH. Pada penelitian ini digunakan metode retrospektif-prospektif dengan analisis deskriptif. Sampel diambil pada Oktober 2008-Februari 2009 untuk retrospektif (n=9) dan Maret 2008-Juni 2009 untuk prospektif (n=15) di Ruang A1, A2, B1 dan B2 Departemen Penyakit Dalam dan ECU Rumkital Dr. Ramelan . Obat yang digunakan adalah parenteral nutrition , yaitu : BCAA 19 orang (79.17%), flumazenil, levodopa, bromokriptin, L-ornitin-L-aspartat, sitikolin, pirasetam. antibiotik yang diberikan dalam penelitian adalah kanamisin 19 orang  (79.17%), neomisin 1 orang (4.17 %) dan metronidazol 2 orang (8.33%). Antibiotik lain yang banyak digunakan yaitu seftriakson sebanyak 16 orang (66.67%). laktulosa digunakan pada 15 orang (66.67%).
MONITORING EFEK SAMPING PENGGUNAAN ANTITROMBOTIK PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT Perwitasari, Dyah Aryani; Supadmi, Woro; Kurniyati, .
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Acute myocardial infarction (AMI) is one of coronary artery disease that has high rate of mortality and morbidity. The use of antithrombotic has ben recomended widely as the main therapy of AMI. The benefit from using aspirin in high-risk vascular disease patients comes at the cost of increased gastrointestinal complications, such as gastroduodenum ulcerations. This research aimed to know the monitoring of antithrombotics’side effects AMI patients in a private hospital of Yogyakarta from Januari to Desember 2007. The research used descriptive method and the data was collected from patients’ medical records  with AMI as primary diagnose. Result of research showed that antithombotics drugs which applied as therapy at AMI patient were antiplatelets, anticoagulants and thrombolytics. We identified the side effects monitoring such as; haemorrhage risk in 3,90% (2 patients), thrombocytopenia in 3,90% (2 patients) and renal function in 15,58% (12 patients). There were no patients with  gastrointestinal disorder as antithrombotics’side effects. Intensive blood pressure monitoring was done for patient who get thrombolytic therapy (21 patients) that was equal to 26,92% from total patients. ABSTRAK Infark miokard akut (IMA) merupakan jenis penyakit jantung koroner yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Antitrombotik merupakan terapi utama dari IMA. Penggunaan aspirin sebagai terapi IMA sering disertai dengan meningkatnya komplikasi gastrointestinal. Komplikasi tersebut bisa berupa tukak gastroduodenal, dispepsia dan esofagistis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tindakan monitoring efek samping antitrombotik yang telah dilakukan pada  pasian infark miokard akut di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta periode Januari-Desember 2007. Penelitian dilakukan dengan metode non eksperimental dan data monitoring dilihat pada rekam medis pasien IMA. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi antitrombotik yang digunakan pada infark miokard akut adalah antiplatelet, antikoagulan dan trombolitik. Monitoring efek samping antitrombotik yang telah dilakukan berupa monitoring perdarahan pada 2 pasien (3,90%), trombositopenia pada 2 pasien (3,90%), fungsi ginjal pada 12 pasien (15,58%). Tidak ada pasien yang mengalami gangguan gastrointestinal akibat efek samping antitrombotik. Monitoring tekanan darah secara intensif hanya dilakukan pada pasien IMA yang mendapat terapi trombolitik yaitu 21 pasien atau sebesar 26,92% dari total pasien IMA.
PERENCANAAN DAN PENGADAAN OBAT DI PUSKESMAS SURABAYA TIMUR DAN SELATAN Athijah, Umi; Zairina, Elida; Sukorini, Anila Impian; Rosita, Efrita Mega; Putri, Anindita Pratama
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Indonesian Research Gateway

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Primary Health Center as an organization of public health service has an excellent service quality character, besides qualified medical services. Service will run if the availability and quality of medicines is assured. This study was conducted to get an overview of planning and procurement of medicines at primary health centers. It was observational and descriptive study. The sample was the entire primary health centers in South and East Surabaya (n = 26) and the respondent was the staff of primary health center who manage planning and procurement of medicines. The data was collected by validated questionnaires and check list. Results showed that 57.7% respondents was pharmacists. Non-DOEN generic medicines and patent medicines were provided by 61.5%. The combined method (epidemiology-consumption method) was used by 61.5% staff to calculate the medicine need. The unschedule procurements have been reported by 57.7% respondents. "Received medicine was not always the same with the request" was reported by 69.2% staff. Only 19.2% respondents always check the medicine name, strength, quantity, dosage form, expired date, batch number and physical condition. To conclude, the medicine demand has not been well covered and only a few staff always check the medicines completely. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang perencanaan dan pengadaan obat di puskesmas. Sampel adalah seluruh puskesmas di wilayah Surabaya Selatan dan Timur (n=26) dengan responden yaitu pengelola obat di setiap puskesmas. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan check list yang telah divalidasi. Dari penelitian ini diketahui bahwa 57,7% pengelola obat di puskesmas adalah apoteker. Sebanyak 61,5% menyediakan obat generik non-DOEN dan obat paten selain obat generik DOEN yang dipersyaratkan. Metode campuran konsumsi dan epidemiologi digunakan oleh 61,5% pengelola dalam menghitung kebutuhan obat. Permintaan obat di luar jadwal pernah diajukan oleh 57,7% responden. “Penerimaan obat tidak selalu sama dengan permintaan” dilaporkan oleh 69,2% pengelola, namun hasil pengamatan dalam checklist menunjukkan seluruh puskesmas mengalami hal tersebut. Hanya 19,2% responden melakukan pengecekan nama obat, kekuatan, jumlah, bentuk sediaan, tanggal kadaluarsa, nomor lot dan kerusakan obat. Kesimpulan yang diperoleh adalah kebutuhan obat di puskesmas masih belum terpenuhi dengan baik terutama karena faktor pengadaan dan hanya sebagian kecil pengelola obat yang melakukan pengecekan obat secara lengkap.

Page 3 of 45 | Total Record : 443